Jangan Contoh Ketidakjujurannya!

September 21, 2008
By

KOTBAH MINGGU INI

salvador_dali__s_melting_clock.jpg

Evangelium : Lukas 16: 1 – 9
Epistel : Hosea 14 : 2 – 5


Ini adalah salah satu perumpamaan Yesus yang paling sulit ditafsirkan sebab dengan mudah nanti dapat dianggap seolah-olah Yesus membenarkan atau mentolerir korupsi, pemborosan, dan penyalahgunaan keuangan. Padahal kita tahu Yesus dalam seluruh sikap hidupNya sangat anti kepada kejahatan dan penyimpangan. Dan bila kita baca seksama ayat-ayat sesudah perumpamaan ini justru sangat menekankan sikap yang sangat kritis dan tegas terhadap uang.

Agar tidak salah tafsir maka kita harus menempatkan teks sungguh-sungguh sebagai suatu perumpamaan. Menurut para ahli PB perumpamaan harus diterima sebagai suatu cerita utuh dengan satu pesan atau maksud saja. Perumpamaan tidak bisa ditafsirkan kata per kata atau kalimat per kalimat. Pesan atau maksud perumpamaan yang diberi judul “Bendahara Yang Tidak Jujur” ini adalah agar kita menggunakan waktu genting atau kritis tersisa. Waktu kehidupan ini menurut Yesus sangat kritis dan genting, sebab itu orang harus melakukan sesuatu yang sangat radikal untuk menyelamatkan hidupnya. Bendahara itu dipuji oleh tuannya karena dia tahu melakukan sesuatu menyelamatkan dirinya dalam situasi yang sangat genting itu. Jadi yang dipuji oleh tuannya bukanlah sikap boros apalagi korupsinya namun kecekatan dan kecepatannya bertindak.

Ada beberapa kisah yang pesannya sama dengan perumpamaan bendahara yang tidak jujur ini. Antara lain perumpamaan tentang pohon yang tidak berbuah dan karena itu harus ditebang. Namun sang pemilik kebun mengijinkan pohon itu hidup satu tahun lagi, jika tidak berbuah maka ia pasti ditebang. (Lukas 13:6-9). Juga kisah tentang dua orang yang sedang berjalan ke pengadilan. Yesus mengatakan saat-saat mereka masih di perjalanan itu merupakan waktu yang sangat berharga untuk mengambil keputusan berdamai (Lukas 12:58-).

Lantas apakah arti perumpamaan Bendahara Tak Jujur ini bagi kita yang hidup sekarang?

PERTAMA: TUHAN MENGAJAK KITA MEMIKIRKAN MASA DEPAN KITA.
Bendahara itu dipuji oleh tuannya karena memikirkan masa depannya dan bertindak sangat cepat untuk mengamankan masa depannya itu. (Ingat: pengurangan piutang tuannya yang dilakukan bendahara itu adalah salah secara hukum dan moral dan tidak boleh dicontoh oleh orang beriman sepanjang jaman!). Kita juga dipanggil untuk memikirkan dan melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depan kita, tentu dengan cara-cara yang jauh lebih baik dan benar. Apakah itu? Banyak sekali. Bagi kaum muda: belajar sebaik-baiknya selama ada kesempatan. Juga berkarya dan melakukan kebajikan. Setiap karya dan kebajikan adalah modal atau investasi yang sangat berharga ke masa depan. Selain itu membangun jaringan, bersikap hemat dan menabung, masuk asuransi, dan termasuk menjaga kesehatan.

Namun renungan hari ini mengajak kita melihat masa depan lebih dalam lagi. Bukan hanya masa depan secara finansial dan sosial, tetapi juga masa depan secara spiritual. Apakah yang harus kita lakukan untuk mengamankan masa depan kita secara spiritual? Jawabnya: bertobat dan percaya kepada Kristus.

