Bapak & Sindrom Pensiun

August 21, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Anne Yurico

pensiun-1.jpg

Suatu hari bapak berkata kepadaku “riko, bapak mau kursus montir motor dulu”
“Hah? Apa bapak bisa?” tanyaku.
“Bisalah, bapak kan mengerti mesin”, katanya. “Tapi bapak kan sudah tua, dan sekarang teknologi motor sudah modern, manalah bapak bisa mengikutinya” lanjutku.
Tapi bapak tetap bersikukuh, untuk mengikuti kursus itu. “Dua kali seminggu selama tiga bulan dan biaya nya pun murah”, itu katanya.

Itulah ide pertama bapak untuk menjalani masa hidupnya setelah pensiun, sebenarnya bukan pensiun, karena
istilah pensiun itu hanya ada untuk pegawai negeri setahuku, sementara bapak bekerja di perusahaan swasta. Cita-citanya setelah kursus dan pensiun, bapak mau membuka bengkel motor di Rantau Parapat. Waktu aku bertanya mengapa harus di Rantau Parapat, toh di Jakarta atau di Bandung juga bisa. Bapak menjawab, sudah banyak bengkel motor di kota-kota besar ini, sekalianlah biar dekat dengan ompung dan namborumu. Bapak akhirnya menjalani kursus itu dengan rajin, itu laporan mamak kepadaku, karena aku tidak melihatnya langsung, mereka tinggal di Bandung sementara aku di Jakarta.

Lalu suatu saat bapak meneleponku “Riko, bapak sudah selesai kursus nih, hebat lho” katanya.
“Apanya yang hebat pak?” tanyaku.
Lalu bapak pun bercerita sepulang dari kerja. Teman-teman kursus bapak semuanya masih muda-muda, dan kebanyakan lulusan STM. Rupanya pada saat akhir kursus diadakan ujian buat peserta kursus, caranya dengan memberikan satu motor yang sengaja dibuat rusak oleh instrukturnya di beberapa tempat. Lalu mereka berlomba untuk melakukan trouble-shooting. “Bapak juara satu lho,” katanya bangga. “Wah, hebat dong bapak” kataku sambil berdoa semoga di masa pensiun bapak selalu senang.

Setelah dua bulan berlalu, ketika aku datang berkunjung ke Bandung, bapak berkata kepada ku bahwa bapak mau kursus sablon.
”Hah, jadi cemana mengenai montir motor itu pak?” tanyaku kaget.
Lalu bapak berkata: “setelah kupikir-pikir, sayang kali lah ilmuku mengenai tekstil ini, kenapa tidak kupergunakan saja, pengetahuan tentang motor itu tak apalah jadi tambahan ilmuku.”
”Mmmm”, sebagai anak yang baik, ya aku harus dukung juga ‘kan, yang penting di masa pensiun tetap bahagia. Lalu kembali bapak mengikuti kursus, sepulang dari kantor nya. Sama seperti sebelumnya, dua kali seminggu selama tiga bulan. Bedanya kursus ini membutuhkan kain atau kaos yang masih polos untuk latihan. Jadilah mamak sebagai seksi sibuk untuk perlengkapan kursus sablon.

Suatu saat bapak menelepon lagi, “Riko, payah kalinya yang kursus sablon ini, sudah modern rupanya mereka bukan seperti dulu lagi”. Setelah kutanya, apa nya yang modern. Ternyata patron atau entah apalah namanya yang digunakan untuk menyablon disetting melalu komputer, lalu kalau ada contoh gambar discan lewat scanner. Duh, kasian sekali bapak ku ini gaptek, pikirku. :D
“Berapa sih, Ko, harga komputer dan scanner itu? Mahal gak?” tanyanya. Lalu untuk men-support masa setelah pensiun bapak, maka kucarilah komputer dan scanner murah di glodok.
“Tapi bapak harus belajar dulu mengoperasikan komputer itu ya”, pesanku.
“Iya, bapak sudah cari koq kursus komputer murah-murah di Bandung”, katanya.
Akhirnya kursus lagi lah bapak mengenai operating system, yang ini satu kali seminggu setiap hari sabtu selama satu bulan.

