Batak Harus Sama Batak?

June 17, 2008
By

tudu-tudu-sipanganon.JPG

Tanya:
Aku Uli, seorang wanita Batak, umur 22 tahun. Amang, aku mau tanya: kenapa orang batak harus menikah dengan orang batak ? Orangtuaku sangat disiplin soal adat, kenapa seperti itu amang?
(Uli, Jakarta)

Jawab:
Uli, sebagai seorang pendeta, saya harus jujur mengatakan tidak ada keharusan atau kewajiban orang Batak harus menikah dengan orang Batak. Iman kita mengatakan semua manusia setara dan sederajad di hadapan Tuhan, sama-sama diciptakan sebagai pribadi yang mencitrakan gambar Tuhan, mulia dan berharga. Semua orang, apapun latar belakang suku dan bangsanya, sama-sama memiliki kehendak baik. Gereja HKBP sama sekali tidak pernah melarang atau menghambat anggotanya menikah dengan seorang yang berasal dari suku, bangsa dan negara berbeda.

Karena itu “keharusan menikah dengan sesama Batak” itu bukanlah berasal dari aturan gereja, tetapi lebih merupakan keinginan atau tuntutan orangtua (tidak semua) Batak. Mengapa?

Pada jaman dahulu nenek moyang orang Batak selama berabad-abad hidup terisolasi di pegunungan Bukit Barisan di sekitar Danau Toba. Kontak mereka dengan dunia luar atau dengan suku-suku lain sangatlah minim. Praktis sehari-hari mereka hanya mengenal dan berhubungan dengan orang sesuku, yaitu Batak. Sebab itu wajar saja jika mereka selalu asing, aneh dan curiga, serta sedikit-banyak memandang rendah orang-orang yang bukan Batak. (mereka tidak tahu suku lain sebenarnya juga mempunyai pandangan yang sama ganjilnya terhadap mereka :-) ) Jika ada orang luar yang datang atau masuk ke Tanah Batak maka tentu dia harus “dibatakkan” dengan cara mengangkatnya sebagai anak, anggota suku dan keluarga, dan memberinya marga.

Isolasi Tanah Batak barulah terbuka setelah Belanda dan misionaris datang. Terjadilah migrasi besar-besaran orang Batak ke Sumatera Timur kemudian ke Jawa dan daerah-daerah lainnya. Di sinilah orang-orang Batak berjumpa dengan suku-suku lain yang berbeda bahasa, adat dan kebiasaannya. Namun adatnya, pemahaman dan sikapnya terhadap suku-suku lain itu rupanya masih sama dengan sebelumnya. Muncullah istilah “halak dison” atau “halak ion” yang arti hurufiahnya “orang sini” namun konotasinya orang yang berbeda dengan “halak hita” (orang kita) sebab itu harus tetap diwaspadai, dicurigai, serta diambil jarak. Walaupun telah berada jauh dari bona pasogit (kampung halaman), namun orang tua kita tetap memegang teguh hukum, norma, dan kebiasaan yang dibawanya dari Tanah Batak. Dengan beginilah orang Batak tetap menjaga identitasnya.

Salah satu adat yang sangat ketat dipegang oleh orang Batak itu di tanah perantauan atau perserakan adalah adat perkawinan. Kita tahu orang Batak memiliki sistem kekerabatan berdasarkan hubungan perkawinan yang sering disebut dalihan na tolu (arti hurufiah: tungku tiga kaki). Yaitu: dongan tubu (kawan semarga), hula-hula (marga pemberi perempuan) dan boru (marga penerima perempuan. Ketiga unsur itu sampai sekarang sangat berperan dalam berbagai acara adat khususnya ritus domestik atau rumah tangga (mulai dari kelahiran hingga kematian). Jika ada orang Batak apalagi perempuan menikah dengan orang yang bukan Batak maka banyak orang menganggap hal itu “mengusik”, “melemahkan” atau bahkan “menghilangkan” tatanan adat warisan nenek moyang itu. Mungkin saja orang yang bukan Batak itu baik dan hebat, tetapi dia dan terutama keluarganya akan sulit menjalankan posisi dan peran sebagai dalam sistem kekerabatan “dalihan na tolu” Batak itu. Misalnya: jika seorang lelaki Batak menikah dengan perempuan, katakanlah berasal dari suku Jawa, maka wajar saja mertuanya tidak tahu-menahu dengan hak dan kewajibannya sebagai hula-hula. Apalagi bila harus mandok hata atau berbicara dan pakai bahasa Batak pulak. Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya dikuatirkan oleh banyak orang tua Batak.

