Halim-Silangit-Laguboti

July 23, 2008
By

Catatan Perjalanan

toba-dari-udara.JPG

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Pesan telepon Imelda, staff Yayasan Del di Jakarta, langsung saya catat di lembar Almanak: pesawat berangkat dari Halim pukul 06.00, kumpul di Abimanyu Halim setengah jam sebelumnya. Saya tidak mau ambil risiko terlambat. Itu bukan saja akan sangat memalukan tetapi bisa merusak seluruh reputasi saya sebagai pendeta. Bahasa Medan, sungguh mati saya tak mau itu terjadi. Seluruh dunia HKBP kayaknya sudah tahu saya adalah salah seorang “pembicara” di Seminar Menggagas HKBP Masa Depan yang diselenggarakan Universitas HKBP Nommensen dan Yayasan Del. Apa kata dunia HKBP sekitarnya jika saya tak jadi bicara di Seminar itu hanya karena telat bangun? Pak Luhut Panjaitan pun sudah rela mencarter sebuah pesawat F-28 agar rombongan peserta seminar dari Jakarta bisa hadir di seminar yang sungguh penting di Laguboti itu tanpa kehilangan terlalu banyak waktu. Saya pikir dalam hal ini terlambat adalah dosa besar yang sulit diampuni. Apalagi saya tahu betul jenderal berbintang empat – yang selalu berbesar hati berbaris antri menyalam pendeta sehabis kebaktian minggu ini – tidak pernah terlambat bahkan untuk acara keluarga beliau sekalipun. Lantas bagaimana caranya? Saya pun ikhlas terkantuk-kantuk mengakses internet menunggu subuh menjelang.

Pukul empat pagi, teman saya JP. Siahaan, seorang anggota polisi merangkap anggota Ama HKBP Serpong, datang. Beliau dengan sukacita bersedia mengantarkan saya ke Halim. Tanpa sempat minum kopi di rumah kami pun berangkat membelah subuh jalan tol Serpong menuju Halim Perdana Kusuma. Seumur hidup saya belum pernah masuk ke Bandara Halim, saya hanya sering melihat gerbangnya saja, saat mengambil jalan pintas menghindari kemacetan Cawang. Ternyata ramai.

Tiba di sana, ternyata juga Pdt Paresman Hutahaean, mantan senior saya di HKBP Rawamangun, sudah hadir ditemani putranya. Pagi masih gelap. Satu per satu anggota rombonganpun datang. Teman saya Siahaan pamit. St K Siregar dari Bandung mengajak kami pindah ke Dunkin Donut untuk mengopi. Saya pun senang hati menerima tawarannya. Di sana sudah duduk seorang lelaki bersahaja, yang kelak saya tahu bernama Robert Manurung, guru besar di ITB, yang konon memperoleh post doktor dari MIT, dan penasihat Presiden Ethiopia pula. Dari dulu sampai sekarang saya selalu terkesima jika melihat ada orang Batak pintar bersahaja. Menurut saya jumlah orang “Batak pintar tapi sederhana” lebih langka dari badak Jawa. Beliau adalah salah satunya. Tak lama berselang Pdt Hotma Pasaribu dari HKBP Menteng datang bergabung. Pukul setengah enam kami pun masuk ke lounge Abimanyu. Di sana sudah ada beberapa orang, antara lain: Patuan Simatupang, Ketua Pelaksana UHN, Prof Mangara Tambunan (katanya dosen pembimbing SBY, tapi saya lebih mengenal beliau sebagai bapaknya si Grace Tambunan yang sedang kuliah di Amerika), Pdt Marudut Manalu, dan Elisa Lumbantoruan. Yang terakhir ini namanya sudah sering kali saya dengar, namun baru kali ini Tuhan mengijinkan saya berjumpa dengannya. Tadinya beliau di HP sekarang salah seorang Direksi di PT Garuda Indonesia. Tak lama kemudian Pak Luhut datang bersama Ibu Devy. Kesan saya dia tetap ingin tampil seadanya dan biasa-biasa di depan para pendeta, namun kegagahannya sebagai purnawirawan perwira bintang empat terlalu besar untuk bisa disembunyikan. Karena itu tinggal kita sajalah yang balik harus bersikap wajar kepadanya.

