Kekerasan Di Kemah Daud

September 24, 2008
By

SERMON MINGGU INI

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Bahan: 2 Samuel 13 : 23 – 29

1. Dalam kisah ini dikatakan Absalom, putra Daud, menyuruh anak buahnya membunuh saudaranya yang bernama Amnon dalam sebuah pesta. Pembunuhan itu sepertinya sudah dirancangnya. Di awal kisah dikatakan Absalom juga awalnya mengajak ayahnya Raja Daud ikut menghadiri pesta itu, namun ditolak oleh Daud. Namun anak-anak Daud yang lain hadir dan dikatakan melarikan diri setelah peristiwa itu terjadi. Faktor penyebab Absalom membunuh Amnon adalah karena Tamar adik kandung Absalom diperkosa oleh Amnon dua tahun sebelumnya (2 Sam 13:22). Namun akibat pembunuhan itu Absalom pun harus melarikan diri ke Gesur selama tiga tahun sampai amarah ayahnya reda. Kelak Absalom akan mengkudeta ayahnya Daud dan mengangkat dirinya menjadi raja, sehingga Daud harus menyingkir dari istananya bersama orang-orangnya, namun akhirnya dia kalah dan mati dibunuh oleh Joab, panglima Daud yang setia. (2 Sam 14:18). Dan Daud benar-benar berkabung atas kematian putranya itu.

2. Hikmat apakah yang dapat kita petik dari kisah keluarga kerajaan yang sangat sarat dengan intrik, maneuver dan tipu muslihat ini? Pertama: kekerasan selalu melahirkan kekerasan. Pertama Amnon melakukan kekerasan kepada Tamar adik perempuannya. Lantas kekerasan itu dibalas oleh Absalom. Kemudian Joab membalaskan kekerasan yang dilakukan Absalom. Dan kelak Salomo akan membalaskan lagi kekerasan yang dilakukan Joab. Kita lihat disini lingkaran kekerasan itu tidak akan ada habis-habisnya. Itulah sebabnya dalam dunia moderen kekerasan tidak boleh dibalas namun diputuskan melalui hukum. Amon memang telah melakukan yang sangat jahat dengan memperkosa saudarinya Tamar, namun Absalom melakukan kejahatan yang sama besarnya dengan membunuh Amnon, dan Daud tampak membiarkan semua itu terjadi. Kedua: kekerasan dalam rumah tangga sangat mungkin terjadi. Kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja serta dimana saja termasuk dalam keluarga atau rumah tangga. Sebab itu kita tetap harus waspada. Ketiga: dendam dan kebencian dapat mendorong kita melakukan kekerasan termasuk kepada saudara sendiri, dan lebih dari itu merusak jiwa kita sendiri. Sebab itu dendam dan kebencian harus dihapuskan. Dendam dan kebencian harus dikalahkan dengan pengampunan.

3. Kasus pembunuhan maupun pemerkosaan harus ditangani sungguh-sungguh dengan saluran hukum. Kita tahu dari para ahli ilmu jiwa korban pemerkosaan sangat sulit disembuhkan dan acapkali mengalami penderitaan yang sangat berat karena merasa malu dan aib, Dan negara tidak pernah boleh membiarkan kasus pembunuhan maupun pemerkosaan diselesaikan secara gampang secara kekeluargaan. Pengampunan boleh tetap diberikan kepada sang pelaku namun hukum harus ditegakkan seadil-adilnya. Jauh lebih baik mencegah daripada mengobati. Kita terpanggil mendidik masyarakat agar menghormati hidup orang lain. Selanjutnya kita juga terpanggil memberi kontribusi untuk menegakkan hukum dan keamanan di tengah-tengah masyarakat dan negara, sehingga tidak ada orang yang dapat sekehendak hatinya berbuat melanggar hukum.

 

Share on Facebook

11 Responses to Kekerasan Di Kemah Daud

  1. Agus Karta Parulian Panggabean on September 24, 2008 at 10:03 am

    Semua kejadian yang pak pendeta tulis diatas terjadi setelah Raja Daud jatuh
    ke dalam dosa pembunuhan, yakni membunuh (secara tidak langsung) suami dari seorang prajuritnya. Benarkah begitu, pak pendeta?

    Hikmah yang dapat kita ambil : Jika kita melanggar FirmanNya, maka sejumlah malapetaka siap menerpa kita.

