Almanak Senin 28 Juli 2008:
Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping. (Amsal 23:21)
Amsal ini ditulis ribuan tahun lalu, ketika kehidupan masyarakat masih sangat sederhana dan selain raja, banyak orang hidup seadanya. Pada saat itu kebiasaan mabuk, boros dan malas nyata-nyata bisa membuat orang jatuh miskin. Namun jaman sudah berubah. Pada masa kini, tanpa harus menjadi raja, ada orang bisa menjadi begitu kayanya, dan kebiasaan mabuk-mabukan, berpesta-pora serta berleha-leha sepanjang malam tak kunjung membuatnya jatuh miskin. Berapalah harga anggur atau wiski yang paling mahal sekalipun, dan biaya bermewah-mewah di hotel, dibanding harta yang dimiliki oleh seorang koruptor, konglomerat atau anak seorang mantan pejabat rejim masa lalu? Namun bagi yang ekonominya pas-pasan atau sedang-sedang saja amsal tua itu benar-benar berlaku hurufiah.
Sebab itu baiklah kita sadar, membuat atau tak membuat jatuh miskin, kebiasaan mabuk dan mengantuk, bermewah-mewah dan bersenang-senang sepanjang hari tetaplah tidak membuat seseorang sehat, baik dan kuat. Makna kehidupan dan kebahagiaan tetaplah tidak bisa ditemukan dengan cara mabuk atau bermalas-malas. Agar dapat berbahagia dan merasakan hidupnya sungguh berarti manusia harus bekerja dan berkarya, terus-menerus berpikir dan melakukan kebajikan, serta selalu membangun hubungan yang dalam dengan Tuhan.
Tuhan bukan pemabuk dan bukan pula pemalas. Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Tuhan selalu sadar, siuman dan siaga. Dia suka bekerja. Sebab itu bagaimanapun kondisi hidup kita, termasuk dibidang keuangan, Tuhan memanggil kita juga untuk tetap berpikir dan bekerja keras sama seperti Dia. Bukan hanya berpikir dan bekerja keras untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama. Itulah hakikat kemanusiaan kita. Itu jugalah yang membuat kita sehat dan kuat, merasa bahagia dan bermakna.
Doa:
Ya Tuhan, doronglah kami agar selalu sadar dan siuman serta siaga dalam keseharian hidup kami. Mampukanlah kami menolak godaan untuk bermabuk-mabukan dan bermalas-malas belaka. Ingatkanlah kami: Engkau tidak pernah mau menjumpai dan menyapa kami saat kami mabuk. Dan Engkau tidak suka menolong orang yang malas. Kami mau secara sadar menggunakan waktu, tenaga, pikiran dan uang kami hari ini untuk berbuat yang baik Sebab itu berkatilah segala pekerjaan baik yang kami lakukan agar berbuah dan menghasilkan sukacita bersama dan kemuliaan nama Tuhan. Demi Kristus. Amin.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Mabuk….
Kata itulah sering kita dengar dalam kehidupan kita ini,,,,
Apalagi kalau saya ingat di kampung saya ,,,, hampir di setiap sudut desa ada LAPO TUAK,,, jadi setiap sore banyak orang yang mengucapkan kata “Aha arroa?,,,,, Ise Arrroa?,,” (Artinya ” Emangnya Kenapa,,,, Emangnya Siapa”
Tetapi kalau di review kembali, walau mereka minum malamnya, besoknya pagi-pagi mereka tetap bisa menjalankan pekerjaan mereka seperti biasa (Kesawah “Mangula”.
Malah katanya,,,… kalau ga Minum, bisa buat Pusing dan tidak enak bekerja. (ada-ada aja ya,,,…..he..he…)
syalom..
Pemandangan di hari kerja di Toba saat ini…”angka inanta mangula di balian…amanta di lapo marsatur, markartu, markombur”. Bolo sae panen “inanta dihuta…amanta, tenggen di kota!”
Makanya tobasa kabupaten termiskin di sumatera utara dan termasuk 20 besar termiskin di Indonesia.