Almanak Sabtu 26 Juli 2008:
Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari padaNyalah harapanku.(Mazmur 62:6)
Kecuali sedang jatuh cinta, realitas hidup moderen sering dilukiskan menyerupai kancah peperangan alih-alih taman bunga indah damai, laut yang bergejolak alih-alih laguna berpermukaan air tenang seperti kaca, atau jalan raya yang hiruk-pikuk dan penuh kenderaan lalu-lalang (dan salip-menyalip) ketimbang jalan setapak di lereng pegunungan. Berada apalagi merasa terjebak di kancah perang, laut bergejolak, atau jalan raya yang ramai semrawut, seringkali hati dan pikiran kita pun ikut-ikutan bergejolak dan rusuh.
Kecuali sedang cuti, liburan atau retret, acapkali kita tidak bisa menghindar dari realitas kehidupan yang rumit dan sering sengit itu. Realitas hidup moderen apalagi di negeri transisi yang sedang dilanda krisis semacam Indonesia benar-benar bagaikan kancah pertarungan memperebutkan kekuasaan dan pengaruh, menguasai akses ke sumber-sumber ekonomi, atau mendesakkan nilai-nilai dan norma-norma kelompoknya menjadi pegangan semua. Perusahaan-perusahaan berkompetisi saling mematikan merebut pasar. Agama-agama dan bahkan kelompok-kelompok satu agama pun bersaing mendapatkan pengikut, dan tak malu-malu saling menjelekkan yang lain. Para politisi saling menjegal, menjebak dan memasang perangkap. Dan untuk eksis atau sekadar bertahan hidup orang-orang saling menjatuhkan. Semua kenyataan itu sering membuat hati kita benar-benar tegang, berkecamuk, rusuh dan lelah.
Mazmur Daud mau menolong kita. Daud adalah seorang prajurit sejati yang hidup dari satu perang ke perang lainnya. Dan sesudah menjadi raja pun dia tetap terlibat dalam banyak sekali peperangan, tidak hanya melawan negeri-negeri lain, tetapi juga menghadapi lawan-lawan dan berbagai masalah di dalam kerajaannya. Namun hati Daud bisa tetap tenang dan tenteram. Mengapa? Karena dia merasa memiliki kubu pertahanan, benteng dan perlindungan, dan perisai yang maha kuat, yaitu TUHAN (Mazmur 62:3).
Bagaimana dengan kita? Realitas hidup yang kompleks, sengit dan kadang semrawut dan kasar mungkin tidak terelakkan. Sebab itu terimalah kenyataan dan hadapilah. Namun baiklah kita catat bahwa dalam TUHAN kita bisa tetap merasa tenang dan tenteram di kenyataan hidup yang paling sengit dan pelik sekali pun.
Doa:
Ya Tuhan Allah, Engkaulah kubu pertahanan, benteng perlindungan, dan perisai kami di tengah-tengah berbagai pertarungan dan perang di dunia ini. Bersama dan dalam Engkau jiwa kami akan tetap teduh dan tenteram di tengah kenyatan hidup dunia ini. Teguhkanlah iman kami kepadaMu. Engkau adalah pengharapan, andalan dan gantungan hidup kami menghadapi berbagai masalah, tantangan dan cobaan. Dalam kasih dan damai Kristus kami akan bangkit dan menang. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Pak DTA. Daud hidup di dalam perang yang satu ke perang yang lain,di dalam perang daud pasti ada yang di bunuh ,pertanyaannya apakah waktu Daud membunuh waktu perang tidak berdosa? bagaimana dengan jaman sekarang jika seorang tentara di tugaskan ke medan perang jika terjadi kontak senjata apakah si tentara yang membunuh musuh tidak berdosa? ketika Jaman sekarang ada yang menganggu bahkan mengintimidasi perkembangan iman dan kepercayaan kita, pembangunan gereja khususnya apakah kita bisa melawan mereka dengan mengatakan perang dan kita bunuh mereka, apakah itu bisa disamakan dengan perang jamannya Daud?
maaf bukan berarti mau jadi ikut ekstrim ,tapi kadang kadang terpikir dan terlintas dalam pikiran bukankah kita juga bisa jadi laskar? Memang di perjanjian baru selalu yang di tonjolkan Damai tapi perjanjian lama juga kan tetap sebagai contoh dan cerminan dan pedoman untuk kehidupan sekarang seperti renungan hari ini.
