Persepuluhan: Apa, Kenapa & Bagaimana?

June 13, 2008
By

Tanya:

Saya ingin menanyakan konsep perpuluhan dari sudut pandang HKBP. Selama ini saya merasa terpanggil untuk melakukan perpuluhan ke gereja dan saya sudah melakukan perpuluhan setiap bulannya tetapi menurut orang-orang tua bahwa perpuluhan tidak langsung dengan memberikan sepersepuluh dari penghasilan itu ke gereja, tetapi bisa dengan cara memberikan kepada orang sakit, pengemis, persembahan dan kegiatan yang lebih bersifat sosial. Apakah konsep perpuluhan kristen HKBP seperti itu sehingga jarang sekali jemaat yang memberikan perpuluhannya ke gereja termasuk naposo yang sudah bekerja? Mohon amang bisa bantu memberikan petunjuk apa yang seharusnya saya lakukan supaya saya tidak salah melangkah, karena perpuluhan ini sudah menjadi pergumulan saya sejak tahun lalu dan tahun ini saya sudah berkomitmen untuk memberikan perpuluhan kepada Tuhan. (DS, dan pertanyaan banyak orang lain via email dan message FS)

Jawab:

Sebelumnya saya menerima beberapa email dan message FS yang isinya juga menanyakan soal persembahan persepuluhan. Menurut saya agar dapat memahami makna persepuluhan dengan baik dan benar maka kita harus memahami apa sebenarnya makna persembahan menurut iman Kristen kita.

Pertama : Persembahan adalah tanda pengakuan
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa tubuh, jiwa, dan roh serta segala yang ada pada kita adalah berasal dari Tuhan dan pada hakikatnya milik Tuhan. Diri kita dan seluruh harta kita seratus persen adalah milik Tuhan yang dipercayakanNya kepada kita untuk kita kelola dan nikmati sesuai dengan kehendak Tuhan, dan kita pertanggungjawabkan kepadaNya (Matius 25:14-30). Sebagian dari apa yang ada itu kita potong (dengan sadar dan sengaja) dan kita kembalikan lagi kepada Tuhan dalam ibadah sebagai tanda pengakuan kita bahwa diri dan segala kekayaan kita berasal dari Tuhan dan pada dasarnya milik Tuhan.

Tradisi Israel kuna menyebutkan jumlah yang harus kita potong untuk diserahkan sebagai persembahan itu adalah sepuluh persen dari hasil panen dan ternak, sebab itulah disebut persepuluhan. Pada awalnya berbentuk natura kemudian dapat digantikan dengan uang. Sebenarnya bukan jumlah pemberian sepuluh persen itu yang pokok, sebab seperti dikatakan di atas hidup kita seratus persen adalah pemberian dan milik Tuhan. Satu lagi: Tuhan adalah Pemilik kehidupan dan Dia sama sekali tidak tergantung kepada pemberian kita (Mazmur 50). Lagi pula Tuhan itu maha baik dan maha pemurah, Dia mengasihi kita dan bahkan memberikan AnakNya yang tunggal kepada kita (Yohanes 3:16). Lantas apa makna persepuluhan itu? Dengan mengembalikan sepersepuluh atau 10% dari penghasilan dan kekayaan pemberian Tuhan kita mau melatih dan mendisiplinkan diri kita mengaku bahwa Tuhanlah yang empunya hidup kita. Artinya: kita mau belajar memberikan persembahan secara tetap dan teratur, tidak tergantung mood atau suasana hati, juga situasi dan kondisi ekonomi. Ini baik dalam rangka melatih iman.

Kedua:persembahan tanda syukur dan terima kasih.
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa kita sudah menerima sangat banyak kebajikan dan kemurahan Tuhan. Sebagian kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda syukur atau ucapan terimakasih. Sebab itu kita memberikannya dengan penuh sukacita dan ikhlas! Persembahan sebab itu adalah respons atau jawaban orang beriman terhadap kasih dan berkat Allah yang begitu besar kepadanya. Persembahan adalah respons karena dan bukan syarat supaya mendapatkan berkat Allah! Persembahan termasuk persepuluhan bukanlah situmulans untuk merangsang kebajikan Allah namun respon orang beriman terhadap kebajikan Allah.

