Rame-rame Jadi Penginjil

July 23, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Rabu 23 Juli 2008:

dolphins.jpg

Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. (1 Tesalonika 2:2)

Kristus mengangkat dan menetapkan kita menjadi saksi-saksiNya (Kisah 1:8, Lukas 4:48) dan memberitakan Injil dari Allah kepada dunia ini (Markus 16:15, Yohanes 15:16, Matius 28:19). Injil atau Kabar Baik itu adalah bahwa Allah dalam Kristus mengundang semua orang menerima kasih, damai sejahtera, keadilan, pengampunan, pembebasan, hidup baru dan kebahagiaanNya. Sudahkah kita menyampaikan undangan Allah itu? Jika ya, kepada siapa dan bagaimana caranya? Jika belum, maukah kita mulai hari ini menyampaikan undangan Allah itu, menjadi saksi dan pewartaNya?

Walaupun jelas-jelas merupakan suruhan Kristus, banyak orang yang mengaku pengikut Kristus, enggan melakukan tugas sebagai saksi dan pewarta Injil itu. Alasan utamanya: takut. Alasan lain: bingung, tidak tahu bagaimana melakukannya. Alasan lain lagi: masih sibuk dengan urusan lain yang dianggap lebih penting. (Sebenarnya aneh jika ada orang mengaku Kristus adalah Tuan atau Tuhannya, tetapi meremehkan suruhanNya!). Apapun alasan atau dalih itu artinya sama saja: tidak melakukannya. Namun di pihak lain, sebagian orang justru terlalu bersemangat melakukan tugas menjadi saksi dan pewarta itu, sehingga bagi orang lain Injil dari Allah itu dan kehadiran yang bersangkutan malah ditangkap sebagai ancaman, gangguan dan keusilan.

Sesungguhnya tugas menjadi saksi dan pewarta Kristus tidak harus dipandang sebagai beban sangat berat yang tidak tertanggungkan. Memang ada sebagian dari kita yang disuruh Kristus meninggalkan profesinya yang lama untuk lantas sepenuhnya mengabdi kepada tugas Pewartaan Injil dan hidup dari penyelenggaraan tugas itu. Namun sebagian besar dari antara kita tidak perlu meninggalkan profesi, hobi, tempat tinggal, apalagi keluarganya demi menjadi saksi dan pewarta Kristus. Kita justru diminta menjadi saksi dan pewarta Kristus di tempat pekerjaan dan kehidupan kita masing-masing. Kita dapat melakukannya dengan sungguh-sungguh dan hati penuh. Satu lagi: orang lain juga tidak perlu melihat dan menangkap tugas misi kita itu sebagai gangguan, ancaman, atau keusilan bagi hidupnya termasuk bagi pendirian-pendirian dan keyakinan-keyakinan yang dianutnya.

Baiklah kita sadar bahwa pewartaan Injil Allah bukanlah bertujuan untuk menjadikan sebanyak-banyaknya orang menjadi beragama Kristen. Bukan juga untuk membuat saudara dan tetangga kita merasa terusik dan terancam, atau merasa pendirian dan keyakinannya direndahkan. Injil hanya sungguh-sungguh menjadi Injil jika orang lain merasa damai dan sukacita mendengarnya atau mengalaminya. Sebab itu cara kita memberitakan Injil adalah mewujudkan isi Injil itu menjadi kenyataan dalam diri kita dan dimana kita berada. Isi Injil itu tak lain kasih, damai sejahtera, keadilan, pembebasan, pengampunan, dan hidup sejati serta kebahagiaan Allah. Hanya dengan membuat semua itu sungguh-sungguh nyata dalam diri dan pekerjaan, relasi, komunikasi, dan hidup persekutuan kitalah, kita menjadi saksi dan pewartaNya. Untuk itu kita tidak perlu takut dan tidak perlu juga sombong, merasa diri lebih dari semua.

Doa:

Ya Kristus, jadikanlah kami alat dan saksiMu. Di saat permusuhan, jadikanlah kami pembawa damai. Di saat kedukaan, biarlah kami menjadi sahabat dan penghiburan. Di saat keraguan, biarlah kami memberi kepastian. Di saat kesesatan, biarlah kami menjadi penunjuk jalan. Di saat keputus-asaan, biarlah kami menumbuhkan kembali harapan. Isilah hidup kami dengan RohMu, agar kami belajar mendengar dan memahami orang lain, menghargai mereka yang berbeda pendirian dan keyakinan dengan kami, dan mengasihi tanpa pamrih dan syarat. Kami adalah muridMu, saksi dan pelayanMu. Persatukanlah kami dalam penderitaanMu agar kami bersatu dengan Engkau juga dalam kebangkitan dan kemuliaanMu. AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

Tags: , , ,

14 Responses to Rame-rame Jadi Penginjil

  1. Gomgom on July 23, 2008 at 8:38 am

    Mauliate amang.

