IBADAH MINGGU BUKAN KONSER

June 6, 2008
By

toba-1.jpg

 

Pendahuluan
Mungkinkah Anda dapat menikmati pertandingan sepak bola di televisi, seandainya kau tidak mengerti sama sekali tata cara atau aturan main sepak bola? Apa yang akan terjadi di lapangan tenis jika Anda tiba-tiba saja disuruh bermain tenis tanpa lebih dulu diberitahu dan diajari cara bermain tenis termasuk cara memegang raketnya? Keadaannya akan sama atau mirip jika seseorang yang sama sekali tidak tahu tentang ibadah kristen melihat atau hadir di tengah-tengah jemaat Kristen beribadah Minggu di gereja. Mungkin dia akan bingung, panik, merasa bosan, atau malah melakukan “kesalahan”. Atau mungkin juga dia seperti seorang anak kecil yang mencoba meniru saja apa yang dilakukan orangtuanya (berdiri, duduk, melipat tangan, menutup mata, komat-kamit dll) tanpa mengerti apa sesungguhnya makna yang sedang dikerjakannya. Atau, bisa juga dia hanya dapat menangkap momen-momen lepas, terpaku kepada hal tertentu yang paling menarik perhatiannya, atau larut dalam suasana. Sebab itu sama seperti permainan sepak bola maka untuk dapat menghayati dan menikmati ibadah Minggu secara utuh dan penuh maka diperlukan juga sejumlah pengetahuan dasar tentang susunan, aturan dan tata ibadah Minggu itu.

Bagi orang-orang Kristen generasi ketiga atau keempat, kebaktian atau ibadah Minggu, mungkin telah menjadi suatu rutinitas, yang dilakoni sejak kecil, dan seringkali diterima sebagai given atau kenyataan yang tidak dipertanyakan lagi, walaupun jangan-jangan maknanya juga kurang jelas. Sebab itulah di sini penulis justru mau mengajak pembaca bertanya ulang: apa sesungguhnya kebaktian atau ibadah minggu itu?

Sesuai dengan namanya kebaktian Minggu berasal dari kata “bakti” yang berarti penyerahan diri melakukan suatu tugas atau kewajiban dengan tidak mengharapkan upah atau keuntungan pribadi. Ibadah Minggu berasal dari kata “abdi” yang artinya hamba yaitu seorang yang terikat kepada dan bekerja untuk tuannya tanpa mengharapkan imbalan.

POKOK-POKOK PENGERTIAN

1. Perayaan kebangkitan Tuhan
Pertama-tama kebaktian minggu adalah perayaan kebangkitan Tuhan (Yesus). Gereja purba bertemu pada hari kebangkitan Tuhan, yaitu ahad atau minggu (berasal dari dominggus dei, hari Tuhan). Sebelumnya orang Kristen berhimpun hari Sabat atau Sabtu, persis kebiasaan orang Yahudi. Namun leluhur gereja memandang peristiwa kebangkitan Yesus itu maha penting, bahkan dianggap merupakan penciptaan dunia baru, sebab itu mereka menggeser pertemuan dari Sabtu menjadi Minggu. Sekali sepekan, persis pada hari Ahad , mereka berkumpul merayakan kebangkitan Tuhan dari antara orang mati, yang dipercaya sebagai kemenangan atas kekuatan maut dan dosa.

2. Perjumpaan Tuhan dan umat
Alkitab menyaksikan Tuhan Allah selalu berinisiatif menjumpai umatNya yang dikasihiNya pada waktu dan tempat yang ditunjuk oleh Tuhan sendiri. Ya, Sang Khalik menjumpai ciptaanNya, Yang kekal menjumpai yang fana, Yang maha mulia menjumpai umat yang rendah. Yang paling menarik, perjumpaan atau pertemuan antara Tuhan Allah dengan umat ini selalu merupakan prakarsa atau inisiatif Tuhan sendiri. Dialah yang mengundang umatNya mendekat kepadaNya.

Menurut penulis ini patut kita simak baik-baik. Sebab seringkali orang Kristen lupa bahwa Tuhanlah sebenarnya yang mengundang mereka datang ke kebaktian minggu di rumahNya. Tuhan adalah tuan rumah dan jemaat adalah tamu. Bukan sebaliknya! (Lucunya, orang Kristen masa kini suka sekali menganggap gereja Tuhan sebagai miliknya, dan lantas menganggap Sang Pemilik sebagai tamu!)

Acara kebaktian minggu itu sendiri disusun untuk mewadahi pertemuan, dialog dan interaksi antara Tuhan dan umatNya. Unsur-unsur dalam kebaktian minggu itu dengan mudah dapat dibagi dua, yaitu sapaan Tuhan dan respons jemaat. Tuhan menyapa umatNya dengan votum-introitus (tahbisan dan firman pembuka), dan umat menjawab dengan doa syukur. Tuhan memberikan hukum, dan umat menjawab dengan doa memohon kekuatan melaksanakan hukum itu. Umat mengaku dosa dan memohon pengampunan, dan Tuhan menjawab dengan memberikan pengampunan. Demikian seterusnya.

