7 (TUJUH) AGENDA REFORMASI HKBP

August 25, 2008
By Daniel T.A. Harahap

gereja-hkbp-tomok-5.JPG

7 (TUJUH) AGENDA REFORMASI HKBP (draft pertama)

(Usulan untuk menjadi bahan kajian dan aksi anggota jemaat HKBP. Silahkan diperbanyak dan dibagikan kepada para anggota dan pelayan HKBP terutama pendeta resort dan utusan ke Sinode Godang HKBP)

AGENDA PERTAMA: PERIODESASI SINTUA DAN GURU SM

(1) Alasan teologis: Seluruh warga gereja terpanggil untuk melayani dalam gereja HKBP menjadi saksi, pelayan, murid, dan hamba Tuhan. (1 Pet 2:9, Kis 1:8, Ef 4:12-13). Dengan sistem periodesasi sintua dan guru SM maka seluruh warga gereja HKBP mendapat kesempatan seluas-luasnya berpartisipasi dan terlibat penuh dalam kehidupan gereja termasuk proses pengambilan keputusan.

(2) Alasan kultural/ sosiologis: sistem sintua dan guru SM seumur hidup sangat bertentangan dengan kultur Batak yang sangat menjunjung pergiliran peran dan jabatan, kesetaraan, parjambaran hata, ulaon, & juhut (hak mendapat bagian dalam bicara, kerja dan makanan). Sebaliknya sistem periodik sangat sinkron dengan kultur batak yang sangat mendambakan peran dan tanggungjawab dalam kehidupan persekutuan.

(3) Alasan manajemen/ praktis: sistem sintua seumur hidup telah mematikan kesempatan bagi jemaat-jemaat HKBP untuk melakukan fungsi-fungsi manajemen seperti: penyegaran kemajelisan, pemberian penghargaan kepada yang berprestasi, penggantian penatua yang tidak becus, dan kreatifitas. Di sampung itu sistem sintua seumur hidup telah mendorong tumbuhnya kepentingan2 pribadi dan kelompok serta sulitnya rekonsiliasi di beberapa tempat.


AGENDA KEDUA: TRANSPARANSI KEUANGAN HKBP (pembuatan laporan pengeluaran-penerimaan huria kepada jemaat mingguan, bulanan dan tahunan)

(1) Alasan teologis: Sebagai hamba yang dipercaya memelihara harta Tuhan Yesus Kristus, gereja HKBP harus menjadi hamba yang setia dan dapat dipercaya dalam hal keuangan (Luk 16:10). Seluruh keuangan dan asset HKBP pada dasarnya adalah milik Tuhan, sebab itu harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan melalui jemaat. Persembahan disampaikan oleh jemaat kepada Tuhan. Parhalado dan Bendahara HKBP bukanlah Tuhan, namun hanyalah hamba Tuhan yang dipercaya mengelola uang persembahan itu, sebab itu harus melaporkannya dengan terang dan jelas.

(2) Alasan kultural/ sosiologis: Anggota HKBP yang mayoritas berlatar belakang budaya Batak sangat menjunjung prinsip transparansi atau keterbukaan (tedek songon indahan di balanga – terbuka seperti nasi di kuali), namun sangat mencurigai ketertutupan dan kegelapan. Keterbukaan dalam bidang keuangan mengundang partisipasi warga jemaat untuk memberi lebih besar lagi dan juga merupakan bukti bahwa pendeta dan para parhalado bersih dan jujur dalam keuangan dan tidak memiliki niat2 tersembunyi.

(3) Alasan manajemen/ praktis: Dengan pembuatan laporan pengeluaran keuangan secara mingguan, bulanan dan tahunan, gereja telah menterapkan sistem pengawasan public yang sangat efektif. Seluruh penggunaan uang gereja diawasi langsung oleh warga jemaat. Pada gilirannya hal ini akan mendorong parhalado dan semua unit pengguna uang gereja agar semakin berhati-hati mengelola uang yang dipercayakan kepadanya, dan memperkecil niat para pelayan yang masih manusia berdosa untuk melakukan manipulasi.


AGENDA KETIGA: RESTRUKTURISASI HKBP (PENCIUTAN JUMLAH JEMAAT DAN DISTRIK SERTA PENGHAPUSAN RESOR)

(1) Alasan Teologis: Tuhan memanggil kita menghayati iman dan kasih serta berbagai anugerahNya dalam persekutuan jemaat lokal. Sebab itu yang harus kita memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada pertumbuhan dan pengembangan kehidupan jemaat lokal (huria) ini dan tidak terpaku kepada resor dan distrik yang merupakan fungsi manajemen belaka yang bisa diubah sesuai kebutuhan dan keadaan jaman.

(2) Alasan kultural/ sosiologis: Budaya Batak yang dihayati sebagian besar anggota HKBP sangat bersifat desentralistis dan menjunjung otonomi persekutuan lokal atau jemaat. Dalam sejarah jemaat-jemaat lokal HKBP bersifat otonom dan mandiri termasuk dibidang keuangan. Ini merupakan modal yang sangat besar bagi HKBP untuk mengembangkan kehidupan gereja yang benar-benar berbasis kepada jemaat.

