HKBP: Kembali Ke Aturan Lama?

September 24, 2008
By

tugu-jubileum-100tahun-hkbp.JPG

Oleh : PM Banjarnahor

Pdt DTA,

Jangan heran sesungguhnya kehadiran MPS HKBP hanya berupa STEMPEL adalah bukan barang baru itu sudah terlihat sejak tahun 2004, dimana pada waktu itu juga mereka hanya diperkenalkan dan ini memang masuk logika sebab MPS dipilih dalam Sinode Distrik dan harusnya dilantik oleh Praeses. Karenanya saya ingin mengajak semua pihak khususnya para pengambil keputusan (ke-5 Pimpinan HKBP) agar secara sadar dan jujur dengan komitmen tinggi MANGHOBASI KEPUTUSAN-KEPUTUSAN SINODE GODANG HKBP-59 khususnya Pembentukan Tim Amandemen AP-HKBP dan Sinode Godang Kerja 2010.

Mari kita renungkan sejenak apa dan siapa sesungguhnya HKBP nabolon i (tulisan ini telah kami tuliskan dua tahun Pasca implementasi AP-HKBP). Setelah Perang Dunia II, Partai Komunis di China melakukan tekanan terhadap penganut Lutheran di Negeri itu, namun demikian di Negeri lain, jajaran Lutheran mendapat tempat seperti di Jepang, Hong Kong, Taiwan dan Korea dan khusus di Indonesia penyebaran Lutheran dijuluki sebagai ”A strong, largely Lutheran ’younger church’ in Sumatra is the Batak Protestant Christian Church”, inilah tulisan yang terbaca oleh saya pada tahun 1983 di Encyclopedia Americana 1980:17-866. Setelah membaca tulisan itu, didalam pikiran saya terlintas betapa tersohornya HKBP yang walaupun pada zaman itu disebut sebagai “gereja muda” akan tetapi dunia sudah mengakui bahwa kehadirannya begitu kuat dan besar di daerah Sumatra.

Terus terang sebagai anggota Jemaat HKBP saya benar-benar bangga mebaca tulisan tersebut dan tidak akan berkelebihan jika kita harus mengakui bahwa HKBP memang kuat dan besar sebagaimana di “state” di Encyclopedia Americana, bahkan sekarang ini HKBP bukan lagi hanya ada di Sumatra tetapi sudah menyebar di seluruh daratan Nusantara tercinta bahkan ditahun sembilan puluhan HKBP sudah ‘go-international’, adalah tidak salah jika Presiden Repulik Indonesia Abdurahman Wahid (Gusdur) me-release dalam pidatonya di Konfrensi Nasional HKBP I, 2000 di JCC Jakarta, beliau menyebutkan di Indonesia hanya ada 3 (tiga) Organisasi Sosial yang besar, yang pertama adalah Nahdlatul Ulama (NU), kedua Muhammadyah dan yang ketiga ialah HKBP dan secara bergurau (walaupun realitasnya demikian) beliau katakan ‘jangan main-main lho HKBP itu besar assetnya dimana-mana’.

Oleh kedua pernyataan itu saya mencoba kilas balik tentang dua kejadian yang sangat penting di tubuh HKBP yang lahir di Bumi Persada Nusantara 145 tahun yang lalu (7 Oktober 1861), kemudian dia menjadi Gereja yang mandiri sejak 10-11 Juli 1940 (66 tahun yang lalu). Sadar atau tidak, kedua kejadian itu adalah kenyataan sejarah yang Tuhan nyatakan ditengah kehidupan dan eksistensi HKBP di dunia ini, sehingga tidaklah berkelibihan jika kedua kejadian itu tidak akan pernah sirnah dari ingatan warga HKBP melainkan akan senantiasa mewarnai kehidupannya kapan dan dimanapun juga. Alasannya, kehadiran HKBP telah mengangkat kehidupan seluruh warga HKBP dan termasuk siapa saja yang berada di lingkungannya dari hamparan lumpur yang luas keatas batu karang yang kokoh, itulah suatu kenyataan yang tidak akan pernah tergoyahkan oleh siapanpun dan kekuatan apapun dari kehidupan HKBP dan orang Batak pada umumnya.

Di awal abad XXI ini yang pantas kita sebut sebagai pasca modern akan ada dan sudah ada berbagai tantangan yang menyapa setiap Individu, Golongan, Organisasi Politik, Organisasi Keagamaan, Gereja dan lain sebagainya dan itu dirasakan sangat bervariasi dan sudah tentu bahwa karakter, klasifikasi maupun bobot masing-masing tantangan itu akan mengikuti irama tajamnya perlakuan kompetisi global melalui perkembangan iptek dan implementasinya saat itu. Karenannya, sebagai salah satu badan-organisasi sosial yang mandiri, HKBP tidak boleh tidak harus mempersiapkan diri menghadapi tantangan demi tantangan dan perlu diingat, bahwa yang akan dipertanyakan oleh masing-masing zaman kepada HKBP adalah bukan umur atau tahun mandirinya HKBP ataupun jumlah jemaat maupun kebesaran HKBP.

Sapaan atau pertanyaan yang akan terlontar adalah “sejauhmana” HKBP telah mempersiapkan diri untuk menumbuhkembangkan sejarah 145 tahun yang lalu dan kewajiban maupun tanggungjawab yang bagaimana yang harus dipikul HKBP sebagai Huria Mandiri 66 tahun yang lalu, saya melihat itulah kandungan pertanyaan dan tuntutan yang mesti terjawab tanpa tawar menawar, tentunya bilamana HKBP ingin tetap “exist-survive” di era millennium-3 ini.

Sebagaimana Visi-Misi HKBP menjadi Gereja yang inklusif, dialogis, terbuka, berkualitas (mengandung makna yang sangat mendalam) dan mewujudkan Visi-Misi HKBP kita perlu melihat kembali apakah ’platform’ yang sudah kita miliki sekarang ini sudah berada pada posisi yang yang tepat, jika belum HKBP menjadi penting untuk melakukan ”adjustment”. Membaca apa yang sudah berjalan khususnya pasca implementasi AP-HKBP-2002, ada beberapa hal mendesak yang perlu mandapat perhatian untuk dievaluasi kembali guna mengambil solusi yang lebih tepat.

1. STRUKTUR ORGANISASI

Melalui Sinode Godang 2004, sesuai dengan AP-HKBP para Pimpinan HKBP yang baru telah terpilih yaitu Ephorus, Sekretaris Jenderal, Kepala Departemen Koinonia, Kepala Departemen Marturia, Kepala Departemen Diakonia termasuk 26 Praeses dan sejak itu para Pimpinan HKBP bersama jajaran kebawahnya sudah bekerja sesuai ’job’ masing-masing. Sejalan dengan AP-HKBP yang baru tersebut dimasing-masing Distrik, Ressort, dan Huria pemilihan pengurus yang baru juga sudah dilakukan, namun dirasakan atau tidak dirasakan, saya telah melihat ada 3 (tiga) hal penting perlu mendapat perhatian :

(1) Dengan Organisasi baru sesuai AP-HKBP pasal 26-4.3, halaman 173 bhs Indonesia, disana jelas tersurat dan tersirat bahwa pengendalian di HKBP sekarang ini seutuhnya hanya akan ditentukan oleh 5 (lima) orang yang disebut sebagai Pimpinan HKBP, dengan demikian setiap pengambilan kebijakan atau keputusan strategis di HKBP cukup ditetapkan oleh 5 (lima) orang saja atau bahkan bisa oleh 3 (tiga) orang apabila terjadi ’voting’ didalam RAPAT PIMPINAN (catatan Sinode Godang diadakan hanya sekali dalam empat tahun atau pada penghujung periode Para Pimpinan HKBP) artinya Sinode Godang hanya berfungsi mendengarkan Barita Jujur Taon para Pimpinan dan mengomentarinya, kemudian melakukan pemilihan pimpinan HKBP periode berikutnya. Apabila dalam mekanisme proses pengambilan kebijakan strategis hanya akan ditetapkan dan diputuskan oleh 5 (lima) atau bahkan 3 (tiga) orang di HKBP yang memiliki anggota jemaat hampir 3,5 juta orang, rasanya kondisi demikian akan dapat menempatkan HKBP kelak berada pada posisi ’high-risk’, sebab secara realitas disana sudah tidak ada lagi ’check and balance’ sebagaimana diperankan oleh Majelis Pusat sebelumnya. Sebagai gambaran umum dimana kita semua tahu, didalam sebuah perusahaan yang hanya memiliki jumlah anggota/karyawan diatas 50 orang saja, disana (didalam organisasinya) tidak lagi hanya terdapat unsur Dewan Direksi akan tetapi sudah dilengkapi dengan Dewan Komisaris, alasannya adalah agar perjalanan perusahaan dapat terkendali dan terkontrol secara berkesinambungan demi tercapainya tujuan perusahaan tersebut. Melihat kondisi ini, posisi Majelis Pusat yang pada Sinode Godang 2004 (AP-HKBP yang baru) resmi dihapuskan, adalah menjadi penting untuk kembali diadakan dalam Struktur Organisasi HKBP.

