Ulang Tahun HKBP ke 147: Siapa Perduli?

October 7, 2008
By

tugu-jubileum-100tahun-hkbp.JPG 

Oleh : Pdt Daniel T.A. Harahap

Ayo tunjuk tangan, siapa yang ingat bahwa hari ini 7 Oktober 2008 HKBP berulang tahun ke-147. Jujur, saya juga tidak ingat sebelum masuk SMS dari Pdt Gomar James Gultom “Dirgahayu HKBP. Semoga makin  berbuah di tengah keterpurukan bangsa kita sekarang”. Beberapa menit berselang masuk SMS dari Eforus DR Bonar Napitupulu “Yesus memilih kita agar berbuah dan buah kita tetap. Selamat ulang tahun HKBP”. 

Saya termenung: Oh HKBP-ku. Tiga tahun lagi kau berusia 150 tahun. Sekarang bagaimana keadaanmu? Ah pagi ini bukan saatnya merenung. Hendro, penjaga gereja kami belum pulang mudik, syukur ada Wawan anak Satpam yang mau menggantikannya sementara sehingga kebaktian minggu kemarin gereja tetap bersih (walau tak menyediakan minuman seperti biasa). Rumah khususnya dapur berantakan karena pembantu belum datang. Namun saya harus mengecek apakah halaman gereja sudah bersih dan lampu-lampu sudah dimatikan. Bahan sermon selasa malam juga belum saya bikin. Satu lagi: saya juga mesti melihat apakah angsa-angsa sudah pulang. Laporan sementara mengatakan tiga angsa yang “raib” bertandang ke kandang tetangga (mungkin karena di gereja tidak dikasi makan seminggu ini karena Hendro dan saya sama-sama mudik). 

Namun tiba-tiba saya teringat lagi: setahun lalu di Senayan HKBP gegap-gempita merayakan ulang tahunnya ke 146 dengan mengundang Presiden SBY segala. Tahun ini? Entahlah. Saya kuatir sebagian warga dan mungkin juga pendeta HKBP lupa hari ini ulang tahun gerejanya. Lupa ulang tahun tak apalah. Yang penting semua jangan  lupa tugasnya berbuah dan berkarya.Horas HKBP! 

Share on Facebook

32 Responses to Ulang Tahun HKBP ke 147: Siapa Perduli?

  1. Ninggor Pardede on October 7, 2008 at 9:45 am

    Selamat Ulang Tahun HKBP ku yg ke 147. Mari kita tunjukkan buah 2 kita yg bermanfaat buat orang lain.

  2. anju gultom on October 7, 2008 at 12:20 pm

    Biarlah setiap orang dapat mengucapkan Selamat Ulang Tahun HKBP-ku

  3. JP Manalu on October 7, 2008 at 12:59 pm

    Dirgahayu HKBP, semoga menjadi berkat bagi banyak orang.
    Usia 147 Tahun bukanlah usia yang muda lagi buat suatu organisasi, apa yang telah dan akan kita lakukan? Mari kita bersatupadu dengan sepenuh hati, berbuat yang terbaik untuk Tuhan melalui Gereja-Nya ini, sebagai wujudnyata karya penebusan Tuhan kepada kita.
    Selamat ulang tahun HKBP!

  4. John Hutapea on October 7, 2008 at 1:11 pm

    Ya saya juga baru tahu tadi pagi saat baca Almanak: hari ini Ultah ke 147 HKBP. Tetapi perasaan biasa biasa saja. Dirgahayu HKBP. Suatu Umur yang sudah cukup tua untuk organisasi di Indonesia. Jangan-jangan yang paling tua. ( Organisasi sdr2 kita NU dan Muhamadiyah kalau tidak salah lahir Tahun 1920 an), Bumi Putra thn 1912). Kita Doakan Semoga HKBP tambah berbuah Pelayanannya dan semakin maju menjelang 150 Tahun usianya.

  5. Mula Harahap on October 7, 2008 at 1:56 pm

    HKBP itu zodiak-nya Libra dan shio-nya Ayam. (Sebenarnya hari kelahirannya juga bisa dihitung, apakah Jumat-Kliwon, Sabtu-Legi dsb. Dan apakah dia Ayam-Api, Ayam-Air dsb). Tapi dua data tersebut terdahulu pun sebenarnya sudah cukup memadai untuk mengetahui bagaimana kesehatan, peruntungan, karir dan jodoh Ayam-Libra itu di Tahun Tikus-Tanah (2008) ini. Kita bisa mengukurnya sendiri. Tapi kalau kita bingung, yah apa boleh buat, kita juga bisa bertanya ke Mama Laurent, Ki Joko Bodo dsb :-)

    Daniel Harahap:
    Husss. Ini jaman susah. Jangan bikin lebih banyak kesusahan. :-)

  6. St. Ir. Maludin Sitanggang, M.Sc. on October 7, 2008 at 2:14 pm

    Memang banyak yang tidak mengingat ULTAH HKBP. Bisa saja karena dilelahkan oleh SINODE dan penyusunan strukturalnya. Dan yang paling diutamakan menurut pengamatan saya selama ini adalah :
    1. Ulang Tahun Gereja masing-masing. 2. Ulang Tahun menjadi Ressort
    3. Ulang Tahun Distrik. ULTAH gereja setempat, Ressort, dan Distrik dimanfaatkan untuk “PESTA”.
    Mari kita sama-sama memikirkan supaya peduli dengan hari jadi HKBP tersebut, dan mengakar sampai ke tingkat Jemaat. Namun kita lihatlah Warta Hari Minggu, 12 Okt. 2008, apakah ada terungkap Ucapan ULTAH HKBP dan dari para pengkhotbah apakah menyuarakan ULTAH HKBP na Bolon ini?

  7. Tumpal Silitonga on October 7, 2008 at 2:51 pm

    Selamat Ulang Tahun HKBP.
    Seperti pesan dalam lagu dibawah ini, perjalanan HKBP di dunia ini adalah hanya karena anugerah TUHAN Allah dan karena Firman Allah menjadi dasarnya.

    Debata baen donganmi!
    Lao mangula ulaonmu,
    baen Ibana haposanmu.
    Sai paserep rohami.
    Debata baen donganmi!
    Debata baen donganmi!

