LAGU PUJI-PUJIAN: UNTUK TUHAN ATAU DIRI SENDIRI?

June 7, 2008
By

241398322l.jpg

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap


Pendahuluan


Lagu puji-pujian adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kekristenan atau gereja. Bahkan bagi orang-orang luar, lagu atau nyanyian pujian itu sudah dianggap sebagai cap, label, atau cirri khas gereja atau orang-orang Kristen. Dimana ada gereja bahkan orang-orang Kristen di situ ada nyanyian. Dimana banyak nyanyian pasti di sana ada orang-orang Kristen. Di gereja-gereja yang berlatar kultur Batak (HKBP, GKPI, GKPS, HKI dll) lagu-lagu pujian itu bahkan semakin hebat dan semarak karena mendapatkan “bensin” kultur Batak yang gemar bernyanyi. Namun mungkin baik juga kita sesekali kita bertanya ulang: apakah sebenarnya makna lagu puji-pujian bagi gereja atau kehidupan kristen?

PERTAMA: Siapa dipuji dan siapa memuji.

Pertanyaan pertama yang harus kita ajukan adalah: sebenarnya siapakah alamat lagu puji-pujian orang Kristen. Kepada siapakah orang-orang Kristen mempersembahkan lagu-lagunya? Barangkali dengan cepat kita akan menjawab: Tuhan Allah. Jawaban itu sungguh tepat. Namun baiklah kita bertanya lagi, apakah benar memang Tuhan Allah yang sedang dipuji bila si Kristen apalagi yang sekaligus Batak ini bernyanyi? Untuk itu
penulis ingin mengangkat beberapa contoh:


a) Beberapa saat terakhir gereja-gereja sangat gemar menyelenggarakan Pesta Paduan Suara, mulai dari tingkat jemaat, resort, distrik, sinodal atau bahkan nasional (Pesparawi). Jika benar memang Allah yang dipuji, pertanyaan penulis, mengapakah orang begitu berambisi untuk menang dan mendapatkan piala, dan seringkali sangat kecewa atau bahkan marah dan “mengamuk” jika kalah? Bahkan dalam beberapa kasus, mengapa ada kelompok paduan suara yang tega curang asalkan menang festival? Jujur, ketika kita melantunkan lagu pujian dalam kelompok Paduan Suara atau Vokal Group gereja, sebenarnya untuk siapakah lagu itu: untuk Tuhan atau untuk diri (kebanggaan) sendiri?

b) Ada kebiasaan di beberapa gereja, yang juga mulai masuk ke dalam kehidupan gereja-gereja Batak, selalu memberikan applaus atau tepuk tangan saban sebuah paduan suara, vokal group atau penyanyi solo bernyanyi dalam ibadah. Jika memang lagu itu diperuntukkan bagi Tuhan, bukankah seharusnya yang bertepuk tangan adalah Tuhan dan para malaikatnya di surga?


c) Kelompok-kelompok penyanyi apalagi di gereja HKBP seringkali berebut mendapat kesempatan bernyanyi di jam-jam kebaktian “utama” atau ramai pengunjung, terutama saat natal. Sebaliknya enggan bernyanyi di jam-jam sepi. Jika memang lagu pujian itu benar-benar dipersembahkan untuk Tuhan, mengapa semangat bernyanyi itu sangat terpengaruh dan tergantung ramai-sepinya gereja (baca: manusia)?


d) Gereja HKBP sebenarnya menempatkan penyanyi di barisan jemaat menghadap altar, hendak mengatakan nyanyian sebenarnya lebih merupakan doa atau suara umat kepada Tuhannya, yang disimbolkan dengan salib besar di dinding. Namun jemaat sekarang tidak puas jika bernyanyi menghadap altar atau Tuhan, dan selalu kepingin berdiri di altar menghadap jemaat. Sebenarnya lagu itu untuk siapa?


Ke empat contoh di atas menyadarkan kita dalam praktek lagu puji-pujian orang Kristen bisa menyimpang dari tujuan aslinya sebagai pujian kepada Allah. Di sinilah kita menyadari ada godaan bagi orang Kristen mengkorupsi kemuliaan Tuhannya. Alih-alih memuliakan Tuhan orang Kristen malah mencari kemuliaannya sendiri. Alih-alih melayani jemaat memusatkan dan memfokuskan perhatiannya kepada Tuhan yang disimbolkan hadir di altar, malah menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian jemaat (dengan sikap, penampilan, busana, dan gaya dll). Inilah bahaya yang harus selalu disadari para pelayan ibadah termasuk para penyanyi dan pemusik.