(3) Alasan manajemen/ praktis: Pemekaran jemaat, resor dan distrik HKBP selama ini seringkali bersifat alamiah, insidentil atau tidak direncanakan dengan sistematis. Dalam beberapa waktu terakhir, terutama sesudah konflik besar tahun 90-an, pemekaran jemaat dan resor juga distrik tidak terkendali. Agar HKBP dapat bergerak dengan lincah dan dinamis maka kita perlu melakukan perampingan organisasi HKBP dengan menggabungkan jemaat-jemaat yang kecil dan berdekatan serta menciutkan jumlah distrik. Selanjutnya resor dihapuskan sebab hanya merupakan duplikasi kegiatan jemaat sebab itu merupakan pemborosan yang sangat besar. Untuk fungsi koordinasi kita dapat mendorong beberapa jemaat yang berdekatan dan memiliki kemiripan untuk membentuk konven atau musyawarah pelayanan. Tentu saja dalam melakukan restrukturisasi ini kita memerlukan perhitungan cermat, penjadwalan dan proses penyesuaian khususnya di jemaat-jemaat pedesaan Tapanuli. Namun hal ini tidak mengurangi tuntutan perlunya penggabungan jemaat-jemaat lokal yang berdekatan dalam rangka efektifitas dan efisiensi pelayanan.

AGENDA KEEMPAT: PENETAPAN 20% ANGGARAN BELANJA JEMAAT UNTUK SEKOLAH MINGGU DAN 20 % UNTUK DIAKONIA.

(1) Alasan teologis: Yesus mengatakan “dimana hartamu di situ juga hatimu”. Artinya: anggaran menunjukkan minat dan perhatian. Dengan menetapkan 20% anggaran keseluruhan jemaat untuk pembinaan Sekolah Minggu, Remaja dan Pemuda, kita hendak melatih jemaat-jemaat HKBP untuk memberikan perhatian dan pemikiran serius kepada anak-anak, remaja dan pemuda. Begitu juga penetapan anggaran 20% untuk diakonia juga merupakan bagian dari tanggungjawab nyata HKBP yang berkesinambungan kepada orang-orang miskin, kecil dan lemah.

(2) Alasan kultural/sosiologis: Kultur Batak sangat menekankan pendidikan anak. Dengan memberikan pemikiran dan juga anggaran signifikan kepada pendidikan anak HKBP juga meraih dukungan dari warganya yang mayoritas Batak

(3) Alasan manajemen/ praktis: HKBP mesti belajar untuk menetapkan anggaran berdasarkan prioritas dan pola, dan tidak bisa berdasarkan suasana hati atau selera orang-orang tertentu. Selain itu dengan menetapkan anggaran yang sangat signifikan untuk pembinaan dan pelayanan diakonia, HKBP menepis tuduhan bahwa gereja HKBP hanya menarik uang dari anggotanya namun tidak mengembalikannya kepada jemaat dalam bentuk pembinaan dan pelayanan yang nyata. Penetapan prosentase anggaran kepada pembinaan dan pelayanan diakonia ini pada gilirannya mendorong warga gereja untuk memberikan yang lebih besar lagi kepada gereja.

 

AGENDA KELIMA: PENYUSUNAN SISTEM PERENCANAAN KETENAGAAN HKBP

(1) Alasan teologis: Gereja sebagai umat Allah atau Tubuh Kristus perlu diorganisir menjadi rapih dan teratur. Perencanaan dan pembagian pekerjaan perlu dilakukan sebaik-baiknya. (Kel 18:13-26, Efesus 4:13-15, 1 Kor 12).

(2) Alasan manajemen/ praktis: Dengan menyusun suatu sistem perencanaan ketenagaan (dalam usia 146 tahun HKBP belum memiliki suatu perencanaan ketenagaan!) maka HKBP bukan saja dapat mengatasi masalah “kronik” di sekitar mutasi pendeta, namun malah menghasilkan tenaga-tenaga pelayan yang berkualitas, namun juga senatiasa mendorong pengembangan dan memaksimalkan kemampuan para pendeta untuk melayani jemaat.


AGENDA KEENAM: PENGUBAHAN SISTEM PERSEMBAHAN KE PUSAT MENJADI 20% DARI PEMASUKAN TOTAL JEMAAT SABAN MINGGU

(1) Alasan teologis: Pada dasarnya persembahan adalah ungkapan syukur dan pengakuan jemaat kepada Tuhan melalui gerejaNya. Gereja termasuk HKBP adalah perantara atau yang dipercayakan TUHAN mengelola persembahan itu. Sebab itu gereja dan unit-unit pelayanannya hanya dapat menggunakan persembahan itu atas perkenan TUHAN. Untuk memperjelas dan menekankan makna persembahan maka kita harus mengubah sistem pengumpulan persembahan di HKBP menjadi satu kali dan satu kantong/ kotak dalam setiap kebaktian. Selanjutnya menyederhanakan persembahan hanya 2(dua) macam yaitu persembahan syukur dan persembahan persepuluhan (Mal 3:10). Dari persembahan inilah seluruh aktifitas HKBP sebagai gereja dibiayai termasuk aktifitas HKBP di tingkat pusat dan distrik (catatan: kita bertekad menghapuskan resor). Dengan begitu warga jemaat juga diajar untuk tidak membeda-bedakan jemaat, distrik dan pusat dalam memberikan persembahan.

(2) Alasan kultural: HKBP yang anggotanya sebagian besar berlatar belakang Batak sangat menghargai dan menghayati konsepsi tentang berbagi secara adil (marbagi jambar) menurut patokan bukan sekadar menurut suasana hati sesaat. Dana yang ada sebab itu harus dibagi-bagi secara adil untuk mendukung pelayanan di semua unit termasuk di distrik dan pusat.

(3) Alasan manajemen/praktis: Dengan menterapkan sistem prosentase maka jemaat-jemaat lokal didorong untuk lebih jujur dan bertanggungjawab mendukung pelayanan HKBP di tingkat pusat dan distrik. Selain itu sistem prosentase ini juga memudahkan pengawasan. Sebaliknya dengan sistem prosentase (20% dari total pemasukan jemaat merupakan hak pusat dan 10% bagian hak distrik) maka unit HKBP di tingkat pusat dan distrik memiliki lebih banyak dana untuk melakukan kegiatan pelayanannya.


