Sarikat Gadong Manginsir

October 27, 2008
By Daniel T.A. Harahap

gadong-manginsir.png

Oleh: Daniel Taruli Asi Harahap

Serikat ubi jalar? :-) Jangan tertawa dulu. Saya serius. Sudah beberapa hari ini saya terpikir hendak membentuk sebuah organisasi dengan badan hukum: perhimpunan. Ingat: bukan Yayasan bukan pula Perseroan atau Koperasi, tapi Perhimpunan. Namanya muncul tiba-tiba saja di benak saya. Bahasa Bataknya: Sarikat Gadong Manginsir. Bahasa Indonesianya: Serikat Ubi Jalar. Lho?

Tenang dulu, mari saya jelaskan. Ubi jalar atau dalam bahasa Batak “gadong manginsir” adalah tanaman umbi-umbian. Batangnya menjalar rendah di tanah dan menumbuhkan akar-akar baru yang kelak menjadi umbi yang membesar dan enak dimakan. Seperti itulah saya bayangkan organisasi perhimpunan ini: membumi, merendah, merambat kemana-mana dan berbuah lebat di dalam tanah. Tak terpandang namun nyata. Ubi jalar bisa tumbuh di hampir semua tanah. Tentu saja yang paling baik di tanah gembur berpasir. Satu lagi: usia ubi jalar ini pendek saja. Sesudah itu tanaman mesti dibaharui lagi. Begitu pulalah organisasi yang hendak didirikan ini.

Apakah tujuan organisasi Sarikat Gadong Manginsir (boleh disingkat SGM) ini? Membantu gereja, sekolah dan desa di Tanah Batak. Namun pengalaman saya tujuh belas tahun melayani sebagai pendeta gereja Batak, orang Batak sering sangat sulit fokus dan berkonsentrasi kepada satu bidang usaha atau pelayanan, atau terlalu banyak maunya. Maaf, persis seperti Pertamina atau TNI tercinta di jaman Orde Baru: ingin melakukan segala-galanya kecuali tugas utamanya. :-) Sebab itu saya rancang organisasi ini harus rendah hati membatasi tujuannya dengan hal-hal yang kongkret saja, secara khusus kepada satu hal saja: menyumbang komputer. Apa? Ya, menyumbang komputer. Saya mimpi ada sebuah organisasi yang kerjanya khusus menyumbang komputer untuk gereja, sekolah dan desa di Tanah Batak.

Sebelum organisasi ini terbentuk, sebab itu saya sudah menyampaikan amanat kepada bakal pengurus Sarikat Gadong Manginsir: jangan berpretensi melakukan segala-galanya. Jangan berpolitik. Jangan campuri urusan gereja dan desa apalagi kurikulum sekolah. Cukuplah bantu mereka dengan komputer saja. Lebih banyak lebih baik. Sebanyak-banyaknya. Dan terkoneksi dengan internet.
Saya tahu betul orang Batak suka tanya. Karena itu saya duluani saja bertanya: kenapa harus komputer? Jawabnya: komputer sangat dibutuhkan pada jaman sekarang dan nanti. Untuk bisa eksis di jaman ini apalagi jaman esok gereja, sekolah atau desa harus punya komputer. Dan celakanya itulah yang tak ada atau hampir tak ada di jemaat, sekolah dan desa Tapanuli atau Tanah Batak. Daripada asal bicara saja atau “holan hata” mari kita bantu mereka dengan sesuatu yang konkret.

Bagaimana cara membagi komputer itu agar tidak berkelahi? Bukankah di Tanah Batak ada banyak sekali gereja, sekolah dan desa dan semua sering sekali berkelahi karena urusan pembagian yang tidak adil? Gampang saja: undi saja. Hahaha.

