Asosiasi Penambal Ban: Kenapa Tidak?

June 30, 2008
By

tambal-ban-1.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Pukul 15.20. Minggu 29 Juni 2008. Hati saya sangat besar dan bangga. Gedung Sekolah Minggu HKBP Serpong menjadi saksi ibadah dan pertemuan para pengusaha (kecil dan besar) penambal ban anggota HKBP se Resort Serpong. Menurut data yang dikumpulkan oleh kolega saya Pdt Benget Simamora, ada 67 keluarga anggota HKBP Serpong, Cisauk dan Gunung Sindur yang berprofesi sebagai penambal ban. Dan di hari yang dikuduskan Tuhan ini para penambal ban yang sepanjang hari bertarung di pinggir jalan, sering sampai larut malam, atau bahkan selama dua puluh empat jam, meluangkan waktu datang ke gereja HKBP Serpong untuk menyatukan hati berdoa kepada Tuhan yang pemurah dan bertemu dengan sesamanya.

Gedung Sekolah Minggu yang pagi harinya diisi oleh anak-anak penuh sesak oleh para penambal ban yang sebagian datang bersama istri/ suami dan anak-anaknya (beberapa di antara penambal ban adalah janda, dan sebagian pemuda). Wajah-wajah mereka tampak gembira dan suasana benar-benar hangat, egaliter, dan penuh canda khas penambal ban. Dan saya tak sanggup menahan haru bahagia. Saat ibadah dimulai, suasana hening, dan kami pun bersama-sama melantunkan lagu-lagu iman khas Batak “Aut Unang Ho Jambarhu” (Seandainya Kau Bukan Milikku), “Jesus ngolu ni tondingku” (Yesus hidup rohku), “Sai Tong Do Haposan” (Tuhan itu setia), dan Dung Sonang Rohangku Dibaen Jesuski (Setelah Hatiku Gembira dibuat oleh Yesus) dll. Doa syafaat dinaikkan oleh St Ny Manullang br. Nainggolan, yang sudah hampir 30 tahun menambal ban di jalan raya serpong. Pemain organ adalah Pdt Benget Simamora. Kotbah saya ambil dari Filipi 3:14 “aku melupakan apa yang telah dibelakangku, dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, yaitu memenuhi panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”.

Ide mengadakan Kebaktian Penambal Ban ini muncul begitu saja saat saya dan Pdt Benget mengadakan kunjungan ke kawasan Gunung Sindur. Saban melewati sebuah usaha tambal ban, dia selalu mengatakan “ini anggota kita dan marganya itu”. Tiba-tiba saya terpikir: bagaimana kalau kita ajak mereka berkumpul di gereja untuk beribadah dan bertemu? Pasti akan banyak sekali gunanya. Ide ini pun segera kami kemukakan kepada beberapa orang penambal ban dan langsung disambut antusias. Beberapa penambal ban “senior” pun kami undang untuk bertemu untuk mengadakan persiapan. Bagaimana dananya? Saya menawarkan agar meminta dana gereja. Namun “aneh” atau hebatnya mereka menolak. “Kami sanggup membiayai sendiri pertemuan itu”. Panitia pun menetapkan “gugu toktok ripe” atau iuran wajib Rp 20.000 per keluarga (sebelum kebaktian dimulai iuran itu lunas!). Selain itu beberapa penambal ban yang sudah eksis dan maju siap memberikan sumbangan, antara lain: St M Sirait, O Simamora, B. Hutabarat dll.