KEDUA: TUHAN MENGAJAK KITA MENGGUNAKAN WAKTU HARI INI DENGAN SEKSAMA.
Sekali lagi baiklah kita catat bahwa: bendahara dalam perumpamaan ini dipuji bukanlah karena kecerdikan apalagi karena kecurangan atau sikap borosnya, tetapi karena kecekatannya mengamankan masa depannya. Bagaimana dengan kita. Sebagai orang-orang beriman, murid-murid Kristus, seyogianya kita harus lebih cekatan dan cepat serta sigap lagi mengamankan masa depan kita sebab kita tahu waktu kita sangatlah terbatas. Waktu kehidupan ibarat jam pasir atau stopwatch yang mengalir cepat dan suatu saat akan berhenti. Sebab itu tidak ada waktu bagi kita melakukan hal-hal yang jahat atau tidak berguna lagi.

Pergunakanlah waktu yang ada (Efesus 5:16, Kolose 4:5). Waktunya telah singkat! (1 Korintus 7:29). Kesudahan segala sesuatu sudah dekat (1 Petrus 3:7). Hari ini adalah waktu perkenanan itu (2 Korintus 6:2). Semua ayat ini menyadarkan kita untuk memanfaatkan waktu yang tersisa hanya untuk hal-hal yang sangat penting, baik, benar dan indah saja. Waktu kehidupan itu rupanya benar-benar terbatas dan tidak bisa didaur ulang sebab itu jangan disia-siakan.

Pertanyaan: apakah hal-hal yang sangat penting yang harus Saudara dan saya kerjakan hari ini yang selama ini enggan Saudara dan saya lakukan?

KETIGA: TUHAN MENGAJAK KITA HIDUP & BEKERJA PENUH TANGGUNGJAWAB DAN BERSAHABAT

Kita memiliki profesi dan latar belakang pendidikan kita masing-masing. Tidak semua kita berprofesi di bidang keuangan atau bisnis sama seperti bendahara dalam kisah ini. Namun apapun profesi kita, Tuhan memanggil kita agar hidup dan bekerja penuh tanggungjawab. Apapun pekerjaan yang kita lakukan, dimanapun kita bekerja, siapapun majikan kita, Tuhan menyuruh kita bersikap jujur, setia dan dapat dipercaya juga dalam hal keuangan. Ya, Tuhan meminta kita agar menjadikan kejujuran, kesetiaan, dan kepercayaan sebagai prinsip dan sikap hidup kita orang-orang beriman.

Namun bukan hanya itu Tuhan juga memanggil kita membangun hubungan, relasi dan persahabatan. Kita tidak sendirian di dunia ini dan juga tidak hidup untuk diri kita sendiri. Persahabatan dan perkawanan itu hendak kita bangun dalam ketaatan kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Dan baiklah kita ingat Tuhan meminta kita agar tidak melanggar hukum demi persahabatan kita.

Pada akhirnya Tuhan memanggil kita semua menjadikan hidup kita di dunia – betapa pun sempit dan terbatasnya – sangatlah bermakna dan membahagiakan. Itu hanya mungkin jika kita tetap bersama-sama dan dalam Kristus. AMIN.

 

 

 

 

Share on Facebook

8 Responses to Jangan Contoh Ketidakjujurannya!

  1. Jadiaman Simamora on September 21, 2008 at 6:56 pm

    Topik minggu ini yang paling susah dimengerti adalah ayat yang terakhirnya amang PdtDta, dengan mamon yang tidak jujur kita mendapatkan banyak teman (aleale)? dan sesudah itu kita masuk kedalam kemah abadi? Membingungkan amang!

    Daniel Harahap:
    Luk 16:9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.

    Maksudnya: pergunakanlah untuk mencari sahabat bukan untuk menciptakan musuh. Gunakan uang untuk menolong orang lain, berbuat baik dan menyenangkan sesama. Namun sadarlah uang itu tetap terbatas kuasanya, dia tetap tidak bisa membantu kita masuk ke kemah abadi.