    God Bless HKBP :)

  8. Gerda Silalahi on October 7, 2008 at 2:59 pm

    Dirgahayu HKBP
    Semoga terus semakin mengakar dan berbuah.

    Pro Amang Mula,
    Tolong dulu hitung pake ilmu paranormal amang, si Belle juga baru saja berulang-tahun beda seminggu dengan HKBP. Berarti sama-sama Libra.

    Selamat ulangtahun juga untuk boruku yang cantik. Tanggal 29 September 4 tahun lalu, rasa yang sama masih kumiliki hingga hari ini. Bersyukur untuk berkat terindah, paket miracle luar biasa dari Tuhan untuk kami.

    Semoga HKBP juga tetap dan akan menjadi berkat terindah bagi jemaatnya dan lingkungannya. Amin.

  9. Arto Simanjuntak on October 7, 2008 at 5:35 pm

    Met ulang tahun HKBPku tercinta…
    kiranya jemaat-nya makin mapan dlm iman
    sehingga firman Tuhan boleh dilakukan dlm hidupnya.

    Spesial untuk NHKBP-nya smakin giat dlm pelayanan
    dan menjadi PETANI-PETANI ANGGUR

    BRAVO HKBP.

  10. Salngam on October 7, 2008 at 6:40 pm

    Selamat Ulang Tahun HKBP ku tercinta. Ku yakin Tuhan akan senantiasa menjaga HKBP kami itu bagaimanapun si Bolis pangago i mengecohnya. Tuhan memberkati.

  11. nina siahaan on October 7, 2008 at 9:34 pm

    sLamat malam Amang ..
    perkenalkan ..
    sya Nina br siahaan (15)..
    anak ke-3 darI ny siahaan Br pardede..
    saya mau tanya amang ..
    tadi siang saya dan mama pergi ke pusat perbelanjaan .. ,, lalu kami makan di sebuah tempat makan siap saji ..
    disamping meja kami ,, memang sudah ada segeromblan anak muda yang sudah dari tadi duduk disitu ,, sehingga .. kami baru saja “menyantap” hidangan kami mereka sudah berbenah ..
    waktu mreka sudah sampai pintu keluar .. ,, saya melihat ada 2 porsi nasi yang masih utuh (masih terbungkus rapih dalam plastik) di tinggalkan begitu saja ..
    yang mau saya tanyakan ..
    apakah itu dosa ..

    sedangkan kira2 -/+ 3 bulan yg lalu saya menonton brita bahwa ada ibu yang sedang hamiL meninggal karena klaparan ..

    saya sangat miris skali liat nya .. lalu datanglah OB (office boy) untuk membersihkan meja .. ,, saya kira dia akan menyimpannya ..
    eeh ternyata di buang … aduuh makin miriis :( ( …

    saya rasa itu saja yang ingin sayan tanyakan ..

    Daniel Harahap:
    Nina, membuang-buang makanan adalah tindakan yang salah dan tidak pantas. Memang benar itu uang kita sendiri tetapi menghambur-hamburkan uang atau makanan bukanlah sesuatu sikap yang baik. Tindakan pelayan restoran sudah tepat, sebab makanan bekas orang lain (disentuh atau belum disentuh) di restoran cepat saji harus dibersihkan. Nanti orang lain marah jika diberikan kepada orang lain. Intinya: bersikaplah hemat, wajar dan pantas. :-)

  12. Andar on October 7, 2008 at 10:25 pm

    Selamat Ulang tahun HKBP. Tercurahlah berkat dan hikmat kepada seluruh pelayan dan warga jemaat HKBP. Kalau kawan-kawan masih mengingat Ephorus HKBP Pasca Krisis, Pdt Dr JR Hutauruk? Beliau juga berulangtahun tepat pada hari lahirnya HKBP. Sekalian juga selamat ulang tahun kepada beliau.

  13. st. henry irawan sianturi, skm on October 8, 2008 at 1:45 am

    147 Tahun yang lalu, tepatnya 7 Oktober 1861. Empat Missionaris: Pdt. Gerrit Van Asselt, Pdt. FG.Betz, Pdt. Heine, Pdt. Klammer melakukan Rapat pembagian Tugas Pelayanan di Sipirok. Keempatnya adalah gabungan Zending Belanda dan Jerman. Pdt. Betz mendapat wilayah pelayanan di Bungabondar, Pdt. Klammer di Sipirok, Pdt. Heine dan Pdt. van Asselt di Pangaloan. Dan tanggal rapat pembagian tugas inilah yang kemudian dicatat sebagai hari jadi atau lahir-nya HKBP. (dari berbagai sumber)

    SIPIROK dan HKBP
    Sipirok begitu menyatu dengan HKBP. Pekabaran Injil di tanah Batak dapat dikatakan mengikuti alur imperialisme dan kolonialisme. Tanah Batak bagian Selatan-lah yang mula-mula dapat ditaklukkan oleh Belanda pada saat itu, sementara daerah yang belum dapat ditaklukkan dikategorikan “Kawasan Batak Merdeka” (de Onafhankelijke Bataklanden) yaitu : Silindung, Humbang, Toba dan Samosir. Itulah sebab-nya missionaries pertama mengembangkan pelayanannya di Angkola dan Sipirok (G.Van Asselt). Pdt Van Asselt sendiri pada 31 Maret 1961 membaptis orang Batak Kristen pertama : Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon di Sipirok.
    Jemaat Sipirok berdiri pada sekitar Bulan Mei tahun 1864. Dan pada tanggal 25 Desember 1864 dilaksanakan pembaptisan yang pertama terhadap : Thomas Siregar, Philipus Hutabarat dan Johannes Hutabarat.

    HKBP juga pernah merayakan Jubileum ke-100 tahun pada tahun 1961 dan Tugu Peringatan Jubileum 100 tahun tersebut hanya ada di 3 lokasi: Di halaman Gereja HKBP Sipirok, di Kompleks Kantor Pusat HKBP, dan di Halaman HKBP Nomensen di Sigumpar.

    Tahun 1990/1991 juga pernah diadakan Pesta Raya Konferensi Pemuda HKBP dan Perkemahan Pemuda dipusatkan di Sipirok.