Selesai ibadah, acara pun dilanjutkan dengan sharing atau berbagi pikiran. B Hutabarat, yang merupakan penambal ban pertama di jalan raya Serpong, dan telah eksis serta sukses memajukan anak-anaknya, mengemukakan pentingnya meningkatkan pendidikan, pelayanan serta komunikasi. Menurut beliau, jika para penambal ban batak-kristen ini dapat meningakatkan pelayanan serta kemampuan komunikasi maka mereka akan jauh lebih maju. Selain itu beliau juga memberi catatan agar para penambal ban meningkatkan penampilan yang disambut tawa para hadirin. Sebelumnya “senior” lain Manullang, mengingatkan agar para para penambal ban tetap menyempatkan diri berdoa dan beribadah. St. Sirait yang dikenal sebagai salah seorang penambal yang paling sukses membagikan pengalamannya. Menurutnya para penambal ban perlu terus belajar khususnya dibidang investasi dan marketing. Dia juga mengingatkan pentingnya pembentukan koperasi para penambal sebagai jalan untuk meningkatkan posisi tawar para penambal berhadapan dengan pengusaha raksasa. Selain itu Sirait juga menyadarkan para penambal bahwa masih banyak celah dan peluang yang bisa dikembangkan usaha penambalan ban ini, termasuk peluang berusaha di Papua dan di tempat-tempat lain. Sebab itu tidak ada alasan untuk takut. Dalam catatan akhir, saya kembali mengajak kawan-kawan penambal untuk berpikir sinergis (rap monang – menang bersama) dan menghilangkan mitos bahwa batak tidak bisa bekerjasama berbisnis, sebab pada jaman dahulu nenek moyang kita pun sudah mengenal konsep perseroan dan kongsi. Seekor kerbau pun bisa dimiliki bersama oleh beberapa orang. Kenapa sekarang tidak?

Sebelum acara berakhir, pertemuan sepakat membentuk tim kecil beranggotakan sebelas orang dengan dua tugas, yaitu mempersiapkan natal para penambal ban dan menindaklanjuti gagasan pembentukan asosiasi atau “punguan” para penambal. Acara ditutup dengan makan bersama. Dan semua pun pulang dengan gembira dan membawa harapan baru ke masa depan.

Hidup Tambal Ban! Hidup HKBP!

tambal-ban-2.JPG

Share on Facebook

21 Responses to Asosiasi Penambal Ban: Kenapa Tidak?

  1. hendry lbn gaol on June 30, 2008 at 9:03 am

    Saya tertarik mengomentari topik yang satu ini, walo sesering mungkin saya mampir ke rumah ini, namun topik yang satu ini memberikan sesuatu yang harus dikomentari.

    Beberapa waktu yang lalu, di web site komunitas par-pakkat http://pakkatnews.wordpress.com/2008/06/20/tambal-ban-dan-par-pakkat/
    saya sudah mengangkat topik ini. dan didaerah amang bertugas, bolehlah di tengok usaha VC MANARIHON, punya bapak Marbun, yang adalah para sesepuh partmbal ban yang mengelola usahanya dengan management yang modern. Setidaknya hal seperti ini bolehlah dicontoh oleh rekan partambal yang lain untuk meningkatkan taraf hidup.

    Sudah banyak ‘teman’ yang berkecimpung didalam usaha ini mencoba membuat satu persatuan dan assosiasi yang mereka terapkan dalam bentuk koperasi namun, hingga kini belum sepenuhnya berhasil alias gagal. Saya nggak tau kenapa hal ini bisa sepertiitu, apa karena mereka ‘orang batak” , heheheheh

    Sebenarnya profesi ini bisa dikembangkan menjadi satu wadah menampung lulusan-lusan sekolah yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, tentunya telah mensukseskan program pengurangan pengangguran. Yang menjadi masalah, partambal ini seolah dilihat tidak menjadi profesi yang menjanjika untuk saat ini. setidaknya untuk bisa merubah nasib bila dibandingkan beberapa dekade sebelummnya…

    lalu, menurut hemat saya, assosiasi dan perkumpulanlah yang bis mengangkat dan memajukan profesi ini….akan kah amang mau menjembatani lebih dalam lagi pembentukanya?? ( walo mungkin amang gak ada pengalaman dibidang ini…bukan??”)