Kebaktian minggu adalah dialog dan bukan monolog. Tuhan tidak haus pujian, sebab itu jemaat tidak harus memaksa diri memuji-muji Dia sampai kelelahan. Tuhan mau berbicara, sebab itu jemaat harus mau berhenti berkata-kata dan mulai membuka telinga. Tuhan suka mendengar, sebab itu jemaat diundang untuk berbicara menyampaikan isi hatinya terdalam. Demikianlah dialog dan interaksi Tuhan dan jemaat itu terjadi.

3. Ibadah di bumi
Tuhan Allah menempatkan jemaatNya di dunia, belum di surga. Kita ada dalam realitas dunia ini, bukan di ruang vakum atau awang-awang. Seluruh yang kita lakukan dalam kebaktian adalah ekspresi atau pengungkapan kehidupan sehari-hari kita. Hari Minggu karena itu tidak bisa dipisahkan dari hari lainnya. Dalam dunia moderen penulis suka membayangkan hari Minggu adalah halte tempat berhenti sejenak sebelum melanjutkan lagi perjalanan. Atau seperti sebuah oase tempat beristirahat dan memulihkan jiwa-raga.

Agenda ibadah tidak bisa dipisahkan dari agenda hidup. Apa yang kita alami hari Senin s/d Sabtu dalam kehidupan sehari-hari itulah yang hendak kita syukuri pada hari Minggu dalam gereja. Sebaliknya, apa yang kita dengar dari Tuhan pada hari Minggu itulah yang hendak kita kerjakan dan hayati esok di rumah dan di tempat kerja. Apa yang kita pergumulkan hari Minggu sama dengan apa yang kita pergumulkan hari Senin s/d Sabtu.

Ini merupakan renungan bagi seluruh jemaat dan pelayan? Sejauhmanakah pergumulan dunia ini tercermin dalam ibadah Minggu dan sejauh manakah ibadah Minggu membekali, dan menginspirasi jemaat Kristen hidup di dunia.

UNSUR-UNSUR KEBAKTIAN MINGGU

1. Nyanyian Pembuka ↑
Di gereja HKBP, kebaktian diawali dengan nyanyian pembuka. Biasanya nyanyian yang dipilih adalah nyanyian yang sesuai dengan nama ibadah minggu (sebab ibadah minggu mengikuti kalender ibadah, yang disusun mengacu kepada gambaran sejarah penyelamatan).

Sebelum kebaktian dimulai jemaat memiliki kesempatan mempersiapkan diri dengan berdoa dalam hati (sebaiknya jangan dikomando atau diperintah) dan merenungkan dirinya sendiri di hadapan Tuhan. Karena itu sebaiknya jemaat memang datang paling lambat sepuluh menit sebelum jam kebaktian dimulai agar benar-benar siap.

2. Votum & Introitus ↓ dan Doa ↑
Sesudah nyanyian pembuka, pelayan ibadah (paragenda) akan menahbiskan pertemuan itu dalam nama Allah Bapa, dan AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Ini adalah suatu peresmian bahwa pertemuan itu bukanlah pertemuan biasa (bukan rapat, arisan, rapat politik atau pemegang saham) tetapi suatu pertemuan antara Allah dan jemaatNya. Lebih lanjut ini adalah suatu maklumat bahwa Tuhan Allah Sang Pencipta tengah hadir di tengah-tengah jemaatNya. Itulah sebabnya jemaat diundang berdiri menghormati hadiratNya. Dengan tahbisan itu juga mau dikatakan bahwa tempat dimana jemaat duduk telah dikuduskan (baca: dikhususkan) karena Tuhan Allah sedang menyatakan kemuliaanNya di sana. Ini sesuai dengan janji Kristus dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, maka Dia ada di tengah-tengah mereka.

Sesudah meresmikan kebaktian dalam nama Allah (bukan dalam nama penguasa atau pribadi tertentu), pelayan ibadah pun membacakan firman Tuhan pembuka (introitus) ibadah, yang merupakan petikan-petikan ayat Alkitab. Ini jelas sekali menunjukkan bahwa pengundang dan Tuan rumah pertemuan minggu itu adalah Tuhan Allah sendiri (bukan orang Kristen). Selesai firman dibacakan, maka jemaat pun menyambut dengan nyanyian haleluya, haleluya, haleluya (pada hari khusus hosianna). Artinya: puji Tuhan.

Lantas pelayan ibadah pun mewakili jemaat merespons firman dengan membacakan doa jemaat. Isi doanya sendiri adalah jawaban terhadap firman pembuka itu. Di sini kita bisa melihat dengan jelas apa beda firman dengan doa. Firman adalah suara Tuhan menyapa jemaatNya (↓) sementara doa adalah suara jemaat menyapa Tuhannya (↑).

3. Nyanyian Jemaat ↑
Sesudah votum-introitus dan doa, jemaat pun merespons dengan bernyanyi. Biasanya dipilih nyanyian syukur atau nyanyian yang sesuai dengan tema mingguan (catatan: HKBP dan beberapa gereja lain mengikuti kalender ibadah yang tema-temanya merangkum sejarah keselamatan).