  2. anne on July 23, 2008 at 9:22 am

    Doa:
    dan disaat aku yang bermusuhan, damaikanlah hatiku. di saat aku yang mengalami duka, biarlah Tuhan menghiburku. di saat aku sesat, biarlah Tuhan menunjuk jalan padaku. di saat aku berputus asa, biarlah Tuhan menumbuhkan kembali harapanku. karena manusia jasmaniku, terkadang tak mampu menjadi alat dan saksiMu. mampukan aku Tuhan. Amin.

  3. Ninggor Pardede on July 23, 2008 at 9:46 am

    Seandainya kita menerapkan Matius 28:19, apakah kita bukan menjadi ancaman buat orang lain? Kalau sudah memberi ancaman, apakah akan memberi kedamaian?.

  4. Theresia Hutasoit on July 23, 2008 at 11:44 am

    …”orang lain juga tidak perlu melihat dan menangkap tugas misi kita itu sebagai gangguan, ancaman, atau keusilan bagi hidupnya termasuk bagi pendirian-pendirian dan keyakinan-keyakinan yang dianutnya”…

    Di masa kuliah dulu banyak teman2ku yang sangat aktif di persekutuan tertentu melakukan hal ini, dan dipandang sangat aneh oleh teman2 tidak seiman dan bahkan teman2 seiman.

    …”Baiklah kita sadar bahwa pewartaan Injil Allah bukanlah bertujuan untuk menjadikan sebanyak-banyaknya orang menjadi beragama Kristen”…

    Pernah aku diajak teman untuk ikut dalam aksi sosial kepada para pemulung dan keluarganya. Aku tidak terlibat dalam persiapan rencana kegiatannya, hanya ikut pada hari H-nya saja. Mereka diberi makanan dan sembako, selanjutnya semuanya diajak naik bis ke daerah perumahan yang lengkap arena bermainnya. Mereka semua kelihatannya sangat gembira. Yang sangat bertentangan dengan hati nuraniku adalah ketika di sana mereka diajak untuk ikut kebaktian, padahal mereka belum / bukan Kristen. Beberapa orang dan anak2 ikut2 bernyanyi dengan takut2, sedangkan sebagian lagi sangat sungkan dan berdiri di pojok2 belakang.
    Aku bertanya kepada temanku mengapa begitu, lantas dia menjawab mereka sebenarnya sudah tertarik untuk ikut Yesus tapi masih malu2/ takut2. Ah.. entahlah, aku tetap merasa hal itu sangat tidak wajar.

    Sejak itu, saya tidak pernah berusaha untuk menyampaikan berita injil kepada teman tidak seiman kecuali mereka menanyakannya. Saya hanya mohon kekuatan dari Tuhan agar dimampukan untuk berusaha setiap hari menjadi semakin baik, memiliki kasih yang semakin besar, mampu mengendalikan emosi dan hal-hal lain agar aku bisa menjadi pewartaNya melalui kehidupanku.

  5. Pangondian Ritonga on July 23, 2008 at 3:28 pm

    Menjadi “garam dan terang” di lingkungan komunitas kita, saya rasa ikut juga menjadi utusan Tuhan Yesus sebagai pembawa kabar baik dari-Nya.
    Tapi sering jadi beban juga bagi saya untuk tinggal bersama orang-orang yang tidak sealiran dengan saya. karena saya harus lberbuat ebih baik daripada mereka. Namun puji Tuhan, sukacita saya akan semakin bertambah-tambah bila kemenangan demi kemenangan dapat saya raih dalam nama Tuhan Yesus……

  6. Andar on July 23, 2008 at 5:51 pm

    Renungan ini menurut saya sangat relevan bagi pemahaman injil yang sesungguhnya, secara khusus bagi tahun marturia HKBP. Injil bukan dipahami sekedar mamboan sadanari, yang sampai saat ini juga belum cukup jelas maknanya. Apakah itu sekedar mamboan tu gareja, atau mengkristenkan atau bagaimana? Tapi injil menjadi relevan, saat itu menjadi damai sejahtera bagi pelaku dan pendengarnya. Penginjilan yang paling efektif adalah melalui tutur kata dalam keseharian, cara berpikir dan bertindak yang selalu mengedepankan pengampunan, kerendahan hati dan integritas sebagai pengikut Kristus. Khotbah yang menggelegar? Bleh juga, tapi memang saat ini tidak terlalu efektif.