Pergeseran tujuan puji-pujian dari Tuhan Allah kepada manusia, selanjutnya perubahan altar menjadi “panggung”, pelayan menjadi “bintang” dan jemaat jadi “penonton”, semakin diperparah dengan masuknya budaya entertainment dan showbiz ke dalam kehidupan gereja. Pada jaman “imantainment” seperti sekarang kita benar-benar sulit membedakan apakah jemaat sedang memuji Allahnya atau sekedar menyenangkan dirinya sendiri.


Pada awalnya lagu-lagu pujian atau mazmur adalah milik umat. Seluruh jemaat bernyanyi memuji-muji Allah. Miryam bernyanyi (Kel 15:20-21), Debora bernyanyi saat di peperangan (Hakim 5), dan Hana ibu Samuel bernyanyi. (I sam 2), Daud memuji di jalan dan pelataran Bait Allah (I Taw 15:29). Zakaria bernyanyi (Luk 1:46-55) Zakaria ayah Yohanes Pembaptis bernyanyi (Luk 1:67-79), Simeon tua bernyanyi (Luk 1:28-32) dan
Paulus di penjara (Kis 16:25). Sebelum umat Israel masuk ke Kanaan dan mendirikan Bait Allah sebenarnya belum ada profesi penyanyi dalam keagamaan Israel. Kelompok khusus penyanyi ibadah baru ada setelah jaman raja-raja. (baca kitab Tawarikh).


Hadirnya para penyanyi khusus Bait Allah membawa keuntungan dan kerugian sekaligus. Keuntungannya: lagu-lagu pujian semakin merdu dan indah, karena dinaynyikan oleh orang-orang pilihan bersuara emas. Kerugiannya: jemaat menjadi pasif. Dalam gereja HKBP terkadang kesempatan bernyanyi jemaat malah sengaja dikurangi untuk memberi kesempatan koor bernyanyi.

KEDUA: DIMANA DAN KAPAN MEMUJI TUHAN?

Jika hal itu ditanayakan maka banyak orang akan mudah mengatakan di gereja dan saban minggu. Jawaban itu tepat. Secara bersama-sama orang Kristen memuji Tuhan di tempat yang tetap dalam waktu pertemuan rutin yaitu hari Minggu. Namun itu saja tidak cukup.

Alkitab kita menyaksikan umat memuji Tuhan pagi hari (Maz 59:17, 92:3) dan malam hari (Maz 42:9), bahkan tengah malam (Maz 119:62), pada segala waktu (Maz 34:2), selama-lamanya (Wahyu 5:13, Maz 41:14). Selanjutnya Alkitab menyaksikan bahwa umat bernyanyi di segala tempat, tidak hanya di Bait Allah: Miryam bermazmur di tepi laut Merah (Kel 15:20-21), dalam peperangan (Yosua 6), di Bait Allah (I Sam 2), dan Daud bernyanyi di jalan dan pelataran Bait Allah. Semua itu menyadarkan kita lagu puji-pujian seharusnya pertama-tama dan terutama dilantunkan di kehidupan sehari-hari, yaitu rumah kita sendiri. Inilah yang hilang dalam kehidupan rumah tangga Kristen kota.

Kebiasaan bernyanyi di rumah telah digantikan oleh kaset, CD, radio dan televisi. Lagu pujian telah berpindah dari meja makan dan ruang keluarga ke gedung-gedung khusus. Lagu pujian bukan lagi milik jemaat kebanyakan tetapi penyanyi-penyanyi elit. Baiklah kita kembali menyadarkan diri kita bahwa tempat paling ideal memuji Tuhan adalah
ruang keluarga kita, meja makan kita, rumah kita sendiri. Di rumah, di tengah-tengah keluarga sendiri, kita bernyanyi memuji Tuhan dengan ikhlas tanpa mengharapkan applaus dari orang lain, piala penghargaan atau hadiah. Sebab itu seperti kata Yesus, Bapa yang berada di tempat tersembunyi juga mendengarkan lagu itu dengan sukacita.

KETIGA: BAGAIMANA MEMUJI TUHAN?


a) Memuji Allah dengan syair dan lagu. Ibrani mengatakan: “Marilah kita senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namanNya” (Ibr 13:15). Itulah sebabnya pemazmur mengatakan, “Ya Tuhan bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan pujian-pujian kepadaMu” (Maz 51:17). “Mulutku akan penuh dengan puji-pujian kepadaMu” (Maz 71:8, 145:21). “Lepaskanlah aku, ya Allah, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilanMu” (Maz 51:15).


