Kotbah Minggu IX Sesudah Trinitatis 20 Juli 2008:
Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Evangelium: Ayub 2:9-13
Epistel : 2 Korintus 1:3-9
Kita semua agaknya sudah sering mendengar kisah seorang saleh bernama Ayub ini. Dengan sepuluh anak, pada jamannya dia adalah seorang kaya-raya dan bahagia (punya tujuh ribu ekor kambing, tiga ribu ekor unta, seribu ekor sapi, lima ratus keledai betina, dan banyak budak – yang terakhir ini tidak usahlah dihitung sebab pada jaman kita hal itu tidak lagi dapat dibenarkan). Memakai istilah khas Batak, Ayub seorang yang mamora (kaya), gabe (punya banyak keturunan) dan sangap (mulia) atau mendapatkan tiga hal yang sangat dicita-citakan oleh orang Batak di dunia. Namun entah bagaimana, semua hartanya itu lenyap dalam sekejap, seluruh anaknya mati terbunuh, dan Ayub sendiri kena penyakit kulit sehingga harus diasingkan di pondok jauh dari pemukiman. Istrinya, mungkin benar-benar terpukul dan tidak tahan menghadapi kenyataan itu sehingga dia pun menyuruh Ayub lebih baik mati saja. Sementara ketiga sahabatnya (Elifas, Bildad, Teman) datang memberatkan dukanya dengan menyuruh Ayub menerima keadaan itu sebagai akibat dosa-dosanya, padahal Ayub merasa sama sekali tidak bersalah dan tidak kunjung mengerti mengapa Tuhan Allah yang disembahnya dan ditaatinya malah berbalik memukulnya.
Apa yang dialami Ayub adalah sebuah kehidupan yang sangat tragis dan sulit dipahami akal. Dalam kenyataan kehidupan ini, juga masa sekarang, kadang ada orang yang mengalami seperti keadaan yang sangat ekstrim seperti Ayub. Kepada orang-orang semacam ini baiklah kita mengunci mulut, menundukkan kepala dan memberi hormat yang sangat dalam, semoga mereka seperti Ayub mampu memenangkan pertarungan yang sangat kejam ini.
Namun secara umum keadaan kita tidaklah pernah separah Ayub. Sebab itu jangan juga sesudah membaca kitab Ayub kita langsung merasa diri sebagai orang yang paling susah dan menderita di dunia ini. Walaupun banyak masalah sebagian besar dari antara kita masih hidup baik-baik dan normal-normal saja. Buktinya kita masih bisa ke gereja pagi ini, sehat, memiliki pekerjaan, punya keluarga, dan menjalani kehidupan dengan wajar. Walau banyak beban pikiran dan perasaan, kita masih punya kekuatan, enerji dan harapan yang membuat kita masih dapat berpikir dan berusaha, juga tersenyum dan tertawa. Jujur, sebagai pendeta pun, saya harus mengatakan bahwa saya cukup baik dan bahagia. Saya menerima cukup belanja dari gereja. Istri dan anak-anak saya sehat dan baik. Dua pasang angsa saya telah bertelur. Tadi pagi saya dikirimi mangga masak pokok oleh anggota jemaat. Lantas apa alasan saya untuk merasa sebagai orang yang paling susah dan menderita di dunia ini?
Namun kisah Ayub, dan penderitaan banyak orang beriman di dunia ini, menyadarkan kita bahwa hidup dan kekristenan adalah seperti sebuah koin dengan dua sisi. Sisi yang satu adalah kebahagiaan, berkat Tuhan berlimpah, sukacita Roh Kudus, damai sejahtera di batin, penghiburan dari Kristus, pengharapan yang tak kunjung padam, dan kemuliaan sorgawi. Ya, kita tidak boleh menyangkal hidup kita orang-orang beriman sehari-hari dipenuhi dengan semua yang menyenangkan itu. Namun sisi satu lagi, hidup dan kekristenan kita juga terkadang atau sering penuh dengan kesukaran, perjuangan, pergumulan, duka, air mata, kegagalan dan kekalahan. Kita menerima kedua sisi itu sebagai kenyataan hidup yang harus diterima ikhlas dan wajar. Para nabi, rasul dan bahkan Yesus sendiri juga mengalami kesukaran dan kesusahan sekaligus melimpah dengan kebahagiaan dan kebanggaan.
Jika memang demikian, apakah yang mau kita pelajari dari penderitaan sekaligus keyakinan iman Ayub ini, dan juga dari penderitaan dan penghiburan Rasul Paulus?
