Oleh: Mula Harahap
Di pertengahan tahun 90-an, dalam perjalanan bermobil ke Medan, saya mampir satu malam di rumah seorang pendeta muda di kompleks HKBP Jl. Mayor Ruslan–Palembang.
Sepanjang malam itu kami ngobrol ngalor-ngidul. Entah mengapa, pembicaraan kami juga menyerempet ke soal gereja dan teknologi komunikasi/informasi. “Kau harus menguasai teknologi komputer,” kata saya berteori kepada pendeta itu. “Sebagian dari masa depan gereja akan sangat tergantung pada hal tersebut….”
Tentu saja pendeta itu hanya diam menatap saya. Tapi, saya rasa, saya tahu apa yang sedang berkecamuk di benak pendeta miskin dari sebuah organisasi gereja yang bernama HKBP itu. Karena itu kepada pendeta itu langsung saya katakan, “Nanti sepulang dari Medan akan saya kirim satu perangkat komputer. Pakailah itu untuk belajar…”
Saya berani berkata begitu karena waktu itu saya memang masih cukup “kaya” dan dipercaya oleh Cina-cina di Glodok sana. Apalagi, menurut pikiran saya, yang dibutuhkan oleh pendeta itu tokh hanyalah sebuah “komputer jangkrik” yang harganya tidaklah “mahal-mahal amat”.
Begitulah, sepulang dari Medan, saya pun langsung merealisasikan teori dan kata-kata saya: Menghutang seperangkat komputer dari seorang langganan di Glodok dan mengirimnya ke Palembang. Setelah itu- -selama bertahun-tahun–saya tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan komputer dan pendeta itu.
Saya baru kembali tersadar akan cerita komputer ketika pada suatu hari pendeta itu datang ke kantor saya sambil menenteng sebuah laptop merek Toshiba. (Saya ingat benar akan merek komputernya, karena waktu itu saya masih memakai komputer hasil rakitan kawan saya dan diberi merek “DC”–suatu singkatan dan modifikasi kata-kata dalam bahasa Batak Karo).
Sebagaimana lazimnya tamu-tamu yang berkunjung ke kantor saya, pendeta itu juga langsung saja memilih meja yang kosong, membuat kopinya sendiri dan mencolok satu dari tiga lini telepon yang ada. Kemudian dia sibuk main internet. Karena saya juga sedang punya kesibukan, maka saya tak pula terlalu menggubrisnya. Kemudian setelah beberapa saat dia pamit. “Aku masih ada janji,” katanya. “Hmm,” kata saya.
Rupanya tingkah-laku pendeta itu menarik perhatian salah seorang anak buah saya. Setelah pendeta itu berlalu, anak buah saya bertanya, “Lho, sebenarnya bapak itu mau ngapain?” Kata saya, “Aku pun tak tahu. Hanya, sudah seperti eksekutif yang super sibuk saja dia kulihat. Klik sana, klik sini, kirim surat, kirim foto…..”
Saya tidak tahu apakah saya bangga atau iri melihat pendeta itu
Tapi yang jelas, sementara saya masih berkutat di Microsoft Office dan Internet Explorer, dia sudah merambah Picassa, WordPress, Facebook, dan entah apa lagi.
Kalau saya pikir-pikir, dbandingkan dengan pendeta itu, saya lebih dahulu bisa mengetik di komputer. Tapi kini justeru saya yang banyak bertanya kepadanya. Misalnya, saya pernah bertanya kepadanya tentang tanda “titik dua, strip dan kurung penutup”, tentang RSS (selalu mengingatkan saya akan rumah BTN), dan tentang apa saja.
Kini saya dengar pendeta itu ingin membagi-bagi komputer kepada rekannya sesama pendeta di pedalaman Tanah Batak sana. Gagasan itu memang bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak hal yang harus diperhitungkan: Apakah fasilitas listrik sudah ada, dan siapa yang akan mengajari pendeta-pendeta itu belajar “ABC” komputer sebelum perangkatnya benar-benar tiba.
Tapi pendeta itu mungkin belajar dari pengalamannya sendiri: “Akh, sudahlah, jangan terlalu banyak teori. Berikan saja perangkat komputernya. Selanjutnya semua akan berjalan sendiri…..”
