Archive for October, 2008

Jaket Bertopi

Friday, October 31st, 2008

nina-jaket.JPG

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Masih pukul setengah tujuh pagi. Sedang asyik-asyik memandangi tanaman di halaman gereja Serpong saya dikejutkan nada panggil telepon di rumah. Ah, siapa pulak menelpon pagi-pagi ini? Salah sambung lagi (seperti pukul lima pagi tadi)? Rupanya Martha dari Palembang. “Ada apa, Say?” tanya saya. Biasanya pada jam segini mereka sedang repot-repotnya hendak berangkat ke sekolah sebab itu jarang sekali menelpon. Jika menelpon, berarti ada yang penting atau ada masalah. (more…)

Share on Facebook

Menyingkap Kebenaran. (Juga Bahaya)

Friday, October 31st, 2008

Almanak Jumat 31 Oktober 2008:

lamp.jpg

Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya. (Daniel 2:22)

Ayat hari ini adalah doa seorang bernama Daniel dari masa lalu, yang memuji Tuhan Allah karena memberinya hikmat dan pengetahuan untuk mengetahui apa yang tidak diketahui semua orang. Alkisah Raja Nebukadnezar bermimpi dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui isi mimpinya (apalagi artinya) sebab itu raja murka dan mengancam hendak membunuh semua orang pintarnya. Daniel dan kawan-kawannya berdoa memohonkan hikmat Tuhan dan mendapatkannya. Tuhan memberitahukannya apa sebenarnya yang dimimpikan Nebukadnezar dan apa maknanya.

Tanpa harus berpretensi menjadi penafsir mimpi, atau tanpa harus menyangkal penemuan ahli psikologi bahwa mimpi sangat berkaitan dengan pikiran bawah sadar (sebab itu dianggap wajar dan logis saja), kita mau memahami ayat hari ini sebagai ajakan untuk mencari hikmat kepada Tuhan Allah. (more…)

Share on Facebook

Belajar Percaya

Thursday, October 30th, 2008

Almanak Kamis 30 Oktober 2008:

dsc03250.jpg

Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (Kejadian 15:6)

Di suatu malam TUHAN mengajak Abram ke luar kemahnya dan memandang ke langit serta menghitung jumlah bintang yang bertaburan di sana. Tentu saja Abram tidak sanggup menghitungnya. Lalu TUHAN berkata: “seperti banyaknya bintang itulah nanti jumlah keturunanmu”. Abram percaya kepada perkataan TUHAN itu walaupun pada saat itu dia dan istrinya Sarai sudah tua dan tidak memiliki anak. Lantas? TUHAN memperhitungkan kepercayaan Abraham itu sebagai kebenaran.

Mungkin sekali Abram tidak tahu bagaimana perkataan TUHAN itu bisa menjadi kenyataan. (more…)

Share on Facebook

APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN, TUHAN?

Wednesday, October 29th, 2008

SERMON MINGGU INI

petunia2.jpg

Bahan : Kisah Rasul 2 : 37 – 41

Kisah Para Rasul adalah buku kedua yang ditulis oleh Tabib Lukas. Kedua buku itu pada awalnya dituliskan untuk seorang bernama Teofilus (Luk 1:1, Kisah 1:1). Buku pertama berisi tentang “segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus sampai pada hari Ia terangkat” (Kisah 1:1-2) dan buku kedua berisi tentang segala sesuatu yang terjadi dengan murid-muridNya atau para rasulNya sesudah peristiwa itu. Sebab itulah buku itu diberi judul (bukan oleh penulisnya) Kisah Para Rasul. Namun bila kita baca seksama, sebenarnya yang lebih berperan dalam kisah itu bukanlah para Rasul tetapi Roh Kudus. Sebab itu buku kedua itu sebenarnya menurut para ahli PB lebih tepat judulnya: Kisah Roh Kudus melalui para rasul.