Jujur, yang paling ditakutkan banyak orang Batak adalah jika anak perempuannya menikah dengan bukan Batak (defakto: sudah sangat banyak perempuan Batak menikah dengan bukan Batak dan bahkan bukan Indonesia!). Mengapa? Kultur Batak menganggap perempuan yang belum menikah adalah milik marga ayahnya, dan sesudah menikah milik marga suaminya. Jika seorang perempuan Batak menikah dengan bukan Batak maka dia dianggap “hilang” karena tidak ketahuan lagi rimbanya. Pemahaman ini tentu dilatarbelakangi oleh kondisi masa lalu seorang perempuan yang menikah harus meninggalkan kampung ayahnya, hidup di kampung-kampung lain yang jauh dan sulit dijangkau (maklumlah saat itu belum ada jalan aspal, mobil, apalagi pesawat, telepon dan internet). :-)

Mengatasi permasalahan semacam ini orang Batak biasanya mengambil penyelesaian jalan pintas, yaitu membatakkan orang yang bukan Batak ini. Yaitu dengan memberinya marga dan meminta salah seorang untuk mengangkatnya sebagai anak (mangain). Dengan demikian “klop”-lah sudah. Di jaman maju dan moderen, apalagi di era nasional dan bahkan global yang sangat menjunjung pluralitas dan HAM seperti sekarang ini, praktek “membatakkan” seseorang ini tentu mendapat gugatan serius. Sebab itu dianggap sikap yang tidak menghargai keberadaan dan kebudayaan orang lain.

Sebagai seorang Batak, dan juga seorang pendeta di gereja yang anggotanya mayoritas mutlak Batak, saya menjunjung adat Batak dan menerimanya sebagai anugerah Allah untuk membantu orang Batak mewujudkan kasih, sikap tolong-menolong, kebersamaan dan persaudaraan. Juga sebagai kekuatan untuk mempersatukan dan mendorong komunitas Batak eksis dan maju. Adat Batak, sama seperti adat-adat suku lain, itu baik adanya. Adat Batak secara umum tidak bertentangan dengan kekristenan kita.

Namun menurut saya ketika kita menjadi Kristen, dan hidup sebagai bagian bangsa dan negara Indonesia, apalagi di jaman globalisasi ini, maka tidak bisa tidak kita terpanggil membaharui berbagai pemahaman dan sikap kita termasuk mengenai adat perkawinan Batak. Dan menurut saya kita bisa menyesuaikannya tanpa kehilangan identitas kebatakan kita dan integritas kita sebagai manusia yang beriman dan berbudaya.

Kembali ke pertanyaan Uli, menurut saya di dunia yang sudah sangat menyatu dan terasa “sempit” ini perkawinan antar suku dan antar bangsa telah menjadi salah satu pilihan. Ketika anak-anak muda Batak dengan mudahnya berpergian dari satu tempat ke tempat lain, kuliah atau bekerja di kota atau negara lain, berkomunikasi dengan sangat cepat dan intens antar benua melalui telepon atau internet, sangat besar kemungkinannya dia berjumpa dengan seseorang bukan Batak yang dicintai-mencintainya, dan kemudian merencanakan menikah dengannya. Lantas bagaimana?

Inilah Pekerjaan Rumah (PR) kita bersama: Bagaimanakah kita bisa tetap Batak, beriman dan moderen dalam perjumpaan kita dengan orang-orang dari berbagai suku bangsa dan bahasa itu? Secara spesifik: haruskah kita kehilangan kebatakan kita ketika menikah dengan yang bukan Batak? Atau, mutlakkah anak-anak Batak menikah dengan orang Batak agar tetap menjadi Batak? Menurut saya tidak. Sekali lagi: saya orang Batak dan pendeta di gereja Batak. Pemahaman saya kita bisa meneguhkan dan melestarikan kebatakan kita tanpa bersikap eksklusif, arogan atau malah minder dan paranoid terselubung. Bagaimana?

Saya mau ambil contoh pernikahan putri saya (tepatnya putri abang saya). Kebetulan abang saya beristri Ambon bermarga Tahapary. Ketika dia hendak menikahkan putrinya dengan seorang pemuda Batak maka sempat ada pergumulan apa dan siapa nanti yang berperan sebagai Tulang (paman) yang dalam adat perkawinan Batak harus menerima upa tulang (komisi paman) dari pihak kami dan memberikan ulos (selimut). Sebab kakak ipar saya berasal dari Ambon.