Pihak penerbangan memberi tahu bahwa penerbangan ditunda pukul setengah tujuh berhubung awan masih tebal di atas Silangit. Kami manggut-manggut saja sambil meneruskan mengobrol. Beberapa diantara yang hadir tampaknya baru kali ini berjumpa namun tidak mengurangi niat untuk ramah kepada yang lain.

Pukul setengah tujuh datang lagi pemberitahuan pesawat siap diberangkatkan. Kami berdiri membentuk lingkaran. Saya menghitung kurang dari 20 orang. Sebelum berdoa, Praeses Janter Tambunan dari Bandung memimpin kami bernyanyi. Lagunya: Sai Tiop ma Tanganku (Peganglah Tuhan Tanganku). Saya sempat saling melempar senyum dengan Pdt Hotma Pasaribu. Mungkin pikirannya sama dengan saya: entah kenapa saya masih saja menganggap itu “lagu orang mati”, atau lagu mengantar orang berangkat ke sorga. Saya membuang jauh-jauh pikiran buruk dari kepala saya. Kika, Nina dan Wili yang kebetulan sedang libur di Jakarta sudah saya titip ke rumah Tulangnya. Martha sedang sibuk mempersiapkan Kongres Dokter Spesialis kulit di Palembang. Tak bisa saya bayangkan jika terjadi apa-apa dengan pesawat yang kami tumpangi. Mencebur di Danau Toba misalnya. Atau lebih buruk: tersangkut di gunung dan saya menemukan diri saya di atas pohon. Ah, janganlah. :-)

Seluruh crew pesawat berdiri di tangga pesawat menyambut kami. Saya agak kikuk. Pak Luhut sibuk mengajak para pendeta agar duduk di bagian depan. Ibu Devy dengan Ibu Lamida langsung mengambil duduk persis di bagian tengah. Saya tadinya di depan tapi pindah ke bagian belakang. Alasan formal: saya ingin tidur. Pengalaman saya tidur depth dua jam lumayan memulihkan tenaga. Alasan lebih jujur: saya tidak pernah nyaman jadi pusat perhatian. (celakanya sebagai pendeta saya terpaksa mau tak mau sering jadi pusat perhatian di gereja!) :-) Pesawat pun lepas landas. Makanan dan minuman saban-saban dibagikan. Saya menikmati semua.

Tidak tahu persis pukul berapa. Ponsel merangkap jam tangan saya sudah saya matikan sebelum lepas landas. Saya merasa pesawat itu merendah dan menikung. Saya melongok lewat jendela. Danau Toba! Wow. Belum pernah saya melihat danau kebanggaan orang Batak ini dari udara. Ini anugerah. Mata saya tidak berkedip tak mau melewatkan sedikit pun penampakan luar biasa ini. Terus-menerus menarik nafas takjub saya sambil mencoba mengenali lekuk-lekuk danau dan bukit biru-hijau itu. Oh, itu Dolok Tolong, bukit pengawal kota Balige. Di puncaknya ada Menara Telkom. Sejak remaja saya ingin sekali bisa naik ke atasnya, tapi belum pernah kesampaian sampai sekarang. Pastilah asyik sekali melihat dan memotret Toba dari puncak bukit itu. Kapan ya? Tapi kini saya justru ada jauh di atas bukit itu.

