Surat Untuk Pdt Anthony Gregory Tanos di Washington DC

August 11, 2008
By Daniel T.A. Harahap

bendera-robek-didanau-tobal.JPG

Renungan Kemerdekaan & Makna Negara Indonesia :

Oleh: Daniel Taruli Asi Harahap

Toni,
Suratmu yang pertama kepadaku sudah lama sekali hanya kupandangi belaka. Aku tidak tahu mau menulis apa tentang Indonesia, HUT Kemerdekaan, Proklamasi dan Pembangunan, Dirgahayu blablabla. Perasaanku, sulit dijelaskan, hambar sekali dengan kata-kata itu. Maaf, aku benar-benar lagi kehilangan selera berindonesia.

Ya, sebagai seorang pendeta jemaat sekaligus warga negara, percayalah aku akan tetap menyuruh penjaga gereja menaikkan bendera untuk kami di halaman. Aku juga akan meminta Bendahara agar membayar semua iuran dan kewajiban kepada RT termasuk biaya perayaan kemerdekaan. Namun kayaknya itu saja. Aku tidak akan menyalakan televisi untuk menyaksikan upacara di depan istana yang walaupun Orde Baru sudah sepuluh tahun tumbang bentuknya tak berubah juga. Aku juga tidak akan keluar rumah hanya untuk menyaksikan berbagai lomba khas tujuhbelasan. Apalagi anak-anak juga di Palembang, aku tak punya alasan melihat lomba panjat pinang atau gebuk-gebukan pake bantal di atas Kalimalang. Bisa dipastikan aku juga tidak akan membaca koran tentang rangkaian upacara salinan atau copy-paste detik-detik proklamasi itu.

Ah, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Mungkinkah kau bisa bantu aku? Apalagi kau sekarang tinggal di Washington, itu membantumu mengambil jarak dari realitas kemunafikan dan kebebalan negeri ini. Aku sepertinya sudah terperangkap dalam keranjang masalah negeri ini dan tidak bisa melihat apa-apa lagi dengan bening. Namun dipaksa mencium bau busuk korupsi, kekerasan bermotif ekonomi, kebencian terhadap orang beragama lain, dan penghancuran lingkungan hidup.

Maaflah Ton, aku tidak membalas suratmu tentang makna kemerdekaan, peran dan kedudukan gereja dalam negara Indonesia ini. Bukan karena tidak penting, tapi karena aku merasakan soal itu tiba-tiba saja jadi sangat rumit, abstrak, dan jauh tak terjangkau benakku yang kecil sederhana ini. Terus terang aku tidak tahu apakah aku sedang mengalami dehidrasi makna, atau degradasi mental nasionalisme dan heroisme, atau entah apa. Terserahlah. Namun, sebenarnya ada satu kata paling pas mengungkapkan apa yang tersirar di hatiku, namun sulit kukatakan karena aku seorang pendeta jemaat yang seharusnya menjadi teladan dalam segala hal. Kalau boleh jujur: aku sedang muak. Ah, aku tidak bisa bohong. Ya, aku memang sedang muak dan mual melihat kesemrawutan negeri ini. Ah, cukuplah aku saja. Tinggalkanlah aku sendirian sementara.

Ton, aku tahu kalimat bijak Kennedy: jangan tanya apa yang dapat diberikan oleh negaramu kepadamu, tapi tanyalah apa yang dapat kauberikan kepada negaramu: Indonesia. Namun hari ini dengan sadar aku kokoh membalik pertanyaan itu: apa sebenarnya yang diberikan Indonesia kepadaku dan istriku? Kepada anak-anakku yang masih kecil, kepada ibuku yang esok 80 tahun? Kepada kerabatku petani miskin gula aren Sipirok dan Pargodungan? Kepada saudara-saudaraku pensiunan supir kernet? Kepada anggota jemaatku yang tubuhnya sudah menguning di RSCM yang kemarin kubesuk?

