Jangan Cerai Kecuali?

June 9, 2008
By

bird-12.jpg

Tanya:
Amang, saya melihat ada dua orang Kristen yang bercerai bukan karena kematian, menikah dan menjalani pemberkatan pernikahan di sebuah gereja (bukan HKBP). Bolehkah itu? Dan apakah HKBP juga menjalankan praktek yang seperti itu? (Nita, Jakarta)

Jawab:

Gereja HKBP memang melarang perceraian sebagaimana diatur dalam Ruhut Parmahanion & Pamisangon (RPP) atau dalam (Bahasa Indonesia: Hukum Penggembalaan dan Siasat) dan juga janji pernikahan di Agenda Pernikahan HKBP. Itu berdasarkan firman Tuhan “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9).

Sebab itu gereja HKBP menganggap janji pernikahan sebagai sesuatu yang permanen atau final, ibarat patok yang tidak bisa dicabut lagi kecuali oleh kematian. Kita harus setia kepada pernikahan kita dalam suka maupun duka, sehat atau sakit, sampai maut memisahkan. Gereja hanya menerima wewenang dari Tuhan untuk melayani pernikahan dan bukan perceraian. Sebab itu dalam usianya yang jelang 150 tahun dan telah mengeluarkan puluhan ribu akta pernikahan (perkawinan) HKBP belum pernah satu kali pun menerbitkan akta perceraian.

Sebagai seorang pendeta dan teolog saya bukan hanya wajib taat kepada azas ini tetapi juga setuju. Bagi saya perceraian itu tetap adalah sebuah tindakan yang buruk. Selain mengorbankan anak-anak yang tidak pernah meminta dilahirkan dan tidak pernah dapat memilih orangtuanya, perceraian sangat merusak makna pernikahan sebagai lambang perjanjian kasih setia Kristus kepada umatNya (lihat Efesus 5:21-33, Wahyu 19:7, 21:22).

Mungkin ada yang mengatakan lantas bagaimana dengan firman Tuhan yang mengatakan bahwa perceraian dimungkinkan bila ada perzinahan? (Lihat: Matius 5:32). Terhadap orang yang berpendapat seperti ini kita juga harus mengatakan bahwa istilah perzinahan itu sangat luas. Yesus sendiri mengatakan dalam Matius 5:28 Siapa saja yang memandang perempuan dan menginginkannya maka dia sudah berzinah. Pertanyaan: siapakah kalau begitu yang tidak pernah berzinah sepanjang hidupnya? Apakah karena itu semua orang harus bercerai? Berhubung perzinahan itu sangat luas cakupannya dan sukar dibuktikan maka gereja berpendapat menolak perceraian termasuk karena tuduhan perzinahan. Sebaliknya gereja mendorong pasangan yang terluka karena perzinahan agar saling mengampuni dan bertobat serta memulihkan janji pernikahan kudusnya yang dianggap sebagai simbol hubungan kasih-setia Tuhan dan gerejaNya.

Bagaimana dengan pasangan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah lebih baik gereja mengijinkan perceraian daripada membiarkan kekerasan terus terjadi? Menurut saya dua-duanya harus ditolak, artinya kekerasan memang harus dihentikan segera (salah satu caranya adalah dengan berpisah ruang sementara) namun tetap tidak ada perceraian. Selama masa “retret” atau pemisahan sementara itu kedua pasangan dapat berdoa dan merenung dan yang melakukan kekerasan mendapat kesempatan untuk bertobat agar tidak melakukan lagi kejahatan itu.

Lantas bagaimana dengan perceraian karena tidak memiliki keturunan? Itu pun tidak dapat dibenarkan. Tujuan pernikahan bukan hanya untuk memiliki anak, tetapi untuk saling mengasihi dan saling membahagiakan, serta untuk memuliakan Tuhan. Sebab itu ketiadaan anak tidak bisa dijadikan pembenaran perceraian.

