Suka tak suka, kita orang Kristen adalah minoritas di negeri ini. Dimana-mana di dunia ini kaum minoritas sedikit-banyak ditekan dan ditindas serta acap menjadi korban. Negeri kepulauan yang sangat majemuk bernama Indonesia ini sedang mengalami krisis yang sangat parah di segala bidang (enerji, pangan, lingkungan, politik, moral dan terutama hukum). Dan fakta walaupun ada yang kaya-raya dan terlalu mencolok, sebagian besar orang kristen yang merupakan minoritas itu sebenarnya hidup miskin, kurang berpendidikan dan tercerai-berai. Komplitlah kelemahan itu. Sudah minoritas miskin pula. Sudah miskin kurang berpendidikan pula. Sudah tertinggal, masih saling berkelahi pula. Lantas?
Kenyataan hidup sebagai minoritas di sebuah negeri yang bukan saja belum maju namun terancam perpecahan dan kebangkrutan seharusnya mendorong kita orang kristen benar-benar kritis dan kreatif. Kita perlu menghayati suatu teologi atau konsepsi iman kristen yang sungguh-sungguh dapat membantu kita untuk survive dan eksis di negeri ini. Syukur-syukur dapat menyumbang bagi pemulihan dan perbaikannya.
Bagaimana jika memahami dan menghayati kekristenan kita di Indonesia sebagai “karet busa” atau sponge yang biasa digunakan untuk mencuci peralatan rumah tangga? Pertama: karet busa itu simpel, sederhana, dan tak berwarna tetapi sangat berguna. Tidak terlalu diperhatikan, namun selalu dicari jika tak kelihatan. Seperti itulah seharusnya kekristenan di Indonesia: tidak pernah ditempatkan di depan, namun sangat fungsional. Kedua: karet busa itu sangat adaptif, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dapat menyerap apapun namun tidak larut dan tak bisa tenggelam. Alangkah hebatnya jika orang Kristen dapat beradaptasi dengan lingkungan, menyerap berbagai budaya, namun tidak kehilangan integritas dan identitasnya yang simpel itu, dan tidak tenggelam di pusaran ekonomi atau politik yang bagaimana pun. Ketiga: karet busa itu benar-benar kenyal dan tahan banting. Ditekuk, diremas, diinjak, dan dihempaskan karet busa itu tetap kembali ke bentuk aslinya. Bukankah orang Kristen harus seperti itu?
Pernyataan Rasul Paulus di atas dapat membantu kita mengembangkan teologi atau konsepsi iman dan kehidupan kekristenan bagaikan karet busa itu. Sama seperti Rasul Paulus biarpun dalam segala hal kita dijepit namun tetap tak terjepit, dihempaskan namun tak binasa, dijatuhkan namun selalu tegak kembali. Kehabisan enerji, pikiran dan dana, namun tidak kunjung putus asa. Itu bukan kata-kata belaka. Iman kepada Kristus yang tersalib dan bangkit memungkinkan kita melakukan hal itu. Dia yang mati dan hidup kembali itu menjadi daya vitalitas yang sungguh-sungguh luar biasa bagi umatNya.
Jika lukisan karet busa kurang dipandang elok, bagaimana kalau kita menghayati diri, persekutuan, gereja dan kekristenan kita seperti rumput saja? Bukankah rumput tetap hidup walau selalu diinjak dan dipangkas? Dibabat semakin merambat? Rumput walaupun merendah di tanah juga berguna bagi banyak orang.
Doa:
Ya Kristus, jadikanlah kami murid, pelayan dan saksiMu yang setia. Engkaulah sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi kami yang tidak pernah habis. Engkaulah patok pengharapan kami yang tidak pernah bisa tercabut sepanjang masa. Bagikanlah kami kesederhanaan dan kerendahan hatiMu, ya Kristus. Tolonglah kami umatMu membuat hidup dan kehadiran kami sungguh bermakna dan berbahagia di dunia ini. Kemarin, hari ini dan esok, sampai Tuhan datang, kami akan tetap bergembira dan berbuat baik. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Analogi yang bagus Amang. Makasi byk ya Amang.
teologi karet busa yang amang tawarkan membuat paradigma dialog interaktif yang terbuka baik dalam teoretis maupun praktis.
karet busa sejalan juga dengan konsep melawan kekerasan melalui kelemahlembutan otot dan otak (pikiran). thanks a lot dan HORAS…
ada lagi amang kehebatan sponge. kalau ‘dikremes’, terus dimasukkan ke air, literan air yang terserap banyak sekali. analoginya, orang kristen semakin ditekan, tapi semakin berbuah banyak. hehehe… bisa begitu gak amang?
analogi yang pas dan menarik.
otak bayi hingga 4 tahun juga diumpamakan seperti sponge alias busa yang mampu menyerap apa saja informasi visual dan non visual dihadapannya. hingga 4 tahun otak anak berkembang sangat pesat terutama saat tidur hingga mencapai 90% otak dewasa. berarti hanya 10% otaknya bisa berkembang hingga 60 tahun kemudian
terimakasih atas renungannya.
Untuk itulah saya bersyukur dilahirkan dalam keluarga KRISTEN. Orang kristen juga di ibaratkan lilin kecil di ruangan yang luas dan gelap…dari sudut manapun kita dipandang akan kelihatan…bercahaya.
Daniel Harahap:
Teologi lilin kecil adalah teologi pengorbanan yang diteladankan dan dipraktekkan sendiri oleh Yesus. Masalahnya orang Kristen moderen tidak suka lagi berbagi apalagi berkorban. Orang Kristen masa kini lebih suka membangun gereja sebesar-besarnya dan semegah-megahnya dan lantas sudah merasa komplit dan sempurna sebagai pengikut Yesus.
Horas… semakin membuka mata akan tantangan kekristenan di depan, agar jangan kita selalu memakai alasan minoritas utk tetap berpikir kerdil menyikapi semua permasalahan hidup. Horas ma di hamu amang Harahap sian hami na di bona pasogit on, lam kenal and tetap berkarya!