Punguan Batak Apa Manfaatnya?

June 15, 2008
By

metromini.jpg

Tanya:
Amang, apakah sebenarnya manfaat mengikuti Punguan Batak di tengah kehidupan kota Jakarta yang sudah sangat kosmopolitan dan mengglobal ini? Menurut saya sih, maaf, hanya buang-buang waktu saja. (NN, Bintaro)

Jawab:

Di tengah kehidupan kota yang sangat majemuk dan rumit, moderen dan mengglobal, penuh persaingan yang sangat keras dan mematikan, seperti metropolitan Jakarta ini rupanya banyak orang (termasuk yang berasal dari Batak) merasa terasing dan gamang. Karena itu mencari kembali habitat atau lingkungan asal dimana dia merasa “aman”, “tenteram” dan “damai” dan itu adalah persekutuan keluarga, marga, suku dan juga agama (atau campuran semuanya). Apalagi jika dia merasa sangat lemah, tak berdaya dan tersingkirkan.

Sebab itu tidak heran jika Punguan Batak sama seperti persekutuan-persekutuan keluarga asal suku lain justru sangat berkembang di jaman yang sebenarnya sudah sangat maju dan moderen ini. Menurut saja itu adalah sesuatu yang sangat logis dan manusiawi. Kehidupan kota moderen bagaikan rimba atau samudera tak bertepi dan sebagian besar orang tidak tahan berada di rimba raya atau samudera luas tak bertepi itu seorang diri, dan selalu rindu kembali ke kampung halaman atau keluarga besarnya, tempat paling aman bagi jiwanya. Punguan marga, kampung asal, trah atau keturunan dari satu kakek-nenek moyang, mungkin di bawah sadar dipandang sebagai comfort zone itu.

Sebab itu fungsi pertama punguan-punguan Batak adalah tempat bernostalgia atau reuni. Yang paling merindukan dan membutuhkannya tentu orang-orang yang pada masa kecil atau remajanya memang pernah bersama-sama di kampung. Dengan berjumpa kembali dengan kerabat dan sahabat masa kecil tentu hati kita merasa aman dan senang, walau hanya sejenak. Minimal dapat melupakan keras dan beratnya masalah kehidupan masa kini, apalagi jika memang di situ kita menemukan teman-teman yang bisa menjadi tempat curhat. Namun bagi anak-anak Batak yang lahir di Jakarta punguan itu bisa dianggap tidak relevan atau menarik, serta hanya menjadi pemborosan waktu yang menjengkelkan.

Berhubungan dengan itu, fungsi punguan-punguan Batak ini adalah untuk memelihara identitas dan akar budaya. Tidak bisa dipungkiri di kota yang sangat besar dan majemuk serta moderen seperti Jakarta orang bisa merasa kehilangan identitasnya. Dengan secara rutin mengunjungi-dikunjungi oleh para saudara dan kerabatnya, bertutur kembali dalam bahasa ibu, menikmati makanan khas suku, melakukan kebiasaan-kebiasaan adat, maka orang-orang Batak kota ini merasa identitasnya tetap terpelihara. Selanjutnya juga merasa tetap mempunyai akar budaya agar tidak tumbang atau rubuh di tengah kehidupan moderen ini.

Fungsi lain dari punguan-punguan Batak ini tentu meneguhkan kebersamaan. Tantangan kehidupan moderen sangat berat dan orang merasa tidak sanggup menghadapinya seorang diri. Kita benar-benar membutuhkan dukungan moral dan spiritual dari keluarga dan saudara. Pada akhirnya keluarga dan saudara inilah yang selalu tersedia (available) bagi kita saat kita susah atau membutuhkan orang lain hadir. Bayangkan: siapa di Jakarta ini yang mau hadir jam dua dini hari saat kita sakit dan harus opname, atau mengalami kemalangan?

Masih ada lagi. Punguan-punguan Batak ini bisa menjadi tempat hiburan atau rekreasi yang murah. Jika kita harus pergi ke mal atau tempat rekreasi tentu biayanya sangat mahal, namun dengan mengunjungi saudara tidak perlu biaya kecuali ongkos.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa punguan-punguan Batak ini juga bisa menjadi faktor negatif atau merugikan jika kita tidak mengkritisinya. Yaitu: bila punguan itu dijadikan hanya sekadar tempat pelarian yang membuat kita semakin menjauh dari realitas dan menciptakan sebuah dunia artifisial. Alih-alih mendorong anggotanya berjuang dan membekalinya menghadapi realitas kehidupan punguan itu malah bisa tanpa sadar menjadi semacam obat penenang dosis tinggi. Masalah tidak dipecahkan namun hanya dialihkan dan coba dilupakan (walau pasti tidak pernah bisa berhasil). Apalagi jika aktifitas punguan itu hanya makan-makan dan ketawa-ketawa belaka, atau hanya sibuk dengan urusan masa silam, tanpa pernah serius menggumuli kehidupan kekinian dan masa depan anggotanya. Bagi yang memiliki finansial kuat tentu tidak terlalu masalah, namun bagaimana dengan yang hidup pas-pasan dan susah? Lebih berbahaya lagi jika dalam punguan itu dibiasakan bermain kartu sampai malam atau pagi dengan dalih “menghilangkan stress” atau “sekedar bersenang-senang bersama saudara”.

Sebab itu menurut saya punguan-punguan kekerabatan Batak seharusnya diarahkan sebagai daya penggerak ke masa depan. Yang paling penting bukanlah masa lalu yang indah, tetapi masa depan yang pasti dan cemerlang. Masa lalu yang paling menyakit sekali pun tidak masalah, jika kita memiliki harapan yang kuat akan masa depan. Sebab itu kita harus memakai punguan itu sebagai kesempatan menyatukan doa, tekad dan keyakinan untuk melangkah ke masa depan.