Kita lihat kitab Mazmur penuh dengan ajakan bernyanyi memuji Tuhan (Maz 13:6, 30:5, 89:2, 96:1, 98:1, 104:33) Kita harus mensyukuri anugerah bernyanyi. Kita melatih diri kita menyanyikan dengan baik. Tuhan memberikan kita tidak hanya corak, desain, tetapi juga ritme atau irama dan jenis-jenis suara.


b) Memuji Tuhan dengan seganap hati, jiwa, akal budi dan roh. Tuhan tidak hanya melihat yang keluar dari bibir namun apa yang ada dalam hati terdalam. Umat Allah pernah dikritik Tuhan karena menyanyikan pujian dengan bibirnya namun tidak dengan hatinya. “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, namun hatiNya menjauh daripadaKu” (Yes 29:13, Matius 15:8, Mrk 7:6). Pujilah Tuhan, hai jiwaku, pujilah namaNya yang kudus hai segenap batinku (Maz 103:1, 104:1, 146:1). Sebab itulah Maria dalam magnifikatnya berseru: Jiwaku memuliakan Tuhan Allah, Juruslamatku (Luk 1:46). Ini sesuai dengan pesan dalam Ulangan 10:12 “beribadahlah kepada Tuhan dengan segenap jiwamu”.


Di tengah-tengah jaman showbiz dan entertainment (imantainment?) yang tidak bisa dipungkiri juga telah menjadikan nyanyian puji-pujian sebagai komoditi atau barang dagangan, kita diingatkan lagi kepada hakikat pujian sebagai nyanyian hati atau jiwa. Tanpa penghayatan dan kesungguhan mempersembahkannya kepada Allah, sebuah lagu walaupun menyebut-nyebut nama Allah tidak disebut sebagai lagu puji-pujian.


Rasul Paulus mengatakan bahwa kita akan memuji Tuhan dan dengan roh dan akal budi. Bagi manusia moderen yang melihat manusia sebagai suatu keutuhan dan tidak memisah-misahkan jiwa, roh, dan akal budi, ajakan Paulus dapat kita artikan agar kita memuji Tuhan dengan totalitas kemanusiaan kita: tubuh dan jiwa dan roh.


c) Memuji Allah dalam keterlibatan dengan kehidupan masyarakat. Namun itu saja pun belum cukup. Nabi Amos pernah menyampaikan bahwa Allah pernah menolak puji-pujian umatNya. “Jauhkanlah dari padaKu keramaian-keramaian nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar” (Amos 5:23). Mengapa? Karena puji-pujian dipisahkan dari kehidupan social. Umat Israel sangat antusias dan hebat memuji Tuhan namun pada saat yang sama juga menindas orang-orang miskin dan lemah. Agenda ibadah bertentangan dengan agenda social, politik dan ekonomi mereka. Sebab itu Tuhan mengatakan: “Biarlah keadilan bergulung2 seperti air”. (Amos 5:24). Tanpa keadilan sosial, lagu puji-pujian itu bukan saja tidak disukai, tetapi memancing kemarahan Allah!


KEEMPAT: KENAPA KITA HARUS MEMUJI TUHAN?

Jika kita perhatikan mazmur-mazmur, maka pujian umat adalah karena dan bukan supaya Tuhan baik. Sekali lagi: dalam mazmur-mazmur pujian tidak pernah dipakai kata “supaya”. Mengapa? Tuhan Allah pada dasarnya baik. Dia adalah Allah yang penuh kasih dan bahagia. Dia bukanlah mahluk yang haus pujian. Tuhan tidak perlu diangkat-angkat supaya baik. (Bahasa Batak: dipanggar). Tuhan tidak perlu disuap (Bahasa Batak: disubud) supaya berbelas kasih. Dia baik sejak mulanya, kini dan selamanya. Rahmat Allah-lah yang besar dan tak terhingga itulah yang melahirkan pujian umatNya. Bukan sebaliknya! Di sini kita menyadari hakikat lagu puji-pujian adalah respons umat terhadap kasih Allah dan sama sekali bukan syarat untuk mendapatkan kasihNya.


Selanjutnya baik juga kita sadar bahwa kita memuji-muji Tuhan bukan supaya Dia tampak besar dan mulia, tetapi karena memang Dia sungguh besar dan mulia. Kemuliaan dan kekuasaan Tuhan tidak tergantung kepada pujian kita. Kemuliaan Tuhan tidak berkurang sedikit pun jika kita seluruh jemaat HKBP berhenti memujiNya. Seperti kata pemazmur: Allah bersemayam di atas puji-pujian Israel (Maz 22:4). Bukan puji-pujian Israel yang membuat Allah bertahnta, tetapi tahta Allah itulah yang menginspirasi jemaat terus-menerus memuji-mujiNya. Ingat: tahta Allah tidak rubuh karena kita berhenti bernyanyi. Ini membuat kita (baca: pelayan gereja termasuk para pemusik dan penyanyi) rendah hati. Jika kita tidak mau bernyanyi memuji Tuhan maka Allah dapat
menggerakkan batu-batu untuk memuji namaNya.