Di HKBP seorang yang menceraikan pasangannya dihukum dengan cara mengeluarkannya dari persekutuan gereja dan memaklumatkannya di warta jemaat. Jika perceraian itu disetujui oleh dua pihak maka dua-duanya dihukum oleh gereja. Namun jika yang seorang tidak setuju maka hanya yang menyetujui perceraian itu yang dihukum. Orang yang ditinggalkan pasangannya itu boleh menerima pemberkatan nikah lagi di gereja jika bekas pasangannya itu sudah menikah lagi. Sebaliknya, orang yang dihukum oleh gereja, boleh kembali ke gereja dan mendaftar jadi anggota pelajar (ruas parguru) jika istrinya yang pertama sudah menikah lagi.

Gereja HKBP menghormati keputusan lembaga pengadilan namun tidak dalam kasus perceraian. Walaupun suatu pasangan sudah diputuskan oleh pengadilan bercerai gereja HKBP tidak mengakuinya. Mengapa? Karena kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia (Kis 5:29).

Share on Facebook

14 Responses to Jangan Cerai Kecuali?

  1. Yohanna on June 9, 2008 at 4:15 pm

    Amang sekarang makin banyak keluarga yg cerai, baik orang batak dari HKBP, atau yg lainnya. Bagai mana kalau [HKBP] membuat jalin kasih untuk jemaat yg bermasalah keluarganya agar rukun kembali. TETAPI tetap menjaga kerahasiaan keluarga yg bermasalah. Sehingga mereka menjadi keluarga bahagia dan TAKUT AKAN TUHAN. Damai dihati, damai di bumi.Amin.

    Daniel Harahap:
    Setuju sekali Yohanna. Ini pekerjaan yang sangat berat dan banyak. Pertama yang harus dilakukan adalah membenahi sistem katekisasi pra nikah di gereja HKBP. Selama ini katekisasi pra nikah dianggap bukan hal serius. Kedua: melakukan kegiatan penyegaran bagi keluarga2 yang sudah 5, 10 atau 20 tahun menikah. Ketiga: di masa depan menyatukan komisi ibu (punguan ina) dan komisi bapak (punguan ama) di HKBP menjadi komisi dewasa. Keempat: mengaktifkan persekutuan keluarga muda. dll. Pertanyaan: siapa yang mau membantu melakukannya? :-)

  2. Haposan Manurung on June 9, 2008 at 4:56 pm

    Horas Amang, saya sudah sering membaca Ruma Metmet tapi baru sekali ini posting..
    Saya setuju sekali dengan pendapat Amang kalo Katekisasi Pra Nikah di HKBP harus diperbaiki dan perbaikannya total. Jangan hanya sekedar syarat saja tapi bisa sampai menyelidiki niat tulus masing2 calon pengantin untuk berumahtangga. Bagaimana kesiapan hati masing2 utk bisa berkomunikasi dgn baik dengan Mertua masing2 en keluarga besar. Demikian juga setiap calon pengantin bisa terbuka kepada pasangannya tentang hal-hal prinsip seperti pekerjaan, keuangan, dan pengalaman buruk saat kecil yg bisa mempengaruhi kehidupan rumah tangga. Intinya gereja seharusnya punya beban moril saat rumahtangga tersebut memiliki masalah setelah mereka menikah. Apalagi sekarang sang Iblis sekarang semakin canggih bekerja untuk merusak rumah tangga bukan hanya perzinahan suami ke wanita lain tapi juga bisa dengan pria lain. Demikian juga dengan perzinahan istri bisa dengan wanita lain. Ini sudah semakin banyak terjadi di kota2 metropolis yang mendewakan materi dan hedonisme. Mungkin perlu disiasati oleh Gereja di masa2 sekarang ini.

    Daniel Harahap:
    Ya inilah tantangannya. Kita harus mendorong gereja menyusun kurikulum katekisasi pra nikah yang menetapkannya sebagai kewajiban di seluruh HKBP. Namun sekali lagi: bagaimana kita mewujudkannya segera?

  3. Gerda Silalahi on June 10, 2008 at 2:33 pm

    menurutku inilah salah satu keluar-biasaan dari HKBP (selain dari jemaatnya yang besar dan pengurusnya sering berantem itu). diantara gereja-gereja arus utama, HKBP kukuh untuk bertahan untuk menolak perceraian. disatu sisi ini baik adanya untuk mencegah perceraian dengan seenaknya. disisi lain, kasihan juga pada rumah tangga yang bak neraka jika harus terus dilanjutkan karena KDRT dan perselingkuhan. mungkin juga hal ini dipengaruhi oleh adat batak dalam HKBP, bahwa kita orang batak juga sebisa mungkin mengharamkan perceraian.