(2) Dengan Struktur Organisasi yang baru, saya membaca bahwa pusat kesekretariatan administratif dan operasional HKBP tidak lagi ada pada Sekretariat Jenderal seperti sebelumnya, tetapi masing-masing Departemen (Koinonia, Marturia, Diakonia) akan membentuk ke-Sekretariatan sendiri-sendiri, hal ini dapat menyulitkan HKBP kedepan terutama dokumen-dokumen strategis HKBP (dokumen asli) akan menjadi terpencar-pencar tanpa ada satu penanggung jawab. Karenanya kondisi ini juga menuntut HKBP kembali kepada organisasi lama Ephorus dan Sekretaris Jenderal bersama Majelis Pusat berada pada posisi ’central board’ dan Departemen Koinonia, Marturia, dan Diakonia berada pada posisi operasional.

(3) Dengan Struktur Organisasi (baru), posisi atau jabatan Guru Huria sudah tidak ada lagi (tugasnya sudah ditangani langsung oleh Uluan Huria), kondisi ini mengingatkan saya jika sebelumnya seorang Guru Huria berfungsi hampir-hampir sebagai ”general affairs manager’ tetapi sekarang ini itu semua harus dipikul sendiri oleh ULUAN HURIA (apakah itu seorang pendeta atau bukan), apa arti semua ini ’didalam sistim pelayanan HKBP’ telah terjadi pergeseran yang sesungguhnya itu tidak diperlukan, tugas Pendeta yang seharusnya terpusat terhadap pelayanan rohani, telah menjadi terfokus kepada pelayanan yang sifatnya administratif dan umum, hal ini juga memberi suatu indikasi penting bagi HKBP sehingga posisi Guru Huria yang kita miliki sekarang ini dikembalikan pada tugas dan tanggung jawab sebagaimana sebelumnya.

2. TUGAS PIMPINAN (JOBDES)

Tugas Pimpinan HKBP mulai dari Ephorus, Sekretaris Jenderal, Departemen Koinonia, Departemen Marturia dan Departement Diakonia sangat jelas ter-urai (AP-HKBP pasal 10 Bindu 11, pasal 12, pasal 13, pasal 14 dan pasal 15), namun di dalam Rapat Pimpinan HKBP (sesuai AP-HKBP pasal 26-4.3, halaman 173 bhs Indonesia) disana tertuang ada 14 tugas strategis yang menurut pengamatan saya hampir-hampir tidak memiliki hubungan dengan tugas utama para Pimpinan HKBP (Ephorus, Sekretaris Jenderal, Kepala Departemen Koinonia, Kepala Departemen Marturia, Kepala Departemen Diakonia) dibawah ini adalah uraian Rapat Pimpinan HKBP dengan tugas atau AGENDA RAPAT PIMPINAN sebagai berikut :

1) Membicarakan dan merencanakan upaya melaksanakan tugas-tugas pimpinan
2) Memikirkan dan menentukan pembentukan biro-biro, bagian, dan yayasan sesuai dengan kebutuhannya.
3) Membicarakan dan melaksanakan saran-saran dari Sinode Agung, Majelis Pekerja Sinode, Badan Audit HKBP, dan Badan Penelitian Pengembangan HKBP
4) Membicarakan dan menetapkan tempat pelayanan dan mutasi pelayan penuh waktu di HKBP
5) Membicarakan persiapan-persiapan ke Sinode Agung, Majelis Pekerja Sinode, Rapat Praeses, dan Rapat Pendeta.
6) Memilih dan menetapkan pengurus Badan Penyelenggara Pendidikan HKBP sesuai dengan Kebijakan Dasar Pendidikan HKBP.
7) Memilih anggota Badan Audit HKBP, anggota Badan Usaha HKBP, dan anggota komisi.
8. Memilih Bendahara Umum HKBP
9) Memilih Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan HKBP
10) Memimpin dan Menjalankan sikap umum HKBP yang telah ditetapkan oleh Sinode Agung dan Majelis Pekerja Sinode
11) Mempertimbangkan dan memberi izin kepada pelayan-pelayan penuh waktu di HKBP untuk bekerja di luar HKBP, dan mengutus pelayan-pelayan HKBP untuk melayani di badan-badan oikumene.
12) Mengawasi lembaga-lembaga pendidikan teologi yang ada di HKBP, dan lembaga-lembaga pendidikan umum HKBP
13) Memberikan pemikiran untuk peningkatan lembaga-lembaga pendidikan HKBP
14) Menetapkan tempat pelayanan para Praeses.

Pertanyaannya sekarang adalah ’sudahkah ke-14 AGENDA UTAMA rapat para Pimpinan HKBP memiliki keterikatan sekaligus menggambarkan PETA PELAYANAN HKBP kedepan sesuai VISI-MISI-nya ?

”VISI” … hkbp berkembang menjadi gereja yang INKLUSIF, DIALOGIS, dan TERBUKA, serta mampu dan bertenaga mengembangkan kehidupan yang bermutu didalam kasih Tuhan Yesus Kristus, bersama-sama dengan semua orang di dalam masyarakat global, terutama masyarakat kristen, demi kemuliaan Allah Bapa yang mahakuasa.

”MISI” … hkbp berusaha meningkatkan mutu segenap warga masyarakat, terutama warga hkbp, melalui pelayanan-pelayanan gereja yang bermutu agar mampu melaksanakan amanat Tuhan Yesus dalam segenap perilaku kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, maupun kehidupan bersama segenap masyarakat manusia di tingkat lokal dan nasional, di tingkat regional dan global dalam menghadapi tantangan abad-21.

bila saya boleh bicara jujur, bahwa ke-14 tugas pokok didalam Rapat Pimpinan HKBP yang tertuang dalam AP-HKBP belumlah menyentuh akan apa yang terkandung dalam VISI-MISI HKBP sebagai gereja yang inklusif, dialogis, terbuka dan pelayanan yang berkualitas. Mengapa saya katakan ”belum” ? Sebab berdasarkan uraian tugas tersebut terlihat lebih dari 57% tenaga dan pikiran para pimpinan HKBP akan terkuras hanya untuk mengurusi personalia (mutasi, penempatan pelayan, jodes, dll).

Kenapa kondisi demikian ini terjadi dan baru bisa ditemui sekarang ini, apakah AP-HKBP yang kita gunakan sekarang ini ”sebelumnya” belum dibicarakan, diperdebatkan dan digodok lebih dulu di masing-masing Ressort, Distrik, Praeses, dan di Majelis Pusat ? Jawabannya ’jelas sudah dibicarakan, diperdebatkan dan digodok’ dan bahkan dalam rapat tertinggi di HKBP melalui Sinode Godang HKBP hari Jumat 4 Oktober 2002, AP-HKBP secara resmi ditetapkan dan disetujui, lantas kedepannya apa yang harus kita atau HKBP lakukan ? AP-HKBP yang walaupun baru di implementasi 1 Januari 2004 sudah perlu di Amandemen demi menggapai gereja yang inklusif, dialogis, terbuka dan berkualitas. Sebab, apabila kita tetap bertahan tanpa mengadakan ’amandemen AP-HKBP’ maka HKBP akan semakin jauh dari VISI-MISI-nya sendiri.

3. PENINGKATAN MUTU PELAYANAN

Berbicara tentang peningkatan mutu pelayanan maka kita akan terbawa kedalam sebuah pertanyaan ”ada apa dengan mutu pelayanan di HKBP” mungkin jawaban untuk pertanyaan ini tidaklah akan menjadi sama sebab masing-masing individu memiliki persepsi yang berbeda-beda, dari hampir 3,5 juta anggota Jemaat HKBP dapat terbagi menjadi 4 (empat) golongan :

(1) Golongan ’A’ menjawab, pelayanan di HKBP sudah jauh menurun dari tahun-tahun sebelumnya terutama jika dibandingkan dengan era-Nommensen.

(2) Golongan ’B’ menjawab, sebenarnya pelayanan di HKBP akan semakin baik jika HKBP tidak monotone

(3) Golongan ’C’ menjawab, pelayanan di HKBP (Koinonia, Marturia, Diakonia) sudah berjalan dengan baik hanya perlu peningkatan dengan melalui terobosan-terobosan baru yang tetap menyesuaikan dengan tatanan HKBP sendiri

(4) Golongan ’D’ menjawab, perkembangan pelayanan di HKBP sejak 1861 hingga sekarang ini memperlihatkan kemajuan yang berarti, hanya masalah sekarang ini (terutama) di kota-kota besar sudah banyak anggota HKBP yang mengikuti kebaktian di Gereja lain walaupun keanggotaannya masih tetap di HKBP

Apapun yang digambarkan oleh keempat golongan diatas tentang kondisi pelayanan di HKBP dewasa ini, tentu perlu kita sikapi dengan cermat dan jujur, sebab itu semua memiliki tujuan yang sama bagaimana agar HKBP semakin memberikan ”pelayanan yang berkualitas”. Jika ”kita” semua menginginkan pelayanan yang berkualitas, maka HKBP haruslah menjadi gereja yang Inklusif, Dialogis, Terbuka. sebagaimana tertuang dalam Visi-Misi HKBP. Pdt Willem TP Simarmata, MA, Sekretaris Jenderal HKBP dalam tulisannya menyatakan mewujudkan HKBP yang Terbuka dan Dialogis bukanlah merupakan ’post biblical development’, melainkan suatu hal yang esensial. Keterbukaan gereja bukanlah suatu yang ditambahkan kemudian, melainkan sesuatu yang inheren dalam dirinya sendiri. Dasarnya amat jelas, yakni : Allah terbuka bagi setiap dan semua orang. Karenanya gereja harus terbuka pada kehidupan, terbuka pada sains dan teknologi dan terbuka pada masa depan. Jika keterbukaan itu (terbuka pada kehidupan, terbuka pada sains dan teknologi dan terbuka pada masa depan), adalah merupakan suatu keharusan bagi gereja (HKBP), sudah tentu para pelayannya (Pendeta, Guru Huria, Bibelvrow, Diakones, Sintua, Evangelis) haruslah juga menjadi seorang yang terbuka dan dialogis. Dengan sikap yang terbuka (dapat dilihat dan dapat melihat, mengakui kelemahan, terfokus kepada talenta-potensi-kekuatan) dan dialogis (berdiskusi terbuka, akomodatif, mau-berubah), maka akan terlahirlah di HKBP pelayan-pelayan (SDM) yang bermutu dalam bidang ’leadership’, pelayanan khotbah, pelayanan PA, pelayanan pastoral, pelayanan diakonia sosial.

