KOTBAH MINGGU INI
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
1. Allah memanggil kita beriman, taat dan menyerahkan diri kepada Yesus Kristus. Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yohanes 3:16). Dia adalah Tuhan dan Guru kita (Yohanes 13:13), hikmat dan kekuatan Allah (1 Kor 1:24,27). Dialah Juruselamat kita dan bahkan seluruh dunia (1 Yohanes 4:14, 2 Tim 1:10, Titus 2:13). Dalam darahNya yang tumpah di Golgota kita menerima penebusan kita (Efesus 1:7. Kolose 1:14) dan dalam Dia juga kita diangkat menjadi anak-anak Allah (Galatia 4:5-7). Semua ini mau menyadarkan kita bahwa kehidupan dan keselamatan kita semata-mata adalah anugerah Allah yang kita terima dengan beriman kepada Kristus.
2. Dengan kerangka pemahaman iman di ataslah kita hendak memahami amsal-amsal atau kata-kata bijak yang dimuat dalam Alkitab maupun warisan leluhur kita (misalnya: jolo dinilat bibir asa didok hata, pantun hangoluan tois hamagoan, molo litok aek di jae tu julu do tingkiron dan lain-lain). Amsal-amsal ini, baik yang dicatat maupun tidak tercatat Alkitab, tidak menyelamatkan kita dari belenggu dosa dan maut. Hanya karena anugerah Allah dan iman kepada Kristus sajalah kita dibebaskan dan diselamatkan! Namun, sebagai orang-orang yang telah diselamatkan Allah kita membutuhkan amsal-amsal ini (juga berbagai petuah dan nasihat, kata mutiara dan kata emas warisan nenek moyang maupun orang-orang besar lainnya) sebagai pegangan dan tuntunan menjalani kehidupan di dunia ini.
3. Amsal merupakan nasihat-nasihat pendek dan lepas yang acap berbentuk pantun dua baris. Sebagian amsal dalam Alkitab ini berasal dari Raja Salomo yang terkenal bijak, namun sebagian lagi berasal dari pengalaman iman dan hidup umat Israel selama ratusan tahun yang telah menjadi ingatan bersama umat itu. Ada juga amsal yang berasal dari Agur bin Yake (Amsal 30). Sebagaimana telah kita singgung di atas Amsal 20:22-27 berisi beberapa nasihat lepas yang pada dasarnya tidak berhubungan satu sama lain, namun tentu saja dapat kita renungkan bersama-sama.
4. Pertama: jangan membalas kejahatan. (Amsal 20:22). Alih-alih mendorong membalaskan kejahatan yang kita alami, atau melampiaskan kemarahan, dendam dan sakit hati, penulis Amsal justru mendorong kita agar menanti-nantikan Tuhan untuk menyelamatkan kita. Sebagaimana kita tahu bangsa Yahudi dan juga kita orang Batak mengenal hukum pembalasan: mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa. Penulis Amsal menolak hukum pembalasan yang jahat. (Ingat: hanya kejahatanlah yang tidak boleh dibalas, kebaikan yang kita terima boleh dan pantas dibalas). Itu jugalah sikap Yesus (Matius 5:38). Itu jugalah yang diajarkan Paulus (Roma 12:19). Pembalasan adalah hak dan urusan Tuhan (sebagian didelegasikanNya kepada negara dan pengadilan).
5. Kedua: jangan memakai dua batu timbangan. Untuk mendapatkan keuntungan yang tidak benar kadang pedagang menggunakan dua timbangan atau ukuran. Untuk menjual dipakai timbangan yang lebih berat (agar harga jual lebih tinggi) namun untuk membeli dipakai timbangan yang lebih ringan (agar harga beli lebih rendah). Tujuannya: mendapatkan untung yang lebih banyak. Sebagai orang beriman kita dilarang mencari keuntungan dengan menipu atau memperdaya. Ini bukan hanya untuk para pedagang. Dalam berbagai aspek kehidupan kita pun tidak diperkenankan memakai dobel standart atau ukuran ganda, atau memanipulasi timbangan. Mengapa? Karena Tuhan kita juga jujur dan adil serta tidak pernah menipu.