Kami sungguh bersyukur Ibu kami boru Hutabarat sejak awal berpikiran maju walaupun sangat fanatik Batak, beliau tidak pernah setuju “membatakkan” kakak ipar saya dan memberinya marga sejak dahulu. Alasannya dia juga punya marga (tentu saja marga asal Ambon :-) ) Lantas bagaimana? Kami yang bersaudara sepakat bahwa dalam acara adat Tulang tetaplah marga Tahapary, tidak boleh digantikan oleh yang lain. Puji Tuhan, adat berjalan baik. Rombongan hula-hula dari Ambon ini datang dengan prosesi lengkap, tentu saja memakai jas Ambon kebanggaan mereka. Apa yang mereka berikan kepada putri kami sebagai tanda restu dan kehangatan? Tentu saja bukan ulos, sebab di Tanah Maluku mereka tidak mengenal ulos. Namun mereka juga memiliki simbol kehangatan yang sama baiknya, yaitu minyak kayu putih. Semua orang bahagia. Kami bangga tetap menjunjung adat Batak dan sekaligus menghargai adat dan kebudayaan orang lain. Dan kami Kristen. :-)

Horas Indonesia!

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Selanjutnya baca: Ketika Si Batak Duduk Bersama Orang Lain

Catatan: seandainya (baca: seandainya) tetap ingin menikah dengan sesama Batak baik dan sah-sah saja, namun saran saya datanglah rajin-rajin ke gereja HKBP, di sana banyak pemuda Batak yang bagus-bagus. :-)

Share on Facebook

86 Responses to Batak Harus Sama Batak?

  1. d.pasaribu on March 16, 2009 at 10:34 am

    hm..amang, saya salah satu jemaat tempat amang dulu melayani di Jakarta Timur. Saya 2 bulan lg menikah dng laki2 yg jg sesama batak, dulu saya ga mau sm cwo batak, mgkn krn saya liat ayah saya yg keras, egois, diktator. saya dipaksa kenalan dng pria yg 14 thn diatas saya(umur saya 23)&batak, pikiran saya udh macem2, tp saya mau kenalan krn udh 1 thnlebih dipaksa. ternyata dia pria yg sangat baik,lembut, dan menghargai saya.kl dipikir2 lucu jg siy, dulu saya yg nolak2 skrg saya yg nempel bgt sm dia hehehe. kenapa batak Uli?
    coz..adat Qta yg ribet bgt ini, bikin Qta berpikir million times ttg yg namanya perceraian dan keegoisan, susah payah menikah dan dng biaya yg sangat amat besar (maklum pesta adat saya&resepsi dipisah, hehehe). orang batak itu pny kekerabatan yg sangat kuat, kemanapun Qta pergi kl Qta ktmu batak pasti saling bantu.
    im proud to be a bataknesse&happy 2 get a bataknesse husband will be :)
    hope u get the right too Uli

  2. crosby Tobing on April 15, 2009 at 6:58 pm

    THIS IS A GREAT ARTICLE EVER!!!! mauliate godang amang,. when i was read it, i almost cry,. krn saya punya pergumulan tentang pasangan beda suku, tp saru agama.. mauliate godang,. this wii be my inspiration,. GOD BLESS US!!

  3. nisunis on May 7, 2009 at 4:23 am

    Artikelnya bagus sekali Pak Pdt.
    Tapi ini khusus utk sesama Batak Toba ya?
    Bagaimana kalo antara Batak Toba dan Batak Karo? Saya Batak Karo dan sedang dekat dengan pria Batak Toba, saya merasa cocok sekali dengan dia. Tapi ortu (terutama ayah), melarang saya dekat dengan org Batak Toba karena (maaf sekali lagi maaf) dia punya pengalaman buruk dengan famili2 lain yg menikah dengan org Batak Toba. Menurut dia, org Batak Toba kurang menghargai adat Batak Karo, cthnya di pernikahan, seringkali org Batak Toba tidak mau menjalankan adat Batak Karo. Hal ini membuat ayah saya kesal dan menyamaratakan org Batak Toba.
    Saya bingung bagaimana menghadapi ayah saya. Saya ingin memperjuangkan pria ini. Dan saya ingin ayah saya menilainya karena karakternya dan bukan karena sukunya.
    Mohon sarannya Pak Pdt. :)