Sekarang pertanyaannya adalah selain apa yang diutarakan diatas (kaitannya dalam peningkatan kualitas pelayanan) masih adakah faktor lainnya yang belum terpikirkan oleh HKBP ? Saya melihat sepanjang sejarah HKBP (secara universal), bahwa perhatian HKBP terhadap ”human needs” bagi para pelayannya sangatlah dirasakan kurang, HKBP selalu melihat dan terpaku akan ’tugas dan tanggungjawab’ seorang Pendeta, Guru Huria, Bibelvrow, Diakones yang senantiasa harus melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya (artinya : walaupun ”udan-haba-haba”/hujan disertai angin puting beliung seorang Pelayan Tuhan sekalipun tidak ada payung harus berangkat untuk melaksanakan tugasnya), apa jadinya jika skope pemikiran HKBP masih demikian ? Akankah pelayanan berkualitas dapat diberikan seorang Pelayan Tuhan sementara ’gaji bulanannya’ baru dapat diterima setelah lewat satu bulan ? Atau mungkinkah Pelayan Tuhan dapat bekerja-melayani secara maksimal sementara anaknya sedang sakit parah dan tidak mempunyai biaya untuk mengobati ? Atau dapatkah HKBP menuntut dedikasi dan loyalitas yang tinggi dari seorang Pelayan Tuhan sementara pada masa pensiunnya dia hanya menerima Rp 200.000 – Rp 500.000 per bulannya ? Apa yang akan dilakukan HKBP pada kondisi demikian ? Sudah saatnya HKBP berpikir lebih fokus lagi bagaimana agar tingkat kesejahtraan para Pelayan HKBP dapat menjadi wajar.

Pertanyaannya apakah hal peningkatan kesejahteraan pelayan di HKBP belum pernah disentuh oleh HKBP ? Sesungguhnya, Program Dana Abadi HKBP yang sudah dijalankan di HKBP sejak tanggal 1 Maret 2000 dengan SK Ephorus HKBP No.286/L08/III/2000 yang kemudian disetujui/disyahkan pada Sinode Godang HKBP 2000 adalah bertujuan untuk meningkatkan kesejahtraan para Pelayan HKBP, hanya kenyataan yang ada, walaupun Program ini masih berlanjut hingga sekarang, akan tetapi perhatian HKBP untuk menjalankannya boleh dikatakan semakin hari semakin tidur. Karenanya sementara Program Dana Abadi HKBP masih dapat berjalan di tempat ada baiknya ’kita’ gerakkan lagi dimasing-masing Huria. Penjelasan lebih rinci tentang Program Dana Abadi HKBP dapat kita baca di Almanak HKBP 2007 halaman 400.

PENUTUP

”Karena itu Aku percaya kepadamu: Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11 : 24)

Percaya, itulah kunci pembuka segala sesuatu dalam Kerajaan Tuhan. Itulah cara kita membuka saluran kuasa Tuhan. Sebagian besar dari kita mengetahui hal itu. Karenanya, perlu ”kita” camkan bersama bahwa, Tugas menjadikan Gereja yang Inklusif, Dialogis, Terbuka dengan Pelayanan Yang Berkualitas itu tidak ringan, namun betapapun berat dan kompleksnya tugas tersebut, sebagai Gereja Tuhan tiada jalan lain bahwa tugas itu harus dipikul, dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan.

Catatan:

Tulisan ini tadinya dikirim sebagai komen terhadap tulisan saya “MPS: Stempel atau Anting-anting”, namun berhubung sangat panjang dan baik menjadi bahan baru diskusi saya posting dalam tulisan terpisah.

Horas,

Daniel T.A. Harahap

Share on Facebook

26 Responses to HKBP: Kembali Ke Aturan Lama?

  1. elumban on September 24, 2008 at 9:33 am

    Horas
    Tulisan ini sebenarnya sudah banyak menggambarkan hal-hal yang dirisaukan selama ini mengenai AP2002.
    Cukup sebagai referensi bagi Komisi Aturan Peraturan yang dibentuk SG 2008

    horas

  2. St.T.Manullang on September 24, 2008 at 9:44 am

    Horas amang Harahap,
    Kalau kita cermati gereja HKBP sebagai satu organisasi memang agak unik, uniknya, biasanya organisasi induk lah yang harusnya memikirkan/memberikan jalan keluar atau membantu mengatasi setiap permasalahan2 yang terjadi di cabang2nya/huria, contohnya masalah sulitnya pendirian gereja yang dialami oleh banyak daerah, namun, rasanya pimpinan-pimpinan di pusat HKBP, bahkan yang selevel Paresesnya pun tidak terlalu perduli apakah gereja tersebut diizinkan dibangun atau tidak. Yang terlihat fungsi pimpinan HKBP saat ini lebih kepada seremonial saja, yaitu meresmikan gereja yang sudah di bangun dengan pontang panting oleh daerah2( karena juga harus terbebani untuk mengongkosi rombongan pimpinan yang akan meresmikan gereja tersebut).Selain urusan seremonial diatas maka yang menonjol lainnya adalah urusan mutasi para pendeta, dan yang cukup memprihatinkan bahwa urusan mutasi pendeta saat ini bukan lagi berdasarkan pertimbangan lama pelayanan, kemampuan bersikap sebagai uluan huria, perangainya, termasuk anggota keluarga(istri) dll, tapi lebih cenderung kepada kedekatannya ke pada pimpinan HKBP saja.(ini terjadi di Distrik XVII IBT). Sebagai ruas HKBP kadang-kadang timbul rasa pandelean, apa manfaatnya dengan adanya organisasi induk HKBP.
    Kami sangat setuju dengan pemikiran amang Harahap, bagaimana HKBP sebagai satu organisasi besar harus lah dikelola dengan benar dan para pengelolanya haruslah lebih mementingkan kepentingan gereja daripada kepentingan pribadi.
    Horas.

  3. Agus Karta Parulian Panggabean on September 24, 2008 at 12:09 pm

    Amang PM Banjarnahor yth,

    Kita sebagai warga HKBP tidak boleh bangga atas kebesaran HKBP. Kebesaran HKBP baru sebatas statistik baik jiwa maupun benda (aset). Itu adalah ukuran duniawi. Perlu kita garis bawahi bahwa HKBP adalah Gereja
    bukan lembaga swadaya masyarakat. Oleh sebab itu hal-hal rohanilah yang patut dikedepankan.

    Menurut saya HKBP sama dengan negara kita, INDONESIA. Seluruh dunia mengakui bahwa Indonesia adalah negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia. Namun demikian, Indonesia bukan negara Islam layaknya Saudi Arabia. Selain terkenal sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia juga terkenal sebagai salah satu negara terkorup di dunia
    Saking korupnya, menteri agamapun juga termasuk salah satu pelaku perkara korupsi di negeri ini. Ironis sekali !!!!

    Demikian pula HKBP. Terkenal sebagai gereja terbesar di Asia Tenggara, tapi HKBP terkenal juga sebagai gereja yang tiga kali dilanda konflik internal. Jemaatnya banyak terjebak dalam praktek rentenir, pengedar obat-obatan terlarang, kriminal, dll. Terbesar belum tentu terbaik. HKBP belum dapat dikategorikan sebagai gereja terbaik.

    Menurut Alkitab, kategori gereja terbaik adalah sebagai berikut :

    1. Tidak memiliki dua tuan, seperti Tuhan Debata dan ompunta sijolojolo tubu.
    2. Tidak ada perkelahian diantara pelayan gereja.
    3. Tidak ada pelayan/jemaatnya yang terkena RPP.
    4. RPP diberlakukan untuk semua dosa, bukan hanya untuk perzinahan saja seperti yang sering kita dengar di warta jemaat selama ini.
    4. Tidak mudah terpengaruh oleh dunia, melainkan mempengaruhi dunia seperti yang telah dilakukan oleh gereja-gereja di Eropa di abad yang telah lampau melalui missionarisnya, paduan suara, ilmu pengetahuan dan teknologi, dll.
    4. Tidak ada pelayan/jemaat yang melakukan hal-hal yang najis, seperti :
    mabuk-mabukan, perjudian bahkan perzinahan.
    5. Dan lain-lain.

  4. Bang Tampu dari Legok. on September 24, 2008 at 4:41 pm

    Saya sangat setuju dengan pendapat Amang St.T.Manullang.

    Mengenaskan memang, dikala harus menyetor upeti kepusat yang dibungkus dengan sebutan “Pelean tu Kantor Pusat”, tapi tidak ada feed back ketika ada masalah yang tidak teratasi, jangankan untuk bantuan Hukum untuk perijinan, menyapa untuk sekedar memberikan dukungan moral saja, sangat minim, bahkan tidak ada, baik dari kantor pusat maupun dari Praeses sendiri. Hmmmmmmmmmmmmmmmm. Any way inilah HKBP. Saya tetap bangga, walau kebanggaan saya tidak buta untuk semua hal.

