Iman Yang Bertumbuh

June 20, 2008
By

tree-2.jpg

Tanya:
Mmm..aku termasuk salah satu orang yang kecewa dengan institusi HKBP (bukan gerejanya ya atau Tuhan), karena menurut aku HKBP tidak lagi mementingkan pertumbuhan rohani dari jemaatnya, yang banyak aku lihat skrg ini justru lebih mementingkan bangunan gerejanya dan hal2 yang negatif lainnya. Berbeda dengan gereja …… (aku bukan anggota jemaat disana tetapi sering beribadah), saat beribadah disana aku merasa memiliki sukacita yang berbeda sehingga setelah sering bergereja disana aku merasa mulai tumbuh kerohanianku, sebagai contoh aku skrg rajin saat teduh. Amang aku rindu gereja kita HKBP bisa membangun kerohanian setiap pribadi jemaatnya. Bagaimana menurut Amang… :) (Mel)

Jawab:
Kritik itu sudah sering kita dengar dan menurut saya itu baik dalam rangka membantu gereja kita senantiasa mengkoreksi diri. Namun menurut saya “merasa sukacita saat beribadah” dengan “iman bertumbuh jadi dewasa” adalah dua hal yang berbeda walau kadang ada kaitannya. Maksud saya: gaya dan suasana ibadah yang riang-gembira, akrab, penuh emosi dan antusiasme tidak serta-merta atau otomatis mendorong pertumbuhan iman. Sebab itu kita harus benar-benar kritis. Perasaan nyaman dan riang memang kondusif bagi proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang, namun tidak identik. Lagi pula perasaan nyaman dan riang sangat subjektif. Ada orang yang merasa nyaman dalam ibadah yang “hiruk-pikuk” dan “penuh improvisasi” namun ada juga orang sama sekali tidak nyaman dalam suasana seperti itu.

Daripada kita larut hanya dalam perdebatan ibadah model mana yang lebih mendorong pertumbuhan iman menuju kedewasaan, maka menurut saya lebih baik kita langsung mendalami apa sebenarnya arti pertumbuhan atau pendewasaan iman itu sehingga kita dapat memeriksa diri kita masing-masing. Ingat: pertumbuhan harus dipahami sebagai proses pendewasaan!

Ada 5 (lima) hal yang dapat kita jadikan ukuran atau parameter pertumbuhan atau pendewasaan iman tersebut:

1) Mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat. (Ibrani 5:14). Apakah gereja yang Saudara sering kunjungi itu membuat Saudara semakin terlatih membedakan benar-salah, baik-jahat, tepat-tidak tepat, bertanggungjawab-tak bertanggungjawab dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bergereja? Apakah Saudara semakin terlatih bersikap yang benar dan baik dalam waktu, kata, janji dan komitmen, uang sendiri apalagi uang perusahaan/ negara/ gereja, budaya dan seksualitas? Jika ya, benarlah Saudara sedang bertumbuh.

2) Mampu membedakan hal-hal yang prinsipil dan tidak prinsipil, serta tidak mau terlibat dalam pertengkaran soal-soal sepele (I Kor 3:11). Apakah gereja yang sering Saudara kunjungi itu membantu Saudara membedakan persoalan prinsipil dan tidak prinsipil, membedakan tujuan dan alat mencapai tujuan, membedakan apa yang seharusnya (das sollen) dan apa yang ada (das sein)? Dan mendorong Saudara memperjuangkan dan kalau perlu mempertengkarkan hal-hal yang sangat prinsipil atau fundamental itu? Jika ya, benarlah Saudara bertumbuh.

3) Memiliki keteguhan sikap dan keyakinan penuh, serta tidak mudah diombang-ambingkan atau diperdaya. (Kol 4:12, Ef 4:12). Apakah gereja itu mendorong Saudara memegang teguh iman dalam kondisi dan situasi apa pun? Apakah Saudara semakin setia dan teguh kepada tujuan, pendirian iman, dan keyakinan Saudara walaupun berbeda atau bahkan bertentangan dengan kebanyakan orang? Apakah Saudara dimampukan mengambil keputusan-keputusan sendiri berdasarkan keyakinan dan hati nurani Saudara, atau malah semakin bergantung kepada pemimpin rohani Saudara? Jika ya, benarlah Saudara sedang bertumbuh?