    Situs Parausorat, tempat Sikkola Guru dulu yang dimiliki HKBP sampai saat ini masih awet dalam kenangan. Demikian juga dengan situs Gereja HKBP Sipirok (sekitarnya). Biasanya setiap tahun para keluarga-keluarga missionaries RM dari Jerman ataupun Zending Ermello dari Belanda datang mengunjungi HKBP Sipirok, sekedar bernostalgia. Disekitar lokasi HKBP Sipirok sampai saat ini masih ada kuburan-kuburan tua tempat dikuburkannya para missionaries terdahulu dan keluarganya. Juga 2 lonceng gereja (pemberian para missionaries) yang sudah hampir seumur HKBP yang masih baik dan setia berkumandang sampai saat ini untuk memanggil beribadah.

    Pada tahun 2004 Balai Besar Arkeologi Medan datang meneliti dan menetapkan kawasan HKBP Sipirok sebagai situs sejarah yang ditemukan kembali. Jemaat HKBP Sipirok sendiri adalah 63 KK karena sebahagian besar telah pindah Jemaat ke GKPA sejak HKBPA dipajae HKBP menjadi GKPA. Dan kami dengan segenap hati, berusaha agar HKBP Sipirok harus tetap eksis dan ada di Sipirok sebagai bonapasogit-nya HKBP: dari 3 orang menjadi 3,5 juta orang. Dari Sipirok sekarang sudah sampai ke New York.

    Yang ada di kepala saya ialah : bagaimana HKBP Pusat mau melestarikan situs-situs bersejarah milik HKBP. Bagaimana Jemaat HKBP di seluruh dunia ini masih dapat memalingkan wajah-nya sejenak ke Sipirok. HKBP Sipirok seperti leluhur yang sudah tua, keturunan-nya sudah sampai kepenjuru dunia. Mari…kami mengundang Bapak/Ibu sesekali jalan-jalan, atau berkunjung kesini. Manatau pulang kebonapasogit mampirlah ke Sipirok. Tapi kami juga mohon senantiasa dibawakan dalam doa, agar senantiasa sehati sepikiran didalam berjemaat dan dalam pelayanan. Kami juga kepingin Jubileum HKBP ke 150 tahun nanti tahun 2011, kalaupun dipusatkan di Kantor Pusat atau dimana saja, HKBP memiliki program/even/kegiatan disini. Paling tidak dilakukan seremonial Peringatan-nya disini barulah Perayaan-nya dilaksanakan di tempat yang telah ditentukan. Horasss……

    Dirgahayu HKBP Ke-147 tahun

    Daniel Harahap:
    Tulisan ini membuat saya menitikkan air mata. Sipirok adalah kampung halaman kami dan terlupakan. Sudah enam generasi keluarga kami tinggal di Banjar Toba Sipirok, tempat berdirinya gereja HKBP Sipirok. Kakek moyang saya Evangelis Benyamin Harahap adalah generasi Kristen Batak pertama. Terima kasih Amang Sintua, telah mengingatkan kita (secara khusus saya) akan Sipirok. Jika bertemu dengan Pimpinan, saya akan ikut menyuarakan agar HKBP mengingat kembali Sipirok dan Parausorat, apalagi di Jubileum 150 Tahun HKBP mendatang. Sebab seperti Amang Sintua tuliskan dan tertera di Almanak: di Sipirok-lah dilakukan rapat pembentukan HKBP itu.

    Saya belum lupa pada tahun 1990 Konferensi Naposobulung HKBP sengaja diadakan di Sipirok. Ide Indra Nababan (Paniroi Dept NHKBP waktu itu) saat rapat di Parapat agar Konferensi NHKBP dilakukan di Sipirok untuk mengingatkan pemuda akan akar sejarahnya serta sebagai sebuah simbol keberpihakan kepada rakyat miskin. Konferensi itu terlaksana di gereja sederhana walaupun sempat tertunda dua hari karena ijinnya dicabut oleh Poldasu. Di konferensi Naposo Sipirok itu pulalah para pemuda melakukan koreksi terhadap adat HKBP. Pada waktu itu jemaat Sipirok yang miskin2 itu hendak meng-ulos-i eforus. Namun panitia tidak setuju. Eforuslah yang harus mangulosi jemaat Sipirok yang kedinginan dan kesepian di Tanah Selatan itu. Eforus SAE Nababan setuju. Dalam kebaktian raya eforus pun mengulosi jemaat kecil itu yang sebagian besar ibu-ibu tua sebagai lambang doa memohonkan kehangatan, sukacita dan berkat. Ah, kenangan ini membuat air saya menetes lagi.

  14. tohap on October 8, 2008 at 8:45 am

    Amang..
    aq jg lupa ulang tahun Universitas HKBP Nommensen (UHN) ternyata sama dengan ulang tahun nya HKBP :)
    Selamat ulang tahun HKBP …
    Selamat ulang tahun UHN…

  15. Ruas-Bandung on October 8, 2008 at 9:16 am

    Ulang tahun adalah saat yang tepat untuk merenung. Mengingat kembali apa yang telah dilalui dan merenung apa yang telah diperbuat di masa lalu.
    HKBP juga (kita juga adalah HKBP) harus mulai berbenah supaya tubuh HKBP makin kuat.
    Saya sebagai HKBP juga ikut merenungkan apa yang telah diperbuat HKBP (jemaat pendahulu). Dan kalau kuingat nasib STM HKBP di rambong merah yang hidup segan mati tak mau..dan kalau kuingat cerita kejayaan RS HKBP Balige…dan kalau kuingat SMA/SPG HKBP Jl. gereja Siantar yang telah punah…dan kalau kuingat kampus HKBP Nommensen yang bertaburan kaca-kaca pintu dan jendelanya yang pecah…dan kalau kuingat antar ruas di Bandung yang pukul-pukulan sampai bonyok…

    Ahh…apakah HKBP ini suatu saat hanya sebagai SWEET MEMORY???
    Biarlah Tuhan Yesus tetap sebagai Tuhan di HKBP dan bukan menjadikan HKBP sebagai tuhan buat ruasnya.