  4. Anditya Nanda on May 13, 2009 at 4:00 pm

    Terimakasih Amang untuk rubriknya…
    Puji Tuhan saya bisa menemukan ini, Tuhan memang baik
    Saya orang Jawa dan mempunyai pacar orang batak (boru Hutabarat)
    kami sudah menjalani hubungan 2 tahun dan merasa cocok, berkat dia pula saya menjadi bisa berbahasa batak (walaupun belum lancar).
    Namun ibunya tidak menyetujui hub ini (hanya karena saya orang Jawa)…
    dan kekerasan hati ini membuat hubungan kami sekarang di ambang keretakan….pasangan saya bingung, karena di satu sisi orang tua (ibu) dan di sisi lain perasaan hatinya, dia tidak mau melukai hati ibunya, namun di sisi lain juga tidak mau mendustai perasaan dia….sampai sekarang saya tidak mengerti mengapa ibunya harus sekeras itu, namun berkat cerita amang saya jadi mempunyai gambaran mengenai adat batak…. Mauliate. Tuhan Berkati

  5. ester on May 13, 2009 at 10:20 pm

    mau tanya, adakah putusan tentang waris toba?
    dan apakah menang?

  6. Ryan on May 20, 2009 at 2:14 am

    Saya sedikit terganggu dengan perselisihan aku dan pasanganku soal pelaksanaan pernikahan. Maaf klau hal ini sedikit melenceng dari judul atau topik, karena aku butuh jawaban yang tepat untuk dicerna karena aku tidak terlalu memahami betul soal pernikahan adat batak. Perselisihan kami adalah: di gereja mana kami harus menikah? Aku besar dalam lingkungan pelayanan gereja HKI dan hingga akhirnya aku bertemu dia yang besar dalam lingkungan pelayanan gereja HKBP. Dia bersikeras ingin diberkati di HKBP karena faktor tadi dibesarkan oleh pelayanan HKBP, dan aku bersikeras di HKI. Secara obyektif dan sesuai adat Batak menghadapi persoalan ini apa yang menjadi keputusan tepat dalam menghadapi persoalan ini?

    Daniel Harahap:
    Kalau memang mau menikah ya berunding saja baik-baik mengmbil “jalan tengah”. Martumpol di gereja A menikah di gereja B. Atau pemberkatan di gereja A sesudahnya menjadi anggota di gereja B. Atau sebaliknya.

  7. rio sinaga on June 22, 2009 at 4:34 pm

    amang kenapa orang tua menyuruh anaknya menikah dengan orang batak itu suatu harga mati???bukankah yang penting seiman?

  8. Rio Sinaga SH MH on June 22, 2009 at 4:38 pm

    menyambung yang diatas….ortu punya 2 orang anak dan saya anak ke2, abang sudah menikah dengan orang jawa. dan sejak itu saya diwanti-wanti untuk menikah dengan orang batak saat ortu tau saya punya pasangan orang jawa, dengan segera saya diminta untuk menjauhi, tetapi sulit amang…juga karna pendidikan pacar yang cuma smu…mohon jalan keluarnya amang…

  9. jacki on July 28, 2009 at 8:19 pm

    Saya org chineese ingin meminang gadis batak. setelah diskusi dgn kedua org tua, masing-asing mentok dengan akan dibawa ke marga mana kami ini. karena keluarga saya pun punya marga. saya hampir buntu menghadapi ini. krn jujur aja, saya sendiri-pun agak takut untuk di “batak”kan. krn harus memiliki org tua baru yg tidak saya kenal (org lain) dan menjadikan orang tua kandung saya sendiri sebagai “bukan siapa-siapa” dalam adat batak. ngeri juga.. ada jalan tengah gk ya?

  10. Ra on August 15, 2009 at 3:37 pm

    Pmbìcaraan yg sgat menarik

  11. Eriel on August 30, 2009 at 9:20 am

    Amang pendeta,bagaimana kalau pasangan yang mau menikah bukan hanya beda suku (dari Menado), tetapi dia juga jemaat gereja lain(gereja Advent). Pasangan saya bersedia diberi marga, tetapi untuk pindah jemaat ke HKBP seperti keinginan ortu saya kami belum ada kesepakatan.

    Daniel Harahap:
    Pernikahan gereja dan pernikahan adat dua hal berbeda. Saya hanya bisa menjawab tentang pernikahan gereja. HKBP hanya mengijinkan pernikahan dengan orang yang bukan hanya seagama tetapi dari gereja yang sealiran dengan HKBP

  12. ola on December 5, 2009 at 8:25 pm

    Amang pendeta..salam kenal, belakangan ini saya sangat terusik sekali dengan banyaknya pertanyaan kepada saya dan akhirnya saya pun jadi bertanya..”mengapa dalam adat batak tidak diperbolehkan menikah semarga..walaupun dalam kenyataannya banyak sekali yang sudah melakukannya bukan hanya serumpun marga atau parna tapi memang benar2 semarga..apalagi contoh itu ada didepan mata saya misalnya marga S dengan boru S…saya ingin sekali mendapatkan jawaban yang obyektif karena setiap saya tanyakan pada orang yang dituakan, jawabannya mati misalnya ” ya, jelas tidak bisa”….” na ritik do ho “…..dan banyak lagi jawaban yang tidak bisa saya cerna…..apa pandangan Kristen dalam hal ini,lalu apa hal terburuk bila terjadi…saya berharap jawabannya dapat mencerahkan hati..Mauliate amang.