    Daniel Harahap:
    Kesimpulannya: tolak perceraian dan tolak juga kekerasan. Perselingkuhan? Ya tolak juga! :-)

  4. Uli on June 10, 2008 at 7:27 pm

    Yang sulit, jika hanya salah satu dari pasangan itu yang takut Tuhan, yang satunya cuek saja :-( . Lalu yang takut pada Tuhan harus terus bertahan? Kasihan sekali terkungkung dalam neraka perkawinan hingga maut menjemput. Kalo umurnya panjang, lebih malang lagi nasibnya :-(

  5. rumanap on June 12, 2008 at 10:53 am

    Salah satu dampak dari lahirnya partai baru. PSTI (Partai Suami2 Takut Istri). adalah lahirnya kebijakan baru: KDRT. Dari sudut pria : Untuk menutupi kelemahannya seorang suami berusaha keras untuk tidak takut, bahkan cenderung Berani. Cuman yang jadi pertanyaan. Mana lebih bahaya.. Suami takut istri atau Suami berani sama istri ? Dan agar pertanyaan ini semakin jelas, coba tambah kata doang di belakang dua pertanyaan tsb. Mana lebih bahaya, Suami takut istri doang atau Suami berani sama istri doang? Sebagai suami sy tidak akan memilih satu pun dari pilihan tsb. Krn saya hanya takut Tuhan

  6. martina on July 7, 2008 at 7:11 pm

    Saya mau tanya, tolong Amang jawab ya.
    Karena sampai sekarang, ini jadi bebanku.
    Saya punya teman kantor, sebut saja si A, yang sudah beristri & punya 1 anak, tapi sudah ke 2 kali ini selingkuh.
    Selain dekat dg si A, saya juga dekat dg istrinya.
    Saya sdh mencoba memberi nasehat baik itu dg ayat2 Alkitab & juga memberi dia buku inspirasi hidup.
    Tapi yang istrinya takutkan, hal ini akan terulang lagi & lagi.
    Yang ingin saya tanyakan :
    1. Apakah benar si A terkena ‘dosa turunan’? Yg akan terulang lagi & lagi?
    2. Apakah benar hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan dia? Walaupun niat sembuh itu ada dlm dirinya?

    Daniel Harahap:
    Hmmm… itu pertanyaan menarik. Saya endapkan dulu. Nanti saya respons ya?!
    :-)

  7. Monang Sirait on August 5, 2008 at 9:53 pm

    Amang! Saya sangat terkesan dgn buku penyu menuju pantai, tapi saya cari di Immanuel gak ketemu. Dijual dimana ya Amang?

    Judul, Jangan cerai kecuali? Oleh kematian tentunya! Tapi bagaimana jika istri yang asyiik sendiri dengan dunianya, dan mengabaikan keluarga? Kewajiban kepada suami/ anak2 tdk pernah dilaksanakan? Oh Amang, sekalian minta tolong ya! Ada ruas kita, yg sudah maranak marboru, sudah marpahompu sian boru, mangoli lagi sama halak ion. Huria sudah menjatuhkan RPP, sdh dijalani dgn baik, sdh marminggu lagi setelah manopoti, dan membuat pernyataan tdk akan menemui lagi istri keduanya. Tapi laporan sintua sektor, sekarang ribut lagi, karena istri pertama tdk bisa mengampuni. Inang ini masih tetap sakit hati, dia kerahkan anak2 untuk “memusuhi” suaminya/ bapaknya anak2. Satu rumah tapi suami istri pisah kamar, dan suami harus sendok nasi sendiri.

    Daniel Harahap:
    Tentang buku Anak Penyu Menggapai Laut bisa dipesan langsung ke harahapdaniel@yahoo.com
    Tentang kasus pernikahan di atas saya sulit memberikan komentar, karena biasanya penyelesaian kasus demikian harus dengan melihat sendiri kasusnya secara langsung dan mengkajinya secara mendalam. Barulah kita bisa mencari solusinya. Saran saya biarlah itu menjadi tugas pendeta jemaat yang bersangkutan.

