Aku mempercayakan hidupku kepada Allah yang kukenal dalam Yesus, Sang Putra, dan memanggil aku hidup dalam Roh Kudus:
(1) Aku menerima anugerah kebebasan sehingga dalam kondisi dan situasi apapun: aku bebas memilih responsku, memilih kepercayaan, memilih nilai dan prinsip serta tindakanku, dan karena kebebasan itulah aku mau dan harus bertanggungjawab penuh atas pilihan-pilihan respons yang kuambil dalam kondisi dan situasi apapun juga.
(2) Aku selalu menggunakan kemampuan belajar hampir tanpa batas yang dianugerahkan Allah kepada semua manusia, mendayagunakan kekuatan bertumbuh secara kognitif, afektif dan psikomotorik, mempelajari begitu banyak hal di luar maupun dalam diriku sendiri, mengembangkan berbagai jenis kecerdasan. Aku juga berupaya menjadikan diriku cerdas secara intelektual dan emosional.
(3) Aku membangun anugerah mengkomunikasikan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan terdalam kepada orang lain, dan berusaha berempati kepada sesama terutama yang lemah, dan mendengar juga pikiran dan perasaan orang lain. Aku selalu belajar berhubungan dengan sesama, apapun agama dan keyakinan pribadinya, berdasarkan kebebasan, kejujuran dan visi masa depan. Aku berjanji mendesak diriku lebih sungguh-sungguh belajar bahasa-bahasa lain dan mengembangkan relasi dan jejaring.
(4) Aku belajar mengenali dan menyadari diriku sendiri, merenung dan menjelajah ke relung-relung jiwaku yang paling dalam, berdoa kepadaNya dalam kejujuran dan keheningan, menerima diriku apa adanya agar aku juga dapat menerima orang lain sebagaimana dia ada.
(5) Aku mengarahkan kehidupanku ke masa depan, berdamai dengan masa laluku dan mengenangnya ikhlas, merayakan masa kini penuh semangat. Aku akan menggunakan waktu pemberianNya untuk hal-hal yang terbaik saja, yang membuat aku bangga dan bahagia berkepanjangan. Aku menyosongsong secara aktiv dan kreativ masa depanku, menghargai tiap peluang dan undangan, dan sadar waktuku di dunia tidak bisa didaur ulang.
(6) Aku bersyukur kepada Allah yang mempertemukan aku dengan Martha dan memberkati cinta kami dan meneguhkannya dalam suatu janji pernikahan kudus 18 April 1998, mengabulkan doa-doa kami dengan menganugerahkan kami tiga anak manis, sehat dan cerdas, serta takut kepada Tuhan: Kika, Nina dan Willy. Dia memanggil aku dan kami membangun keluarga bahagia walau tak sempurna, berdasarkan kepercayaan, kemerdekaan, penerimaan, respek, kasih dan kesetiaan yang tak bersyarat.
(7) Aku mengaku menerima anugerah agung pengampunan. Dia telah memanggil aku masuk ke dalam hidupNya sendiri dan menjadikan aku hambaNya, memilih aku sebagai murid, dan mengadopsi aku jadi anakNya, bukan berdasarkan keunggulanku namun semata karena belas-kasihanNya. Aku selalu mengenangkan panggilan AnakNya kepadaku di suatu malam dalam hidupku, dengan rasa syukur, hormat dan gentar, bahwa aku, dengan segala kelemahanku, mau dipakaiNya sebagai alatNya. Aku berjanji – dengan pertolongan Roh – terus-menerus mengkreasi diriku sebagai pendeta. Aku menyediakan diriku menjadi bagian tim atau persekutuan yang kommit mendorong kemajuan dan pembaharuan gereja masa kini dan masa depan, dimana pun aku ditempatkan oleh pimpinan gereja.
(8) Aku mengaku menerima karunia-karunia Roh: talenta berbicara dan talenta menulis, talenta membangun tim dan talenta ikut menggerakkan perubahan, talenta belajar-mengajar, talenta bersikap kreativ dan kritis. Aku janji selalu merendahkan hatiku di saat kemenanganku, memelihara rasa humor, mampu mentertawakan diriku sendiri di saat getir kekalahan dan kegagalanku, mendengar serius kritik dan saran kawan dan lawanku, dan bersama-sama dengan orang yang setuju atau tidak setuju denganku, bersama-sama saudara dan sahabat beriman lain, menjadikan dunia ciptaan Allah ini begitu indah, bermakna dan membahagiakan.
Kiranya Allah selalu meneguhkan aku.
Jakarta, Maret 2005
Daniel Taruli Asi Harahap
(disegarkan dan dibaharui ulang Februari 2007)
(diposting ulang 18 Juni 2008)
Home: http://rumametmet.com
Hmmmm……
Keep up the above spirit, DTA!
(kl yg lain walo sdh dng akrab menyapa beliau, tp belum mendobrak batas dengan panggilan AmHar, kami PdR
-MASIH dengan menjungjung tinggi dan beralaskan rasa hormat- lebih mengedepankan semangat keakraban dgn memanggil beliau ini DTA)
Hhhm konstitusi yang sekarang sudah lebih tegas tentang Tuhan Yesus ya:-).