  5. Antonio Siregar on September 24, 2008 at 6:22 pm

    Luar biasa! Sebuah analisa kritis, tajam tapi membumi dari Amang PM Banjarnahor, mantan anggota majelis pusat HKBP Pasca Krisis. Terimakasih Amang! Ada beberapa catatan menanggapi tulisan Amang:
    1. Kita sependapat, AMANDEMEN AP HKBP! Amang Sintuanami, sejak disahkan menjadi AP HKBP di tahun 2002, saya sudah melihat ketidaksehatan konstitusi ini dalam mengatur perilaku organisasi. Seperti komentar saya sebelumnya, masa depan dan masa kini HKBP ditentukan oleh “Rapat Tertutup Pimpinan HKBP” yang berjumlah 5 orang itu. Saya belum pernah melihat organisasi moderen di dunia ini (kecuali pemerintahan diktator Robert Mugabe di Zimbabwe), yang memberikan mega kekuasaan kepada lembaga eksekutif. Bayangkan! kelima pimpinan itu hanya bertanggungjawab kepada Sinode Godang (yang menurut saya hanya akal2an saja, sebab mana mungkin sinodistan masih tertarik dengan laporan pimpinan, di kala kasak-kusuk pemilihan pimpinan baru sudah di depan mata). Jadi jujur, 5 pimpinan tersebut hanya bertanggungjawab secara rohani kepada Tuhan. MPS? Jangan terlalu vokal, sebab nasib mereka pun berada di tangan kelima pimpinan.
    2. Keinginan amandemen AP HKBP tidaklah mudah. Silahkan baca Tona Sinode Godang yang baru usai. Sama sekali tidak disebutkan hasrat HKBP untuk merevisi AP HKBP. Artinya, pimpinan kita sesungguhnya menikmati kondisi ini. Sebuah kondisi dimana mereka boleh memutuskan sekehendak hati dan pikiran mereka tanpa ada lembaga resmi yang mengontrol atau mengawasi. Kita perlu kerja ekstra keras untuk meyakinkan jemaat dan pelayan HKBP bahwa kita sedang dipandu oleh sebuah konstitusi yang tidak sehat.
    3. Konsep amandemen yang dikemukakan amang Banjarnahor sangatlah tepat. Kita tidak merubah total AP HKBP, tapi ada pasal2 tertentu yang harus ditinjau ulang karena tidak menjawab visi dan misi HKBP. Tapi hati2, jangan sampai Amandemen justru dipakai oleh orang2 tertentu untuk melanggengkan kekuasaannya, seperti yang terjadi di tubuh Mahkamah Agung melalui perpanjangan usia hakim agung. Alih2 mengembalikan fungsi kontrol di HKBP, yang ada malah perpanjangan usia untuk bisa dipilih kembali menjadi Ephorus.
    4. Untuk itu, saya “mangelek” kepada jemaat HKBP Jl. Jambu, jemaatnya pak Banjarnahor dan seluruh jemaat HKBP, demi HKBP! agar mampu mendesak pendetanya untuk sesegera mungkin melakukan beberapa hal untuk menyelamatkan HKBP sebagai gereja:
    a. Berdoa agar para pimpinan HKBP yang karena AP HKBP sekarang memiliki posisi: “di bawah Tuhan dan di atas manusia” terbuka hati dan pikirannya melihat kelemahan AP dan membenahinya.
    b. Amandemen pasal2 tertentu di AP HKBP adalah wajib hukumnya, tapi bukan perpanjangan usia menjadi pimpinan HKBP.
    c. Desak MPS (dalam hal ini amang DTA Cs) untuk menyuarakan Sinode Godang Amandemen di tahun 2010 pada rapat2 MPS.
    d. Bagikan AP HKBP kepada seluruh jemaat dan parhalado, dan buatlah studi2 maupun seminar atau lokakarya bertema: “Relevankah AP HKBP manjawab tantangan jaman?”
    e. Sekali lagi: “Jangan jemu-jemu berdoa dan berbuat baik!” Demi HKBP.

  6. r.h. sibuea on September 24, 2008 at 8:27 pm

    Horas…
    Thanks amang PM Banjarnahor atas informasi dan analisanya…saya cuma berdoa agar HKBP kembali ke kittah awal sesuai nats di batu nisan.

    Daniel Harahap:
    Huss! Itu bukan batu nisan tapi tugu Jubileum 100 Tahun HKBP di Kompleks Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung. :-)

  7. PM BANJARNAHOR on September 25, 2008 at 10:28 am

    Syaloom, Agus Karta Parulian Panggabean

    Saudaraku Agus, tentunya saya tidak boleh dilarang oleh siapapun jika saya menyatakan bahwa saya bangga terhadap Ayah saya sebab SIKAP & TINDAKAN beliau telah memberi inspirasi bagi saya. Sama halnya, bahkan lebih dari itu, saya sungguh bangga terhadap HKBP, apa yang mau saya katakan disini adalah murni ingin menyatakan bahwa melalui HKBP Tuhan berkenan melawat dan memberkati umatnya khususnya bangso batak dan bahkan sudah menjadi berkat bagi orang lain sejak 1861 hingga saat ini.

    Saya setuju dan tidak menolak pandangan Anda tentang statement anda yang menyatakan bahwa gereja HKBP belum dapat dikategorikan sebagai gereja terbaik. Adalah sebuah TUGAS berat yang harus dipikul oleh semua jajaran Pimpinan di HKBP termasuk segenap anggotanya untuk selalu bercermin terhadap butir-butir yang Anda sampaikan :

    1. Tidak memiliki dua tuan, seperti Tuhan Debata dan ompunta sijolojolo tubu.
    2. Tidak ada perkelahian diantara pelayan gereja.
    3. Tidak ada pelayan/jemaatnya yang terkena RPP.
    4. RPP diberlakukan untuk semua dosa, bukan hanya untuk perzinahan saja seperti yang sering kita dengar di warta jemaat selama ini.
    5. Tidak mudah terpengaruh oleh dunia, melainkan mempengaruhi dunia seperti yang telah dilakukan oleh gereja-gereja di Eropa di abad yang telah lampau melalui missionarisnya, paduan suara, ilmu pengetahuan dan teknologi, dll.
    6. Tidak ada pelayan/jemaat yang melakukan hal-hal yang najis, seperti :
    mabuk-mabukan, perjudian bahkan perzinahan.
    7. Dan lain-lain.

    Saya percaya bahwa HKBP akan senantiasa menjadi saluran berkat bagi dunia ini.

  8. PM BANJARNAHOR on September 25, 2008 at 11:11 am

    Pro: Antonio Siregar

    Saya sangat yakin bahwa HKBP masih duduk pada Visinya yang menyatakan Inklusif, Dialogis dan Terbuka. Selama Visi HKBP belum bergeser dari dudukannya, saya percaya semua keputusan Sinode Godang 59 termasuk pembentukan Tim Amandemen AP-HKBP (enam bulan sejak terpilihnya Ephorus periode 2008-1012) dan Sinode Godang Kerja 2010 yang sekaligus sebagai pengesahan Amandemen AP-HKBP akan dapat dilaksanakan karena HKBP cukup memiliki KEMAMPUAN (MAMPU) dan KEMAUAN (MAU) untuk program itu.

    Berbicara tentang KEMAMPUAN dan KEMAUAN memang ada 4 (empat) kondisi yang selalu menghinghapi kehidupan manusia termasuk HKBP yaitu :

    1. Tidak memiliki KEMAMPUAN dan tidak ada KEMAUAN
    2. Tidak memiliki KEMAMPUAN namun ada KEMAUAN
    3. Memiliki KEMAMPUAN namun tidak ada KEMAUAN
    4. Memiliki KEMAMPUAN dan ada KEMAUAN

    Menurut pengamatan saya, bahwa kondisi HKBP tidaklah berada pada nomor 1 s/d 3 namun ada pada kondisi nomor 4, dimana HKBP memiliki KEMAMPUAN dan KEMAUAN untuk meng-implementasikan butir-butir Keputusan Sinode Godang 59 secara jujur dan transfaran. Karenanya
    kita doakan kelima Pimpinan HKBP yang sudah dipilih oleh Tuhan melalui Sinode Godang HKBP 59 dapat mejalankan tugas dan tanggungjawabnya
    demi kemuliaan Jesus Kristus Raja Gereja.

  9. Ruas-Bandung on September 25, 2008 at 4:32 pm

    PM BANBAJRNAHOR wrote:
    Berbicara tentang KEMAMPUAN dan KEMAUAN memang ada 4 (empat) kondisi yang selalu menghinghapi kehidupan manusia termasuk HKBP yaitu :

    1. Tidak memiliki KEMAMPUAN dan tidak ada KEMAUAN
    2. Tidak memiliki KEMAMPUAN namun ada KEMAUAN
    3. Memiliki KEMAMPUAN namun tidak ada KEMAUAN
    4. Memiliki KEMAMPUAN dan ada KEMAUAN

    Ruas-Bandung response:
    Amang Banjar (biarlah saya panggil seperti ini supaya akrab), menyangkut program amandemen AP, saya tidak terlalu yakin bahwa semua ruas HKBP pada posisi poin 4. Tapi environmen yang ada di HKBP menempatkan ruas pada posisi poin 3.
    Tidak usah jauh-jauh amang Banjar, cerita di SG yang lewat, berapa persenkah para peserta sinodestan yang tertarik untuk memikirkan amandemen HKBP? Prediksi saya berapa prosentasi sinodestan yang peduli amandemen AP, sebanyak itulah prosentasi ruas yang peduli terhadap amandemen HKBP.