Sebab itu Maleakhi 3:10 juga harus dipahami bukan sebagai perintah Tuhan untuk memaksa kita memberi “upeti” kepadaNya, tetapi lebih sebagai seruan Tuhan agar kita percaya kepadaNya bahwa Dia baik dan setia serta selalu mencurahkan segala berkatNya. Kita tidak sedang bernegosiasi bisnis dengan Tuhan. Tanpa disogok, atau diberi persembahan pun, Tuhan Allah tetap baik dan setia, serta melimpahkan rahmatNya kepada kita. Namun sebagai orang-orang beriman tentu kita pantas bersyukur. Salah satu ungkapan syukur itu adalah memberi persembahan persepuluhan. Atau: persembahan mingguan, bulanan, atau tahunan. Sebagai persembahan syukur gereja tentu tidak perlu mematok jumlahnya. Jika kita mau komit (tanpa diperintah oleh siapapun) memberikan 10% dari penghasilan kita baik-baik dan sah-sah saja. Jika kita menetapkan kurang atau lebih juga baik dan sah. Ingat: Tuhan tidak membutuhkan belas kasihan umatNya. Sebaliknya Dialah yang berbelas kasih kepada umatNya. Karena itulah doa persembahan selalu berbunyi: Siapakah kami ini sehingga dapat memberi kepadaMu?

Ketiga: tanda kasih dan kemurahan hati
Yesus Kristus sudah memberikan diriNya kepada kita, menderita dan berkorban bagi kita. Sebab itu kita juga mau memberi, berbagi dan berkorban bagi sesama kita. Sebagaimana Kristus rela memecah-mecah tubuh dan mencurahkan darahNya untuk umat yang dikasihiNya, kita juga mau memecah-mecah roti dan berkat kehidupan untuk sesama. Ketika memberi persembahan kita sekaligus mau mengingatkan diri kita dan membaharui komitmen/ janji kita untuk selalu memberi, berbagi dan berkorban sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus, Tuhan kita. (I Yoh 3:16-18).

Tidak ada patokan yang mengatakan bahwa persembahan persepuluhan harus ditujukan kepada gereja sebagai organisasi. Persembahan persepuluhan juga bisa diberikan kepada orang-orang miskin, lembaga sosial dan kemanusiaan. Yang penting di sini adalah persembahan persepuluhan itu adalah juga sekaligus tanda komitmen solidaritas dan cinta kasih kita kepada saudara-saudara Tuhan yang miskin, sakit, menderita dan terabaikan. Apa yang kita berikan kepada saudara-saudara Yesus yang miskin sama artinya dengan memberikannya kepada Tuhan. Sebab itu DS dan kita silahkan saja tentukan kemana hendak menyalurkan komitmen persepuluhannya. Bisa utuh kepada gereja, lembaga sosial dan kemanusiaan, atau dibagi-bagi. Jika menyampaikannya kepada gereja bisa juga tentukan persembahan persepuluhan secara spesifik ditujukan untuk pelayanan dibidang apa: diakoni, kesaksian, pembangunan, sekolah minggu dan lain-lain.

Keempat: tanda iman atau kepercayaan
Kita percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan sebab Allah menjamin masa depan. Persembahan adalah tanda iman kita kepada pemeliharaan Allah di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan, tidak saja sewaktu kaya namun juga saat miskin. (Lih. Flp 4:17-19, II Kor 9:8).

Dengan memberikan persembahan, termasuk persepuluhan, termasuk di saat kita miskin atau kekurangan, kita sebenarnya mau melatih diri kita tetap beriman kepada Tuhan. Bahwa dengan memberikan sepersepuluh dari penghasilan kita maka kita tidak akan jatuh semakin miskin atau mati kelaparan. Di sini tentu saja kita harus kritis. Seandainya karena satu atau lain hal kita “gagal” memberikan persembahan perpuluhan kita juga tidak perlu merasa berdosa. Tuhan tidak pernah menuntut apa-apa dari kita. Dia sangat mengasihi kita. Namun, sebaliknya kita harus juga hati-hati, sebab kita juga bisa jatuh dalam sikap pembenaran diri, bermain-main atau seenaknya saja dalam memberi persembahan. Dan hal itu tidak baik bagi perkembangan jiwa kita. Kita harus belajar bertumbuh dan semakin dewasa dalam iman.