  13. lisa on January 12, 2010 at 4:11 pm

    amang, sudah 1 tahun ini aku jalani hubungan dengan halak karo. keluarga besar saya (bukan keluarg inti)/namboru dll. menentang, alasanya adat kami dangan adat mereka bertentangan. kami berfikir jika nanti kami menikah untuk tidak memakai adat dari keduanya hanya pemberkatan saja. apa salah amang seperti itu tindakan kami? karena semua sama di mata Tuhan. saya tunggu jawabannya. Terima kasih amang.

    Daniel Harahap:
    Kenapa harus membuang keduanya? Bukankah jauh lebih baik mengawinkan dan mendamaikan keduanya? :-)

  14. lisa on January 12, 2010 at 4:37 pm

    Amang Pandita dan Semuanya

    bantu kami dalam Doa.

  15. a.pasaribu on August 18, 2010 at 2:23 pm

    tapi kita org batak sangat egois karena adat batak, kenapa ? jika pria batak mengambil suku lain jd istrinya dan sebaliknya putri batak kawin dgn suku lain pastilah dibuat marganya supaya bisa melaksanakan adatnya. kebetulan abang saya kawin dgn org jawa dan apa kata istrinya ?? saya tidak mau jadi org batak dan memang itu tdk mungkin, wong kita sudah berlainan suku kok dibuat jadi org batak katanya. disatu sisi masuk akal juga, bagaimana kalau kita org batak dibuat menjadi suku lain mau nggak kira kira ?? jd mungkin nggak harus dibuat marganya ya adatnya nasional aja dan sudah menjadi resiko kawin campur suku.

  16. rudi siahaan on September 11, 2010 at 9:56 am

    wah.. kalo aku gk pengaruh itu harus nikah ama boru batak..
    bayangin kalo nanti di sorga, kita ketemu ama si raja batak, ditanyain la kita, ” Kau nikah ama siapa cu?? terus kalo kujawab ama boru batak, bingung la dia, opung mu ama boru batak, bapakmu ama boru batak, masak Kw jg ama boru batak??? gk KREATIF kelen……………
    hahahahah……………..

  17. Brigitta on September 19, 2010 at 10:15 am

    shalom amang..
    nama saya brigitta, saya gadis berumur 23 th,saya mempunya pacar dari suku batak bermarga manalu,yang saya mau tanyakan dalam pernikahan adat batak haruskah saya di beri marga(boru)?apakah saya harus belajar adat batak?terima kasih

  18. Linda Tambunan on September 24, 2010 at 8:05 pm

    Saya seorang ibu. Saya tidak termasuk community yg mengharuskan anak saya harus menikah dengan suku Batak. Tapi saya menekankan dan suatu keharusan, bahwa anak saya menikah dengan orang yg seiman. Bahkan salah satu doa anak saya : “Tuhan, kalau bisa, tolong Tuhan supaya jodoh saya bukan orang Batak”. Saya dan kakak perempuan saya mensupportnya. Namun di atas semua itu, saya juga berdoa agar Tuhan memberi yg terbaik u/ anak saya. Kita boleh meminta, tapi kita percayakan pilihan Tuhan adalah yg terbaik.
    Maaf kalau boleh saya memberikan komentar. Kalau di pesta adat ( per-
    kawinan misalnya), melihat gambar yg selalu ada seperti di atas juga saya kurang setuju, tapi bgmn lagi, saya org Batak, tapi di dalam hati saya tidak tertarik dan tidak suka.

  19. Ronald Simbolon on October 5, 2010 at 4:56 pm

    Aku naposo batak, berpendapat naposo batak harus menikah dengan boru batak, supaya kelak anaknya dapat menjelaskan status suku di dalam biodatanya. Sekarang perjuangan mendapatkan boru ni raja sangat kompetitif, banyak boru batak yang pendidikannya lebih baik. Oleh karenanya perlu pemahaman dari amang dan inang yang punya boru untuk menerima naposo batak dengan keberadaannya. Aku sampai hari ini masih berjuang mencari boru ni raja, karena aku tidak mau tunduk pada raja jawa, raja kalimantan, atau raja lainnya. Bagiku sampai kapan pun aku hanya tunduk pada raja batak (hula-hula).

