Almanak Jumat 15 Agustus 2008:
Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. (Habakuk 1:3)
Kita manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita. Bahkan boleh dikatakan kita sebagian merupakan produk dari lingkungan. Lingkungan itu pertama-tama adalah keluarga yang membesarkan kita dan selanjutnya masyarakat yang melingkupi kita, lebih besar lagi bangsa dan negara dimana kita tinggal. Pertanyaan: bagaimanakah jika lingkungan, keluarga, masyarakat, dan bangsa yang mempengaruhi dan ikut membentuk kita itu buruk atau jahat?
Mari kita konkretkan: masyarakat kita terkenal korup. Hasil penelitian banyak lembaga menyebutkan masyarakat kita mempunyai peringkat sangat tinggi doyan korupsi atau curang dibidang ekonomi dan keuangan. Jika dulu Bung Hatta mengatakan korupsi telah menjadi budaya, maka para ahli jaman sekarang mengatakan korupsi itu telah melembaga. Artinya: tidak lagi merupakan kejahatan individual, tetapi telah menjadi kejahatan kolegial dan institusional. Pertanyaan: sejauhmanakah masyarakat yang membudayakan dan melembagakan korupsi itu mempengaruhi kita pribadi?
Atau mari kita sederhanakan. Masyarakat kita cenderung semrawut atau tidak tertib di jalan raya. Peraturan lalu lintas acap kali dilanggar, bukan hanya oleh warga masyarakat tetapi juga oleh kenderaan dinas pejabat. Di jalan sering berlaku “hukum rimba”, yaitu: siapa yang besar dan kuat dialah yang menang. Pelanggaran sering diselesaikan dengan sogokan. Polisi lalu lintas yang seharusnya menjamin lalu lintas tertib dan lancar seringkali malah “menghilang” di saat kemacetan dan digantikan “polisi swasta” atau preman yang mengambil keuntungan dari kemacetan. Dan masyarakat “menikmati” atau membiarkan hal itu terjadi bertahun-tahun. Pertanyaan: sejauhmanakah sikap masyarakat itu juga mempengaruhi dan membentuk pribadi kita?
Masih banyak contoh lain. Masyarakat kita sangat suka klenik dan percaya tahayul serta menggandrungi film-film hantu. Masyarakat kita seringkali berpikir pendek, cepat lupa masalah atau kejadian, dan kurang menghagai sejarah. Sebab itu mudah sekali ditipu dan diiming-imingi janji palsu oleh para politikusnya. Pertanyaan: sejauhmana semua itu mempengaruhi dan ikut membentuk Saudara dan saya?
Nabi Habakuk mengajak kita agar bersikap kritis kepada masyarakat dan bangsa yang melingkupi kita, termasuk keluarga, lingkungan kerja dan pergaulan. Alih-alih ikut-ikutan melakukan kejahatan, kita diajak untuk ikut mempersoalkan dan menghentikan berbagai hal praktek hidup yang tidak benar itu. Di satu sisi kita adalah produk masyarakat, namun di sisi lain kita dapat mempengaruhi dan membentuk masyarakat. Sebab itu lakukanlah sesuatu.
Doa:
Ya Tuhan Allah, teguhkanlah iman kami. Juga pendirian-pendirian dan sikap-sikap kami yang benar dan baik. Berilah kami kemampuan membangun iman dan kepribadian di tengah-tengah lingkungan yang tidak mendukung kami menjadi orang baik dan benar. Berkatilah usaha-usaha kami menegakkan hukum dan keadilan di negeri kami. Dalam Yesus. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Tuhan, aku hidup dan dibesarkan dalam keluarga yang sederhana tetapi berada di dalam lingkungan masyarakat yang penuh korupsi dan kecurangan. Aku mengamati koruptor-koruptor itu hidup seperti bendahara yang tidak jujur seperti dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Mereka cerdik dan rajin mengikat persahabatan dengan banyak orang bahkan gereja barangkali, d engan uang dan kekuasaaan yang mereka miliki. Mereka tertawa gembira sepulang gereja beserta keluarganya yang cantik-cantik dan mungkin langsung ke restoran atau tempat rekreasi. Mereka selamat sentosa di dunia ini dan sangat mungkin juga diterima di dalam kemah abadi. Aku tak pandai bergaul dan juga tak tergolong cerdik. Engkau tak menetapkan aku menjadi bendahara,a ku sedikit kecewa. Ampunilah aku kalau aku berbicara seperti orang parisi di tikungan jalan.Sedikitpun aku tidak bermaksud meninggikan diri.