Kembali ke pertanyaan DS: silahkan saja memberi persembahan persepuluhan dengan motivasi dan pemahaman sebagaimana telah diterangkan di atas. Gereja kita HKBP memang sengaja tidak menjadikan persembahan persepuluhan sebagai sebuah aturan atau dogma sebab dalam memberi persembahan yang terpenting bukanlah jumlah nominalnya tetapi motif atau alasan hati yang ada dibalik persembahan itu. Persembahan apapun dan berapa pun, termasuk persepuluhan, yang keluar dari hati yang bersih dan tulus, penuh syukur, dan tidak punya pamrih, tentu berkenan di hati Allah.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

Tags: , ,

21 Responses to Persepuluhan: Apa, Kenapa & Bagaimana?

  1. Konrad H.Purba on June 13, 2008 at 12:30 pm

    TERIMA KASIH atas uraian dan pandangan Amang yang luas, baik dan jelas. Bermanfaat memberi pengertian yang baik bagi jemaat. Horas Amang.

  2. ruben on June 13, 2008 at 1:44 pm

    Dengan membaca Maleakhi 3 ayat 10,saya berpandangan bahwa perpuluhan diberikan kepada pekerjaan Tuhan. Saya tidak menganggap pengertiannya bahwa kita harus memberikan uang kepada Tuhan secara langsung hehe, tetapi sebenernya kita memberi kepada gereja dengan maksud melalui persembahanku ini nama Tuhan semakin di muliaKan, artinya dimuliakan yaitu melaui persembahan ini dapat membantu gereja dalam menyebarkan injil dan program2 lainnya (berbicara soal dana), dan secara tak langsung kita mendukung kegiantan2 yg memuliakan nama Tuhan di dunia ini. Kalo soal memberi kepada fakir miskin bagi saya tidak terlalu kearah perpuluhan, tapi lebih kepada rasa murah hati. Setiap kita bisa memberi dimana saja, kapan saja kepada org2 yg memerlukan, tapi memberi kepada Tuhan (perpuluhan) saya rasa wajib.

    alangkah bagusnya kalo kita memberi perpuluhan kepada gereja.. dan kita juga memberi ke fakir miskin… hehe.. :D

    Daniel Harahap:
    Sebagai seorang pendeta, jujur saya mengatakan, seandainya diberikan kepada gereja HKBP apalagi HKBP Serpong tentunya amat sangat bagus sekali. :-)
    Namun saya harus juga memaksa diri jujur mengatakan: alokasi 10% itu jika diberikan kepada korban bencana alam, kaum miskin, dan proyek-proyek kemanusiaan di luar institusi remi gereja ya bagus-bagus juga.

  3. lambas siregar on June 13, 2008 at 2:57 pm

    Saya sependapat dengan DS dan Lae Ruben tentang Perpuluhan dan Persembahan plus bantuan aksi sosial, sebaiknya ketiganya terpisah.
    Teks ayat Alkitab yang mengatakan : jangan memberi dengan berat hati tapi …., sering menjadi tameng atau alasan sebagai gambaran respon iman bagi sebagian kita jemaat yang seenaknya memberi persembahan.
    Padahal memberi dengan iman itu berarti merupakan bentuk pergumulan/tantangan, tapi bukan berarti persembahan yang terbanyak apalagi paksaan.
    Memberi perpuluhan hendaknya itu menjadi semacam ujian seberapa rela kita mau mempersembahkan/berkorban memberi buat gereja di samping dukungan doa dan tenaga kita.

