Penempatan Praeses Baru HKBP

September 16, 2008
By

kantor-pusat-hkbp.JPG

Distrik Wilayah Nama Praeses

I. Tapanuli Selatan Pdt. Marolop Sinaga, MTh

II. Silindung Pdt. Manogari Silitonga, MTh

III. Humbang Pdt. Bonar Nababan, DPS

IV. Toba Pdt. Parulian Sibarani, MTh

V. Sumatera Timur Pdt. Piter Hutapea, MTh

VI. Dairi Pdt. Elieser Siregar, STh

VII. Samosir Pdt. Rafles Lumbanraja, STh

VIII. Jawa Kalimantan Pdt. Mori Sihombing, MTh

IX. Sibolga Pdt. Rich Janson Simamora, S.Th

X. Medan-Aceh Pdt. S.M.P. Marpaung, STh

XI. Toba Hasundutan Pdt. Armada Sitorus, MTh

XII. Tanah Alas Pdt. Tionggar Nababan, STh

XIII. Asahan Labuhan Batu Pdt. Victor Sihotang, S.Th

XIV. Tebing Tinggi Pdt.Bihelman Sidabutar, S.Th

XV. Sumatera Bag. Selatan Pdt.Rahman Tua Munthe, M.Th.

XVI. Humbang Habinsaran Pdt. Debora Furada Sinaga, M.Th

XVII. Indonesia Bag. Timur Pdt. Pasu Nainggolan, Sm.Th

XVIII. Jabartengdiy Pdt.Togar M Hasugian, S.Th

XIX. Jakarta 2 Pdt. Esron M.Tampubolon, M.Th

XX. Kepulauan Riau Pdt. Marudur Tampubolon, STh

XXI. Jakarta 3 Pdt. Dr. Lukman Panjaitan

XXII. Riau Pdt. Diapari Simangunsong, S.Th

XXIII. Langkat Pdt. Saur Simanjuntak, S.Th

XXIV. Tanah Jawa Pdt. Tendens Simanjuntak, S.Th

XXV. Jambi Pdt. David F Sibuea, M.Th

XXVI. Labuhan Batu Pdt. Efendi Purba, S.Th

Sumber:

http://www.hkbp.or.id

Share on Facebook

30 Responses to Penempatan Praeses Baru HKBP

  1. Antonio Siregar on September 16, 2008 at 6:21 pm

    Jujur! Dalam komposisi ini, pandangan DTA dan kecurigaan saya pribadi atas prinsip mutasi HKBP berdasar “like and dislike, balas jasa dan balas dendam” semakin terbukti.

    Daniel Harahap:
    Jangan berburuk sangka Lae. :-) Daripada berburuk sangka mari kita dorong jemaat-jemaat mulai melakukan studi Aturan 2002 sebagaimana pesan sinode godang kemarin.

  2. Ama ni Jogi on September 17, 2008 at 1:57 am

    Saya setuju dgn Pak Siregar, dan semakin mengamini kalimat Amang DTA pd kotbah minggu sore di Serpong, yg singkatnya menyatakan bahwa peserta di SG yg lalu sulit utk lepas dari tekanan ‘kelompok’nya, shg sy simpulkan banyak peserta yg memilih tdk dgn nuraninya!

    Sy kira inilah yg mematahkan (sementara) harapan Amang DTA di tulisan yg lalu yg mengatakan bahwa ‘komposisi kelima pimpinan ini benar-benar mencerminkan semangat kesinambungan dan pembaharuan yang dicita-citakan oleh warga HKBP’….jg mematahkan (sementara) kalimat ‘bisa dibayangkan bagaimana hangatnya rapat-rapat Pimpinan HKBP di masa depan’, prediksi sy dlm case penempatan Praeses kali ini, suasananya tdk ‘sehangat’ yg Amang DTA bayangkan :)

    Yah memang, spt kata Tukul, kita tdk blh ‘under estimate’, krn usia formasi Pimpinan ini msh blm genap 2 minggu…mari kita doakan kiranya ke 5 Pimpinan gereja kita ini diketuk nuraninya dan tdk mengandalkan apa yg ada di dlm pikirannya sendiri dan ‘kelompok’ nya saja…dan jg berdoa kiranya para Praeses siap utk menempati ‘pos’ nya masing2…

    Dan harapan sy, kiranya terbentuk Komisi Aturan yg ‘credible’ dlm 6 bln ke depan, agar AP 2002 dpt sgr diamandemen…
    Sy tertarik dgn kalimat Pdt Dr Einar Sitompul dlm satu kesempatan, yg mengatakan bahwa beliau merasa heran dgn HKBP yg semakin bertambah usianya, namun AP yg dimilikinya semakin ‘tipis’ (ringkas), sementara gereja lain AP nya semakin tebal….so, mau kemana HKBP?

  3. A Napitupulu on September 17, 2008 at 9:42 am

    Kita mengharapkan agar masing-masing praeses dapat menjalankan tugasnya di tempat yang baru dengan suka cita, sehat dan pasti mendapat berkat. Saya berharap agar tugas dan penempatan jangan dipolitisir. Perlu disadari bahwa ‘ungut-ungut’ atau komentar minor akan memberikan interpretasi yang tidak baik dan itu pernah terjadi di “organisasi” gereja HKBP. Saya kurang setuju masalah mutasi pendeta seperti ini diperdebatkan. Saya setuju dengan Amang, agar kita jangan berburuk sangka
    Tugas kita, siapa pun mereka kalau kita merasa benar-benar bagian dan mencintai HKBP, mendukung dengan kapabilitas kita masing-masing dengan beralaskan doa kepada Tuhan Yesus. Semoga HKBP bertumbuh lebih baik lagi.

