
Sermon Minggu Ini:Â
Dasar: Ayub 5 : 17 – 21
Pengantar
Kitab Ayub berisi suatu perdebatan yang sangat panjang dan mendalam tentang penderitaan. Kitab ini sering kali dibaca dan disimpulkan berdasarkan bagian pendahuluan dan penutupnya, padahal pesan utamanya justru terletak di tengah-tengah, yaitu pasal-pasal yang berisi perdebatan Ayub dengan tiga sahabatnya (Elifas, Bildad dan Zofar) serta pergumulan batinnya tentang penderitaan yang menimpanya. Sebab itu untuk memahami kitab Ayub kita justru harus membaca seksama perdebatan panjang di dalamnya dan bukan hanya bagian awal dan penutupnya saja.
Ayub kehilangan harta bendanya, istri dan anak-anaknya, dan lantas dikucilkan karena mengidap penyakit kulit. Menurut sahabat-sahabatnya, sebagaimana nampak dalam tuturan para sahabatnya yang bisa kita baca dalam kitab tersebut, apa yang dialami Ayub adalah adalah akibat dosanya, sebab itu Ayub dinasihati agar mengaku dosa kepada Allah supaya sembuh dan dipulihkan. Namun Ayub merasa tidak melakukan kesalahan sama sekali dan dia tidak mengerti mengapa semua penderitaan ini harus dialaminya. Allah sendiri berdiam diri tidak menjawab pergumulan Ayub.
Para sahabat Ayub sebenarnya di sini mewakili pandangan ortodoksi yang membuat kesimpulan simplistis (sederhana) bahwa semua penderitaan adalah akibat dosa dan sebaliknya semua kesenangan adalah akibat kebenaran. Atau: Allah mengganjar orang berdosa dengan penderitaan dan mengganjar orang benar dengan kesenangan. Ayub sendiri mewakili pandangan teologis yang lebih realistis yang tidak serta-merta menghubungkan penderitaan dengan dosa. Sebab kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang benar dan baik juga bisa menderita dan sebaliknya orang-orang jahat dan culas bisa juga hidup aman dan senang. Sikap Ayub ini tampak juga nanti dalam diri para nabi seperti Yeremia dan Yehezkiel yang juga kenyang dengan penderitaan sekalipun mereka hidup benar dan baik serta taat kepada Allah.
1. ASAL-MUASAL PENDERITAAN:
Berdasarkan kitab Ayub ini kita bisa memahami ada 4 (empat) hal sumber atau asal-muasal penderitaan.
Pertama: akibat dosa atau kejahatan. Jika kita berdosa atau melakukan kejahatan maka kita bisa dihukum, baik oleh masyarakat, negara maupun oleh Allah, dan penghukuman itu menyebabkan penderitaan kita. Upah dosa ialah maut (Roma 6:23).
Kedua: akibat dosa atau kejahatan orang lain. Namun kita juga bisa menderita akibat dosa atau kejahatan orang lain. Bukan kita yang melakukannya tetapi kita yang justru menanggung akibatnya. Misalnya: kita baik-baik berjalan namun ada orang yang mabuk menabrak kita dari belakang. Atau: kita sudah mengajar anak-anak kita agar baik dan benar, namun dia membangkang dan kemudian malah jatuh ke dalam penyalahgunaan narkotika sehingga merusak seluruhnya.
Ketiga: risiko kebenaran. Namun penderitaan bisa juga bukan diakibatkan oleh dosa atau kejahatan kita namun justru risiko kebenaran dan kebaikan. Penderitaan inilah yang dialami oleh para nabi, rasul, Yesus dan gereja. (lihat 1 Pet 4:16)
Keempat: tidak diketahui. Namun sebagian besar penderitaan justru tidak diketahui asal-usulnya. Misalnya: mengapa orang yang kita kasihi begitu cepat pergi? Mengapa ada orang yang sangat saleh hidup sangat miskin? Mengapa ada anak yang dilahirkan dalam keadaan cacad? Mengapa ada orang baik mengidap kanker? Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali tidak ada jawabnya. Jika dipaksakan dicari jawabnya malah kita terjebak ke dalam sikap ortodoksi yang menganggap semua penderitaan otomatis akibat dosa. Karena itu alih-alih menghibur dan meneguhkan kita malah membuat orang yang menderita itu semakin terpuruk karena mencapnya sebagai pendosa.
2. SIKAP MENGHADAPI PENDERITAAN
Kitab Ayub benar-benar memberi kita hikmat dan kearifan bagaimana menyikapi penderitaan kita dan penderitaan orang lain. Terhadap penderitaan yang diakibatkan oleh dosa dan salah kita sendiri jawabannya hanya ada satu: mengaku dosa kepada Allah dan bertobat. Dan jangan mengulang lagi dosa yang sama. Namun bagaimana menyikapi penderitaan yang bukan akibat dosa kita, apalagi justru akibat atau risiko kebenaran, iman dan kebaikan kita?