  4. SN on June 13, 2008 at 7:03 pm

    Setelah membaca tulisan amang, semakin jelas perpuluhan atau lebih dari perpuluhan dapat kita berikan kesiapapun yang membutuhkan tidak hanya untuk gereja, persoalannya bagi warga “HKBP” banyak yang tidak menyadari hal ini sehingga menjadi suatu alasan tidak memberikan atau tidak membagi berkat2 yang telah diterima. Banyak “warga HKBP” menjadi tidak merasa berkewajiban atau tidak peduli dalam hal beri memberi, tapi kalau ada acara pesta, wah ……… tidak hitung2an untuk mengeluarjkan uangnya, sementara masih banyak saudara kita yang masih kekurangan. Mudah2an melalui tulisan amang ini dapat menyadarkan kita semua. Jadi ketika kita mendapat berkat berkat , kita harus siap jadi saluran berkat.

    Daniel Harahap:
    Setuju dapat diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya kecuali diri sendiri, orangtua dan saudara sendiri. Kalau itu ya jelas kewajiban dan tanggungjawab kita dan di luar persepuluhan yang kita alokasikan. :-)

  5. [...] Persepuluhan: Apa, Kenapa & Bagaimana? [...]

  6. Raja Huta on June 13, 2008 at 8:56 pm

    MARI SELAMATKAN HUTAN LINDUNG DAIRI

    Saat ini kawasan Hutan Lindung Register 66 di Batu Ardan, Desa Sopokomil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara sedang terancam dialih fungsikan. PT Dairi Prima Mineral sudah memasukkan pengajuan untuk mendapatkan izin dari Menteri Kehutanan untuk mengeksplorasinya.

    Kawasan hutan lindung tersebut adalah habitat harimau Sumatera dan 20 jenis tanaman langka. Menurut Walhi Sumatera Utara, saat ini harimau di kawasan itu tinggal sekitar 15 ekor. Sebagian besar sudah “mengungsi” ke Aceh Selatan, karena terusik oleh aktivitas penambangan seng dan timah hitam yang dilakukan PT Dairi Prima Mineral di perbatasan hutan lindung tersebut. Selain sebagai “rumah” hewan dan tanaman langka, hutan lindung tersebut adalah bagian dari sistem ciptaan Tuhan yang menjaga keseimbangan ekologi Danau Toba dan sekitarnya.

    Oleh karena itu kami merasa tergerak untuk mengajak semua warga negara Indonesia yang peduli kelestarian alam dan lingkungan hidup, terutama orang Batak di mana saja : mari kita selamatkan kawasan Hutan Lindung Register 66 di Batu Ardan, Desa Sopokomil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Mari kita lakukan dengan segala cara yang mungkin dan sah untuk menekan Menteri Kehutanan, agar jangan mengeluarkan izin eksplorasi hutan lindung tersebut. Semoga Tuhan memberkati perjuangan kita.

    Jakarta, 13 Juni 2008
    Raja Huta & Suhunan Situmorang

    http://tobadreams.wordpress.com/2008/06/13/gerakan-penyelamatan-hutan-lindung-dairi/

    Daniel Harahap:
    Setuju sekali. Tapi pertanyaannya: apa kira-kira hubungan iklan layanan masyarakat ini dengan topik tentang persepuluhan? :-)
    Ada. Persembahan persepuluhan juga bisa ditujukan untuk pelestarian alam ciptaan Tuhan Allah.
    Tapi ambal ni hata, “raja huta” itu raja huta yang mana? raja semua huta? Kalau yang terakhir itu nama kawan saya. :-)

  7. kenzo bogor on June 15, 2008 at 6:59 pm

    Mengenai perpuluhan baiknya kita berikan melalui gereja dimana tempat kita terdaftar dan beribadah. Banyak orang terdaftar tapi tidak beribadah. Kalaulah perpuluhan kita yang sangat mampu atau kurang mampu sekalipun tetap memberi ucapan syukur melelui wadah gereja. Biarlah parhalado gereja yang mengalokasikan kepada yang tepat guna. Janganlah kita hitung-hitungan dalam hal memberi. Prinsip: yang sudah kita beri dengan suka cita tidak perlu dipikirkan uang itu di alokasikan kemana. Biarkan parhalado yang memutuskan alokasi tsbt. Kalaupun ada segelintir yang tidak jelas itu kan urusannya kepada Tuhan. Ayo kita memberi perpuluhan dan dpt juga membantu gereja yang lain bila dianggap mendesak, tapi tetap berikan melelui gereja. Kalau membantu fakir miskin dan bantu gereja lain saya rasa kan itu sekali-kali, janganlah yang udah kita alokasikan pada gereja kita dialihkan yang lain. Untuk membantu yang lain yah pendapatan 90% sisanya.