  16. A Napitupulu on October 8, 2008 at 9:56 am

    Wah..malu juga sebagai ruas HKBP lupa tanggal lahirnya, padahal di gereja kami pada tingting minggu sudah mengingatkan tanggal lahirnya HKBP, tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak mau tahu.
    Horas HKBP…Selamat Ulang Tahun…semakin tumbuh dan berbuah.

    HKBP sebagai organisasi tidak akan lepas dari kemelut, tetapi itulah dinamikanya…yang penting kita punya hati untuk HKBP. Sekali lagi selamat Ulang Tahun HKBP.

  17. liberty on October 8, 2008 at 10:33 am

    Selamat siang amang, Selamat HUT HKBP 147, kemarin dirayakan dengan penuh kesederhanaan dan saya sangat terharu kebetulan bersama sama merayakan dengan ompu i eforus yang datang ke gereja HKBP Sukarami Palembang, tanpa disangka-sangka bisa ikut sama-sama merayakan juga di dampingi preses yang baru sumbagsel bapak Pdt.Rachman tua Munthe, Pdt.Jalongos Manullang dan pendeta resort Plaju, Palembang & Kenten. Pada kesempatan itu Ompu i Eforus memberikan kesempatan tanya-jawab tentang HKBP ke masa yang akan datang, juga disinggung VISI MISI HKBP. dan saya sangat berterimakasih karena salah satu yang diberi kesempatan untuk bertanya, dan eforus mengatakan HKBP kedepan sesuai dengan Visi dan misi …,agar tetap kudus harus ada reformasi yaitu Back to Bibel. dan juga mengatakan akan memperbaiki sistem yang ada di HKBP. Syaloom nanti foto-fotonya saya kirim menyusul.

  18. Ferry Siahaan on October 8, 2008 at 11:17 am

    Amang, sampai skrg saya msh belum bisa mengerti, apa alasannya HKBP menetapkan 7 Oktober 1861 sbg tgl lahirnya. Krn 6 bulan sebelumnya ada sebuah peristiwa yg jauh lebih bernilai historis & teologis, yaitu pembaptisan 2 orang Batak pertama menjadi Kristen: Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar tgl 31 Maret 1861 di Sipirok. Mengapa tdk peristiwa ini saja yg ditetapkan sbg hari lahirnya HKBP? Kan peristiwa ini yg lebih dulu terjadi, dan lagipula lebih indah utk dikenang, drpd peristiwa 7 Oktober yg “hanya” sebuah rapat pendeta biasa? Saya berharap para pakar sejarah Gereja mau meneliti kembali peristiwa pembaptisan itu.

    Daniel Harahap:
    Ya saya juga tidak tahu kenapa rapat empat orang misionaris itu dianggap lebih penting dari peristiwa baptisan pertama. Mari kita tunggu para pakar sejarah dan teologi bicara. :-)

  19. Parhobas on October 8, 2008 at 12:18 pm

    Mempedulikan/mengingat hari ulang tahun orang lain apalagi gereja bahkan diri sendiripun kadang kita lupa.
    Bagaimana yaa….rasanya bisa timbul beban pikiran betapa banyaknya kesempatan baik yang sudah terlewatkan tanpa kita isi memperbaikinya. Dan semakin sedikit pula waktu yang tersisa kita miliki untuk berbuat karya-karya kebaikan, walaupun belum terlambat karena umur kita akan semakin berkurang sampai habis/mati.
    Namun gereja Tuhan tetap berdiri kuat di atas batu karang FirmaNya. Sekalipun dunia goncang dan kita tidak sungguh-sungguh bertobat mau belajar FirmanNya dan melayani Tuhan dengan motivasi duniawi atau mempermainkan gereja HKBP, tetapi Kristuslah Tuhan yang terus berkarya membentuk umatNya dalam perjalanan sejarah gerejaNya jelas bukan kita.
    Dirgahayu HKBP !

  20. Hedmon Tampubolon on October 8, 2008 at 1:07 pm

    Selamat Ulang Tahun buat HKBP dan kita sebagai jemaat, terutama Puji syukur kepada Tuhan yang mendirikan Gereja-Nya di Tanah Batak.

    Buat warga mahasiswa Univ. HKBP Nomensen jadikan ulang tahun ini sebagai instropeksi diri, JANGAN SUKA TAWURAN! Jadilah garam dan terang dunia (dunia Kampus).

    Horas HKBP!

  21. ando on October 8, 2008 at 3:57 pm

    Selamat ulang tahun HKBP-ku!
    Tetaplah berbuah & menjadi berkat bagi sesama.
    Horas!!!

  22. Serene on October 8, 2008 at 6:34 pm

    Sebenarnya gak perlu perayaan ultah, yang perlu itu di -INGAT-. Dari mengingat, kita tau umur sudah 147, kalau umur sudah segitu, kita tau apa ukuran prestasi dan pencapaian kita. Jadinya akan ada intropeksi diri yang melahirkan perbaikan di sana sini.
    Selamat Ulang tahun ya HKBP.. Aku mencintaimu..

    Amang,
    Aku juga mau Curhat sesuatu yang “mengganggu” hati ini dan tak tertahankan lagi. 26 September kemarin aku dan teman2 datang ke TIM untuk menghadiri Pagelaran drama dan tari Nomensen yang diadakan oleh NHKBP dan ASM HKBP Rawamangun. Seminggu sebelumnya, 19 Sept sore, saya di forward flyernya tentang detail harga tiket dan Contact Person. Saya telepon pada hari itu juga dan dikatakan tiket Festival seharga 25.000 masih available. Akhirnya pada hari Seninnya, saya koordinasikan ke teman2 saya siapa2 saja yang mau ikut.. Hari Selasa, akhirnya total yang jadi ikut ada 6 orang.
    Rabu pagi, saya telepon panitia, dan bilang kalau saya akan transfer uang tiket. Tapi mengejutkan sekali amang, jawaban panitia tersebut sungguh diluar dugaan saya. Dia katakan bahwa tiket festival telah habis. Yang sisa hanya tiket yang harganya minimal 250rb/org. Saya katakan apakah ada kemungkinan bisa masuk pada hari H dengan beli tiket tambahan di tempat? Dia jawab, datang saja, saya tidak tau. Kami sebagai panitia cuman tau bahwa tiket terjual habis dan modal tertutupi. Wah, hal itu yang mengejutkan saya amang.. Apakah hanya uang target utama dan tidak peduli mamfaat pagelaran tersebut? Bukan saya mau menghakimi…tidak… Saya bisa ngerti mungkin mereka stress atau gimanalah… Tapi, kata2 tersebut menurut saya begitu menohok saya. OOhhh, jadi duit target utama mereka, pikir saya amang…

    Berdasarkan diskusi dengan teman2, kami memutuskan untuk tetap pergi ke sana Jumatnya. Karena kami yakin pasti ada orang yang “Tidak Tega” melihat kami di luar dan mungkin ada solusi di sana.