AGENDA KETUJUH: PEMBANGUNAN DATABASE HKBP

(1) Alasan teologis: Tuhan Yesus berpesan agar gereja mengenal umat yang dipercayakan kepada oleh Gembala Agung kepadanya (Yoh 10, Yehezkiel 18).. Sebab itu gereja HKBP harus bersungguh-sungguh membangun database untuk mengenali secara akurat keberadaan anggotanya dan memudahkan membangun pelayanan berdasarkan data tersebut.

(2) Alasan manajemen/ praktis: Tanpa database HKBP tidak mungkin menyusun perencanaan dan program yang tepat dan sesuai kebutuhan. (Jika dilakukan penyusunan program tanpa database pasti hasilnya kacau atau salah sasaran) Sebaliknya dengan adanya database selain membantu HKBP menyusun rencana dan program, maka perpindahan dan berbagai aktivitas lain anggota yang bersifat lintas jemaat dapat dengan mudah dilakukan.



Minggu Reformasi, Oktober 2007

Salam dan doa,

Pdt Daniel T.A. Harahap


Catatan: apa yang disajikan di atas merupakan draft pertama yang masih jauh dari sempurna, sebab itu silahkan dikritik, ditambah dan dikurangi, diperdalam dan diperkaya serta dikoreksi untuk kebaikan bersama dan HKBP masa depan.

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Tags: , , , , , , ,

24 Responses to 7 (TUJUH) AGENDA REFORMASI HKBP

  1. GELENG-GELENG on January 30, 2008 at 1:44 pm

    Usul :
    Agenda ke-8 :

    KEMANDIRIAN NAPOSO BULUNG HKBP

    Sebuah gerakan pembaharuan, bila ingin berhasil, selalu orang muda yang melakukan. Eksistensi orang muda juga syarat penting untuk kelanjutan perjalanan sebuah organisasi ( kaderisasi). Naposo Bulung bukan hanya objek pelayanan gereja, seperti halnya anak sekola Minggu, tapi sekaligus pelaku pelayanan. Sebuah organisasi (terutama yang besar seperti HKBP) tanpa generasi muda yang kuat akan layu dimakan usia.

    Agar generasi muda kuat, harus diberi hak KEMANDIRIAN. Di negara2 Barat, secara hukum para orang tua sudah tidak bisa memaksakan kehendaknya pada anaknya bila misalnya sudah mencapai umur 17 tahun. Tidak boleh melarang keluar dari rumah untuk tinggal sendiri… itu namanya melanggar hukum. Dibalik aturan ini sebenarnya terkandung semangat kemandirian yang kuat. Semangat mempercayai kemampuan dan potensi generasi muda-nya…….

    Dalam budaya Batak, anak-muda (yang belum kawin) tidak punya posisi dalam adat. Bila sudah kawin, barulah dia dianggap ‘dewasa’…. budaya ini jadinya terbawa-bawa ke organisasi gereja HKBP sampai saat ini. HKBP sebenarnya rugi besar dalam hal ini,…

    Karena itu tata gereja yang mengatur tentang KEMANDIRIAN Naposo Bulung perlu ditetapkan secara khusus. Berikanlah mereka hak yang lebih besar… kita tinggal mengawasi dari jauh mereka menjalankan kewajibannya sebagai anggota jemaat yang dewasa ….. jangan pernah bilang mereka tidak akan mampu.

    Secara aspek teknis organisatoris , jadikan NHKB setengah independen dalam program dan kegiatannya tidak perlu mengacu kepada HKPB. Secara aspek keuangan, berikan dan bebaskan mereka untuk mengusahakan dana dan mengelola sendiri. Bantuan keuangan secara lansung hanya diberikan pada awalnya saja.

    Waktu kuliah dulu tahun 80′an, pernah saya mencoba untuk aktif di NHKBP. Saya bilang saya tidak bisa nyanyi dan main musik… ngga bisa ikut koor.. apa yang saya bisa kerjakan disitu ??

    Saya katakan ke teman2, saya ingin membuat bimbingan belajar gratis bagi anak-anak SMA, baik yang HKBP maupun bukan, yang kristen maupun muslim… Para pengajarnya ya kita2 ini yang di NHKBP, tanpa di bayar. Tapi tempat tidak diberi oleh Dewan… dianggap sebagai kegiatan yang kurang gerejawi,…katanya! Akhirnya saya bisa bikin Bimbingan Belajar itu di organisasi lain.. dan berhasil membantu anak2 sekolah yang tidak mampu bayar Bimbel Ganesha.

    Dengan KEMANDIRIAN ini saya memimpikan kelak NHKBP mampu mendirikan ‘YOUTH CENTRE’ di-setiap daerah dimana telah berdiri beberapa HKBP disitu. Tempat bagi mereka berkegiatan dengan cara mereka sendiri. ” Ut Omnes Unum Sint ” (YOH 17 : 21 ) ….doa Tuhan Yesus di taman sambil menangis —> ” Agar Semua Satu Adanya “

  2. Togar Silaban on February 19, 2008 at 2:53 pm

    Semangat Amang Harahap ini perlu didukung oleh semua orang (tidak hanya jemaat HKBP).

    Saya punya beberapa usul yang tolong dibahas bersama selain yang sudah diusulkan oleh Amang Harahap.
    1. Struktur organisasi HKBP harus direformasi untuk menghadapi tantangan manajemen modern. Banyak sekali departemen di HKBP yang bisa dimerger supaya lebih efisien.
    Risikonya banyak pendeta yang akan non-job. (Tapi ini tidak apa-apa demi kebaikan).