  2. Coken060575 on September 21, 2008 at 8:58 pm

    Memang membingungkan, semestinya firman Tuhan adalah merupakan pandangan hidup / anjuran yg harus diikuti. Kalau ditelan bulat2 dan dengan mengandalkan pikiran sendiri kacau nantinya, masa mammon dijadikan tujuan. Itulah perlunya tetap hadir dlm ibadah. Menerima pencerahan dari pendeta yg tentunya sdh dipakai dan dibimbing oleh Roh Kudus memberi penjelasan mengenai firman Tuhan yg membingungkan kita sbg orang awam. Seperti kotbah di gereja kami td, yg patut kita tiru adalah hikmat/ kebijakan dari juara bagas / bendahara td. Dng permohonan seperti raja Salomo tentunya agar hikmat / kebijakan itu datang dari Tuhan kita Yesus Kristus.

    Daniel Harahap:
    Dan hikmat atau kebijaksanaan itu tidak boleh merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum dan moral. :-)

  3. LMH HUTAPEA on September 22, 2008 at 9:25 am

    Selain Lukas 16:9 juga Luk 16:8 masih membingungkan saya. Kemari pas khotbah aja di gereja,pengkhotbahnya aja keteteran menerjemahkan ayat 9. Malahan melenceng jauh sehingga semakin tdk paham.
    Di atas Amang DTA juga mengaku sulit menafsirkannya meski sudah dite rangkan juga pada pak simamora. Itu juga msh sulit saya pahami.
    Manusia tdk bisa hidup sendiri. Pasti ada saling ketergantungan. Jadi kata “……… supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi”….. menurut amang sampai batas mana atau sampai kapan ada ketergantungan dengan mamon ?
    Dan tolong dijelaskan lagi maksud dari Lukas 16:8 disamping minta pencerahan lagi dari Lukas 16:9.
    Mauliate amang.

  4. Maludin Sitanggang, Ir.MSc.St. on September 22, 2008 at 12:18 pm

    Saya sangat setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang dipercaya orang kaya tersebut. Seandainya tindakan itu tidak dilakukan, atau dibiarkan menunggu dipecat, maka si orang kaya tadi tidak mengetahui kemana saja hartanya dipinjamkan. Sehingga mengalami kesulitan untuk melacaknya, karena administerasinya ada pada dia. Atau dalam keadaan yang genting Juara Bagas tadi membantu tuannya untuk mengusahakan adanya uang masuk buat tuannya. Seperti yang dialami oleh gereja-gereja, pimpinan akan memuji majelisnya jika ada upaya yang dilakukan untuk membuat uang masuk ke gereja tersebut tanpa ada yang disunat. Contoh kasus : Seorang ruas banyak yang belum / tidak pernah membayar uang iyuran tahunnya, maka majelis tersebut memutuskan “Cukuplah yang dibayarkan 2 tahun terakhir saja dan lunas dari pada memaksakan ruas harus membayarnya dari awal tapi tidak mampu. Sehingga dana operasional gereja dan iyuran/setoran ke tingkat yang lebih tinggi (Ressort, Pusat sesuai aturan) dapat terbayarkan”. Penulis selama ini menerapkan yang demikian, sehingga tidak ada istilah ditagih atau diingatkan untuk menyetor iyuran tersebut. Dan dana operasional gereja tercukupkan dan tidak ada beban dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan jemaat. Namun masih banyak yang tidak menerima dengan sistem yang demikian, tetapi tidak pernah memberikan solusi yang lebih baik. Mauliate.

  5. rod tobing (na manghaholongi hkbp) on September 23, 2008 at 1:10 pm

    Waktu aku masih kuliah pasca sarjana di STT, perikop ini salah satu yang paling lama memakan waktu saat didiskusikan di kalangan mahasiswa. Datang dengan berbagai buku tafsir (commentaries), tapi di akhir diskusi tetap saja tidak memuaskan.