Dari mana dananya? Ya, orang Batak kan langsung suka tanya-tanya soal uang. Tak apalah. Jawabnya: dari iuran (guguan) anggota. Ditambah sumbangan dan usaha. Namun intinya: iuran anggota. Organisasi yang bernama Serikat Ubi Jalar atau Sarikat Gadong Manginsir ini tidak boleh seperti parpol ecek-ecek yang mengharapkan dana APBN untuk menunjang operasinya. Atau seperti LSM yang kerjanya cuma menghiba-iba ke luar negeri sana. Tidak. Sarikat Gadong Manginsir harus menjadi organisasi sejati, yang kelak akan dicatat dalam sejarah lokal dan nasional sebagai salah satu kontributor moderen civil society di Indonesia. Ah alangkah hebatnya.

Setiap anggota SGM karena itu harus dikenakan uang pangkal, iuran dan sumbangan. Untuk menguji keseriusan saya mengusulkan uang pangkal masuk menjadi anggota SGM Rp 500.000. Iuran Rp 100.000/ bulan atau Rp 1.200.000 per tahun. Tidak ada salah ketik di sana. Itu artinya jika SGM punya anggota seribu orang, organisasi ini sudah punya dana dari uang pangkal Rp 500 juta dan dari iuran anggota Rp 1.2 milyard per tahun. Dana itulah yang dipakai untuk membeli komputer untuk disumbangkan. Pengurus tidak boleh menerima gaji dan diatur tidak boleh menerima tiket atau voucher hotel dll dari perusahaan komputer yang menang tender.

Sebagai perhimpunan, tentu Sarikat Gadong Manginsir harus punya AD dan ART. Saya sedang mencoba menyusun draftnya. Nanti kita akan minta masukan dari ahli hukum dan notaris. Saya sendiri tidak ingin menjadi Ketua. Cukuplah saya menjadi anggota saja, atau kalau perlu menjadi penasehat, untuk mengatakan bahwa ini bukan organisasi pendeta apalagi gereja, tetapi perhimpunan orang-orang baik dan sederhana berdasar iman dan kasihnya.

Banyak hal hendak saya tuliskan. Namun sementara itulah dulu. Saya mengajak kawan-kawan untuk bersama-sama mewujudkan perhimpunan ini. Mungkin inilah salah satu sumbangan kita bagi Tanah Batak dan Indonesia tercinta. Saya tunggu komentarnya. Bagi kawan-kawan yang ingin berbakti kepada kampung halaman melalui suatu organisasi sosial moderen yang akuntabel, transparan dan terpercaya mari kita wujudkan Sarikat Gadong Manginsir ini.

Horas!

Pdt Daniel T.A. Harahap

ubi-jalar-3.jpg

Share on Facebook

61 Responses to Sarikat Gadong Manginsir

  1. Marbuah Damanik on November 14, 2008 at 12:24 pm

    saya setuju dengan adanya ide-ide seperti ini amang pendeta. namun menutur saya kebutuhan warga sekarang tidak lagi melulu penggunaan alat, namun sudah harus dipikirkan penguasaaan teknologi alat tersebut. kalau menurut saya ( jika salah tolong dimaklumi ) kebutuhan kita saat ini adalah pengembangan sumber daya manusia untuk generasi muda khususnya jemaat HKBP seperti pembentukan organisasi pengadaan beasiswa dari SMA hingga perguruan tinggi ( sebab pendidikan dasar SD dan SMP sudah digratiskan pemerintah ) untuk warga yang kurang mampu secara ekonomi namun berprestasi. mauliate….

    Daniel Harahap:
    Bagaimana mau menguasai teknologinya jika alatnya saja tidak pernah dilihat apalagi dijamah? :-)

  2. Martin Hasugian on November 19, 2008 at 11:31 am

    Ikut, tapi bukan sebagai anggota hanya sebagai donatur saja. (Donatur nomor urut berapa nih ? … :) )
    Ditunggu nomor cantiknya (no rekeningnya :D ) ….

    Daniel Harahap:
    Tunggu undanganya ya Lae. :-)

  3. untung sitompul on December 2, 2008 at 9:38 am

    Dohot pe au amang..