Lalu suatu hari aku meneleponnya, “Pak, udah cemana kursus komputer itu?”
Bapak menjawab “bagus, lancar. Tapi ada yang lucu, waktu kutanya sama instruktur bagaimana cara mematikan komputer ini, peserta kursus lain yang semuanya masih muda-muda menjawab, disiram pake air aja pak gultom. Hahaha. Lucu ya.
Terpaksalah aku ikut tertawa, padahal aku tahu, pastilah peserta kursus yang masih muda-muda itu sering meledek bapak ku yang gaptek. :D

Kira-kira tiga bulan kemudian, ketika hari libur bapak mendatangi kami ke Jakarta. Katanya, “Ko, gimana kalo bapak belajar microsoft office aja? Nanti setelah mengerti, bapak mau buka kursus komputer lah di Ranto Parapat”
Nah, waktu mendengar yang ini, aku tidak dapat menahan tertawa, karena kembali lagi, belum selesai dengan kursus menyablon melalui komputer, sudah ada ide lain yang muncul, ke rantau prapat pulak. Tanpa mengurangi rasa hormatku, kukatakan, “Pak, agak sulit nanti belajarnya, karena cukup banyak yang dipelajari di microsoft office itu, pusing nanti bapak.” Untuk usulku yang satu ini, bapak sepertinya setuju. Mungkin dia ngeri membayangkan kepusingannya. Apalagi kalau mouse-nya lompat-lompat seperti yang dia alami, ketika itu sudah malam hari kira-kira jam 10, bapak meneleponku hanya untuk melaporkan bahwa mouse miliknya tak bisa diaturnya lagi. “Melompat-lompat dia Ko…!”

Ketika saatnya masa pensiun tiba, aku berinisiatif menelepon bapak, untuk menanyakan apa yang akhirnya bapak pilih untuk dikerjakan setelah pensiun. Lalu katanya, “ah, kurasa bapak masih bisa bekerja, masih sanggup. Lagipula ada teman bapak yang mengajak bapak untuk bekerja di perusahaannya. Bagaimana menurut mu?” tanyanya. Yah…. sebagai seorang anak aku hanya bisa
menyetujuinya, tak kuasa aku membendung semangatnya. Akhirnya berangkatlah bapak dan mamak menuju Klaten, tempat dimana bapak masih bisa bekerja. “Dua tahun lagi pensiun pun aku” katanya.

Ah, bapak, rupanya sudah kena sindrom masa pensiun. Ada kebanggaan tersendiri ketika menyadari bahwa bapak yang sudah tua berumur hampir 63 tahun masih memiliki semangat untuk belajar. Juga ada kebanggaan bahwa dengan umur 63 tahun masih dibutuhkan dalam pekerjaan. Tapi adakah kebanggaanku ketika menyadari bahwa seharusnya se-usia beliau, dia sedang santai di ruang keluarga dan bercanda dengan cucu-cucunya? Ah, tak taulah, mungkin nanti, menjelang dua tahun selesai masa kerja di Klaten, akan datang lagi sindrom masa pensiun dan bapak akan meneleponku lagi untuk ide baru tentang menghabiskan masa pensiun nya. Nah, untuk yang ini aku akan mengajukan satu ide, “bagaimana kalo bapak tinggal saja di rumah, menemani pahompu bapak yang sudah berjumlah 8 orang itu?” Entah bagaimana nanti jawaban bapak.

anne
(catatan : ketika membaca dialog dari bapak, gunakan logat batak yang kental)

Catatan Ruma Metmet:
Tulisan bagus ini diambil tanpa permisi dari milis hkbp. :-)

Share on Facebook

13 Responses to Bapak & Sindrom Pensiun

  1. Vera Pasaribu on August 21, 2008 at 8:55 am

    That’s a very sweet story….

    Memang seharusnya kita berikan yang terbaik untuk orangtua kita, dan tidak hanya ketika masa pensiunnya saja. Tapi semasa sisa hidupnya sampai Tuhan memanggil mereka.
    Inilah waktunya kita memberikan timbal balik atas apa yang sudah mereka perbuat tanpa pamrih sampai kita menjadi seperti sekarang ini.

    Give your best for your parents before it’s late. God bless…

  2. Lisma on August 21, 2008 at 9:17 am

    hahaha lucu banget cerita di atas dan kebetulan orang tua yang diceritakann diatas mirip dan dialami mertua laki2 ku yang sekarang sudah berumur 65 tahun…
    karena baru kemaren baby sitter anakku kupulangkan ke yayasan karena kerjanya tak bagus jadi saja dengan terpaksa aku meminta kedua mertuaku menjaga cucunya..
    sampai rumah nanti akan kuceritakan pada mertuaku laki2

  3. Ruas-Bandung on August 21, 2008 at 11:07 am

    Memang…kita sebagai generasi penerus orang tua kita harus ikut mencari jalan keluar untuk kegiatan setelah pensiun.