Satu hal lagi.
Masyarakat kita gampang sekali marah, emosi. Asal ada seluatu terjadi diluar keinginannya atau tidak dikehendakinya, langsung emosi. Tidak pakai kepala dingin. Langsung panas…
Terimakasih amang Pdt atas renungannya hari ini,
. Alasannya: “sejak perjanjian lama saja perilaku korup sudah ada…..”. Tetapi semoga tidak begitu ya amang.
Memang betul, perilaku di negara kita sudah melembaga, malah berdasarkan perbincangan-perbincangan yang pernah saya lakukan dengan orang-orang yang bekerja di lintas institusi, sudah ada pameo; jika “tidak ikut korup”, malah menjadi aneh sendiri. Istilah di “hami on”; ‘wolak walik ing jaman’. (Jaman gila, yang waras malah dianggap gila, demikian sebaliknya).
Menurut hemat saya, inilah tantangan terbesar bagi kita sebagai gereja Protestan dengan jaringan dan jumlah umat terbesar di Indonesia; apa yang kita sumbangkan untuk minimal mereduksi perilaku korup sebagian besar bangsa kita.
Saya khawatir amang, pelaku korup, dengan membaca ayat hari ini, malah memperoleh “pembenaran” untuk korup
Hemat saya, usulan reformasi yang amang tawarkan di postingan lain khususnya mengenai transparansi keuangan di gereja (dan juga di keluarga!), bisa kita jadikan sebagai pintu masuk awal untuk mencoba memberikan sumbangan dalam rangka mengurangi perilaku korup bagi sebagian (besar?) bangsa ini.
Jika transparansi keuangan di keluarga dan gereja sudah berhasil dilakukan, maka tugas berikutnya adalah menularkan “transparansi” tersebut di instansi tempat bekerja dan juga di masyarakat. Memang tidak semudah yang kita pikirkan untuk melaksanakannya, ada banyak tantangan yang dihadapi…. tetapi setidaknya, menurut hemat saya amang, dengan memulai dari diri sendiri dan keluarga saja sudah merupakan langkah yang baik.
Semoga renungan amang hari ini menginspirasi banyak orang untuk meninggalkan perilaku korupnya.
Horas.
Kondisi yang terjadi pada masa Nabi Habakuk ini masih relevan dengan kondisi Negara kita ini. Sebenarnya jika diperhatikan ketidakberesan yang terjadi di negara ini, sudah selayaknya jika Tuhan menghukum seberat-beratnya bangsa ini. Namun karena masih ada orang-orang yang saleh (termasuklah Amang Pdt DTA), yang kristis terhadap situasi ini, yang terus berdoa kepada Tuhan memohon perbaikan negeri ini, maka Tuhan masih sayang kepada Bangsa ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita mampu dengan seketika memperbaiki semua kondisi yang parah di negeri ini? Tentu secara logika manusia biasa tidak bisa.
Marilah kita terus mengandalkan Tuhan dalam kehidupan ini dan berbuat yang terbaik bagi negeri ini , mari kita mulai dari diri kita sendiri, mari kita benahi diri kita terlebih dahulu. Karena jika semua orang membenahi dari dirinya sendiri maka perubahan besar akan terjadi pada negeri ini. Juga marilah kita selalu mendoakan para pemimpin negeri kita saat ini supaya mereka takut akan Tuhan dan mereka beroleh hikmat dalam memimpin negeri ini. Yang jelas walaupun masih sedikit, dan masih jauh dari yang diharapkan, sudah terlihat sedikit perbaikan di negeri ini, terutama masalah pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK.
hidup ditengah bangsa korup, sungguh miris rasanya hidup di negara kita saat ini,.
pencuri sebiji jarum dihukum sama dengan pencuri 1 ton emas.
thanks amang untuk renungannya.
Masalahnya, kebanyakan dari kita sudah meng’amin’i dan memaklumi bahwa Bangsa Indonesia itu ya begitu itu.. suka korupsi dan tidak disiplin di jalan, dan sejumlah atribut negatif lainnya. (kalau mengutip syair salah satu lagu nasional, sering diungkapkan “…… itulah Indonesia.”) Akhirnya kita menganggap itu ‘normal’ dan ‘biasa saja’. Kesadaran bahwa hal-hal negatif tadi adalah hal yang buruk, jelek, melanggar hukum tampaknya masih perlu ditumbuhkan di kalangan masyarakat.
