Contohlah Bapamu

August 27, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Rabu 27 Agustus 2008:

sungai-22.jpg

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. (Lukas 6:36)

Alkitab menyaksikan bahwa Allah Bapa kita bukanlah Allah yang kikir apalagi serakah. Allah kita penuh dengan kemurahan. Sebab itulah sang pemazmur berkata: KemurahanMu membuat aku besar. (Mazmur 18:36). Kebajikan dan kemurahan mengikuti aku seumur hidupku (Mazmur 23:6). Seumur hidup Dia murah hati.

Dalam kitab Yeremia kita baca Allah sendiri memproklamirkan diriNya sebagai Tuhan yang murah hati. (Yeremia 3:12). Kita diselamatkan hanyalah karena kemurahan Allah itu. (Titus 3:4). Allah memberi selalu dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit (Yakobus 1:5). Ya, Allah ingin menunjukkan kemurahanNya kepada semua orang. (Roma 11:32).

Ayat hari ini mengajak kita mencontoh Allah Bapa kita dalam kemurahan ini. Bapa kita sangat murah hati sebab itu kita pun harus belajar murah hati juga. Kita telah menerima kemurahan Allah berlimpah-limpah sebab itu kita harus belajar memberi kemurahan kepada sesama. Karena itu kenakanlah kemurahan (Kol 3:12). Kayalah dalam kemurahan (2 Kor8:12, 9:11). Mengasihi itu artinya murah hati (1 Kor 13:4). Lakukanlah kemurahan dengan sukacita (Roma 12:8) sebab orang yang bermurah hati kepada sesama sama artinya berbuat baik kepada dirinya sendiri. (Amsal 11:17).

Ada pameo mengatakan: rebung tak pernah tumbuh jauh dari rumpunnya dan buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Artinya kelakuan anak selalu mirip atau sama dengan orangtuanya. Allah Bapa kita sungguh murah hati. Bagaimana dengan kita? Jika tidak, apa sebenarnya yang terjadi dengan kita?

Pada akhirnya baiklah kita ingat perkataan Yesus: berbahagialah orang yang murah hati karena mereka akan beroleh kemurahan Allah. (Matius 5:7)

Doa:

Ya Allah Bapa kami. Engkau sungguh murah hati. HatiMu melimpah dengan kasih. TanganMu tidak pernah jemu memberi dan memberkati. Sebaliknya Engkau tidak pernah menuntut apa-apa dari kami kecuali agar kami hidup setia, rendah hati dan adil. Ya Bapa, ajarlah juga kami bermurah hati seperti Engkau. Bukalah mata hati kami kepada kasihMu yang tak bersyarat dan tak berbatas itu agar kami belajar darinya. Engkau bersukacita dan berbahagia karena Engkau murah hati dan baik. Biarlah kami juga mengalami hal yang sama. Demi Kristus, Sang Pengasih. AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

4 Responses to Contohlah Bapamu

  1. coken060575 on August 27, 2008 at 9:16 am

    Disaat hidup pas-pas-an susah untuk memberi, boro-boro mau meberi, makan tiga kali sehari pun bisa pas sampai akhir bulan sudah syukur. Ada keinginan berbagi, tapi pasti mikirnya berulang kali, takut yang ada skrg tidak cukup sampai akhir bulan. Dalam keadaan seperti itu Amang, apakah salah kalau kita tidak dapat berbagi?

    Daniel Harahap:
    Bagian doa Fransiskus dari Asisi yang sangat terkenal itu:
    ………………………………………….
    agar kami tidak hanya ingin menerima, tetapi mau memberi
    agar kami tidak hanya ingin dimengerti, tetapi harus mengerti
    agar kami tidak hanya ingin dikasihi, tetapi terutama dapat mengasihi
    karena dengan memberi kami menerima
    dengan mengerti kami dimengerti
    dengan mengasihi kami dikasihi
    dengan menjadi miskin kami menjadi kaya
    dengan mati bersama Dikau kami hidup kembali.

  2. Hodner L T on August 27, 2008 at 9:43 am

    Terima kasih atas renungannya Amang. Bolehkah saya berpendapat bahwa murah hati itu sama dengan pemaaf, peduli terhadap sesama, tanpa harus terikat kepada pemberian ? (kadang-kadang kita tidak dapat membantu dalam bentuk materi karena keterbatasan ekonomi). Dan kalau Amang sempat mohon pencerahan atas defenisi “murah hati” dalam bahasa yang lebih sederhana.

    Daniel Harahap:
    Murah hati itu memang artinya suka memberi. Apa yang harus diberi? Semua: waktu, hati, tenaga, pikiran, kesempatan, dan juga uang. Kalau memang tidak ada uang ya tentu tidak bisa memberi uang. Tapi kalau memang ada uang, jangan mengatakan: yang penting memberi maaf atau perhatian (dll yang tidak ada nilai ekonomisnya). :-)

    Catatan: pernyataan di atas berlaku juga untuk saya. :-)

  3. r.h. sibuea on August 27, 2008 at 4:53 pm

    Dalam kehidupan modern, murah hati sering sekali di kaitkan dengan uang sehingga membuat kita enggan untuk bermurah hati. Empati terkadang lebih baik dari pada bantuan fisik…mengasihi dan memperhatikan seseorang dan mau menjadi tempat berbagi juga merupakan sikap bermurah hati. Ingat di Amerika penyakit “sick parental down” melanda anak-anak membuat mereka tidak punya motivasi. Ayah super sibuk bahkan tidak ada waktu untuk berbagi cerita di sekolah atau untuk hari ulangtahunnya sekalipun. Bahkan masalah “memberi waktu bagi anak sudah masuk KOMNAS HAM Amerika”…itulah bermurah hati …

    Daniel Harahap:
    Kalau yang mengatakan di atas seorang yang belum bekerja dan berpenghasilan tetap, atau sudah bekerja namun berpenghasilan pas-pasan, atau malah sudah pensiun dan tidak memiliki banyak deposito maka dapat diterima. Namun jika yang mengatakannya seorang yang berduit maka itu bisa diartikan yang bersangkutan masih harus belajar lebih banyak bermurah hati. :-)

  4. RJC Sipahutar on August 27, 2008 at 5:36 pm

    Bapa di surga memang murah hati, tapi tidak “Murahan”
    Dia memberi dengan penuh tanggungjawab.

    Maka marilah kita memberi dengan bertanggungjawab pula….

    Daniel Harahap:
    Yang menerima juga harus bertanggungjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*