Sementara itu Kisah Rasul 2:37-41 adalah bagian dari kisah Pentakosta atau kisah turunnya Roh Kudus yang telah dijanjikan Yesus (Lukas 24:49, Kisah 1:8). Lebih spesifik lagi perikop ini (kecuali ayat 41) adalah bagian dari kisah kotbah Petrus pada hari Pentakosta itu. Apakah yang dapat kita renungkan dari teks ini? (more…)

Share on Facebook

Berita Pagi Ini

Wednesday, October 29th, 2008

berita-pagi-ini.JPG

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Pukul enam lewat. Serpong mendung sekali. Saya mendengar burung bernyanyi. Ini bukan puisi tapi laporan peristiwa pagi ini. Koneksi internet di rumah bermasalah, karena itu saya - dengan segelas kopi - pindah ke kantor gereja yang entah kenapa pulak harus dibangun dahulu bersebelahan dengan kamar tidur saya. Saya pun mulai membuka ayat Almanak hari ini (sebelum tidur kemarin sudah saya baca dan biarkan mengendap) dan mencoba merenungkannya dalam bentuk tulisan guna diposting ke blog Ruma Metmet. Pukul 07.03 renungan diposting dan saya pun pindah ke Facebook, lantas sebentar ke Friendster, kemudian ke Yahoogorups tepatnya milis HKBP yang sudah berusia sepuluh tahun. Semua sepi. Dunia maya mendung juga rupanya.

Syukurlah Hendro, koster gereja, datang membawa Kompas. Sedikit lusuh, (more…)

Share on Facebook

Ibadah Saja Tak Cukup

Wednesday, October 29th, 2008

Almanak Rabu 29 Oktober 2008:

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari hadapan mataKu. Berhentilah berbuat jahat. (Yesaya 1:16).

Rajin dan tekunlah beribadah. Melalui ibadahlah kita menyatakan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Dalam ibadahlah kita berjumpa dengan Tuhan, mentaati hukum-hukumNya, mengaku dosa dan menerima pengampunanNya, mendengar petunjukNya untuk dilaksanakan dalam hidup sehari-hari, mengaku iman kepercayaan kita, memberi persembahan, mendengar firmanNya, menaikkan doa syafaat dan menerima berkat Allah. Sebab itu ibadah benar-benar penting dan berguna bagi kita membangun spiritualitas atau keimanan kita. Tanpa ibadah iman kita akan kerdil, layu dan mati. (more…)

Share on Facebook

“Sumpah Orang Tua 2008″

Tuesday, October 28th, 2008

selamatkan-indonesia.JPG

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Hari ini 28 Oktober. Hari Sumpah Pemuda. Saya bukan lagi pemuda. Lantas apa urusan hari bersejarah ini dengan saya (dan Anda yang jujur mengaku tak lagi muda)? Sekadar mengenangkan masa muda dengan semua heroisme, idealisme dan kenekadan dan kekonyolannya? Atau pura-pura haru merenung tentang Kongres Pemuda tahun 1928 silam yang melahirkan sumpah historis itu. Atau bikin upacara meriah walau sesudahnya tak terjadi apa-apa, baik dalam diri peserta apalagi negara.

Berhubung saya tidak lagi pemuda (Konferensi Pemuda HKBP di Sipirok menyatakan batasan umur pemuda 30 tahun dan kini saya 45 tahun), saya hanya ingin mengajak kawan-kawan saya “petua” atau orang-orang yang mulai menua untuk berjanji, bertekad, atau berkomitmen (iman Kristen saya melarang saya bersumpah kecuali diminta oleh hakim di pengadilan) sederhana: (more…)

Share on Facebook

Penyesalan Sungguh atau Semu

Tuesday, October 28th, 2008

Almanak Selasa 28 Oktober 2008:

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu! (Yoel 2:13a)

Umat Israel memiliki tradisi untuk mengungkapkan kedukaan, penyesalan, pengakuan dosa dan permohonan ampun: merendahkan diri duduk di perapian dengan pakaian robek dan abu di kepala. Itu sesungguhnya suatu simbol yang bagus untuk membentuk spiritualitas. Penyesalan atau doa permohonan ampun tidak hanya diungkapkan secara verbal atau kata-kata belaka, namun dilakoni dan dihayati melalui suatu tindakan simbolis atau perlambang.

Namun dalam perkembangan, tindakan simbolis ini jatuh menjadi sekadar seremoni belaka yang tidak lagi keluar dari hati. (more…)

Share on Facebook

Gunung Sindur: Pembangunan Berlanjut

Monday, October 27th, 2008

panitia-pembangunan-hkbp-gn-sindur.JPG

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Rapat Pembangunan Pos Parmingguan HKBP Gunung Sindur barusan memutuskan pembangunan tahap kedua akan dilanjutkan Senin depan, 3 November 2008 yaitu pengecoran lantai atas. Biaya yang diperlukan ditaksir Rp 61 juta. (Sebagian berasal dari sumbangan yang masuk lewat Ruma Metmet, terima kasih atas simpati dan kepercayaanya).