Ah, aku tidak mau sentimentil dan tidak ingin sinis. Aku juga tidak mengharap disantuni atau dikasihani negeri ini. Aku tidak mimpi besok masalah negeri ini beres dan Indonesia menjadi taman sari. Dan satu lagi: aku tidak marah. Apa dan bagaimanapun keadaan aku akan berjuang ikhlas menghidupi diriku sendiri dan anak-anakku. Begitu jugalah kupikir banyak orang lain di negeri amburadul ini. Dan kita semua berusaha menjadi orang baik dengan sikap kritis dan daya humor yang tinggi. :-)

Namun tetap ada sejumlah pertanyaan mengusik perasaanku di hari-hari terakhir ini: jika memang benar Indonesia adalah sebuah Negara dan bukan sekadar kata-kata hampa: apakahnya pengaruhnya bagiku? Jika benar Indonesia sudah merdeka dan menjadi negara berdasar hukum: apa dampaknya yang nyata bagi masa depanku dan masa depanmu? Jika benar bumi, air dan kekayaan alam Indonesia yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat: apa jaminan anak-anakku dan anak-anakmu mendapatkan bagian dan haknya? Tak ada jawaban.

Toni, aku harus berhenti berkata-kata dan menenangkan diri. Pergilah ikut upacara dan lomba 17 Agustusan. Aku akan menyusul.

Serpong, 11 Agustus 2008,
Kawan lamamu,

Daniel Taruli Asi Harahap

Catatan:
Dua pasang angsa sudah bertelur. Jumlah telurnya empat belas, satu pecah entah kenapa. Doakan ya semua telur itu jadi anak angsa dan aku akan jadi peternak kaya. Hahahaha. Kemarin saat makan bersama opungnya, Wili si bungsu entah kenapa berdoa meminta sepatu bola. Nina sedang bangga-bangganya dengan nilai ulangan hariannya dan Kika tambah sadar saja dia cantik. Ah, aku lupa, mereka rupanya akan datang tanggal 16 Agustus ini. Itu artinya 16,17 dan 18 Agustus bagiku juga hari bahagia. :-)

Share on Facebook

14 Responses to Surat Untuk Pdt Anthony Gregory Tanos di Washington DC

  1. Magda Siagian on August 11, 2008 at 11:33 am

    dear amang pdt….
    Rasanya perasaan itu, sama dengan yg saya rasakan saat ini, bahkan sejak 10 thn yg lalu sejak saya lulus sekolah
    17 agustus tidak lebih dari upacara bendera & setelah itu pulang, karena 17 agustus pasti tanggal merah ( libur )
    saat ini malah setelah saya berkeluarga, 17 agustus tidak lebih dari memasang bendera merah putih di halaman rumah
    entahlah…..

  2. Janpieter Siahaan on August 11, 2008 at 1:20 pm

    Yang pasti, bulan ini amang dan saya akan merayakan hari ulang tahun atau hari kemerdekaan kita lepas dari kandungan, he..he..he… Bintang anang, Leo atau Virgo yah ? kayaknya Virgo…. berwibawa dan penuh perhatian serta pertimbangan.

  3. raya hasiholan sibuea on August 11, 2008 at 1:53 pm

    Semua saat ini berkata sepertinya berkata “..akh 17 an, hari-hari keramat tanpa kesan lagi”. Karena kita mengingat negara ini seperti masih berjalan ditempat. Jika jaman John F Kennedy, bukan kondisi damai tapi perang dengan Vietnam? Maka ia mampu berkata seperti itu! Indonesia 63 tahun damai…17-an maknanya selalu “anak-anak” bukan dewasa. Coba lihat kegiatan RT/RW pasti anak-anak objeknya? Layakkah kata-kata populis itu berkumandang apalagi di tengah “terkikisnya” makna NKRI yang sebenarnya…

    Tapi bagi saya, saya tidak mau larut dan terjebak pada apa yang kita pikirkan “63 tahun apa yang diberikan negara pada rakyatnya?” tapi saya ambil hikmahnya, ternyata di tanah air kita Indonesia ini, kita masih bisa bercengkrama dengan tetangga, bersorak bersama, bergembira yang mungkin 17-an tahun berikutnya, tahun berikutnya, tahun berikutnya…atau tahun berikutnya lagi, hari itu tidak seperti biasanya lagi…mungkin Indonesia bubar…Indonesia bencana, Indonesia be change? Jangankan untuk memasang bendera, melangkahkan kaki di bumi kita ini pun kaki kita sudah bergetar!