Horas,
Mula Harahap
NB:
Dulu ketika masih “kaya”. saya memang punya “penyakit” suka membagi- bagikan komputer kepada banyak orang. Penyakit ini ada sebabnya. Dan di lain kesempatan akan saya ceritakan.
Itu namanya Abang na burju, dan Adek yang creative
Tidak terkejut dengan Pendeta banyak yang tidak bisa menggunakan komputer, apalagi teknologi informasi. Selama saya bertugas sebagai parhalado dan yang berhubungan dengan surat penting yang harus dikomputerkan di gereja, baru dua orang pendeta yang bisa menggunakan komputer. Itupun yang satu orang baru belajar (Puji Tuhan ada kemauan). Merasa prihatin juga kalau surat tardidi, malua, nikah, surat keluar dll., menggunakan mesin tik atau tulis tangan. Merasakan begitu sibuknya saya dan teman untuk melakukan pengetikan di komputer segala surat-menyurat. Awalnya saya menganggap karena faktor usia dan belum tersedianya komputer di STT. Tapi lama-kelamaan, kok pendeta muda juga tidak bisa menggunakan komputer. Selidik punya selidik, ternyata mungkin sewaktu kuliah di kampus STT tidak ada komputer. Kemudian barangkali pada waktu mahasiswa di STT dikarantinakan, sehingga tidak ada waktu untuk belajar diluar. Setelah penempatan disuatu gereja, mungkin ada yang mau belajar dan ada yang masih mengandalkan mesin tik. Saya tau rata-rata pendeta tersebut masing-masing punya mesin tik.
Sebaliknnya, pendeta yang sudah pintar memakai komputer dan menggunakan teknologi informasi tersebut, keenakan di depan komputer. Sehingga waktu tersita dan untuk pelayanan ke Jemaat berkurang. Kalaupun berkunjung ke Jemaat, paling kalau diajak (dibajak) oleh pembantunya. Ada baiknya kalau sudah lihai pada bidang teknologi informasi, posisinya bukan lagi sebagai pelayan di gereja, tetapi ditempatkan di pos yang membutuhkan teknologi informasi tersebut. (Hanya masukan buat HKBP tercinta.)
NB:
Dulu ketika masih “kaya”. saya memang punya “penyakit” suka membagi- bagikan komputer kepada banyak orang………
Membagi -bagikan !!
Berbagi !!!!!!!!!!!!!!!!!
Kata itu sangat akrab di telinga saya di kumandangkan oleh pendeta-pendeta di atas mimbar gereja. Konon menurut KITAB yang di baca pendeta itu sejak 2000 tahun yang silam sering diajarkan dan dipraktekan seorang ” Pemuda” yang bernama YESUS dari Nazaret. Pemuda itu berasal dari keluarga miskin, bapaknya hanya tukang kayu.Tapi Sang Pemuda itu sering membagi-bagikan makanan bagi ribuan orang, bahkan DIA telah membagikan TUBUHNYA bagi jutaan orang. Dan saya juga turut kebagian. Terpujilah YESUS dari Nazareth itu!
Menarik tulisan Amang Mula ini. Tidak semua pendeta seberuntung pendeta yang Amang ceritakan. Tidak bisa disangkal bhw masih banyak pendeta HKBP yang tidak (mau) tau tentang komputer dan internet alias “gaptek”. Dan alangkah mulianya rencana Amang DTA membentuk SGM. Supaya Tapanuli khususnya Gereja dan sekolah pedalaman dapat dijangkau oleh internet. Tapi maaf belum bisa jadi member. Holan tangiang pe jolo sian ahu ate
Memang cara bercerita amang Mula ini selalu sangat menarik dan menggelitik, namun sarat pesan positif. Tulisan2nya sering membuat saya tersenyum-senyum dan terkadang sampai terbahak-bahak membacanya. Lihat saja caranya menceritakan tentang adiknya sendiri…
Sebelumnya terima kasih banyak buat amang, sudah mau “nangkringin” nama saya di blogroll RUMAMETMET. Mudah-mudahan saya (dan sekitar saya) yang di “Bona Pasogit HKBP” ini lebih banyak lagi memiliki teman, saudara maupun kerabat yang sudi berbagi pikiran/pandangan maupun hal-hal lain.
