Apakah Itu “Martumpol”?

June 10, 2008
By

angsa-3.jpg

Tanya:

Amang, di gereja HKBP sebelum menerima pemberkatan nikah lebih dulu diadakan acara yang dinamakan “martumpol” yang di banyak gereja lain tidak ada. Apakah sebenarnya “martumpol” atau “partumpolon” itu? (Erna, Bandung)

Jawab:

Partumpolon adalah bahasa Batak. Arti hurufiahnya: berhadap-hadapan. Maksudnya kedua calon mempelai datang ke gereja bersama orangtua/ keluarga masing-masing untuk menyampaikan kesepakatan mereka untuk melangsungkan pernikahan dan membentuk rumah tangga. Pada jaman dahulu di Tanah Batak partumpolon dilakukan di konsistori atau kantor gereja dan dihadiri terbatas oleh calon mempelai dan keluarga dekatnya, dan bukan sebuah perhelatan besar.

Majelis gereja akan memeriksa kesiapan dan kesungguhan calon mempelai untuk menikah. Selain kelengkapan administrasi (akta baptis dan sidi, surat keterangan dari gereja asal bagi calon yang berasal dari luar jemaat bersangkutan) Majelis, biasanya dahulu Guru Jemaat, akan menanyakan langsung apakah mempelai masih atau tidak lagi memiliki ikatan dengan perempuan/laki-laki lain. Sesuai dengan tradisi adat lama, orangtua/ wali pengantin juga akan ditanya apakah mereka pernah membuat ikatan dengan pihak lain untuk berbesan. Jika semua sudah beres maka Majelis Gereja akan meminta mempelai dan orangtua/ wali serta para saksi menandatangani surat perjanjian atau kesepakatan untuk menikah.

Isi perjanjian itu adalah seperti ini:

Saya yang bernama…. marga… anak dari Bapak… dan Ibu…. alamat rumah…. Jemaat… Resor… dengan …. marga… putri dari Bapak…. dan Ibu…. alamat rumah …. Jemaat…. Resort…

Mengiyakan perjanjian sebagaimana tertulis di bawah ini:

Kami dengan kesungguhan dan kejelasan hati ingin menikah. Kami berjanji akan saling mengasihi sebagaimana pernikahan Kristen yang sejati. Kami juga berjanji tidak akan bercerai kecuali oleh diceraikan oleh kematian. Kami harus sepakat mentaati hukum dan aturan kekristenan gereja HKBP. Keanggotaan jemaat kami adalah benar dan kami juga tidak lagi memiliki ikatan dengan pihak lain. Seandainya ada yang hambatan dalam rencana pernikahan kami maka akan terlebih dulu kami selesaikan sebelum kami meminta pemberkatan nikah dari gereja.

Calon mempelai pria (nama, tanggal lahir, baptis, sidi)
Calon mempelai wanita (nama, tanggal, lahir, baptis, sidi)

Saksi-saksi:
Keluarga Mempelai Pria :
Keluarga Mempelai Wanita :
Penatua Wijk (dua orang) :
Yang Memperhadapkan (patumpolhon):

Warta Pertama tangal:
Warta Kedua tanggal:
Surat pemberitahuan akan dikirim ke jemaat : …. untuk diwartakan.
Pemberkatan nikah akan dilangsungkan hari/ tanggal …. pukul …. di gereja…..

Pendeta HKBP Resort
(nama dan tandatangan)

Berdasarkan surat perjanjian inilah gereja akan mewartakan rencana pemberkatan nikah kedua calon mempelai selama dua minggu berturut-turut. Tujuannya adalah agar seluruh pihak mengetahui bahwa si A dan si B merencanakan hendak menikah, sebab itu jika ada keberatan yang sah dari seseorang maka dapat diajukan sebelum pemberkatan dilakukan.

Bagaimana jika seorang calon membatalkan rencana pernikahannya setelah diwartakan oleh gereja? Itu bisa merupakan pelanggaran serius. Pihak yang membatalkan perjanjian tanpa alasan sah akan kena sanksi gereja karena dianggap membohongi Majelis. Namun jika ada masalah, sesuai klausul, kedua belah pihak diminta menyelesaikannya dahulu dan karena itu pernikahan tentu dapat ditunda.