  20. moneristo on June 28, 2011 at 4:37 pm

    Semua orang didunia ini mempunyai suku dengan adat istiadatnya yang khas yang dijunjung tinggi pula.Batak punya dalihan na tolu,dalihan na tolu itu bermarga.Mengapa orang diluar batak kawin dengan orang batak diberi marga supaya masuk dalam tatanan dalihan natolu batak dengan tidak menghilangkan adat suku aslinya.Jadi tidak ada masalah orang batak kawin dengan non batak.Kalau mau masuk tetap dalam tatanan dalihan na tolu ya diberi marga(diain,diampehon marga).Kalau tidak mau masuk juga tidak apa-apa ,hanya dalam acara adat kurang mendapat tempat

  21. Riris on August 24, 2011 at 3:25 pm

    Amang.. mohon bantuannya.
    Saat ini saya sedangkan menghadapi masalah yg berhubungan dengan adat pernikahan.
    saya punya calon bukan suku batak, dan kami berdua memang sudah berencana tidak akan menggunakan adat batak (*nasional saja + teapay adat cina).
    Tetapi hal ini yg sekarang menjadi permasalahan, yaitu orang tua saya ingin diadakan adat. Jika adat hanya berupa pemberian ulos dari orangtua kepada anak (itu sy tidak keberatan), tetapi kalau adat yg lengkap (*ada simbol babi, ikan mas, dll) itu saya tidak setuju.
    Dan saat ini org tua saya bersiteguh. Padahal menurut saya, adat itu bukan hal yg diwajibkan lagi mengingat kita hidup di jaman yg modern. Apakah hanya krn adat seorg wanita batak tidak bisa menikah dengan suku lain?
    Mohon bantuannya amang bagaimana saya harus memberi penjelasan kepada kedua org tua saya.

  22. mey yulnetri gultom on October 7, 2011 at 5:05 pm

    salam kenal amang…

    baru pertamanya saya baca artikel ini. saya senang sekali. merasa, ternyata masih ada yang pemikiran modern tentang perkawinan yg berbeda suku. *thanx Lord*

    amang, saya sedang menjalin hub dengan beda suku. yaitu suku ‘ambon’
    papa dan mama bahkan seluruh keluarga ku tidak ada yang mendukung sama sekali.
    aku bertemu dengan pacarku ini, karna kami satu kampus. dan kami satu pelayanan di kampus.
    tapi kalau dari kel. ambon… mereka bisa menerima aku.

    yang jadi pergumulan besar sekarang adalah keluarga ku amang,,,,

    kira2, apa yang saya harus lakukan sekarang?
    thanx
    Gbu

    horas :)

  23. Santi on January 10, 2013 at 9:57 pm

    Syalom..
    Saya ingin lbh tw lg mengenai adat suku batak,,cz cwok saya org batak kta sdh sama”saling cinta n sayang mw menuju lbh serius k arah pernikahan tp ortu cwok saya yg laki” tdk setuju cz saya bkn org batak gmn menyikapi hal ini?
    Thank”s
    Gbu :)

  24. aryobimo on January 25, 2013 at 10:59 am

    syalomm saudara seiman…..

    artikel yang sangat bagus :)

    pengalaman pribadi saya nih hehe…
    mau cerita tapi takut kepanjangan :)

    satu yang saya kutip,
    sebagai seorang yang memiliki iman kristen sudah tak ada tawar lagi bahwa kita harus menempatkan Firman Tuhan diatas segalanya :) termasuk itu adat istiadat dll hal.

    mengapa??? karena firman Tuhan adalah sumber kebahagiaan.. ada JanjiNya di dalamnya :)

    sakit memang ketika cinta kita harus mentok di hadapan adat dan kesukuan. tapi bukannya cinta juga butuh pengorbanan ya? jadi tdk usah khawatir teman. baca ( mazmur 147:3 )

    sama halnya juga dengan meninggikan firman Tuhan.meski cinta yang jadi korbannya, tetapi percayalah orangyang meninggikan Friman-Nya diatas segalanya akan mendapat kebahagiaan yang kekal..

    so, jangan khawatir karena rencana Tuhan lebih indah dari rencana kita manusia. tetap semangat dan terus tinggikan FirmanNya !!

    salam hangat, Tuhan Yesus berkati ;)

  25. Westry on January 31, 2013 at 11:35 am

    Setujuuuu pak Pdt… I love your opinion… Jangan dibatakin doonnkk, kita kan jg punya marga dan orang tua.. Masa disuruh ganti marga dan org tua?? Heheheh… Meskipun kita gak dikasi marga dan gak dibatakin, kita gak pengen adat batak hilang kok, kita tetep sangat menghargai adat kalian.. Asal kalian bisa menghargai adat kita juga.. Horas!! #non batak yg akan menikah dg batak.. Gbu all..