Hijau-coklat bukit, biru danau, dan putih awan membentuk keindahan tak bertara. Thx God, kata saya. Kampung-kampung kecil, jalan-jalan sempit, sawah dan kebun menunjukkan di bawah sana sungguh ada kehidupan. Pesawat terasa membelok. Mata saya tidak berkedip. Rasanya pesawat itu terbang rendah sekali. Saya mengenali tempat di bawah sana: Sipintu-pintu! Itu adalah jurang antara Siborong-borong dan Balige. Waktu saya tugas di Kantor Pusat Pearaja, saban kali melewati jurang Sipintu-pintu itu, pasti saya akan mengusahakan berhenti sejenak dan naik ke atas batu besar di pinggir jalan itu. Perasaan saya selalu teduh memandangi jurang curam, bukit cadas dengan tali air peninggalan belanda di punggungnya, berlatar danau dan bukit di kejauhan. Kini saya terbang di atasnya bagaikan burung yang sedang liburan sekolah. :-)

Entah kenapa saya tiba-tiba ingin berlama-lama di udara. Saya bertanya, setengah bercanda kepada Ibu Devy, apakah Pak Luhut bisa menyuruh pilot memutarkan sekali lagi atau dua kali lagi pesawat itu mengelilingi danau Toba? Bahasa Bataknya: mangaraun (dari kata: around). Beliau tertawa. Tentu saja tidak bisa. Walaupun angkasa Toba sunyi sepi pilot tetap terikat kepada aturan jalur penerbangan, tak bisa sesukanya. Ya sudahlah, kata saya dalam hati. Semua harus disyukuri. Semoga ada lain kali. :-)

Awan putih tebal seperti kapas tipis tampak menggelantung rendah. Saya menarik nafas dan berdoa pendek ingin selamat. Bagaimana cara pilot mendaratkan pesawatnya dengan awan yang begitu rendah ini? Entahlah, saya pikir dia pasti lebih tahu. Moga-moga saja dia tidak salah dan mesin baik-baik saja. Saya tidak punya bayangan arah dari mana dia akan landing. Di bawah tampak tanah datar rerumputan khas Humbang, perkampungan lusuh, dan sekolah dan jalan-jalan sepi. Perasaan saya juga tiba-tiba sunyi.

Pesawat ternyata landing mulus. Semua bertepuk tangan spontan. Saya melongok keluar. Tampak bekas bukit dikerok. Halaman tandus. Kami pun turun. Sebuah bus sudah menunggu. Saya diam. Yang dinamakan Bandara Silangit ini rupanya hanya sebuah rentangan jalur yang diaspal. Ruang tunggunya bagaikan kantor kelurahan di pinggiran Bekasi. Jauh lebih bagus gedung Sekolah Minggu kami. Oh. Kecuali “balon panjang penunjuk arah angin yang bisa bikin imajinasi macam-macam” itu :-) sepertinya tak ada kesan bahwa ini Bandar Udara. Mobil pemadam kebakarannya bermerek TPL. Saya langsung menduga pastilah itu mobil sewaan. Ya inilah realitas Tapanuli itu, kata saya. Saya dengar bandara ini hanya dikunjungi sekali sehari oleh pesawat Susi Air dari Medan dan lima belas kali penerbangan carteran dari Jakarta dalam sebulan. Dan tak ada persediaan avtur (dalam perjalanan pulang kelak, kami harus mampir ke Medan untuk mengisi avtur dan membeli makanan nasi Padang pilihan!).

Di bus saya kembali duduk berdampingan dengan Elisa Lumbantoruan. Beliau tampak tenang sekali. Dari Halim saya perhatikan beliau lebih banyak diam dan senyum saja. Kesan saya, jangan-jangan di bus ini banyak yang belum tahu bahwa dia salah satu petinggi Garuda. Saya sengaja memilih duduk dekat jendela agar dapat memperhatikan pemandangan di luar. Kampung-kampung masih saja tak tertata bercat pudar dimakan terik matahari. Rumah-rumah tradisional makin lapuk dimakan usia. Sawah-sawah didesak kuburan. Lapo penuh lelaki. Jalan aspal sempit. Tanya saya: haruskah semua ini abadi?