Rapat dimulai persis pukul 20.00. Saya bersama teman dari Serpong St Ir. Todung Siagian tiba lima menit sebelumnya. Hampir seluruh parhalado dan panitia pembangunan sudah menunggu di teras rumah ibadah yang selama ini digunakan. Rapat berjalan sangat lancar diselingi canda khas dan kopi susu Gunung Sindur. Agenda kedua: pesta pembangunan HKBP Gunung Sindur yang rencananya akan diselenggarakan Minggu 16 November 2008. Biaya pesta diperkirakan Rp 17 juta sementara hasil bersih diharapkan minimal Rp 70 juta (agar pembangunan tahap ketiga dapat dilakukan). Pukul 21.55 rapat berakhir. Sebelumnya saya menggarisbawahi agar semua parhalado dan panitia satu hati dan merendah: jika pembangunan gereja ini terwujud kelak, cukuplah kebahagiaan untuk kita, semua  kemuliaan biarlah kembali kepada Tuhan.

Rapat baru saja berakhir saat telepon Kika masuk dari Palembang menanyakan PR Matematika-nya. Saya pun kembali duduk dan mencoret-coret kenapa 3780:35 bukan 18 tetapi 108. :-) Pukul 22.10 kami pamit meninggalkan Gunung Sindur dengan alas sepatu penuh tanah liat (saya kurang tahu persis berapa lumpur yang saya tinggalkan di mobil St Todung).

Bagi yang ingin ikut berpartisipasi membangun Gunung Sindur boleh klik posting : Di Gunung Sindur Tangan Kami Menadah.

parhalado-panitia-pembangunan-hkbp-gunung-sindur.JPG rapat-pembangunan-gn-sindur.JPG

Share on Facebook

Sarikat Gadong Manginsir

Monday, October 27th, 2008

gadong-manginsir.png

Oleh: Daniel Taruli Asi Harahap

Serikat ubi jalar? :-) Jangan tertawa dulu. Saya serius. Sudah beberapa hari ini saya terpikir hendak membentuk sebuah organisasi dengan badan hukum: perhimpunan. Ingat: bukan Yayasan bukan pula Perseroan atau Koperasi, tapi Perhimpunan. Namanya muncul tiba-tiba saja di benak saya. Bahasa Bataknya: Sarikat Gadong Manginsir. Bahasa Indonesianya: Serikat Ubi Jalar. Lho?

Tenang dulu, mari saya jelaskan. (more…)

Share on Facebook

Seandainya Harus Mengeluh

Monday, October 27th, 2008

Almanak Senin 27 Oktober 2008:

butterfly-world-11-4-07-006.JPG

Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya. (Ratapan 3:39)

Apa yang paling sering dikeluhkan banyak orang? Pertama: ketiadaan uang atau kesulitan ekonomi. Agaknya itulah yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Kedua: penyakit atau kondisi kesehatan yang buruk. Ya, banyak orang mengeluh tentang sakit yang diidapnya. Ketiga: sikap anggota keluarga yang tidak sesuai dengan harapan. Keempat dan seterusnya: keburukan pelayanan dan fasilitas umum, ketidakbecusan pemerintah, kemacetan jalan, atau sekadar cuaca yang jelek. Pokoknya ada banyak atau bahkan terlalu banyak alasan untuk mengeluh di dunia ini, dan karena itu orang begitu sering mengeluh.

Nabi Yeremia menyindir umat Israel pada masa pembuangan yang mengeluh tentang buruknya keadaan (more…)

Share on Facebook

BERIMAN & BIJAK

Sunday, October 26th, 2008

KOTBAH MINGGU INI

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

1. Allah memanggil kita beriman, taat dan menyerahkan diri kepada Yesus Kristus. Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yohanes 3:16). Dia adalah Tuhan dan Guru kita (Yohanes 13:13), hikmat dan kekuatan Allah (1 Kor 1:24,27). Dialah Juruselamat kita dan bahkan seluruh dunia (1 Yohanes 4:14, 2 Tim 1:10, Titus 2:13). Dalam darahNya yang tumpah di Golgota kita menerima penebusan kita (Efesus 1:7. Kolose 1:14) dan dalam Dia juga kita diangkat menjadi anak-anak Allah (Galatia 4:5-7). Semua ini mau menyadarkan kita bahwa kehidupan dan keselamatan kita semata-mata adalah anugerah Allah yang kita terima dengan beriman kepada Kristus.