Menurut saya kebersamaan pada jaman kita kini tidak boleh hanya kebersamaan dalam ritus-ritus domestik (seremoni di sekitar kelahiran, perkawinan, kematian), tetapi harus dikembalikan seperti pada masa leluhur kita: gotong royong atau siadapari secara ekonomi. Mungkin ditambah: pengetahuan dan informasi. Leluhur kita tidak hanya bersama-sama saat pesta tetapi terutama bekerjasama membuka hutan, membangun rumah, mengerjakan sawah, berperang dan lain-lain. Namun kini kebersamaan itu telah mengalami reduksi yang sangat parah sehingga tinggal hanya dalam seremoni, itu pun seringkali yang sangat konsumtif dan artifisial (semu) sifatnya. Jika punguan-punguan Batak dapat kita arahkan kembali sebagai kekuatan ekonomi, pengetahuan dan pendidikan, serta informasi saya pikir maknanya akan sangat tinggi. Apalagi bila diarahkan untuk membentuk karakter Batak dan Kristen sejati, yaitu: jujur, setia, kerja keras, santun dan hormat, serta egaliter.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

Tags: , , ,

26 Responses to Punguan Batak Apa Manfaatnya?

  1. harnata simanjuntak on June 12, 2008 at 11:38 am

    turunan punguan marga adalah punguan naposo marga. ketika masih menjadi pendamping naposobulung gereja aku sempat kelabakan dengan ‘anak’ punguan marga ini. pasalnya, banyak anggota naposobulung gereja yang juga menjadi anggota punguan naposobulung marga. naposo gereja latihan koor, naposo marga pun latihan koor. naposo gereja latihan natal, naposo marga pun latihan natal. dengan jadwal yang sama. bahkan para pengurusnya rangkap jabatan. puncaknya, koor naposobulung di gereja keteteran karena banyak anggota kebaktian minggu di gereja lain, dalam rangka kunjungan gereja naposobulung marga. akhirnya kusampaikan juga ke para pengurus naposobulung marga itu, akh, kalian buatlah kegiatan yang tidak menggerogoti kegiatan gereja. harusnya kan sinergi, bukan malah melemahkan. kalau semua marga punya punguan naposobulung, dan semuanya melakukan kunjungan gereja, bisa kosong bangku naposobulung di gereja :-(

  2. Pieter on June 12, 2008 at 12:02 pm

    Kog gambarnya Bus Metro mini amang ? sesekali gambar pengacara lagi sidang atau gambar timbangan keadilan atau gambar tambal ban boleh juga…he..he…he…

  3. Hotma di Hita L.Tobing on June 12, 2008 at 12:21 pm

    Shaloom.
    Saya sangat tertarik untuk mengomentari pertanyaan bertajuk :
    Masihkah punguan-punguan bermanfaat? Jawaban saya ya, sangat bermanfaat. Membuang-buang waktu? ?jawaban saya :ya atau tidak. Dalam punguan seyogyanya kita saling perduli, bukan hanya karena ada maunya, tetapi setulusnya atau sebisanya kita. Kita mestinya menghilangkan sifat hotel – hosom, late dan teal. Kalu boleh, karena banyak juga insan yang bangga dengan “hotel”nya.
    Punguan seyogyanya dimulai tepat waktu agar selesai tepat waktu. Kalau memang tidak bisa datang, terus terang saja bilang, ada keperluan entah itu lewat telepon, sms atau sarana lain, supaya tidak mengganggu tuan rumah maupun orang lain. Supaya tidak membuang-buang waktu semua pihak. Kalau dimulai pukul 20.00, mestinya harus selesai paling lambat pukul 22.00. Supaya tuan rumah atau tamu bisa melanjutkan urusan pribadinya di rumah. Entah itu membaca (buku, koran, majalah atau pekerjaan kantor yang perlu untuk dibaca),menonton film, membicarakan masa depan bersama pasangannya, atau berkasih-kasihan dengan anak2 ( bercerita, mendongeng sambil berpelukan, sehingga anak2 mengerti apa makna hidup dan kehidupan). Yang saya tahu, ada punguan yang memberi perhatian dan membantu keluarga miskin, ketika menikahkan anaknya, secara tenaga maupun finansil. Bantuan ini lahir karena mereka saling perduli, bukan.
    Kalaupun seusai acara punguan, ada acara khusus : main kartu dan hobi lain, biarlah dilakukan mereka di tempat lain. Itu hak mereka pula. Namun, kita harus ingat, tidak semua punguan menyukai hobi itu. Banyak insan sekarang yang berpikir positif.

    Ada beberapa insan Batak yang saya tahu, berhasil di tempat pekerjaannya, rajin beribadah, dan menganggap punguan itu sia-sia serta membuang waktu. Itu sih, sah-sah saja. Itu hak mereka. Mereka tidak ikut parsahutaon dan parmargaon.Hape di naso panagaman (akan tetapi tidak pernah diduga, saudara-saudaraku), diantara yang menyebut-nyebut punguan itu,tidak berguna tadi, mengalaminya. Si suami meninggal. Parsahutaon tidak berkenan marhobas. Di saat lain, di tempat lain, ibu dari sang suami sedang datang ke Jakarta (dan sekitarnya). Tiba-tiba ibunya itu meninggal. Praktis tidak ada punguan parsahutaon yang berkenan marhobas. Pihak borunya pun tidak ada, karena tidak ikut punguan parmargaon. Mereka sibuk mencari dongan tubu, tulang dan sebagainya. Ini sangat mereporkan dan menyusahkan orang lain. Kalau sudah begini siapa yang berkenan marhobas? Ini salah siapa? Dan terus terang ini hanya beberapa contoh. Masih banyak lagi.

    Lima belas tahun lalu, dua minggu sesudah menikah, saya dan isteri pindah ke Surabaya. Kami langsung mendaftarkan diri ke gereja, ke Parsahutaon dan punguan marga. Dengan kehadiran kami di sana, seorang gadis yang sudah lama tidak menikah, dapat kami bantu dengan kehadiran kami meskipun kami belum punya peralatan rumah tangga yang cukup. Ikut Punguan ternyata sangat bermanfaat.