Saya tidak memungkiri bahwa pada jaman sekarang telah terjadi pergeseran yang begitu besar dalam memaknai partumpolon. Di banyak gereja terutama di kota-kota partumpolon telah dibuat menjadi pesta besar, padahal pemberkatan belum dilakukan, dan pasangan belum resmi menikah. Akibatnya makna partumpolon sebagai pencatatan administratif dan penandatanganan kesepakatan untuk melangsungkan pernikahan menjadi kabur oleh kemeriahan.

Ada juga terjadi keanehan cara pikir. Ada yang menggabungkan acara martumpol dengan “marhata sinamot” (membicarakan mahar). Menurut logika, seharusnya acara “marhata sinamot” dilakukan sebelum martumpol. Sebab bagaimana nanti jika tidak terjadi kesepakatan mahar padahal kedua belah pihak sudah sepakat untuk meminta pemberkatan nikah dari gereja? Ada-ada saja. :-)

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

Tags: , , ,

15 Responses to Apakah Itu “Martumpol”?

  1. bella sirait on June 10, 2008 at 12:46 pm

    Amang, Terima kasih untuk tulisannya. Saya jadi mengerti apa itu martuppol, mengingat acara martumpol kami H-4 dari skrg ;) Tadinya melaksanakan acara martumpol sebagai “kewajiban”, tapi dengan tulisan ini kami jadi tahu makna martupol itu. Kami belum mengikuti konseling pernikahan, pdhl kami rindu untuk itu. Sepanjang yang sudah kami tanyakan, belum ada HKBP yang melaksanakan konseling pernikahan 3-4 bulan sebelum pernikahan, spt di gereja2 lain. Yang ada “kursus” singkat, 2 kali pertemuan “bincang2″ dg pendeta, seminggu sebelum pernikahan. Menurut saya, itu terlalu singkat. Itu saja sih sdkit uneg2 kami. Sekali lagi, terima kasih untuk tulisannya amang. Tuhan memberkati.

    Daniel Harahap:
    Selamat mempersiapkan pernikahan Bella. Kebahagiaan itu mesti diciptakan dan dilakukan bersama-sama Tuhan. Kalau sudah menikah, datang saja ke Serpong, mengikuti katekisasi ulang pernikahan. :-)

  2. ellen on June 10, 2008 at 2:05 pm

    di jogja udah jd kebiasaan Amang partupolan dan marhata sinamot digabung jd 1 hari. jadi kami martupol dl setelah itu baru acara marhata sinamot di sopo godang gereja. waktu itu saya juga sempat bertanya-tanya kalo nantinya ga sepakat mengenai sinamot gimana ya, masa harus batal. untungnya jauh hari sebelumnya udah ada kata sepakat waktu marhori-hori dinding, acra marhata sinamot itu jdnya kaya formalitas aja bahwa udah disaksikan oleh banyak pihak. mana pas acara pake skenario tawar menawar pula katanya natua-tua itu biar seru. trnyta orang tua gemar sekali berlama-lama di acara adat padahal kami yg sebagai calon pengantin udh bosan berlama-lama mendengar orang tua tawar menawar dengan memakai pantun2.

  3. Gerda Silalahi on June 10, 2008 at 2:13 pm

    bang,
    martumpol itu wajib gak sih?

    daniel harahap:
    Kalau di HKBP hukumnya: wajib. :-)

  4. jeremy on June 10, 2008 at 4:20 pm

    Amang, apakah benar kalau martumpol dengan pernikahan seharusnya berjarak 3 bulan untuk konseling? karena ada HKBP yang seperti itu, ada yang hanya 1 minggu jaraknya, tetapi ini pengalaman juga amang waktu itu temanku menikah dengan orang gereja anglican, wah malah terheran2 koq bisa martumpol dengan pernikahan 1 minggu jaraknya??? yang betul gimana tuh amang?