Selanjutnya kita didorong memurnikan motivasi-motivasi menyanyikan lagu puji-pujian
kita kepada Allah agar semakin bebas dari pamrih. Kita memuji bukan supaya mendapatkan sesuatu dari Tuhan, namun karena sudah mendapatkan banyak dariNya. Berkat selalu mendahului pujian. Sebab itulah penulis mazmur mengatakan “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya”. Jangan salah tafsir, kita bukan tak boleh meminta sesuatu dari Tuhan. Justru kita memerlukan Tuhan dan boleh selalu meminta padaNya. Namun Tuhan bukan seperti manusia (Batak?) yang harus dipuji-puji dan diangkat-angkat agar mau memberi. Dia baik. Jika mau meminta sesuatu, minta saja, sebab Tuhan baik. Dan kalau sudah menerimanya, jangan lupa bilang terima kasih. Catatan: jangan jadikan lagu puji-pujian sebagai “pemanasan” apalagi “selingan menunggu jemaat datang”. Kalau mau memuji Tuhan, pujilah Dia dengan tulus dan sungguh-sungguh. Seperti kata pemazmur” “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya”.

Home: http://rumametmet.com

 

Share on Facebook

Tags: , , , ,

22 Responses to LAGU PUJI-PUJIAN: UNTUK TUHAN ATAU DIRI SENDIRI?

  1. Elita on May 2, 2007 at 11:14 pm

    amang… :) aku malah punya kelompok nyanyi namanya valencia voice yg kdg2 ga boleh nyanyi di grj di jam rame krn dah bnyk yg nyanyi :) kita justru nyanyi di mg pg bgt ato mg sore, trus kita ga pede ngadep jemaat jd seringnya ngadep depan, dan krn kita nyanyi di grj2 batak kita jrg ditepokin, tp kl ditepokin jd malu juga sih hehehe… pernah jg mo ikutan kompetisi vg tp ditolak krn umur dah ketuaan :P hehehe nasib nasib…. GBU amang…

    us,
    http://www.friendster.com/19517190

  2. NHKBP Solo on May 3, 2007 at 12:05 am

    Wah Amang, kami di sini dilematis. Kalau kami tidak nyanyi, kami direpeti sama jemaat. Tapi kalau kami nyanyi terus, kegiatan bersaksi itu akhirnya seperti rutinitas yang membosankan. Sukacita ketika bersaksi itu berkurang. Tapi lagi, kalau kami menolak maunya gereja, kami bisa “dimusuhi” lagi Amang sama gereja…hehehe…Jadi, sekarang NH hanya ikut mau gereja aja kali ye…hehehe

  3. daniel harahap on May 3, 2007 at 3:29 am

    thx atas komennya elita & nh solo, menurut saya nyanyi di gereja itu lebih merupakan doa ketimbang kotbah/ kesaksian. Doa ditujukan kepada Allah, sementara kotbah/ kesaksian ditujukan kepada manusia. Jadi bukan soal pede atau tak pede melihat jemaat. Mending fokus melihat altar saja, karena memang lagu itu dipersembahkan untuk Tuhan. :-)

  4. tiur on May 4, 2007 at 9:37 am

    artikel diatas memang bagus sekali. supaya jemaat dapat memahami tentu ada tahapannya. misalnya, didalam bible study, workshop2, sosialisasi dengan jemaat, dalam khotbah….., khotbah sektor, kaum bapak, ibu, pemuda, bahkan sampai sekolah minggu. ini merupakan satu paket pelayanan yang berkesinambungan, dalam arti harus terus menerus agar setiap generasi merasakan arti artikel diatas. tentunya dengan bijaksana agar generasi tua atau generasi sebelumnya dapat menerima dengan baik, sebetulnya ini hanya masalah bagaimana kita menghidangkan kepada jemaat (yang aneka ragam….!!!).
    semoga artikel Pdt. Harahap bermanfaat bagi kita sekalian untuk terus bertumbuh didalam-NYA.

  5. thomvel on May 4, 2007 at 11:35 pm

    horas amang, saya mengikuti koor di HKBP tempat saya bernaung, sebelum membaca tulisan amang, saya masih berpikir bahwa menyanyikan lagu2 pujian itu adalah untuk kemulian Allah Bapa, namun saya salah, Allah Bapa itu memang sungguh mulia. Tolong doakan saya amang agar dalam bernyanyi untuk memuji dan memuliakanNya saya mempunyai motivasi yang benar. mauliate

  6. cHRisTiNE on May 21, 2007 at 9:11 pm

    horas amang.. christine kembali utk new comment..
    sebenarnya christine mo bilang klo skg saya sedang bergumul di sekolah minggu yang Tuhan percayakan utk saya mengajar, Pujian adik-adik sekolah minggu yang dilantunkan belum dari hati, masih asal saja. sehingga mereka cepat sekali capek dan bosen. mohon dukungan doanya agar saya dan GSM lain bisa membantu adik-adik SM bernyanyi yang benar. GBU