Seorang pelayan (hamba Tuhan) memang sebaik-nya di zaman millenium ini memiliki pengetahuan akan “benda ajaib” bernama “computer”. Karena sangat-sangat membantu sekali dalam segala hal. Semakin lama kegunaannya-pun semakin beragam dan semakin canggih. Dulu bentuknya besar-besar, sekarang semakin kecil bahkan sekarang sudah ada bentuk tablet (he..he..he..maksudnya tablet pc). Dahulu statis sekarang sudah bisa dibawa-bawa. Ada pula istilah-istilah HI FI, WI FI, Internet, Intranet, Modem (seperti modom????), bahkan yang terakhir ini untuk komputer yang spesifikasi-nya sudah tinggi ada namanya CORE 2 DUO (dibaca:cor duo duo…mengingatkan saya dengan lagu “kribo duo-duo”…).
Zaman sekarang segala bentuk penyajian tulisan adalah hasil dari pengolahan kata maupun data di komputer. Bahan-bahan tulisan untuk sermon, acara-acara natal, jadwal pangebation, jadwal na manjabui partangiangan, laporan keuangan, dll…semuanya lebih enak dibaca klo hasil pengolahan dari komputer. Pernah dalam suatu sermon ressort yang saya ikuti…ada calon pendeta yang gilirannya ber-presentasi untuk pendalaman khotbah minggu, copy-an yang dibagikan masih dalam bentuk tulisan tangannya sendiri (ajaib bener gak tuh?…hari genne?…mending klo tulisannya cantik enak dibaca, ini sudah nyaingin tulisan dokter di kertas resep…). Ada juga pernah yang masih pake mesin ketik. Waduuuhhh. Memang siiihh..gak ada warnet, tapi rental komputer untuk sekedar mengetik dan print sudah ada. Lagian saya pikir…khan klo ada kemauan bisa numpang ketik ke rumah Pendeta Ressort (sumbangan PI DEL Laguboti inventaris Ressort), ke rumah saya…ato kerumah ruas lain yang punya. Ato sebenarnya gak bisa?…saya pikir apa di STT Siantar gak diharuskan semua mahasiswa-nya harus mahir komputer? Mungkin sama aja ya…seperti mahasiswa-mahasiswa di kuliah di PT lainnya. Klo pas ada makalah yang harus dibuat…diketikin sama yang punya rental sekitar-sekitar kampus, demikian juga dengan skripsi…akhirnya…sampai ditahbiskan-pun haduan gak bisa mencet-mencet benda ajaib ini.
Tapi…untuk angka amang/inang Pandita yang masih muda-muda, yang masih “fresh from oven”, harusnya sudah gak tulalit lagi dengan masalah ini. Masak seh Pendeta angkatan millenium pada GAPTEK? he…he…he…janganlah ya! Klo yang udah tua seh…masih bisa dimaklumi. Itu-lah makanya juga saya sendiri ikut-ikutan nge-blog di dunia “unlimited” ini. Setelah saya fikir-fikir, banyak sekali manfaat-nya. Juga agar orang-orang jangan berfikir kami-kami yang dipelosok ini gak tau apa-apa, gak tau dunia luar, gak tau teknologi.
Oleh karenanya…dengan ilmu komputer dan pengetahuan internet yang “pas-pasan” saya coba punya rumah kecil seperti amang DTA, dengan harapan…banyak teman…banyak yang tau situasi Sipirok dengan Gereja tua-nya dan sekalian juga belajar untuk menggali potensi diri. Saya juga berfikir…sintua gak boleh kalah sama pendeta …. dalam segala hal, kecuali satu (soalnya gak bisa dirubah lagi…sudah ketentuan dari pearaja) : klo pendeta itu khan pelayan fulltimer, klo yang ini sih katanya istilah-nya part-timer alias “nyambi”…he…he…he.
Oh yah…program “gadong manginsir-nya sangat aku dukung sekali. Seluruh pelayan HKBP dan orang-orang HKBP harus melek komputer-melek internet. Aku seeeh…belon bisa masuk sebagai anggota dengan ketentuan/syarat yang demikian. Sementara gereja kami juga termasuk kategori pis-pis ri dan aku juga termasuk aparatur negara yang pis-pis ri (ha..ha.ha…) Biarlah besok-besok klo memang sudah jadi…aku jadi donatur aja yah mang…semampu yang aku bisa berikan demi program yang mulia ini.