    Daniel Harahap:
    Aturan HKBP menetapkan bahwa rencana pernikahan harus dua kali diwartakan. Jika karena waktu yang sangat sempit (misalnya: cuti pengantin yang terbatas dll) hanya satu kali diwartakan maka itu harus dengan dispensasi pendeta resort. Mengenai waktu katekisasi pernikahan tidak ada diatur. Namun yang ideal menurut saya katekisasi pernikahan dilakukan jauh hari sebelum martumpol sehingga calon mempelai masih punya waktu untuk mundur seandainya ada hal yang sangat luar biasa.

  5. Uli on June 10, 2008 at 7:17 pm

    Amang pendeta,
    Menurut UU Perkawinan, pernikahan harus sesuai dengan ajaran agama ybs. Logika saya, jika pernikahan harus sesuai ajaran agama, tentunya perceraian juga harus sesuai ajaran agama ybs.

    Saya heran, mengapa Catatan Sipil bisa mengesahkan perceraian pasangan HKBP atau Katolik, padahal gereja ybs tidak mengijinkan? Bukankah apa yang dilakukan Catatan Sipil itu melanggar UU Perkawinan?

  6. diory on June 11, 2008 at 8:29 am

    terima kasih amang buat pembahasan martumpolnya, karna kebetulan saya jg akan menikah bulan 11 dan cami saya anggota HKBP yg hukumnya wajib ada martumpol sebelum hari H.

    saya anggota gereja oikoumene dan di gereja sayalah nanti pemberkatan diadakan, tp sebelum pemberkatan, martumpol akan dilakukan di HKBP cami. Saya jg ada masalah dgn martumpol yg 2 minggu sebelum hari H karna mama saya kerja di medan jd tdk memungkinkan u/ cuti selama 2 minggu sampai menjelang hari H. Apakah u/ hal ini bisa dikonsultasikan ke pihak gereja?

    Daniel Harahap:
    Di gereja HKBP warta rencana pernikahan dapat dilakukan hanya satu kali namun dengan dispensasi oleh pendeta resor, sebab itu dikomunikasikan saja ke pendeta hkbp dimana “cami” diory terdaftar. :-)

  7. harnata simanjuntak on June 11, 2008 at 8:41 am

    jika tidak disepakati mahar, berarti cukuplah pamasu-masuon. tak usah diadati. harusnya begitu ya. tapi mana boleh, kata orang tua-tua. Ba lok sundat, molo dang olo halaki nasa i sinamot na. asing dope pangompana. di hita ikkon dua bus. nga sampulu juta i. Kalau sudah begini, sebenarnya yang mau kawin itu siapa? :-)

  8. maria on June 11, 2008 at 9:44 am

    Amang Pendeta..
    Website ini unik luar biasa, saya yang notabenenya bukan orang batak, jadi tertarik untuk belajar batak :D
    Ternyata semua memang ada artinya selama dijalankan sesuai dengan aturannya, mungkin kelihatannya berbeda-beda antara satu gereja dengan gereja lainnya, tapi its AMAZING…..
    Semua untuk kemuliaan Tuhan

  9. Siagian on September 29, 2008 at 4:09 pm

    Amang Pdt.bagaimana sebenarnya tentang aturan
    -) “Mangalua”apakah wajib harus tinggal di rumah Guru Huria sebelum Pamasumasuon?
    -) “Kurang Umur”anak lahir belum cukup umur bagaimana respon Gereja

  10. tika on April 16, 2009 at 4:59 pm

    Amang, gimana kalo pasangan kita itu bukan org batak, apa martumpolnya tetep harus diadain?

  11. A.K.P. Panggabean on April 17, 2009 at 1:46 pm

    Martumpol itu bahasa Inggrisnya “ENGAGEMENT” yang artinya tunangan.