    Saya sangat bersyukur dapat menikmati keindahan, kemudahan dari teknologi canggih di era globalisasi ini. Saya punya sahabat di kampung maupun di desa dan kota bahkan sahabat saya banyak di luar negeri di lima benua. Dengan mudah saya bisa berkomunikasi dengan mereka. Namun ketika saya menghadapi problem dalam hidup (setiap orang pasti punya problema hidup), sahabat saya itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena keterbatasan waktu dan tempat. Yang paling perduli memberikan perhatian adalah dari punguan marga serta parsahutaon.

    Jadi kepada NN yang terhormat di Bintaro. Apakah anda seorang amang, inang, saudara,saudari, namboru, tulang, nantulang atau sebutan lainnya. Tetaplah pada pendirian anda di atas. Itu hak anda sepenuhnya. Terima kasih.

    Hotma di Hita L.Tobing

    Ketua Punguan Parsahutaon, Punguan Marga dan Ketua Dewan di sebuah gereja.

    Sawah besar 12/6/08/12.15 – hos ari

  4. lambas siregar on June 12, 2008 at 1:36 pm

    Kita tidak lepas dari 3 ranah kehidupan : pekerjaan, gereja, dan sosial apalagi di kota besar ini, biar sehat perlu ada keseimbangan hidup terutama dari kerohanian dan interaksi sosial seperti punguan.

    Terbukti secara psikologis bahwa dengan kita berkelompok dapat menjadi semacam terapi bagi suatu jenis penyakit jiwa karena tingginya tekanan stress oleh karena beban profesi/pekerjaan. Termasuk juga sifat hidup masyarakat perkotaan yang individualistis dan egois.
    Punguan apapun dapat menjadi pemborosan atau kesia-siaan ( waktu, tenaga, uang dan potensi) jika jumlah arisan/punguan sudah kebanyakan kita ikuti.
    Kedua ya.. kita sendiri tidak proaktif terlibat berperan membuat suasana yang kondusif baik ide-ide kreatif dan program yang menggerakkan, menghidupkan dan membangun punguan.

    Mari lewat punguan atau arisan sebagai miniatur gereja, ada panggilan tanggung jawab memajukan kualitas orang Batak. Di punguan arisan yang saya ikuti yang secara bergiliran sebagai tuan rumah terasa dampaknya dengan saling mengasihi, saling memperhatikan keadaan keluarga anggota, mendorong maju dalam usaha atau pekerjaan dan membangun kerohanian karena kita punya wadah untuk trampil melayani dengan memberi kesempatan kepada setiap anggota kesediaannya memimpin acara, memimpin doa, membaca Alkitab bahkan membawakan renungan. Dalam punguan kita belajar bertumbuh pengetahuan tentang paradaton.

    Untuk perbaikan saya pikir sebaiknya perlu disepakati adanya pedoman atau aturan yang mengarahkan punguan agar disiplin, efektif dan berdayaguna.
    Tidak perlu lama-lama cukup 2 jam dan jarak radius tempat tinggal para anggota sebaiknya dibatasi jangan terlalu jauh biar gampang berkumpul. Dan jumlah anggota juga tidak terlalu banyak.

  5. raya hasiholan sibuea on June 12, 2008 at 2:07 pm

    Ini pengalaman pribadi (percaya terserah), mengikuti punguan marga biasanya arisan/kebaktian, itu bagian dari hukum TUHAN…mengasihi sesama melalui “Marsaor”. Memang dalam akhir-akhir ini, kasih yang ditujukan semata-mata marsaor tidak dalam artian “empati’ tapi lebih kepada “self actualisme” melalui pertunjukan hamoraon yaitu apa yang kita punya. Tapi apapun yang dipertunjukkan oleh saudara se punguan kita saya tetap berprinsip “marsaor” harus! Ternyata, dengan ikut punguan (kata NN. Di Bintaro”membuang-buang waktu saja”) justru banyak berkat TUHAN malah mengalir ke saya. Dulu saya pikir demikian, tetapi ternyata saya malah saya makin “mora” dan tidak menurun menjadi pogos, karena buang waktu dan uang, saya renungkan sepertinya pernah saya baca di ALKITAB (lupa ayatnya) bahwa justru berkat makin mengalir..dan memang saya lihat orang batak ikut punguan gereja/marga bukan makin miskin tapi malah makin mora. Jika dia masih miskin ketika tua dia naik mobil juga ternyata anaknya sudah mora. Arisan apalagi ada partangiangannya…suatu kerinduan bagi saya. Saya yakin dengan “marsaor” ada saja satu atau dua saudara punguan yang ingat saya dan membawa saya dalam DOA, inilah berkat itu!

    Daniel Harahap:
    Numpang tanya: Pak Siboea makin kaya karena aktif di punguan marga atau karena makin dekat kepada Tuhan sih? :-)

  6. Lusi P on June 12, 2008 at 2:56 pm

    Amang pendeta, saya sangat tertarik dengan tulisan amang ini, karena saya sedang mengalami dilema dalam keluarga batak.

    Kalau saya pribadi sebenarnya memandang netral terhadap acara punguan Batak ini.. Tapi ada satu hal yang sangat-sangat saya sesalkan.. Ini terjadi di lingkungan keluarga saya yang baru (keluarga suami saya-kami baru menikah 6 bln). Setiap kali ada acara punguan, entah arisan, tahun baruan, atau apapun itu, pasti selalu diakhiri dengan para bapak-bapak bermain kartu (thanks God, suami saya tidak termasuk dikelompok bapak2 ini).. Memang, itu hak mereka.. Tapi permainan kartu ini dengan menggunakan uang, yang kata lainnya JUDI! Saya rasa mereka juga tau, kalau judi itu dilarang, dari cara mereka yang berupaya main diruangan rumah yang tidak terlihat oleh masyarakat luar karena takut digerebek. Saya sangat-sangat tidak nyaman melihat kebiasaan ini. Apalagi yang lebih ironis adalah para bapak ini bermain judi didepan mata anak-anak mereka yang rata-rata masih berusia dibawah 10 tahun!! Saya rasa itu merupakan perusakan mental seorang anak. Menanamkan diotak mereka kalau judi itu bukan dosa. Saya pernah sangat terkejut waktu melihat seorang keponakan saya yang berumur 5 tahun dengan seriusnya memperhatikan cara amangtuannya berjudi, malah dia duduk tenang dipangkuan orang yang bermain judi itu.

