Almanak Jumat 20 Juni 2008:
Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya. (Amsal 13:24)
Jaman telah berubah. Konsepsi tentang pendidikan juga berubah. Jika dahulu guru dianggap sebagai pemberi dan murid sebagai penerima pengetahuan, maka pada masa kini kedudukan guru dan murid sama-sama sebagai pencari dan penemu pengetahuan. Beda guru dan murid hanyalah tinggal soal umur, pengalaman dan kompetensi. Pendidikan juga mengalami proses demokratisasi dan humanisasi. Guru tak lagi dianggap segala-galanya, tetapi lebih merupakan narasumber, fasilitator dan pandu dalam perjalanan pencarian kebenaran. Murid tak lagi dianggap mahluk bodoh dengan otak kosong yang harus dicekoki, tetapi pribadi-pribadi kreatif yang bisa membangun dirinya sendiri jika dilatih, didampingi dan dimotivasi. Informasi pengetahuan terus berkembang dan tersebar dimana-mana dan karena itu harus dicari aktif dan kreatif baik oleh guru maupun murid.
Pola pendisiplinan juga berubah. Kecuali di sekolah-sekolah militer atau “paramiliter” kekerasan dalam pendidikan telah diharamkan dan dianggap pelanggaran HAM. Jaman dahulu jika seorang guru memukul murid dengan tangan atau tongkat rotan dianggap hal yang wajar dan biasa. Apalagi jika ayah atau ibu memukul anaknya. Itu dianggap bagian dari proses pendisiplinan, bahkan ungkapan cinta kasih dan rasa sayang kepada murid atau anak. Namun jaman sudah berubah. Penghukuman fisik apalagi menggunakan tongkat atau alat lain tidak lagi dianggap sesuatu yang lazim, wajar, normal apalagi baik dan benar. Penghukuman fisik (bahkan kata-kata kasar atau menghina) bahkan oleh orangtua sendiri telah dianggap kekerasan. Apa yang jaman dahulu dianggap sangat baik pada jaman sekarang malah dianggap tidak baik.
Kita menerima perubahan konsepsi dan sikap pendidikan itu dengan syukur dan sukacita. Perubahan itu kita anggap membuat kita semakin manusiawi dan dekat dengan status kita sebagai manusia terhormat dan mulia yang diciptakan Allah menurut citraNya. Pada masa kini tanpa menggunakan tongkat, sapu lidi, ikat pinggang, atau gagang kayu kita tetap bisa mengasihi anak-anak kita dan murid-murid yang dipercayakan kepada kita. Kita bisa mendidik tanpa harus menghajar, memukul atau melibas. Ada banyak sekali cara tanpa kekerasan untuk mendorong seorang anak pintar, berdisiplin dan menghargai norma. Itu artinya sebagai orangtua, guru, atasan, kakak atau abang, kita pun harus belajar banyak lagi.
Doa:
Ya Tuhan Allah, kami bersyukur kepadaMu sebab Engkau menganugerahkan kami kemampuan belajar-mengajar yang hampir tak berbatas. Tolonglah kami menggunakannya sebaik-baiknya. Kami mau belajar terus-menerus mengenali dan mengembangkan diri kami, dan juga mendidik orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kami. Kami juga mau belajar mengenal Tuhan dan kasihMu. Terutama karuniakanlah kami rasa takut dan hormat kepada Tuhan agar kami dapat menjadi pintar dan berhikmat. Dalam Yesus, Hikmat yang sejati, Guru dan Pemimpin kami. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
bukannya tipe pendisiplinan seseorang tergantung kepada umur-nya. Jika dia masih kecil maka pendisiplinan yg tepet adalah dengan menggunakan “tongkat”, dan jika dia sudah besar pendisiplnan tidak lagi dengan “tongkat” tetapi dengan “nasihat”??
hehehe.. denger-denger begitu seh..
Daniel Harahap:
Apa yang dimaksud dengan “tongkat”? Jika yang dimaksud dengan jeweran halus atau sentilan di telinga atau pukulan di paha atau betis (yaitu tempat yang dianggap “aman”) mungkin masih bisa ditolerir pada kasus-kasus khusus. Namun penghukuman fisik tetap tidak boleh dilakukan secara rutin atau sebagai sistem.
ya amang mendidik anak tanpa harus dipukul dengan kayu atau tongkat, tapi kadang-kadang anak sekarang beda dengan kita dulu, kalau dulu lihat orangtua atau guru begitu hormatnya, sekarang beda sekali. hal ini mungkin perubahan jaman, dimana metode orangtua dulu dalam mendidik anak beda dengan sekarang,padahal kalau orangtua dulu mendidiknya bagus juga walau tampa pembantu anak anaknya disiplin membantu orangtua,sekarang wah ha ha ha…sebagai orangtua ya kita harus pandai pandai membaca sikon karena tantanmgan sekarang sangat berat sperti bahaya narkoba, film kekerasan dll. ya satu satu jalan tentu mendidik anak dekat dengan Tuhan dan mengajarkan firman Tuhan kepada mereka.
saya jarang sekali jewer dan pukul, tapi kalau terpaksa harus gunakan tongkat.
Daniel Harahap:
Apakah tongkat itu hanya Anda acungkan atau daratkan ke tengkuk eh badan si anak?