  4. saurdot on September 17, 2008 at 10:21 am

    Antonio Quote:
    … dan kecurigaan saya pribadi atas prinsip mutasi HKBP berdasar “like and dislike, balas jasa dan balas dendam” semakin terbukti.
    Amang Antonio bisa kemukakan siapa aja ya? Biar pengawasan melekat.

  5. Asrel Eli Marpaung on September 17, 2008 at 1:08 pm

    Horas, Hami dang pola hu komentari penempatan on, holan tangiang do sigogohononku asa anggiat angka pandita naung diangkat denggan be mangula diulaon na, unang ma gabe sipaleccem i dibahen. Sai ingot ma nasida diangka padan ditingki na manjalo Tohonan i nasida. Saranhu tu hita sude asa tabahen masukan-masukan na positif asa akka aha naung taboto dang denggan saleleng on di pangulahonon niangka pareeses boi gabe/l am tudenggan na.

  6. Nagabonar Sianipar on September 17, 2008 at 1:15 pm

    Suara Rakyat adalah suara Tuhan….!

    Dimanapun Pelayan Tuhan ditempatkan , semuanya HARUS BER-SYUKUR …!!!. Semua lokasi adalah ladang Tuhan . Jadikan ladang Tuhan itu jadi Kebun anggur yg berbuah sepanjang masa , sepanjang Tahun, sepanjang abad. Teladanilah Yesus , Dia bisa membuat Air jadi Anggur , berjalan di atas air , membangkitkan orang mati dan memberi makan 5 ribu orang dari 2 roti dan 5 ikan. Kenapa Praeses kita tidak men-contoh Teladan Yesus itu……? Jadikan Lokasi yg “ditunjukkan Tuhan ” itu menjadi ladang yg subur dan makmur. Jadikan kemakmuran & kesejahteraan yg dari Yesus Tuhan kita menjadi target anda di lokasi anda menggembalakan jemaat .

    Sian dia pe ro do hepeng , molo ditangiangkon dohot dilului denggan – denggan . Hepeng ni Par Jakarta dohot hepeng ni par TOBA sarupa do , i ma sama – sama hepeng nadigoari Rupiah .

    Ingot hamu pelajaran ni angka singkola minggu i sipata :
    1. Rajin pangkal pandai .
    2. Hemat pangkal kaya .
    3. Olahraga pangkal sehat .
    4. Ramah pangkal banyak teman .
    5. YESUS TUHAN pangkal segalanya . BICARA (Berdoa) padanya ..! Sebab Doa Orang benar akan dikabulkan Tuhan .
    SEMUA ADA WAKTUNYA , SEMUA INDAH PADA WAKTUNYA …..!!!

    Mengkel ma Hamu , syukuri hamu ma sudena i .

    Horas jala Gabe…!

    NAGABONAR SIANIPAR

    Daniel Harahap:
    Komentar pendek. Vox populi vox deo! Suara rakyat adalah suara Tuhan. Kita setuju itu dan karena itu semua orang menerima keputusan SG dengan ikhlas dan lapang dada. Tapi ingat: suara rakyat banyak itu jugalah dulu yang menyalibkan Tuhan!

  7. warman on September 17, 2008 at 1:20 pm

    saya heran hari gene masih ada saja pendeta yang membuat analisis yang mengarah keperpecahan, seharusnya dukung saja hasil SG yang lalu, karena hasil SG itu sudah melalui doa kepada Tuhan dan hasilnya ya seperti sekarang sudah sangat bagus . Pdt WTP Simarmata saja mendukung.Seharusnya kita berdoa supaya para praeses tersebut dapat berbuat yang tebaik dimana mereka ditempatkan. Amin.

    Daniel Harahap:
    Hari gene gok masih suka curiga? :-) Hanya selang beberapa menit setelah eforus Bonar Napitupulu terpilih saya langsung mengirimkan SMS mengucapkan selamat sekaligus menyatakan komitmen saya akan mendukung dan mengawal beliau sampai akhir periode 2012. Dan dalam lanjutan sms itu saya mengatakan: “biarlah saya tetap kritis kepada diri sendiri, kepada pimpinan dan hkbp”. Apa balasan SMS dari beliau? Tak usahlah saya bilang disini apa isinya nanti saya dibilang membesarkan diri hahahaha. Sampai sekarang SMS masih saya simpan dan kapan-kapan saya kasi lihat. :-)

  8. Ninggor Pardede on September 17, 2008 at 3:17 pm

    Jawaban dari amang DTA “Tapi ingat: suara rakyat banyak itu jugalah yang menyalibkan Tuhan”

    Ninggor:
    Untung juga ada suara orang banyak itu, sehingga kita kebagian berkat yang sangat besar, yaitu KEBANGKITAN.

    Daniel Harahap:
    Kebangkitan Kristus bukan produk dari demokrasi! Apalagi produk Sinode Godang HKBP.

  9. Martin Manurung on September 17, 2008 at 5:35 pm

    Ditto untuk komentar pertama. ‘Lawan politik’ ditaruh ke tempat terpencil. ‘Kawan politik’ dapat posisi ‘basah’. Saya rasa ini bukan kecurigaan, memang demikian faktanya.