  8. Bobby on June 16, 2008 at 9:23 am

    agree @ Kenzo
    perpuluhan memang sebaiknya diajarkan oleh gereja sehingga umat tahu harus memberi bagi pekerjaan Tuhan melalui gereja.
    Mengenai pengelolaannya, diserahkan kepada gereja. Bisa untuk membangun pelayanan yang lebih baik lagi, melengkapi kebutuhan2 pelayanan maupun menyumbang orang miskin dll.

  9. harmada on June 16, 2008 at 1:04 pm

    Untuk melatih disiplin seperti pak pendeta terangkan saya sendiri membuka accout khusus untuk perpuluhan, semua perpuluhan disatuka pada account tersebut. setelah disana maka saya merasa itu bukan MILIKKU lagi, efeknya adalah sewaktu menyalurkannya tidak ada beban perasaan berkurangnya milik kita, Penyalurannya tidak ke gereja saya terdaftar ( GKI ) tetapi dalam pelayanan lain dan kepada yang membutuhkan terutama untuk penginjilan dan yang berhubungan dengan penginjilan. Semoga bisa membantu. Horas

  10. rudy sihombing on June 16, 2008 at 4:37 pm

    Lagu/Tangiang I
    “Nasa na nilehon Mi tondi rodi pamatang ku
    Hosa dohot gogo ki ro di saluhut artang ku
    Hupasahat i tu Ho, na so unsaton ku do”

    Lagu/Tangiang SM
    Dison adong huboan Tuhan
    parbue ni ngolungku naso tardok nian
    Sadia ma argana Tuhan
    molo sai nirajuman sude denggan BasaM
    Jalo ma Tuhan, sai las ma roham

    Aku, tidak pernah berpikir, perpuluhan
    Aku tidak mau hitung-hitungan dengan Tuhan.
    Karena seperti lagu I, SEMUA yang ada padaku milikNya juga
    Aku ikut kommen di RUMA METMET karena saya punya waktu dan fasilas internet dan mau berbagai dengan teman.

    Saya pikir, persembahan amang DTA yang terbesar kepada Dia adalah lewat RUMAMETMET, karena lewat RM saya juga berbagi sukacita dengan teman MANUSIA yang bukan hanya HKBP, bukan hanya Kristen. Saya mempromosikan RM juga kepada teman di kantor, mahasiswa dll.

    Walau persembahan saya sebagai seorang penatua di HKBP Serpong dalam bentuk rupiah yang sangat kecil tapi aku serahkan dengan SANGAT SUKACITA. TERIMA LAH TUHAN,
    JALO MA TUHAN, SAI LAS MA ROHAM

  11. st. edison siahaan on June 17, 2008 at 10:27 am

    Pendapat dan tanggapan yang masuk soal perpuluhan rasanya baik semuanya, dan ada baiknya pula agar lebih “mora” soal perpuluhan ini kunjungi milis “doakanhkbp” berbagai pendapat dan perdebatan juga tampil di sana. Yang lebih penting “back to bible” dan latar belakang ayat tsb ditulis.

    Daniel Harahap:
    Sekadar informasi milis “doakanhkbp” adalah pecahan dari milis “hkbp”. Kalau mau perdebatan yang benar-benar hidup dan hangat, masuklah ke milis hkbp: hkbp@yahoogroups.com :-)

  12. horasma on June 17, 2008 at 10:28 am

    Salam buat semua, denggan do angka pandapottai, ba taulahonma na tadok i. mauliate.