4. Hukum Tuhan ↓ & Doa memohon kekuatan ↑
Selanjutnya pelayan akan membacakan hukum Tuhan, yang diambil dari sepuluh hukum, hukum kasih, atau ayat-ayat Alkitab yang bernada perintah atau imperatif. Dalam gereja HKBP maka hukum juga bisa digantikan dengan Katekismus, Konfessi.

Hukum adalah perintah Tuhan kepada jemaatNya. Sebab itu ketika hukum dibacakan jemaat harus mendengarkan seksama dan meresponsnya dengan doa memohon kekuatan dari Tuhan untuk melaksanakan hukum-hukumNya.

5. Nyanyian Pengakuan dosa atau penyesalan ↑
Hukum Tuhan menyadarkan jemaat akan dosa-dosanya. Hukum mirip dengan cermin, dimana manusia bisa melihat keberadaan dirinya. Sebab itu pembacaan hukum Tuhan dalam ibadah Minggu dilanjutkan dengan nyanyian dan doa pengakuan dosa. Biasanya nyanyian sesudah hukum adalah nyanyian yang menunjukkan pengakuan dan penyesalan dosa jemaat.

6. Doa Pengakuan Dosa ↑
Nyanyian penyesalan dilanjutkan dengan doa pengakuan dosa. Pelayan ibadah akan membacakan pengakuan dosa jemaat yang sudah diformulakan dalam Agenda. Di sini pelayan akan berfungsi sebagai wakil jemaat membukakan hati dan membawa dosa-dosanya kepada Tuhan. Doa pengakuan dosa ini baik dituliskan agar tidak hanya mencerminkan pribadi pelayan, tetapi hati seluruh jemaat. Untuk membantu berkonsentrasi maka sebaiknya ketika doa pengakuan dosa dibacakan jemaat mengikuti kalimat demi kalimat dalam hatinya masing-masing.

Berhubung jemaat sangat banyak, kita akui sangat sulit membuat suatu formula pengakuan dosa yang dapat mengekpressikan hati seluruh jemaat, sebab itu sebelum atau sesudah pengakuan dosa umum itu, kepada jemaat diberikan kesempatan mengaku dosa secara pribadi dalam hati masing-masing. Inilah yang sering disebut sekarang “saat teduh”. Saran penulis: dalam saat pengakuan dosa pribadi ini sebaiknya musik sangat halus sekali atau lebih baik tidak ada sama sekali agar jemaat dapat berkonsentrasi mengaku dosa-dosa pribadinya secara eksplisit , spesifik dan konkret dalam hatinya masing-masing.

7.Berita Pengampunan ↓
Pengakuan dosa jemaat itu disambut oleh Allah dengan menyampaikan berita pengampunan dosa. Ini adalah suatu maklumat anugerah. Persis seperti maklumat Yesus kepada seorang berdosa: dosamu sudah diampuni. Jemaat diajak agar benar-benar percaya dan menerima bahwa dosanya memang benar-benar sudah diampuni. (karena itu nanti dalam doa syafaat jangan minta lagi agar dosanya diampuni!).

Berita pengampunan ini disusul dengan suatu pujian: Kemuliaan bagi Allah di tempat maha tinggi. (di beberapa gereja jemaat menyanyikannya dengan lagu Gloria, dan menurut penulis itu lebih baik.)

8. Nyanyian Jemaat ↑
Jemaat menyambut pengampunan itu dengan nyanyian gembira. Saran penulis, agar lagu-lagu yang dipilih sesudah pengampunan jangan lagi lagu sendu atau murung karena dosa. Tetapi lagu yang benar2 penuh sukacita sebagai orang-orang yang sudah diampuni dosanya dan memperoleh hidup baru. Misalnya:

Marolop-olop tondingku ala naung ditobus Jesus i.
Hamu sude bege ma i, ai las rohangku mandok i
Sonang ni tingki i dung jumpang Jesus Tuhanki.
Tondi na mangajari au, tarbaen marlas ni roha au.
Sonang ni tingki i dung jumpang Jesus Tuhanki.

9. Epistel (Petunjuk Hidup Baru) & Berkat ↓
Sebagai jemaat yang sudah diampuni dosa-dosanya maka jemaat harus menampakkan pembaharuan dalam seluruh aspek hidupnya. Pelayan pun membacakan epsitel (arti dasar: surat rasul) sebagai petunjuk hidup baru bagi jemaat yang sudah diampuni dosanya ini. Pembacaan itu diakhiri dengan sebuah berkat bagi yang mau mendengar dan melakukan firman Tuhan.

10. Paduan Suara ↑
Jemaat diberi kesempatan mengungkapkan pujiannya kepada Tuhan. Menurut penulis bahwa agar tidak menginterupsi atau menganggu aliran ibadah maka sebaiknya paduan suara ditempatkan sesudah epistel (jangan sebelumnya). Karena itu paling banyak paduan suara cukuplah dua saja dalam setiap kebaktian minggu (jika jumlah kelompok PS besar, maka dapat dibuat penjadwalan dan pergiliran). Ingat: yang paling penting bernyanyi dalam ibadah adalah seluruh jemaat, bukan sekelompok orang dalam Paduan Suara.

