Tulisan Di Dinding Istana

July 24, 2008
By Daniel T.A. Harahap

SERMON MINGGU INI

cawan-33.JPG

Bahan: Daniel 5:1-10

Raja Belsyazar mengadakan perjamuan yang besar untuk para pembesarnya, seribu orang jumlahnya; dan di hadapan seribu orang itu ia minum-minum anggur. Dalam kemabukan anggur, Belsyazar menitahkan orang membawa perkakas dari emas dan perak yang telah diambil oleh Nebukadnezar, ayahnya, dari dalam Bait Suci di Yerusalem, supaya raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu. Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu. Pada waktu itu juga tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana raja, di depan kaki dian, dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu. Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia; sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan.

Kemudian berserulah raja dengan keras, supaya para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum dibawa menghadap. Berkatalah raja kepada para orang bijaksana di Babel itu: “Setiap orang yang dapat membaca tulisan ini dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, kepadanya akan dikenakan pakaian dari kain ungu, dan lehernya akan dikalungkan rantai emas, dan di dalam kerajaanku ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga.” Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja. Sesudah itu sangatlah cemas hati raja Belsyazar dan ia menjadi pucat; juga para pembesarnya terperanjat.

Karena perkataan raja dan para pembesarnya itu masuklah permaisuri ke dalam ruang perjamuan; berkatalah ia: “Ya raja, kekallah hidup tuanku! Janganlah pikiran-pikiran tuanku menggelisahkan tuanku dan janganlah menjadi pucat; sebab dalam kerajaan tuanku ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus! Dalam zaman ayah tuanku ada terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa. Ia telah diangkat oleh raja Nebukadnezar, ayah tuanku menjadi kepala orang-orang berilmu, para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum, karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja. Baiklah sekarang Daniel dipanggil dan ia akan memberitahukan maknanya!

Apakah pesan moral dan spiritual yang dapat kita petik dari kisah kuna yang dicatat Alkitab (Daniel 5) di atas?

1. Pada jaman dahulu raja-raja selalu dipandang sebagai seorang manusia istimewa yang memerintah atas mandat ilahi dengan kekuasaan mutlak atau tidak terbatas. Raja bukan saja dihormati dan ditaati sebagai pemimpin sebuah negara berdaulad tetapi dimuliakan sebagai tuhan atau setengah tuhan. Kata-kata raja merupakan sabda yang bukan saja tidak bisa dibantah tetapi tidak juga tidak boleh diragukan kebenarannya. Mengkritik, mengkoreksi, apalagi menyanggah raja sama saja artinya dengan membawa diri dan keluarga ke dalam sengsara dan maut. Seorang raja dalam masyarakat kuna tidak perlu tunduk kepada hukum, sebab pribadinya sendirilah sumber dan ukuran segala hukum dan moral. Seorang raja juga tidak perlu mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada Rakyat, karena mandat pemerintahannya bukan berasal dari rakyat, tetapi dari dirinya sendiri atau dari apa yang diklaimnya sebagai wahyu ilahi. Hal inilah yang ditentang oleh para nabi mulai dari Musa. Dalam Perjanjian Lama, seorang raja tidak lebih seorang manusia belaka, yang harus tunduk kepada TUHAN, Raja segala raja. Seorang raja sekali pun harus taat kepada TUHAN (pada jaman itu ide hukum tentang raja sebagaimana tertera dalam Ulangan 17:14-20 hanya dikenal di Israel). Cerita tentang Raja Belsyasar yang dihukum oleh TUHAN karena tinggi hati dan mencemarkan kekudusan peralatan Bait Suci memuat pesan profetik atau kenabian khas Israel ini.

2. Pada jaman dahulu (juga masa sekarang) para raja dan penguasa bergelimang dengan harta kekayaan, kemewahan dan kenikmatan. Raja identik dengan negara. Rakyat, dan segala sumber-sumber daya yang ada di negara pada dasarnya adalah milik Raja (karena itu jangan heran jika raja bisa mengambil tanah, kebun, perempuan atau apa saja yang ada di negaranya). Seluruh rakyat dan negara taklukan wajib membayar pajak atau upeti kepada pribadi sang raja. Sebab itu logis sekali jika raja suka mengadakan pesta di istananya, selain untuk memuaskan nafsunya juga untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaannya. Semakin besar dan meriah pesta yang dilakukan sang raja untuk para permaisuri, gundik, kroni dan para pejabatnya, semakin hebat pulalah citra kekuasaan sang raja. Hidup raja dan keluarganya sebab itu jauh sekali dari kesederhanaan dan kebersahajaan, dan bisa sangat kontras dengan kemelaratan rakyatnya. Dipengaruhi dengan alkohol pesta-pesta yang diselenggarakan para penguasa itu sering menjadi lepas kendali (Ingat: Herodes Antipas mengiyakan memenggal kepala Yohanes Pembaptis saat mabuk!). Pada cerita Daniel, Raja Belsyasyar, memerintahkan mengeluarkan perkakas Bait Allah yang dijarah ayahnya Nebukadnezar untuk dipakainya bermabuk-ria bersama para istri dan gundiknya. Perkakas yang bagi umat Tuhan dikhususkan untuk beribadah, dijadikan Belsyasar untuk alat memuaskan nafsunya sambil mentertawakan Tuhan.