  4. rumanap on August 11, 2008 at 5:24 pm

    saat aku tiba didepan rumahku ( yang sy tinggal bbrp hari ke surabaya )
    sy melihat tiang bendera terbuat dari bambu yang hampir busuk diikat tali rapia kepagar. yah bendera didepan rumahku berkibar justru saat aku tidak ada dirumah. ternyata penghuni rumah ini masih merasa merdeka..

    Bapak tau gak siapa yang masang bendera ?..anakku memulai percakapan mengenai bendera.
    Gak.. emang siapa nak ?
    Saya.. !
    Baguslah .. kok kamu masang bendera ?..
    Yah kan mau tujuh belasan !
    Emang kamu merasa merdeka ? pertanyaan kulanjutkan sambil mikir apakah anak kelas 1 smp bisa mengerti apa sebenarnya arti kemerdekaan.
    Saya sangat sedih pak baca sejarah, waktu bangsa kita dijajah..

    Yah merdeka dan penjajahan adl hal yang tak terpisahkan. Suami atau Istri . Orang tua dan anak..bisa saja sebagai insan terjajah atau merdeka.
    Mari kita introspeksi aja apakah kita memberi kemerdekaan kepada mereka2 yang kita kasihi, pada suami, pada istri, pada anak…etc termasuk pada Indonesia tercinta.

  5. st. edison siahaan on August 12, 2008 at 7:29 am

    Seperti apakah goresan surat kawan lama, Toni itu sehingga galauan Amang demikian pesimis soal Indonesia dalam tulisan ini!
    Merdeka adalah satu kata yang didambakan setiap insan tanpa terkecuali. Nelson Mandela salah satu tokoh yang tidak dapat diragukan lagi kredibilitasnya dalam rangka mewujudnyatakan kemerdekaan itu bagi bangsanya. Sampai-sampai hal itu menyeruak ke berbagai bangsa lain di dunia. Satu kata dia adalah “teladan”. Bagaimana dia menyaksikan negara Xanana Gusmao saat ini yang penuh dengan problema pada hal dialah satu-satunya tamu negara RI saat kunjungan kenegaraan berani berkata : “bebaskan XG dari penjara!”. Demikian juga dia melihat penerusnya, Mbeki memihak kepada Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe dalam soal ketidak demokrasian di negara tersebut. Nelson Mandela memilih “berdiam diri” dalam masalah-masalah tersebut. Bolehkah saya menebak bahwa Nelson Mandela “pastilah” berdoa : ” Tuhan, aku yakin Engkau akan melahirkan Nelson Mandela Nelson Mandela pada zamannya untuk menegakkan kemerdekaan di dunia ini, sebelum tanda-tanda akhir zaman yang disaksikan Alkitab tiba, amin!”
    Merdekalah bangsaku!

    Daniel Harahap:
    Saya pesimistik melihat keadaan negeri ini bukan karena surat kawan lama saya Toni, tetapi karena kondisi Indonesia sendiri. Secara singkat ada 3(tiga) hal yang membuat saya menganggap Indonesia ini sudah sangat sulit (hampir mustahil?) diperbaiki. Pertama: tidak ada partai sekuler yang benar-benar terorganisir dan memiliki tekad kuat memberantas korupsi. (Catatan:tidak ada partai yang hidup dari iuran anggotanya dan itu sungguh mengerikan!). Kedua: tidak ada lembaga agama yang benar-benar tergorganisir untuk menjadi pengawal demokrasi dan pemberdayaan masyarakat sipil. Akibatnya terjadilah anarki di banyak tempat. Ketiga:semua pers yang kuat terutama televisi telah dikuasai oleh pemilik modal raksasa dan digunakan secara sistematik untuk membela kepentingan pemilik modal itu.