    Daniel Harahap:
    Fakta menurut Lae Martin Manurung. :-) Sebab itu daripada terus-menerus saling mencurigai, saling menyalahkan, mending kita fokus kepada perbaikan aturan hkbp, termasuk aturan tentang penempatan praeses dan pendeta.

  10. Martin Manurung on September 17, 2008 at 5:59 pm

    Amang Harahap, pertanyaan atas tanggapan amang itu sederhana. Siapa yang menyusun ‘perbaikan Aturan HKBP’ itu? Kalau yang menyusun tetap para pendeta atau para utusan SG, ya sama saja. Pun, bila dibentuk “Komisi Aturan” yang dipenuhi oleh para “ahli hukum”, akan tetap memproduksi Aturan yang elitis, yaitu memproteksi kepentingan pusat atau orang-orang yang duduk di kekuasaan.

    Ini terkait dengan diskusi kita di posting “Hari Ini Rapat Pimpinan HKBP”. Proses ‘amandemen’ Aturan HKBP pun hendaknya memakai pendekatan yang partisipatoris. Tanya jemaat, apa yang ingin diubah. Tugas “Komisi Aturan” hanyalah membahasakan aspirasi jemaat itu ke dalam bahasa teknis hukum sehingga memenuhi syarat sebagai ‘konstitusi HKBP’.

    Daniel Harahap:
    Jemaat mana yang harus ditanya Lae? Yang sangat suka omong dan ibadah hiruk-pikuk? Para donatur yang sangat ingin mengatur? Anggota jemaat yang terdaftar sebagai anggota rangkap (agen?) di gereja lain? Penambal ban yang masih menyewa kompresor? Pensiunan pejabat yang lagi belajar jadi raja adat dengan waktu berlimpah-ruah? eksekutif bank? Atau semua? Bagaimana caranya? Ajarilah saya. :-)

  11. Martin Manurung on September 17, 2008 at 6:15 pm

    Amang Harahap, saya berpendapat bahwa yang harus ditanya adalah jemaat-jemaat yang masih terdaftar sebagai anggota HKBP. Jemaat-jemaat yang anggota rangkap, tentu harus diklarifikasi dulu status keanggotaanya. Namun, jemaat-jemaat yang berstatus anggota HKBP tetapi, katakanlah, sering ke gereja lain, menurut saya sebaiknya terlibat. Mereka yang ‘marminggu’ ke tempat lain itu pun pasti memiliki alasan yang harus diperhatikan sehingga HKBP dapat memperbaiki diri untuk pelayanan yang lebih baik. Dengan mendengarkan mereka, HKBP bisa mencegah jemaat-jemaat (maaf) “jajan” ke tempat lain.

    Demikian pula untuk profesi, entah penambal ban yang menyewa, atau memiliki kompresor, supir truk, eksekutif bank, dll. Bukankah mereka adalah jemaat-jemaat yang menjadi sasaran pelayanan HKBP? Apalagi bila diingat pula, bahwa jemaat apapun profesinya, juga membayar iuran. Dalam bernegara pun, seluruh ‘tax payers’ memiliki hak dan kewajiban yang sama.

    Bagaimana caranya? Bukankah amang sendiri yang menceritakan bahwa proses partisipatoris dalam penyusunan AP HKBP pernah dilaksanakan sebelumnya (lih. posting “Hari Ini Rapat Pimpinan HKBP”)? Berarti, hal itu bukanlah asing untuk HKBP, kita tinggal mengulangi apa yang baik dan pernah dilaksanakan.

  12. Andar on September 17, 2008 at 8:00 pm

    “saya heran hari gene masih ada saja pendeta yang membuat analisis yang mengarah keperpecahan,” mengomentari ulasan Sdr Antonio dan Sdr Walman.

    Saya pikir Lae Antonio hanya sekedar membuat analisa yang belum tentu memiliki prasangka buruk atau hendak mengarahkan kepada perpecahan. Jadi sebetulnya tergantung pembacanya saja menyikapi ulasan tersebut. Kalau saya membaca ulasan ini, wajar-wajar saja karena mungkin Sdr Antonio sudah mengenal karakter dan sentrum kekuasaan di pusat sana. Hanya apakah analisanya akan benar atau salah, kita serahkan saja waktu menjawabnya. Pembaca yang budiman tentu tidak akan mudah terpancing kepada entah itu analisa, anasir, atau provokasi sekalipun, karena analisa yang paling ilmiah sekalipun belum tentu bisa menjadi kebenaran.
    Setuju usul amang DTA, para pendeta kita minta membagi2kan AP HKBP kepada seluruh jemaat, buka forum diskusi, dan dalam setiap sermon, rapat, atau pertemuan HKBP apapun itu, kita segarkan kembali keputusan SG HKBP yang lalu untuk mengkaji kembali AP HKBP.