4) tidak mudah terpesona kepada hal-hal yang sensasional, “ajaib” atau “aneh” (I Kor 14). Apakah Saudara semakin beriman dan sekaligus semakin rasional? Apakah Saudara di sana didorong untuk mengembangkan akal budi dan kemampuan nalar Saudara dan tidak asal percaya dan menelan saja berbagai berita, kabar, ceramah atau bahkan kotbah? Apakah Saudara semakin mampu membedakan mana bungkus dan mana isi dari suatu kotbah atau ajaran? Apakah Saudara makin menjauhi hal-hal sensasional, aneh atau ajaib, namun lebih menyukai iman yang sejati yang tumbuh melalui ketekunan, kerja keras, dan kesabaran? Jika ya, benarlah Saudara bertumbuh. Jika tidak, maka sebenarnya Saudara justru sedang mengalami kemunduran atau degradasi.

5) Bertanggungjawab dan terlibat dalam kehidupan jemaat dan masyarakat. Apakah Saudara semakin bertanggungjawab dalam kehidupan jemaat maupun masyarakat? Apakah Saudara semakin berpikir dan bekerja keras memberikan kontribusi bagi perbaikan gereja dan masyarakat dan tidak lagi mencari kesenangan dan kenyamanan sendiri semata? Jika ya, benarlah iman Saudara sedang bertumbuh dan menjadi dewasa.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

10 Responses to Iman Yang Bertumbuh

  1. st. edison siahaan on June 20, 2008 at 12:24 pm

    “aku merasa mulai tumbuh kerohanianku”, sebagai contoh “aku skrg rajin saat teduh”. Sering perasaan mengecoh seseorang sehingga tindakan selanjutnya seperti “sequence” petikan di atas menjadi hasil dari keterkecohan. Lagi pula banyak juga ruas hkbp dan bergereja di hkbp rajin bersaat teduh setiap pagi dan malam hari (cobalah kenali mereka yang mungkin dekat sekali di sisimu).
    Aku cuma mau komen saja, kehadiran Allah di setiap persekutuan kristen itu nyata adanya dan tidak dipengaruhi oleh perasaan seseorang. Apakah dia pada saat itu merasa sakit meriang atau sehat walafiat misalnya. Sebagaimana Allah tetap hadir senantiasa dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari (Bil.9:15~23).
    Konkritnya:
    1) Setiap orang kristen baik merasa sakit meriang maupun sehat walafiat, begitu mendongak dari kemah suci (persekutuan) melihat tiang awan/api (nyata = bukan merasa) ada, berarti Allah ada di tengah mereka;
    2) Kemah suci itu adalah Persekutuan, dapat disebut Gereja. Selama Gereja itu nyata ada bukan karena perasaan, menandakan Allah hadir di atasnya;
    3) Setialah melayani di gerejamu (termasuk kelebihan dan kekurangan di dalamnya), karena di atasnyalah Allah bertahta. Sebagaimana Dia bertahta di atas kemah suci Israel yang di dalamnya terdapat mahluk dengan kelebihan dan kekurangannya pula.
    4) Terima kasih, kawan (Mel)!!!!

  2. ruben on June 20, 2008 at 12:35 pm

    Sepertinya 5 point yg bapak pdt sampaikan spertinya ada mencakup di gereja dimana aku bernaung.

    Ya bener.. ada org yg suka ibadah yg hingar bingar dan ada juga yg lebih suka tenang.. yg sperti aku katakan sebelumnya bahwa bentuk ibadah hanyalah “alat” atau “akomodasi” jadi tergantung kita, kita confortablenya yg mana?? sejauh tidak menyimpang dari Alkitab dan 5 point yg pdt sebutkan diatas.