    Kalau amang ingat, hari itu hari terakhir kerja sebelum libur lebaran. Sejak jam 2 siang, hujan badai mengguyur Jakarta. Bukannya jadi malas, kami malah semakin mantap ke sana. Karena kami pikir penonton pasti berkurang melihat Jkt macet gila2an dan peluang nonton makin besar.

    Singkat cerita, perjalanan 1.5 jam dari kantor di Gatsu-TIM, kami sampai 19.03, acara tertera 18.30. Kami disambut di pintu luar dengan tagihan “mana tiketnya kak, bang..”. Kami jawab, kami pengen nonton acara ini tapi kehabisan tiket festival Rabu kemarin. Panitia menjawab seperti ini, “Ohh, beli tiket ini ajah, harganya 250rb”.. Aduuuh, plis dong.. Mereka mikir gk sih? 250rb ke 25rb itu 10x lipat. Lagian kami gk ada tampang bahwa kami berlebih, or tmpang pengamat tari atau pencinta sejarah gereja bangeeeett.. Kami bilang itu terlalu mahal. Kalau sktr 50rb/org gpplah.. Panitianya bilang gini “iyah adanya cuman ini yang plg murah”. Kami bernegoisasi apakah kami bisa masuk di tengah acara kalau seandainya ada tempat kosong. Ternyata mereka tidak bisa menjamin.. Kami benar2 sedih amang. Bener2 mau manetek ilu maraburan, gk tau harus bilang apa. Kami berdiri2 sekitar 10 menit di depan panitia, dan mereka menurut saya tidak terlalu memperdulikan kami ber6. Temanku yang dari ”gereja bukan HKBP” bilang “kita tunggu ajah, masa sih mereka tidak ada solusi buat kita dan biarkan kita pulang sia2??” Ha..ha… Akhirnya kami tertawa saat dan memang sudah saatnya keluar dr depan panitia tersebut. Habis mau bilang apa lagi??? Mereka memang dan sungguh TEGA.

    Diantara teman2, aku yang paling tidak terima keadaan seperti itu. Aku paling emosi dan masih saja marah sampai SAAT ini. Gila yah,….. Aku pernah menghadiri acara serupa dari gereja lain, yang aku tau, mereka tidak pernah mau membiarkan jemaat pulang dengan sia2.. Kalau memang penuh, ada solusi, duduk di luar dengan memakai Slide as Monitornya. Nah yang ini amang??? Apa ini namanya?? Speechless!!

    Akhirnya kami berakhir di kantin TIM. Kami duduk sambil tertawa mandele. Mau apa lagi? Mau nonton saja kayak ngemis. Kalau gretongan sih wajar, ini kita2 kan udah setuju bayar 50rb/orang.

    Pas di kantin itu, aku agak kaget amang, aku ketemu teman SMPku. Dia bertiga dengan temannya. Dan tebaklah amang, mereka juga bernasib sama dengan kami.. Amangoi amang, accit nai.. Mereka malah udah dari jam 6 di sana. Dan menurut mereka, penonton gk terlalu banyak kok yang datang –informasi ini gk ku jamin kebenarannya amang—he..he… Itu kata mereka. En amang tau sendiri aku juga gk bisa ngeliat ke dalam.

    Akhirnya, setan2 kami pun keluar juga lewat pernyataan2 gini:

    ”Pattang so billaknya orang ini semua, sok udah jago kali pagelaran orang itu..”
    ”Ayo kita hitung dulu mobil and motor di lapangan parkir ini, so piga hape..”
    “Udah gilak orang ini semua, masa jarak tiketnya dari 25rb ke 250rb pas di hari H-nya, kalau 50-60rb orang masih masuk akal, padahal katanya modal udah tertutupi”
    “Biar kalian tau yah.. Waktu teater Pramudya Ananta Toer dulu, Nyai Ontosoroh, bejibun penontonnya, udah jago en mantap kali, tiketnya hari H masih ada kok dan harganya dari hari sebelumnya paling cuman naik 10-20rb.. Ini pala cuman kek gini sombong kali..”
    “Tapi aku dengar2, memang HKBP rawamangun ini sombong2 kok orangnya, godang halak namora disi”
    “Dipikir orang ini ada orang yang mau beli tiket 250rb itu lagi?? Lebih baiklah orang itu makan sepuasnya di mall sana, dapat satu baju pulak lagi..”

    Ya Tuhan, ampuni lidah kami yang tidak bisa kami jaga. Itu pernyataan2 sibolis kami akibat kesedihan sia2 datang ke TIM. Kami duduk2 di kantin itu sampe jam 21.20, sekalian menghindari macet. Sedih tapi Nyata memang…

    Terima kasih atas waktu membaca curhat ini.. Dari aku pribadi, gk tau berapa orang yang pulang sia2 kemarin..tapi tolonglah panitia bisa rendah hati menerima kami2 ini “yang telat mendengar berita pagelaran tersebut, sehingga telat berkoordinasi dengan teman2 yang jadi telat juga transfer hepeng si 25rb itu”.

    No Offense No Hurt Feeling untuk HKBP Rawamangun.

    Daniel Harahap:
    Saya tidak lagi di HKBP Rawamangun. Jadinya tidak bisa kasi komen. Yang saya tahu hanya pagelaran itu untuk mencari dana pembangunan gedung Sekolah Minggu HKBP Rawamangun. Jika panitia membaca curhat di atas mungkin mereka bisa memberi penjelasan.

  23. rumanav on October 8, 2008 at 6:48 pm

    @Mula Harahap.
    Menurut Amang na pa serius hu do pandita ta on , gabe sahat-sahat tu Shio ?