Budaya dalam organisasi (jika negara diibaratkan sebagai organisasi) berawal dari para leader-nya. Dan sebagai warga negara Indonesia, kita dapat berkontribusi melalui memilih pemimpin negara yang bersih..
Kita, manusia memang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Tapi kita juga punya pilihan, mau ikut terpengaruh atau tidak. Yang penting adalah keteguhan hati dan iman kita. Kalau kita punya integritas pribadi, teguh hati, dan beriman, lingkungan seburuk apa pun tidak akan mempengaruhi kita.
Benar amang..
Tapi bukankah kondisi ini telah tertulis di Alkitab?
Efesus 5:16 : pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
Tapi sebagai orang beriman marilah kita minta pertolongan TUHAN..menghadapi Saudara-Saudara kita sebangsa dan setanah air yang hidup penuh dengan keserakahan…
I Petrus 5 :9 : Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.
Membaca seluruh kitab Habakuk, sepertinya melihat realitas dunia ini yang sarat dengan paradoks bahkan bertentangan dengan iman dan logika segalanya terasa ngeri. Rasanya Tuhan menggiring kita umatnya menyaksikan dan merasakan secara lansung situasi dan prilaku dunia yang kejam/ganas.
Sebagai manusia, nabi Habakuk juga memiliki respon yang spontan bereaksi keras terhadap hal ini dan terburu-buru menuntut kesalahan dan campur tangan pada Tuhan. Padahal tanpa kita sadar Tuhan sedang mengatur jalanya roda kehidupan kita sampai indah pada waktunya sehingga Habakuk akhirnya sadar dan memuji-muji Tuhan.
Tapi itulah natur kita manusia yang lemah. Dalam Injil Matius di paparkan, Tuhan Yesus mengutus murid-muridnya termasuk kita seperti domba di tengah-tengah keganasan srigala. Srigala melambangkan dunia yang serakah : para koruptor, politisi busuk, bandit ekonomi dan “koboi-koboi” lain yang siap-siap berkeliaran utk memeras. Tapi sekalipun kita domba di tengah-tengah srigala ada Tuhan Yesus Si Parmahan yang menolong menuntun kita dan mengajar supaya kita cerdik seperti ular sekalipun tidak punya kaki dan tangan tapi mampu berjalan, melompat, memanjat, berenang dan dapat hidup di segala tempat (padang gurun,air,batu,gunung, dll) artinya kita juga bisa trampil dan adaftif serta teruji sebagai anak Tuhan dan tetap berbuat baik seperti tulusnya merpati dalam menghadapi tantangan jaman yang semakin sulit.
Daniel Harahap:
Hati-hati: sebab banyak juga orang Kristen seperti serigala berbulu domba.
Atau: menjadi ular di hari senin s/d jumat dan jadi merpati di hari minggu.
Mazmur 73…Tetapi waktu aku berusaha untuk mengerti, hal itu terlalu sulit bagiku…
Sekedar menambahkan, di Perjanjian Lama pun bahaya suap sudah diingatkan. Dalam Keluaran 23:8 (dalam Peraturan tentang Hak-Hak Manusia) dinyatakan “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutar-balikkan perkara orang-orang yang benar.”
Ada yang lucu kalo kita bicara mengenai KORUPSI. Apalagi kalo kita bicara hal tsb dengan seorang pegawai negeri atau pegawai BUMN. Di mata mereka, definisi korupsi itu sangatlah samar-samar kelihatannya.
Saya pernah bertanya pada seorang teman saya seiman…kenapa anda melakukannya?? Jawaban dia sangat lucu…seperti ini…”Kalau kita sudah punya uang banyak, kita tidak perlu mikir kerja lagi, mikir mau makan apa, semua bisa dibeli dan serba berlebihan, nah baru setelah ini tercapai kita bisa mulai memikirkan untuk bekerja di Ladang Tuhan, Melayani, atau Jadi Sintua, dsb.” …. wah kontan saya kaget dengar jawaban dia seperti itu.
Mungkin bagi dia tidak ada “security” atau jaminan hidup bila melayani Tuhan. Sangking kesalnya saya bilang, ” lae ngga pernah sekola minggu yah di kampung…kan ada lagunya…Burung Pipit tidak menanam tapi Tuhan beri makan, bunga Bakung tidak memintal tapi Tuhan dandani…terlebih aku anak2nya pasti Tuhan Plihara….dst…dst….” trus langsung muram mukanya….amang..oi..amang…macam do portibi on.
lanjutkan pemberantasan korupsi, kuak terus anggota dpr yang korupsi, tangkap dan masukkan ke bui, mantab KPK hari ini.