  3. yohanes enho nababan on June 20, 2008 at 12:38 pm

    well,
    tidak perlu untuk memperdebatkan manakah gereja secara bangunan yang paling “wah” atau gerja dengan dogma yang “manis” untuk dirasakan…

    tidak ada gereja yang palig “wah” dan paling “manis pujian” di mata Tuhan, namun yang adalah bagaimana kita sebagai gerja secara tubuh-Nya memberikan diri untuk dibangun serta membantu teman-teman seiman dalm menguatkan iman….

    dan yang lebih tepat,..
    jika ingin HKBP maju, hendaknya masing-masing anggota tubuh dalam HKBP saling membantu, mau menerima kritikan serta mampu memberikan saran yang membangun, mewujudkan Amanat Agung Tuhan serta bersinergi dengan gereja lain…

    tidaklah etis jika kita membeda-bedakan gereja,karena Tuhan juga tidak mengkotak-kotakan umat-Nya

  4. ruben... on June 20, 2008 at 5:39 pm

    @yohanes enho nababan

    yeah betul..
    bukan saat nya lagi kita mengkotak2kan gereja..
    sudah seharusnya gereja bersatu..
    alangkah indahnya jika semua gereja dari denominasi yg berbeda bersatu
    tanpa memandang doktrin gereja…

    ada ayat yg intinya mengatakan (lupa dimana):
    bermacam-macam bentuk org beribadah tapi cuma 1 yang dituju yaitu Yesus…..

    Daniel Harahap:
    Kepelbagaian denominasi bukanlah suatu dosa tetapi rahmat
    dan kekayaan cara pandang….
    lagi pula
    kita tidak harus seragam dalam segala hal
    untuk bisa menjadi penyembah Tuhan.

    Soli Deo Gloria!!!
    United in nation.. :D

  5. Rudi Juan Carlos Sipahutar on June 20, 2008 at 7:30 pm

    HIDUP adalah BERTUMBUH…
    TIDAK BERTUMBUH artinya MATI..
    BERTUMBUH dalam TUHAN, cara bagaimana harus bertumbuh menjadi PENTING !

    BILA kita semua yakin bahwa semua LADANG LUAS ini dalah milik TUHAN, maka yakinlah pasti tanah itu SUBUR ( karena telah atau akan terus di garap, disiram dan di pupuk) tapi tak pernah kah kita berpikir untuk bertumbuh pada tempat yang ORIGINAL sehingga ke ASLI an kita akan bisa di nikmati banyak orang ??

    BISA JADI, dalam Hidup TUHAN menempatkan kita pada tanah yang TIDAK KITA MAU, tapi malah menempatkan kita pada tanah yang KITA PERLU.. agar kita dapat bertumbuh dalam kesesakan,keprihatinan, kesederhanaan dan bahkan di tengah tekanan masalah. Membentuk kita bertumbuh seperti YANG TUHAN MAU !!

    BERTUMBUH butuh loyalitas.. Kesetiaan pada tempat dimana TUHAN telah menempatkan kita sejak awal. HKBP menjadi media untuk banyak orang percaya (termasuk saya lho ) dapat bertumbuh subur dalam TUHAN..

  6. liberty on June 20, 2008 at 8:41 pm

    la..bener polu kato si Yohannes enho..

  7. kenzo bgr on June 21, 2008 at 5:23 pm

    bERIBADAH YANG BAIK DAN BERTUMBUH IMANNYA YANG UTAMA

  8. Riduan Sibarani on August 1, 2008 at 11:00 am

    Banyak yang membedakan gereja. Dan banyak pula yang tidak memahami dari mana mereka berasal/bertumbuh. Setelah menemukan sesuatu yang baru, yang miliknya dahulu seakan tidak berarti dan dikatakan tidak memahami perkembangan.

    Memberikan kritikan kepada gereja asalnya tetapi tidak mau membangun bersama. maaf saja saya sering dengar kritikan tentang HKBP dan mereka rata-rata yang pindah ke gereja lain. Dan saya berpikir kalau memang ingin membangun jangan kritik dan tinggalkan, tetapi kritiklah dan ikutlah bertanggung jawab dengan kritikan itu. Bukan meninggalkannya.