PERTAMA: TUHAN MENGAJAK KITA UNTUK MENGHADAPI BERBAGAI KESUKARAN HIDUP DAN MENGATASINYA.
Mari kita mengambil sebuah contoh sederhana. Bayangkan suatu ketika kita membawa kenderaan untuk urusan yang sangat penting, yaitu membeli obat yang hanya ada di suatu tempat. Di tengah jalan kita menemukan sebatang pohon tumbang melintang menghalangi kenderaannya. Apakah yang akan kita lakukan? Ada tiga atau empat pilihan: (1) diam dan menunggu di mobil sampai ada orang atau petugas datang menyingkirkan batang pohon itu. Sambil menunggu kita mungkin menggerutu dan mengeluh, atau bingung tak tahu berbuat sesuatu. (2) memutar arah dan mencari jalan lain, syukur-syukur tidak tersesat. (3) Turun dari mobil dan menyingkirkan sendiri batang pohon itu, dan kalau perlu meminta bantuan orang lain menyingkirkannya bersama-sama. (4) pulang ke rumah tidak jadi membeli obat. Sekarang gantilah istilah batang pohon itu dengan apa saja kesulitan atau kesukaran yang sedang Saudara hadapi: kekurangan keuangan, pertengkaran suami-istri, masalah anak-anak, penyakit dan lain-lain. Pilihan manakah yang Saudara ambil?
Baiklah kita sadar bahwa sebenarnya banyak masalah dan kesukaran bisa disingkirkan dan diatasi. Banyak kondisi hidup bisa kita ubah dan baharui. Sebab itu janganlah sesudah membaca kitab Ayub kita langsung menganggap semua penderitaan sebagai kenyataan yang harus diterima, apalagi sebagai nasib tak terelakkan.
Di sini kita bisa dibantu dengan Doa Benediktus atau Serenity Prayer yang terkenal itu, yang berbunyi: “Ya Tuhan, berilah kami keberanian mengubah apa yang dapat kami ubah. Berikanlah kami keikhlasan menerima apa yang tidak dapat kami ubah. Berilah kami kearifan agar dapat membedakan mana yang harus kami ubah dengan penuh keberanian dan mana yang harus kami terima dengan ikhlas.”
Pertanyaan: apa sajakah dalam hidup ini yang harus terus kita perjuangkan, usahakan dan kerjakan agar terwujud atau berubah? Jika telah menemukannya, mari kita berjuang dan berusaha mengerahkan seluruh pikiran, daya, dana dan waktu tanpa kenal lelah. Dan mari kita memohon Tuhan menguatkan kita untuk berjuang, mengusahakan dan mengerjakannya. Jika itu masalah, mari kita mengatasi dan memecahkannya bersama Tuhan kita.
KEDUA: TUHAN MENGAJAK KITA AGAR SELALU BERSYUKUR DAN BERGEMBIRA SERTA MENERIMA IKHLAS KENYATAAN HIDUP KITA.
Namun firman Tuhan dan doa keikhlasan di atas mengajarkan kita bahwa ada dalam hidup ini yang tidak bisa lagi diubah dan karena itu harus diterima dengan pasrah. Ada keadaan yang harus diterima sebagai given atau pemberian yang sebaiknya diterima begitu saja. Misalnya: orangtua yang melahirkan kita atau anak-anak yang kita lahirkan. Kita tidak dapat memilih orangtua yang melahirkan kita, dan sebaliknya kita juga tidak dapat memilih anak yang hendak kita lahirkan. Beberapa penyakit berat atau cacad fisik bisa disembuhkan, namun sebagian harus diterima dengan hati damai sebagai kenyataan yang tidak terubahkan lagi. Bagi kita orang beriman, calon istri atau suami bisa dipilih, namun begitu kita menikahinya dan mengikat perjanjian nikah di hadapan Tuhan, dia harus diterima apa adanya dan tidak bisa diganti lagi.
Cukup banyak orang mengaku kristen yang stress atau mengalami ketegangan dalam hidupnya karena tidak mampu menerima kenyataan hidupnya yang tidak bisa diubah lagi. Sebagian akhirnya melarikan diri dari kenyataan dan hidup dalam dunia semu atau artifisial. Atau menjadi benci kepada orang lain dan diri sendiri.