  2. rod tobing (na manghaholongi hkbp) on September 24, 2008 at 12:20 pm

    Aku setuju kali dengan bahan sermon amang DTA ini, karena memenuhi rasa “penasaranku” tentang sermon yang dilakukan di jemaat kami tentang perikop yang sama. Secara tak sengaja, aku membacanya di bilut parhobasan Jum’at malam yang lalu saat marguru ende. Perikop ini diberi judul oleh penulisnya (salah seorang Sintua yang sudah senior) dengan “Perkara Kecil yang Mengakibatkan Perkara yang Besar”. Bukan apa-apa, perikop ini termasuk salah satu yang menarik perhatianku ketika dibahas dalam mata kuliah Membaca Alkitab dengan Mata Baru. Perkosaan yang dilakukan oleh saudara kandung (dan tidak ditanggapi secara wajar oleh orangtuanya, yakni Raja Daud yang sangat terkenal itu …), bagaimana tidak menjadi sangat menarik?

    Nah, itulah … yang mengejutkan aku, ternyata dalam bahan sermon yang ditulis sintua tersebut dikategorikan sebagai hal kecil. Alamakkkk … macam mana bisa seperti itu? Sampai kalimat terakhir tulisan itu, tak satupun yang “mengutuk” perbuatan si Amnon sang pemerkosa itu. Menurut pemahamanku, pembunuhan yang dilakukan Absalom (sebagai pelampiasan dendam itonya yang korban perkosaan) pun harus ditentang Bagaimana ini? Mau ‘ngobrol dengan pendeta Resort, ternyata beliau belum ‘nongol sejak Sinode Godang yang lalu.

    Kemungkinannya adalah, sang sintua main comot saja bahan renungannya untuk sermon. Karena ditugaskan sebagai pembuat bahan sermon – sementara kapasitas dan sumber dayanya sangat terbatas – beliau membuatnya asal jadi. Waduh, sangat sangat sangat disayangkan. Aku mau usul, supaya para pelayan di jemaat untuk menjadikan situs blog ini menjadi referensi dalam pembuatan khotbah/renungan/sermon.

    Horas jala gabe! Beta hita arahon pangula asa padenggan panghobasionna di hakabepe!

  3. janpietersiahaan on September 24, 2008 at 2:42 pm

    Pdt.DTA.Harahap :

    Selanjutnya kita juga terpanggil memberi kontribusi untuk menegakkan hukum dan keamanan di tengah-tengah masyarakat dan negara, sehingga tidak ada orang yang dapat sekehendak hatinya berbuat melanggar hukum.

    Tambahan: Kita harus menjadi agen terdepan untuk menegakkan hukum positif di negara kita ini, minimal menjadi contoh individu yang taat hukum dan tahu hukum. Kita coba membaca KUHPidana, KUHperdata dan KUHAP disamping Alkitab dan buku-buku penting lainnya.

  4. Erpesim on September 24, 2008 at 4:16 pm

    Kalo ditarik lebih kebelakang , memang sebenarnya masalahnya sepele.Dimana benih dosa awalnya dimulai saat mata Raja Daud terperangkap pesona body Betsyeba.seperti kita tahu kategori dosa level terendah adalah dosa perjinahan setelah Cinta harta dan Kesombongan.Prosesnya:Ada godaan timbul niat dan dapat kesempatan lalu dibuahi (bersetubuh dengan Betsyeba setelah membuat “mahakarya” rekayasa pembunuhan Uria si prajurit sejati) jadilah DOSA.Daud ampun2an sampai puasa abu mohon pengampunan tapi Upah dosa tetap jatuh yaitu bayi yang dikandung lahir dan langsung mati.Tapi kenyataannya upah dosa itu tidak sampai situ Tuhan menetapkan berbunga sampai berakibat pada kerajaanya,gundik2nya dan anak keturunannya. Bayangkan kitalah, bagaimana pikiran dan perasaan Daud melihat benih2 dosa pribadinya bermutasi dan berbuah laknat,derita dan sengsara didepan matanya dan menimpa anak keturunannya tapi dia manaon jala ditean do sude naporsuki (tidak protes sama Tuhan).Dia tetap menjaga keutuhan dan kasihnya kepada Tuhan dan anak-keturunannya.Bgaiman kalo kita yg menghadapinya,dijamin pasti mabok tujuh keliling.Namun sampai akhir hayatnya Daud adalah hamba yang taat dan setia serta berkenan dimata Allah.