Di gereja HKBP paduan suara itu berdiri di tempatnya menghadap altar, mau mengatakan posisinya sebagai wakil jemaat menyampaikan pujian khusus kepada Tuhan, dan bukan wakil Tuhan untuk menghibur jemaat. Nyanyian paduan suara sebab itu lebih merupakan doa ketimbang kotbah. Ingat: tak ada keharusan bagi suatu kelompok PS untuk bernyanyi saban minggu, dan ada larangan keras bagi anggota PS untuk meninggalkan kebaktian sebelum semua berakhir.

11. Warta Jemaat ↓ ↑
Warta jemaat adalah berita yang ada di tengah2 jemaat. Ada yang menganjurkan agar warta dikeluarkan dari ibadah. Menurut penulis sebaiknya di dalam. Ini adalah proklamasi bahwa berita-berita yang dikerjakan Tuhan dalam jemaat (kelahiran, baptisan, kematian, pernikahan). Namun agar tidak menyita waktu sebaiknya yang dibacakan hanyalah sakramen atau berita penting yang harus dimaklumatkan kepada jemaat, misalnya terjadinya tsunami. (berita2 rapat apalagi rapat parhalado, dewan, pembubaran panitia jangan dibacakan!)

12. Doa Syafaat ↑
Sesudah warta jemaat maka dilanjutkan dengan doa syafaat atau doa memohonkan perlindungan dan pembelaan khusus dari Tuhan Allah. Saran penulis agar orang yang ditunjuk berdoa syafaat benar-benar mempersiapkan dirinya dan menuliskan doanya dengan bahasa yang sederhana dan baik, dan membacakannya dengan lambat agar dapat diikuti. Selanjutnya saran penulis agar pendoa berdisiplin dan membatasi pokok doa tiga-empat saja, (yang lain bisa didoakan minggu berikutnya!) namun dengan penuh penghayatan. Catatan: doa syafaat jangan tumpah tindih dengan doa-doa lain di kebaktiang yang sama, misalnya permohonan ampun dosa (karena dosa baru saja diampuni Tuhan beberapa saat lalu), doa syukur dan doa pembacaan Alkitab.

13. Ajakan memberi persembahan ↓ dan Persembahan ↑
Kini tiba waktunya jemaat diajak memberi persembahan. Pelayan dapat membacakan ayat-ayat mengajak jemaat memberi persembahan. Jemaat mengaku bahwa hidupnya berasal dari Tuhan, harta miliknya dan bahkan totalitas hidupnya adalah milik Tuhan. Sebab itu memberi persembahan bukanlah kehebatan, tetapi kesempatan yang diberikan Tuhan. Tangan yang memberi persembahan tetap di bawah. (Sebaiknya persembahan sudah disiapkan dari rumah, atau sebelum kebaktian dimulai, dan jangan baru dirogoh dari dompet atau saku saat kantong berjalan).

Persembahan di HKBP disampaikan dengan bernyanyi. Namun saran penulis jika memang lagunya sudah habis jangan diulang lagi, cukuplah musik saja. Itu menghilangkan makna syair yang memang disusun bagai cerita.

14. Kotbah ↓
Kini sampailah kebaktian pada pemberitaan Firman atau kotbah. Disini ada empat unsur:

a. Berkat ↓
Di HKBP kotbah (yang disampaikan pendeta) tidak diawali dengan doa, namun berkat (Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal kiranya memenuhi hati dan pikiranmu). Ini mengacu kepada kotbah Yesus di bukit yang mengawali kotbahnya dengan menyampaikan berkat (ucapan bahagia). Namun jika yang berkotbah bukan pendeta, maka sebelum pembacaan diawali dengan doa.

b. Pembacaan Alkitab ↓
Di HKBP pembacaan Alkitab mengikuti almanak. Ini memberi keuntungan bahwa tema kotbah selalu komprehensif. Pendeta tidak boleh hanya menyampaikan kotbah berdasarkan ayat-ayat kesukaannya. Pendeta tidak punya agenda pribadi, tetapi agenda gereja. Agenda gereja disusun berdasarkan agenda Tuhan. Menurut penulis penyusunan bahan kotbah berdasarkan Almanak ini memberi keuntungan jemaat mendapatkan kekayaan Alkitab (sebab bagaimanapun setiap pribadi pengkotbah selalu memiliki keterbatasan termasuk memilih ayat).

c. Kotbah. ↓
Kotbah adalah interaksi firman Tuhan dan kehidupan sehari-hari. Kotbah bukanlah lokakarya teologi, juga bukan penghibur hati. Apa yang dikatakan Tuhan kepada diriku sendiri dan kepada jemaat hari ini.

d. Doa. ↑
Pendeta menutup kotbahnya dengan doa. Isinya adalah respons jemaat terhadap kotbah, sekaligus permohonan agar Roh Kudus memampukan jemaat melaksanakan kotbah dalam hidup sehari-harinya. Sebaiknya doa sesudah kotbah fokus kepada isi kotbah (apalagi jika di bagian lain sudah ada doa syafaat).