Balige sudah lewat. Saya memasang mata seksama mendekati Laguboti. Itu kampung ompung saya dari pihak Ibu: boru Hutajulu, cucu perempuan Raja Ihutan Hutapea yang kuburannya antara Sirongit dan Pasar Bengkok. Kami punya ikatan historis dengan kampung ini. Ompung saya mendapat banyak sawah (walau kecil-kecil) hadiah dari Ompung doli-nya, dan setelah Ompung meninggal, Ibu kamilah yang mengurusnya. Dan waktu kecil hampir saban tahun saya diajak ke Laguboti dan tinggal di sopo tak bercat di Lumban Balian itu. Namun sayang, sekarang saya tidak bisa mampir.

Bus yang kami tumpangi melaju semakin cepat mendekati Sitolu Ama. Gerbang kampus Politeknik Informatika Del menyambut. Perasaan saya dulu kampus itu tersembunyi tak kelihatan dari jalan besar. Rupanya kini sudah diperluas. Suasana ramai sekali. Seminar dimulai tepat waktu dan kami telat. Saya untuk pertama kali berjumpa Deni Toruan, teman lama di milis. Kami disambut hangat khusus oleh panitia. Maklumlah rombongan para pembicara dari Jakarta pulak. Namun saya sebenarnya lebih terpikat mengamati arsitektur kampus Del yang sangat manis ini dan ingin memotretnya segera kemudian mempostingnya di galeri saya di Picasa. Namun tentu itu tidak boleh. Kedatangan saya ke sini bukan untuk bersenang-senang menyalurkan hobi melihat-lihat dan motret-motret, tetapi untuk berbicara dan mendengar tentang gagasan HKBP masa depan. Tapi saya bertanya lagi: bukankah gagasan brilyan selalu diawali dengan melihat dan memotret keadaan? Sebagai seorang pembicara yang berusaha santun, saya pun masuk ke aula, dan memilih duduk di barisan tengah dan samping kanan, walaupun didesak panitia agar duduk di depan. Saya merasa lebih nyaman duduk samping DR Darwin Tobing, Ketua STT HKBP, abang dan kawan baik saya. Jadwal saya berbicara masih lama. Saya masih punya waktu melihat-lihat . Tadi dari atas sekarang dari bawah. Sekarang dari samping nanti dari depan. Namun dari manapun mau melihat kita tetap membutuhkan hati dan mata. Termasuk untuk melihat HKBP dan diri sendiri.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

11 Responses to Halim-Silangit-Laguboti

  1. Ninggor Pardede on July 23, 2008 at 10:34 am

    Ada baiknya perubahan itu datang dari bawah, tetapi yg Amang ikuti merupakan karya yang sangat besar. Perubahan dimulai dari orang-orang besar, dimana WAKTU merupakan kumpulan puzzle yg harus ditata baik (tu Laguboti muse, dao nai ate)

    Sangat indah memang jika HKBP kembali mempunyai peranan yg sangat besar dibidang pendidikan dan kesehatan.
    Puji Tuhan, memang TANO BATAK merupakan lukisan DEBATA na mansai uli. (gabe naeng mulak muse).
    Ende Sai tiop ma tangan hu? Hmm. Mantap. Mauliate ma disaluhut.

  2. Gerda Silalahi on July 23, 2008 at 11:06 am

    lawakan partek tuak: molo di sipintu-pintu marende sai tiop ma tanganku. ale molo nga lewat sipintu-pintu, taendehon ma: kemana kau pergi, tujuan kita sama.., bergembira hari ini :) mangaraun.., lucu emang bahasa batak ini. kita suka bilang, ayo raun-raun maksudnya jalan-jalan.

    Kampung-kampung masih saja tak tertata bercat pudar dimakan terik matahari. Rumah-rumah tradisional makin lapuk dimakan usia. Sawah-sawah didesak kuburan. Lapo penuh lelaki. Jalan aspal sempit. Tanya saya: haruskah semua ini abadi?

    aku juga melihat hal yang sama dan prihatin atasnya. 15 tahun tidak menginjakkan kaki di kota kelahiran tarutung, kembali kesana hanya melihat ‘keabadian’ alias stagnasi. pembangunan seakan terhenti, bentuk rumah, bangunan, dll hampir sama dari tahun ketahun. semoga itu tidak berarti pembangunan manusianya juga terhenti.

