Almanak Selasa 29 Juli 2008:
Tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras, jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas. (Amsal 31:4-5)
Minuman beralkohol bagi masyarakat Yahudi dan juga Batak Kristen bukanlah sesuatu yang asing apalagi dianggap “barang haram”. Jika orang Yahudi mengenal anggur, maka sejak jaman purba orang Batak telah mengenal “tuak”, minuman beralkohol tinggi yang terbuat dari getah buah aren atau kelapa. Setelah masuk Belanda dan Jerman, orang Batak juga sedikit-sedikit mengenal anggur, bir dan wiski. Dan sesudah jaman industri, maka maka minuman beralkohol buatan pabrik pun masuk ke kalangan masyarakat, seringkali dengan kadar alkohol yang sangat tinggi dan membahayakan kesehatan.
Kecuali bagi mereka yang sangat saleh, minum bir atau tuak tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang salah atau terlarang, sebaliknya malah sering dianggap sebagai simbol penghormatan. Dalam pesta-pesta adat bir dan tuak sering diedarkan sebagai suguhan kepada para raja-raja adat dan hula-hula. Bahkan di kampung-kampung bir dan tuak juga keluar di pesta-pesta gereja tanpa harus merasa bersalah. Satu lagi: masyarakat batak sangat dekat dengan “budaya lapo” atau tempat para laki-laki berkumpul seharian sambil minum tuak, bir, “anggur” atau campuran dari semuanya.
Penulis Amsal, ribuan tahun lalu, sudah mengingatkan bahwa anggur atau alkohol tidak pantas bagi raja atau hakim. Mengapa? Karena minuman alkohol itu bisa membuat sang raja atau sang hakim lupa kepada apa yang telah diputuskannya dan bahkan membengkokkan hak orang-orang tertindas.
Bagaimanakah dengan orang susah atau miskin, bolehkah mereka memakai alkhol melupakan kesusahan dan masalahnya? Jawabnya juga: tidak. Sebab kemiskinan atau kesusahan itu tidak akan pernah bisa berkurang, dan masalah takkan bisa selesai, dengan memabukkan diri dan lari dari kenyataan.
Bagaimana dengan kita yang bukan raja atau hakim, dan bukan juga orang yang hendak mati, susah dan miskin? Haruskah juga kita membiarkan diri kecanduan dengan alkohol atau minuman keras? Jawabnya: tidak. Sebab sebagai orang-orang normal dan biasa pun kita tetap butuh siuman dan siaga, berpikir dan mengambil keputusan dengan sesadar-sadarnya, dan tidak mencelakakan orang lain (karena sedang mabuk).
Doa:
Ya Tuhan, ajarlah kami tetap sadar, siuman dan siaga dalam kehidupan ini. Bantulah kami berpikir jernih dan mengambil keputusan dengan hati dan pikiran tenang. Juga dalam keadaan sulit, tolonglah kami agar tidak melarikan diri dari masalah dan kenyataan hidup. Jadikanlah kami murid Yesus dalam kata dan perbuatan, sikap dan perilaku kami sehari-hari. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
syalom, selama phn aren dan kelapa tumbuh ya Tuak masih tetap dinikmati, apapun itu tuak, anggur. bir, tomi/topimiring, wiski. kalau dikomsumsi tidak berlebihan itu sah sah aja, Masalahnya banyak orang sebagai pelarian dan penghindari masalah sesaat hanya sia-sai. jangan menikmati alkohol yang berlebihan. dan menghindari perilaku yang salah. tetap siuman dan siaga keimanan kita menangkal yang tidak baik didepan Tuhan. gbu
Mohon bantuan Pak Pdt. DTA untuk menjelaskan, apakah konteks dan pesan yang dikandung di dalam 1 Timotius 5 (Beberapa Petunjuk dan Nasehat Lagi) khususya 1 Timotius 5:23 yang menyatakan, “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.”
Terima kasih sebelumnya.
bukan untuk menguji nih amang pendeta !!
apa pendapat amang pendeta tentang teks dan cara orang melagukan :
“Yesus sungai cintamu mengalir ….. dst” terus diikuti dengan yel yel : “YES YES YES …”
dalam lagu itu ada juga kata-kata anggur …..
horas ma
http://rapmengkel.wordpress.com
Horas..
Sepertinya lagu…”lisoi-lisoi..” harus segera kita tinggalkan amang ?…apalagi dinyanyikan di malam hari, di lapo ni “Nai Malvinas pula lagi”. Jangan seperti orang koling di Medan, ndang adong hepeng modom di jabu, adong hepeng modom di paret”.
Orang tenggen tidak waspada juga nekad (bukan berani)…akh roa ma siberengon hira jolma na so jolma…Lukas 21:34 “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.