Begiculah kalo dongan tubu menjadi dongan tubu na burju. Seperti kata pepatah “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. So… lebih canggih. Baru pertama ini kulihat foto di atas. Sekali brewok tetap brewokan. Tampaknya sudah menjadi trademark. Pernah nggak ya.. sekali waktu dulu setelah jadi pendeta punya wajah klimis..??? Gimana rasanya. Masih pede ndak..???hihihihihi
Saya jadi teringat ucapan jenderal M.Yusuf ketika hendak menyampaikan bantuan persenjataan ke tiap-tiap batalion TNI.Dia berkata;”Kalian harus ingat bahwa yang lebih penting itu orang yang mengendalikan senjata itu daripada senjata itu sendiri”.Ketika itu saya masih remaja,saya menganggap senjata itulah yang lebih penting. Dengan senjata yang lebih canggih tentu musuh gampang dikalahkan.Tapi lama-lama saya sadar bahwa konsep pertahanan atau kriteria musuh dan perang itulah yang harus diutamakan terus-menerus sebelum memutuskan membeli atau menggunakan senjata.Dengan demikian kita bisa lepas dari nafsu menjajah atau keinginan berkelahi seperti hewan. Demikian juga dengan HKBP. Untuk apa memiliki gereja yang besar, sound system yang canggih,komputer di mana-mana kalau tak ada visi, misi dan program yang relevan. HKBP bukan Pentagon, yang kalau terlambat satu milidetik gagal menjaga satu peradaban. Mental gembala yang tangguh, sabar, dan berani itulah yang perlu dimiliki para pendeta jaman sekarang.
Menurutku ini poto Amang yang paling “culun” dibandingkan poto poto yang lain.. (apalagi yang di topi tao toba itu..) biasanyakan gagah laksana perwira.. kalau poto yang ini.. udah kaya’ orang ketakutan kulihat.. tapi salut.. dari poto “culun” ini dan melihat Amang sekarang memperlihatkan suatu hasil dari proses yang diberkati.
ROH KUDUS yang memberkati amang dengan memakai akal budi dan talenta Amang.
Daniel Harahap:
Foto itu dibuat tahun 1996 – dua belas tahun lalu – saat saya masih seorang pendeta muda, miskin dan belum berpengalaman. Hahahaha.
Beberapa waktu yang lalu dalam “comment” yang saya berikan untuk sebuah “posting” di blog ini, saya sebutkan bahwa sudah banyak pdt yang ter-upgrade karena jemaatnya sudah lebih dulu ter-upgrade.
Dalam konteks tulisan amang Mula Harahap ini dan dalam konteks teknologi informasi (TI), mungkin tulisan diatas bisa dimaknai sebagai saran atau mungkin ajakan (yang jelas bukan “cemoohan”). Karena kita semua melihat betapa infiltrasi jaringan komunikasi dan koneksi dunia maya (internet) sudah menjelajah jauh ke “huta-huta” yang ada dibalik gunung dan diseberang sungai.
Dalam kondisi seperti itu, pemahaman parhalado (bukan hanya pdt lho) akan TI serta kemampuannya memanfaatkan TI (seperti amang dta) sebagai media penyebarluasan pengajaran iman adalah keharusan. Untuk itu saya mendukung ide dan konsep yang sedang dikerjakan oleh amang dta sekaligus bersedia membantu sesuai dengan kapasitas yang saya punya.
Pendeta muda jaman sekarang sudah lebih maju dan salut buat pendeta yang membuka diri terhadap teknologi, ga bisa disalahkan juga pendeta belum tau TI sekarang, karena di bentengi keterbatasan, coba lihat Seminarium Sipoholon, para pendeta belajar di dalam hutan lindung di bawah pohon cemara (waktu kecil aku dan temen temen nya suka nyari harimaonting jadi suka ketemu ama guru guru huria/pendeta yang khusuk belajar) mungkin saat inipun disana belum ada speedy kali ya ??? tapi lihatlah pendeta muda sekarang STT angkatan 2000an sudah lebih membuka diri karena keadaanpun sudah berpihak ke mereka, tapi unang ma lupa angka pandita nanihaholongan bahwa tugas utama adalah pelayanan.