    Daniel Harahap:
    Dalam pertemuan kemarin sebagai pendeta saya menggaris-bawahi bahwa tugas gereja adalah mendoakan dan menyemangati warganya untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Saya dan kami siap memfasilitasi pembentukan asosiasi itu, namun tentu saja saya tidak boleh ikut terlibat terlalu jauh di dalamnya, apalagi untuk ikut melakukan negosiasi harga ban dalam atau oli dengan pengusaha. :-) Jika asosiasi itu terbentuk cukuplah saya di luar, namun jika dibutuhkan doa, dukungan dan pendampingan secara moral dan spiritual, saya dan kami siap melakukannya. Selebihnya adalah kompetensi dan tanggungjawab kawan-kawan yang memang bergerak di usaha itu.

  2. Ruas-Bandung on June 30, 2008 at 9:41 am

    Saya sangat terharu membaca tulisan ini. Saya jadi teringat di Parluasan Siantar, setiap Natal tiba para supir se kota Siantar mengadakan Natal bersama bertempat di terminal Parluasan Siantar. Saya tidak tahu apakah acara Natal bersama ini masih berlanjut sampai sekarang ini?.
    Mudah-mudahan langkah awal ini akan berlanjut terus.

    TERIMAKASIH TUHAN …KAMI RUAS DI PINGGIRAN INI MASIH BERKENAN DI RUMAHMU HKBP INI…..

    Daniel Harahap:
    Di dalam gereja sebenarnya tidak ada yang boleh dipinggirkan. Semua harus mengelilingi Kristus yang tersalib dan yang dibangkitkan. Doakanlah agar HKBP Serpong bisa melayani warganya yang berprofesi sebagai supir dan kernet. Ini tugas lebih sulit dan berat. Sebab para supir (yang belum/ tidak memiliki mobil sendiri) dan kernet jauh lebih sulit hidupnya dibanding penambal ban yang notabene adalah wiraswasta atau pengusaha. Bagaimana Dewan Marturia? :-)

  3. Todung RS on June 30, 2008 at 10:08 am

    Hanya satu kata:….MANTAP!

  4. liberty on June 30, 2008 at 10:39 am

    Luar biasa dan Salut itu kata yang pantas yang boleh kita sampaikan untuk Pak DTA,dan Pdt Benget Simamora. Kegiatan seperti inilah yang mayoritas warga harapkan,karena dari sudut statistik memang boleh dikatakan mungkin 80 % Warga kita berada di ekonomi Midle-Low dan sekitar 20 % Mildle-up ekonominya.
    Harapan ke Depan Asosiasi/ perkumpulan ini boleh dan perlu diadakan untuk mengeducated anggotanya sehingga bisa berubah menjadi lebih baik baik dari segi ekonomi juga masa depan.

    Tahun 1996 saya pernah kursus masalah HRD/Rekcruitmen di LPPM Jakarta ada istilah yang kurang enak di dengar oleh orang batak pada waktu itu padahal Pimpinan LPPM pada waktu itu bapak BN Marbun ,memang di sampaikan dengan canda tapi teringat sampai sekarang yaitu “kalau mau cari Presiden cari lah dari orang Jawa,kalau mau cari Pedagang carilah dari orang padang dan tionghoa,kalau mau cari Tukang tambal ban dan Satpam Carilah Orang batak” sekilas memang agak ironis tetapi kenyataan dilapangan kira kira mendekati kebenaran. Dalam hal ini waktu ada pertemuan kemarin dengan Pengusaha Tambal ban pasti ada di bicarakan bagaimana untuk menjadi lebih baik,lebih besar dan sukses nantinya.

    Para Pengusaha Penambal ban kami yakin tidak bisa setiap hari membaca ruma met-met,atau belum tentu ada kesempatan membaca berita dan informasi yang dapat meningkatkan kemajuan mereka. untuk itu ada baiknya mungkin di buat semacam buletin Pengusaha tambalban yang isinya mungkin amang DTA bisa masukin bagaimana memotivasi mereka agar bisa menjadi orang yang baik dan benar,orang yang punya pengharapan,orang yang masih punya kesempatan,dan dari segi potensi orang batak sebenarnya punya nilai Plus dari orang lain,seperti berani,dan siap menderita (tegar).