15. Nyanyian Penutup ↑
Selesai kotbah dilanjutkan dengan nyanyian penutup. Namun di HKBP suasana sedikit terganggu karena masih ada lagi persembahan. Menurut penulis kita harus berani menyarankan agar persembahan cukuplah satu kali saja dan satu kantong, agar maknanya benar-benar mencuat sebagai persembahan.

16. Doa Penutup ↑
Ibadah berakhir dengan rangkaian doa. Mula-mula doa persembahan. Dilanjutkan dengan doa khusus hari pesta gerejawi. Lantas ditutup dengan doa bapa kami.

17. Berkat ↓
Pada puncaknya pendeta menyampaikan berkat kepada jemaat. Jemaat menyambut dengan nyanyian amin tiga kali.

Epilog
Jemaat berdoa masing-masing di tempatnya (tanpa dikomando) mendoakan hidupnya sendiri dan mengaminkan seluruh ibadah sebelum masuk kembali ke dalam kehidupannya sehari-hari. Pendeta pun bergerak ke pintu menyambut jemaat di pintu untuk menyalam jemaat. Sementara jemaat bersalam-salaman di tempat duduk dan di luar.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

 

Share on Facebook

Tags: , , , ,

43 Responses to IBADAH MINGGU BUKAN KONSER

  1. Daniel on May 22, 2007 at 10:51 pm

    Jadi inget dulu saya pernah meliput dan mengikuti ibadah yang “nge-rock” di HKBP Rawamangun yg dinamakan kebaktian alternatif :)

  2. 'CJs' on May 23, 2007 at 1:45 am

    Amang,
    artikelnya bagus sekali. Selama ini saya sering kebingungan knp HKBP punya liturgi ibadah seperti ini. Dan hari ini saya dapatkan artinya secara komplit plit plit. Ditunggu sambungannya yach Amang. Makasih.

  3. kLiiiizZyY on May 23, 2007 at 11:33 am

    Amang mw tanya: saya jg bkn tipe jemaat yg suka tata kebaktian kaya gini krn saya HKBP’ers boo,,tapi saya mw tanya jg apa salah klo ibadah seperti konser Rock??krn klo itu yg bikin para jemaatnya semakin menikmati ibadah & mengenal Tuhan gmn??

  4. daniel harahap on May 23, 2007 at 5:25 pm

    Pertanyaan “nakal”: kita mau beribadah atau mau menciptakan kenikmatan diri sendiri?Tuhan yang bagaimana yang dikenal melalui ibadah itu?

    Selanjutnya dalam ibadah itu siapakah yang jadi “tuan rumah”, “bintang”, “fokus”: Tuhan yang tersalib dan bangkit itu atau para “selebritis rohani” atau para penonton? Altar atau panggung? Apakah ibadah itu mewadahi perjumpaan dan dialog Tuhan dan jemaatNya atau monolog manusia yang haus hiburan? Pertanyaan lain yang lebih mendasar, mana yang seharusnya: kita membentuk ritme ibadah, atau ritme ibadah itulah seharusnya membentuk kita (melalui proses beribadah berpuluh tahun)?

  5. cHRisTiNE on May 24, 2007 at 7:26 pm

    syukur pada Tuhan, karena pada tanggal 20 mei 2007 kemarin, di HKBP Kebun Jeruk telah diselenggarakan kebaktian Alternatif kali pertama(di keb.minggu pkl.17.00). kebaktian ini diadakan oleh dewan marturia mengingat bulan ini adalah bulan marturia (parheheon marturia). awalnya saya masih binggung kenapa harus alternatif namanya. sempet saya tanyakan di rapat marturia yg dihadiri dewan marturia dan pendeta resort. inti yg saya dapat, pihak Gereja menginginkan suatu metode baru untuk menarik jemaat yang jarang ke gereja HKBP, dan agar ibadah tidak terkesan monoton. hehe.. saya tidak nyaman sekali dengan statement itu. apalagi di artikel amang yg saya baca ini.”Tuhan Yesus adalah tuan rumah”, Dia yg mau kita temui. bukan kita yg mau dipuaskan dengan kesenangan kita semata.

    Pujian yang begitu indah boleh dilantunkan (disertai tepukan tangan dan lambaian tangan yg mungkin selama ini di HKBP sangat mempermasalahkan, padahal itu kan sebagai ungkapan sukacita dalam memuji Tuhan). Jemaat yang hadir kebanyakan naposo&remaja. mohon didoakan agar yang menjadi dasar/ motivasi acara ini sesuai Kehendak Tuhan.

