Gereja-gereja di Silindung, Humbang & Toba

September 13, 2008
By

Sabar. Rapat MPS berikut pasti akan saya sempatkan memotret sebagian lagi gereja-gereja HKBP di Toba, Humbang dan Silindung dan dimana saja yang saya lewati dan mampu mampiri. Sementara ini dululah. Saya pikir suatu saat koleksi foto-foto gereja HKBP di pedesaan dan di perkotaan ini ada gunanya. (Foto2 HKBP dapat dilihat di Galeri Foto saya di Picasa Ruma Metmet). Dulu bersama dua teman arsitek Erwinthon Napitupulu dan Jimmy Purba kami sempat berangan-angan membuat studi dan pendokumentasian arsitektur HKBP. Namun angan-angan masih tetap ingin-ingin. Sementara saya kumpulkan dulu foto sebanyak-banyaknya. Mungkin besok lusa kawan arsitek bisa menstudikannya dan para donatur membiayai studinya, termasuk membuat sebuah buku panduan membangun gereja hkbp. Atau: buku foto gereja HKBP? Tidak mustahil.

gereja-hkbp-sipintu-pintu.JPG

gereja-hkbp-simanungkalit.JPGgereja-hkbp-lumban-baringin.JPGgereja-hkbp-tangga-batu-tampahan.JPG

gereja-hkbp-sigumpar-1.JPGgereja-hkbp-jangga-dolok.JPGgereja-hkbp-lumban-lobu.JPGgereja-hkbp-hutaginjang.JPG

Foto-foto lain menyusul.

Album Foto Ruma Metmet

Share on Facebook

11 Responses to Gereja-gereja di Silindung, Humbang & Toba

  1. elumban on September 13, 2008 at 7:50 am

    Saya pernah ke HKBP Parapat ……………luar biasa……Bagus sekali

    Daniel Harahap:
    Amang, gereja kayu HKBP Parapat sudah diruntuhkan dan dibangun yang baru. Menurut saya, maaf, arsitektur HKBP Parapat yang baru, tak lebih mencerminkan semangat orang kota untuk gagah-gagahan di desa. Sayang, saya tidak sempat mengabadikan gereja Parapat yang lama. Ah, rupanya bukan hutan saja yang habis ditebangi orang kota, tetapi juga gereja-gereja kayu. :-(

  2. todungrs on September 13, 2008 at 9:28 am

    Amang, kenapa tidak berusaha mampir ke Dolok Sanggul, masih ada gereja kayu yang tidak lagi dipakai disana. Dengar-dengar mau dibuat aula untuk pesta.

    Aristekturnya mirip dengan HKBP Lumban Baringin Sipoholon itu.

    Waktu kecil, aku dan teman-teman sekolah minggu suka naik ke menara lonceng yang tinggi itu. Dikejar-kerja Voorhanger karena lonceng gereja bunyi. Kalau main petak umpet, malah kami suka jalan-jalan di atas plafon kayu, tanpa tahu ada bahaya yang mungkin menimpa.

    Tapi secara umum, aku suka sekali dengan interior gereja kayu HKBP Doloksanggul itu, semua dari kayu kecuali setengah dinding batu kali.

  3. Olivia E.S on September 13, 2008 at 11:48 am

    Wah ..saya kira tadi greja Dame di Saitnihuta…warnanya sama hijau, tapi ternyata berbeda. Amg tidak ke Saitnihuta ? disitu ada greja Dame namanya tempat pertama sekali Ompu Nomensen membuat greja yang lama status Quo karena menjadi sengketa HKBP & GKPI. Tapi sekarang sdh resmi menjadi HKBP dan untuk jemaat GKPI telah dibangun dengan type yang sama di dekat sungai Aek Sigeaon? oleh orang2 Jakarta (turunan Ompu Sumurung) supaya jemaat berdamai-damai bisa berbakti dengan tenang. Grejanya bagus antik, terbuat dari kayu dan berlantai dua naik dari sayap kiri dan kanan, sedangkan yang dibangun untuk GKPI terbuat dari beton……..wah galery foto amg bagus2 banget ga ketahuan tkg foto amatiran lagaknya kayak profesional….:-) tapi masukin dong amng foto gereja kami Jatiwaringin koq belum ada??

    Daniel Harahap:
    Kenapa foto HKBP Jatiwaringin belum ada ya?! :) Nantilah persis saya diundang ke sana saya sekalian bawa kamera. :-)

  4. dharma hutauruk on September 13, 2008 at 12:52 pm

    Hingga kelas 2 SR saya berada di lingkungan Lumban Baringin, Simanungkalit dan Situmeang Habinsaran.
    Di Gereja HKBP Lumban Baringin, seingatku saya pernah diajak khusus oleh Ompung Bibelfrow untuk Pajojorhon bersama kedua Abangku (Rizal dan Leonidas) karena Ompung kami (Guru Klaudius) lama menjadi pemimpin di jemaat ini dan tinggal di Godung.
    Sedangkan di Simanungkalit, saya dilahirkan di kompleks Seminari tersebut dan rumah kami hanya berjarak 100an meter dari Gereja.
    HKBP Situmeang tentu istimewa karena saya bersekolah minggu di sana. Masih seperti dulu gambarannya.
    Kami sedang menyelesaikan buku tentang Gereja di Indonesia.
    Mudah-mudahan gereja gereja Batak banyak yang istimewa hingga termuat dalam buku tersebut.

  5. Rudi Juan Carlos Sipahutar on September 13, 2008 at 2:11 pm

    Bang DTA, numpang curhat yach..