    Daniel Harahap:
    Pertama: dapat dari ama istilah kategori dosa level terendah adalah dosa perjinahan? :-)
    Kedua: dapat dari mana juga bahwa penderitaan keturunan daud adalah akibat dosa ayah atau kakeknya? Yeh 18:20 mengatakan masing2 orang menanggung dosanya dan bukan dosa ayahnya.

  5. ucokgultom on September 24, 2008 at 7:19 pm

    menanggapi Erpesim, Amang Pendeta.

    Sebuah pilihan pasti menyebabkan sebuah akibat. Pilihan Daud dahulu untuk menikahi Betsyeba dan beristri banyak tentunya berakibat timbulnya masalah pada keluarganya. Tentu bukan berarti Tuhan menghukum anak karena dosa bapaknya, tapi kita tidak dapat mengharapkan sebuah keluarga yang baik dan nyaman dari sebuah kesalahan keputusan yang diambil seorang bapak sebagai pemimpin keluarga.

    Bagaimana Daud bisa tegas kepada Amnon, dulu juga dia pernah berzinah dengan Betsyeba? Bagaimana dia bisa tegas kepada Absalom, jika dia pernah membunuh suami dari Betsyeba? Ketidaktegasan sebagai pemimpin keluarga membuat anggota keluarga saling berbuat semau sendiri. Daud memang pilihan Tuhan, tapi dia juga manusia. Namun dalam kesalahannya Daud mau mengakui kesalahannya dan bertobat.
    Tuhan maha baik dan pengampun, walaupun Dia mengampuni dan memberi tempat di Surga bagi yang percaya padanya, tapi setiap keputusan yang diambil manusia pasti ada akibatnya di dunia,

    Betapa baiknya Tuhan yang kita sembah, yang selalu dapat meluruskan setiap jalan yang salah dan menerima kita yang seharusnya menanggung semua kesalahan pilihan tindakan kita.

  6. Erpesim on September 25, 2008 at 2:47 pm

    Amang DTA! Kayaknya baru kali ini ada 2 pertanyaan sekaligus disasar pada satu responden.Alamak,seram kali.
    Tapi saya coba untuk sharing aja.

    Yang Pertama:
    Sejak dulu “naluri” makhluk hidup seperti Binatang adalah Bersetubuh (rasanya mrk pasti nggak ngerti bhw tujuannya utk melahirkan keturunannya).Dan dalam prakteknya Binatang dapat membunuh binatang lain utk mengambil pasangan lawan. Bahkan saya pernah lihat di film National Geographic,sepasang Harimau jantan membunuh rivalnya dan anak bayi jantan yg ada utk mendapatkan betinanya.Artinya ini demi hidup mati tanpa pandang bulu.

    Jadi kalo ada orang yg jatuh dalam dosa utk bersetubuh apalagi merancang prosesnya dan makan korban pula, mk dia …..
    Tapi syukurlah,dgn akal budinya manusia tidak sama dgn binatang dan menyadari kesemrawutan itu dan membuat jaring pengaman berupa Budaya dan Adat istiadat.Tapi namanya jaring, tetap aja ada yg kebablasan.

    Yang kedua:
    Maaf belum bisa mengutip fasal dan ayat Firman Tuhan,krn nggak hafal.Tapi kisah ini saya pernah baca ketika Nabi Samuel (Nabi Natan?) menyampaikan isi hati Tuhan menanggapi “rekayasa Daud utk menghilangkan jejak perselingkuhannya dgn Betsyeba dan krn kepepet akhirnya mengorbankan nyawa seorang Prajurit setia rival cinta segitiganya dgn menyuruh maju berperang ke medan perang yg total dikuasai musuh.Caranya :dengan menyampaikan perumpamaan Seorang Kaya Raya yg mengambil domba milik hambanya yang cuma satu2nya,untuk dikorbankan menjamu tamunya. Padahal domba dan lembunya banyak banget.Mendengar itu, Daud sadar telah berdosa kepada Tuhan. Minta ampun sama Tuhan,tapi Tuhan melalui NabiNya memberi pengampunan,namun bayi yang dikandung Betsyeba (sebelum Salomo ada) akan mati, bhw dia tidak akan dicabut dari Kerajaannya ttp akan menanggung banyak aib/sengsara,istri2nya diambil anaknya didepan matanya,bahwa anaknya akan berontak dan kekerasan akan menjadi bagian anak keturunannya. Memang Ketokohan Nabi Daud multi dimensional,tdk bisa digeneralisasi.Tapi satu yang pasti Daud tetap hamba yang bersahaja, setia dan berkenan di mata Tuhan shg pada akhir hayatnya Tuhan tetap mengasihinya.Raja Salomo yg penuh Hikmat dan Yesus secara lahiriah berasal dari grs keturunan/Trah Daud.