    Cerita yang unik dan aneh tentang AP 2002 di Bandung, para ruas yang merasa ahli hukum mencoba mencari pembenaran lewat AP 2002 untuk menghapus keberadaan HKBP Bandung Riau dari list resort HKBP.
    dan hal ini langsung diungkapkan bang Johny Simanjuntak, KOMNAS HAM, saat tatap muka dengan ruas HKBP Bandung Riau.

    Kembali ke amandemen AP 2002…memang sudah saatnya dilakukan. dan saya sangat setuju. Mari kita dorong para pendeta kita untuk pro-aktif dalam amandemen AP HKBP sehingga ruas/parhalado dapat bergeser kondisinya dari poin no 3 ke no 4 pada tulisan amang Banjar ini.

  10. martua on September 25, 2008 at 8:32 pm

    Untuk ruas bandung :
    Dang hea adong di sada huria 2 ressort. Didok hamu HKBP Bandung Riau dicoret dari list resort HKBP sungguh sangat tidak masuk akal. Laginya pada Sinode yang lalu “kami para sinodestan” telah sepakat untuk tidak mengungkit-ungkit tentang Bandung Riau. terlebih lagi ex bandung riau mengangkat pdt sirait menjadi pendeta ressort kalian, saya pribadi tidak mengerti bagaimana prosesnya beliau menjadi pendeta ressort disana karena yang saya ketahui beliau melayani di KPU.

    Daniel Harahap:
    Dulu di satu gereja Dame Sahit ni Huta bukan hanya ada dua resort tetapi dua denominasi, yaitu HKBP dan GKPI. Pada akhirnya toh bisa diselesaikan baik-baik. Dalam berpendapat sebaiknya pake istilah “saya” saja dan jangan “kami para sinodesten” agar tidak mengatasnamakan orang lain. :-)

  11. martua on September 25, 2008 at 8:38 pm

    saudara antonio, saya harapkan saudara membaca secara cermat tona sinode godang yang baru saja berlalu itu. baca perlahan dan konsentrasi penuh agar anda dapat menemukan bahwa ada Keinginan untuk mengamandemen AP HKBP. bila perlu fotocopi untuk anda pribadi dan coba kaji ulang.
    sekian dan terima kasih. horas

  12. martua on September 25, 2008 at 8:41 pm

    St.T.Manullang, selayaknya kita berterima kasih kepada Tuhan karena salah satu pimpinan HKBP yaitu kadep koinonia adalah seorang pakar ilmu agama-agama dan meraih gelar doktor pada bidang itu. pastinya mereka dapat berbuat banyak untuk masalah penutupan gereja. doakan saja

  13. Antonio Siregar on September 25, 2008 at 10:53 pm

    Ada beberapa catatan untuk Sdr Martua:
    1. Saya pikir saudara tidak usah terlalu emosional menanggapi koment2 di atas. Lagian menurut saya yang perlu saudara komentari adalah tulisan bapak PM Banjarnahor. Kami kan hanya memberikan ulasan.
    2. St. T Manullang hanya merasa resah atas situasi HKBP di periode yang lalu, bukan pasca terpilihnya pimpinan yang baru. Tolong saudara baca lagi komen beliau dengan perlahan dan penuh konsentrasi, he..he.. Memang orang resah tidak boleh? Dan saya pikir, seorang ahli agama yang paling pakar sekalipun tidak akan dapat menyelesaikan persoalan penutupan gereja karena ini masalah politik negeri ini. Inikan masalah SKB 2 Menteri yang telah disahkan. Siapapun ahli ilmu agama di Indonesia ini tidak akan sanggup merubah kondisi ini, kecuali kita sanggup mengamandemen SKB tersebut. St. T Manullang hanya menginginkan adanya perhatian dan mungkin percakapan pastoral dari unsur pimpinan HKBP untuk memberikan kekuatan dan penghiburan kepada jemaat2 yang ditutup. Itu saja koq repot. Bukan begitu Amang Manullang?
    3. Oh maaf kalau saya salah. Ya syukurlah kalau ada niat untuk mengamandemen AP HKBP.
    4. Apakah boleh juga Notulen SG yang memutuskan bahwa: “kami para sinodestan telah sepakat untuk tidak mengungkit-ungkit tentang Bandung Riau” diperlihatkan. Atau boleh tanya kepada amang DTA atau amang Manik dari Tapsel, apakah memang ada keputusan tersebut di SG.

  14. Antonio Siregar on September 25, 2008 at 11:06 pm

    Pro Sdr. Martua:
    Oh ya, untuk menghibur jemaat yang ditutup tidak perlu harus pimpinan HKBP yang bergelar Doktor Teologi bidang Ilmu Agama, bukan?
    Dan kalau saya tidak salah baca, di HKBP Bandung Timur pun masih ada 2 ressort dalam satu huria. Silahkan baca Almanak HKBP 2008 hal. 358 (Lux). Saudara punya Almanak kan?

  15. Salnga on September 26, 2008 at 12:29 am

    Buat Bapak Martua dan Antonio:
    Dalam istilah sound management ada dikenal unity of command. Ressort HKBP adalah apparatus HKBP sesuai hirarki HKBP. Dua resort HKBP dalam satu bangunan Gereja disamping pemborosan juga tidak elok dilihat. Jemaat tidak dapat menerima pimpinan pendeta resort yang dikirim dari Pusat saya kira bisa dinegosiasikan dengan Pimpinan tertinggi HKBP. Tetapi kalau itu karena egoisme “lomongku” dan saya tidak bisa bergabung kalau bukan dengan kelompokku sebaiknya janganlah ia mengaku orang Kristen. Orang Kristen yang saya tau adalah orang yang pemaaf. Aturan bukanlah untuk aturanitu sendiri, aturan adalah untuk pencapaian tujuan. Tujuan HKBP atau tujuan bergeraja apa sih!!!. Marsaor dohot dongan sahaporseaon dibagasan goarni Kristus Jesus. Manangiangkon musu dst. Bergereja ala HKBP adalah melaksanakan Tri Tugas panggilan Gereja bukan untuk memusuhi jemaat HKBP lainnya

  16. Antonio Siregar on September 26, 2008 at 2:34 am

    Ya, saya sangat setuju sekali dengan pendapat Sdr. Salnga. Saya hanya sekedar meluruskan bahwa hingga saat ini masih ada HKBP yang memiliki 2 ressort dalam satu gereja, dan terdaftar pulak di Almanak. Jadi bukan tidak mungkin toh. Saya juga sependapat dengan tema: “Negosiasi” dengan pimpinan tertinggi. Tapi persoalannya jika memang hingga saat ini jemaat itu belum siap untuk bergabung, atau butuh lebih banyak lagi negosiasi, meminjam istilah: “janganlah ia mengaku Kristen” lantas apakah elok kalau kita menganggap mereka tidak ada. Lho, katanya logo tahun Marturia: “Boan Sadanari.” pemahaman saya adalah kenapa kita harus cape2 mamboan sadanari, kalau yang terhilang ada ratusan. Trus mengapa hanya jemaat yang kita salahkan tidak bisa menerima penyatuan, apakah para pelayan di sana atau pimpinan juga telah bertindak sebagai negosiator yang baik? Mohon pencerahan.

  17. JP Manalu on September 26, 2008 at 7:59 am

    Bah, gabe mengarah tu Parbandung (Riau dohot Martadinata) do hubereng arah ni diskusi tu topik na binahen ni amang Banjarnahor on ate, hape dung hujaha sampe 3 hali nabodari (dung hucetak) di bagas nami, songon na so adong do nian ditaringoti amang PM Banjarnahor mengenai Bandung Riau dohot Martadinata on, alai tahe, songon i do hape molo godang iba marnonang, olo do nonang on gabe rarat songon api di ri.

    Bapak/Ibu/Sdr-i, mari kita kembali ke topik yang dilontarkan amang PM Banjarnahor di atas.
    Saya juga sangat sependapat, amandemen terhadap Aturan dan Peraturan HKBP 2002 sudah sangat mendesak untuk dilakukan. Kalau saya menilai, kelihatannya penyusunan AP 2002 tersebut belum dilakukan dengan serius, karena di sana-sini banyak sekali bolong-bolong yang dapat berakibat kurang baik di kemudian hari. Contoh-contoh yang “kurang pas” sudah cukup banyak dibahas di rumamet-met ini oleh Amang Pdt. DTA Harahap dan komentar-komentar dari pembaca ruma metmet.

    Jika HKBP sudah setuju untuk melakukan Amandemen AP pada tahun 2010 yang akan datang, mari kita siapkan dengan baik AP tersebut. Himbauan saya, mari kita semua berdoa dan memberikan perhatian penuh dengan cara melibatkan sebanyak mungkin orang dan melalui sosialisasi (diseminasi) secara simultan dengan memanfaatkan semua alat komunikasi yang tersedia. Sehingga diharapkan AP pasca amandemen jauh lebih baik dibandingkan sebelum amandemen, dan yang lebih penting lagi supaya jangan ada kesan AP tersebut “elitis” dan tidak bisa dibumikan. Memang saya harus menyadari, bahwa sebuah aturan tidak akan mungkin bisa memuaskan semua orang dan belum tentu dapat diterapkan untuk semua wilayah dan kondisi.