  6. thomvel on May 25, 2007 at 9:30 pm

    banyak yang ingin saya komentari, untuk nomor 5 seringkali par organ di greja HKBP tempat saya beribadah memainkan musiknya dengan begitu indah, sampai2 saya terhanyut oleh musik, BUKAN fokus kpd pengakuan dosa, dan juga dalam liturgis tidak ada doa syafaat, mengapa ? apakah hanya gereja HKBP tertentu saja ? dan untuk Paduan Suara, sayangnya saya seringkali keluar gereja setelah bernyanyi, terutama dalam kebaktian hari minggu pagi, namun pada kebaktian sore harinya saya datang kembali, apakah itu boleh AMang ? trims

  7. daniel harahap on May 25, 2007 at 9:58 pm

    pro thomvel:
    itu pertanyaan menarik dan penting, yaitu menyangkut fungsi musik dalam ibadah. Menurut saya musik adalah pelayan dan “pusat” liturgi. Jika musik telah mencuri perhatian jemaat sehingga tidak fokus lagi kepada firman dan doa, maka musik harus distop.

    saya punya hobi saban kotbah diam2 menghitung jumlah anggota paduan suara sebelum dan sesudah bernyanyi, terutama bila yang nyanyi kelompok PS hebat dan terkenal. Kadang sampai separuh keluar. Pertanyaan: kita ber-koor karena ber-gereja, atau kita ber-gereja karena ber-koor? Selanjutnya: apakah penyanyi PS bukan “peserta ibadah” yang harus mengikuti seluruh proses ibadah? Apakah penyanyi PS tidak memerlukan lagi pengakuan dosa, mendengar firman, dan menerima berkat? (di beberapa gereja pengkotbah bisa datang dan pergi di tengah jalan, karena itu bisa kotbah 10 x sehari hehehehe, itu sih bukan pengkotbah tetapi pedagang firman) :-)

  8. sahat on June 8, 2008 at 11:45 pm

    Jadi ingat saya pernah mendengar tentang sejarah tata ibadah HKBP dari Amang St. Hotman di HKBP Menteng waktu dulu sekali saat saya masih naposo. Mangkanya sampai sekarang saya selalu paling cocok, karena tahu kenapa begini dan begitunya sebuah tata ibadah di HKBP. Mohon ijin untuk dikasih link ke tulisan ini dari website kami, karena tulisan ini pasti memberikan banyak pencerahan bagi jemaat yang lain yang belum tahu.

    Daniel Harahap:
    Silahkan saja. Syaratnya cuma satu: titip salam saya kepada kawan saya “par-singapur” Pdt Basa Hutabarat & Pdt Martonggo Sitinjak :-)

  9. hotman on June 9, 2008 at 5:04 pm

    Amang Daniel, tata ibadah HKBP dari tahun ke tahun tidak ada perubahan yang signifikan bahkan walaupun sudah diperkenalkan ibadah alternatif. Membosankan? Ahh…bila kita martandang ke gereja tetangga di bandung ini, misalnya GKI atau GII beda-beda tipis kok. Hanya, kalau pada ibadah setiap minggu di HKBP ada pewarna, misalnya ada koor tamu yang bagus atau ada pengkhotbah yang bagus, barulah terasa ada sesuatu yang berkesan dan diingat. Menurut hemat saya, tata ibadah itu hanyalah sekedar tata yang harus dilakoni dari awal hingga akhir kebaktian. Yang penting bagaimana supaya orang-orang yang melakoni tata ibadah tersebut, ruas, parhobas, parjamita, par-koor ‘menyatu dalam kebersamaan’ sehingga menjadi ‘uap na huccus’ di depan Allah yang kita sembah.
    Tata ibadah yang hanya sekedar rutinitas akan sangat membosankan…tetapi akan menjadi orkestra yang indah apabila semua yang terlibat melakoninya secara harmonis. Tabe sian Bandung.

    Daniel Harahap:
    Ibadah Alternatif adalah istilah salah kaprah. Mirip-mirip pengobatan alternatif. :-) (Tidak ada prosedur tetap, tidak ada juga tanggungjawab)
    Tata Ibadah itu memang harus dibuat tetap dan baku, karena melalui ritme yang berulang-ulang selama bertahun-tahun itulah terbentuk jiwa kita yang taat dan setia kepada Tuhan. Keindahan tata ibadah terletak dalam pemahaman dan penghayatannya. Saya tidak menafikan pentingnya kotbah yang bagus (baca: benar) dan nyanyian atau doa yang sungguh-sungguh keluar dari hati terdalam. Namun tetap harus diingat bahwa ibadah bukanlah untuk memuaskan atau menyenangkan hati jemaat, tetapi untuk membentuk jiwanya taat dan setia kepada Tuhan. Ibadah yang suka-suka (termasuk sikap tubuh yang sangat rileks dan santai) tidak akan pernah membentuk seseorang menjadi pengikut Kristus (baca: pencontoh pola hidup Yesus). Paling-paling yang hanya membentuk: krisfun. :-)

  10. Theresia Hutasoit on June 10, 2008 at 1:22 pm

    Dulu saya hampir setiap Minggu mengikuti ibadah dengan tepuk tangan dan musik yang katanya tidak ‘membosankan’ itu. Memang rasanya sangat menyenangkan, sepertinya belenggu rutinitas setelah bekerja selama seminggu terlepas begitu saja. Tapi setelah terus menerus mengikutinya, terus terang kadang muncul juga kebosanan. K

    Kalau sekarang saya setiap Minggu mengikuti kebaktian di HKBP yang kata sdr. Hotman ‘tata ibadahnya dari ke tahun tidak ada perubahan signifikan’, tentunya saya bisa lebih bosan lagi. Saya hanya mau bilang, kalau ‘tata ibadah’ itu dibuat mengikuti keinginan manusia/jemaat, pasti tidak akan ada habisnya. Kalo tujuan kita ke gereja untuk memuji Tuhan, berdoa dan mendengar firman, tentunya kita sudah siapkan hati secara dewasa dan tidak merasa terhibur hanya karena ada p.s. yang bagus, kita kan bukan anak SM lagi :) .