    Daniel Harahap:
    Seharusnya notulen SG bisa dibagikan kepada seluruh jemaat dan segera, supaya ketahuan pendeta siapa bicara apa dan mewakili kepentingan siapa. :-)

  13. martua on September 17, 2008 at 9:57 pm

    horas ma di hamu manurung, ale-ale.
    unang pola intor mangiburu hamu alani i. nian adong do tingkosna na nidok muna i. alai dang apala ringkot i nuaeng on laho alusan. sian dia diboto hamu lawan dohot kawan/ ra hamu sandiri do sandiri do na gabe memposisikan i, molo soi adong kepentingan muna dibagasan. setiap haputusan naung nitotophon i adong do nilai positif dht negatifna. sasudena daerah pelayanan i boi do manghorhon pasu-pasu molo denggan hita mangula. manghorhon pasu-pasu tu hita, manghorhon pasupasu nang tu nasa na humaliangsa. pos roha muna ido ra na dumenggan nuaeng on.
    autsugari hurang singkop dope i di roha muna, mangido ma jo iba tu hamu ale-ale asa hamu ma jo na mambahen rancangan penempatan angka praeses i. baru rap mangkaji ma hita manang na berdasarkan kemampuan nasida be do i dbhen hamu, manang adong do unsur-unsur na asing di balik ni i.

    pos rohangku na boi dope hamuna berpikir secara jernih.

  14. Ebenezer L. Gaol on September 18, 2008 at 5:38 am

    Daniel Harahap:
    “…Jemaat mana yang harus ditanya Lae? Yang sangat suka omong dan ibadah hiruk-pikuk? Para donatur yang sangat ingin mengatur? Anggota jemaat yang terdaftar sebagai anggota rangkap (agen?) di gereja lain? Penambal ban yang masih menyewa kompresor? Pensiunan pejabat yang lagi belajar jadi raja adat dengan waktu berlimpah-ruah? eksekutif bank? Atau semua? Bagaimana caranya? Ajarilah saya…”

    Ebenezer Lumban Gaol:
    Bah…songon na pahatop hu do “manggas” amang panditanami. Sabar, amang, sabar… !!!

    Sebenarnya, justru kehendak semacam usulan Lae Martin Manurung itulah itulah barangkali yang sejak lama muncul di benak banyak anggota jemaat kita. Jangan-jangan, kendati sebenarnya harus ditelusuri lebih lanjut, justru penafian terhadap keinginan warga jemaat semacam itulah, yang menjadi pemicu beberapa masalah di aras jemaat. tetapi bagaimana pun juga, warga jemaat menghendaki akses langsung dalam proses pengambilan keputusan konstutisional gereja.

    Menurut saya, caranya sebenarnya tidak terlalu sulit. Jika Balitbang HKBP sukses menyusun sebuah kuesioner untuk mendapatkan aspirasi jemaat, partisipasi dimaksud tentu dapat diwujudkan. Hasilnyapun dapat dipertanggungjawabkan dan akuntabel. Tidak perlu menggunakan rumus pengambilan sampel yang rumit-rumit. Dengan mengambil sampel 10 responden dari tiap jemaat, yang dianggap mewakili seluruh variabel yang hendak diketahui, jumlah responden yang berpartisipasi sudah jauh melebihi ambang batas yang disyaratkan oleh metode survei yang umum.

    Katakan bahwa huria HKBP saat ini berkisar 3175 (Almanak HKBP 2008) maka responden yang diperoleh sudah mencapai 31.750. Jika ditambah dengan peserta SG (sebagai representasi formal jemaat di aras sinodal) sebanyak 2000 orang, dan 1 s/d 2,5 % jumlah pendeta, bibelvrouw, guru huria, diakones, sintua yang bukan peserta SG maka hasilnya sudah sungguh-sungguh partisipatif.

    Jadi, sebenarnya tidak menjadi soal besar. Persoalannya tinggal satu: mau tidak?

    Daniel Harahap:
    Saya sangat setuju anggota jemaat dilibatkan dalam proses penyusunan Aturan. Dan itu bukan hal baru di HKBP tetapi sudah mendarah daging. Beginilah biasanya proses penyusunan Aturan di HKBP: Komisi Aturan di Pusat membuat draft AP lantas dibagikan ke seluruh jemaat. Jemaat-jemaat membuat usulan-usulan disampaikan ke resort. Resort-resort menyampaikan usulan ke distrik atau langsung mengirim ke pusat. Distrik-distrik membuat usulan ke Pusat. Komisi Aturan mengkaji semua usulan itu dan membuat sebuah draft kedua. Draft kedua dikirim lagi ke seluruh jemaat. Proses pembahasannya dimulai lagi di tingkat jemaat, resort dan distrik. Sebelum diputuskan di SG konsep Aturan dibawa ke Rapat Pendeta untuk dikaji doktrin teologinya.

    Saya sudah terpikir (namun masih harus menunggu persetujuan Majelis) untuk memesan 400 eksemplar buku Aturan dan membagikannya ke seluruh anggota jemaat HKBP Serpong. Lantas membuat sebuah Tim untuk mengkoordinasi studi Aturan HKBP. Tim inilah yang mengkoordinir studi, diskusi, atau seminar/lokakarya dan mengumpulkan usulan-usulan jemaat untuk perbaikan Aturan sesuai Tona Sinode Godang 2008 kemarin.