  26. immanuel aga on February 21, 2013 at 5:00 pm

    saya setuju dgn pemikiran pak pdt
    saya juga lg berjuang dengan calon mertua saya yg menginginkan anak perempuannya dgn batak jg
    saya hanya bisa berusaha dan berdoa agar pemikiran calon mertua saya dibukaan oleh Tuhan. Mohin dukungan doanya ya pak

  27. Amelia on March 21, 2013 at 2:01 pm

    Shalom Bpk,

    Ternyata, tidak hanya saya yang mempunyai cerita yang sama. Jatuh cinta kepada pemuda batak dan terhalang restu dari ibunya. Saya bukan batak, dan saya juga lahir dari keluarga yang berbeda suku, ayah saya china dan ibu saya sunda. Saya tetap bangga bisa mempunyai dua kebudayaan dalam satu keluarga. Karena terlahir dari keluarga yang berbeda budaya, saya sudah open mind terhadap suku-suku yang lain. Karena kita tidak boleh membeda-bedakan seseorang hanya dari sukunya. Alangkah indahnya jika dua kebudayaan yang berbeda bisa hidup damai saling berdampingan seperti tulisan yang menginspirasi diatas. Terima kasih pak.

    Saya minta di doakan pak agar hubungan saya dengan pemuda ini berjalan lancar, meski masih terhalang restu, saya serahkan semuanya kepada Jesus Christ, karena saya tahu rencanaNya baik.

    Horas!!
    Amelia

  28. rachel girsang on May 3, 2013 at 5:18 am

    Syalom amang Pdt, saya butuh saran dan solusi serta doanya juga.
    Saya baru saja 3 bulan menjalani hubungan pacaran dengan laki2 batak.
    Kami sama2 batak tapi berbeda juga, saya batak simalungun dan ia batak toba.
    Saat pertama kali ia ceritakan ttg saya ke orangtuanya, kedua orangtuanya tegas menolak agar ia melanjutkan hubungan dgn saya yg notabene boru simalungun.

    Sejak itu, Kami berdua cukup merasakan beban pikiran akan masalah ini. Kadang kami yg sudah dewasa tetap tidak bisa menjalani pilihan pasangan hidup sendiri karena orangtua. Saya yakin dan tahu betul orangtua adalah titipan Allah, tetapi mengapa mereka (orangtua laki2) langsung menjudge saya tidak pantas mendampingi anak mereka, hanya karena saya batak simalungun.

    Sekarang pacar saya sangat bingung utk melangkah mengambil keputusan karena setiap hari selalu ditanya dan dinasehati oleh orangtuanya agar lekas menyelesaikan hubungan kami. Tapi ia juga enggan melepaskan saya karena kami sudah merasa cocok 1 sama lain dalam iman dan sifat.

    Tolong beri saya solusi amang, apa yang harus saya lakukan. Saya ingin tahu apa kehendak Tuhan mempertemukan kami dan memberi kami penghalang utk bersatu. Saya sangat butuh saran dan masukannya. Terima kasih banyak amang. Mauliate. Gbu

  29. yoginza on May 11, 2013 at 12:53 pm

    mauliate.. HORAS

  30. Ronald Tampubolon on June 3, 2013 at 4:05 pm

    Syalom Amang,

    Terima kasih sudah menulis artikel ini.

    Masalah ini sedang saya gumulkan saat ini. Akan menikah dengan bukan orang batak.. dan tanggapan orang tua… 1. HARUS BATAK !! 2. Kalau menikah dengan bukan batak, mereka katakan.. kelak tidak akan bahagia, tidak ada berkat dan akan hancur keluarganya.

    Mereka berkata harus dengan batak karena seperti adat orang Israel pada jaman Perjanjian Lama. Tidak boleh marboru sileban.

    Adat dan aturan yang mereka pegang menurut saya SANGAT ANEH dan TIDAK BENAR untuk mereka yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan nya.

    Apakah hal ini benar bagi orang Kristen? tidak menerima adanya perbedaan. Bukankah Tuhan Yesus yang menjadi sumber anugerah bagi setiap umatNya? Bukan karena sesuku dan menjalankan adat maka beroleh berkat.

    Pada akhirnya, dengan perbedaan pendapat disertai caci maki, mereka mengijinkan saya melaksanakan rencana pernikahan dengan orang bukan dari batak. Tapi masalah timbul lagi, karena mereka berkata saya harus menjalankan adat batak di pernikahan saya.