    Keponakan saya yang lain, kelas 4 SD, pernah mengajak saya main kartu. Ketika saya bilang: “Ini hari Minggu, harinya Tuhan, kita ga usah main kartu yah”, dia menjawab: “Ah, papa ga papa tuh”. Saya hanya bisa diam. Saya benar-benar ga nyaman, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, krn saya masih anggota keluarga yang sangat baru.

    Satu lagi kelemahan yang saya lihat dari punguan batak ini adalah: membuat suatu kebaktian seperti hanya suatu kewajiban/formalitas untuk mengesahkan pembukaan acara punguan tanpa adanya keseriusan yang mendalam terhadap pendalaman lagu dan ayat alkitab. Nyanyi, yah nyanyi.. baca renungan yah baca.. but that’s it!! Malah saya pernah mengalami kebaktian arisan punguan yang langsung hanya membaca ulasan ayat dari suatu buku renungan tanpa membaca ayatnya dari Alkitab lebih dulu,padahal ada Alkitab disitu! Buat saya, yang perlu kita tahu adalah isi ayatnya sebagai firman langsung dari Tuhan, renungan adalah ulasan dari manusia untuk MEMBANTU kita mengerti isi Alkitab. Ditambah lagi, tepat sehabis kebaktian (yang saya sebut kebaktian bercanda), makan siang, lalu.. kartu dan berjudi!!! Benar-benar membuat saya muak saat itu..!!

    Saya sendiri dibesarkan dikeluarga Batak. Papa mama saya adalah orang-orang yang aktif di pelayanan gereja dan punguan adat. Malah papa saya adalah ketua punguan marga. Sejak kecil saya sering juga dibawa mama papa ke arisan-arisan marga, tapi saya tidak pernah menemukan hal-hal tersebut diatas di punguan-punguan itu. Mungkin memang perbedaan kebiasaan keluarga. Yang saya temui dikeluarga saya yang baru ini membuat saya sedikit-sedikit mulai malas ikut ke punguan2 batak, malah pernah membuat saya dan suami berdebat karena saya tidak mau ikut arisan teman-teman mantan NHKBPnya. Bukan masalah buang-buang waktunya, saya orang yang sangat senang bergaul dan bersosialisasi. Saya jadi bingung, langkah apa yang terbaik harus saya ambil.
    Amang bisa bantu saya?

  7. raya hasiholan sibuea on June 12, 2008 at 3:20 pm

    Dekat TUHAN ! Salah satunya “marsaor” amang, tapi bukan hanya ketemunya, di akhir kalimat saya katakan “salah satu atau dua saudara sepunguan pasti ada yang mengingat kita dan ber-DOA untuk kita, itulah berkat!

    Daniel Harahap:
    Amin. GBU. JLU. :-)

  8. yohanes enho nababan on June 12, 2008 at 4:43 pm

    membahas perlu atau tidaknya serta ya atau tidaknya mengenai keberadaan dan manfaat punguan orang batak di tengah kehidupan bermasyarakat jelas tidak akan ada habisnya. akan tetap ada pro maupun kontra, namun yang menjadi kunci adalah menekan kelemahan yang ada serta meningkatkan potensi/nilai positif yang ada dalam suatu punguan. karena punguan merupakan alat untuk menyampaikan kehendak-Nya yaitu mengasihi sesama. jadi, mari mengenyampingkan kelemahan serta meningkatkan nilai positif Kristus dalam lingkungan sosial, yaitu punguan batak.

  9. Nakita on June 12, 2008 at 5:31 pm

    To: Lusi

    Beberapa jenis punguan memang diakhiri dengan bermain kartu (dengan uang!). Itu memang contoh yang tidak baik bagi anak kecil. Tapi kembali lagi itu pilihan masing-masing.

    Saat kami membentuk parsahutaon, hal bermain kartu ini sudah dibicarakan dan disepakati tidak akan dilakukan dalam kumpulan parsahutaon kami. Yang boleh ada adalah kebaktian singkat, makan enak dan ngobrol2.

    Salah satu arisan keluarga kami sering diakhiri dengan bermain kartu.
    Jadi tindakan yang kami ambil adalah tidak akan menimbrung di acara tersebut. Beberapa orang yang lain toh tidak main kartu. Jadi kami hanya bercakap-cakap. Tindakan lain, karena main kartu biasanya terakhir, ya kami pamit pulang dengan alasan yang baik.

    Contoh yang baik adalah teladan. Action speaks louder than words.
    Kita yang muda sulit menegur yang lebih tua. Tapi tindakan kita bisa menjadi contoh bagi yang lain. Semoga juga bisa mempengaruhi yang muda-muda.

    Tetap semangat.

  10. Yohanna on June 12, 2008 at 6:03 pm

    Ada yg rindu ikut punguan marga, parsahutaon ada yg tdk. Itu hak mereka benar adanya.Tapi ketika mereka punya masalah maupun dlm keluarga secara pribadi [ pertengkaran rmh tngga] atau ada adik atau mangain boru pasti mereka butuh dongan tubu, boru, hulahula, dan kepala suku untuk bicara. [Barud eh kelabakan dan merepotkan orang lain.]