    Berikutnya perlu juga di perhatikan bagi Pengusaha Tampal Ban, pemberian nama usaha perlu sekali dalam dunia bisnis yang sekarang sangat mempengaruhi Image, dan kepercayaan dari orang lain, cari usaha yang berpotensi cepat untuk maju, kemudian di dalam dunia bisnis yang saya lihat perlu membuka diri lebih luas semakin banyak teman semakin banyak rezeki,kemudian memancinglah di kolam,sungai yang ada banyak ikannya,ikuti trend dan juga tentukan segmen usaha.

    Dan terakhir kepada Pengusaha tambal ban biar pun hidup ini sulit nikmati aja ,jangan terpengaruh dengan mencari kesenangan sesaat dengan pemakai narkoba,atau menjadikan tempat tambal bal tempat para supir mengunakan narkoba,kantong boleh miskin tetapi mental jangan.

    Daniel Harahap:
    Sebenarnya pujian tidak boleh ditujukan kepada saya, sebab pada dasarnya yang mengorganisir dan juga mendanai pertemuan itu adalah kawan2 penambal ban sendiri (sebagian dari mereka sudah sukses). Tugas saya hanyalah mendorong dan menyemangati. Habis kotbah kemarin, jujur, tak dinyana tak diharap saya juga dapat amplop “hamauliateon” dari kawan2 penambal. :-)

    Minggu depan tim kecil akan bertemu lagi. Saya sendiri tidak berpikir muluk2. Semua harus berproses secara wajar. Dalam bayangan saya organisasi yang akan dibentuk seyogianya berbentuk perhimpunan. Itulah bentuk organisasi yang paling demokratis dan egaliter, sesuai dengan jiwa Batak. Mungkin sasaran awalnya adalah sebagai wadah berbagi informasi. Kemarin nama, alamat dan nomor telepon masing2 anggota sudah kami cetak dan bagikan agar kawan2 penambal ban bisa saling kontak. Sebenarnya bentuk koperasi adalah yang paling ideal, namun berhubung istilah “koperasi” sering menimbulkan trauma, kecurigaan dan keraguan, menurut saya perlu ada beberapa langkah sebelum sampai kesana. Antara lain membangun komunikasi dan pengenalan serta kepercayaan. Di sinilah mungkin peran utama gereja. Selanjutnya adalah bisnis para penambal. Saya dan kami para pendeta cukuplah mendengar saja. :-)

    Bulletin penambal ban? Wah itu ide bagus sekali. Terima kasih. Nanti saya coba komunikasikan dan pikir bagaimana mewujudkannya. Sekali lagi thx. Saya langsung ketemu nama buletinnya: Tubles. :-)

  5. pardosa on June 30, 2008 at 12:30 pm

    top markotop….. top abis dahh…… jadi ingat udaku di ciledug yang berprofesi penambal ban… :D

  6. Martinus on June 30, 2008 at 1:24 pm

    Dear Amang Pdt. DTA. Harahap

    Ingin mengeluarkan sedikit kata hati:

    Pertama sangat bersyukur Untuk HKBP Serpong dimana ditengah keterbatasan Fisik (gedung, sarana, prasarana) masih tetap menjalankan Tiga Fungsi Gereja, dan menyentuh setiap golongan, bersyukur untuk setiap orang yg diutus Tuhan untuk terbeban melayani disana:

    Aku adalah salah satu putra seorang Tambal ban, dimana bapa ku berusaha mulai dr pinggir jalan di dekat Hek, Jakarta Timur (kami sudah mempunyai tempat, berbeda dgn tempat tinggal kami) dan terpaksa menjualnya seluruhnya utk abangku yg pertama masuk STM, lalu bapa mulai melanjutkan usahanya dgn membuat gerobak dan mangkal di dkt TMII. Tetap dgn gerobaknya bapaku memperluas bidang usahanya dengan menjual rokok, minuman, topi, roti, permen dll. dibantu anak2nya setiap pagi kami membantu mendorong gerobak dan sore kami jemput. Sedangkan mamaku jualan pakaian dari kampung ke kampung.