  7. arif sipayung on April 15, 2008 at 4:12 pm

    amang,

    aku sepakat dengan tulisan amang di atas..
    motivasi!
    memang TUHAN yang kita sembah selalu memberikan ganjaran yang setimpal dengan perintahnya.. TUHAN kasih perintah kita beranak cucu.. TUHAN juga memberi ganjaran/bonus.. orgasme ( yang baca jangan mupeng!) tapi bukan berarti kita hanya mengejar bonus saja bukan..?karena kalau itu yang terjadi berarti motivasi kita menjadi kotor/dosa ..
    TUHAN juga senang dipuji dan dipuja.. TUHAN juga kasih ganjaran/bonus bahwa menyanyi itu menyenangkan/menyegarkan jiwa.. tapi kalau kita hanya mengejar hal yang menyenangkan diri kita sendiri.. wahh, gawat amang!
    jadi saya melihat, sangat tipis jarak antara memuji TUHAN dan menyenangkan diri sendiri.. disinilah batasan/motivasi maupun kedewasaan kita anak anak TUHAN.. untuk melihat menilai menelaah.
    sekali lagi.. terima kasih untuk topik yang amang tuliskan..
    aku mau lanjut lagi baca tulisan tulisan amang (ngomong-ngomong kerjaan tadi ku kebut, biar ada waktu baca blog ini.. dosa nggak amang?)

  8. gloria gultom on June 8, 2008 at 8:31 pm

    dear amang, kalo jemaat bertepuk tangan setelah koor/PS bernyanyi, saya rasa itu adalah bentuk apresiasi untuk lagu2 pujian yg memang bagus tentunya, bisa juga sebagai ungkapan hati jemaat yg mengaminkan isi lagu puji2an tersebut. apakah itu salah?

    Daniel Harahap:
    Lho, katanya nyanyian itu untuk Tuhan, ya biarlah Tuhan dan para malaikatnya yang bertepuk tangan… :-)

  9. R.Butarbutar on June 9, 2008 at 10:22 am

    Amang pendeta, Terim kasih buat tulisannya yang begitu comprehensive dan memberikan tambahan pengetahuan.
    Sedikit komen amang untuk point b : menurut saya tepuk tangan tidak ada salahnya malah menurut saya dianjurkan. Tepuk tangan itu adalah bentuk wujud kita merasa terberkati atas pujian tsb yang disampaikan melalui penyanyi atau paduan suara tsb, jadi applaus itu sebenarnya untuk Tuhan. Kalau digereja lain setelah pujian selesai maka pembawa acara ataupun pendetanya mengatakan berikan kemuliaan pada Tuhan, maka bertepuk tanganlah jemaatnya, jadi tepuk tangan itu diartikan bukan ke penyanyinya. Untuk penyanyinya, pembawa acara ibadah atau pendeta akan mengatakan terima kasih yg telah mempersembahkan pujian. Sama halnya pada moment KKR atau revival misalnya KKR Ps. Benny Hinn, biasanya diawali dengan pujian atau koor, maka beliau akan katakan berikan tepuk tangan kepada Tuhan.

    Daniel Harahap:
    Kok Allah diberi applaus? Emangnya Allah itu anak-anak atau pemain sirkus? Dalam Alkitab berhadapan dengan Allah, jangankan bertepuk, berdiri mendongak saja manusia tak sanggup. Ada-ada saja si Benny ini.

    NB: apa arti “terberkati”. Imbuhan ter- dalam bahasa Indonesia salah satu artinya: sesuatu yang tidak disengaja. :-)

  10. R.Butarbutar on June 9, 2008 at 12:35 pm

    Ada banyak kata bertepuk tangan bisa kita jumpai di Alkitab yang ditujukan kepada Tuhan beberapa diantaranya di Maz 47:1, Maz 98:8, Yes 55:12.
    Terberkati maksudnya lagu pujian tersebut menjadi berkat bagi jemaat yang mendengarnya, mohon maaf apabila salah penulisan kata.
    Intinya menurut saya tidak salah apabila kita memberikan tepuk tangan (sekali lagi, tepuk tangan ini untuk kemuliaan Tuhan..), yang perlu diluruskan adalah gereja berkultur batak mengartikan tepuk tangan itu “untuk manusia” (baca penyanyi!) sehingga kita jarang menjumpai tepuk tangan di ibadah minggu.
    Btw, Benny itu siapa ?