  3. Ruas-Bandung on July 23, 2008 at 11:19 am

    Amang DTA…apalah resume seminar ini yang akan diajukan ke manajemen HKBP?

    Daniel Harahap:
    Sedang dikerjakan oleh Tim perumus yang dibentuk oleh Panitia (Universitas HKBP Nommensen). Di posing saya hanya mau cerita tentang perjalanan dari Halim ke Laguboti via Silangit. :-)

  4. coken060575 on July 23, 2008 at 12:12 pm

    Horas Amang Pendeta…
    baca cerita perjalanan amang… jd semakin besar kerinduan saya pulang ke bona pasogit…
    sering saya beranga-angan.. enak kali ya kalau bisa liburan 1 bulan, charter mobil keliling-keliling tapanuli sekitarnya.. trus ke siantar (amang tabo nai)… alai ima tahe… hepeng on ma naso tarpapungu dope…

    Semoga HKBP semakin jaya dalam melaksanakan misi pelayanannnya ya Amang.

    Maaf Amang Pendeta, saya sapa dulu guru koor ama kami di HKBP Pejuang (Ninggor Pardede)

    @Ninggor pardede…
    Bah gabe pajumpang di website ni amang on hita ate… penggemar rumametmet jg lae rupanya… aha koor ta hari jumat?????

  5. Veranika on July 23, 2008 at 1:21 pm

    Wow perjalanan yang sangat meyenangkan amang dari jakarta ke laguboti dan saya juga sangat berterima kasih klo saya dapat melihat politeknik del lewat situs amang wow sangat indah sekali …………
    Terus amang klo boleh usulin kenapa tobasa khususnya dekat dengan 2 (dua) pabrik raksasa namun sedikitpun tidak ada perubahan padahal orang batak banyak yang pintar-pintar klo saya bandingkan dengan masyarakat di riau mereka banyak yang tidak bersekolah tapi dapat memajukan daerahnya dengan meminta hak dari perusahaan yang berdiri didaerahnya sehingga daerahnya maju atau barangkali karena orang batak masih memegang “hotel” kali ya amang haha ………
    Semoga seminar menggagas HKBP masa depan suksess dan dapat membawa perubahan bagi seluruh jemaat.

    Daniel Harahap:
    Hanya mau menjelaskan. “Hotel” adalah akronim untuk: hosom, teal, late. (dengki, sombong, iri hati)

  6. BENJAMIN SIBARANI on July 23, 2008 at 1:21 pm

    “Kampung-kampung masih saja tak tertata bercat pudar dimakan terik matahari. Rumah-rumah tradisional makin lapuk dimakan usia. Sawah-sawah didesak kuburan. Lapo penuh lelaki. Jalan aspal sempit. Tanya saya: haruskah semua ini abadi?”

    Kalimat ini sangat menggugah hati saya, saya kebetulan lahir dan besar di Laguboti – Pintubosi, tepat simpangnya masuk dari simpang Politeknik DEL.
    dari Lubuk hati yang paling dalam, ingin rasanya memperbaiki itu semua, agar “semuanya jangan abadi” dan kita harus bisa rubah itu.
    tetapi semoga dengan kehadiran amang-amang kita yang berhasil di kampung halaman seperti Amang TB Silalahi, Amang Luhut Panjaitan dan amang-amang lainya membuat Bona pasogit kita semakin Maju dan berkembang.