    2. Reformasi untuk otonomi jemaat (gereja). Organisasi HKBP yang sentralistis sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman. Gereja dan jemaat harus diberi otonomi yang lebih besar dalam menentukan kebijakan dan kegiatan pelayanan di gereja. Contoh yang bisa dilihat adalah seperti GPIB atau GKI Jatim/Jabar. Gereja punya kewenangan yang sangat luas termasuk dalam pemilihan pendeta. Jadi konkritnya jemaat bisa menyeleksi pendeta yang akan ditempatkan di Gereja.
    Risikonya banyak pendeta yang akan menolak hal ini. Karena (maaf) banyak pendeta HKBP yang underqualified.
    Menurut saya otonomi ini sudah sesuatu keharusan.
    Pendeta resort biarlah menjadi Pendeta yang melayani jemaat, BUKAN MANAJER kantor gereja. Pendeta tidak perlu ngurusin administrasi kantor gereja. Biarlah manajemen sehari-hari gereja diurus oleh KEpala Kantor. Jadi pendeta fokus pada pelayanan ibadah dan rohaniah, kepala kantor fokus pada administrasi. (Prakteknya sekarang, yang beli kertas saja pendeta, maaf, ini kan salah kaprah)

    3. Sistem pendidikan dan kurikulum STT HKBP perlu direformasi. Indikatornya adalah kualifikasi (maaf) pendeta yang cenderung merosot dari waktu ke waktu. Ada beberapa pendeta yang mengesampingkan pelayanan jemaat dan mendahulukan yang lainnya.
    Risikonya banyak dosen yang harus diupgrade dan di”alihfungsikan”.

    4. Mekanisme pemilihan Ephorus dalam Sinode Agung perlu direformasi. Saya dapat informasi (maaf lagi), sudah mirip seperti pemilihan Bupati dan kepala desa. Banyak intrik dan KKN disana.
    Risikonya banyak yang sekarang sedang siap-siap jadi Ephorus/Sekjen/Praeses akan menolak karena kehilangan kesempatan.

    5. Sistim rekrutmen calon mahasiswa STT HKBP (baca calon pendeta HKBP) perlu direformasi juga. Kalau pendetanya kualified, jemaat akan sejahtera.

    6. Sistim penempatan pendeta harus direformasi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pendeta yang ditempatkan di kota-kota besar adalah mantan “tim sukses” dari pejabat HKBP. Praktek seperti ini harus dihilangkan. (termasuk dalam butir 4 diatas). Coba tanya secara jujur apa kriteria seseorang ditempatkan menjadi pendeta HKBP Hang Lekiu Kebayoran, atau HKBP Jalan Jambu. Siapa yang bisa masuk ke gereja/jemaat favorit itu?.

    7. Sistem manajemen aset HKBP harus juga direformasi. Setau saya HKBP pusat tidak pernah membeli atau mengusahakan sebuah bangunan gereja. Hampir semua adalah hasil kerja keras jemaat HKBP. Banyak yang berkorban utnuk membangun jemaat. Tau-tau setelah diresmikan kok jadi aset HKBP Pusat. Ini terkait dengan otonomi Gereja pada butir 2 diatas. Sistem ini sudah ketinggalan jaman.

    Banyak lagi yang harus direformasi di HKBP, supaya tidak ditinggalkan jemaatnya. Jelas sekali aturan dan peraturan yang dibuat HKBP sangat bertolak belakang dengan semangat reformasi yang saya uraikan diatas. jadi Aturan dan Peraturan itu harus dirubah terlebih dahulu.

    Oh ya Amang Harahap, saya jemaat HKBP di Surabaya yang sekarang lebih sering kebaktian di gereja tetangga.

    Selamat berjuang untuk reformasi HKBP.

  3. lambas siregarL on March 10, 2008 at 2:23 pm

    Reformasi Amang dan Lae Togar TOP BANGETT !! mari kita waspada/siap menghadapi benturan dari oknum-oknum yang anti reformasi. Sejarah krisis HKBP banyak dimotori kelompok pendeta yang under qualified(haus jabatan empuk/prestise tapi rendah kwalitas/prestasi juga hepengon/mata duitan) yang melapor/minta bantuan ke jemaat elit (para jenderal,pengusaha,tokoh masyarakat dan preman serta aparat pemerintah untuk menggebuk motor-motor penggerak reformasi dan mengacaukan agenda reformasi. Untuk itu mari kita mantapkan dulu kebangunan rohani jemaat(program-program bina iman) agar jemaat tidak terhasut anti reformasi dan terpecah belah. Mari berjuang dan berkarya.

  4. Natal Hutabarat on May 23, 2008 at 1:59 pm

    salute buat amang DTA yang sudah memngajukan konsep untuk reformasi di tubuh HKBP sebagai organisasi gereja …
    mungkin harus mulai kita sebarkan isi draft ini ke banyak jemaat HKBP…
    misal dengan nge print draft ini dan membagikan ke semua gereja HKBP…
    ada yang sudah mulai kah?

  5. el_Fansha Sianipar on July 1, 2008 at 9:50 pm

    Syalom!!!!
    Saya setuju dengan reformasi di tubuh HKBP yang pasti semuanya itu untuk mendukung kemajuan pelayanan di tubuh hkbp.Saya tertarik dengan kurikulum STT mungkin ada benarnya harus lebih di giring ke arah yang semakin baik dengan cara reformasi, kita harus mengakui adanya beberapa pendeta di tengah tengah kita yang nota bene jebolan STT hidupnya masih belum menunjukkan gambaran seorang pelayan yang baik, boroboro jadi contoh yang baik malah catatan hidupnya merusak tatanan hati orang lain yang sudah lebih serius untuk Tuhan.Seyogianya seorang pendeta yang terhormat itu tidak lagi hanya kotbah di mimbar aja, tapi mari mulai mengajar lebih banyak bobot alkitab, buat kelompok PA atau sejenisnya yang berkesinambungan dengan demikian pendeta juga dapat menambah ilmunya lewat komunikasi dengan masyarakat. Amang mohon ditanggapi, bagaimana seorang pendeta atau hamba Tuhan dimata amang jika sering minum dan sampai mabuk dan bergabung dengan peminum bukan malah peminumnya yang berubah tapi pendetanya yang semakin jadi pemabuk,bahkan bahasa keseharianya bergaulpun jadi bahasa level tiarap yakni bahasa pasar…jadi untuk itu saya sangat mendukung reformasi terutama mental dan pola hidup para pendeta kita yang terhormat ini…hidup reformasi