    Horas,
    R. Butarbutar – Singapore

    Daniel Harahap:
    Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! (Mazmur 47:1)
    Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama (Mazmur 98:8)
    Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. (Yesaya 55:12)

    Mazmur 47:1, yang bertepuk tangan adalah segala bangsa (goyim, bangsa-bangsa non Yahudi)
    Mazmur 98:1, yang bertepuk-tangan adalah sungai-sungai
    Mazmur 55:12 yang bertepuk tangan adalah pohon-pohonan di padang. :-)
    Tidak ada dikatakan umat Israel apalagi para imam bertepuk tangan di ruang kudus apalagi ruang maha kudus Bait Allah. Jangankan bertepuk, mendekat saja umat tidak diijinkan. Bahkan Imam Besar hanya boleh sekali setahun masuk ke ruang maha kudus, dan selalu masuk dengan gemetar ketakutan, hormat dan takzim.

  11. MSiagian on June 9, 2008 at 3:02 pm

    Seperti yang Pendeta katakan, pemahaman saya memang sebaiknya PS, VG atau siapapun yang bernyanyi dengan tujuan menyapa atau bercakap dengan Tuhan sebaiknya harus menghadap Altar (sebagai simbol) hadiratNya. Kesanalah umat menghadap dan dari sana juga kabar sukacita disuarakan oleh pelayanNya (Pendeta dan para Penatua dan Diaken) yang bertugas. Dan bahkan sekarang ini gereja protestan lain, sesudak berkat dan salam presbiter dipintu keluar, sesudah ditutup dengan amin, umat tetap berdiri menghadap Pendeta yang diantar Penatua menuju pintu keluar untuk menyalami umat yang akan meninggalkan gedung gereja, baru sesudah mereka lewat sejajar kursi kita, baru kita bergerak. Itu juga bagian dari simbolisme menghadap Tuhan. Mudah-mudahan saya tidak salah.

    Daniel Harahap:
    Soal membiarkan pendeta dan pelayan duluan keluar saya pikir adalah soal ketertiban agar pendeta tidak terjebak di kemacetan, dan tidak bisa menyambut jemaat di luar memberikan salam. :-)

  12. Alexander HP Hutabarat on June 23, 2008 at 2:09 pm

    Mantap pak Pendeta!… aku merasa TER-berkati oleh tulisanmu, karena di gereja kami di POUK …… banyak jemaat “Oikumenis” yang bermain sirkus di hadirat Allah dan malangnya ketika kami coba meluruskannya kami menjadi di”persona non grata”kan….
    kapan-kapan khotbah dulu bah di gereja kami…bersedia kah????

  13. Aga on June 24, 2008 at 7:22 am

    Saya Aga dari GKI Kemang Pratama Bekasi, salam perkenalan
    saya sangat “concern” terhadap nyanyian jemaat. Dan saya sangat setuju dengan semua ulasan Bapak. Apalagi tentang usulan Bapak tentang tidak memberi aplaus kepada pemuji. Saya ingin menambah komentar saja. Kita tidak layak memberi aplaus karena:
    1. Persembahan pujian adalah bagian integral dari liturgi itu sendiri, bukan bagian yang terpisah. Pujian tersebut sebenarnya adalah pujian jemaat juga kepada Tuhan yang diwakili oleh sekelompok orang (dalam hal ini PS, VG, Solo dsb. Jadi, ketika kita memberi aplaus, sama saja dengan memberi aplaus kepada diri sendiri.
    2. Petugas persembahan pujian merupakan bagian integral dari ibadah itu sendiri, malah dalam tulisan Pendeta Yoas A (pendeta GKI Pondok Indah), dikatakan bahwa Paduan suara adalah Imam. Hal tersebut dikutip dari 1 Petrus 2:9. Pekerjaan para imam abad sekarang ini tetap merujuk pada pekerjaannya jadul, hikmat. jadi tidak ada aplaus.
    Begitu saja pak Daniel, bahan yang Bapak tulis merupakan referensi yang berharga buat pembinaan-pembinaan yang saya lakukan. Oleh sebab itu saya minta ijin untuk menggunakannya juga. terima kasih.

  14. Aga on June 25, 2008 at 9:26 am

    Ada lagi yang saya baru simak mengenai Mazmur 22:4. Saya sangat setuju mengenai pendapat Bapak. Dalam PB juga dikatakan bahwa kalau kita tidak mau memuji nama-Nya, Allah akan menggerakkan batu-batu untuk memuji-Nya. Allah sangat tidak tergantung oleh keberadaan pujian manusia. Manusia lah yang hutang pujian kepada Allah Tritunggal.

  15. aping on August 20, 2008 at 12:31 pm

    Selamat bahwa seorang Pendeta HKBP aware dengan Konser di kebaktian Gereja HKBP.
    Sangat Benar bahwa bernyanyi/bermusik itu adalah doa (salah satu). Di samping itu juga nyanyian/musik itu adalah kesaksian, ratapan. Kita tidak mebahas tentang jenis lagu rohani di sini, tetapi saya sangat setuju dengan Amang pemaknaan bernyanyi di Gereja HKBP.

    tetapi itu adalah sistem di Gereja HKBP itu sendiri amang. Di banyak gereja HKBP malah saat ini telah di jadwal untuk setiap paduan suara, vokal group yang bertugas. Pertanyaan saya kalau itu merupakan jadwal, maka bernyanyi di gereja itu bener-bener memang konser. Kenapa? Karena mengejar deadline. Apa iya seperti itu orang kristen menghadap Tuhannya? Di kejar deadline. Apa iya persembahan orang kristen di dasarkan deadline?