    Tetapi seperti ayat yg dikutip Amang DTA Yeh 18:20 mengatakan masing2 orang menanggung dosanya dan bukan dosa ayahnya.Terimakasih untuk penjelasan mengenai Hukum tabur tuai seperti yg disampaikan Lae UcokGultom. Hataon hata tambaan,Ditambahi angka donganma.

  7. Ruas-Bandung on September 25, 2008 at 4:44 pm

    Amang DTA…lama saya merenung, dilihat dari silsilah Jesus yang merupakan turunan dari Salomo, apakah Tuhan Allah itu begitu pemaaf sehingga tetap memberkati turunan Daud dari mantan istri prajuritnya dan turunannya menjadi Juru Selamat?

    Mudah-mudahan cerita asmara Daud dan Batsyeba ini tidak menjadi pembenaran (justifikasi) buat kita kalangan pria yang sudah punya istri resmi.

  8. Erpesim on September 26, 2008 at 10:37 am

    Kemarin malam saya coba utk menemukan Kisah Tokoh Daud yang unik ini.Akhirnya ketemu di II Sam 21 dan 22.Yang memberi teguran pada Daud adalah Nabi Natan (bukan Nabi Samuel) dan Nabi Natan juga yang menulah Keluarga Daud spy bayi yg dikandung Betsyeba lahir dan mati. Bahwa kematian/ pembunuhan yg dirancang Daud utk Uria org Het suami Betsyeba itu “sangat menista Tuhan” berakibat Pedang tidak akan beranjak dari hidup anak keturunannya etc (tapi Tuhan tidak mencabut nyawa Daud?). Kisah Daud memang multi dimensional ada dosa, hukum, asmara, perang, kekuasaan, tata negara, ketaatan. Jadi jangan sampai kita terjebak buru2 memberi kesimpulan. Saya juga mengaminkan Yeh 18:20, tp faktanya Raja Daud menerima Vonis dan Ultimatum yang mencakup kehidupan pribadinya dan anak keturunannya. Kita juga ingat kumpulan Mazmur Syair dan Puisi Daud yang sangat indah dan touching abisss…sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman…..Aku tdk takut bahaya sebab Engkau besertaku…Gadamu dan Tongkatmu, itulah…..

  9. nalom (RN) on September 29, 2008 at 11:13 am

    DTA: Kedua: dapat dari mana juga bahwa penderitaan keturunan daud adalah akibat dosa ayah atau kakeknya? Yeh 18:20 mengatakan masing2 orang menanggung dosanya dan bukan dosa ayahnya.

    Nalom(RN): Kel 20:5 ………, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

    Apakah ayat ini hanya diberlakukan utk patik paduahon.??? Tidak kah ayat ini dpt diterapkan pada apa yg di-pendapat-kan (disharingkan) Erpesim?

    Daniel Harahap:
    Kalimatnya kan belum selesai. Inilah lanjutannya: “tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Kel 20:6). Artinya Allah juga menunjukkan kasih setiaNya kepada keturunan kedua, ketiga dan keempat yang walaupun ayah atau kakeknya jahat atau salah tetapi mereka tetap hidup taat kepada Allah.

  10. nalom (RN) on September 29, 2008 at 11:45 am

    @Erpesim

    Sebenarnya dosa yang terbesar di HKBP itu adalah berzinah. Lihatlah di warta/tingting minggu hanya pelanggaran inilah yg di-RPP-kan. ;)

  11. Erpesim on October 6, 2008 at 12:40 pm

    @Nalom

    Mungkin kita hanya beda sisi pandang aja.Saya lebih melihat aspek kualitatif dan edukasi pemurnian Iman pengikut Kristus. Secara Kwantitatif memang di Wahyu juga dillustrasikan bahwa 1/3 anak manusia akan jatuh atau tersapu alat di bagian belakang sang “Naga”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*