    Ada sy ambil contoh yang mungkin sangat sederhana:
    Nasi. Senikmat apa makanan yang ada jika tidak ada nasi rasanya belum dikatakan itu makan. Padahal nasi itu rasanya itu-itu saja tidak berubah sejak dahulu walaupun menu sekarang beragam bentuk dan rasa.

    Begitulah rohani ini, apapun yang terjadi tetaplah berdiri ditempat dimana kita telah dibentuk dari semula. Agar kita tahu siapa diri kita sebenarnya dan kepada siapa kita harus bertanggung jawab.

  9. Wilton Marbun on October 4, 2008 at 3:08 pm

    Horas Amang!
    Seorang pendeta HKBP mengatakan bahwa seorang mahasiswa theologi ataupun dia sudah mendapat gelar sarjana theologi belum bisa atau belum berhak untuk berkhotbah di mimbar gereja. Apakah benar? Padahal dulu adik saya ketika masih kuliah dan praktek lapangan di Balige, dia diperkenankan untuk jamita. Dan sekarang dia sudah tamat dari STT Jakarta. Sampai sekarang dia belum juga diberkati sebagai pendeta. Tapi dia bisa kok jamita di gereja. Tapi kenapa berlawanan dengan apa yang dikatakan pendeta itu?

  10. Yani Sitorus on March 12, 2009 at 12:46 pm

    Saya sangat setuju dgn pemaparan amang ttg parameter yg bisa kita jadikan utk mengukur pertambahan/pertumbuhan iman kita..Dan hal2 itulah yg tetap membuat ku ttp bertahan di Gereja suku dimana aku berjemaat.

    Tapi ada yg mengganjal bagiku amang..terkadang aku berfikir apakah aku merasa bisa bertumbuh krn aku cuek aja dgn pola tingkah laku parhalado di gereja aku atau bagaimana..karena ada bbrp org yg justru keluar krn mrsa dia tdk bertumbuh krn sikap parhalado.

    Sbg contoh amang..Saya dulu kuliah di Palembang dan bergereja di HKBP Palembang awal tahun 2000-an seorang teman saya di rawat di RS Charitas ( amang pasti taulah dimna RS ini ya..), posisinya dekat sekali dgn HKBP Palembang. Karena kondisi teman ini sudah sangat parah..dia minta didoakan oleh hamba Tuhan, tanpa pikir panjang saya lgs mengusulkan utk memanggil pendeta HKBP Palembang utk mendoakannya dan kebetulan teman ku itu jg bergereja disana. Tapi apa yg ku harapkan jauh dr kenyataan amang, waktu sang pendeta di jemput dr gereja (waktu itu pendeta Resort yg disitu tdk di tempat, beliau sdg keluar, tapi ada pendeta lain). Secara mengejutkan, teman yg menjemput td pulang dgn hampa..Sang pendeta menolak dgn alasan sdg banyak kerjaan..Hati ku sedih wkt itu amang.,…RS Charitas dan HKBP Palembang tinggal nyeberang jalan bukan??

    Akhirnya..aku terpikir dgn seorang pendeta yg lumayan dkt jg dgn kami (bukan pendeta HKBP) saya telefon beliau..dan beliau dtg dlm waktu 30 menit..dan saat itu beliau sdg mempersiapkan diri utk jd pembicara dikebaktian sore yg akan berlangsung sejam lagi…(akhirnya ke esokan harinya teman itu meninggal dunia) Itu adalah perbandingan yg bisa dilihat secara nyata oleh kami waktu itu amang..Logika kami yg tau kejadian itu sangat ga bs terima dgn perlakuan pendeta HKBP saat itu..

    Nah ini semakin membuat teman2 yg lain hilang kepercayaan dgn pendeta HKBP..tapi aku ttp bertahan dgn prinsip “Agama dan ibadahku..adalah antara aku dgn Tuhan ku”.. Tapi semakin byk org yg mengomentari semakin timbul kebingunganku..apakah aku ini bnr2 bertumbuh atau krn aku cuek dgn sikap parhalado atau pendeta dimana kau berjemaat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*