    Begitulah terus tahun demi tahun dilewati, hingga sekarang abangku seorang Perwira TNI AD, Kakakku seorang Analis Laboratorium D3, abangku yg ketiga Polisi (S1 hukum), dan aku sendiri (S1 Ekonomi)dan sekarang bekerja di salah satu instansi swasta.

    Yup, kami adalah buah hasil, perputaran kompresor(angin), pemanasan tungku tambal ban, yg dapat mengantarkan anak2 nya hidup layak, ini aku tulis bukan untuk Show Up, hanya sekedar untuk membuat amang inang dapat terus berpengharapan di dalam Tuhan, mungkin masih banyak kisah baik lainnya(aku bukan penganut teologi sukses lochh amang, hehe)

    Semoga amang Pdt dan setiap Parhalado HKBP Serpong dapat terus maju bersama keluarga ku (partambal ban) dengan visi dan misi yg ingin dicapai.

    NHKBP Taman Mini

    Daniel Harahap:
    Sungguh suatu kesaksian yang sangat indah. Saya hanya bisa mengatakan: mulialah nama Tuhan.

  7. Gerda Silalahi on June 30, 2008 at 2:09 pm

    senang sekali membaca semangat dan kebersamaan punguan ini. aku doakan semoga semua rencana berjalan lancar. salam yah bang, buat teman-teman di HKBP gunung sindur.

  8. Elisa Lumbantoruan on June 30, 2008 at 3:24 pm

    Saya sangat berharap “succes story” seperti ini dapat ditiru dan dikembangkan di banyak gereja HKBP, untuk mendorong perubahan HKBP ke gereja yang melayani jemaatnya. Menurut pandangan saya model pengembangan/pembangunan gereja pada saat ini adalah model ini, sudah tidak lagi pada model pengembangan/pembangunan yang sifatnya fisik.

    Salut buat amang pendeta dan timnya di HKBP Serpong. Sekalian mohon izin untuk menyajikan tulisan ini di website kami http://sihombing.lumbantoruan.net

    Mauliate
    Elisa Lumbantoruan

    Daniel Harahap:
    Saya merasa sangat terhormat dan bahagia tulisan itu dimasukkan di web raja i Borsak Sirumonggur. Bukan kebetulan: Inang simatua saya boru Lumbantoruan dari ompu Hariara. Amang simatua saya tubu ni boru Lumbantoruan, Hutagurgur Tuan Guru Sinomba, cucu dari Pdt. Gomer Sihombing. :-)

  9. John Hutapea on June 30, 2008 at 8:53 pm

    Saya ucapkan selamat untuk saudara-saudaraku yang telah bersatu dalam kebaktian Pengusaha Tambal Ban khususnya anggota HKBP Resort Serpong. Semoga sarana ini tambah maju dan semakin memupuk rasa persaudaraan demi kemuliaan Tuhan. Selamat juga kepada amang Pdt Benget Simamora dan amang Pdt DTA yang memprakarsai kebebaktian tersebut, walaupun amang DTA baru seumur jagung diserpong tetapi buahnya sudah mulai boleh dinikmati. Hal inilah yang tentunya diharapkan ruas:sentuhan-sentuhan manis yang merefleksikan kasih dan parmahanion. Semoga bidang lain menyusul tersentuh. Selamat melayani semua profesi untuk amang Pdt.

    Daniel Harahap:
    Selamat melayani juga untuk Amang Hutapea! :-)

  10. Rafina Harahap on July 1, 2008 at 5:07 am

    Suatu kali suamiku naik taksi yang disopiri oleh seorang Batak yang tinggal di Gunung Sindur. Amang ini mengontrakkan tanahnya di Brastagi (digunakan utk peternakan), utk bekal merantau ke Jawa. Bagus juga, tanah warisan tidak dijual tapi dikontrakkan. Beliau bekerja menjadi supir taksi, sang istri berdagang sembako di Gunung Sindur.