  8. eta on August 20, 2008 at 3:10 pm

    saya pernah menikah di geraja katolik (saya asal jemaat HKBP). Setelah bercerai 10 thn lalu (mantan suami sudah menikah lg) saya sudah pengakuan dosa lg di HKBP. Sekarang saya ingin menikah lg dan calon saya jemaat HKBP jg. Yang jd pertanyaan saya sekarang ; 1. apakah saya bisa di berkati di gereja HKPB ? 2. apakah syarat yang akan saya penuhi apabila saya akan diberkati di gereja HKBP calon suami ?(saya jemaat HKPB daerah). 3. perlukah status saya sekarang saya beritahu ke gereja HKBP tempat saya akan diberkati nanti ? 4.apakah bila diberkati nanti status saya yg pernah menikah akan diumumkan?

    Daniel Harahap:
    (1) Bisa. Jika suami sudah menikah (dan bisa dibuktikan) tidak ada halangan bagi ito menikah di di gereja HKBP.
    (2) Mendaftar di jemaat dimana calon suami terdaftar atau jemaat HKBP lain sebagai ruas parguru (anggota magang/ pelajar) untuk selanjutnya menjadi anggota penuh. Atau kembali ke jemaat HKBP asal dan mendaftar ulang di sana sebagai ruas parguru, lantas setelah diterima penuh bawa surat pengantar untuk menikah ke jemaat hkbp dimana calon suami terdaftar.
    (3) Yang paling pokok diberitahu adalah kepada jemaat HKBP dimana ito akan mendaftarkan diri sebagai anggota parguru.
    (4) Tidak. Emangnya HKBP usil atau kurang kerjaaan? :-)

  9. Lidia on September 26, 2008 at 3:55 pm

    Horas Amang

    Kursus pranikah penting banget loh amang, Saya sudah menjalaninya selama 6 bulan di salah satu gereja, tapi saya menikah di HKBP. Materinya bagaimana pacaran yang benar, kegiatan apa yang dilakukan jika ketemu pacar, menjaga kekudusan, keuangan keluarga, komunikasi, pengenalan karakter pasangan, keluarga Kristen, mendidik anak…dll. Kita dapat buku panduan (Tebal banget, judulnya Dua menjadi satu dalam Kristus), tiap akhir bulan di test. Saran saya bagaimana kalau HKBP membuka kursus pranikah. kan jemaat banyak yang mau nikah, trus trainernya pendeta, profesional, psikolog dan keluarga kristen yang sudah berhasil dalam rumah tangga (natua – tua).

  10. Diana JPS on April 7, 2009 at 4:27 pm

    Amang, saya punya teman yg RT nya lagi kacau. mereka anggota gereja HKBP juga tapi di daerah. Usia pernikahan mereka baru +/- 3 thn, tentunya Umur pernikahan yang masih sangat muda ya amang, tapi rumah tangga ini sudah hancur amang, sebab si suami sdh menikah lagi dgn mantan pacarnya,dan sdh punya anak 1, sedang dari istri pertama juga memiliki seorang putri yang beda usianya cuma 2 bln.

    yang mau saya tanyakan amang :
    1. apakah istri pertama bisa menikah lagi ??
    2. Apakah si istri salah jika ia tdk menerima suami nya lagi kembali sebab si istri lebih memilih hidup bersama anaknya saja.
    3. Sikap yg bagaimana yang harus dilakukan si istri menghadapi keluarga dari pihak suami yang semuanya mendukung nya untuk menerima kembali si suami ??
    4. Apakah perlu dilakukan proses perceraian secara hukum ??

    Mohon tanggapan Amang.