  6. Pangondian ritonga on August 12, 2008 at 7:57 am

    Koq saya jadi ikut-ikutan jadi sentimentil Lae ? Mata saya memerah menahan berbagai perasaan menyaksikan bermacam-macam situasi di negeri ini. Sekedar bertanya Lae, apakah kondisi kita sekarang diakibatkan oleh penduduk negeri ini yang sering dan suka mengutuk umat Tuhan / Bangsa Israel ? Anyway…saya tetap tancapkan bendera Merah Putih meski saya sendiri sudah tak mengerti apa arti 63 tahun merdeka di negeri ini. Benar Lae…saya bukan ikut-ikutan sama Lae tapi saya juga harus jujur bahwa saya juga telah lama …M…U…A…K… saksikan segala kemunafikan di Indonesia ini. Nang pe songonon hita, lalai sotung lupa hota tong-tong mandok mauliate disude denggan basa-Na
    Semoga bere KNW bisa nikmati liburannya bersama Lae dibagasan hahorasan dohot sonang ni roha … ido na umporlu ate Lae !

    Daniel Harahap:
    Bangsa ini terpuruk bukan terutama karena sikapnya yang cenderung diskriminatif terhadap gereja, tetapi karena: korupsi.

  7. dahlia on August 12, 2008 at 9:30 am

    Amang, tulisan kemerdekaan RI menyentuh hati dan saya malah senang karena libur mengenai kemerdekaan Indonesia biasa saja yang pasti ada setiap tahunnya hehe…ada lomba, makan sama RT, ada bendera, kompleks rumah dihias…
    Saya akui saya tidak memahami makna kemerdekaan bagi saya tetap sama dan tiada kesan selalu ada setiap tahun..
    Pasti sedih ya pahlawan kita klo tahu generasi penerus sperti aku ini padahal mereka berjuang untuk merdeka dan apakah yang telah kita lakukan untuk menghargai perjuangannya
    Ya, itulah pertanyaan yg harus saya jawab dalam hati saya.

  8. jonathan on August 12, 2008 at 6:03 pm

    Pendeta Daniel yang saya hormati,
    Janganlah muak dan menjadi tawar hati terhadap pemerintah,negara dan terlebih-lebih bangsa Indonesia ini. Sedikitnya ada dua hal sehubungan dengan kemerdekaan RI yang membuat saya pernah gemetar. Pertama ketika saya SMA saya pernah kebagian tugas membacakan pembukaan undang-undang dasar di depan umum dan dalam situasi resmi. Dengan lantang saya berseru bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, tetapi ketika tiba pada kalimat:”Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa” dengkul saya gemetar dan mulut rasanya kering, padahal saya turut meyakini bahwa kalimat itu benar adanya. Kedua ketika beberapa tahun yang lalu saya mengikuti kebaktian sore di HKBP Rawamangun. Karena tanggal 17 Agustus tahun itu jatuh tepat pada hari Minggu, sebelum kebaktian dimulai jemaat diminta berdiri untuk sama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya gemetar dan terharu karena HKBP dengan kebesaran jiwanya mau mengingat kemerdekaan RI. Padahal dalam sejarahnya pemerintah RI pernah melukai HKBP.

    Kalau saya renungkan tujuan kemerdekaan RI tidak boleh bertentangan dengan makna paskah yang memerdekakan manusia. Saya bisa memahami sikap pendeta yang muak melihat penjajahan manusia atas manusia, pemerkosaan hak-hak azasi, upaya membodoh-bodohi bangsa, perilaku menghambat kesejahteraan umum,tidak adanya upaya melindungi warga negara apalagi yang lemah yang kesemuanya itu berhubungan erat dengan tujuan negara ini. Saya berharap Pendeta mau mendoakan dengan ikhlas pemerintah,negara dan bangsa ini agar Tuhan mau menyertai kita yang sebangsa dan setanah air ini ketika keluar dari keterpurukan dan masuk ke kehidupan yang lebih cerah. Akhir kata:”Merdeka”.