  7. lambas siregar on July 24, 2008 at 8:12 am

    Kesaksian hidup kristen yang benar dan penginjilan adalah satu paket yang seimbang. Penginjil yang benar harus lahir baru dulu dalam Kristus dan perlu persiapan rohani dan pelatihan Teologis supaya cerdas menginjili.

    Berusaha untuk hidup menjadi yang terbaik tidak jauh berbeda dengan ajaran agama-agama termasuk budaya. Untuk menjadi orang baik-baik saja rasanya juga adalah ajaran dari semua kepercayaan. Bahkan mereka bisa lebih baik dari kita, Apa bedanya ? dan Apa standar kebaikan itu ?. Saya menginjili bukan karena saya lebih baik tapi karena semata-mata memberitakan hanya Tuhan Yesus yang baik dan penyelamat dunia, yang memberi contoh hidup paling sempurna kepada semua manusia karena Dia Tuhan, Tuhan Yesus adalah kebenaran dan manusia tidak mungkin datang dan mengenal Allah secara tepat di luar Yesus Kristus.
    Sehingga lewat persahabatan baik yang singkatpun, jika memang Roh Tuhan menggerakkan jangan takut menberitakan Karya Keselamatan oleh Yesus Kristus/menginjili. Jelas bukan memberitakan agama Kristen.

    Daniel Harahap:
    Jika ternyata orang bukan Kristen jauh lebih jujur, baik, rendah hati, pengampun dan penolong daripada orang Kristen, lantas siapakah sebenarnya yang lebih pantas disebut pengikut Yesus Kristus (yang sepanjang hidupNya jujur, baik, rendah hati, pengampun dan penolong?

    Menurut saya pekabaran Injil tidak membutuhkan ketrampilan apalagi kecerdikan, tetapi hanya membutuhkan kejujuran, kesederhanaan hidup, kasih, kemurahan hati dan semua sifat yang diwariskan Yesus.

  8. lambas siregar on July 25, 2008 at 7:57 am

    Seorang penginjil yang benar tidak mungkin lebih jauh ketidak jujurannya, ketidakbaikannya, ketidakrendahannya, ketidakpeduliannya dan atribut citra baik lainnyanya terhadap yang diinjili. Maka di proposisi awal saya tekankan lahir baru dulu/bertobat dengan benar supaya layak menginjili. Apa artinya jadi penginjil dan pewarta kabar baik jika hidupnya tidak beres?.

    Yang saya tekankan dan fokuskan dalam tema penginjilan ini adalah bahwa penginjilan adalah pewartaan kasih agape/ kasih karunia Allah “KESELAMATAN YANG DISEDIAKAN ALLAH MELALUI HANYA KARYA TUHAN YESUS KRISTUS” jabarannya : pertobatan, pengampunan, penebusan dari kutuk dosa,keselamatan jiwa yang kekal dll. Bukan semata-mata tindakan, perbuatan-perbuatan baik dan kesaksian hidup kita yang baik saja karena itu juga adalah manifestasi dari iman agama-agama, kepercayaan, ideologi maupun budaya-budaya lain. Kesaksian hidup dulu sebagai syarat baru kemudian penginjilan bukan kasaksian hidup=penginjilan. Penginjilan jelas membutuhkan ketrampilan jika tidak maka injil menjadi batu sandungan/gangguan bagi masyarakat dan membawa kabar buruk bagi orang lain dan merusak citra injil itu sendiri. Alih alih mengabarkan berita keselamatan malah mengaburkan kabar baik tersebut.

    Daniel Harahap:
    Saya punya pendapat berbeda. Menurut saya penginjilan (pewartaan kabar baik) sebenarnya adalah pekerjaan Allah. Kita gereja diundang mengambil bagian atau berpartisipasi dalam pekerjaan Allah itu. Inti kabar baik atau Injil Allah itu adalah: aksi damai sejahtera dan kasih karunia Allah. Karena itu penginjilan harus diartikan ikut mewujudkan damai sejahtera dan kasih karunia Allah di dunia. Dan itu dilakukan gereja dengan menjadikan hidup dan kehadirannya sendiri benar-benar sebagai pewujudan damai sejahtera Allah. Mengedepankan ketrampilan daripada nilai, sikap hidup, dan pemahaman yang benar bisa membuat gereja menjadi munafik, curang atau culas.