  15. Ebenezer L. Gaol on September 18, 2008 at 6:24 am

    Martua pro Martin Manurung:
    “…autsugari hurang singkop dope i di roha muna, mangido ma jo iba tu hamu ale-ale asa hamu ma jo na mambahen rancangan penempatan angka praeses i. baru rap mangkaji ma hita manang na berdasarkan kemampuan nasida be do i dbhen hamu, manang adong do unsur-unsur na asing di balik ni i. pos rohangku na boi dope hamuna berpikir secara jernih…”

    Ebenezer Lumban Gaol:
    Maaf ikut nimbrung. Saya pendatang baru di forum ini. Tetapi membaca gaya berdebat macam ini membuat saya gusar bahwa, bahkan, di media internet pun cara kita menanggapi pendapat yang berbeda masih bergaya lapo. Tanggapan semacam ini seolah-olah membenarkan bahwa HKBP itu harus steril dari kritik dan penilaian kritis seturut gaya komunikasi verbal Batak yang khas setiap kali kehabisan kata-kata, “…antong ho ma jo mambahen, asa niida manang na boha…manang na haru didia…pantang so jago do ho…!!!”

    Pesannya jelas bahwa sebuah keputusan adalah harga mati, anti perbedaan, anti perubahan, monolitik dan harus diterima kendati tidak memuaskan.

    Harapan saya forum ini adalah forum dialog, ajang urun rembug sekalian menyampaikan uneg-uneg sebagai wujud relasi yang akrab dengan HKBP. Saya yakin 100 % bahwa isi forum ini tidak akan mempengaruhi keputusan Pimpinan HKBP. Jadi saya percaya bahwa apa yang dikemukakan Martin Manurung tidak akan merubah formasi tempat pelayanan ke-26 praeses baru HKBP

    (Kendati demikian akan sangat elegan dan dewasa jika Lae Martin Manurung, SE bersedia mengungkapkan data dan analisa dibalik “fakta” dimaksud dan sejauh mana pengertian dan relasi kuasa “kawan politik” dan “lawan politik” dipraktekkkan di HKBP. Jika memang terbukti tentu akan membuat tesis Victor Tinambunan, bahwa struktur organisasi HKBP mengambil benchmark struktur politik kenegaraan RI, bisa dibuktikan dan tesis awal saya bahwa pola dan proses pembentukan relasi kuasa di HKBP seringkali dilatarbelakangi oleh pengalaman dan penghayatan warga jemaat HKBP terhadap perkembangan politik RI).

    Jadi bagi saya tidak ada soal jika siapa saja memberi komentar yang pedas dan mungkin memerahkan telinga sebagian orang. Usah risau sebab HKBP itu adalah Gereja dan Gereja pasti bukan milik siapapun kendati dia orang yang amat sangat percaya! Sebab, jangankan HKBP, keputusan Yesus saja sering dipertanyakan murid-muridNya. Jangankan keputusan Yesus, usaha mendefinisikan diriNya sendiri saja terbuka untuk kritik murid-muridNya.

    Selebihnya saya hanya berharap bahwa amang DTA tetap berkomitmen memberi ruang bagi setiap perbedaan pendapat yang ada.

    Daniel Harahap:
    Silahkan saja berbeda-beda yang penting jangan “berbada-bada”! :-)

  16. elumban on September 18, 2008 at 7:10 am

    Ikut nyumbang saran dalam diskusi antara Pak Martin Manurung dgn Amang DTA.
    Menurut saya banyak cara yg dapat dilakukan utk memperbaiki AP2002 yang melibatkan ruas HkBP(kalau mau)
    1. Ditingkat gereja bisa saja berinisyatif; mis melalui salah satu seksi kategorial membentuk team untuk melakukan tinjauan atas AP 2002. Hasil tersebut diserahkan ke pendeta jemaat utk diteruskan ke komisi aturan. Atau kalau perlu langsung ke pareses.
    Untuk cakupan yg lebih luas bs juga misalnya salah seksi Ama tingkat gereja menjadi sponsor mengadakan acara diskusi ttg AP2002 dengan mengundang seksi-seksi tingkat distrik.
    2. Rumametmet juga bisa menjadi moderator virtual untuk kita bisa secara bersama-sama memberikan masukan perbaikan AP tsb. Pada akhir diskusi kita buat simpulan yg akan diserahkan ke HKBP. Pembahasan dapat dilakukan bab per bab lalu ke pasal-pasal.
    3.Memang akan sangat luar biasa apabila komisi aturan bisa “roadshow” ke tiap distrik mengadakan acara “brainstorming” dengan jemaat-jemaat di tiap distrik yang difasilitasi oleh pareses setempat.

    Menurut saya pelibatan jemaat sangat dimungkinkan, kuncinya cuma satu apakah”MAU. ?”

    Daniel Harahap:
    Usul 1 dan 3 setuju dan itu dulu biasa dilakukan di HKBP.
    Usul 2 ditolak. :-)

  17. Ruas-Bandung on September 18, 2008 at 9:06 am

    Setelah membaca semua komentar dan pandangan teman-teman di milis ini dan khususnya mengenai topik penempatan para praeses (pejabat) HKBP, saya tetap pada pandangan saya “hkbp adalah gereja”.

    Seperti yang pernah saya utarakan pada tulisan atau komentar saya sebelumnya untuk memulihkan HKBP sebagai gereja dibutuhkan reformator. Saya hanya ingat cerita ‘amplop’ pengampunan dosa pada sejarah gereja katolik dan akhirnya seorang Martin Luther muncul sebagai seorang reformator. Untuk keadaan HKBP sekarang ini, sudah banyak muncul amplop. Untuk memulihkan citra HKBP sebagai GEREJA dibutuhkan para reformator dari kalangan pendeta. Mari kita doakan agar para pendeta kita ini kelak menjadi reformator di HKBP (dan saya doakan “eforus” rumametmet ini menjadi salah satunya).