  6. RIKARDO SIAHAAN on August 9, 2008 at 10:24 pm

    Ketika Reformasi Manajemen menjadi spontan maka yang terjadi adalah thesisnya Bapak DTA. Sepengetahuan saya HKBP tidak sama dengan pemerintah Republik Indonesia yang pranatanya sedemikian rupa. HKBP adalah kumpulan dari Huria-huria yang dibentuk oleh jemaatnya secara swadaya dan pendeta Resort, Pendeta Persiapan resortnya disediakan oleh HKBP Pusat.

    Seorang Pendeta seperti DTA yang notabene adalah orang dalam seharusnya membuat thesis yang dilakukan melalui “comprehenasive research” paling tidak ada dasar statistiknya atau berdasarkan data yang menggambarkan mapping HKBP secara Nasional termasuk kebutuhan jemaatnya, dan berdasarkan inferensi statistik bukan menurut perasaan dan intuisi. Dalam manajemen stratejik ada dikenal Environmental scanning untuk melakukan SWOT-analysis. Dan hasil SWOT-analysis barulah dibuat alternatif strateginya!!. Di HKBP maksud saya HKBP Pusat kalau ditanya punya tidak Puslitbang yang pernah melakukan research tentang Environmental Scanning tersebut???. Apakah dilakukan Sekjen, Ketua Departemen saya kira hanya Tuhan yang tahu. Konsep reformasi boleh-boleh saja tapi siapakah yang melakukan reformasi???. Apakah kita punya orang sekelas Marthin Luther pada jamannya??. Saya kira Reformasi bisa menjadi pedang bermata dua bisa merubah kepada keadaan tambah baik atau mencelakakan diri sendiri. HKBP sebelum diisi oleh Aparat dengan paling tidak 60% yang punya integritas dan tidak underqualified, reformasi dimaksud akan berakibat fatal bagi dirinya sendiri Memimpin orang bodoh apalagi bengal dan apalagi dipimpin orang bodoh dan bengal bukanlah persoalan yang mudah. Saya menyarankan kepada jemaat HKBP yang educated, punya integritas dan tidak vested boleh juga membentuk semacam LSM yang kalau boleh menjadi pressure group untuk bisa mempengaruhi Good Corporate Governance pada HKBP Pusat sekaligus menyedian Human resources yang kalau bisa gratis. Selamat berikhtiar.

    Daniel Harahap:
    Bahasa Medan kami dulu: Awak ini apalah?! :-)

  7. na Poso Do hami on August 10, 2008 at 11:36 am

    management:
    Usulan lae Rikardo Siahaan OK juga tuh.. SWOT analisys baru salah satu metode saja. dalam 10 tahun ini saya dan rekan-rekan di satu Youth leadership institute sudah membuat banyak modul untuk ministry management dan sudah diterapkan di banyak gereja melalui program Training for Trainer untuk kader-kader gereja tertentu di Jakarta, surabaya, makassar, medan dan samarinda.

    rekrutment STT:
    selama ini Pendeta HKBP setahu saya lulusan strata 1 dari STT nomensen,STT jakarta, UKDW , UKSW ( nga tau kalo ada yg lain)..Gimana caranya HKBP memperbaiki kurikulum di Kampus-kampus tersebut.. Kalo pun mungkin ,hanya STT HKBP yg bisa diintervensi oleh HKBP. kalo STT lain mereka punya komisi teologi sendiri …. Karena ketepatan saya adalah anggota team dalam BINA kader calon-calon pendeta di salah satu Sinode gereja besar di jakarta ( paket program dan action plan juga da kami terapkan), betapa bina kader itu sangat di perlukan untuk menjamin kwalitas calon-calon pendeta. Puji Tuhan, tanggal 11- 16 agustus 08 HKBP meminta kami menerapkan salah satu program untuk 13 kader ( calon Pendeta HKBP)….

  8. JP Manalu on August 11, 2008 at 8:15 am

    Pdt. DTA Harahap:
    (Usulan untuk menjadi bahan kajian dan aksi anggota jemaat HKBP. Silahkan diperbanyak dan dibagikan kepada para anggota dan pelayan HKBP terutama pendeta resort dan utusan ke Sinode Godang HKBP)

    JP Manalu:
    Mari kita berdoa amang, semoga sinodesten “masih menyempatkan diri” membaca dan menggumuli tawaran agenda reformasi yang amang tawarkan ini. Tidak hanya untuk ‘reuni” dan “kasak-kusuk” untuk memilih dan atau mendukung siapa, yang biasanya (kalau di ormas/orpol) ada “harganya”! Saya menaruh harap, hal yang lazim terjadi di kongres ormas/orpol ini TIDAK terjadi di SG 2008, semoga…….

  9. Hodner L T on August 11, 2008 at 10:10 am

    Setuju dengan agenda perubahan yang diusulkan oleh Amang DTA, tetapi sepertinya agenda Reformasi yang pertama dan utama (usul saya) adalah “memahami dengan benar” bahwa seluruh organ pelayanan HKBP (mulai dari anggota seksi, dewan, GSM, sintua, guru huria, pendeta, dst s/d Ephorus) bukan “JABATAN Duniawi” melainkan “Tugas Panggilan surgawi/PELAYAN”. Agenda reformasi berikutnya seperti yang telah amang DTA susun.