    Kita masih ingat seorang janda miskin memasukkan duit di kotak persembahan dan diperhatikan Tuhan Yesus. Apa komentar Tuhan Yesus? Itu seharusnya menjadi azas buat kita dalam menyampaikan persembahan yang salah satunya adalah persembahan nyanyian/musik. Bukan kemegahan, bukan kepintaran, bukan kegagahan konduktor paduan suara, tetapi kerinduan untuk memberi persembahan terbaik. “Persembahan terbaik” itu sangat relatif, tetapi satu hal yang pasti adalah itu adalah hasil maksimum.

    Ketika anak kecil (SM) memberi persembahan di kebaktian Gereja dianggap pengganggu kebaktian. Ketika Paduan suara dengan peralatan canggih sibuk mengurus sound system dan alat musiknya saat kebaktian mau tampil diberi tepuk tangan.
    Ketika NHKBP tidak tampil sesuai jadwal diangap pembangkang, dan direpetin, ketika natal terjadi Festival Paduan Suara dianggap megah. Sangat membias! Pergeseran Makna Persembahan kepada Tuhan ternyata malah sering terjadi dalam Gereja itu sendiri, dimana banyak terdapat orang-orang yang kompeten meluruskan yang kurang lurus, membenarkan yang kurang benar.
    Ataukah gereja yang dipenuhi pendeta dan parhalado yang notabene dianggap ‘lebih memahami’ Ke-Tuhan-an dan bagaimana ber-Tuhan itu hanya pameo saja saat ini di lingkungan Gereja HKBP? Ataukah sudah terlalu banyak tugas Pendeta dan parhalado sehingga mereka tidak lagi memiliki waktu untuk melihat dan mungkin mengembalikan segala sesuatu kepada proporsi sebenarnya di lingkungan gereja?

    Paduan suara, vokal group, musik sampai song leader kebaktian adalah bagian dari kategorian atau seksi di dalam tubuh Gereja (organisasi Gereja). Dibeberapa Gereja HKBP mulai digalakkan yang namanya Song leader, dan ternyata kebanyakan menjadi batu sandungan bagi jemaat, karena song leader berubah fungsi menjadi selebritis yang show. Bernyanyi berdasar selera dan bukan berdasar bagaimana seharusnya lagu itu di nyanyikan.

    Dari gambaran diatas mudah-mudahan kita bisa menjernihkan permasalahan, bahwa sebenarnya kalau saja Pengurus Gereja (khususnya HKBP) mau kembali ke fungsi dan tugas dari bagian/elemen-elemen kebaktian tersebut. Maka seharusnya dapat dimulai dengan menempatkan orang yang paham di tugas dan fungsinya dalam gereja/kebaktian.
    Bagaimana melakukan semua itu? Ada share, pelatihan, diskusi, pembinaan untuk semua pemimpin paduan suara, vokal group, kelompok musik, atau song leader.

    Realitas sekarang terutama dilingkungan HKBP? Mari kita jawab menurut realtas dilingkungan masing-masing.
    Apakah pernah ada pembinaan, share,diskusi antara Pendeta/parhalado dengan pemimpin paduan suara/vokal group, kelompok musik atau song Leader Kebaktian? Bahkan saya pernah mengalami langsung, seorang pendeta meminta pelatih paduan suara agar bisa tampil dengan alasan sudah lama tidak tampil di kebaktian Jam jemaatnya ramai.

    Dengan gambaran ini saya katakan saya sangat setuju dengan Amang Pendeta. Pekerjaan Rumah yang sangat berat sebenarnya hal ini, karena dengan kata lain, kita HARUS mengembalikan nyanyian dan musik itu ke proporsi sebenernya. Dan Tuhan itu bukan gemar tepukan tapi rindu dengan ketulusan dan kerendahan hati domba-dombaNYA. “Berikanlah persembahan terbaik” Persembahan terbaik akan tercipta dari pemahaman ketidakmampuan/ketidak layakan kita dihadapan Tuhan. Dan tidak ada satu halpun yang baik mampu dilakukan manusia kecuali oleh berkat anugerah dari Tuhan itu sendiri. SOLA GRATIA.