Benar pak ,Minuman keras membuat orang kecanduan,dan menginginkan suatu perasaan kenikmatan tersendiri bagi mereka tanpa memikirkan dampak dan perasaan orang lain. pemabuk sama dengan orang tidak normal dan orang tidak waras,menghabiskan uang waktu dengan tidak berguna hanya untuk kesenangan sendiri.
Sama halnya juga dengan Mabuk,kecanduan karena rokok, menurut testimoni bahwa pintu paling cepat masuk kejurang narkoba adalah rokok dan peminum alkohol. sebab mereka yang mencari kenikmatan dari minum beralkohol dan juga rokok berarti orang yang tidak bisa mengendalikan diri dan sepantasnya tidak boleh jadi pemimpin ,mungkin jaman dulu bisa pemabuk menjadi raja,tetapi jaman sekarang tidak etis lagi orang yang pemabuk melalui minuman dan rokok menjadi pemimpin.
Bukankah Pemimpin itu harusnya bisa selalu sadar,waras ,normal dan siaga dan bisa mengendalikan diri. Pemimpin yang baik adalah Pemimpin yang bisa mengendalikan diri,emosi,perasaan .Apalagi jadi pemimpin rohani janganlah mabuk minuman dan mabuk rokok ,karena dari segi etika dan estetika tidak enak di pandang mata, kita jemaat biasa aja bisa mengendalikan dan mengetahui bahwa minuman dan rokok memabukkan itu tidak bagus hanya merugikan diri sendiri dan orang lain.
Trimakasih dalam kesepatan ini menggagas HKBP untuk lebih maju kedepan Mohon Mulai Dari Pimpinan seluruh HKBP agar tidak dipilih mereka yang suka minum beralkohol,yang suka merokok,dan jika perlu dimasukkan syarat untuk menjadi Pendeta,Guru Huria,Penetua dan Majelis Gereja di HKBP harus bebas dari hal yang memabukkan baik minuman dan rokok ,sebab tidak enak kelihatannya lebih suci,lebih bisa menjaga diri jemaat orang lain dibandingkan dengan pendeta kita. maaf ya kepada bapak-bapak Pendeta HKBP yang merokok memang kami jemaat kurang nyaman jika melihat bapak-bapak merokok.
Kedepan juga perlu di pelopori agar HKBP dengan Visi Misi yang baru juga membenahi bagaimana agar seluruh HKBP bebas rokok,bebas Miras,dan Bebas Narkoba.karena sudah rahasia umum banyak bapak-bapak tidak bisa bayar uang sekolah anaknya tapi beli rokok 2 bungkus dan di tambah 1 botol tuak bisa. jadi seperti renungan amang DTA hari ini bagus sekali amang .
terima kasih amang atas refleksinya. i do understand why being drunk is totally a big no no! karena tanpa sadar dalam keadaan pengaruh alkohol kita bisa melakukan hal-hal yang sangat dibenci Allah, yaitu dosa.
harus ada istilah mencegah lebih baik daripada mengobati. do something! soalnya saya jadi ingat dengan kebijakan walikota tangerang, bapak wahidin halim, yang memberantas minuman keras berkadar alkohol tinggi, terutama miras yang murah dan bisa dijangkau rakyat kecil. sampai2 ada perda pelarangan miras di kota tangerang ini. sekarang cari bir bintang di kota tangerang? jangan harap! semoga ini bisa juga dicontoh oleh daerah lain.
oiyaa. mengonsumsi minuman alkohol itu tidak baik (seperti yang amang bilang di atas) karena bisa mencelakakan orang lain. ngomong2 ngerokok juga mencelakakan orang lain lho.. karena faktanya perokok pasif lebih beresiko tinggi dibanding yang aktif. hehehehe (ini omongan kita part 2 waktu di konsistori)
btw, thanks atas kartu namanya. jesus bless.
Kalau minum beralkohol berlebihan yah itu merusak. Bolehlah di larang, apalagi sampe mabuk wah gawat tuh. Tapi kalau merokok kelihatannya harus dilarang sebatas di Gereja atau ruang ibadah dan di ruang konsistori. Kalau harus dilarang merokok di semua tempat aku kurang setuju karena banyak lae dan ito, bude, mbak dan masa saya yamh dagang dan pekerja pembuat rokok.
Kalaupun harus dilarang yah harus ditutup dulu pabbriknya dan di pekerjakan dulu pegawainya. Karena Pemerintah juga melarang (setengah hati) dlm tiap bungkus rokok. Namun pemerintah tdk berani menutup even-even olahraga yang disponsori perusahaan rokok. Yang jelas bagi kita yang belum dan sudah berhenti merokok hanya bisa saran saja. Namun untuk jenis2 Narkoba, ganja jangan dicoba.