3. Apa akibatnya? Tuhan murka dan menunjukkan bahwa Belsyasyar sama seperti ayahnya tidak lebih manusia fana. Tuhan menampakkan diriNya melalui sebuah tulisan di dinding yang kelak hanya bisa diartikan oleh hambaNya Daniel: mene mene tekel ufarsin. Maksudnya: ditimbang, ditimbang dan dipecahkan. Raja Belsyasar telah ditimbang oleh Tuhan, dan rupanya “beratnya” terlalu ringan atau tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan Tuhan, karena itu Tuhan memecah kerajaanNya. Di akhir kisah kita dengar malam itu juga Raja Belsyasyar mati terbunuh.

4. Jaman sudah berubah. Kini kita hidup di era demokrasi dan negara hukum. Tidak ada lagi raja yang berkuasa absolut di dunia ini yang dapat berbuat sekehendak hatinya. Presiden atau Kepala Negara kita juga telah dipilih langsung oleh Rakyat, mendapat mandat memerintah dari Rakyat, dan karena itu harus mempertanggungjawab segala kekuasaannya kepada Rakyat juga. Berbeda dengan jaman Orde Baru, penguasa paska reformasi bebas dikritik dan disanggah jika dianggap tidak benar.

Walaupun bukan berlandaskan agama, negara kita juga sangat menghormati kedudukan dan peran agama-agama sebagai sumber etik, moral dan spiritual bangsa. Hampir tidak mungkin ada penguasa yang berani memakai alat perjamuan kudus dari gereja misalnya untuk mabuk-mabukan atau menghina agama. Pesta-pesta yang dilakukan oleh para penguasa apalagi seorang presiden juga dikontrol ketat oleh publik termasuk KPK. Semua kondisi perkembangan negara dan paham tentang kekuasaan negara ini pantas kita syukuri.

5. Sebagian besar dari antara kita adalah anggota masyarakat biasa, warga negara, dan rakyat kebanyakan. Apa pesan kisah Raja Belsyasar ini bagi kita yang bukan raja, presiden, hakim agung, atau anggota parlemen?

Pertama: kekuasaan atau wewenang, betapa pun kecilnya, tetap harus diawasi dan ditundukkan kepada hukum. Apa pun kedudukan dan peran kita (termasuk sebagai ayah dan ibu, guru, pendeta, penatua, pemimpin kantor atau perusahaan, supir, pedagang dll) harus dipertanggungjawabkan. Kita tidak boleh bertindak sewenang-sewenang dan menganggap diri kita sebagai sumber dan ukuran segala hukum dan moral. Sebaliknya tetaplah taat kepada Tuhan.

Kedua: kesenangan dan kenikmatan yang kita alami, tidak pernah boleh membuat kita tinggi hati, mabuk dan lupa diri, lantas melakukan berbagai tindakan jahat dan keji. Tuhan memberi kita kesempatan untuk bersenang-senang dan berpesta-ria. Namun kesenangan dan kenikmatan bukanlah satu-satunya tujuan hidup kita, dan harus ditundukkan kepada hukum Tuhan, dan harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan (lihat Pengkotbah 11:9).

Ketiga: Tuhan menyuruh kita tetap tenang, berhikmat dan menguasai diri. Ketika banyak orang mabuk dan menjadi “gila”, kita harus senantiasa sadar dan tahu mana baik-buruk, benar-salah, disukai-tidak disukai Tuhan, serta selalu dapat menatap jernih dan jauh ke depan. (Ingat: Daniel tidak mungkin menterjemahkan tulisan di dinding itu jika dia ikut-ikutan mabuk!).

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

3 Responses to Tulisan Di Dinding Istana

  1. JP Simangunsong on July 26, 2008 at 1:33 am

    Semua kisah lalu adalah cerminan / pelajaran untuk kita di masa kini dan di masa depan. Namun kebanyakan manusia yang ada di dunia ini tidak mau mengerti atau tidak perduli akan semua itu. Kebanyakan manusia hanya mengikuti nafsu dagingnya saja dan selalu jatuh ke lumpur yang sama. Memang benar apa yang dikatakan Tuhan Yesus Kristus, hanya dengan Kasih Karunianya kita bisa sampai ke Kerajaan Bapa yang di Surga. Apa memang benar begitu Amang ?

  2. Pahala on July 26, 2008 at 6:40 pm

    Thanks bos

  3. Joice.butarbutar on July 27, 2008 at 11:20 pm

    Pak Pendeta, bagaimana kalau dalam kotbah ini juga ditunjukkan bahwa manusia itu memiliki banyak keterbatasan. Seorang Raja yang begitu berkuasa dan didampingi oleh 1000 petinggi kerajaan tidak mampu membaca tulisan yang ada di dinding.

    Daniel Harahap:
    Hari ini saya kotbah di GKI Pamulang (pagi) dan GPIB Filadelfia Bintaro (sore) dengan bahan bacaan yang lain. Posting di atas adalah bahan Sermon Parhalado Selasa lalu dan belum sempat dituang menjadi kotbah. Namun menurut saya: yang menyebabkan sang raja dan para petinggi itu tidak mampu membaca tulisan di dinding salah satu adalah karena mereka sudah mabuk karena kebanyakan minum anggur. Pesan moral bagi semua: boleh gembira namun jangan mabuk, dalam arti hurufiah maupun simbolik. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*