    Kalau boleh usul, jika HKBP sudah sepakat akan melakukan sinode untuk perubahan AP, supaya hasilnya lebih maksimal, sebaiknya mulai tahun ini sudah ditawarkan rancangan amandemen AP tersebut untuk dibagikan kepada banyak orang, untuk diminta masukan.

    Daniel Harahap:
    Sesuai Tona SG, usul-usul perbaikan Aturan dimulai dari jemaat-jemaat. Sebab itu adakan saja diskusi-diskusi di jemaat untuk membahas Aturan. Rapat Parhalado Serpong sudah sepakat membagi buku Aturan dan Petunjuk Pelaksanaannya kepada seluruh jemaat. Namun saat saya pesan ke Percetakan HKBP di Pematang Siantar tinggal 150 eksemplar (padahal kami memesan 400 eks) dan katanya tidak dicetak lagi tahun ini sebab sedang sibuk mencetak Almanak. Oala. Payah kali HKBP kita ini. :-)

  18. Ruas-Bandung on September 26, 2008 at 9:07 am

    Apa yang dilakukan oleh amang DTA dengan rencana menyebarluaskan AP HKBP adalah sesuatu yang patut ditauladani oleh kita ruas HKBP. Mari kita dorong para pendeta/parhalado kita untuk pro aktif.
    Memang sangat disayangkan bahwa ‘lam matobang HKBP alai lam tipis AP na’ dan hal ini juga yang bisa saya rasakan. Tulisan amang Banjar ini merupakan bentuk kegalauannya, sinyal yang saya tangkap, terhadap AP yang ada sekarang ini.
    Saya tetap pada pandangan saya, baik pada komentar yang sebelumnya, bahwa kita harus menempatkan HKBP itu sebagai gereja (bukan ormas) dan AP yang ada atau yang akan diamendemen tetap menempatkan/mendorong HKBP kembali ke posisi gereja.

    Menyangkut amang Pdt. Saut Sirait (menanggapi komen amang Martua), beliau saat ini masih terdaftar sebagai ruas di HKBP Bandung Riau walaupun keberadaannya sering di jakarta (aketua PARKINDO). Parhalado kamilah yang berinsiatif mengundang beliau untuk melayani di Bandung. Juga saat ini, ada tambahan Pdt. Ranto Roy Simanjuntak, mantan Naposo HKBP bandung Riau, yang ikut melayani.
    Andaikan amang BM Siagian dan amang Sihite (pejabat HKBP periode sebelumnya) mau mendengar suara ruas pada level grass root (bukan para pentolannya) agar kasus HKBP Bandung diselesaikan dengan mengambil contoh HKBP Bandung Timur, maka bentrok antar ruas tidak akan terjadi.
    Tapi apa boleh buat, banyaklah pihak/oknum yang mengambil manfaat dari persoalan ini, tapi selalu yang jadi korban adalah ruas.

  19. PM BANJARNAHOR on September 26, 2008 at 5:29 pm

    Saudaraku, ruas HKBP.
    Amang JM Manalu, Martua dan para pembaca yang dikasihi Yesus Kristus.

    Saya, sungguh sangat bangga atas kadar kepedulian ruas HKBP yang sengaja datang bertamu di RUMAMETMET-DTA untuk memberi dorongan agar pembaruan demi pembaruan terjadi di HKBP yang kita cintai ini. Memang realitas issu yang menjadi topik bahasan pada perhelatan Sinode Godang 59 yang berlangsung dari 1 – 7 September 2008 bukan semata-mata terpaku pada Agenda Utama yang sudah dipersiapkan oleh Pimpinan HKBP.

    Issu yang mengemuka antara lain : Pembentukan Tim Amandemen AP HKBP, Tim Amandemen AP HKBP akan bekerja untuk meng-akomodasi seluruh pandangan dan masukan dari masing-masing Huria sekaligus menyusun meng-edit dan mempersiapkan AP HKBP Amandemen untuk disyahkan melalui Sinode Godang 60 dan ini sudah menjadi keputusan Sinode Godang 59 untuk dilaksanakan oleh HKBP.

    Salah satu issu yang muncul adalah HKBP Bandung Riau, opini yang terbentuk demikian apakah patut jika dalam satu gereja ada dua Ressort ? Jawabannya pasti ada dua, yang satu menjawab tidak patut dan yang lain menjawab adalah patut.

    Namun satu hal yang kita boleh belajar dan menjadi penting bagi kita sekarang adalah bahwa anda dan saya sebagai ruas HKBP harus mampu menghormati dan menghargai apa itu PERBEDAAN. Sebab dengan menghargai dan menghormati perbedaan adalah menjadi kunci sukses suatu perjalanan.

    Perlu kita ketahui bahwa issu yang berkembang di HKBP Bandung yang sudah menembus kurun waktu lebih kurang 15 tahun yang lalu adalah bukan sesuatu yang baru di HKBP. Pada eranya Ephorus GHM Siahaan di tahun 80an, hal yang hampir mirip, juga terjadi di HKBP Semarang Barat. Ephorus GHM Siahaan harus mengambil keputusan yang cepat dan tegas agar pelayanan di gereja dapat berjalan normal, pada waktu itu beliau harus melantik 2 Guru Huria (Amang St Harianja dan Amang St Dr Silitonga) di HKBP Semarang Barat.

    Satu hari sebelum pelantikan dua Guru Huria, pada hari Sabtu di Hotel penginapan beliau, malam sudah larut hampir pukul 24.00, saya mencoba mengetuk pintu kamar beliau dan tanpa menunggu berlama-lama diluar pintu dibuka, saya dipersilahkan masuk dan beliau langsung bertanya kepada saya sian Huria di ma hamu aha do margamuna, saya jawab sian HKBP Cilacap St PM Banjarnahor.

    Tujuan saya bertemu beliau hanya ingin menyampaikan satu pertanyaan “Ompung boi do huroha di Aturan ni Hurianta 2 Guru Huria disada Gareja” ? Alus ni Ompui “Di Aturan i dang adong disurathon taringot tusi, alani dang boi nian songoni patupaon, alai ingkon do patupaon malantik 2 Guru Huria marsogot asa boi mardalan Huria i, sai napatupaon ni Debata do naummuli di HuriaNa”. Adakah saya boleh mempertanyakan serupa dengan pertanyaan saya diatas kepada Ompui GHM Siahaan kepada kita warga HKBP ? “Ruas ni HKBP boi do huroha di Aturan ni Hurianta 2 Ressort di sada gareja” ? Hita ma mangalusi.

    Sebagaimana saya utarakan diatas tentang menghormati dan menghargai perbedaan disinilah Ompui Ephorus GHM Siahaan sungguh-sungguh menempatkan posisinya telah menghormati dan menghargai perbedaan terhadap dua pihak yang BERBEDA. Dan hasilnya sungguh tangan Tuhan telah bekerja tidak lebih satu semester setelah pelantikan kedua Guru Huria tersebut, HKBP Semarang Barat kembali menjadi satu dan satu Guru Huria oleh Dr Silitonga.

    Saya mengajak, marilah kita saling menghargai dan menghormati perbedaan itu (respect each other), sebagai warga HKBP bisa saja kita berbeda atau bahkan sangat berbeda dalam memandang perlunya Amandemen AP HKBP dan perlunya Sinode Godang 60 atau bahkan perlunya Parhalado Pusat dihadirkan kembali, perlunya peran Guru Huria dikembalikan sebagaimana sebelum AP HKBP 2002. Saya percaya bahwa HKBP akan mampu menjawab dan menjalankan semua butir-butir keputusan SG 59 hanya untuk kemulianNya. Mari kita sama-sama belajar dan mempelajari AP HKBP yang sekarang dan kita sampaikan pandangan kita melalui Uluan Huria – Sintua sebagaimana gerakan yang sudah di launching oleh HKBP Serpong baru-baru ini, percetakan HKBP akan mencetak lagi demi kebutuhan HKBP.

  20. Antonio Siregar on September 26, 2008 at 6:44 pm

    Terimakasih Amang PM Banjarnahor. Sungguh menyejukkan tulisan ini. Andaikata kita masih memiliki pimpinan sebijaksana Ds GHM Siahaan, saya yakin HKBP kita pasti kaya sebagai gereja dan institusi. Menghargai dan menghormati PERBEDAAN, itulah salah satu kunci menuju damai sejahtera Allah. Saya bukan hendak mengatakan yang satu salah dan yang satu benar. Permalahan kita hanya terletak pada “komunikasi yang macet dan luka2 yang belum sembuh sepenuhnya.” Jemaat HKBP Bandung Riau, Pondok Bambu, dan jemaat lainnya adalah warga kita, warga HKBP dan mereka juga sangat mencintai HKBP. Apakah elok ketika kita masih berbeda pandangan dengan mereka, lantas kita menihilkan keberadaan mereka? Mengapa kita tidak mampu menikmati perbedaan itu? Bagaimana kita bisa berdialog dan berdamai dengan penganut agama lain sedangkan dengan rekan seiman kita selalu mengedepankan pendekatan birokrasi, membela yang satu dan menghilangkan yang lain. Ah, moga2 Ephorus Emeritus GHM Siahaan tidak sedang menangis melihat kenyataan ini.