    Ini benar terjadi ketika paranak melamar ke parboru tapi keluarga parboru tdk mau adat berjalan [krn kel parboru greja karismatik ] akhirnya lamaran terhenti. Akhirnya keluarga parboru menyetujuinya [dr pd tdk kawin borunya] .Disini menang adat yg marsaor mengalahkan ego pribadi, menurut saya. Ada lg sesudah dewasa anaknya baru ikut punguan agar tdk kelabakan nantinya ini masih lebih baik. Ada yg ikut parsahutaon ketika sdh menerima [jasa ,kehadiran, kebaikan, ketulusan] parsahutaon, bahwa apa yg terjadi pd keluarganya tetangga lebih dulu melihat dan menolong.

    Saya hanya mau mengajak kita ayo ikut punguan [marga masing2, parsahutaon] supaya kita lesterikan budaya batak. Jangan malu dan ragu, punguan itu baik adanya, walaupun tdk sempurna, yg lain aja melestarikan budayanya kok kita tdk. Amang DTA aja masuk parsahutaon walaupun inang tercinta belum datang di tempat.

  11. Manik on June 12, 2008 at 8:15 pm

    Menurut konteks diatas, amang sendiri masuk ke punguan mana tahe??

    Daniel Harahap:
    Pertama tanpa mendaftar, saya masuk punguan marga Harahap di dunia & sekitarnya.
    Kedua: saya baru saja melapor diri ke punguan Patogar (Parsadaan Raja Siregar) di Serpong, berhubung istri saya boru Siregar.
    Ketiga: saya juga baru melapor ke Punguan Parsahutaon Villa Melati Mas Serpong.
    Keempat: saya aktif di Punguan Milis HKBP (sejak tahun 1998)
    Kelima: saya juga ingin mendaftar menjadi anggota Punguan Parmahan Angsa & Parhobi potret
    Keenam: jika ada saya ingin terdaftar di Punguan Blogger Batak. :-)

  12. Rudi Juan Carlos Sipahutar on June 12, 2008 at 9:37 pm

    Ehmm..Ehmm..hmmm
    jadi rame juga yach…!!! Tanggapan tentang marga :

    1. Tak seorang pun orang batak asli di muka bumi ini yang dapat memilih untuk tidak punya marga, justru di sini keunikan dan aset budaya yang sangat mahal harganya. Dan tak seorang pun kita (yang mengaku orang batak) bisa memilih bermarga apa kita sebelum di lahirkan, jadi marga itu melekat tanpa kita kehendaki. Artinya Persaudaraan hamargaon menjadi semakin unik apabila bisa berkumpul sebagai satu komunitas “sedarah”/ ” sabutuha” yang hakiki, kecuali diantara kita sudah jenuh dengan cantuman marga di belakang nama kita karena dianggap kolot, kampungan, dan tidak keren di era yang katanya globalisasi ini. Bisa jadi penolakan perkumpulan marga sebagai tanda kegamangan kita terhadap identitas diri, atau bisa jadi kita menjadi orang-orang batak yang kehilangan kodrat..

    2. Huta sebagai asal atau bonapasogit bisa juga di jadikan ajuan untuk berkumpul sebagai nostalgia masa lalu, mengenang kampung halaman yang nun jauh di sana. Tak apalah..selama hal itu bisa memacu sesama untuk lbh kerja keras dan saling menolong. Jangan lah pula jadi ajang jor-joran harta atau pun posisi jabatan.. apalagi main judi!! bisa -bisa kumpulnya di Cipinang atau di nusa kambangan nanti..

    3. Perkumpulan apapun yang dilakukan orang batak seharusnya membawa dampak positif !!! ( pasti semua setuju) karena orang batak memang diakui sangat diplomatis dan piawai dalam berorganisasi ( pasti karena sudah terbisa turun temurun mengadakan berbagai perkumpulan parsahutaon dan perkumpulan marga)..

    4. Saudaraku se-bangso dan se-bona pasogit Perbaiki perkumpulan kalo tidak konstruktif dan tidak edukatif, karena di situ mamfaat kita berada.

    Daniel Harahap:
    Setuju dengan catatan: jangan hanya bergaul dengan yang semarga atau hanya dengan sesama Batak saja. Kembangkan pergaulan sebaik-baiknya dengan bukan Batak. Satu lagi: jangan pernah menganggap hanya orang Bataklah “jolma” atau manusia, dan jangan berpretensi hanya orang Bataklah yang punya adat di dunia ini. :-)

  13. Lambok Simamora on June 12, 2008 at 10:38 pm

    mmm mungin saya orang awam yang memberikan pendapa, tapi lahir ditengah keluarga yang masih membiasakan punguan marga, kayanya hal ini perlu sekali, bagaimana kita mengenal seseorang yang tinggalnya tidak jauh dengan kita padahal di mungkin sepunguan yang sama dengan kita…. punguan marga ini sangat punya kesan pribadi buat saya, besar di keluarga dari seorang ayah yang mempunyai 12 bersaudara tentu sangat susah sekali dilihat untuk bagaimana bertemu, berkomunikasi tapi sungguh bangga sampai sekarang punguan dari opung sumurung masih rutin bertemu (1 bulan sekali),dan berpindah pindah tempat ditingkat marga yang cakupanya lebih tinggi pun bapak saya suka mengajak saya, walaukadang waktu menurut orang batak bisa jadi 1 hari = 36 jam, tapi ya dinikmatin aja, saya lahir di tanah jawa, orang bilang batak cengeng, biarlah cengeng asal dia tidak lupa punguan marganya hehehe…..