Jika keadaan ekonomi masih bisa diubah, ya ubahlah dengan sekuat tenaga dan jiwa. Namun selama belum berubah terimalah kenyataan apa adanya. Jika sakit, carilah dan usahakanlah pengobatan sebaik-baiknya. Namun jika memang sakit tidak terobati lagi, mari bersikap ikhlas. Kematian adalah salah satu fakta yang tidak bisa lagi diubah atau dikembalikan, sebab itu bagaimana pun pahit dan dukanya belajarlah pasrah jika ditinggal mati oleh orang yang dicintai-mencintai kita.
Kembali ke kisah awal. Sebagian besar dari antara kita tidaklah pernah mengalami penderitaan tragis sebagaimana dialami Ayub. Dalam kondisi paling parah sekali pun Ayub masih tetap beriman dan taat kepada Tuhan. Lantas bagaimana kita dalam kondisi yang jauh dan jauh sekali lebih baik jika dibandingkan dengan Ayub?
Sikap ikhlas menerima kenyataan hidup membantu kita untuk tetap dapat bersyukur dan bergembira dalam segala keadaan. Acapkali dalam penderitaan sekalipun selalu ada kebajikan dan keindahan yang dapat disyukuri dan dirayakan. Namun semua kebajikan dan keindahan itu bisa tertutup atau tidak terlihat manakala kita tidak bersikap ikhlas dalam hidup ini. Keluhan, ratapan, gerutu, omelan dan sungut-sungut kita seringkali menutup mata dan telinga serta hati kita kepada kebajikan yang tersedia di tengah-tengah kesukaran hidup. Dan menutup perasaan kita terhadap kehadiran Tuhan, sumber rahmat dan penghiburan.
KETIGA: TUHAN ALLAH MENGAJAK KITA AGAR TETAP TAAT DAN SETIA.
Sama seperti kelimpahan dan kesenangan, kesukaran dan penderitaan juga bisa merupakan godaan dan tekanan yang sangat kuat untuk menyimpang atau meninggalkan Tuhan. Itulah yang terjadi pada istri Ayub dan pada banyak orang juga, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, pada masa kini.
Hari ini kisah Ayub mau mengajari kita tentang ketaatan dan kesetiaan yang tidak bersyarat kepada Tuhan Allah. Silahkan kejar cita-cita dan raih segala harapan. Silahkan berusaha dan bekerja menyejahterakan kehidupan. Silahkan berjuang mendapatkan kesembuhan, keberhasilan, keuntungan dan kekayaan serta kedudukan. Namun ketika semua keinginan yang baik itu belum dapat kita wujudkan, atau malah gagal kita dapatkan, tetaplah taat dan setia kepada Tuhan.
Sikap itu jugalah yang diteladankan oleh Rasul Paulus dan terutama Tuhan kita Yesus Kristus. Penderitaan disalib dan bahkan kematian yang paling ngeri sekali pun tidak bisa menggoyahkan ketaatan dan kesetiaan Yesus kepada Sang Bapa. Di segala kondisi, termasuk dalam keadaan terburuk sekali pun, Yesus dan para rasul serta nabi tetap setia kepada Allah dan kebenaranNya. Dan Yesus bersama para rasul dan nabi itu hidup penuh sukacita dan kebahagiaan dalam ketaatanNya. Bagaimana dengan Saudara dan saya? AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
disampaikan pada Kebaktian Minggu 20 Juli 2008 pukul 07.00 dan 09.30 di HKBP Serpong.
Share on Facebook
Benar amang..kita perlu meneladani Ayub dalam kesetiaannya, materi tak ada artinya kecuali satu “imannya”.
Yakobus 5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.
Kelemahan kita adalah selalu tidak sabar dan tidak bisa bertekun. Penderitaan, kemiskinan dan kebodohan selalu jadi alasan untuk mengubur “kesetiaan iman kepada Kristus”. Kita terkadang cepat menvonis diri, bahwa TUHAN berlaku tidak adil pada kita ketika menghadapi cobaan, penderitaan, sakit penyakit dsb.
I Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Amongoi amang…..
Anggo di gareja nami “jaga dilam…………” ninna do……………….
Tuhan…
Engkau Maha Besar…. (Yg Kecil Bukan Tuhan)
Engkau Maha Esa… Tak Ada satu pun yg menyerupai Engkau (Kalo Ada yg menyamai itu berarti bukan Tuhan)
Engkau Maha Suci… (Suci Dari segala sifat makhluk…. tidak beranak dan tidak diperanakkan)
Engkau Maha Kuasa… (Yang Lemah dan memiliki sifat makhluk itu bukan Tuhan)
Engkau Maha Pengasih… (semua makhluk baik yang menyembah ataupun tidak menyembah Engkau beri Rejeki dan Kesempatan Bertobat)