    Daniel Harahap:
    Ruma Metmet ini cuma sebuah kapel. Yang ada hanya seorang koster. (koster = penjaga merangkap pembersih dan tukang kebun). :-)

  18. horas semuah on September 18, 2008 at 11:22 am

    horas dari jemaat HKBP CALIFORNIA

  19. Ninggor Pardede on September 18, 2008 at 4:30 pm

    Horas, ikut nimbrung ahh.
    Sehubungan adanya ketidak percayaan kita akan suatu keputusan yang telah disepakati (menurut saya ini adalah hal yang wajar karena kita memang mempunyai pemikiran yang berbeda-beda)dalam hal ini penempatan Praeses, saya mencoba mengajukan usul untuk periode ke depan,
    Penempatan Praeses ditentukan oleh nilai suara yang didapat saat SG, sementara peringkat distrik ditentukan oleh MPS sebelum sinode.
    Mauliate ma disaluhutna. Sai sumurutma angka rasa curiga sian rohanta be.

  20. herwin marhiras butarbutar on September 18, 2008 at 5:24 pm

    Ulat api bisa mengakibatkan penurunan produksi kelapa sawit sampai 93 % jika tingkat serangannya sudah mencapai 100 % artinya jika kelapa sawit sudah dipenuhi oleh ulat api maka produksi yang seharusnya 100 kg/ha bisa tinggal 7 kg/ha. Ulat api juga makhluk hidup dan pingin hidup, tetapi makhluk hidup yang satu ini sangat membahayakan. Ulat api harus dikendalikan supaya tidak mengganggu tanaman kelapa sawit dan juga tidak mengganggu ekosistem kehidupan. Jika ulat api habis tentu ekosistem tidak terjaga. Salah satu musuh alami yang bisa mengendalikan ulat api ini kita sebut predator. Predator ini bisa berkembang biak jika ada tanaman turnera subulata atau sering kita sebut tanaman pukul delapan. karena dia berbunga tepat pada pukul delapan.

    Lalu apa hubungannya dengan HKBP ??? HKBP kita andaikan aja seperti kelapa sawit yang kelak akan melahirkan jemaat-jemaat yang dengan sepenuh hati setia mengikut Yesus. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu ternyata HKBP menjadi terganggu dengan lahirnya sekelompok kecil ulat api yang lama kelamaan berkembang biak dengan cepat. Kalau kita mau jujur ada beberapa pendeta (saya tidak berani katakan banyak, karena datanya belum ada) yang bertindak seperti ulat api, menggerogoti huria tempat dia bertugas, menggerogoti jemaat (pernah seorang pendeta di suatu tempat, waktu itu secara tidak sengaja kita sama-sama nelpon di wartel (zaman belum ada hp tahun-tahun 90-anlah) tentu kami lain kamar; si pendeta duluan keluar/pulang tapi tidak bayar karena dia pesan ke kasir bahwa yang bayar biaya telponnya adalah saya; untung saya yang diperbuat seperti itu jika orang lain ?? kan bahaya!!)) sebenarnya hal itu kan udah menunjukkan gejala kecil tentang adanya ulat api di HKBP, tapi kita kurang jeli mengenai itu. Dan ulat api ini makin lama makin berkembang (namanya juga ulat api). Satu-satunya jalan adalah merawat turnera subulata yang ada di HKBP (yakni: NHKBP), naposobulunglah bunga-bunga HKBP yang harus kita jaga dan rawat agar melalui mereka pendeta-pendeta predator bisa menghabiskan ulat-ulat api yang ada di HKBP. Kalau di ekosistem ulat api kita kendalikan tapi di HKBP ya harus dihabisi.

    Waktunya gak lama koq untuk menghabisi ulat api yang ada di HKBP, jika semua serius dan segera dilakukan. Tapi jika dibiar-biarin maka ulat api akan terus berkembang dan HKBP akan ribut lagi. Maka yang cocok saat ini duduk di kursi-kursi kepemimpinan HKBP adalah bapak-bapak pendeta yang bisa berperan sebagai predator (tegas, jelas, jujur). Dan satu hal lagi, yang cocok duduk di kursi kepemimpinan HKBP sebenarnya adalah bapak-bapak pendeta yang setidak-tidaknya pernah melayani Naposobulung, atau setidak-tidaknya dekat ke naposobulung menjaga dan merawat naposobulung. Pertanyaannya apakah ompui ephorus, amang sekjen, Kabid-Kabid, praese-praese bisa menjalankan perannya dengan baik untuk menghentikan serangan ulat api ??? tanpa memandang marga, teman, balas budi dll. Sebab jika saya lihat penempatan praeses saat ini ada balas budi (maaf jika saya salah baca dan salah lihat atau salah tafsir). Mudah-mudahan tidaklah…ya…

    Thank You. Sukses buat petinggi-petinggi yang sudah terpanggil dan terpilih. Horas HKBP. Tuhan memberkati. Sukses juga buat amang DTA.