    Cuma aku sarankan supaya mengindari satu pekerjaan setelah pensiun yaitu menjadi sintua. Maksudku seperti ini, kalau memang sebelum pensiun sudah menjadi sintua dan meneruskannya setelah pensiun, it’s ok. Tapi janganlah mencari kegiatan pengisi waktu setelah pensiun dengan mendaftarkan diri menjadi sintua.

  4. charles.erl@gmail.com on August 21, 2008 at 12:09 pm

    Hai Anne, Saya berharap punya kesabaran untuk menghadapi orang tua seperti kamu, Sukses yaa. Ini gue Charles Gultom.

  5. Gloria Limbong on August 21, 2008 at 1:07 pm

    GREAT!

    Ceritanya menyentuh dan lucu banget. Terutama di bagian yang Mousenya melompat2 itu, sampe heran rekan kerjaku lihat aku ngakak-ngakak sendiri..
    Hahahha…

    Tapi salut buat Bapaknya Ito/Kakak Anne (Ce apa co yah?).
    Di usia segitu masih penuh semangat.
    Padahal aku sendiri di usia semuda ini kadang2 udah malas belajar..

    Harus semangat lagi!!
    Masa’ kalah semangat ama orang tua :-)

  6. VaLeNtinA on August 21, 2008 at 2:40 pm

    Kak Anne…Kak Anne…^_^

    Cerita yg ringan, mudah dicerna, ndak perlu mikir2 ampe jidat berkerut. Kisah nyata yach, Kak?? Jadi ingat My Mom di Medan, kalo Daddy sich khan udah ama Bapa di Surga.

    Baca cerita ini jd ingat Titah Ke 5 : “Hormatilah Ayahmu dan Ibumu supaya lanjut umurmu yg diberikan Tuhan kepadamu”. Kadang…jikalau manusia semakin tua kembali sifatnya menjadi spt anak2. Tp utk tokoh “Bapak” aku senang…selalu pengen mencoba hal2 yg baru…kalo ndak dicoba khan kita ndak tau Kak. Selama kita hidup…carilah ilmu sebanyak2nya…ke mana pun…dimana pun…dan jgn lupa juga mengaplikasikannya…

    Segitu aja dech, Kak.
    Good Luck for Kak Anne. God Bless Us…^_^

  7. rentha simbolon on August 21, 2008 at 3:40 pm

    Cerita yg sangat lucu dan mengesankan.
    Berbahagialah kita sbg anak – orangtua kita punya semangat dan kepolosan seperti Bpk. Gultom.
    Semoga Tuhan memberkati pekerjaan Bpk. Gultom di Klaten, Amin

  8. yuda panjaitan on August 23, 2008 at 11:43 pm

    Haha.. cerita ringan yg menyentuh!
    sindrom pensiun memamng tak mudah dijalani, pasti.. bapakku juga baru mengalaminya, memang masih ada pekerjaan lain yg ia jalani, tapi tak terlalu banyak menyita waktunya..
    alhasil, di waktu luangnya yg begitu banyak, kami anak2nya yg harus rela menjadi pendengar baik, atau sekedar teman bercerita.. atau bersedia menyambut manis permintaannya di tengah malam begini, untuk memindahkan “isi” situs ini menjadi hard copy yg bisa dibacanya sewaktu2.. di lain sisi, senang banget akhirnya bisa menjadi seorang “teman” bagi orangtua sendiri..

  9. Ramouthy on September 8, 2008 at 3:52 pm

    Lucunya renungan ini buat saya menangis.

    Terima Kasih…

  10. budi on April 27, 2009 at 11:08 pm

    Jujur saat ku baca, kku jd teringat saat ini ku sedang merasa menangis dlm hati…krn stlh pensiun bapak kku berbah menjadi seorang penakut…padahal msh mampu mengerjakan sesuatu yg hebat….

  11. christine silitonga on May 1, 2009 at 4:14 pm

    luthu juga ny cerita….hi..hi…saya salut lihat ortu yg masih semangat tuk belajar dlm kondisi yg sdh pensiun….

  12. tvalyne@gmail.com on June 18, 2010 at 11:34 am

    Jadi teringat bapakku yang di Medan….aku menangis membacanya… ternyata orang tua kita gak terlalu beda Kak Ane…xixixixi…Semangatnya terus berkobar walau sudah tua

  13. Nainggolan Prabu on June 21, 2010 at 6:56 pm

    Aku sampe ngakak membaca tulisan yg bagus ini , apalagi membayangkan mouse Pung Gultom sampe melompat-lompat, melompatnya pas malam lagi.

    Pelajaran yg sangat berharga bagi saya yg pasti menjalani masa pensiun juga. Trims ito Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*