    Dalam perjalanan hidup yang panjang, saya selalu berpindah-pindah Gereja dari HKBP ke hkbp yang lain. Terpaksa. karena harus mengikut ortu yang harus pindah tugas dinas. Dilahirkan di tanah NATAL, terbabtis di HKBP Tano Tombangan (entahlah, masih exist nga gereja tersebut ? karena setelah itu tak pernah lagi saya kembali ke sana, bahkan tak sempat melihat/meninjak/menginjak kaki di gereja itu)

    Masa sekolah minggu lebih nga jelas lagi; pertama di HKBP Pagarbatu, kec Sipoholon, truss ke HKBP Pearaja Tarutung, pindah ke HKBP pulo Sicanang Belawan, eh pindah lagi ke HKBP Binjai, kemudian harus mudik lagi ke HKBP Pardomuan Silangkitang Kec Sipoholon, disanalah saya numpang marguru malua dan katekhisasi.

    Masa remaja yang energik, memacu langkah kaki untuk bergereja dari HKBP ke HKBP di sepanjang aliran SUNGAI AEK SIGEAON termasuk ke dua GEREJA YANG DI FOTO DI ATAS. Walau sekarang sudah melanglang buana di KOTA MACET ini, tetap juga pindah dari HKBP kramat jati dan di RAWAMANGUN, kini di HKBP JATISAMPURNA Kranggan.

    he…he…he…
    Semua dinamika masa itu berkesan dan punyai pengalaman unik sendiri. Kalo harus memilih yang paling berkesan : ” pengen rasanya kembali ke HKBP tempat saya di babtis dan anugerahkan nama ini”, ingin rasanya berbagi makna hidup buat jemaat di sana. Tapi kapan lah Ya ?

  6. JoeS on September 14, 2008 at 11:56 am

    Amang,
    Pertama nih kasih komen.
    Ada gereja HKBP di desa Betara (Pematang Lumut) – Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi perlu perhatian donatur untuk kelanjutan pembangunannya. Lantai masih tanah, dinding bata belum plester tapi masih belum penuh, dan dinding belakang mimbar masih triplex bekas box barang. Ruas yang bergereja umumnya 20-an, komunitas batak di sini juga sedikit. Lokasinya masuk ke kebun warga – jalan tanah sempit penuh ilalang.

    Aku mau kirim foto nya supaya kita tidak hanya kagum dengan gereja HKBP yang menjulang megah dan indah, tapi juga ada gereja HKBP nun jauh di daerah terpencil, dibangun swadaya oleh ruas berpenghasilan rendah dan kemampuan ekonomi apa adanya, tapi dikelola dengan sepenuh hati dan suka cita.
    Supaya kita juga lihat, masih banyak gereja HKBP sejenis bertebaran di luar daerah sumut yang dibangun dengan perjuangan luar biasa dan keteguhan iman dan kerinduan bersekutu ruasNA.

  7. okta sihotang on September 14, 2008 at 9:27 pm

    wah….gereja sigumpar keliatannya ada tuh..

    salam kenal tulang…horas ;)

  8. lambas siregar on September 15, 2008 at 12:41 pm

    Setelah mengamati tampilan foto-foto gereja di Bonapasogit ini, jadi teringat kenangan dulu ” indahnya masa magodang tikki marminggu “. Tapi setelah mangaranto ada kesadaran dan kegalauan, mengapa kita para pangaranto punya semangat berlomba-lomba menggelontorkan dana ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk mega proyek kuburan leluhur. Padahal dari banyak segi/aspek tidak berdampak.
    Sian gareja nunga dipaborhat godang nitangiang hita angka pangaranto alai godangan tu udean do tapasahat tumpak. Bah puang..ambal nai.
    Kuburan jadi seperti istana berkeramik tapi garejantai nunga lam sega.
    Seandainya dana angka pangaranto dihimpun untuk pembangunan /renovasi, uli nai ate gabe lam masihol muse hita mulak mamereng dan membangun bona pasogitai.
    Ruas dan parhaladopun semakin semangat melayani apalagi pandita.
    Apalagi muse di sekitar gereja ada sekolah dan klinik pasti ada transformasi sosial sehingga gereja semakin hidup membangun kerohanian.

  9. aeksarulla on September 15, 2008 at 10:54 pm

    pas ma nanidok muna i lae lambas. Pos do rohangku nga godang ditongos lae tu pembangunan ni gareja ta di pahae

  10. Iyus Doloksaribu on September 16, 2008 at 9:28 am

    Saya lahir persis di depan gereja Lumban Lobu itu, dulu bapakku guru huria disana, dan pensiun muda disana, :)
    Gereja ini sudah diperbaiki, jalan menuju ke atas juga sudah aspal. Terakhir mengobrol dengan orang disana, biasalah ada saja suara-suara apatis :) , tidak dilanjutkan lagi pembangunan yang tersisa, uangnya dikorupsikan, saya juga bingung dengan statement seperti itu :p..ko orang susah bersyukur ya? pdhal gereja itu indah ko. Hingga kini, saya selalu menyempatkan diri kesana jika pulang kampung ke Siraituruk,, berbincang sebentar dengan orang-orang disana,
    angin disana kencang..dengan termos kecil isi kopi, saya menyebutnya My hiding place..
    mangalului sotul :) Sayang bona ni sotul nya terbakar yang disamping bawah gereja, aku tanya, ternyata karena musim kering lho, bukan karena dibakar…:)

    Terimakasih banyak amang sudah posting photo-photo yang indah. sungguh..

  11. Castle Sianipar on September 18, 2008 at 12:26 pm

    Sekolah Minggu mengatakan:
    “Gereja bukanlah gedungnya…….dan bukan pula menaranya……..bukalah pintunya lihat di di dalamnya………gereja adalah ORANGNYA…!!! (yang mana dan siapa iu?)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*