    Tambahan: jika dalam beberapa hal kita sama dengan orang Buddha, Muslim, Hindhu, atau atheis sekali pun, siapa takut? Haruskah orang kristen sedemikian berbeda, ganjil, aneh dan asingnya bagi orang lain? :-)

  9. lambas siregar on August 7, 2008 at 1:02 pm

    Ada pernyataan yang saya kira tidak relevan dan tendesius mengenai definisi saya mengenai Penginjilan: mengedepankan ketrampilan daripada nilai, sikap hidup, dan pemahaman yang benar bisa membuat gereja munafik, curang atau culas. Saya kurang paham. Ini mungkin bisa terjadi jika penginjilan tidak dilakukan dilakukan dengan cara bijaksana/hati-hati, berhikmat dan tulus dengan mempertimbangkan waktu, tempat, atau kondisi yang tepat apalagi tidak ada berkat atau kesan baik dari kita si penginjil. Atau gara-gara berdebat keyakinan yang tidak perlu. Pemahaman dan praktek yang nyata berlangsung adalah bahwa injil kabar baik keselamatan harus didahului dulu persahabatan baik sebagai jembatan untuk memenangkan jiwa buat Tuhan dengan cara/ syarat tindakan iman melalui kasih sekaligus membawa pengharapan dunia ini lebih baik. Orang Kristen bukan aneh, ganjil, dan asing tapi konten atau isi dan penghayatan iman maupun prilaku iman itu sendiri adalah unik dibandingkan prilaku agama-agama. Kalau begitu kenapa disebut Kristen ?

    Saya melihat memang ada perbedaan tentang makna penginjilan. Saya lebih tekstual tanpa kehilangan kontekstual karena saya jelas membedakan aksi sosial/diakonia termasuk keterlibatan di berbagai sektor kehidupan dengan bidang misi. Tapi itu berhubungan erat. Mudah-mudahan tidak ada reduksi arti dan penerapan Penginjilan. Tidak boleh ada pemaksaan dalam penginjilan, kita hanya mengabarkan tapi Tuhan yang berdaulat dan memilih yang akan percaya.

    Daniel Harahap:
    Ya kita memang memiliki pemahaman berbeda dengan makna penginjilan. Menurut saya penginjilan adalah seluruh totalitas hidup gereja yang menghadirkan kabar baik dari Allah yaitu damai sejahtera kepada dunia tanpa pamrih, bukan suatu proyek berkedok bantuan sosial, persahabatan, pengobatan dan lain-lain yang punya agenda tersembunyi membuat orang lain berpindah agama.

  10. lambas siregar on August 8, 2008 at 8:00 am

    Membuat orang pindah agama bukanlah menjadikan murid Yesus yang benar. Mereka bisa tidak damai sejahtera oleh karena belum memiliki iman sebagai umat pilihan Allah yang dimerdekakan/dimenangkan Kristus dan juga belum memiliki panggilan proses keputusan pribadi untuk berelasi dan bergaul dengan Tuhan Yesus. Beragama memang bisa menempatkan seseorang dalam sistem kepercayaan tapi belum tentu hidup apalagi menghayati kerohanian yang sejati. Banyak orang beragama tapi prilaku hidupnya tidak berTuhan. Penginjilan bukanlah penipuan apalagi menjerat orang pindah agama dengan cara iming-iming bantuan.
    Penginjilan adalah tindakan iman dari Tuhan bukan tindakan agama yang sarat muatan politik dan duniawi. Jelas ini adalah tugas/amanat agung yang dilakukan supaya makin terlihat umat-umat pilihan Allah dan dunia ini makin damai sejahtera.

    Daniel Harahap:
    Jika kehadiran si penginjil itu tidak membuat hati orang yang didatangi bersukacita dan damai, tapi sebaliknya jengkel, direcoki atau diusili, atau merasa kepercayaannya direndahkan: apakah itu masih dapat disebut penginjilan?

    Injil = Kabar Baik, Kabar Sukacita

  11. lambas siregar on August 8, 2008 at 12:14 pm

    Jelas bukan penginjilan jika pendengar injil merasa jengkel/dongkol.
    Pengalaman saya selama menginjili secara pribadi dalam suasana keakraban, tentunya akan ada atmosfir yang berbeda dan terbaca berbagai macam respon. Maka perlu berhikmat.