    Sejak kejadian penolakan dan alasan mereka yang menurut saya tidak sesuai dengan keKristenan, saya tidak mau melaksanakan pernikahan dengan adat batak. Cukup dengan resepsi biasa saja. Dan ini jadi pertentangan lagi kepada mereka dan pertentangan dalam hati saya sendiri.

    Dan saat ini saya masih gumulkan apakah akan menikah dengan atau tanpa adat.

    Mohon tanggapan Amang untuk hal ini.

    Terima kasih.

    Tuhan Yesus Memberkati Amang.

  31. maryo manik on August 24, 2013 at 6:36 pm

    setuju pak pendeta. namun sekarang lebih spesifik lg. bahwa batak itu sebenarnya ada 5 yaitu batak Toba, Simalungun, Pakpak, Angkola, Karo. trkadang berbeda batak ini aja protes ortu. krn adat nya beda. apalagi d luar batak yg 5 ini? tepokjidat. tp intinya sih mencari pendamping yg memiliki misi memuliakan Tuhan. tp klo aku pribadi bukan krn paksaan ortu saya memang pengen saya memiliki pendamping Batak Toba. mudah2an Tuhan ijinkan. Horas

  32. ELISABEHT GULO on September 23, 2013 at 4:26 pm

    Amang, bisa saya minta alamat e-mail?
    Ada yang mau saya share secara pribadi.
    Ini tentang masa depan saya, pernikahan yang gantung selama setahun hanya karena adat yang berbeda.

    Thanks sebelumnya.

  33. ishak on December 7, 2013 at 5:00 am

    sungguh suatu keharmonisan antar suku. istriku batak simalungun terus terang saya sering merasa keberatan dengan adat batak yg kesannya dipaksakan ke saya yg bukan org batak. pernah satu kali Tulang saya marah2 lantaran saya gak bisa potong ayam dan memasaknya sesuai adat simalungun untuk dipersembahkan keadik ipar laki2 disitu saya sedikit tersinggung tapi lantaran saya cinta dengan istri saya diam saja. tapi sbenarnya saya kurang setuju dengan membatakkan org dari suku lain karena menurut saya cinta dan kasih sayang itu tdk bersyarat.terkadang dirumah sendiri saya merasa asing,lantaran dirumah semua pake bahasa batak. pengen marah tapi ya resiko dan yg saya sayangkan istri saya tidak pernah mau mengerti dgn posisi suaminya yg bukan org batak bahkan saya sering dibiarkan sendirian duduk disudut rumah tanpa diperhatikan. pernah satu kali kami pulang kampung selama 1 bulan nyaris satu bulan saya seperti alien yg berada diplanet lain. hehehehehehe ……… tapi mau diapain. istri mohon supaya kami jadi jemaat gereja GKPS smarinda dan saya turuti karena dgn profesi saya yg pelaut jarang dirumah. pernah satu kali saya bilang sama istri ” sayang aku takut ” istri tanya “kenapa?” karena aku gak pernah dapat siraman rohani . istriku jawab makanya belajar bahasa simalungun. pdhl dia tahu saya jarang dirumah bgmn saya mau belajar. terkadang saya berpikir apa seperti ini perempuan batak. tapi itulah berkat TUHAN. menurut saya klo gereja yg mengandalkan kesukuan kurang pas karena rumah TUHAN bukan untuk satu suku tapi rumah umat manusia.thanks ini hanya sekedar curhat halak jawa yg menikahi halak batak

  34. ApesBanget on February 8, 2014 at 10:48 am

    aaaaahhhhh … hancurlah harapanku…

    aq marga Maluku….she batak….

    apesss!!!

  35. boru cina on February 8, 2014 at 9:46 pm

    Halo teman2 seiman. Saya boru cina yg menikah dgn batak toba. Pernikahan kami benar2 langgeng dan manis bersama kedua anak kami (sudah 10 thn). Walau saya suka linglung saat acara adat dan pertemuan keluarga besar, tetapi semuanya menyenangkan. Selama kita seiman, hambatan lainnya pasti bisa diatasi. Awalnya memang bnyk pertentangan antara keluarga besar, dan bnyk air mata, tp Tuhan buka jalan. Jadi semangat ya yg beda2 suku, kalo jodoh pasti ngak kemana.

  36. Marselina on April 24, 2014 at 1:17 am

    Saya bukan batak. Tapi sy menyukai seseorang yang bersuku batak. Namun orang tersebut sudah di beri amanat oleh neneknya agar menikah dengan batak. Apakah saya salah menyukai orang tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*