Senang melihat pendeta HKBP memanfaatkan teknologi untuk berbagi pengetahuan tentang Allah dan segala karyaNya,
Sukses selalu ya, kawan:-). Kalo di internet boleh menyebut dengan kawan kan ? biar si Thata sirik juga, dia kan baru berani bilang DTA doang, sementara ada orang yang dia kelompokkan sebagai PdR berani bilang kawan, kalo di gereja bilang kawan ntar dimarahin inang sintua atau parari kamis lagi:-)
Bah,bah.ba,baba ,Nga maup iba. So jolo Amang Pandita nami, ternyata untuk hidup di bumi ini harus punya konstitusi. Saya sudah tinggal di bumi ini selama 45 tahun belum punya konstitusi. Saya hanya punya cita-cita, rencana kerja pendek dan panjang serta penghasilan. Matilah aku. Bagaimana ini Amang Pandita sepertinya saya dah telat. Saya jadi malu kepada Tuhan, yang masih mengizinkan aku hidup disini. Saya jadi takut seandainya saya di tebang dan dibuang karena tdk berbuah. Mulai saat ini sya akan membuat konsitusi agar perjalanan hidup ini tdk “kemana-mana” ato sia sia. Mauliate dihamu Amang Pandita sai Tuhan ta ma namamasumasu niula ni tangan nang pikkiran muna. Amen.
Daniel Harahap:
Ya rumuskan saja konstitus pribadinya Amang. Bisa dengan beberapa kalimat sederhana dan pendek, atau bisa juga panjang. Sama seperti sebuah negara atau organisasi, konstitusi pribadi itulah yang menuntun kita ke masa depan dan membantu kita eksis di masa-masa sulit.
Bah tahe …. ido ate ! iba pe dang markonstitusi dope , boha nama i !
Mabiar dope iba mambahen konstitusi pribadi , sotung di boan annon tu pencobaan .
Alai tolong jo tangiangkon amang pandita ma au da !
Daniel Harahap:
Konstitusi ibarat tiang-tiang penyangga suatu bangunan.
Tanpa tiang bangunan akan mudah sekali rubuh.
Tanpa konstitusi pribadi kita juga gampang sekali runtuh
jatuh dalam pencobaan.
Konstitusi diri hanya sebatas mengingatkan dan lebih jauh merupakan kristalisasi dan visi misi pribadi apa saja yang diharapkan dan hendak dilakukan di sepanjang hidup.
Memang pada dasarnya ini adalah curahan hati dan pikiran yang mengalir sewaktu merumuskannya dengan pimpinan Roh Kudus dalam sikap doa.
Saya jadi teringat pada satu kalimat yang menyatakan : “Kesalahan kebanyakan orang pada umumnya adalah salah dalam perencanaan”, namun setelah dipikir masak-masak ternyata muncul lagi kalimat yang lebih mendalam dari itu, yaitu : “Kesalahan kebanyakan orang pada umumnya adalah tidak melakukan perencanaan”. Nah, jelaskan sekarang….
Hidup dan kebebasan dalam Kristus tidak menjadikan kita membabat habis apa saja yang ada di hadapan kita, namun dengan bijaksana duduk diam dan memohon hikmat Tuhan dalam perencanaan hidup dan kehidupan.
Dewasa ini orang terlalu terpukau pada rumusan visi-misi padahal yang lebih penting ialah konstitusi dulu, baik itu personal maupun organisasional.
Di atas konstitusi yang kuat maka kita bisa membangun hidup/organisasi yang bagaimanapun megahnya dan tingginya.
Tanpa konstitusi yang kuat maka rumusan visi-misi hanyalah kata-kata kosong belaka atau ambisi bojak yang hendak menjadi lembu.
Amang DTA! Maaf saya terlambat baca menu yang indah ini. Sepuluh tahun yang lalu pernah punya Konstitusi Pribadi dan saya tuliskan diselembar kertas tapi karena tidak displin dan jarang dibaca sekarang lupa ada dimana. Mungkin saya harus buat lagi dan coba lebih tertib dan displin mengaplikasikannnya.Konstitusi pribadi (bahasa Bataknya apa,ya?) ini luar biasa dan sangat luar biasa jika bisa di ‘share” untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Dasarnya kuat, bahasanya terang dan tujuannya pasti. Saya senang, bangga dan mau bermimpi jika semua Pendeta dan juga Parhalado HKBP membuat dan mempunyai Konstitusi pribadi masing2. Pastinya HKBP akan bertumbuh secara luar biasa bagaikan lagu “pohon pinang tumbuh sendiri, tumbuhnya menantang awan”. HKBP lam tu majuna.
Daniel Harahap:
Bikin lagi saja Amang. Menurut saya konstitusi pribadi sangat menolong membangun kehidupan pribadi kita. Sama seperti sebuah negara maka pribadi kita juga rupanya membutuhkan konstitusi yang harus kita junjung. Selamat merumuskan konstitusi baru.