    Amang ini cerita bahwa keluarganya menerima BLT, namun ia merasa itu bukan hak-nya, lalu ia mengembalikan BLT tsb. Mungkin supir taksi yang jujur dan selalu bersyukur ini adalah salah seorang jemaat Amang DTA :-) [orang yang bersyukur biasanya selalu merasa cukup, walau kantongnya kering. Berapa banyak sih penghasilan supir taksi di jaman BBM selangit spt sekarang? Bisa-bisanya dia merasa “kaya” dan mengembalikan BLT :-) ]

  11. st. edison siahaan on July 1, 2008 at 8:06 am

    Pepatah Batak mengatakan : “Leleng adong napinaimana, hatop adong naniaduna” (lama ada yang ditunggu, cepat ada yang dikejar).
    HKBP Serpong sejak mulai dari pos parmingguon s.d. sekarang ressort, pusat telah menempatkan 6 pendeta silih berganti dan saatnya sekarang mengarahkan pelayanannya secara fokus kepada ruasnya yang memang banyak pengusaha tambal ban demikian juga sopir angkot (dari sejak dulu). Komen saya : “Ingat pembicaraan kita dulu dengan Ama Holong agar kumpulan ini menjadi mentor guna menghimpun kawan-kawan ini guna mewujudkan posisi tawarnya dalam berusaha”? Trims Amang Pdt. DTA saatnyalah sekarang!

    Intermesso : “Buat Amang St. Todung Siagian dengan satu katanya ……..
    “MANTAP” akornim ini akan berbunyi apabila P denganti dengan B, MAKAN TABUNGAN, alias lama-lama akan habis atau sirna tentu karena usaha tambal ban tidak dikelola dengan manajemen modern dan lebih penting lagi dijalankan dengan TAKUT AKAN TUHAN. He he he 1000 kali!!!!!

  12. rumanap on July 1, 2008 at 8:54 am

    Ada perasaan yang kurang pas dari kebanyakan orang thdp usaha “tambal ban” ini. Yang kurang pas itu misalnya : rasa kasihan.(dari sudut materi),
    Income komunitas ini secara umum masih diatas karyawan. Sudah benar, gereja harus berperan aktif , krn yg saya amati kelemahan di komunitas ini adalah tidak saling membantu. Bahkan cenderung bersaing tidak sehat. “Dang di au, dang di ho, tumagon di ….” Kalau bukan untuk saya, asal jangan untukmu, lebih baik …. yang untung”. Seandainya mereka marsiamin-aminan songon lappak ni gaol, marsitungkol-tungkolan songon suhat dirobean.

    Amang Harahap, saya mo tanya ttg ini “namun tentu saja saya tidak boleh ikut terlibat terlalu jauh di dalamnya, apalagi untuk ikut melakukan negosiasi harga ban dalam atau oli dengan pengusaha. Jika asosiasi itu terbentuk cukuplah saya di luar, namun jika dibutuhkan doa, dukungan dan pendampingan secara moral dan spiritual, saya dan kami siap melakukannya. Selebihnya adalah kompetensi dan tanggungjawab kawan-kawan yang memang bergerak di usaha itu.” Tidak boleh atau tidak sempat atau tidak pantas ?

    Daniel Harahap:
    Untuk pertanyaan terakhir, jawabnya: tidak boleh. (sebenarnya dalam hati sih kepingin) :-) Mengapa tidak boleh? Karena tugas pendeta bukanlah berbisnis tetapi untuk mendoakan, menyemangati dan membantu landasan spiritual dan moral bagi warganya berbisnis.

  13. JP Manalu on July 1, 2008 at 7:27 pm

    Horas,
    Terima kasih Tuhan, saya ikut bersyukur dengan langkah-langkah yang dilakukan Sdr-i “sahuria” di Serpong dan Pospelnya. Semoga langkah-langkah ini bisa menjadi “role model” bagi seluruh gereja HKBP (tentunya disesuaikan dengan karkteristik jemaatnya). Sekali lagi selamat bermarturia, boan godang nari.