  14. Janpieter Siahaan on June 13, 2008 at 2:24 pm

    Tak kenal maka tak sayang. suatu pepatah yang mendorong kita untuk saling mengenal dan berinteraksi sehingga tumbuh pemahaman atas diri seseorang yang pada akhirnya menumbuhkan sikap saling mengasihi dan merindukan untuk saling bertukar pikiran, saling menguatkan, saling memberi saran. Ada satu modal kita sebagai orang batak, yaitu Marga. Marga mau tidak mau adalah suatu identitas spesifik yang menjadi ciri atau trade mark kita orang tapanuli dan itu membuat ada suatu kerinduan untuk mengenal satu dengan yang lainnya. Kekuatan itu dapat digerakkan menjadi suatu aplikasi dari hukum kasih yang diajarkan Tuhan Yesus. Modal marga atau identitas kita menjadi kebanggaan untuk mempermudah pembuatan komunitas atau link dalam kehidupan. Memang pada prosesnya ada beberapa kendala dalam penyesuaian kepribadian individu terhadap situasi yang berkembang di satu punguan. Tinggal kita bagaimana untuk cepat atau lambat menyesuaikan diri atau kita bisa mempengaruhi lingkungan itu sendiri agar lebih baik.

    Satu sisi lain, ada pribadi yang memang pada dasarnya kurang berminat dalam hal marsaor. Hubungan manusia hanya dilihat dari untung dan rugi. Mis. Saya habiskan waktu saya, tetapi apa yang saya dapat dari punguan itu. Biasanya orang seperti ini tidak lepas dari hukum dagang atau penganut aliran Kapitalis murni , yang memiliki semboyan : “TIME IS MONEY”. Hubungan manusia hanya dilihat dari hubungan yang menguntungkan atau tidak, yang diukur dari dapat atau tidak dapat uang, bukan dari ukuran Psychologis terlebih Kasih. Jika kita kontra persepsikan dengan hukum kasih Tuhan (kita menyadari kasih Tuhan untuk semua manusia) , yang tidak mengenal untung rugi kepada manusia, atau tidak melihat pemberian kasih itu berdasarkan suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, atau berdasarkan ras, suku, golongan, atau perbedaan lainnya , maka mungkin manusia tidak akan membedakan pemberian kasihnya kepada orang lain. Biasanya orang tipe ini juga bila ke gereja akan memandang : siapa yang akan berkhotbah, posisi tempat duduk yang diinginkan, atau bertemu dengan orang-orang tertentu yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. Jadi pusat kehidupannya bukan Tuhan Yesus melainkan dirinya sendiri atau kepentingan dirinya sendiri. Orang seperti ini cenderung egois dan memang rata-rata mampu hidup exis dan terpandang, karena tidak mau berbagi. Di lain sisi, orang seperti ini hidup atau jiwanya kering, Pagi kerja, malam pulang kerja langsung tidur, ( mirip manusia jaman purba atau jaman “Paleolitikum” ), tetangga samping rumah tidak kenal ( karena mungkin tidak butuh ) apalagi akrab. Kalau dilihat dari sistem keamanan lingkungan, biasanya orang seperti ini sangat rentan jadi incaran penjahat ( maling, rampok, dll). Kekuatan lingkungan terjadi bila ada saling pengertian, akrab, guyub, tolong menolong antara sesama lingkungan, minimal RT, atau RW. Orang seperti ini mungkin hanya keluarga intinya saja yang diingat atau ditolong, dan ini mungkin juga dipengaruhi didikan orangtua yang dari kecil tidak memberi contoh marsaor pada semua saudara, tetangga, maupun orang-orang di lingkungan sekitar.

    Hidup adalah suatu pilihan. Tuhan Jesus juga tidak memaksa kita untuk mengasihi semua manusia, Tuhan Yesus hanya menganjurkan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi diri sendiri, dan yang terutama, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap akal budimu. Tinggal kita… buka mata, buka hati, buka pikiran… lihat apakah kita telah melaksanakan hukum kasih sepenuh hati, setengah hati atau sesuka hati atau ……………”tidak sama sekali”?

  15. Rissa Agnes Indralia Sitanggang on June 13, 2008 at 8:19 pm

    Wah…wah…wah…kayaknya rame bener ngomongin tentang Punguan Batak.

    Saya adalah anak yang masih belum tau tentang adat batak….tapi saya mengetahui bahwa dulunya nenek moyang kita tidak mengetahui apa itu suku Batak…yang namanya Tanah Batak aja blm tentu tau..yang mereka tau cuma bahwa mereka hidup bersosialisasi…dan berhubungan dengan TUHAN….Seiring berjalan nya waktu barulah ada yang nama nya Tanah Batak dan Barulah ada Suku Batak lalu muncullah Marga.Jadi klo menurut saya penting itu adanya Punguan Batak atau Marga…gunanya supaya kita lebih mengetahui dan mengenal siapa2 aja saudara yang semarga dengan kita…mengenal lebih banyak tentang adat batak…krn blm tentu orang tua kita mengajarkan tentang adat batak. Intinya Fungsi Punguan Batak atau Marga itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan sesama suku Batak.

    Hendak nya kita Bangga menjadi suku Batak karena Orang batak itu dikenal ama dunia Internasional.

    Daniel Harahap:
    Terusik dengan kalimat terakhir: orang Batak terkenal karena apa di dunia nasional maupun internasional Rissa? Kalau boleh tahu sudah berapa orang Batak menerima hadiah Nobel? :-)

  16. Carolina on June 14, 2008 at 11:41 am

    Buat JANPITER Siahaan buatdong punguan BLOGGER BATAK .Pasti rame,
    atau adat batak. umpasa moderen;
    Nangkok dalan tu tano batak tuat dalan tu medan
    Saisautma bahen punguan BLOGGER BATAK asalam tamba parbinotoan
    emmaa tuuu tuuuuu

  17. Janpieter Siahaan on June 25, 2008 at 6:06 pm

    Pro : N.Carolina

    Buat Blogger batak ? apalagi itu blogger ? aku nggak ngerti… ini aja buka internet, buat email dan kasih komentar belajar dari kawan.
    Molo mangarejohon punguan blogger batak… ndang sangai… godang dope sikarejoon di nagaraon…he..he..he… horas ma di hita sude.
    Sada nai.. titip salam buat keluarga sude.