  24. S.K. Manik on October 8, 2008 at 8:43 pm

    ngomong-ngomong soal institusi pendidikan hkbp, sebagian ruas mulai bertanya-tanya untuk apa pelean tu jolo namarboho untuk misalnya Univ HKBP nomensen, dimana dari semua media penyiaran orang tahu kalau univ tsb bermasalah luar dalam. ah tehe.. awak pun jadi ikut terpikir demikian. cemananya ini?

  25. Rudi Juan Sipahutar on October 8, 2008 at 10:19 pm

    MET ULTAH HKBP ku….HKBP Kita SEMUA…

    Pro Ferry Siahaan
    Saya juga setuju pendapat anda, Lebih elok rasanya mengenang Pembabtisan 2 saudara kita itu menjadi hari Lahir HKBP. Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar adalah 2 orang pemuda yang bekerja jadi budak belanda yang ditebus oleh Van Asselt.

    Kendati saya bukan ahli dalam sejarah, tapi dari hasil catatan Almarhum oppung doli ku (dulu pernah jadi vorhanger di HKBP) sbb : Pembabtisan Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar dilakukan oleh Van Asselt. Dan Van Asselt BUKANLAH Misionaris Utusan Zending RMG (Rhennischen Missions Gessellschaft).
    Van Asselt utusan dari sebuah jemat kecil di ERMELDO Belanda, artinya hasil Pekabaran injil yang dilakukan bersifat sendiri -sendiri belum ada koordinasinya satu sama lain.

    Maka Sangat mungkin, pertemuan 7 Oktober 1861 di sSpirok itu sebagai penetapan pekerjaan pemberitaan Injil di Tanah batak di bawah Bimbingan RMG dan seluruh missionaris yang telah di kirim dari Belanda di minta bergabung dengan badan Zending itu. Maka hal ini lah yang sering di proklamasikan sebagai tanggal berdirinya Batak Mission yaitu bagian dari Zending RMG tadi (saat itu belum ada nama HKBP).

  26. Alesmarsaor on October 9, 2008 at 3:16 pm

    Diusianya yang sudah 147 tahun ada satu himbauan kepada semua unsur pimpinan HKBP mulai dari tingkat huria,ressort, distrik sampai pucuk pimpinan agar tidak menganggap fungsi uluan di huria sama dengan fungsi uluan di organisasi atau di kantor2 yang tidak bisa dipisahkan dari unsur unsur kekuasaan/kewenangan dlsb.
    Ada kecendrungan ajaran dari Jesus Kristus yang mengatakan ” Aku datang bukan untuk di layani tapi untuk melayani” sudah mulai tergeser oleh nikmat nya menjadi seorang uluan yang selalu di hormati, dilayani dll(bukan satu hal yang asing lagi jika kita mendengar seorang uluan huria mengatakan bos mau datang, dan kerja keras untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk bos(bisa pareses,Kadep, Sekjen,Eporus) yang akan berkunjung tersebut.
    Rasarasanya di huria sekarang ini yang masih tetap konsiten menjalankan fungsinya sebagai parhobas hanyalah para pesuruh gereja saja(yang dengan polos dan lugu selalu sigap untuk membersihkan gereja, menyediakan kopi, teh , disuruh foto copy partitur oleh seksi2 koor dll). Untuk itu marilah lebih mengedepankan unsur sebagai seorang pelayan/parhobas dari pada membanggakan diri sebagai uluan di huria.
    Selamat untuk HKBP nabolon i.

  27. Hengki Tampubolon on October 9, 2008 at 4:32 pm

    Horas Amang, apa kabar?Mulai hari ini aku ikutan nimbrung ya di rumametmet ini. Tapi untuk kali ini, aku hanya mau kasih comment atas curhat Ito Serene atas pelaksanaan Operet Nommensen tanggal 26 September 2008.

    Kepada Ito Serene dan teman-teman, pertama-tama, ijinkanlah aku mewakili seluruh Panitia meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakan hati pada saat itu.

    Perlu aku jelaskan disini, bahwa apa yang dijelaskan oleh Amang Harahap adalah benar bahwa seluruh pemasukkan atas penjualan tiket Operet Nommensen adalah digunakan untuk dana Pembangunan Gedung Sekolah Minggu HKBP Rawamangun. Pelaksanaan Operet dan penggalaan dana ini dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Panitia Parheheon NHKBP Rawamangun. Karena tujuannya adalah untuk mencari dana, maka Panitia menjual beberapa kelas Harga Tiket Masuk(HTM), yaitu: Platinium Rp 7jt, Gold Rp 5jt, Silver Rp 2,5jt, Kelas 1 Rp 1jt, Klas 2 Rp 750rb, Klas 3 Rp250rb dan Festival Rp25rb.

    Memang benar apa yang dikatakan Ito tadi, bahwa pada tanggal 19/9/08 tiket Festival masih ada dan belum habis terjual. Tapi Ito, pada hari Minggu 21/9/08, tiket itu sudah habis terjual semua. Pada hari Minggu itu juga sudah habis terjual tiket kelas 3 yang berharga Rp250rb. Akan tetapi, karena tiket kelas lain masih banyak yang belum terjual dan target kami baru tercapai 27,5%, akhirnya kami Panitia memutuskan bahwa tiket kelas lain yang masih ada itu akan kami jual dengan harga tiket kelas 3 yaitu Rp250rb agar lebih banyak lagi yang mau datang menyaksikan Operet Nommensen tersebut.

    Kalau seperti permintaan Ito tadi agar tiketnya dijual dengan harga Rp50.000, sepertinya itu tidak mungkin. Sewa gedung aja kita Panitia harus membayar Rp32jt plus untuk biaya konsumsi Rp 20rb/orang dan belum lagi biaya latihan dan segala perlengkapan yang dibutuhkan untukmenyukseskan acara tersebut.