6. Ketiga: Tuhan mengatur langkah dan jalan hidup kita. Memang Tuhan telah memberi kita akal budi. Kita juga diberi kemampuan untuk menyusun rencana, membuat perkiraan awal dan antisipasi. Pada jaman sekarang ilmu pengetahuan dan teknologi telah membantu kita memecahkan banyak rahasia. Namun jalan hidup kita sebenarnya tetap sebuah misteri Ilahi. Kesadaran ini membuat kita rendah hati dan selalu meminta petunjuk Tuhan. Rasul Yakobus menganjurkan kita tidak terlalu congkak dan beranggapan dapat memastikan segalanya, sebab itu dalam merencanakan selalu mengatakan dengan rendah hati: jika Allah menghendaki. (Yakobus 4:5)
7. Keempat: pikir dulu baru katakan, timbang dulu baru putuskan. Salah satu sikap yang paling dikecam oleh penulis amsal adalah terlalu banyak dan cepat bicara. Orang-orang Kristen sama seperti semua orang juga harus bisa menahan diri dan menguasai diri (hati, kata, dan tindakan) dan tidak terlalu buru-buru bicara dan mengambil keputusan. Ini mirip sekali dengan petuah nenek moyang kita “jolo dinilat bibir asa didok hata” (basahilah dulu bibir dengan lidah sebelum mengucapkan kata-kata). Juga dengan petuah Melayu: pikir dulu pendapatan sesal kemudian tiada guna. Atau pameo para tukang kayu: dua kali ukur satu kali potong. Menurut saya nasihat ini sangat relevan dengan orang kristen moderen yang cenderung terlalu banyak dan terlalu cepat bicara (termasuk berdoa!).
8. Amsal, baik yang tercatat dalam Alkitab maupun tidak tercatat memang tidak menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Tidak ada seorang pun yang dibenarkan Allah karena melakukan Amsal. Kita semua selamat hanya karena anugerah Allah dan iman kepada Kristus. Namun kita tetap membutuhkan amsal-amsal sebagai pedoman-pedoman praktis kehidupan sehari-hari. Melalui penghayatan dan penterapan amsal-amsal ini sepanjang hidup kita menjadi arif dan bijak. Kita menjadi lebih tahu menghindarkan bahaya dan kecelakaan. Dan kita juga lebih dimampukan bergaul dengan sesama kita.
Share on Facebook
Tanggapan terhadap butir no 4.
Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Yahudi dan juga bangsa batak hukum pembalasan.
Karena itu dalam bahasa Batak tidak ada kata “MAAF”, karena pada zaman animisme dahulu ompunta sijolojolo tubu tidak mengenal istilah maaf-memaafkan. Yang ada kalau anda tampar pipi saya, maka muka anda akan babak belur belur saya buat.
Sekarang hampir tidak ada lagi balas dendam di kalangan orang Batak Kristen, karena kita sudah bisa memaafkan kesalahan teman/saudara.
Tapi sayang, orang Batak sekarang tidak menciptakan kosa kata baru untuk kata MAAF di dalam bahasa Batak. Bisanya cuma bilang “NDANG ADONG HATA BATAK NI “MAAF”".
Terima kasih Pak Pdt DTA untuk khotbahnya.
Catatan tambahan untuk postingan Pak Agus Panggabean:
Saya pernah membaca hasil studi (kalau tidak salah ingat, disertasi Pak BA Simanjuntak) yang antara lain menggambarkan bahwa kasus perdata/hukum antara orang Batak melawan orang Batak yang tidak dapat diselesaikan di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi sehingga harus kasasi ke Mahkamah Agung secara persentase besarnya jauh di atas kasus di antara sesama suku-suku lainnya. Bukan hanya kata MAAF yang tidak ada, akan tetapi terbukti mekanisme adat Batak pun tidak lagi efektif untuk menyelesaikan konflik di antara orang Batak.
Karena itu yang kita perlukan bukanlah MELESTARIKAN adat Batak tetapi menggarami adat Batak agar sejalan dengan ajaran TUHAN.
Kebetulan saya belum beli Almanak 2008, Tapi kupikir sudah tanggung karena 2008 run out sudah.
Di Gereja HKBP kami hari ini minggunya adalah MINGGU OIKUMENE dengan sub title KEPEMIMPINAN. Dari judulnya sih masih mirip ada kata-kata Bijaknya. Bijak adalah salah satu instrument dalam Leadesrship. Kebetulan yang membawakan khotbahnya adalah dari Huria Methodist dan Pendetanya juga orang Batak (Kebaktian Jam 9.30 berbahsa Batak).
Pertanyaan saya adalah:
1. Apakah khotbah setiap minggu sesuai nama minggunya tipical untuk seluruh HKBP (Tidak berarti seragam) tapi punya benang merah.
2. Apakah Kotbah pada seluruh jemaat diarahkan oleh Ephorus sebagai pimpinan Parmahan di HKBP.
Leadership yang dicoba ditekankan oleh Khotbah hari ini di Gereja kami adalah tentang Kepemimpinan yang menitikberatkan keteladanan. Tentang Parise dan Sibotosurat yang faham dan fasih tentang Hukum Taurat dan segala aturan Musa namun sangat munafik…. Evsnggeliumnya mengenai ayat: Janganlah kalian meniru kelakuakan para Parise dan Siboto surat tapi dengarkanlah apa yang mereka khotbahkan.