Daniel Harahap:
Pemahaman gereja akan kasih Tuhannya juga bertumbuh. Pada saat ini kita semakin sadar bahwa Allah tidak menghendaki kekerasan. Agama-agama termasuk gereja di dalamnya justru harus aktif menyuarakan dan mengusahakan perdamaian. Selanjutnya: gereja harus mengedepankan hukum dan moralitas sebagai jalan penyelesaian, termasuk ketika merasa dirugikan sebagai warga masyarakat dan warga negara. Kekerasan tidak bisa dihapuskan dengan kekerasan. Kejahatan semakin berkembang dengan kejahatan. Karena itu kisah-kisah perang yang kita jumpai di Alkitab harus dipahami secara baru dan diartikan secara rohani.
Tentara yang membunuh di peperangan. Siapa yang berdosa atau harus bertanggungjawab kepada Tuhan? Kepala Negara/ Panglima tertinggi yang memerintahkan perang itu dan para politikus yang mendukungnya, dan pemilik perusahaan senjata!
Renungan yang indah dari Amang DTA melalui peMazmur dan sesuai dengan realitas saat ini, mestinya semua pemimpin dunia terlebih di Indonesia meneladani Raja Daud agar menjadi pemerintah, penguasa, politikus yang takut akan Tuhan. Pasti negara kita makmur dan kita aman tenteram.
“Namun baiklah kita catat bahwa dalam TUHAN kita bisa tetap merasa tenang dan tenteram di kenyataan hidup yang paling sengit dan pelik sekali pun.”
“Hanya Dia gunung batuku , hanya Dia kota bentengku . aku tidak akan goyah selama-lamanya…” Terimakasih Tuhan Yesus , kiranya renungan yang ditulis Pdt DTA dapat menguatkan anak-anak-Mu untuk menyikapi segala masalah yang tak henti-hentinya menyerang
Saya setuju dengan liberty.Akhir-akhir ini banyak sekali berita tentang pelaksanaan hukuman mati. Sebagai umat yang percaya bahwa hayat hidup seseorang hanya milik Tuhan, seharusnya kita -sebaiknya dipelopori gereja- menyuarakan penentangan hukuman mati. Malah kalau lebih diperhatikan, alangkah banyaknya pihak yang terlibat dalam hal ini: Penguasa, hakim, jaksa, eksekutor, pengawal, pegawai negeri, pemirsa, komentator dan banyak lagi.Alangkah tersiksanya menjadi bagian dari sesuatu yang sangat bertentangan dengan hati nurani, bahkan iman. Lebih jauh lagi, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati..
Daniel Harahap:
Jujur, kalangan teolog terbelah dua. Sebagian menolak hukuman mati (dengan alasan bahwa hanya Tuhanlah yang berhak mencabut nyawa, dan memberi kesempatan kepada yang bersalah untuk bertobat, serta mengakui bahwa sekecil apapun ada kemungkinan pengadilan salah mengambil keputusan/ menghukum orang yang tak bersalah – padahal yang dihukum sudah sempat mati). Sebagian lagi setuju hukuman mati untuk para koruptor dan teroris serta pengedar narkotik, orang-orang yang dianggap merusak kehidupan dan peradaban (dengan alasan lebih baik menghukum mati seseorang daripada menghancurkan seluruh anak bangsa).
Realitas hidup manusia moderen tak harus dikondisikan oleh suasana zaman yang terjadi, ditengah perang bisa saja hati semakin damai, tapi bisa bisa justru di tengah kedamaian suasana hati sedang berperang dan merasa terancam dan terjerat…..
Pola respon diri terhadap lingkungan terngantung pada WORLDVIEW pribadi yang di bagun diatas NILAI-nilai yang diyakini. WORLDVIEW bisa bersumber dari :
1. KITAB SUCI 2. TRADISI 3. BUDAYA 4. PENGALAMAN EMPIRIS 5. PIKIRAN 6. dll
Di atas apakah realitas hidup pada zaman ini harus kita BANGUN….???
Itu semua adalah PILIHAN !!! jangan pernah salahkan lingkunganmu bila hidupmu buruk dan tertekan tapi cek dulu terhadap kacamata apa yang kita pakai untuk memandang Dunia ini…bukan dunia yang gelap tapi kaca mata kita yang buram……
Daniel Harahap:
Yang paling sulit itu jika hari sudah mendung atau gelap tetapi masih juga pake kaca mata hitam.
Syalo, Amang. yah karena kita minoritas kita harus menyukuri keberadaan kita, mari kita teguhka keimanan kita terus, agar segala penekanan pada kita Tuhan memberikan jalan yang rterbaik. gbu
Berperang dengan diri sendiri, dengan hati sendiri, sangat berat, mengalahkan keinginan sendiri, mengalahkan hatiku yang selalu jugul, tolong aku Tuhan Yesus. Terima kasih Amang, saya sudah lama menghilang dan tidak berkunjung, salam jumpa.