  9. Jenni Sitinjak on August 13, 2008 at 3:41 pm

    Aq sependapat sm amang bahkan aq sering berpikir ach..apa sih 17-an itu g penting …..usia yg ke-63 bgi Indonesia ga menjamin kedewasaan pemimpin negara Indonesia, …17-an hya ajang buat unjuk kebolehan saja tanpa bisa memaknai apa arti “kemerdekaan” sesungguhnya…UUD yg dibuat tdk semuanya diberlakukan, buktinya msh byk org yg kelaparan,k emiskinan mkn brtambah d isetiap sudut kota….. tp mo gmn lg..?? mgkn yg bs kt lkukan hnya brdoa ….dan sy jg berharap hal yg sm bg saudara2 yg lain agr kt mau berdoa buat negara kita agar bnr2 “MERDEKA”

  10. Nakita on August 13, 2008 at 5:27 pm

    Terus-terang, saya lama tidak menganggap penting hari 17 Agustus.
    Bagi saya hari tersebut adalah hari libur yang bisa saya pakai untuk bermain dengan anak-anak. Dan mungkin juga mengenal tetangga kita yang notabene orang sibuk semua (orang kerja).

    Saya setuju dengan kalimat amang ini:
    “Apa dan bagaimanapun keadaan aku akan berjuang ikhlas menghidupi diriku sendiri dan anak-anak”.

    Sudah menjadi tanggung jawab kita (dengan ikhlas) untuk menghidupi keluarga – tidak peduli apakah negara ini merdeka atau tidak.

  11. Nimrod Sitohang {A.Naomi} on August 14, 2008 at 2:33 pm

    Ketika membaca tulisan amang ini, hati saya jauh menerawang ke depan, akan jadi apakah negara ini 10, 20 bahkan 30 tahun yang akan datang, semua yang dibeberkan amang DTA adalah cerminan kegalauan warga negara indonesia saat ini, ketika kita melihat morat marit managemen negara ini, hampir semua kekayaan alam dikuasai oleh asing, dan juga koruptor berdasi berkeliaran dimana mana, sungguh miris rasanya melihat kondisi negara ini, saya salut untuk amang DTA, tulisan ini mewakili kegalauan hati 100% kaum muda saat ini.

  12. Rudi Juan Carlos Sipahutar on August 17, 2008 at 9:34 pm

    Horas Bang DTA,
    ungkapan hati yang sangat jujur..pasti timbul dari kontemplasi Abang yang sangat dalam.

    hari ini 17 agustus 2008 genaplah 63 tahun Indonesia Berduka, karena sejak tahun 45 jutaan rakyat yang cinta bangsa ini terus- terusan gugur menjadi korban yang teraniaya oleh mahluk yang namanya penjajah. Dan hari ini hanyalah perayaan akan korban-korban itu…

    Ayahku juga telah meninggal 28 tahun yang lalu demi bangsa ini, daging, tulang dan darahnya telah terkubur dan menyatu dengan tanah air ini, dan saya juga harus terlahir di tanah ini. Dan hari ini, “rakyat yang cinta akan bangsa ini” turut berkabung untuknya dengan upacara, konvoi dan pidato yang berkepanjangan.

    Bang DTA,
    Entah kenapa jantung saya berdetak kencang ketika baca surat terbuka mu..?? rasa haru tiba-tiba saja muncul dan bergejolak..mendadak ku ingat ayahku yang hanya samar-samar ku kenal. Mendadak kuingat adekku (perempuan) yang baru menikah seminggu yang lalu, tapi tak pernah kenal wajah ayahnya! yang konon dari cerita orang-orang dan mama, Ayah kami gugur demi bangsa yang korup dan tak jelas ini.