  21. Ny.Siahaan br Pardede on September 28, 2008 at 11:46 pm

    Saya ibu dari 3 anak. Yg pertama smester 7, nomor dua semester satu dan yg ketiga sm dgn Putri Amang, yg ini sma kls 1. Melihat usia mrk ada banyak pertanyaan tentang Kekristenan yg tdk bisa sy jawab,termasuk anak pertama Rebecca yg pernah curhat sama amang tentang gejolak hatinya tentang yang sehari2 disaksikan digreja kami dimana terjadi gontok2kan antara sesama Sintua dan sy lihat juga Pendeta kami yg berjumlah 3 orang itu tdk mampu merangkul semuanya hingga terjadi pengelompokan yg berimbas juga ke jemaat dan sampai terjadi pemecatan sintua. Dia kecewa sm amang krn amang tdk membalas pertanyaan2 dia dan akhirnya males menghubungi amang makanya sy ikutan mengunjungi amang. Seperti hr ini kebetulan di warta jemat km ada 3 bayi yg meniggal 9bln, baru tardidi nahinipu dan yg terakhir blm sempat tardidi. Kotbah Pendeta mengatakan agar jgn pernah lagi tertjadi sepertri ini krns iapapun yg sdh dibabtis/yg sdh lepas sidi boleh melakukan tardidi nahinipu dgn mendoakan atas goar ni AMA ANAK dht Tondi Parbadia. Pertanyaannya yg tdk bs sy jawab bukankah anak itu mengikuti agama ortunya, apabila begitu lahir dia meninggal dan kedua ortunya panik hingga lupa/tdk tau membabtiskan anaknya apakah anak itu tdk tercatat di buku hangoluan mis:si Butet br anu tubuni inanta br anu? krn greja kami saat ini agak gaor ba tuamang ma husungkun alusi amang jo da. Sy maklum amang tdklah sempat menanggapi semua yg masuk kesitus ini tapi perkenalan pertama sy ini mohon amang tanggapi. Selama ini sy sebatas membaca saja website ini untuk hari2 yg datang sy ingin menanggapi juga krn semua yg amang tulis itu menguatkan sy utk semakin cinta dg HKBP dan akan meyakinkan juga anak2 sy.

    Daniel Harahap:
    Pertama: salam saya kepada Rebecca. Saya memang sengaja tidak menjawab pertanyaannya tentang masalah di jemaat Inang sekeluarga terdaftar karena di luar kewenangan saya sebab saya bukan pendeta di sana. Nanti saya membuat masalah tambah rumit. Jika ada masalah di tingkat jemaat maka yang harus didesak menyelesaikannya adalah Praeses dan Kantor Pusat (yg terakhir inilah yang berwenang memindahkan pendeta). :-)

    Kedua: mengenai bayi yang belum dibaptis. Saya harus menjawab jujur bahwa saya tidak tahu apakah dia tercatat di buku kehidupan Tuhan. Yang saya tahu Tuhan sangat pemurah dan pengasih. Dia tentu mengasihi bayi-bayi itu juga walau belum dibaptis. Namun secara formal si bayi belum tercatat sebagai anggota gereja dan sebab itu gereja tidak dapat melayankan agenda ibadah pemakaman untuk si bayi. Namun orangtuanya adalah anggota gereja sebab itu harus dihibur juga dan dilayani. Sebab itu sekali lagi yang tidak bisa dilakukan gereja hanya satu: melaksanakan agenda ibadah pemakaman.

    Ketiga: untuk semua, patut juga disadari website ini bukanlah untuk menjelaskan atau menyelesaikan seluruh masalah hkbp. :-) Ini web pribadi tempat sekadar mengobrol informal. Jika ada pertanyaan boleh saja dilontarkan namun tentu bukanlah saya saja yang harus menjawabnya. Sesama kita bisa saling menanggap dan merespons. Saya pikir itu lebih baik dan sehat. Saya juga harus lebih rendah hati dan mengakui keterbatasan saya baik dalam pengetahuan, waktu dan tenaga. Terima kasih telah berkunjung. :-)

    ,

  22. Saut Sitohang-Bandung Riau on October 5, 2008 at 9:05 pm

    To: Amang martua ( dang huboto margamuna aha? )

    saya agak tergelitik dengan pernyataan amang yang mengatakan bahwa ” Dang hea adong di sada huria 2 ressort ….. saya gak tahu dari mana anda bisa memberi opini seperti itu…?1??! tetangga kami semenjak rekonsiliasi masih 1 gereja atau menurut istilah anda HURIA 2 Resort…coba ANDA cek dengan data yang akurat di Almanak HKBP 2008 bahwa di HKBP Bandung Timur masih ada 2 resort dengan nomer stambook berbeda…dan masih berjalan dengan baik secara bergilir…cobalah janganlah sekedar memberi statement apapun kalau memang tidak didukung oleh data yang akurat…jika ada permasalahan seperti hal sudah menjadi tanggung jawab pimpinan untuk menyelesaikannya sampai tuntas, bukankah tritugas panggilan gereja sudah tertera dalam program?…bukannya mencari kambing hitam atau pembenaran… dengan dalih apapun…Oh ya…kalau saya jadi pemimpin meski anak buah saya bersalah ya …tetap donk saya yang bertanggung jawab dan menyelesaikannya… mau mengharapkan pemerintah untuk menyelesaikannya kayak waktu dulu peristiwa hkbp pecah di tahun 1992?

  23. Ruas-Bandung on October 8, 2008 at 9:30 am

    Mauliate amang Banjar. Molo amang do sintua di HKBP Cilacap, berarti nunga hea hita pajumpang di Bandung tingki melerai pertikaian di Bandung. Molo so salah amang ma salah sada sian tim utusan kantor pusat (parhalado pusat) jala ahu ma utusan naposo uji i sian sada pihak.
    mauliate di cerita ni amang na menyejukkan on khususna carito tentang HKBP di Bandung on.

    Sangat mendukung di ahu molo parhalado pusat i dipangolu musena.

  24. PM BANJARNAHOR on February 25, 2009 at 4:56 pm

    Pembaca Ruma Metmet yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Hanya sekedar informasi buat segenap ruas HKBP bahwa DANA ABADI (Deposito Tetap) HKBP yang sudah berjalan sejak 1 Maret 2000 hingga sekarang ini masih melangkah tegap. Dana Abadi (Deposito Tetap) HKBP per 31 Desember 2008 sudah berjumlah Rp 3.102.114.133,- Untuk lebih jelasnya dimohon kesediaan segenap anggota HKBP mengunjungi SITUS Dana Abadi HKBP atau http://pmb1951.wordpress.com, melalui SITUS ini, berbagai informasi dan data tentang Dana Abadi HKBP dapat di akses antara lain : Maksud dan Tujuan; Sasaran dan Taget; History; Sosialisasi; Progress Tahunan Dana Abadi periode sejak 2000 s/d 2008; Progress Bulanan dimulai dari Januari 2009 tahun ini; Cara Pengiriman Persembahan ke Dana Abadi, termasuk seluruh daftar nama anggota Jemaat – Huria – Donatur yang telah berkenan memberi persembahan dan perhatiannya sejak 1 Maret 2000 hingga sekarang.

    Anggota jemaat HKBP yang berbahagia, melalui surat ini kami mengajak Bapak/Ibu/Saudara agar senantiasa dapat memberi perhatian dan mendukung Program ini. Sekecil apapun yang Bapa/Ibu/Saudara persembahkan untuk Dana Abadi HKBP, itu sungguh sangat bernilai guna mewujudkan Program SPP-HKBP (Sentralisasi Penggajian Pelayan HKBP) yang sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan di tengah-tengah HKBP maupun ditengah masyarakat luas.

    KIRANYA YESUS KRISTUS MEMBERKATI PROGRAM INI DEMI KEMULIAANNYA

  25. PM BANJARNAHOR on March 25, 2009 at 12:46 pm

    Syaloom,

    Anggota MPS yang baik, salah satu keputusan Sinode Godang 59-2008 adalah diadakannya SG 60 pada tahun 2010 yang sekaligus pada saat itu Amandemen AP HKBP 2002 akan ditetapkan. Pertanyaan saya adalah apakah Tim Amandemen dimaksud sudah terbentuk ? Mudah2an sudah Selamat Bekerja Tuhan memberkati.

    St PM Banjarnahor

  26. PM BANJARNAHOR on October 2, 2009 at 7:30 pm

    AMANDEMEN AP-HKBP 2002

    St. P.M. BANJARNAHOR, M.Sc.
    Sintua di HKBP Menteng – Jakarta

    Napinarsangapan,

    Redaksi SP Immanuel HKBP
    Redaksi Suara HKBP
    TIM AMANDEMEN AP-HKBP 2002
    Ketua Rapat Pendeta HKBP
    MPS, MPSD
    Pendeta HKBP
    Sintua HKBP, Bibelvrow, Diakones
    Ruas HKBP

    2004 adalah awal diberlakukan AP-HKBP 2002 oleh HKBP dan oleh kita. Lebih kurang 5 tahun HKBP sudah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya berdasarkan AP HKBP 2002 yang disesuaikan pada kebutuhan Huria masing-masing.

    Gereja INKLUSIF, DIALOGIS, TERBUKA, BERKUALITAS adalah VALUES yang terkandung pada VISI-MISI HKBP. Setiap VALUES sungguh mengandung makna yang sangat tajam untuk menembus terwujudnya peningkatan kehidupan yang bermutu didalam kasih Tuhan Jesus Kristus demi kemuliaan Allah Bapa yang mahakuasa, demikian apa yang tersirat dan tertulis di dalam VISI – MISI HKBP.

