SERMON MINGGU INI
Bahan: Pengkotbah 5:17-19
2. Berbeda dengan kitab Amsal yang sangat memujikan kerajinan dan ketekunan serta kerja keras, kitab Pengkotbah justru ingin mengajak manusia mempertanyakan dan meninjau ulang makna pekerjaan, usaha dan segala jerih lelah yang dilakukannya (Pengkotbah 3:9-10). Sebab menurut sang pengkotbah hal itu pun bisa merupakan kesia-siaan belaka. Sebab itu pengkotbah alih-alih memusingkan diri dengan terlalu banyak hal justru mengajak kita untuk bersenang-senang dan menikmati hidup. Dan pesan ini pun harus kita cermati agar tidak salah tafsir. Apakah memang benar kita lebih baik bersenang-senang saja selama di dunia ini? Sebab pengkotbah pun mengatakan: pergi ke rumah duka lebih baik dari pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia, hendaklah orang yang hidup memperhatikannya. (Pengkotbah 7:2). Artinya: kesenangan dan kenikmatan hidup itu pun harus dipertanyakan dan digugat juga. Maksudnya tetap harus ditempatkan dalam iman dan takut kepada Tuhan. (Baca: Pengkotbah 11:9)
3. Manusia diciptakan Tuhan untuk bekerja dan tidak hanya untuk bersantai-santai atau bermalas-malas. Pekerjaan, usaha dan karya serta kreatifitas manusia janganlah dipandang sebagai hukuman atau akibat dosa. Tuhan sejak awal menciptakan manusia dengan akal budi, hati nurani, kehendak dan kreatifitas. Artinya: Tuhan sejak awal sudah menciptakan kita untuk bekerja. Gambaran Adam dan Hawa yang hanya berleha-leha di Taman Firdaus menurut kami keliru dan karena itu harus kita buang dari benak kita. Di Taman Firdaus itu Adam dan Hawa justru bekerja mengurus dan memelihara taman itu (baca: Kejadian 2:15). Sebab itu bekerja dan berkarya pada dasarnya sangat menyenangkan dan membahagiakan manusia. Manusia akan kehilangan sukacita dan makna hidupnya jika tidak diijinkan bekerja. Disini kita disadarkan bahwa sukacita dan kebahagiaan diperoleh manusia bukan hanya karena bisa beristirahat, namun bisa juga justru karena bekerja dan berkarya.
4. Namun dalam kehidupan ini selalu ada dua ekstrim. Ada sebagian orang yang sangat malas bekerja dan berusaha. Mereka hanya mau menerima enak atau gampangnya, menunggu-nunggu keajaiban, melamun dan berleha-leha. Kepada orang tipe ini Rasul Paulus mengatakan: janganlah makan. (2 Tes 3:10). Namun, ada orang dengan tipe sebaliknya. Mereka justru terus-menerus bekerja atau “gila kerja” (workaholic). Terhadap orang ini Alkitab mengatakan: hormatilah hari Sabat. Itu artinya kita dipanggil hidup dalam keseimbangan, ketenangan dan penguasaan diri.
5. Rasul Paulus mengajak kita untuk bersukacita selalu dalam Tuhan (Filipi 4:4). Nabi Habakuk mengajak kita tetap gembira dalam keadaan yang paling sulit sekali pun. (Hab 3:17-19). Hati yang gembira adalah obat yang manjur (Amsal 17:22). Alkitab penuh dengan ajakan bersukacita. Dan ingat: salah satu buah Roh Kudus adalah: sukacita (Gal 5:22, Roma 14:17). Namun kita diingatkan bahwa agar dalam kegembiraan dan sukacita sekali pun kita tetap waspada dan mengingat Tuhan sebab pada akhirnya kita harus menghadap pengadilan Allah. (Pengkotbah 11:9-10)
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Mungkin menurut Pengkotbah.. Apa yang kita lakukan membanjiri sinode dengan sms adalah sia-sia, karena Allah adalah Alpha dan Omega. Allah sudah menentukan siapa yang akan menjadi Ephorus dan bagaimana hasil Sinode 2008. Tapi Tuhan memerintahkan kita untuk tampil sebagai pembaharu. Mengingatkan para sinodestan agar menjadi pembaharu. Untuk itu kita tidak boleh membiarkan hkbp sakit (dengan catatan kita jangan sampai sakit mikirin itu semua ) Santai aja tapi serius OK.
Daniel Harahap:
Nunga piga di SMS hamu? Na pasti so sahat dope SMS-muna tu iba.
horas amang!
Daniel Harahap:
Horas jugalah!