  21. PM BANJARNAHOR on September 19, 2008 at 4:08 pm

    RUMA METMET is mostly best effect to all RUAS HKBP whoever come-visiting this Website. Every single day we can read and hear what God sayings to you and me. The last but not least that day by day we can understand and see what happen in HKBP especially in doing PDCA (Plan Do Check Action) by New Leaders & Praeses HKBP based on RIP & RENSRA in the period of 2008 – 2012

  22. PM BANJARNAHOR on September 19, 2008 at 4:11 pm

    Dear Pdt DTA can you pls send me my photograph who were shooting by you in SG-59.
    Thx

    Daniel Harahap:
    Hutongos pe Amang di bagasan tolu minit on. :-)

  23. Bergman Silitonga on September 20, 2008 at 7:47 am

    Sayang seribu sayang, ternyata para “pelayan” para “hamba Tuhan”, para “Parhal/Parhalado” masih mengurusi dan mengkhawatirkan “penempatan”. Para praeses masih menjadi hamba politik yang ingin mempertahankan “kekuasaan” dan daerah empuk.. (itu yang saya tangkap, maaf kalau salah). Semua bermula dari rasa khawatir. “Siapakah diantara kamu yang oleh rasa khawatirnya dapat menambahkan satu hasta saja kedalam jalan hidupnya…?”. Bukan kah ladang itu dimana saja..? mengapa khawatir ditempatkan di daerah …? Kalau begini terus, kapan ladang ladang itu menguning dan matang untuk dituai, kalau penuainya berebut lahan..??? Kami bukan pendeta, bukan penginjil, tapi tetap melayani di daerah perbatasan sumut aceh, dengan sukacita. Kami bukan pejabat HKBP (hanya warga jemat biasa HKBP).. …

    Daniel Harahap:
    Barangkali Anda salah. Yang dipersoalkan oleh teman-teman di sini adalah sistem, kriteria dan mekanisme pengambilan keputusan. Tak ada praeses yang menolak ditempatkan di Tanah Alas atau di Labuhan Batu. Jika anda ruas HKBP dan ikut melayani dengan sukacita syukurlah, tetapi tidak perlu juga menganggap diri terlalu tinggi dan merendahkan orang lain.

    Ambal ni hata: Anda bekerja di Pertamina Pangkalan Brandan atau Pangkalan Susu?

  24. Bergman Silitonga on September 20, 2008 at 8:03 am

    Syukurlah, mauliate amang. Mohon maaf atas kesalahan saya.

    Daniel Harahap:
    Mari kita saling bermaaf-maafan. Minal aidin wal faidzin. :-)

  25. ellen marbun on September 20, 2008 at 9:00 am

    aku ndak mudheng AP, mudah2an ntar ada yg ngajari…..tapi kuucapkan selamat buat semua fungsionaris HKBP terutama para praeses…..iih…. ladang sudah menanti lho amang-inang praeses, ada yg bagus padinya ada yg kaya supertoy, ada yg lg meradang….tapi baeni gabe peluang dan tantangan jgn jd kelemahan dan hambatan… OK? KEEP THE FAITH! (….as Mr.DTA)

    Daniel Harahap:
    Sebagai warga HKBP yang baik harus “mudheng” atau ngerti AP. Kalau tidak punya bukunya minta kepada pendeta agar dibagikan. Kalau sudah dibagi, bacalah seksama.

  26. P. Panggabean on September 20, 2008 at 12:27 pm

    Aturan Peraturan (AP) HKBP ? Saya tidak yakin kalau para pendeta mengerti makna dari AP tsb. Karena apa ? Dalam AP jelas dinyatakan hak-hak ruas, namun pada kenyataannya ? Seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan oleh ruas (tardidi, malua, Pasu-pasu Parbagasan, dll) harus membayar sekian kaleng beras ? lantas mana hak itu ? mana “kemengertian” dari para pendeta tentang AP itu ? Jadi kalau amang menyatakan penempatan para praeses sudah sesuai dengan AP, itu hanya sepihak.

    Oleh karena itu untuk menghindarkan KKN dalam SG, saya usul, kalau mau milih Pimpinan HKBP sebenarnya gampang kalau kita sama-sama mau, caranya ? Semua para kandidat pimpinan HKBP dilakukan Fit & Proper Test, kemudian bagi yang lolos Fit & Proper Test tsb, namanya dituliskan dalam 1 lembar kertas dan dimasukkan kedalam sebuah kotak, lalu dipanggil seorang anak yang masih lugu (balita), kemudian didoakan, lalu si anak disuruh untuk mengambil selembar kertas tadi, nah nama siapapun yang berhasil diambil si anak tadi, itulah yang menjadi pimpinan HKBP, begitulah seterusnya dilakukan untuk masing-masing Pimpinan sampai kepada tingkat Praeses, gampang kan ?

    Daniel Harahap:
    Amang jangan terlalu kejamlah. :-) Dan jangan campur-adukkan masalah pemilihan praeses dengan urusan hamauliateon. Penempatan praeses oleh rapat pimpinan memang sudah sesuai aturan. Jika aturan tidak membuat kriteria dan syarat serta mekanisme penempatan ya mari kita buat.

    Sejak dulu sampai sekarang saya sebagai pendeta tidak pernah mengkaitkan pelayanan dengan persembahan. Belum pernah sekali pun saya bertanya kepada warga yang hendak membaptiskan anak, mengikuti peneguhan sidi, atau menikahkan anak apakah sudah membayar persembahan tahunannya. Bahkan juga tidak pernah menanyakan berapakah hamauliateonnya. Dan pendeta yang seperti saya adalah banyak.