  16. Erpesim on December 1, 2008 at 3:36 pm

    Walau agak terlambat,saya tertarik utk sharing juga:
    Kalo Tuhan bersukacita mendapat pujian umatNya,apakah Tuhan tidak mengijinkan Umat Tuhan ikut mendapatkan atau kecipratan atau sekedar mendapat remah2 sukacita pujian itu? Sekedar pembanding,saya pernah menangis terharu ketika menyanyikan Lagu Indonesia Raya.Dan percaya deh suasana saat itu indah dan nyaman banget serta tidak sedikitpun terbersit perasaan untuk meninggikan diri sendiri.Yang ada saat itu aku cinta banget sama Indonesia.Nah,saya percaya bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang bertahta diatas puji2an UmatNYa (N.B: Umat yang bernyanyi dgn kesadaran penuh bukan tidak sadar atau digerakan kekuatan supra natural) pasti juga menginginkan umatNya bersukacita didalamnya. Mengenai “ekspresi sukacita” orang perorangan,apakah menjadi batu sandungan bagi mereka-mereka yang sudah mengenal dan mengecap Kasih sayang Tuhan? Bisa kita bayangkan hiruk-pikuk nya jika sampai para batu-batu juga ikut memuji Tuhan? Bukankah Hak MengHakimi hanya milik Tuhan?K alau sekedar penatalaksanaan Tata Ibadah spy hohom jala une, silahkan rapi seperti tata Ibadah HKBP saat ini sdh TOP lah.Tapi menjadikannya sbg ketetapan/Aturan /Rule/Code of conduct bahwa memuji Tuhan yang benar harus begini-begitu,apakah nggak terlalu ribet?

  17. B. Marada Hutagalung on January 23, 2009 at 1:29 pm

    Mohon maaf kepada amang, sy ingin memperkenalkan lagu/koor ciptaan sy kpd amang. mohon maaf bila sy melakukan hal tersebut.
    URL lagu/koor ciptaan sy :
    http://maradagv.wordpress.com/category/laguku/
    atau
    http://maradagv.wordpress.com/2008/11/23/daftar-lagu-ciptaan-b-marada-hutagalungsth/

    Trims,
    B. Marada Hutagalung
    http://maradagv.worpress.com

    Daniel Harahap:
    Ya dipersilahkanlah beriklan gratis mumpung masih suasana Tahun Baru. :-)

  18. A.K.P Panggabean on January 28, 2009 at 2:50 pm

    Santabi jo amang naeng hu copy tulisanmuna na di ginjang i. Mauliate.

  19. yulis silitonga on August 27, 2009 at 10:35 am

    Horas, amang!! bagus sekali tulisan amang di atas…. saya sangat mendukung dan perlu sekali untuk diketahui oleh seluruh parhalado baik full partohonan maupun non partohonan… karena sampai saat ini pemahaman tentang puji-pujian baik di gereja maupun di perayaan festival-festival Paduan Suara, VG maupun solo masih terfokus pada kepentingan diri sendiri. mudah2n dengan tulisannya amang ini, dapat menggugah jemaat maupun parhalado untuk memperbaiki dan memahami arti peribadahan yang sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah… Gbu

  20. Hexamillenov on November 28, 2009 at 6:39 pm

    Kutipan dari Amang:
    Tidak ada dikatakan umat Israel apalagi para imam bertepuk tangan di ruang kudus apalagi ruang maha kudus Bait Allah. Jangankan bertepuk, mendekat saja umat tidak diijinkan. Bahkan Imam Besar hanya boleh sekali setahun masuk ke ruang maha kudus, dan selalu masuk dengan gemetar ketakutan, hormat dan takzim.

    Amang yang terhormat, kita hidup bukan di zaman PL, di mana Hadirat Allah tak terhampiri. Setelah kematian Yesus, jurang pemisah itu terbelah. Tepuk tangan adalah sebagai suatu bentuk luapan pujian yang tidak terungkapkan lewat kata-kata. Saya pikir mau bertepuk tangan atau tidak yang penting adalah hati, menyembah dalam Roh dan Kebenaran.

    Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1Kor 10:31 )

    Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. (2Sam 6:5)

    Seluruh orang Israel mengangkut tabut perjanjian TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala, nafiri dan ceracap, sambil memperdengarkan permainan gambus dan kecapi.
    Ketika tabut perjanjian TUHAN itu sampai ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud melompat-lompat dan menari-nari. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya. (1Taw 15:28-29)

    Terima kasih Tuhan Yesus Memberkati Pelayanan Amang.

  21. Indra Manurung on March 11, 2010 at 2:02 pm

    Horas, amang… Saya sangat berterima kasih sekali kalau amang tidak keberatan materi di atas saya copy. Mlt, GBU.

  22. MonaLisa Aprilla Yanti on January 19, 2012 at 11:52 am

    Syalom ..
    pak saya minta ijin buat copy dan menggunakan nya ya pak ..
    Tuhan Memberkati :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*