    Koreksi memang perlu dilakukan, agar ibadah dapat mengalir dengan baik dan tidak mengganggu kekhusukan kita dalam beribadah kepada Tuhan. Khotbah yang : ‘menjawab’, memperkaya pemahaman tentang firman Tuhan dan kekristenan, menguatkan untuk menjalani hari2 selanjutnya, tentunya sangat didambakan oleh jemaat.

    Intinya HKBP tidak perlu meniru-niru ‘tata ibadah’ gereja lain apalagi ‘mengikuti selera pasar’. Memang masih perlu dilakukan banyak pembenahan agar gereja HKBP sebagai ‘rumah Tuhan’ dapat menjadikan orang-orang yang masuk ke dalamnya dan terutama orang-orang yang menjadi pelayan-pelayannya, sebagaimana kata Amang DTA, semakin mencontoh pola hidup Yesus.

    Daniel Harahap:
    Tambahan: Rumah Tuhan artinya rumah milik Tuhan. Jadi kita tidak boleh merasa diri seperti pemilik rumah dan menganggap Tuhan sebagai tamu undangan. :-)

  11. lambas siregar on June 10, 2008 at 1:37 pm

    HORAS !!
    Saya mengamati sebenarnya ada tabiat berupa keinginan kita manusia jaman ini, yaitu “I Like” daripada “I Think” terhadap Ibadah.
    Sehingga kita lebih cenderung mengkoreksi/mengubah sesuatu yang sebenarnya sudah baik yaitu tata ibadah sebagai cara berinteraksi/ bersekutu dengan Tuhan .
    Sebagian jemaat sekarang punya selera masing-masing untuk mencoba menyesuaikan selera/trend pasar ” ikut-ikutan ” gaya hingar-bingar.
    Saya percaya ibadah adalah suatu ketenangan khusuk/pergumulan untuk mendengar Tuhan.

  12. Ucok on June 10, 2008 at 2:00 pm

    Saya pikir yg penting adalah apakah bgmn membuat org terpanggil utk lbh mengenal Yesus. Kalo liturgi HKBP tdk menambah jml org yg ke gereja & mjd Kristen, & malah mengubah panako jd pancopet (krn org pd ngantuk dengering khotbah shg mudah dicopet), buat apa dipertahankan? Sama spt Tuhan mempertanyakan logika manusia knp kita tdk berbuat baik di hari Sabat walaupun itu dianggap menyalahi Taurat?

    Jd spt yg Pdt Harahap katakan, yg penting adl siapa yg mjd fokus dlm hubungan kita dgn Tuhan. Selama Tuhan adl pemimpin kita; kita melakukan perintahNya & menjauhi laranganNya, maka sy menilai liturgi hanyalah aksesoris mnj kehidupan kekal. Lagian agenda HKBP juga dibuat oleh Pdt yg dulu kerjanya pada berantem (mudah2an skrg ga pada berantem lagi), jd pasti ada kemungkinan diperbaharui.. :)

    Daniel Harahap:
    Liturgi bukan asesori gereja. :-) Liturgi adalah inti kehidupan umat beriman. Mulai dari penyusunan kalender gereja (nama-nama minggu) dan unsur-unsur serta urutannya mencerminkan sejarah keselamatan dan kehidupan iman kristen. Melalui ritme liturgi yang teratur itulah iman kita dibentuk secara perlahan dan bertahap. Memang benar liturgi dibuat oleh manusia, tepatnya bapa-bapa gereja, namun mereka menyusunnya melalui pergumulan dan permenungan panjang. Alangkah sombongnya kita orang-orang Kristen moderen yang menganggap dirinya tahu segala-galanya sehingga ingin membuang begitu saja warisan iman yang sangat panjang itu. Orang2 Kristen moderen bukanlah perintis kekristenan, mereka ada di barisan belakang, sebelumnya ada orang orang-orang yang berjalan di depan mengikut Tuhan.

    Koreksi: liturgi HKBP bukan dibuat oleh pendeta yang sekarang, namun para pendeta seratus tahun lalu, mengacu kepada liturgi gereja sebelumnya. Para pendeta HKBP baik dulu maupun sekarang tidak suka berantam, namun pernah suatu masa mereka diobok-obok dan diadu-domba oleh Soeharto, dan banyak jemaat HKBP waktu itu yang ikut2an menjadi antek Soeharto atau “mencari aman dan selamat sendiri” sehingga memperparah keadaan HKBP. :-)

  13. Ucok on June 12, 2008 at 9:29 am

    Komentar sy atas tulisan Pdt Harahap:

    1. Chatolic becomes chaotic krn pemimpin gereja tdk menjlnkan perintah Tuhan secara benar. Martin Luther melakukan reformasi. Apakah Martin Luther salah? Kalo kita hidup di zaman itu, pasti kita akan pro Paus krn takut. Tp akibat tindakan Martin Luther, skrg banyak gereja di luar Chatolic yg sgt aktif menyebarkan kekristenan. Kesimpulannya: 1 Paus bisa salah. 1000 Pdt senior dgn gelar Doktor juga bisa salah. Semuanya bisa dibenarkan jika kita kembali berjln di jln Tuhan.