  11. antox on April 14, 2009 at 10:07 am

    Maap pak Pdt., saya ingin ingin menyampaikan pendapat saya..khususnya tulisan yang ini:
    ====
    “Di HKBP seorang yang menceraikan pasangannya dihukum dengan cara mengeluarkannya dari persekutuan gereja dan memaklumatkannya di warta jemaat. Jika perceraian itu disetujui oleh dua pihak maka dua-duanya dihukum oleh gereja. Namun jika yang seorang tidak setuju maka hanya yang menyetujui perceraian itu yang dihukum. Orang yang ditinggalkan pasangannya itu boleh menerima pemberkatan nikah lagi di gereja jika bekas pasangannya itu sudah menikah lagi. Sebaliknya, orang yang dihukum oleh gereja, boleh kembali ke gereja dan mendaftar jadi anggota pelajar (ruas parguru) jika istrinya yang pertama sudah menikah lagi”
    ====
    Secara tidak langsung masih ada “celah” untuk cerai…bahkan dua2nya masih bisa menikah lagi di HKBP….
    (Yang dihukum kembali dan mendaftar menjadi anggota pelajar setelah pasangannya menikah lagi, kemudian mjd jemaat, dan menikah lagi…)

    Saya jadi bingung..

  12. santi on May 21, 2009 at 5:30 pm

    pak pendeta, bagaimana dengan suami yg sdh meninggalkan isterinya dan 2 org anaknya laki2 selama 16 tahun, hancur karena taroha ina dan taroha ito, suka mukulin, sadis, tampa memberikan nafkah lahir dan bathin, akhirnya isteri mengugat cerai suami di pengadilan dan perwalian anak jatuh ke isteri, skrg isteri menikah lagi di luar negeri (suami WNA), suaminya sayang sama dia dan anak2nya, dan anaknya juga sayang sekali sama ayah pengantinya, yg jadi pertanyaan bolehkah mereka kembali mendaftar sebagai jemaat hkbp?

    Daniel Harahap:
    Menurut Aturan HKBP kalau suaminya yang pertama sudah menikah lagi, jawabnya: boleh. Tapi kalau suaminya yang pertama itu tidak menikah lagi, maka jawabnya juga tidak.

  13. santi on May 28, 2009 at 8:23 am

    enggak adil donk namanya pk pendeta, kalau suami tdk kawin lagi tapi asyk masyuk terus dgn perempuan, koq jadi mantan isteri terganjal dari HKBP? terus nanti kalau anaknya kawin boleh enggak bpk pengantinya yang mengawinkan dan yg berdii di depan (atas permintaan anak)?

  14. Ario on September 3, 2013 at 1:05 pm

    Izinkan saya bertanya.
    ini kasus salah seorang teman saya bukan kasus saya,beliau minta tolong untuk dimintakan pendapat baik dari gereja atapun dari kalangan yang paham akan adat batak khususnya batak toba.
    SEbagaimana kita ketahui mayoritas jemaat HKBP adalah etnis batak toba,setiap pernikahan yg dilakukan di gereja HKBP pasti diumumkan di khalayak ramai dan biasanya dilanjutkan dengan tradisi adat batak berupa adat(membayar adat kepada hula-hulanya )
    Saya setuju pernikahan dalam ajaran gereja hanya dikenal sekali dalam seumur hidup tidak boleh dipisahkan kecuali maut yg memisahkan.
    Teman saya ini sudah berumah tangga 13 tahun dan elah dikarunia dua orang anak perempuan.namun belakangan ini ada yg mengganjal buat di mempelai wanita. bahwa rumah tangganya sudah tidak bisa dipertahankan lagi.penyebabnya adalah (maaf sebelumnya ) suaminya sudah tidak memiliki birahi dengan istrinya, bukan berpaling ke wanita lain namun mengidap kelainan seksual alias Homo seksual,berbagai terapi sudah dilakukan tapi hasilnya nihil,sampai detik ini kebutuhan biologis tidak sanggup lagi diberikan kepada istrinya.

    Pertanyaan:
    1.apakah boleh sang wanita menggugat bercerai atau meninggalkan suaminya ?
    2.jika sang suami ditinggalkan apakah wanita bisa dituntut oleh suami dengan denda adat ?
    demikian pertanyaan saya,besar harapan saya ada yg bisa memberikan pandangan yang bisa dijadikan bahan pemikiran untuk melangkah kedepannya.
    sekian pertanyaan saya
    Horas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*