  13. Jadiaman Simamora on September 21, 2008 at 10:29 pm

    Perpuluhan sebenarnya adalah hak Tuhan bukan ucapan syukur.
    Kalau kita memberikan perpuluhan ke gereja sebenarnya kita hanya mengembalikan apa yang sudah menjadi kewajiban kita.
    Kalau kita memberikan ucapan syukur itu berarti diluar perpuluhan tsb.
    Tujuan perpuluhan itu yang sebenarnya adalah untuk menyediakan bekal di rumah Tuhan, lebih luas lagi untuk yang berhubungan dengan pekerjaan Tuhan (gereja) di dunia ini.
    Pada dasarnya Tuhan tidak membutuhkan itu dalam menggenapi rencana2Nya. Jadi bukan Tuhan yang memerlukan perpuluhan, tetapi kita lah yang butuh diberkati. Karena jelas dalam surat Nabi Maleakhi, Tuhan berfirman “Ujilah Aku, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit” sehingga kita beroleh kelimpahan.
    Tradisi perpuluhan adalah sudah dimulai oleh Abraham, ketika dia mendapat berkat dari Melkisedek, Raja Salem, imam Allah yang Mahatinggi.

    Daniel Harahap:
    Koreksi: Persepuluhan bukan perpuluhan! Dan persembahan persepuluhan jangan dianggap stimulans atau perangsang berkat, nanti tidak tulus lagi. :-)

  14. Bobby Purba on June 1, 2009 at 12:05 pm

    Amang, jadi kita harus menyebutnya persepuluhan dan bukan perpuluhan ya?
    Terimakasih u/ uraiannya.

    Daniel Harahap:
    Ya. Karena maksudnya sepersepuluh atau 1/10.

  15. togu on March 8, 2010 at 3:40 pm

    saya sudah 2 kali memberikan persepuluhan di ibadah salah satu hkbp di batam, bulan ke-1 ketika warta dibacakan tentang keuangan, dikolom persepulahan terdapat kode yang saya tuliskan lengkap dengan sejumlah uangnya. tapi bulan ke-2 saya memberikan persepuluhan,saya melihat di warta bahwa persepuluhan yang saya berikan tidak disebutkan di kolom tersebut malah berada di kolom ucapan syukur dan jumlah uangnya pun dibagi dua untuk diakonia dan pembangunan.
    apakah ini baik untuk kedepan nya?

    Daniel Harahap:
    Jawabnya jelas: TIDAK. Tidak ada alasan bagi parhalado mengubah-ubah jenis dan peruntukan persembahan.

  16. Christina on May 28, 2010 at 7:08 pm

    Terimakasih Amang… saya minta ijin share artikel ini untuk teman saya ya amang….
    Saya selama ini mengirimkan perpuluhan saya membantu sekolah yang teman saya kelola karena saya tidak (belum) menetap di suatu gereja. Namun saya sekarang memiliki pergumulan lain dan saya berpikir mau split perpuluhan saya antara ke sekolah tersebut san ke hal lain yg saya pergumulkan itu (kebetulan untuk keperluan keluarga saya; karena saya berpikir, saya memberikan pada keluarga lain, padahal keluarga saya pun sedang membutuhkan). Nah, teman saya bilang kebenarannya adalah memberikan FULL 10 % tidak boleh dikurangi… Lalu sya jadi berpikir, APAKAH SEBAIKNYA perpuluhan saya berikan pada gembala di gereja tempat saya bertumbuh dan tidak perlu tahu detailnya kemana dialokasikan…. karena saya jadi berpikir seperti tadi itu…

    Membaca penjelasan amang disini, saya mendapat pencerahan. Yang terutama memang adalah MOTIVASI dan TUJUAN. Tentang jumlahnya yang FULL 10% itu menandakan KESETIAAN dan KOMITMEN. Betul amang ya?? Dan saat memutuskan memberikannya pada sesuatu lembaga, gereja atau apapun, dengan SETIA (dalam jumlah dan waktu yang tetap) kita melatih diri kita BERGANTUNG PENUH pada ALLAH bahwa itu bukan miliki kita, tetapi adalah sudah miliki ALLAH yg kita kembalikan dalam bentuk yg (boleh) kita pilih.
    Sekali lagi, terimaksih amang… penelasan amang betul2 mencerahkan pikiran saya… Kiranya Roh Allah menerangi saya menemukan kebenaran yang sesuai kehendakNYA.