Pertama: tetaplah taat kepada Allah. Ayub mengajarkan kita agar taat kepada Allah sekalipun dalam penderitaan yang paling berat sekali pun. Ayub tidak pernah meninggalkan Allah. Dia hanya menyampaikan keluhan dan ketidakmengertiannya akan jalan-jalan Allah. Sikap itu jugalah yang ditunjukkan oleh Yeremia, Paulus, dan Yesus sendiri. Ayub mengajarkan kita tentang ketaatan tak bersyarat, ketaatan tanpa pamrih, dan ketaatan mutlak kepada Allah. Penderitaan sering menggoda kita sangat kuat untuk melepaskan pendirian iman dan prinsip kebenaran. Dari Ayub kita belajar bahwa penderitaan (sakit, gagal, bangkrut, miskin, tidak punya anak, kehilangan jabatan, dll) tidak bisa dijadikan alasan atau dalih untuk menyimpang dari Allah.
Kedua: rendah hati dan menguasai diri. Rasul Petrus mengajarkan kita agar dalam penderitaan tetap rendah hati dan menguasai diri (1 Pet 4:7, 5:6). Kecongkakan membuat kita jatuh. Kepanikan dan kegusaran membuat kita kehilangan iman dan jati diri. Ingat: ada banyak sekali contoh orang yang panik dan tak menguasai diri justru kehilangan hartanya yang paling berharga atau bahkan nyawanya saat kebakaran atau banjir atau gempa. Bagaimana caranya agar dapat tetap rendah hati dan menguasai diri saat penderitaan? Berdoalah dan percayalah kepada Allah.
Ketiga: tetap fokus kepada tujuan, tugas dan tanggungjawab. Selama kita masih mampu tetaplah fokus kepada tujuan, dan tetaplah mengerjakan tugas dan tanggungjawab. Melalaikannya membuat penderitaan itu semakin buruk.
3. BERKAT TERSEMBUNYI DALAM PENDERITAAN
Jangan salah tafsir. Kita bukan orang yang memuja penderitaan atau pengidap penyakit masokis (menikmati kesakitan dan penderitaan). Penderitaan sebisa mungkin dihindari (kecuali penderitaan risiko kebenaran atau akibat iman!).
Namun bagi orang-orang beriman penderitaan bisa menjadi pelajaran dan hikmat yang sangat berharga. Mengapa? Karena kita tahu Allah bekerja dalam segala sesuatu (termasuk penderitaan) untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. (Roma 8:28). Penderitaan bisa kita jadikan sebagai ujian. Apapun bentuk penderitaan itu bisa kita anggap sebagai suatu kesempatan untuk melatih iman, memurnikan kasih dan membentuk karakter kita. Ibarat logam mulia yang harus ditempa dan dimurnikan lewat api, begitulah kita bisa menempa kepribadian kita saat-saat penderitaan itu datang.
Selain itu dalam penderitaan sekali pun kita bisa tetap merasakan kebajikan dan kemurahan Allah, dan mengalami bahwa Allah itu baik dan setia menyertai kita. Itulah yang menjadi sumber kekuatan kita bertahan sekaligus sumber kebahagiaan kita yang tak terperi.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Penderitaan adalah sejarah klasik sehingga kita pasti akrab dengarnya tapi bisa alergi mempertanyakannya juga membahasnya.
Mengapa jika Allah begitu baik, kokk.. umat pilihanya menderita? Mengapa Allah tidak menciptakan manusia untuk melakukan dan menerima yang baik-baik saja ?, Kenapa orang jahat umurnya panjang, kaya, sehat, marsonang-sonang dll ? agahh tahe.. banyak kali puang sukkun-sukkun.
Di antara semua tema-tema renungan maupun kontempelasi rohani yang paling lekat di pikiran dan hati saya adalah tentang kedalaman makna teologis penderitaan. aneh kali yaa, ngakk tau juga Sejak mengalami hidup baru berjalan bersama Dia, belajar menggali FirmanNya atau ikut kelas pembinaan, selalu rasanya cara Tuhan begitu paradoks dalam pikiran bagaiman Dia mengajar/menuntun bahkan melatih umat. Cara Tuhan selalu bertindak global sementara kita hanya sesaat/sempit. Lewat penderitaan Tuhan memproses ingin membuka mata rohani kita/iman supaya kita datang kepadaNya bahwa Dia Hadir dan peduli dan sabar. Tuhan juga membuka tabir rahasia di balik penderitaan tentang mahkota kemenangan dari Dia karena kita lemah dan Dia berdaulat asal kita mau setia, tekun menerima, dan menghargai ujian ketika menghadapi bentuk-bentuk penderitaan.
Cukup terasa dampak cara pembentukan paradoks ini oleh karena Tuhan sendiri membangun karakter baru dan kedewasaan rohani kita sebagai prinsip cara bersikap menghadapi turbulensi rumitnya kehidupan. Ini perbedaanya dengan sikap/cara hidup orang tak percaya Memaknai penderitaan ibarat membedah rahasia kehendak Tuhan yaitu hidup berkemenangan bagi kita orang berdosa. Hamba-hamba Tuhan dan tokoh-tokoh besarpun lahir karena tahan uji menghadapi penderitaan atau kesulitan yang luar biasa besarnya. Akhir kata ” Penderitaan apalagi dalam Iman adalah Seni Kehidupan dan Karunia “