Seandainya Harus Mengeluh

October 27, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Senin 27 Oktober 2008:

butterfly-world-11-4-07-006.JPG

Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya. (Ratapan 3:39)

Apa yang paling sering dikeluhkan banyak orang? Pertama: ketiadaan uang atau kesulitan ekonomi. Agaknya itulah yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Kedua: penyakit atau kondisi kesehatan yang buruk. Ya, banyak orang mengeluh tentang sakit yang diidapnya. Ketiga: sikap anggota keluarga yang tidak sesuai dengan harapan. Keempat dan seterusnya: keburukan pelayanan dan fasilitas umum, ketidakbecusan pemerintah, kemacetan jalan, atau sekadar cuaca yang jelek. Pokoknya ada banyak atau bahkan terlalu banyak alasan untuk mengeluh di dunia ini, dan karena itu orang begitu sering mengeluh.

Nabi Yeremia menyindir umat Israel pada masa pembuangan yang mengeluh tentang buruknya keadaan yang mereka alami di negeri penjajah sebagai tawanan, namun tidak pernah mengeluhkan dosa dan kejahatan mereka yang lakukan. Mungkin pesan itu masih tetap relevan sampai sekarang: seandainya, seandainya harus, keluhkanlah dosa yang kita lakukan. Keluhkanlah kelakuan dan sifat sendiri, lantas bertobatlah.

Namun sesungguhnya Tuhan memanggil kita hidup gembira senantiasa dan bukan untuk mengeluh. Hidup memang tak sempurna dan masalah selalu banyak. Namun baiklah kita sadar bahwa mengeluh tidak membuat masalah selesai. Alih-alih melenguh mending kita berbuat sesuatu mengatasinya. Atau jika memang keadaan yang tidak diharapkan memang tidak bisa lagi diubah, ya mending diterima saja secara ikhlas. Pertanyaan: apakah dosa dan kelakuan diri sendiri sesuatu yang harus diterima ikhlas atau bisa diubah?

Doa:

Ya Allah, berikanlah kami keberanian mengubah hal-hal yang harus kami ubah dalam hidup ini. Berilah kami keikhlasan menerima apa yang tidak bisa kami ubah lagi. Namun berikanlah kami kearifan membedakan mana yang harus kami ubah dengan berani dan mana yang harus kami terima dengan ikhlas. Kami tidak mau mengeluh dalam hidup ini. Kami ingin gembira selalu dalam Kristus. AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

8 Responses to Seandainya Harus Mengeluh

  1. Sofia Manihuruk on October 27, 2008 at 8:34 am

    Terima Kasih amang DTA,
    Sebelum membaca renungan ini saya mengeluh ttg hal yang sepele, yang sebenarnya dengan senyum pun itu dah selesai tapi setelah baca renungan ini saya jadi malu ama diri sendiri.

    Terima Kasih Tuhan buat Cinta Mu……

  2. JP Manalu on October 27, 2008 at 8:47 am

    Terima kasih atas renungannya hari ini amang Pdt, terutama doanya! Semoga Tuhan mengabulkan semua doa kita.
    Doa “berilah kami keikhlasan menerima apa yang tidak bisa kami ubah lagi.” mengajarkan kepada saya tentang perlunya kesabaran yang bersumber dari Tuhan untuk menerima realitas hidup. Sedangkan doa “Namun berikanlah kami kearifan membedakan mana yang harus kami ubah dengan berani dan mana yang harus kami terima dengan ikhlas”, mendorong saya untuk tidak menerima begitu saja realitas hidup, tetapi harus dilakukan upaya semaksimal mungkin agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Serta doa “Kami tidak mau mengeluh dalam hidup ini. Kami ingin gembira selalu dalam Kristus” mengajar saya agar selalu bergembira dalam hidup. Teringat saya penggalan syair buku ende : …. pasu-pasu na godang, ima roha na sonang”.

    Daniel Harahap:
    Doa itu bukan saya yang karang. Itu doa Benediktus dari abad ke-11.

  3. DSB on October 27, 2008 at 9:49 am

    Mengeluh itu beda ya dari khawatir? Atau keluhan itu berbeda dari kekhawatiran? Kalau khawatir kan masih boleh dan wajar walau juga tidak menyelesaikan masalah? Kita akan menyerahkan kekhawatiran yang muncul kepada Tuhan sebagai bukti bahwa kita berserah dan bergantung padaNya.

  4. Erpesim on October 27, 2008 at 11:57 am

    “Itu doa Benediktus dari abad ke-11″. Artinya hampir 1000 tahun yang lalu, ya.
    Pernyataan Amang DTA luar biasa. Hari ini saya bersyukur bisa berdoa dengan Orang KudusNya.

  5. domdom on October 27, 2008 at 5:36 pm

    Orang mengeluh karena apa yang dirasakan , dialami tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kita selalu menginginkan segala sesuatu itu sesuai dengan kehendak kita. Mungkin saatnya kita memulai Bagaimana caranya mengubah keluhan kita menjadi permohonan Doa kita kepada Tuhan sehingga Kehendak Tuhan lah yang jadi terhadap diri kita. Terimakasih Amang, Horas……

  6. sondang on October 28, 2008 at 12:39 am

    Terimakasih amang pendeta, hampir sepanjang umur saya saya mengeluh. Membaca renungan ini saya tersentuh.

  7. elumban on October 28, 2008 at 9:54 am

    Minggu lalu, Pendeta yang kotbah di gereja kami memberikan tips bagaimana caranya menghindari dosa atas permasalahan yang kita hadapai. Tipsnya adalah:
    No. 1. Jangan pusing menghadapi persoalan sepele
    No. 2. Anggap semua persoalan sepele – GOD do the rest.

    Daniel Harahap:
    Nomor satu setuju. Tapi, anggap semua persoalan sepele? Jangan becanda Lae ah. :-)

  8. Nitha on January 30, 2009 at 10:24 am

    Saya sedang mencari bahan untuk renungan besok pagi dan tanpa sengaja menemukan topik ini dan saya tertarik dan saya kopi untuk saya bagikan dengan teman2 guru…. saya juga harus belajar terus untuk tidak mengeluhkan keadaan karena dari pengalaman bangsa Israel, Tuhan tidak suka dengan orang yang suka bersungut2 atau mengeluh. Terima kasih HORAS….Pak Pendeta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*