    Mengenai sistem pemilihan undian ala mencari “dalai lama” yang Amang maksud tidak dikenal dalam gereja. Memang pernah dikatakan di Alkitab namun hanya sekali itu saja. Bahkan gereja Katolik sendiri dalam pemilihan Paus tidak memakai sistem undian seperti Amang maksud, namun tetap voting. Bedanya sistemnya dibuat sangat tertutup dan rahasia. Saya tetap menolak sistem undian. Saya lebih percaya kemampuan manusia yang berdosa namun dibenarkan Tuhan untuk memilih daripada dadu yang diberi label “kehendak Tuhan”. :-) Mari kita perbaiki sistem pemilihan fungsionaris HKBP dengan tetap mengandaikan tanggungjawab kita memilih dan menanggung konsekuensinya.

  27. andohar purba on September 21, 2008 at 3:06 pm

    Dari diskusi carut-marut ini saya semakin mendalami beberapa masalah yang mengakar dalam sistem penempatan dan berbagai efek lanjutannya dalam hkbp. Diskusi dalam sinode yang memakan banyak waktu tampaknya belum dapat mewakili realitas yang harus dihadapi setelah mengambil satu keputusan. Masih perlu banyak belajar, diskusi, pertimbangan ulang, untuk menghasilkan kelajutan keputusan yang dapat diterima banyak pihak.

    Diskusi terbuka seperti di forum ini memberikan banyak masukan bagi saya yang bukan jemaat HKBP. Menangkap berbagai dinamika pendapat dalam pemahaman dari bawah. Orang batak memang suka diskusi dan mempelajari banyak perbedaan pendapat sebelum menimbang-nimbang dan mulai membangun keputusan, ya? Selamat mengikuti sidang sinode metmet di blog abang DTAH.

    Semangat!
    :D

  28. Rudi Juan Sipahutar on September 22, 2008 at 2:06 pm

    Untuk rekan-rekan Milis rumametmet yang berbahagia,

    Langkah pertama kita harus sepakat ” Sistem HKBP tidak mudah di perbaharui dengan sekejap mata atau kalo istilah tinju sekali pukul langsung KO”. butuh tahapan dan berkesinambungan..
    kalo kita sepakat hal ini maka kita baru melangkah…

    Secara praksis dan sederhana kita semua bergerak bersama dan saling terkait mengadakan pendekatan Sistem.

    Pendekatan sistem adalah pendekatan secara rendah hati, yang mendorong masing -masing kita sebagai komponen HKBP mengunakan nalar n intuisi serta menggunakan bahasa metafor n bahasa artistik.
    koq bahasaku jadi ribet yach..

    begini maksud saya,
    Pertama-tama, sama seperti seorang yang sedang belajar mengendarai sepeda. Ia akan bingung dan gagap kendali, karena merasa harus banyak komponen yang harus di kuasai. setiap kali ia memfokuskan diri pada suatu komponen, maka komponen – komponen lain akan luput dari perhatiaanya.
    Seorang anak yang baru belajar naik sepeda dan hanya berkonsentrasi pada pedalnya, dengan mudah akan menabrak orang lain karena ia tidak mengendalikan stir/stang sepedanya.

    Singkatnya gini aja deh,

    1. Syaratnya harus memiliki sikap kepemimpinan, andal dalam observasi,mampu berkomunikasi,serta membuat proses pemetaan yang ada. mampu mengadakan pendekatan flexibel dan tidak akan putus asa.

    2.menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang mampu sendirian mengendalikan sistem tadi. semua skill, sikap, dan pengalaman tidak cukup layak untuk di andalkan kalo anda One man show.
    semakin anda berusaha sendiri, egosentris. maka semakin banyak bagian esensial dan kompleksitas tadi yang akan luput.
    justru ‘ kesadaran para milis Rumametmet yang tercinta ini” harus memberikan suatu “perasaan bebas” untuk melakukan berbagai eksplorasi, eksperimen dan kesalahan (sangat mungkin terjadi)
    >>tanpa maksud untuk memuji Bang DTA,
    Kita harus sadar beliau sudah memperjuangkan ini lho.. tapi kurang dukungan.

    3. ?
    4.?

    Untuk poin 3 dan 4, saya percayakan kepada para Pendeta- pendeta HKBP secara khusus peserta “sinode godang” yang menjawabnya. Saya berharap mereka bersedia melanjutkanya dengan hati yang jujur n lurus..siapapun, boleh ! (berharap di luar Bang DTA)

    Jujur, saya hanya naposo bulung. Sungguh !
    saya sangat menghormati Bapak -bapak Pendeta kita ini.
    Saya malu juga, dikirain mendikte dan mengajari..

    Maafkan saya.
    Rudi juan carlos sipahutar
    _naposo ni HKBP-

  29. Rudi Juan Sipahutar on September 22, 2008 at 2:12 pm

    pendapat saya ini mungkin bisa mendukung koment terdahulu di Rubrik judul:
    -MPS hanya tukang stempel atau anting-anting-

  30. jaiman butarbutar on September 30, 2008 at 11:29 am

    Horas…. banyak sekali komentar ttg penempatan para pendeta sebagai pimpinan distrik, itu semua sah-sah saja, saya hanya mengharapkan kalau praeses distrik xxii riau sudah dilantik kelak, sekali-kali gereja kami mbok dikunjungi……… jgn seperti praeses yang lalu-lalu, …… ada yang berkunjung setelah ia akan menghadap Sang Khalik, tapi masih mending….. ada pula yang sama sekali selama masa jabatannya tidak pernah mengunjungi resort kami…… pada hal cuma……jarak 3 km saja dari distrik…. Horasss selamat bertugas para praeses yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*