    Pertanyaan yang sering mengemuka belakangan ini adalah, sudahkah ada peningkatan kehidupan yang bermutu didalam KASIH di tengah jemaat HKBP ? Jawaban saya adalah bahwa peningkatan itu sesungguhnya benar adanya, walaupun masih ada beberapa Issu penting yang harus di benahi untuk semakin memperkuat usaha peningkatan FUNGSI PELAYANAN KASIH oleh HKBP kedepan.

    Sesuai keputusan Sinode Godang HKBP 2008, Tim Amandemen AP HKBP telah terbentuk dan sudah ditetapkan oleh Pimpinan HKBP. Mungkin Tim ini sudah menetapkan Agenda Kerja Tim sehingga pada waktunya materi Amandemen yang sudah matang akan secara resmi dapat dipaparkan pada Sinode Agung 2010 untuk didiskusikan kemudian di tetapkan dan disyahkan menjadi Amandemen AP HKBP yang valid untuk digunakan.
    Sebagai anggota Jemaat, saya mencoba memberi masukan atau usul Amandemen AP HKBP. Masukan ini disampaikan setelah melihat potret implementasi AP-HKBP-2002 dari tahun 2004 hingga sekarang ini. Ada beberapa issu pokok mendesak perlu di AMANDEMEN pada AP-HKBP 2002 sebagai berikut :

    1. PASAL 9,11,12 : Masa Periode : Ephorus, Sekjen dan Praeses 6 (enam) tahun.

    ALASAN :

    a) Dengan masa periode 6 (enam) tahun, Barita Jujur Tahun (BJT) dan Barita Pangulaon (BP) Pimpinan HKBP akan dapat dipaparkan dan dipertanggungjawabkan dihadapan Sinode Agung sedikitnya setiap 2 tahun sekali atau 3 (tiga) kali dalam satu periode. Artinya setiap 2 tahun sekali fungsi kontrol oleh HKBP terhadap setiap rencana yang sudah ditetapkan termasuk pelaksanaannya akan menjadi transfaran untuk di Evaluasi melalui dialog yang bermutu demi menuju peningkatan mutu pelayanan HKBP yang secara konsisten akan terus dilahirkan.

    b) Pemaparan dan pertanggungjawaban BJT dan BP yang dilaksanakan pada periode 2004 – 2008 bertepatan pada akhir masa periode sangat jelas bahwa transfaransi pertanggungjawaban dan dialog hampir tidak ada, sebab sepenuhnya sinodisten sudah terpusat terhadap pemilihan fungsionaris HKBP. Kondisi ini adalah realitas yang telah kita lihat bersama pada pelaksanaan Sinode Godang 2008 yang lalu. Dan sebagai akibat dilakukannya Sinode Agung sekali dalam 4 (empat) tahun secara tidak sadar HKBP sudah menanamkan sebuah ketertutupan (intransfarancy) dan juga ketertutupan dialog.

    c) Jika masa periode 4 (empat) tahun tetap akan dipertahankan maka besar kemungkinan HKBP akan menjadi gereja yang berjalan di tempat (status quo). Sebab dengan masa periode hanya 4 tahun bagi HKBP relatif terlalu pendek, sehingga dengan waktu yang demikian pendek seorang Pimpinan baru sangatlah sulit memberikan karya besarnya. Kita dapat melihat gambaran apa yang ada di HKBP selama periode 2004 – 2008 :

     Tahun ke-1 melakukan orientasi dan pelayanan rutin.
     Tahun ke-2 mulai buat program sambil pelayanan rutin
     Tahun ke-3 mulai melaksanakan program dan bersiap megakhiri periode.
     Tahun ke-4, semua mata tertuju pada pelaksanaan Sinode Godang.

    2. Pasal 18 : Majelis Pekerja Sinode (MPS) diliquidasi, kemudian diganti dengan BOARD COUNCIL atau Majelis Pusat HKBP yang dipilih oleh Sinode Agung HKBP yang bertindak sebagai counter-parts Ephorus dan Sekjen dalam menentukan arah HKBP kedepan, pengambilan keputusan-keputusan strategis serta kegiatan lain demi peningkatan kualitas pelayanan HKBP.

    ALASAN :

    a) MPS berangotakan sebanyak 91 orang terdiri dari 5 Pimpinan HKBP, 26 Praeses, 8 Ketua/Pimpinan Lembaga/Badan, 52 Utusan Distrik adalah jumlah yang cukup besar dengan membutuhkan biaya besar..

    b) Potensi MPS yang luar biasa besar tidak terakomodasi, demi kemajuan HKBP, sebab kehadiran mereka hanyalah sebagai pelengkap rapat sesuai AP HKBP.

    c) MPS tidak terlibat dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis HKBP (semua keputusan hanya akan diambil dan ditetapkan oleh 5 orang Pimpinan HKBP). Dapat dibayangkan jika ARAH KEBIJAKAN dan KEPUTUSAN-KEPUTUSAN STRATEGIS HKBP yang memiliki jumlah ANGGOTA 3,5 juta orang dan hampir 4.000 JEMAAT termasuk ASSET yang tersebar di seluruh penjuru NUSANTARA hanya akan diputuskan oleh tidak lebih dari 5 orang ? Sungguh luar biasa. Sebagai gambaran jika sebuah organisasi sosial kecil yang hanya memiliki anggota kurang dari 1.000 orang saja sudah memiliki Dewan Penasehat, Dewan Pembina, Pengurus Tetap, Pengurus Harian, lantas bagaimana HKBP ?

    d) Pengalaman mengatakan bahwa kehadiran Majelis Pusat di HKBP selama tujuh puluh tahun lebih cukup berperan aktif dan benar-benar berfungsi sebagai “counter-part” (rekan kerja Ephorus dan Sekjen). Pada setiap penentuan arah kebijakan atau pengambilan keputusan strategis di HKBP, selalu diputuskan melalui Rapat Majelis Pusat HKBP. Dan tidak jarang terjadi sekalipun Ephorus dan Sekjen sudah membuat konsep matang tentang sebuah keputusan strategis tidak disetujui oleh Rapat Majelis Pusat untuk dilaksanakan atau ditunda dulu oleh berbagai pertimbangan strategis lainnya.

    e) Jumlah anggota Majelis Pusat HKBP cukup dengan jumlah personel hanya 24 orang sudah termasuk Ephorus dan Sekjen. Komposisi 22 orang terdiri dari unsur Pendeta 11 orang dan non Pendeta 11 orang. Dengan jumlah yang tidak begitu besar, maka dalam rapat-rapatnya cukup efektif dan produktif dan sudah tentu biaya juga akan jauh lebih kecil dari Rapat MPS.

    3. PASAL 11,12,13,14,15 : Ephorus dan Sekjen posisinya sebagai pimpinan HKBP dwitunggal). Selanjutnya Kepala Departemen Koinonia, Marturia dan Diakonia tidak lagi ada berkedudukan di Kantor Pusat akan tetapi langsung berkedudukan di daerah operasional di masing-masing Distrik.

    ALASAN :

    a) Kegiatan Departemen Koinonia, Marturia dan Diakonia sepenuhnya bersifat operasional, sehingga sangatlah tepat jika segala tugas dan tanggungjawabnya sepenuhnya dibebankan kepada Kepala Bidang Koinonia, Marturia dan Diakonia yang sekarang ini berada didaerah operasional di masing-masing Distrik. Ketiga bidang ini bertanggungjawab kepada Praeses selanjutnya kepada Ephorus.

    b) Dalam pengambilan keputusan yang sifatnya strategis Ephorus dan Sekjen akan berdampingan dengan Majelis Pusat HKBP yang berjumlah 24 orang

    c) Ephorus dan Sekjen memiliki counter-part (rekan kerja) yang terpilih melalui Sinode Agung HKBP yang terdiri dari unsur Pendeta 50% dan Non Pendeta 50%. Sehingga setiap pengambilan keputusan strategis HKBP akan ditetapkan melalui Rapat Majelis Pusat, bukan lagi hanya ditentukan 5 orang.

    d) Kembalinya Majelis Pusat pada strukrur Fungsionaris HKBP akan terjadi keseimbangan dalam pengambilan keputusan strategis yang lebih representative dan terukur.

    4. PASAL 25-2 : Guru Jemaat (Guru Huria) : Diaktifkan kembali sebagai Guru Huria di masing-masing Huria di HKBP

    ALASAN :

    a) Sebelum AP HKBP 2002 diberlakukan, Guru Huria melakukan tugas dan tanggungjawabnya sebagaimana tertuang dalam Agenda HKBP dan sekaligus mengelola administrasi, dokumentasi dan urusan-urusan umum dengan kata lain Guru Huria juga berfungsi sebagai Kepala Kantor Huria.

    b) Semenjak 2004, tugas dan tanggungjawab Guru Huria ditimbangterimakan kepada Uluan Huria. Kenyataan yang terjadi sekarang ini dengan dibebankannya semua tugas dan tanggungjawab Guru Huria kepada Uluan Huria terlihat cukup banyak waktu Uluan Huria tersita mengurusi hal-hal yang umum, dan mungkin hal pokok bisa menjadi Tertinggal.

    c) Jika dalam AP HKBP berbicara tentang pemberdayaan, maka Guru Huria HKBP harus diberdayakan jangan menjadi gunung potensi “idle” di HKBP.

    Selamat bekerja untuk Tim Amandemen AP HKBP, Tuhan memberkati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*