    Sebenarnya Ito, kalau Ito sudah terima informasi acara ini jauh-jauh sebelumnya (acara ini sudah Panitia sosialisasi selama 3 bulan& players dibagi-bagikan selama 1 bulan sebelum puncak acara dilaksanakan), mungkin tidak begitu masalahnya. Kami Panitia tidak ada memaksa bahwa harga tiket-tiket tersebut dibayar tunai pada saat itu juga. Kami senang kalau ada yang memberikan komitmennya. Maksudnya, kalau ternyata Ito pada saat itu belum ada dana sebesar Rp250rb tetapi Ito tetap mau menyaksikan acara tersebut dengan membeli tiket yang harga Rp250rb, kami akan memberi Ito kesempatan untuk Ito mencicil pembayarannya, mungkin sampai 5x, itu semua terserah kemampuan Ito. Ada banyak penonton yang hadir malam itu, walaupun berat membayar Rp250rb (klas 3) karena mereka belum punya dana, tapi karena tahu bahwa acara ini diadakan untuk penggalangan dana Pembangunan Gedung SM HKBP Rawamangun, mereka tetap mau mengambil undangan itu.

    Saran untuk Ito Serene& teman-teman, apapun nama dan bentuk acara yang sudah Ito putuskan untuk menghadirinya, kalau memang tujuannya itu untuk memuji nama Tuhan, janganlah terlalu memperhitungkan untung ruginya kita menghadiri acara tersebut, apalagi sampai membandingkan dengan bentuk dan acara-acara lain yang jelas tidak dapat diperbandingkan. Percayalah, Tuhan pasti mendengar!

    Satu lagi Ito, dalam situasi apapun, suka maupun duka, jangan pernah sekalipun Ito dan teman-teman lainnya untuk membiarkan setan-setan lewat dan menguasai hati dan pikiran kita semua. Belajarlah menerima segala sesuatu dengan positif, pasti Tuhan akan membukakan jalan bagi kita semua.

    Tuhan memberkati kita semua.

  28. Ruas-Bandung on October 10, 2008 at 10:21 am

    Buat ito Serene dan bang Hengki, masing-masing pendapat kalian berdua adalah benar tapi karena tidak ketemu pada saat yang sama jadinya ‘tidak baik’.
    Khusus buat bang Hengki…bila uang hasil pagelarannya lumayan, tolonglah usulkan ke HKBP Rawamangun supaya sedikit menyisihkan uangnya untuk HKBP Sindur yang sedang membangun gedung gereja.

  29. Serene on October 10, 2008 at 12:45 pm

    @Hengky Tampubolon,

    Faktanya kami mmg baru dengar acara tersebut seminggu sebelumnya.
    Fakta kedua, kami keluar dari loket tiket, kira2 19.23WIB, yang artinya acara udah berjalan hampir sejam dan ketika kami meninggalkan suasana di depan tiket sudah sepi.. Yang kami kurang bisa terima, kenapa panitia membiarkan bangku kosong, menunggu dalam ketidakpastian orang yang “MAMPU” membeli tiket tersebut dengan harga 250rb daripada menjualnya ke pembeli yang standby dengan harga 50rb? Or at least panitia bisa memberikan solusi yang sama2 mengenak-keun kedua belah pihak, untuk pengunjung yang telat or gk bisa bayar dengan harga 250rb…

    Bukan masalah hitung untung rugi, trus kalau “duit alokasi untuk lain2″ udah terbatas mau bilang apa dunks?? Kan harus tetap ngeliat kenyataan.

    Hmm, dan lagi..maunya kami gk pengen biarin setan lewat dan nguasain hati kami. Tapi menurut aku wajarlah.. dalam situasi sedih en kecewa, keluar pernyataan2 sprti itu. Menghibur diri. Itu kali namanya meratap. Kayak si Ayub..hehehehe… Dia mempertanyakan belas kasih Tuhan. Nah kami, kecewa ama panitia, kami juga pertanyakan belas kasih panitia. Tapi hbs itu kan belajar memaksa hati untuk ngerti. He..he..he.. Salah ya pendapatnya Amang? :)

    Tapi ya sudahlah, kembali lagi ke fakta, acara ini tujuan utamanya memang HANYA untuk menggalang dana, bukan untuk memberikan “pertunjukkan dan pengetahuan” murah untuk orang2 yang gk mampu bayar seperti kami. Apalagi memberikan kesempatan pada orang yang “telat tau”. Jangan harap yah?? He..he..he..

    Okelah kalau gitu, terima kasih atas penjelasannya, sukses selalu untuk HKBP Rawamangun.
    Terima kasih buat Amang pandita na burju, na bisuk, jala na lambok roha yang sudah memfasilitasi diskusi ini [soalnya gk tau harus ngomong kemana sih sebelumnya...]

    Salam,
    Serene

  30. Hengki Tampubolon on October 10, 2008 at 6:53 pm

    @Ruas-Bandung

    Horas Lae, terima kasih atas saran dan masukkannya. Tapi, sepertinya aku agak susah untuk menyampaikan saran Lae itu ke Parhalado HKBP Rawamangun. Ini alasannya:
    1. Kami, Panitia Pembangunan Gedung Sekolah Minggu, sebagian besar terdiri dari keluarga-keluarga muda, malah ada yang masih naposo, yang dipilih oleh Amang Pdt. DTA Harahap (waktu Beliau masih bertugas di HKBP Rawamangun dan menjabat sebagai Ketua Panitia) yang mempunyai visi yang sama yaitu ke depan, anak-anak kami harus mempunya tempat yang khusus yang menjadi tempat bagi mereka untuk ketemu dengan Tuhannya, sebagaimana kami para orang tuanya. Berarti, kami adalah anggota ruas biasa yang tidak punya hak suara di Sermon Parhalado.
    2. Karena dana yang kami kumpul ditujukan untuk Pembangunan Gedung SM HKBP Rawamangun, maka sebagai komitmen kami bersama, dana ini harus benar-benar digunakan untuk merealisasikan pembangunan gedung SM itu, tidak untuk tujuan lain. Kami akan merasa berdosa kalau dana itu kami ubah tujuan penggunaannya.
    3. Dana yang kami kumpulkan dari acara Pagelaran tanggal 26/9/08 lalu itu hanya mencapai 30% dari target penerimaan semula. Sementara itu, untuk menyelesaikan Pembangunan Gedung SM HKBP Rawamangun kami masih membutuhkan dana sebesar Rp 800jt lagi. Berarti masih banyak kekurangan dana yang masih harus kami cari. Berati, tidak ada kelebihan dananya Lae.
    Oh ya, kalau nggak salahku, sekitar bulan Oktober 2007 atau awal 2008 lalu, bukannya HKBP Sindur (Pendeta dan Panitia Pembangunannya, di Bandung kan?) sudah ada membuat acara penggalangan dana di HKBP Rawamangun Lae? Kalau nggak salahku, waktu itu setelah acara kebaktian pkl. 09.30wib selesai, kami beberapa jemaat diundang untuk menyumbang dengan cara membeli beberapa lukisan dan figura yang dibawa oleh Panitia Pembangunannya. Apa Lae termasuk Panitia Pembangunannya? Kalau tidak, coba tolong di cross check dengan Panitianya langsung (kebetulan aku ada ambil salah satu lukisan yang ditawarkan pada waktu itu).