    Mudah-mudahan, calon EPHORUS mendatang menyadari bahwa jadi ephorus itu bukan “jabatan kekuasaan”, sehingga mereka tidak akan menggunakan cara-cara duniawi untuk memperebutkannya. Dan bila ephorus mendatang terpilih berdasarkan TUGAS PANGGILAN, agenda reformasi yang Amang usulkan akan berjalan, namun jika ephorus mendatang adalah penguasa, tidak akan ada perubahan yangn lebih baik di HKBP. Kita doakan supaya dlm SG mendatang ephorusnya adalah pilihan Tuhan, bukan pemenang dengan pilihan “ala pilkada”. Semoga !

  10. Janpieter Siahaan on August 11, 2008 at 1:46 pm

    Saya hanya heran… kog banyak pemerhati di HKBP dan memberi komentar yang cukup bagus, tetapi berada di luar HKBP. Ini ibarat mau main tapi cari aman… kayaknya kurang elok dipandang mata.

    Periodeisasi sintua, saya sangat setuju 100%, selain yang diutarakan amang, alasan lain adalah saya lihat ada kesombongan jabatan yang terlihat dari gaya para sintua tertentu yang arogan, sombong dan tak tahu etika. Kalau bisa dibuat suatu klausul yang mengatur tentang cara memakzulkan atau menginpecment sintua yang dianggap sudah tidak berperilaku seperti sintua yang baik dan benar, ( ramah, tahu hak dan kewajiban, tidak angkuh dan sombong apalagi merasa paling pintar dan paling benar sendiri.)

  11. St. MH. Rajagukguk on August 11, 2008 at 4:35 pm

    AGENDA PERTAMA melihat HKBP semuanya sudah mapan. Akan menyulitkan dalam pelaksanaannya. Bagaimana kalau HKBP tersebut masih “berjuang” atau berada di daerah “remote” yang sepertinya akan bertambah hanya karena adanya anak lahir. Periodisasi bagi sintua atau GSM di daerah yang potensinya sangat besar untuk berkembang juga akan mengalami kendala. Saya melihat kebaikan pada sistim sintua yang lama, akan tetapi pengertian dan pelaksanaannya perlu diperbaiki. Kebaikan itu adalah: Kultur batak tidak memberi kesempatan untuk yang telah berkeluarga meninggalkan keluarganya dan membiarkan orang lain melakasanakan ulaon adatnya yang telah dilakukan sebelumnya. Menjadi seorang “natua-tua” tidak ada periodenya dan tidak pernah pensiun sebagai “natua-tua” kecuali perannya dalam pelaksanaan adat. Pada saat “paojakkon sintua” dilakukan sama seperti pada pemberkatan pernikahan di mana kedua mempelai “marpadan mardongan saripe di adopan ni Debata dohot ruas” tidak akan terpisahkan kecuali oleh kematian. Pengertian/anggapan dan pelaksanaan perlu diperbaiki dan ditata kembali: Ada anggapan bahwa “tohonan sintua” adalah sama dengan gelar saja sehingga tidak tergerak untuk melaksanakan tugas panggilan yang melekat pada gelar tersebut. Tidak ada pernyataan di dalam “surat ijazah sintua” yang menyatakan bila dikemudian hari ada kekeliruan atas gelar tersebut akan ditinjau kembali/dicabut (mungkin karena sintua itu bukan gelar?) Kemudian, hak kelompok sintua untuk meninjau status “parhalado” di suatu gereja HKBP (mungkin) belum pernah digunakan. Sangat setuju dan mendukung kalau dilakukan pembaharuan terhadap status sebagai “parhalado” di suatu gereja HKBP secara periodik, agar dalam setiap periode ada kejelasan dan setiap sintua melakukan pembaharuan komitmennya untuk melayani pada periode berikutnya atau kalau mau memilih tidak lagi sebagai “parhalado” dapat dinyatakan agar secara administratif jelas statusnya. HKBP telah menentukan adanya periode parhalado di HKBP, tetapi pelaksanaannya hanya terhadap “parhalado na somartohonan.” Fungsi manajemen (kontrol) dapat dilakukan setiap jemaat melalui mekanisme yang sudah diatur dalam AP HKBP. AGENDA KELIMA dan KETUJUH sangat setuju. HKBP yang sudah berumur 146 tahun perlu merencanakan pengembangannya secara sistematis, di mana wilayah pengembangannya semakin jauh dari kantor pusat HKBP dan mengalami banyak hambatan atas ijin lingkungan setempat.

  12. Nimrod Sitohang {A.Naomi} on August 14, 2008 at 2:19 pm

    Amang DTA, kalau dilakukan voting atau angket, saya yakin 100% jemaat HKBP akan sangat setuju dengan usulan draft ini, namun kembali ke sikon sebenarnya. untuk melakukan satu perubahan acara sekolah minggu saja saat ini di semua HKBP pasti sulitnya 1/2 mati, lihatlah lagu lagu sekolah minggu, banyak sintua yang tidak setuju kalau sebagian diambil dari lagu lagu rohani yang populer, demikian juga program NHKBP, jikalau melakukan ibadah rohani yang themanya mengusung “kebangunan rohani” banyak sintua yang appriori, sembari mengumpat; imada, ai naposo pe nga hona virus-virus ni kharismatik be” artinya, masih sangatlah sulit merubah pola pikir serta konsep lama.