Beliau juga memmberi illustrasi yentang pemuridan Socrates yang mntest calon muridnya dengan bagaimana calon murid melongok ke Kolam Ikan yang bening dan apa yang mereka lihat. Socrates ternyata hanya menerima mereka yang juga melihat mukanya sendir dalam cermin air iitu disamping ikan dan bunga bakung.
Juga tentang pola kepemimimpinan yang sifatnya Being Humble (Rendah hati) tidak merasa paling benar, paling berkuasa dan paling mengetahui, yang berakibat kepada kesombongna rohani. Beliau kasih illustrasi : Beliau seorang pendeta kebetulan mengikuti KKR dan setelah selesai KKR ketemu dengan peserta KKR lalu beliau ditanya, dari Gereja Mana?? lalu beliau menjawab, dari Gereja Methodist. Sang penanya langsung memvonnis ai ndang bertobat dope ninna Garejamuna ate???. lalu Sang pendeta tereipu-sipu menjawab, ndang apal huantusi amang artina yang dimaksud muna bertobat.
Juga tentang kepemipinan kekristenan yang sifatnya Terang dan Garam, panondang. Kebetulan Koor membawakan lagu dengan baik tentang Au do Panondang Portibion. Illustrasi tentang : Seorang Kristen Amerika yang datang ke Jepang, tidak memberitahukan agamanya, tapi sangat memberikan manfaat kepada lingkungannya yang mayoritas Shinto. Orang-orang akhirnya mencari tau siapa sebenarnya orang tersebut dan setelah mengetahui dia adalah Orang kristen, orang-orang tersebut menjadi pengikut orang Amerika tersebut.
Mohon maaf amang, kebetulan saya rada terlibat juga sikit-sikit di Dewan penyantun STT HKBP, dan mencoba berbuat sesuatu tentang Bagaimana STT HKBP bisa menghasilkan Pendeta-Pendeta yang kalau bisa menjadi “The most wanted” karena dirindukan oleh jemaat, dengan demikian para jemaat HKBP tidak lagi perlu “jajan rohani”ke Gereja-gereja lain.Jujur saja, saya kalau ketemu Pendeta HKBP dalam berbagai hal selalau mengkritisi bukan karena saya benci apalagi tendensi menghina, tapi bagaimana HKBP ku ini makin bersinar di masa yang akan datang.
Khotbah hari ini saya sangat menikmatinya di Gereja saya. Sayangnya beliau adalah Pendeta Gereja Methodist walaupun dia lulusan STT HKP Nomensen Siantar. Dia tampan, berwibawa dan suaranya jelas dan seperti orator. Penyajiannya sistematis, menggelitik dan khotbahnya bisa dibawa pulan ke rumah. And most of all boleh saya sharingkan dengan Bapak dan jemaat Bapak di Blog Bapak ini.
Daniel Harahap:
Tentang pertanyaan:
(1) Bahan kotbah atau dasar Alkitab untuk kotbah di seluruh jemaat HKBP memang sama, yaitu ayat yang tertulis di Almanak.
(2) Tidak ada arahan mengenai kotbah dari eforus. Masing2 pendeta bebas menyusun kotbahnya.
… sangat relevan dengan orang kristen moderen yang cenderung terlalu banyak dan terlalu cepat bicara (termasuk berdoa!)?
Atau lebih tepatnya orang batak kristen???
Pernah suatu ketika saya berada di perkumpulan orang batak sehubungan dengan kematian seseorang. Dalam kesempatan itu ada seorang bapak disuruh berdoa. Doanya panjang sekali, yang ujung2nya seperti memberi nasihat. Saya bingung, ini “mandok hata” atau berdoa? Tidak tahan, saya terpaksa membuka mata memandang si bapak yang sedang “berdoa”. Dan bersamaan dengan itu, ada juga beberapa orang sedang memandang si bapak termasuk istrinya yang berusaha mengingatkan si bapak untuk menyudahi “hata”nya. Akhirnya si bapak kaget dan kemudian menyelesaikan doanya yang sudah sempat menyimpang. Hehehe, nampaknya si bapak terbiasa memberi nasihat.
Poin 4, kalimat terakhir. menurut saya, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi apakah pemerintah sudah melakukan apa yang Tuhan perintahkan? Jangan sampai justru pemerintah menggunakan hal tersebut sebagai justifikasi atas tindakannya menumpas/bertindak tidak adil kepada rakyatnya.
makasih atas renungan singkatnya saya sangat di berkati