  17. irene on July 9, 2010 at 2:21 pm

    klo perpuluhan itukan trmasuk penghasilan yg kita terima dari pekerjaan.
    tp bagaimana dgn hadiah? klo qta mnerima hadiah sejumlah uang, misal hadiah ulang tahun, apakah qta jg perlu memberikan perpuluhan dr hadiah tersebut?

    tolong djelaskan ya..soalnya aq bingung..buat aq tdk masalah memberi ato tdak, tp aq harus tau, agar aq punya fondasi yg pengetahuan yg kuat, bkn brdasarkan kira-kira saja.

    terima kasih y sblmnya :)

    Daniel Harahap:
    Sesuai namanya persepuluhan ya artinya sepersepuluh atau 10%. Apa saja yang kita terima, sepersepuluh kita persembahkan lagi kepada Tuhan sebagai tanda pengakuan bahwa Tuhanlah yang memberikannya. Namun seandainya pun tidak persis 10% Tuhan juga tidak marah. Dia mengasihi kita tanpa pamrih dan syarat. Walau begitu baik juga kita belajar taat dan disiplin, termasuk dalam memberi persembahan.

  18. yansen on November 4, 2010 at 10:03 pm

    Syaloom bpk, mohon maaf, saya belum memahami tentang “perbedaan antara PERPULUHAN dengan PERSEPULUHAN” yang bapak maksudkan. Mohon penjelasan bapak. Terima kasih. GBU

  19. Agus Rumapea on May 2, 2011 at 3:23 pm

    Amang,
    Dari Tulisan di atas ada beberapa hal yang justru masih tetap jadi pertanyaan buat saya:
    1. Apakah persembahan pada umumnya berbeda dengan Perpuluhan?
    2. Kenapa HKBP tidak membuat persembahan Perpuluhan yang disebutkan dalam maleakhi sebagai “sesuatu yang harus dilakukan”, jika memang itu “adalah milik Tuhan, bukan milikku” :)
    Konsep ini masuk ke sebagian jemaat HKBP kemungkinan besar dari gereja tetangga, yang memang menekankan bahwa jika perpuluhan tidak dikembalikan, artinya “Mencuri”, mencuri itu dosa kan amang, apalagi mencuri dari Tuhan. Kalau HKBP tidak menerapkannya artinya HBKP selama ini sudah membiarkan Umatnya mencuri milik Tuhan, atau memang Konsep Perpuluhan Tidak ada dalam KeKristenan. Tolong ini ditegaskan amang, supaya kami umat jangan malah bingung.
    3. Dari tulisan amang di atas, sebenarnya persembahan dan persepuluhan dalam konteksnya sama saja, jadi ditegaskan sajalah bahwa yang ada di dalam agama kristen sebenarnya hanya persembahan, tidak ada embel2 perpuluhan. Kalau mau melatih iman, silahkan saja sebut persembahan iman atau apalah, jumlahnya juga supaya yang bersangkutan lebih terlatih dibesarin saja jadi 20% atau lebih.

    Horas

  20. Agus Rumapea on May 4, 2011 at 2:56 pm

    Shalom Amang,

    Kita perlu ketegasan, apakah orang kriten diwajibkan membayar perpuluhan atau tidak? Karena banyak ajaran sekarang yg bersinggungan dengan kita sebagai Jemaat HKBP yang cenderung menakut-nakuti, dengan mengutip ayat di Maleaki yang mengatakan kalau kita tidak bayar perpuluhan artinya kita mencuri dari Allah dan berada di bawah kutuk.

    Dalam kasih Tuhan saya mohon jawabannya.

    Horas jala mauliate,

  21. gimhot on February 4, 2012 at 9:05 pm

    Yang Kelima: Tanda Kita tidak terikat dengan Uang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*