Saya cuma mau bilang: kekuatan tongkat itu mengajar jiwa sangat lemah. Dia hanya bisa menakut-nakuti.
Saya juga berusaha tidak memukul anak dan memberi mereka reward positif bila mereka berlaku baik. Namun kadang kala, ada pelanggaran yang berat sehingga harus memukul (sedikit sih dan tidak keras).
Biasanya setelah memukul, saya diamkan dulu sekitar 1-2 menit lalu kembali memeluk anaknya. Saya juga katakan bahwa saya sayang mereka tapi karena pelanggaran tersebut, mereka menerima sanksi.
Sebenarnya hati juga nggak tega kok kalau mukul anak.
Bagaimana kalau amang buat artikel tentang keluarga kristen juga?
Pengalaman setiap orang waktu kecil berbeda-beda dalam didikan dari orang tua guru,perbedaan itu juga di karenakan perbedaan karakter si anak kadang kadang tidak bisa di pungkiri disiplin keras juga membuat sianak menjadi orang dan setelah dewasa mengatakan”untunglah dulu orang tua saya keras mendidik kami bahkan kadang sampai melibas”
saya pribadi mengalami hal-hal yang menyakitkan dulu waktu orang tua ,guru menilai saya,tapi saya punya pikiran sendiri yang tidak ada orang lain tau kecuali saya dan tuhan.waktu kecil ayah saya bilang bahwa saya anak yang tidak punya kemampuan apapun”soadong ni ulpukmu” katanya,kemudian waktu remaja katanya nanti kau jadi apa hobby juga tidak ada sebab memang kawan-kawan punya kemampuan olah raga,seni kalau saya memang senang merenung aja, kemudian di sekolah juga guru sering menyepelekan ,waktu SMP ada 2 kali yang sangat terasa disepelekan guru yaitu pertama saya senang sekali menulis di buku saya dengan tulisan nama saya dengan lengkap gelar “Prof Dr.Drs…..SH” dulu itu yang baru ada gelar kemudian si guru mengatakan allang ma sada pe dapot ho sian na di surat mi nungnga hebat ho,songon naso mungkin do, kemudian pernah waktu saya selesai cuci baju di rumah tiba-tiba ada guru SMP lewat tanpa ada angin dan hujan mengatakan ini anak ini pasti nanti kalau sudah besar kurang berhasil dari pada yang ini menunjukkan kawan saya yang kebetulan sama sama menjemur pakaian.hati saya pedih dan memang sering sekali di hina orang.saya memang sadari waktu kecil dan remaja termasuk anak yang bottan (kurang lincah)biasalah dim kampung-kampung di jago berkelahi,tidak pintar main bola .tetapi sebanarnya sekarang baru kusadari karna itu saya jadi bisa berhasil , puji Tuhan bahkan mungkin sudah melebihi guru yang menyepelekan tadi,dan dari anak -anak orang tua saya justru saya sekarang lebih di dengar dari yang lain karena apa yang mereka pikirkan dan duga ternyata lain,memang semuanya karena anugerah Tuhan.
nah kembali kepada mendidik anak kadang perlu melihat Sikon aja,kemudian memahami sianak seperti alkitab katakan orang goblok boleh dengan pukulan tetapi orang cerdas cukup dengan perumpamaan atau nasehat barangkali seperti itu.artinya mari memahami anak kita kemudian ajak berkomunikasi untuk selalu ambil bagian dalam rencana dan perjalan hidup keluarga kita. Syaloom.
NO VIOLENCE MOVEMENT.!!
Wahai Para orangtua kami yang tercinta,, janganlah bersembunyi di balik kata DISIPLIN untuk melakukan tindakan KEKERASAN !!! karena luka fisik, luka jiwa dan luka karakter yang timbul bisa terbawa sampai Tua dan akan sulit dipulihkan…!
wahai Para orang tua kami yang Tercinta, bukan cuma tongkat ! Tutur katamu yang kasar dan sejuta caci makimu yang kami terima sejak di dalam kandungan telah membunuh kemurnian karakter kami dan membentuk kwalitas moral kekinian kami…!
Wahai Orang tua kami yang tercinta, bukankah anda2 mengaku lebih dewasa dan matang untuk menyelesaikan masalah ?? bukankah seharusnya anda-anda lebih bisa mengerti dinamika kami yang sedang bertumbuh dalam hingar bingar kehidupan ini ? ( anda -anda lebih bisa menganalisa kami karena anda juga pernah berusia muda, tapi kami akan sulit mengerti anda-anda karena kami belum pernah menjadi Tua) Karena itu, Ber DIALOG lah dengan Kami!
Wahai orang tua kami yang tercinta, anda adalah idola dan guru hidup partama kami, jangan tanam benih KEBENCIAN ITU DI HATI KAMI, karena kami akan sulit mencabut akarnya !!
Wahai Orang tua kami yang tercinta, KAMI butuh CINTA Tulusmu, kami merindukan BELAIAN sayangmu, KAMI Haus LEMBUTNYA tutur katamu, kami butuh hangatnya pelukmu, kami mau hadirmu di tiap detik waktuku dan semuanya itu akan kami bayar DENGAN SEBUAH HIDUP YANG UTUH UNTUKMU.
yang jelas mendidik anak dengan cara bijak tak perlu pukul, dan ortu harus tunjukkan dulu kelakuan yang terpuji. gbu