Daniel Harahap:
Teknologi bukan tujuan tetapi alat pelayanan.
Gaptek? Hmmm… Waktu kami tinggal di Manado, dalam tugasnya suamiku bekerja sama dengan seorang profesor dari Universitas Sam Ratulangi. Suatu hari sang profesor menyerahkan tulisan di disket kepada suamiku, sebagai bahan masukkan bagi pekerjaan suamiku. Suamiku menyerahkan disket tsb kepada asistennya untuk diedit. Tulisan tsb membuat asisten suamiku pusing. Kenapa? Karena di setiap ujung kanan tulisan, sang profesor menekan tombol “enter” !!!
Sekitar tahun 2000, saya pernah janjian ketemu sama pendeta muda yang disebut dalam tulisan ini. Beliau mengirimkan sms ke hp saya via fasilitas sms gratisan di internet.
Dalam hati saya berkata: “Hebat kali pendeta ini, awak pun yang hampir setiap hari connect to internet, belum familiar dengan fasilitas ini”
Aku memang agak telat membaca isu mutakhir yang ada di rumametmet. Tapi, seperti biasanya, kalau kita tahu siapa ‘man behind the gun’ maka dengan mudah kita bisa mengambil keputusan ikut atau tidak.
Maksud saya, ide SGM itu adalah ide yang sangat sederhana, bermutu, dan pantas untuk didukung. Kalau beliau tergerak untuk membantu rekan sekerja di daerah terpencil, itu adalah sebuah tujuan luar biasa. Memang banyak orang lain membantu dalam hal berbeda, dan beliau mengambil jalan yang lain untuk melengkapi.
Akan sangat banyak pendeta akan terbantu apabila program ini berjalan. Dan kalau pendeta-pendeta kita di daerah terpencil makin sejahtera, maka saudara-saudara kita disana juga akan sangat banyak tercerahkan.
Saya tidak bisa berteori lebih banyak lagi, hanya merasa bahagia apabila membantu program tersebut.
Salam. Bapak Juan dan Mika.
ha ha ha
Kompak do hamu bah…
On ma goarna manat mardongantubu.
Unang digoari dongan tubuna.
Dipangke ma kata ganti orang ketiga.
Saya setuju bahwa seorang pendeta minimal mengerti internet. Internet salah satu media menambah pola pikir seseorang termasuk pendeta. Saya belum pernah ketemu seorang pendeta HKBP yang “ngerti” internet. Saya yakin kalau seorang pendeta sering2 browsing cakrawala berpikirnya akan bertambah, dalam berkhotbah pun akan menarik, tidak membosankan seperti saat ini.
Daniel Harahap:
Saran: banyak-banyaklah bergaul dengan pendeta HKBP.
hahaha.. dimasukin kesini juga amang, lucu sekali.. waktu baca di milis saya terbahak2 sendiri, untunglah ada orang2 seperti amang berdua yang tulisannya selalu gaul abiez..
Di zaman Globalisasi ini Pendeta melek perangkat Komputer sdh merupakan kewajiban atau mendekati keharusan. Memiliki PC Desktop apalagi LapTop adalah Obsesi yang wajar dan sehat.Tujuan SGM utk memfasilitasi para Pendeta HKBP dgn LapTop dan koneksi Internet itu perlulah. Sangat sangat realistis dan terpuji. Untuk yang satu ini saya akan “in”,tp untuk masyarakat luas Tano Batak “disagree and no comment anymore”. Koordinasi dgn Pimpinan HKBP terutama Pimpinan STT shg mereka welprepared dan pada waktunya akan menuai panen raya,yaitu Pendeta2 yang Handal. Bravo HKBP, Yesus diperMuliakan.
Amang Sipayung, Foto di atas sudah lumayan dibandingkan dengan penampilan amang DTA waktu baru datang ke Palembang tahun 1991, dan kesan saya waktu menyaksikan beliau marjamita di langgatan, “hera Tuhan Jesus”
Daniel Harahap:
hera = hira = tidak sama dengan.