  18. Arlina Parhusip on June 26, 2008 at 12:12 pm

    Punguan Batak Apa Manfaatnya??

    Sejak kecil saya dan adik2 sudah terbiasa dengan semua Punguan Batak bahkan bisa dibilang org tua kami mulai hari Jumat-Minggu itu penuh waktunya utk arisan maupun pesta, dan manfaatnya sangat kami rasakan, terutama saya. Setelah menikah saya tidak canggung lagi utk bergabung dgn keluarga pihak suami, baik itu arisan maupun pesta, hebatnya walaupun suami tidak ikut, saya enjoy aja pergi bersama simatua, lucunya suatu waktu suamiku malah tidak tahu kalo bertemu dgn sepupunya di sebuah mall, malah aku yg lebih dikenal mereka, memang sih kalo dipikir, weekend tuh enaknya istirahat dan bermain bersama anak setelah 5 hari bekerja, tapi saya mengakalinya dengan saya membawa anak saya ikut jadi kami tetap bisa bersama, paling misalnya dia sudah bosan kami pulang lebih dulu dari mertua, dan hubungan dengan keluarga juga baik. Dengan pertemuan2 tersebut saya bisa mendapatkan gambaran tentang kehidupan keluarga batak pada umumnya, apa yg bisa saya ambil untuk keluarga kecil saya ini. Memang sih terkadang seperti arisan misalnya, saya yg masih muda bingung mau nimbrung omongan karena biasanya mereka jg nostalgia, dan seakan lupa sy berasal dari huta yg berbeda, tp paling tidak saya jg jadi tahu bagaimana karakteristik masing2 marga berdasarkan tempat tinggal, karena mata pencaharian penduduk menentukan pola hidupnya kan? Satu pelajaran yg saya dapat didalam setiap acara adat kan dibutuhkan bukan cuma Suhut dan Hula2 saja, tetapi semua unsur, yah kalo kita tak dikenal, bagaimana orang mau datang??

  19. candyce on January 8, 2009 at 11:57 am

    salam kenal bang,
    horas,
    saya bisa minta saran org yg bisa saya wwcr ttg budaya batak relevansinya saat ini,,
    terima kasih atas bantuannya bang….

    Daniel Harahap:
    Siapalah ya? Orang Batak kayaknya semua merasa sangat tahu tentang adatnya. :-)

  20. constantina S on January 27, 2009 at 10:30 am

    Saudari Candyce…
    Masih begitu banyak insan Batak yang bisa di wawancarai baik di jakarta dan di Bona Pasogit. Tergantung komitmen dan besarnya harapan dan tujuan wawancara tersebut. Bahkan sebelum wawancara,kita juga bisa membaca hasil wawancara atau pemikiran dari berbagai pemerhat budaya Batak lewat situs dan buku buku serta artikel lainnya menyangkut Budaya Batak.

    Di Jakarta misalnya ada Bapak Richard Sinaga, Bapak Panggabean mantan Hakim Agung dll. Setidaknya mendapatkan referensi dan rekomendasi. Dan Kalau di Medan wah banyak sekali datang aja ke setiap kampus menjumpai para dosen yang bermarga Batak, pasti ada jalan keluarnya.

  21. Harisan Parhusip on April 21, 2009 at 10:37 am

    memang kalau kita melihat punguan marga dari segi ke tidak evisienan waktu dapat dikatakan punguan marga itu tidak berarti, apalagi di tengah-tengah kehidupanperkotaan. seperti yang diterangkan Amang Pendeta diatas begitu banyak peranan punguan marga yang secara langsung maupun tidak langsung membantu dan menyokong kehidupan seseorang atau sebuah keluarga. misalnya saja kalau ada oarang yang mengadakan pesta baik itu pernikahan atau kemalangan bila tidak ada punguan pasti acara itu tidak meriah dan oarang pasti menganggap remeh pihak keluarga karena tidak ada yang mereka kenal. sampai sekarang bila ditinjau dari sudut sosiologis budaya lokalit suku batak yang dibawa oleh generasi muda yang merantau masih menjadi unggulan bagi orang tersebut dan mendapat acungan jempol dari orang atau suku-suku di luar batak. bandingkan saja pesta suku jawa dengan batak jauh sekali banyaknya orang. dengan datangnya dalihan na tolu akan memeriahkan suasana dan banyak memberikan bantuan moril dan materil ke pihak keluarga.

  22. Erpesim on April 21, 2009 at 12:29 pm

    Sinyalemen Amang DTA perihal kegamangan orang hidup dijaman modern dan dinamika kota Metropolitan/Kosmopolitan membawa kita masuk dan butuh tempat yg namanya comfort zone.Disamping faktor gamang,saya juga melihat adanya kebutuhan sebagian org mencari “tempat” utk meng aktualisasi diri sbg agen penyampai nilai2 budaya Batak atau nilai Kristiani atau mengkombinasi pesan kedua2nya.Mengidentifikasi masalah kekinian (probelematik) atau mempersiapkan masa depan anggota punguan adalah dua hal yg sangat penting dan strategis ttp terasa “mewah” sekali.Ini jelas tantangan buat kita semua.Umumnya,yg menjadi penghambat adalah waktu.Sebagian besar waktu pertemuan Punguan Marga atau Parsahutaon dihabiskan untuk ngobrol/makan dan minum atau lebih aneh lagi adanya program ” Ibadah tambahan” (krn biasanya dilakukan sesudah kebaktian minggu di Gereja) yang kelihatannya cendrung kejar setoran/formalitas.