    Miris rasanya, hampir setiap hari kita selalu membahas kelemahan HKBP, kekurangan pendeta, kelemahan parhalado, yang nota bene mereka semua adalah batak 100%, saat ini justru orang batak yang menjatuhkan orang batak, kita sudah tidak bangga lagi menjadi orang batak, sintua atau parhalado massiere-erean dohot pandita, jemaat mengatakan, kan kita yang kasih gajinya pendeta?. dan banyak lagi. Sejatinya reformasi harus segera diberlakukan di tubuh HKBP, sebab kemerosotan konsep berpikir, tata krama, dan life spritual jemaat HKBP yang kita lihat sudah turun drastis, tidak ada yang diperoleh di ibadah minggu, apalagi di partangiangan.

    Inti yang mau saya share-kan adalah:
    1. HKBP seolah organsasi tanpa ROH,
    2. HKBP harus segera melakukan reformasi.
    3. STT HKBP siantar yang jadi tempat penggodokan pendeta harus benar benar “rohani” yang gak bisa jadi pendeta harus di pecat.
    4. STT HKBP harus jauh dari urusan urusan duniawi, perlu di manage oleh orang orang yang kerohaniannya telah teruji.
    5. Kurikulum pembinaan rohani dari anak anak, remaja, naposo, kategorial harus di baharui paling tidak system semester. dan
    6. Tohonan sintua permanen dihapuskan, harus periode juga, sehingga istilah sisuan bulu itu hilang dari HKBP.

    Anyway, saya akan print draft ini, dan nanti akan saya bagikan ke punguan koor ama di Batam

    Daniel Harahap:
    Jangan lupa kasi ke pendeta resort dan utusan ke sinode godang. :-)

  13. Ruas-bandung on August 14, 2008 at 4:23 pm

    Konsep yang digulirkan amang DTA sudah ‘pas’ untu mengadakan reformasi di HKBP.

    Reformasi gereja katolik (mohon koreksi bila saya salah) terjadi saat seorang bernama martin Luther mengadakan koreksi akan adanya ‘amplop’ pengampunan dosa.
    Mari kita lihat di HKBP. Banyak amplop yang berkeliaran saat ini, ada amplop sukses calon praeses, amplop sukses MPS/MPSD bahkan nantinya amplop sukses pemilihan Eforus.
    Artinya, HKBP saat ini butuh beberapa ‘Martin Luther’ untuk mereformasi HKBP.
    Saya sangat berharap, amang DTA akan menjadi salah satu dari mereka.

  14. lambas siregar on August 14, 2008 at 4:45 pm

    Tu Lae Jan pieter Siahaan :
    Banyak pemerhati HKBP dari luar menandakan masih banyak yang peduli akan kemajuan di HKBP dan komentarnya bagus-bagus itu berarti sudah dapat banyak belajar/studi banding Teologis dari luar.
    Kita berharap lewat gereja apapun sepanjang ajarannya benar/ketat dan proram pembinannya terpadu serta keterlibatan sumber daya rohani yang handal , pasti dapat menjadi turbin penggerak transformasi kwalitas orang Batak, bona pasogit dan bangsa ini.
    Memang “Kemajuan HKBP masih menjadi barometer kemajuan orang Batak”.
    Bergereja di luar dan sekaligus melayani, tidak selalu tujuannya untuk cari yang aman dan enak. Kenyatannya saya sendiri sebagai jemaat malah banyak dapat tawaran kewajiban/tugas rutin di gereja dan di luar gereja.
    Tapi kemungkinan orang pilih gereja tertentu bisa lewat program gereja yang dia ikuti, dia bisa lebih efektif/teratur belajar Alkitab, makin bertumbuh secara karakter dan rohani, dan berperan lebih aktual sesuai kapasitas bakat, minat dan kemampuan.
    Banyak sekali faktornya Lae dan motivasi orangnya, walaupun tidak bisa dipungkiri ada saja beberapa jemaat jajan ibadah untuk kepuasan hal tertentu.

  15. Lilin-lilin Kecil on August 19, 2008 at 5:42 pm

    Suatu Organisasi memang seharusnya bertumbuh dan berkembang.Draft ini harus dipuji dan dapat dijadikan awal yang baik,demi kejayaan HKBP.Maaf saya tidak berpolemik misi dan visi HKBP (saya kira itu sudah final). Dalam hal ini saya mencoba melihat HKBP sbg sebuah Organisasi yang harus bertumbuh dan berkembang secara sehat dan konsisten dengan tujuan2nya yang hakiki.

    Amang DTA,maaf untuk penyederhanaan wacana draft agenda Reformasi saya coba kelompokan dalam Tiga Agenda Pokok (songon Dalihan Na Tolu,ya):
    1.Restrukturisasi Organisasi : Restrukturisasi HKBP (AR 3)
    2.Program Kerja: Periodisasi Sintua dan Guru SM (AR 1),Sistem SDM (AR 5),Pembangunan Database HKBP (AR 7),
    3.Keuangan: Transparansi Keuangan HKBP (AR 2), Alokasi anggaran 20% (AR 4), Alokasi persembahan ke pusat (AR 6),
    Nah kalo begini kelihatannya semua aspek Organisasi sdh terwakili dan mungkin bisa lebih di diperkaya lagi turunan2 nya. Jadinya kan ada space untuk improve buat tim2 kerja kreatif/inovatif di SG’08 dan asa marsipasangapan kita. Saya usul pemakaian istilah Reformasi bisa kita terima secara biasa2 saja shg tidak menjurus dan terjebak ke personifikasi individu sempit.Semoga konsep ini bisa bisa masuk ke draft kedua dalam waktu yang tidak terlalu lama.