  12. Olivia E.S on April 18, 2009 at 10:32 am

    Pd dsrnya semua acara kegiatan yang ada di HKBP yang sudah terstandard mempunyai arti dan bila dibahas penuh dengan filosofi agar kehidupan tertata dengan baik. Hal2 semacam ini memang jarang dibahas atau di jemaatkan/sosialisasikan kpd jemaat/ruas shg banyak ruas menganggap suatu kegiatan itu adalah wajib/harus tanpa mengerti maknanya kenapa begini/kenapa begitu, setelah dijelaskan dan mengerti baru merasa..wah kalau begitu..bagus dong aturan atau liturgi HKBP itu.
    Di greja HKBP umumnya sehabis martumpol baru dilakukan konseling pra nikah umumnya hanya 1 kali kalau ada permintaan khusus baru 2 kali. Tapi ada juga yg tdk sama, di HKBP Tebet konseling pra nikah dilakukan 3 bln (anak sy konseling disana krn cami dr Tebet) kenapa hal itu tidak berlaku utk semua greja HKBP amg? Kenapa wktnya tidak testandart? Mengingat calon pasangan pengantin yg berasal dari dua kel yg berbeda baik latar belakang kel, asal, tkt pendidikan, kebiasaan, budaya, ekonomi dll dalam hidup perkawinan mula2 untuk berinteraksi, komunikasi mereka akan menghadapi tidak sedikit kendala. Untuk itu saya pikir dijaman yang semakin canggih ini 1 kali konseling tidaklah cukup, paling sedikitnya 3 bulan dengan pelayanan dari hamba Tuhan yang mengerti akan hidup perkawinan orang Kristen dan berdedikasi tinggi, agar pasangan itu siap secara firman Tuhan dlm mengarungi bahtera perkawinan, menghadapi masalah2 yg mungkin terjadi dlm hdp RTnya kelak dan sekaligus untuk mencegah/mengurangi perceraian pada pasangan2 muda. Usul ini sdh sering sy sampaikan di greja km tp sampai saat ini msh adem ayem. Gmn amg, amg saja yg usulin ke Pusat spy ter standart. he..he..Tk.

  13. mazasi on July 6, 2009 at 1:57 pm

    Cukup indah kedua calon mempelai datang ke gereja bersama orangtua/ keluarga masing-masing untuk menyampaikan kesepakatan mereka untuk melangsungkan pernikahan dan membentuk rumah tangga, apakah sebelumnya tidak ada konseling dari gereja sebelum martumpol ini kepada calon mempelai berdua tanpa campur tangan siapapun dari keluarga hanya berdua diselidiki oleh gereja dan dikukuhka niatnya melalui kursus keluarga, akan lebih indah dan mengerti membina rumah tangga keluarga kristen.

    Pada jaman dahulu di Tanah Batak partumpolon dilakukan di konsistori atau kantor gereja dan dihadiri terbatas oleh calon mempelai dan keluarga dekatnya, dan bukan sebuah perhelatan besar, sebenarnya . sangatlah bagus sehingga greja dan keluarga mempelai bisa konsentrasi
    terhadap kesepakatan”yang dipersatukan Tuhan tidak bisa diceraikan oleh siapapun”, tidak terkontaminasi oleh biaya-biaya parhelatan, cukuplah partumpolon i di hadiri terbatas, dan kalau ada dari catatan spil bisa kita datangkan juga pada saat itu, sehingga acara liturgi partumpolon dapat dihadiri keluarga saja dan acara paradaton atau parhelatan tersendiri juaga, ya amang pandita , ini hanya usul bila dapat dijadikan berbagai pertimbangan karena besarnya biaya parhelatan menjadi 2 kali yaitu parhelatan partumpolon dohot parhelatan unjuk, contoh yang bisa diirit molo pengantin inkon 2 ma bajuna, sedangkan biaya menjahit baju pengantin sudah diatas ni juta dll. Trima kasih GBU

  14. henri siregar on July 27, 2012 at 12:16 pm

    Horas Amang..

    Mauliate ma to amang ala ungga di patakkas amang ma artini martuppolan di son…

    Mauliate amang…

  15. Chaca on June 27, 2013 at 12:31 pm

    Amang saya mau tanya klo acara adat batak yang namanya dialap denggan biaya martumpol itu siapakah yang bayar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*