  23. agusthutabarat on May 22, 2009 at 12:27 pm

    dohot ma jo angka dakdaknak manghatai ate amang
    (Ctt. Ai antar sogo do roha tu angka natua-tua di huta molo apala dohot iba nimbrung sai intor di orai do, ” dang diantusi ho i, ai dakdaknak dope ho” )

    Klu misalnya di tanya penting ga penting, saya rasa penting. Tapi yang saya liat kalau ada perkumpulan orang batak di pangarantoan ini bawaannya makan hati terus (kapan ya makan jantung).
    Seperti Ikatan Mahasiswa Batak (IMABA) Semarang, setiap ada pertemuan pulang-pulangnya bertengkar. Bikin keributan, ada yang teriak-teriak yang ga jelas. Manghatai suku dohot agama na asing. Terkadang banyak perkumpulan seperti ini (bukan hanya batak), menjadi ajang pengkotak-kotakan yang ujung-ujung nya menjadi SARA.

    Tapi menilik kembali kita sebagai mahkluk sosial, yang harus hidup bermasyarakat. Mulak ma muse roha, berfikir kembali ada juga baiknya untuk berkumpul dan bersekutu bersama.

  24. Gabe on August 13, 2009 at 11:09 am

    Horas..,
    Ijinkan amang, mau kasih komentar sedikit.
    Saya pikir, ada beberapa hal yg menjadi PR bagi kita orang batak.
    1. Peran orangtua sangat penting untuk mengajarkan nilai-nilai ini kepada anaknya. Di jaman sekarang ini, gap atau jurang pemisah usia antara tua muda sudah harus mulai dihilangkan (dalam artian yg positif). Tentu saja sangat tidak nyaman jika kita dengar ‘dak danak dope ho, dang di boto ho maradat dope’.
    Orang tua benar-benar harus melibatkan anak2nya untuk ikut mengerti, sehingga anak2 merasa ‘penting’ dan ‘berharga’ berada di suatu acara adat ataupun suatu punguan.
    Saya pernah diikutkan dalam suatu acara punguan dengan orangtua saya. Tapi yang terjadi, saya harus menunggu selama lebih dari 4 jam tanpa melakukan apa2. Karna semua yang ikut punguan orang tua, dan anak muda tidak ada bagian disitu. Kesan yang membosankan dan akhirnya terbawa sampai sudah menikah.

    2. Motivasi harus lah berdasarkan hubungan kekeluargaan yang murni dibangun bukan atas dasar ‘sekedar menjalankan adat’ agar tidak dicap ‘dang maradat’. Kita pasti ingin merasa nyaman berada pada suatu organisasi ataupun punguan, apalagi judulnya punguan marga yang semuanya adalah pasti keluarga.

    3. Semuanya harus dimulai dengan kerendahan hati. Kita tau bagaimana memberi lebih baik daripada menerima.
    Sering kali kita temui, bagaimana akhirnya satu keluarga yang tidak pernah ikut punguan (dengan berbagai alasan) apalagi masih muda, malah dijauhi oleh anggota punguan. Senioritas di adat Batak masih sangat kental. Keponakan yang harus datang ke uda atau amangboru, walaupun tidak pernah ada hubungan baik yang terjalin. Pokoknya yang muda harus yang mendatangi yang tua. Lebih parah lagi, belum tau alasannya malah langsung di cap yang aneh2 kalau tidak datang. Bagaimana mungkin itu kita pertahankan? Jika kita berbicara kepada anak kecil, kita akan duduk dan menyesuaikan tinggi kita kepada anak. Karna anak akan sulit untuk menyesuaikan tingginya kepada orangtua.

    4. Tidak ikut punguan = dihukum secara adat. Karna tidak akan dibantu jika ada acara adat, atau dibantu dengan berat hati (dan mungkin ujung2nya duit). Saya sendiri akan memilih untuk tidak melakukan acara adat, jika pada akhirnya banyak sekali embel-embel yang akan diterima. Dan biasanya pasti negatif.

    Saya sebagai keluarga muda, sangat kesulitan untuk masuk dan merasa diterima di punguan saya sendiri, khususnya di Jakarta.
    Bisa dibayangkan, ketika kita harus ikut punguan dari tangerang ke bogor. Kalau yang punya kendaraan sih, mungkin tidak terlalu merepotkan (walaupun tetep aja merepotkan). Waktu di perjalanan habis 3-4 jam, punguan habis 2-3 jam. Hasilnya?? Tunggu nanti kalau ada acara adat kita. Tentu saja sangat menyita waktu. Apalagi sabtu minggu itu waktu yang sangat berharga untuk menghabiskan waktu dengan anak, membangun hubungan dengan anak dan istri/suami. Karna kalau kita miss yang satu ini, maka tidak ada satu punguan pun yang mampu menolong kita di masa kritis psikologi anak maupun istri/suami.

    5. Adat Harus ada dibawah hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia. Artinya apa? Adat hanya sebagai sarana yang diciptakan oleh nenek moyang kita untuk membangun hubungan dengan manusia. Jadi adat bukanlah segalanya. Adat akan berjalan dengan baik jika hubungan dengan sesama terjalin dahulu dengan baik. Kita harus mau menyesuaikan adat dengan perubahan yang ada. Jika tidak, maka kita akan terjebak dengan doktrin.

    Jadi, menurut saya mind set kita harus diubah. Memandang adat dan acara2nya (termasuk punguan) menjadi suatu hal yang penting jika ini bisa membawa hubungan kita dengan sesama menjadi lebih baik. Memandang secara positif hal-hal yang mungkin belum sesuai dengan adat atau bahkan bertentangan. Perubahan itu penting, kita harus selalu dinamis.

    Mauliate tu hita sude..

  25. Siregar on August 18, 2012 at 11:51 am

    JONOK PARTUBU…JONOKAN DO PARHUNDUL….

  26. Bona Manik on March 20, 2014 at 4:05 pm

    Sore…
    Saya mau tanya ttg adat batak nih..

    kenalin saya marga Manik (nama disamarkan diganti dengan Marga saya saja). saya sdah satu tahun mengagumi seorang wanita dia boru simbolon sedangkan mamanya boru sagala. di satu sisi mamanya ini boru Sagala. jadi apakah saya bisa menjalani hubungan dengan Dia?

    mohon di bantu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*