  16. Lamhot sitorus on August 26, 2008 at 12:58 am

    Aku hanya mo lewat aja smbl bilang, apa para parhalado yg akan memperebutkan kedudukan dan jabatan uudah mikir dan punya konsep gak yach utk majuin pelayanan HKBP yg brp thn terakhir udaa jada bahan pergunjingan. Yok kita kasi nasehat dach mereka2 para kandidat pejabat penting di HKBP uda punya kasih belum di hatinya? Kalo blm jgn coba2 dach, entar lo jadi pendeta masuk neraka berabe dech…
    Kor;1:1-13
    berlombalah anda memiliki kasih, bkn berlomba duduk sbg pejabat gereja yg nota bene banyak godaan. Sebab, lbh mudah unta msk ke dlm lobang jarum dara pada pendeta yg loba akan jabatan…

  17. rod tobing (na mangholongi hkbp) on September 1, 2008 at 2:16 pm

    Jujur saja, sebagian besar usulan reformasi tersebut bukanlah hal baru lagi di HKBP. Jujur saja, hampir setiap pertemuan besar di masing-masing tingkatan jemaat pasti ada yang membicarakan beberapa di antaranya. Jujur saja, sebagian besar warga jemaat sudah lama apatis dengan isu perubahan di HKBP. Jujur saja, sudah sangat sedikit (langka, maksudnya) pengambil keputusan yang memberikan perhatiannya untuk melakukan perbaikan di tubuh HKBP yang aku cintai ini. Jujur saja, susah mencari orang yang jujur saat ini …

  18. jaiman butarbutar on October 4, 2008 at 10:53 am

    Terkadang saya berfikir bahwa ada sesuatu rahasia oleh para ahli alkitab (yang sudah mempelajari dan menguasai isi alkitab) sehingga seakan-anak dosa itu tidak ada, karena sadar atau tidak sadar kebanyakan para yang itu tadi lebih khawatir ttg hidupnya dari pada para jemaatnya, contohnya, dari dulu hkbp menginginkan perubahan dan perubahan ngak tahu itu perubahan apa yang dimaksud, ternyata hingga sekarang hanya memikirkan bagaimana supaya saya bisa bertaha di satu daerah yang menuruh dia bisa menghasilkan mammon cukup banyak, apakah itu perubahan yang dimaksud? saya pikir agenda perubahan yang diajukan DTA itu sudah cukup bagus tapi apakah segampang itu ……. tapi saya bukan orang yang pesimis, doa saya juga aga kiranya perubahan itu semata-mata untuk kepentingan umat dan untuk kemuliaan Tuhan saja. Mauliate.

  19. cinta hkbp on October 21, 2008 at 2:08 pm

    Horas Amang, sebenarnya apa yang dipaparkan di atas sangat bagus demi kemajuan HKBP, tetapi apakah langkah yang amang buat dapat disetujui oleh para pelayan lain atau didukung oleh para pelayan khususnya pendeta muda, kalau ada kesatuan antar pelayan membentuk hal diatas, tentu akan berhasil, satu hal yang harus dicermati atau ditambahkan adalah para pelayan harus termotivasi menciptakan sesuatu yang baru dalam merubah hkbp. kalo ada 10 orang lagi pelayan seperti Amang, hkbp akan maju dan kokoh menerpa segala hambatan. untuk saya berharap kiranya apa yang dipaparkan diatas mari kita dukung bersama demi terciptanya visi dan misi hkbp, maju terussssss-pantang mundur.

    Daniel Harahap:
    Jauhkanlah saya dari godaan dan cobaan. :-)

  20. tiur on November 12, 2008 at 3:03 pm

    saya bukan anggota jemaat HKBP, tapi saya sangat mendukung penuh maksud amang untuk mereformasi HKBP..hehhe, kasihan juga kalau saya baca comment diatas, sebagian pesimis dengan perubahan HKBP.. tapi with God Nothing is impossible toh…
    kalau HKBP makin berkembang, yg di permuliakan tetap Nama Yesus..

  21. Lindon Sitorus on January 3, 2009 at 9:12 am

    Horass ma dihita sudena namagalehon komentar. memang perlu itu agenda reformasi. Tapi itu semua apa sudah dari hati nurani, atau ada dibaliknya itu…? Memang HKBP sudah tamabah mundur……..baik di kerohanian dan pendidikan. kalau di kerohanian saya tidak bayak bicara karna saya bukan menggurui akka amang parhalado halahi ma namamboto. Alana nuga lupa ra ajaran ni Ompu Nomensen tu nasida.

    Tapi masalah pendidikan ini sagat jauh tertinggal.Apa tidak ada peran pengurus HKBP untuk dunia pendidikan untuk jemaatya? Apa tidak ada pemikiran pengurus HKBP untuk mengadakan pendidikan bagi Muda mudi, atau pengurus HKBP mengadakan kerjasama pendidikan dengan diluar negri.Kenapa dulu waktu Nomensen bisa kerja sama dengan dunia pendidikan dari Jerman.

  22. Lindon Sitorus on January 3, 2009 at 9:18 am

    Horas Pak Pendeta D Harahap, bisa dilakaukan reformasi dengan hati yang tulus. Karna saya salut lihat HKBP dan jemaatya karna ada HKBP dan jemaatya dari sabang sampai merauke. Karna saya sudah lihat sendiri perjuangan dari jemaat HKBP. ( dari Sitorus Mining, Oil and Gas)

  23. Seno reta on November 5, 2009 at 11:31 am

    Amang dimana kita dapat bahan-bahan liturgi amang ?..
    Kami butuh bahan dari SM sampiai ke Natal Umum amang ,
    maaf amang sudah merepotkan. terimakasih sebelumnya.

    Daniel Harahap:
    Maaflah, saya tidak punya. Namun setahu saya Distrik XXI menugaskan sejumlah pendeta untuk menyusun liturgi natal dan tahun baru. Mungkin bisa diminta ke praeses atau kantor distrik.

  24. ayla on December 12, 2009 at 9:16 pm

    tolong kasih jawaban tuk hambatan kulturalnya donk tuk pelaksanaan agenda reformasi ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*