    @Serene

    Ito Serene, aku tidak mau berdebat lebih panjang lagi. Aku hanya mau memberikan penjelasan dan saran tambahan aja bahwa pada pkl. 19.23 wib, acara Operet masih belum berlangsung. Kebiasaan kami, sebelum acara penggalangan dana dilaksanakan, kami akan memulai dengan acara Kebaktian Singkat. Kebaktian Singkat dimulai pkl 19.00 dan baru selesai pkl 19.45wib. Setelah pkl 19.45 sd pkl 20.15 itu diteruskan acara ramah-tamah sekalian menikmati konsumsi yang telah disediakan oleh Panitia. Barulah pkl 20.30wib acara Operetnya dimulai. Diselang waktu itu, masih banyak kok undangan yang datangnya telat karena mengalami kemacetan dimana-mana, seperti yang telah Ito ceritakan sebelumnya.

    Kalau acara Operet itu sendiri bukan tujuannya semata-mata HANYA untuk mencari dana. Ada 2 tujuan kami: 1. MESIAH (Melayani, Bersaksi & Berbuah) ini disesuaikan dengan Tahun Marturia (sesuai dengan tema HKBP tahun ini yaitu “Boan Sadanari”), yaitu melalui cerita tentang sejarah pelayanan Nommensen di warga Batak akan membangun semangat pelayanan di sesama kita warga Kristen Batak. 2. Menggalang dana untuk membantu terlaksananya Pembangunan Gedung SM HKBP Rwamangun. Makanya kami Panitia menyediakan 300 bangku yang terletak di balkon untuk Klas Festival dengan HTM Rp 25rb. Mungkin Ito aja agak telat menerima informasinya, sehingga tidak kebagian tiketnya.

    Saranku untuk Ito:
    1. Apapun bentuk acara yang akan Ito hadiri, kalau itu sudah untuk kemuliaan nama Tuhan (terlepas bagaimana Panitia menyajikannya), janganlah mengambilnya dari “duit alokasi untuk lain-lain”!!! Kok untuk Tuhan diambil dari “dana sisa”? Janganlah disamakan dengan nonton di bioskop 21!!!!!! (Mungkin Ito bisa baca kembali bahan renungan tanggal 9/10/08 di rumametmet ini!!!)
    2. Dalam segala situasi (suka dan duka), jangan pernah sedetikpun kita berikan kesempatan setan lewat bahkan menguasai hati dan pikiran kita. Belajarlah kita untuk selalu berserah kepadaNya.

    Ok deh Ito, sepertinya, sudah cukup ya penjelasan dan saran yang aku berikan. Sukses selalu dalam pekerjaan, pergaulan dan kehidupan sehari-hari.

    Daniel Harahap:
    Setelah masing2 pihak mengemukakan pendapatnya saya pikir masalahnya ini sudah dapat dianggap selesai. Terima kasih.

  31. Ruas-Bandung on October 15, 2008 at 4:01 pm

    @Hengki Tampubolon

    Horas…saya hanya ruas biasa di HKBP Bandung (HKBP Bandung Riau) dan tidak ada kaitannya dengan panitia pembangunan HKBP Sindur. Hanya hanya tergelitik melihat angka-angka biaya pembangunan gedung SK MInggu HKBP Rawamangun yang bila disisihkan sedikit buat HKBP Sindur tapi cukup signifikan buat mereka.
    Beruntunglah kalau sobat saya Hengki pernah satu pelayanan dengan amang DTA, hal yang saya rindukan dan pernah saya alami saat amang Pdt. TP Simorangkir (kandidat Eforus dahulu) saat bertugas di Bandung.

    Daniel Harahap:
    Salah satu penggagas pembangunan gereja anak HKBP Rawamangun itu adalah saya. Tahun 2003-2006 saya ketua panitia pembangunan rawamangun, dan sampai sekarang belum dipecat menjadi penasehat pembangunan di sana. Gunung Sindur adalah urusan dan tanggungjawab saya. Sekarang Panitia Pembangunan Rawamangun fokus kepada penyelesaian gereja anak atau gedung SM itu saja. Nanti kalau sudah selesai, bolehlah membantu Gunung Sindur, Cisoka dan Cisauk atau yang lain.

  32. Pardamean Ronitua on October 23, 2008 at 12:01 am

    Sekedar menambahkan catatan Pak St. Henry Irawan Sianturi, Skm di atas:

    Pesta Jubileum 75 Tahun HKBP (7 Oktober 1936) juga dipusatkan di jemaat tertua di Sipirok. Pada saat itu dibuat juga tugu peringatan jubileum. Yang sangat menarik dan mengharukan adalah sambutan yang sangat simpatik dari Kepala Negeri (Kepala Kuria) Sipirok pada saat itu yakni Patuan Natigor Soangkupan (seorang Muslim) ketika menerima penyerahan tugu peringatan jubileum.

    Tentang sambutan Patuan Natigor Soangkupan dan tentang sejarah HKBP yang lengkap dapat dibaca di dalam buku Tuhan Menyertai Umatnya (Garis Besar Sejarah 125 Tahun HKBP) yang disusun Panitia Inti Jubileum 125 Tahun HKBP, khususnya Seksi Sejarah (yang ketika itu diketuai Pak Pdt. Dr. J.R. Hutauruk), terbitan 1986 setebal 316 halaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*