2. Dengan kerangka pemahaman iman di ataslah kita hendak memahami amsal-amsal atau kata-kata bijak yang dimuat dalam Alkitab maupun warisan leluhur kita (more…)

Share on Facebook

Tuhan dekat

Saturday, October 25th, 2008

Almanak Sabtu 25 Oktober 2008:

TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan (Mazmur 145:18)

Alkitab tidak mau mengajak kita pusing-pusing dengan penjelasan panjang-lebar dimana persisnya sorga itu dan Tuhan Allah berada sesungguhnya. Alkitab juga tidak mau mengajak kitapusing dengan penjelasan teoritis spekulatif tentang apa dan bagaimana hakikat Allah yang tidak kelihatan dan tak terjangkau itu. Alkitab hanya mengajak kita percaya dengan sederhana dan mengalam kehadiranNyai: Tuhan Allah selalu ada dalam kehidupan kita. Dia dekat kepada semua orang yang berseru kepadaNya.

Orang yang lapar membutuhkan makanan dan bukan teori tentang makanan. Orang yang haus butuh minuman segar dan bukan penjelasan rumit tentang unsur-unsur yang membentuk air. (more…)

Share on Facebook

Di Gunung Sindur Kami Menadahkan Tangan

Friday, October 24th, 2008

babi-di-belakang-gereja-hkbp-gunung-sindur.JPG

Di kawasan peternakan babi dan ayam di perbatasan Bogor Tangerang, tepatnya di desa Curug kami sedang membangun sebuah gereja HKBP. Fondasi sudah diletakkan dan tiang sudah didirikan, namun pembangunan terhenti sementara karena dana habis. :-)

Bagi kawan-kawan yang memiliki sedikit dana berlebih dan lagi punya kesempatan berbagi, dan ingin membantu kelangsungan pembangunan gereja ini, kami haturkan TERIMA KASIH.Biaya yang ditaksir membangun gereja pinggiran ini Rp 299 juta. Kira-kira 70 (tujuh puluh) anggota jemaat Gunung Sindur yang sebagian besar berprofesi sebagai penambal ban dan pegawai rendahan telah sepakat membayar iuran (gugu toktok ripe) Rp 500.000 per keluarga. Dana yang telah berhasil dikumpulkan Rp 57 juta, dan lima puluh juta diantaranya telah habis untuk membangun fondasi dan tiang. Namun panitia masih butuh paling sedikit Rp 100 juta lagi agar gereja sudah dapat digunakan beribadah minggu walau belum rampung. Untuk itu panitia, parhalado, jemaat Gunung Sindur dan saya sebagai pendeta dengan sukacita membungkukkan diri dan menadahkan tangan. Tolonglah HKBP Gunung Sindur!

Dukungan sukarela dapat dikirimkan ke: (more…)

Share on Facebook

Pendeta & Komputer

Friday, October 24th, 2008

pdt-daniel-ta-harahap-palembang-1996.JPG

Oleh: Mula Harahap

Di pertengahan tahun 90-an, dalam perjalanan bermobil ke Medan, saya mampir satu malam di rumah seorang pendeta muda di kompleks HKBP Jl. Mayor Ruslan–Palembang.

Sepanjang malam itu kami ngobrol ngalor-ngidul. Entah mengapa, pembicaraan kami juga menyerempet ke soal gereja dan teknologi komunikasi/informasi. “Kau harus menguasai teknologi komputer,” kata saya berteori kepada pendeta itu. “Sebagian dari masa depan gereja akan sangat tergantung pada hal tersebut….”

Tentu saja pendeta itu hanya diam menatap saya. Tapi, saya rasa, saya tahu apa yang sedang berkecamuk di benak pendeta miskin dari sebuah organisasi gereja yang bernama HKBP itu. Karena itu kepada pendeta itu langsung saya katakan, “Nanti sepulang dari Medan akan saya kirim satu perangkat komputer. Pakailah itu untuk belajar…”

Saya berani berkata begitu karena waktu itu saya memang masih cukup “kaya” dan dipercaya oleh Cina-cina di Glodok sana. Apalagi, menurut pikiran saya, yang dibutuhkan oleh pendeta itu tokh hanyalah sebuah “komputer jangkrik” (more…)

Share on Facebook