    Bang DTA,
    Saya sudah lama berhenti menangis dan meratapi nasib ku, berhenti menyesali kemiskinan dan berhenti mengeluh tentang bangsa ini..bukan karena cuek ! tapi karena tak ada berguna.. saya masih bisa tersenyum dan berlahan merangkak, berdiri dan berbicara berlahan meski tak lantang ,mencoba berbagi dengan anak-anak muda di sudut ibu kota negeri ini agar merekapun memiliki harapan di tengah ketertindasan hidup akibat hadirnya konglomerat dan kaum kapitalis yang merampok dan menjarah hak hidup mereka..

    Anak- anak negeri ini adalah anak-anak merdeka…
    harus merdeka! merdeka untuk hidup, merdeka dari perasaan putus asa, merdeka dari rasa takut, merdeka dari kerusakan moral dan merdeka dari godaan provokatif……

    Indonesia bukan milik siapa2.. tapi darah daging kami lahir di tanah air ini. Maka kami pun merasa berhak memilikinya…
    INDONESIA hanya sekedar IDENTITAS buat kami, dan saat ini kami mau berjuang memberi makna untuk IDENTITAS itu.

  13. Ellen Marbun on September 10, 2008 at 4:00 am

    Aku berusaha mengucap syukur dalam segala hal. Thank GOD aku bisa sekolah . Matur nuwun Tuhan aku bisa kerja bantu2 suami cari ngolu. Kamsia Jesus aku bisa mengikuti kemajuan dunia lwt internet. Terima kasih Tuhan aku bisa liat org2 opprtunistik dan pragmatis dgn kacamata maklum. Aduh….. semuanya itu ndak akan bisa kudapatkan klo bangsaku ndak merdeka, klo kita ndak punya identitas NKRI. Aku ndak mau nyalahin pemerintah di masa apapun,ORLA kek,ORBA kek, Reformasi kek, tekek kek……karena masing2 kita dapat keuntungan dari masa tiap pemerintahan….don”t be hipocrit!
    Intinya…..jij tanya ke diri sendiri deh….kok mrasa hambar di jaman merdeka on………

  14. Pandoit on July 2, 2009 at 1:49 pm

    Horass semuanya…..
    setelah saya membaca surat amang Pendeta DTA Harahap, saya teringat mulai dari masa kecil saya dikampung halaman bagaimana ceremony 17 agustus dirayakan. Dulu menjelang 17 agustus kami anak – anak sekolah mulai dari SD,SMP,SMU bentuk ceremony 17 agustus beraneka ragam kegiatan, mulai dari perlombaan panjat pohon pinang, makan kerupuk,ikut pawai baris berbaris dimulai dari lapangan sisingamangaraja balige terus keliling rumas sakit hkbp balige, juara monag terus kembali ke lapangan tsb yang jaraknya kurang lebih 3-4km, dll. Ketika saya masih SD biasanya kami anak” tgl 16nya membersihkan kaki dulu (mangusa taktak ni pat) pakai batu putih yang kasar (batu ranggiggis) di mual krn besoknya pakai celana pendek terus digosok pakai minyak goreng begitu kena sinar matahari kaki kelihatan kinclong/mengkilat. perasaan pada saat itu sangat senang dan gembira bukan krn rasa nasionalisme yg muncul tp karena suasana keramaian dan kemeriahan dengan orang” yg datang dari berbagai penjuru. Sekarang setelah masa itu berlalu dengan melihat situasi negara kita saat ini yang terlalu banyak kemunafikan,banyak kebusukan,kemiskinan,busung lapar, banyak yang tidak bisa menikmati pendidikan, apakah ini yang namanya kemerdekaan??? sekaranglah pantas kita pertanyakan apa yang telah diberikan oleh negara kepada kita??? Bagaiman caranya menumbuhkan rasa nasionalisme dan rasa bangga terhadap negara Indonesia??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*