    Dan Salut buat Amang,…… kita (sebagai ruas HKBP Serpong) juga ikut berbangga sama Amang,, pendeta HKBP Serpong sebagai pembicara di Sitoluama ( terpilih sebagai pembicara berarti best of the best di HKBP)
    Hidup Amang Harahap……

    Daniel Harahap:
    Sesama anggota HKBP Serpong dilarang saling memuji!!! :-)

  7. Ninggor Pardede on July 23, 2008 at 1:47 pm

    Sattabi amang Pandita, gabe hupangke hami web muna on
    @… Amang Coken
    Endenta “JANGAN KUATIR”. Asa unang ganggu be hita songon tona ni amang Pdt. DTA H di na samingguon.
    Alai gabe jago goar muna dung di gurat-gurat on ate. Patangkason nama on ari Jumat tingki latihan hita. Bingung ahu puang alias MORDONG. Si Coken? Ah biarlah, apalah arti sebuah nama. Asal ma sagoar di Tuhan Jesus.

  8. Pangondian Ritonga on July 23, 2008 at 3:44 pm

    Alat yang digunakan untuk menentukan arah angin yang biasanya berwarna jingga/orange namanya “WINDSOCK” lae
    Masalahnya tadinya mau saya cetak untuk dibaca sana anak namun karena ada kata “k….. raksasa tersebut , saya urungkan niat tersebut
    Maaf lae, saya terlalu lama dididik “di hitaan”, jadi jika ada istilah yang rada vulgar, rasanya saya belum siap membaca, mendengar apalagi mengucapkannya. Maaf lae, koreksi melulu ya ! Tapi yakinlah lae semua itu saya lakukan bukan karena sok pintar atau sok hebat namun hanya demi lebih nyamannya untuk membaca tulisan seorang hamba Tuhan Yesus (Pak DTA)……

    Daniel Harahap:
    Oke deh. Thx untuk alarm-nya. “Kondom raksasa” itu istilah Erwin Siregar, kawan saya di milis hkbp, pemulung di Batam. Habis menggaprove komen ini akan saya ganti dengan istilah yang lebih sopan “kaos angin” atau “balon panjang yang bisa bikin imajinasi macam-macam” :-)

  9. parLaguboti on July 23, 2008 at 9:39 pm

    Horas amang Pandita , saya turut bersukacita membaca ini, saya anggap ini permulaan yang baik bagi perjalanan HKBP ke depan.

    Kiranya Tuhan Jesus berkenaan memimpin HKBP, dan menentukan siapa yang akan jadi pejabat-pejabat di HKBP.

  10. A Napitupulu on September 4, 2008 at 11:33 am

    Meski pun saya tidak lahir di Tapanuli dan sekitarnya, bahkan kunjungan saya ke Tapanuli juga bisa dihitung dengan jari…tetapi saya kerap mendengar cerita tentang bona pasogit dari orang tua, dan saya bangga punya kampung leluhur yang luar biasa indah.

    Sama seperti cerita Amang Harap, cerita orang tua saya tentang bona pasogit sama, ternyata tidak berubah…amang tahe.
    Orang Batak terkenal perantau, dan bisa kita lihat ruas dan gedung gereja HKBP bertebaran di pelosok negeri ini, orang pintar tidak sedikit, orang sukses secara materi juga lumayan banyak. Guru besar seperti Bapak Manurung tidak terbilang…yang ingat dan mau membangun kampung ada nggak sih?? Malu bertanya seperti ini, karena saya sendiri pun belum (bukan tidak mau) berbuat apa-apa.

    Mental Orang Batak yang terbuka dan berani berkata jujur serta apa adanya tinggal kenangan, perantau Batak yang patang menyerah juga hanya dalam cerita… HKBP bukan satu-satunya gereja di tanah Batak, tetapi selalu setiap orang Batak ditafsirkan sebagai ruas HKBP, bagaimana amang HKBP menanggapi perubahan ini ? Horas

  11. Gtamb on April 1, 2009 at 2:05 pm

    Amang,

    aku baru baca blog ini ya..
    basi banget ya Amang..tapi seru juga bacanya..amang bisa ketemu papa saya..
    hi.hi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*