    Satu yang menarik dari beberapa bacaan, adalah apa yang pernah dikhotbahkan oleh Pdt. Eka Darmaputra (alm) tentang perikop ini. Sebagaimana sudah dituliskan oleh pak DTA, bahwa perumpamaan (parables) memang harus dilihat sebagai perumpaan dengan hanya satu pesan di dalamnya. Artinya, jangan dilihat kalimat per kalimat. Menurut pak Eka, pesan dalam perikop ini adalah kecerdikan (sayangnya, hal ini pula yang tidak disetujui oleh pak DTA sebagaimana dicantumkan di atas). Hal kecerdikan ini pulalah yang aku sampaikan pada saat diskusi dengan salah seorang pendeta yang melayani di HKBP hari Minggu yang lalu yang juga belum “mantap” pemahamannya, dan kelihatannya beliau setuju (apalagi ternyata di buku Impola ni Jamita HKBP uraiannya tidak gamblang, sehingga malah membingungkan …)

    Aku jadi teringat saja dengan buku Misquoting Jesus yang ditulis oleh Bart D. Ehrman (kalau tak salah …) yang menengarai bahwa ada saja kemungkinan “salah kutip”, “salah terjemah”, “salah menyalin” (dan banyak “salah” lainnya) dengan Alkitab yang kita miliki sekarang jika melihat sejarah yang harus dilalui oleh firman Tuhan tersebut sebagai suatu karya tulis yang kita terima sekarang. Tapi, sebagai orang Kristen, tetap yang perlu diingat adalah bahwa Tuhan bekerja untuk setiap karya yang memuliakan nama-Nya. Termasuk di dalamnya adalah penulisan (dan penggandaan) Alkitab, terlebih pada saat penyampaiannya kepada warga jemaat (dengan bantuan Roh Kudus). Sayangnya, penyampai firman (termasuk yang dikeluhkan oleh warga jemaat hari Minggu lalu itu …) tidak mempersiapkan diri dengan baik. Naik ke mimbar hanya mengandalkan diri sendiri dengan persiapan yang sangat minim pula …) sehingga malah menjadi bingung sendiri dan tidak tahu lagi apa yang harus disampaikan. Kalau jubir Allah saja bingung, apalagi warga jemaat yang mendengarkan.

    Horas jala gabe! Beta hita padenggan parjamitaan di hakabepe!

  6. Mardosniroha Sianturi on September 24, 2008 at 10:21 pm

    Memang banyak bingungnya waktu mendengarkan guru huria kami menyampaikan penjelasan tentang perumpamaan ini, kebetulan kami masuk kebaktian pagi dengan bahasa Indonesia, jadi makin bingung dengan penjelasan yang agak mengambang, karena perumpamaannya melenceng dari kaidah yang diajarkan Yesus, apa yang dilakukan sang bendahara yang dipuji dan kemah abadi yang disediakan.

    Daniel Harahap:
    Luk 16:9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.

    Maksudnya: pergunakanlah untuk mencari sahabat bukan untuk menciptakan musuh. Gunakan uang untuk menolong orang lain, berbuat baik dan menyenangkan sesama. Namun sadarlah uang itu tetap terbatas kuasanya, dia tetap tidak bisa membantu kita masuk ke kemah abadi.

    apa kita diminta jadi Robinhood?

    Daniel Harahap:
    Tidak. Tuhan dan negara melarang kita mencuri. Bahasa halus mencuri: korupsi. Yang dimaksudkan gunakanlah uang sendiri untuk melakukan hal-hal baik.

  7. M Sinaga on September 27, 2008 at 7:46 pm

    Terimakasih Amang Pendeta, penjelasan yang Amang tulis di sini sudah mengangkat tabir dari pikiran saya. Sekarang Saya paham dan akan mencoba untuk memanfaatkan waktu yang singkat ini semaksimal mungkin sehingga berbuah bagi sekitar Saya.

  8. Andi Gultom on September 26, 2009 at 12:10 pm

    Makasih banyak Amang untuk setiap penjelasannya.
    Ada ngak buku ringkasan atau panduan kotbah satu tahun, satu bulan?.
    Sehingga bisa menjadi referensi untuk belajar, buat majelis-majelis yang masih baru.

    Mohon maaf jika tidak berkenaan dengan topik.

    Rgds
    Andi G

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*