  4. Robert Sibarani on December 18, 2008 at 1:53 pm

    Bravo DSB, sada langkah namansai denggan situtu do on, laho mambangun jaringan komunikasi di antara komunitas ni bangso ta. semoga apa yang sudah direncanakan bisa menjadi kenyataan.
    sehngga tidak hanya sebuah rencana yang indah belaka.
    sekali lagi Bravo DSB, slamat amang DTA,

  5. t.m.sihombing on February 11, 2009 at 8:49 am

    Amang Pdt.DTA, Songon na sepi do tindak lanjut untuk program SGM ini, adakah rencana pertemuan ? sudah sampai nomor berapakah keanggotaannya ? tolong didaftarkan sebagai anggota. Setuju sekali bahwa program hanya terfokus dalam hal2 tertentu dan ragam recana tidak dilaksanakan sekali gus, tetapi perlu dipertimbangkan supaya masalah marga dan kampung tidak menjadi permasalahan. Halak kita sering terpengaruh terhadap marga misalnya penerimaan pendeta di Gereja dan supaya diperhatikan bahwa sebagian Gereja yang ada di Bona Pasogit sudah dibantu oleh warganya di pangaranto.

    Daniel Harahap:
    Amang, kesalahannya terletak di saya. Sampai hari ini saya masih kesulitan mencari tempat dan waktu pertemuan di darat (baca: di Jakarta) untuk mewujudkannya. Teman-teman sih sudah siap. Doakanlah. :-)

  6. yosua sitorus on March 5, 2009 at 10:31 pm

    amang pendeta, bagaimana perkembangan SGM? kita siap nih menjadi anggota, sy mendapat manfaat finansial yg cukup dr komputer n internet, sy ingin supaya saudara2 di toba juga bisa memanfaatkan teknologi, kalau bisa di update di fb

  7. Alexander Sihombing on April 23, 2009 at 4:40 pm

    Horas amang pendeta,
    gimana kabar SGM-nya? kalo sudah terbentuk bisa di ekspos segera gak?
    biar langsung daftar jadi anggota tetap.

    Daniel Harahap:
    Belum terbentuk. Kalau mau sudah nanti saya kabari. :-)

  8. eve simatupang on May 12, 2009 at 12:02 pm

    Syaloom, amang pendeta,
    kalau boleh nanya, sekretariatnya SGM ini dimana ya?
    kita di balikpapan penasaran mau ikut gabung SGM. tolong ya amang alamat nya dipublikasikan.

    Daniel:
    Eve, SGM-nya belum jadi-jadi juga (kecuali ada yang dengan sukacita menawarkan diri mau mengorganisirnya). Nanti kalo sudah mau jadi Eve diajak. :-)

  9. lambok limbong on May 15, 2009 at 3:09 pm

    Amang DTA, Horas
    Sudah begitu banyak saran-saran dan ide-ide juga anggota yang mendaftar agar Proyek SGM ini bisa cepat berjalan.
    Kira-kira adalagi enggak kekurangannya amang supaya cepat proyek ini terlaksana

  10. Agus Rumapea on April 17, 2010 at 12:11 pm

    Syalom,
    Bagimana dengan SGM-nya sudah jalan amang?

    Saya tinggal di Bona Pasogit tepatnya di Kecamatan Lumban Julu, Tobasa Samosir.
    Memang ide amang pendeta sangat bagus, kenyataan juga bahwa anak-anak SMA disinipun sudah diwajibkan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dengan menggunakan komputer, yah terpaksa bagi yang tidak punya komputer harus pergi menrental ke kota porsea yang jaraknya +/- 20 km.

    Tetapi entah kenapa saya sendiri lebih tertarik kalaulah amang memberikan ide bagaimana untuk mengadakan pelatihan bagi kami-kami yang di desa ini bagaimana cara membuat pupuk kompos, misalnya. Mengingat betapa mahalnya harga pupuk sekarang ini (dan sering pula kalau ada malah ketemu pupuk palsu). Ini saya kira lebih mengena kepada kehidupan kami sekarang.

    Horas & Mauliate.

    Daniel Harahap belum jalan amang.

  11. Binsar Nababan on August 17, 2010 at 3:34 pm

    Ikut sebagai donatur. Horas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*