    Baik yang mulai merasa resah karena roh kenyamanan kedagingan atau agamanya terasa terusik sampai ada yang terharu karena menemukan jawaban dari beban kegelisaan hatinya yang selama ini terus berpetualang mencari makna, solusi, hakekat hidupnya yang kompleks. Maka sebelum mau membicarakan kabar baik selalu saya minta ijin dulu kesediaanya untuk mau mendengar kabar baik ini. Kalau ada yang tidak suka diajak bicara tentang kabar baik ini ngapain diterusin masih banyak jiwa-jiwa lain yang menunggu.

  12. RIKARDO SIAHAAN on August 8, 2008 at 11:23 pm

    Penginjil menurut saya adalah pekerjaannya memberitakan Injil. Sama dengan Pemahat, Pematung, Petani, dll. Ada juga orang part timer memberitakan injil disebut juga penginjil. Banyak aliran Kristen sekarang ini 3 bln baca alkitab + penelaahannya + katanya pemuridan jadilah ia penginjil. Saya kurang faham bagaimana dulu Penginjilan Rasul Paulus diorganisir. Apakah ada pembagian tugas atau tidak. Apakah ada tukang sapu gereja, jemaat yang menjadi donatur atau tidak. Tapi kalau tidak salah dia juga bergaul dengan seorang Wanita Pengusaha Kain (Kain berwarna ) waktu itu di wilayah Italia sekarang.
    Bagi saya mememberitakan injil tidak sama dengan penginjil. TB Simatupang adalah injil yang pernah hidup dan terbuka. Prof Dr Herman Johannes juga adalah injil yang terbuka.
    Ini ada sebuah pengalaman saya dengan “penginjil” instant dengan pendekatan pertobatan. ….. Dia berbicara tentang etika kehidupan, bagaimana hidup suci, bagainmana nats-nats alkitab berkata. Setelah dia selesai bicara saya bertanya: Berapakah Istri Abraham?, lalu dia menjawab 2 Yaitu Sarah dan Hagar, saya tanya sampai 3x tetap dia menjawab ” Sarah dan Hagar”, lalu saya melanjutkan menurut Alkitab Bahasa Indonesia yang saya Baca yang resmi ada 3 yakni + Ketura yang beranakkan Medan dll, lalu saya tambahkan lagi bahwasanya orang Batak itu berasal dari Keturunan Ketura. Dia bingung ah.. yang benar katanya!!. Tolong cek kembali Alkitabmu itu, setalah dicek tenyata benar….
    Pointnya adalahpenginjil menurut saya suatu pekerjaan yang berat dan mulia. Menjadi penginjil harus tau persis apa yang akan disampaikan secara benar, dan sedapat mungkin menjadi teladan dari apa yang disampaikan. Saya percaya jika itu dilakukan Roh kudus akan menambahkannya secara otomatis.
    Ada juga orang penginjil yang angka raportnya semua 10 tentang teologi Kristen dan pengetahuan keKristenan tetapi moralnya kalau di grade 1-10 dibawah passing grade 6-3, menurut saya nggak benar juga.
    Bagi saya menjadi Penginjil janganlah setengah-setengan, lakukanlah dengan sepenuh hati, jiwa dan raga , percayalah Tuhan kita Jesus Kristus akan membantu anda dalam pekerjaan anda. Tuhan memberkati

  13. Ridwan Siagian on March 10, 2009 at 11:01 pm

    Saya pikir sebaiknya penginzilan diutamakan untuk pemantapan iman bagi umat kristiani, bukan menambah jemaat dari yang beragama lain apalagi dilakukan dengan cara-cara yang tidak etis. Biarlah kita menjadi kristen yang kecil dalam jumlah tetapi dengan iman yang besar. Toh juga dengan menjadi garam dan terang dilingkungan kita, kita sudah mewartakan kebenaran akan kekeristenan kita.

  14. didi on July 19, 2010 at 10:58 pm

    saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai penginjilan.
    maksud penginjilan yang sebenar, metode-metode penginjilan,
    konsep penginjilan, pokoknya semua yang melibatkan penginjalan.
    sesiapa yang bisa membantu dan bisa mendapatkan bahan
    yang cukup lengkap mengenai penginjilan harap dapat menhubungi
    saya di alamat email berikut: spataz_run@yahoo.com.my

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*