  14. Reinh on July 3, 2008 at 8:45 am

    Aku ada saran, bagaimana kalo Amang mengumpulkan atau membicarakan hal ini dengan majelis jemaat, agar majelis jemaat dapat memfasilitasi apa yang menjadi harapan para penambal ban, seperti mendapatkan harga ban dalam murah atau oli murah. Aku pikir pasti ada anggota jemaat yang punya akses ke perusahaan-perusahan ban dalam dan oli yang dibutuhkan para penambal ban tersebut. Maaf, ini hanya pemikiranku dari latar belakang ekonomi. Aku pikir, gereja juga dapat berperan di sini. Karena aku pernah dengar ada seorang pendeta yang pernah membantu seorang pengusaha lepas dari utang-utangnya, tentunya dibantu oleh majelis dan anggota jemaat yang juga pengusaha, bagaimana caranya menjadi pengusaha yang sukses. Denga kata lain, para penambal ban juga bisa kita fasilitasi dalam hal networking usaha.

    Daniel Harahap:
    Pendekatannya agak berbeda Reinhard. Penambal ban tidak perlu (dan tidak mau) dikasihani dan dijadikan objek belas kasihan. Mereka telah teruji berjuang dan bertarung di jalan raya. Mereka hanya perlu didorong dan dikuatkan untuk bersatu agar kuat.

  15. Janpieter Siahaan on July 21, 2008 at 1:37 pm

    Satu pertanyaan dan saran :

    Sering saya jumpai, penambal ban tidak punya alat pengukur tekanan angin? jadinya menambah angin di ban pakai perkiraan aja misalnya dengan memukul ban pakai kunci pas. lha…. piye to mas….?? songon na maol dipertanggungjawabkan secara logika. Boha muse ma na menyangkut masalah kepercayaan (trust)?

    Saran :

    Tolong kepada para pengusaha tambal ban, siapkan peralatan yang memadai dan berfungsi dengan baik, minimal ada alat untuk mengukur tekanan angin. Kalau urusan yang menyangkut manajemen, sudah banyak diulas di koment diatas. i ma jolo hata sipaingot sian ahu.

  16. M HUTABARAT on July 27, 2008 at 8:56 pm

    Horas Amang,

    Pemberitaan diatas yang menyebutkan B Hutabarat seharusnya M Hutabarat.

    Hanya Koreksi aja Amang,,

    Semoga Rumametmet semakin jaya,,….

    Horas
    M Hutabarat

    Daniel Harahap:
    Horas Tulang! Mohon mahap jika terjadi kesalahan penulisan nama dan gelar. :-)

  17. ronny on September 4, 2008 at 4:58 pm

    aku ngelihat photonya cuman bisa senyum2,. Tampilan muka2 batak-ers penuh dengan makna, : Type pekerja keras, bertanggung jawab, walaupun suka nipu2 konsumen dan sedikit licik, gampang emosi kalo udah tersudut, tapi kalo dah kenal dekat, sangat asyik diajak ngobrol. :D :D

  18. matagading on November 20, 2008 at 1:43 pm

    Hebat Amang,
    Jadi ingat Nomensen “Pujian”" tetap di tujukan Ke Kristus!! ketika dapat gelar dari Jerman atau Missionaris Eropa.(?)
    Betul amang…, “”asa unang rusur pathu……..”"

  19. L.Manik on August 25, 2009 at 9:36 am

    Hebat..

  20. Maksimus on June 22, 2011 at 11:36 am

    Mohon bantuan ya alamat lengkap atau nomor kontak penambal ban khusus janda/perempuan di wilayah jakarta atau sekitarnya, saya pingin liput kisah hidup mereka dalam film dokumenter. bisa ke alamat email saya ramses_008@yahoo.com atu no kontak saya 081905875539. Tolong ya maksih sebelumnya

  21. raja on November 29, 2011 at 9:44 pm

    Menurut saya image penambal ban apalagi org Batak masih miring sampai sekarang,apalagi tempatnya tidak permanen seperti yg sy lakukan di Kramat Raya/Sentiong dulu.Hancur-hancuran.Kelompok nani “togu” ini amang DTA ini mungkin bisa menjadi ujung tombak pembaharu jika bisnis ini sudah menjadi pilihan profesi.Komitmen ini penting seperti life story diatas.
    Tambal-tambal terus, awali dengan nama Tuhan, bukan dengan namamu. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*