    2. Soal perkelahian di HKBP, di China pemimpin gereja dipilih oleh negara. Apakah gereja hrs menghentikan misinya krn tdk setuju dgn ini?
    Menurut sy yg penting kita yg sdh Kristen berush mnjlnkan Misi Agung yaitu menyebarkan ajaran Tuhan kpd org lain yg belum mengenal kabar baik tsb. Kita yg sdh diberkati shrsnya berush menyebarkan berkat yg sdh kita terima.

    Utk itu Key Performance Index gereja:
    + Seharusnya: brp banyak org yg sdh kita perkenalkan kpd Tuhan & bawa ke surga? Spt: mengubah para koruptor/pancopet/panako, para pemakai narkoba, para pelaku homoseksual, dll.. :)
    - bukan: brp banyak org meninggalkan gereja anda krn bosan dgn liturgi gereja, berantem, atau hal2 duniawi lainnya? Spt: org Kristen pindah agama krn tuntutan kehidupan, anggota pindah ke gereja lain krn tdk ada damai dll.. :(

    Daniel Harahap:
    Martin Luther adalah seorang doktor teologi.
    Untuk mengukur kinerja gereja tambahkan: sejauhmana gereja mendukung KPK memberantas korupsi.

  14. ruben on June 13, 2008 at 1:22 pm

    tujuan ibadah adalah menjalin hubungan dengan Tuhan, dan merasakan hadiratNya, sehingga hati kita betul-betul menuju kepada Tuhan. Nah.. “bentuk ibadah” adalah salah satu perantara cara kita menuju hal itu. apakah musiknya hanya pake organ, atau musik rock bahkan music gamelan skalipun selama kita bisa merasakan hadiratNya, bagi saya its no problem. Yg terpenting hati, bukan bentuk ibadah. karena bentuk ibadah adalah hasil karya manusia yg tercipta melalui zaman dan budaya. lain zaman lain bentuknya, lain budaya lain juga bentuknya. Coba kita hitung2 ada brapa macam bentuk ibadah di Kristen sendiri. sangat banyak.. trus apakah kerja kita hanya mencari mana bentuk ibadah yg bagus dan mana yg ga bener? terserah pribadi org memilih mana bentuk tata ibadah yg disukainya selama melalui ibadah itu dia terakomodir “untuk berjumpa dengan Tuhan”.

    Daniel Harahap:
    Ibadah bukan soal selera, bukan soal suka atau tak suka Ruben, tapi soal benar dan salah. Menurut saya ibadah yang benar adalah yang sesuai dengan kaidah-kaidah liturgi. Ibadah yang sesuai dengan kaidah2 liturgi (cabang teologi yang membahas ibadah) salah satu adalah tata ibadah HKBP.

  15. jeremy on June 15, 2008 at 5:25 pm

    Syalom amang, aku mau bertanya… Dulu saya mendapat pembinaan S Musik di salah satu Distirik di Pulau Sumatra… Praesesnya mengatakan bahwa Song Leader itu satu suara, walau ada 3 orang tetap satu suara dan tidak pecah2 karena bukan VG disana? Benarkah? Dan amang, bolehkah di saat antara pengakuan dosa dan janji Tuhan, salah satu SL dengan diikuti organ bernyanyi secara pelan? Bolehkah? dan juga konsep epistel, bolehkah epistel dibacakan oleh salah seoran jemaat, dan baru nanti ditutup oleh liturgist dengan “martua do…” begitu juga dengan doa syafaat, bolehkah juga jemaat? bukan sintua yang membawakan warta jemaat tersebut?Maaf amang klo banyak pertanyaan saya… Tata Ibadah seperti itu masih konsisten koq, walaupun lagunya juga diganti dengan lagu ibadah kontemporer. Terbukti berhasil koq (reference ke Kebaktian Minggu Sore HKBP Pekanbaru)

    Daniel Harahap:
    Sebenarnya fungsi pemandu lagu adalah untuk membantu dan bukan menggantikan jemaat bernyanyi. Jika jemaat sudah dapat menyanyi dengan baik dan benar, sebenarnya pemandu lagu tidak diperlukan lagi, dan karena itu bisa mengecilkan suaranya atau menjauhkan mulutnya dari mik agar jangan mendominasi suara sehingga suara jemaat tidak kedengaran lagi. Selain itu posisi berdiri pemandu lagu sebaiknya di samping, di dekat pemusik, dan jangan menghadap jemaat agar tidak menjadi pusat perhatian. Pemandu lagu bukanlah penari eh penyanyi latar. :-) Fokus jemaat harus tetap ke salib dan altar dan pelayan liturgi. Menurut saya yang terbaik sebenarnya adalah menugaskan paduan suara yang ada dalam ibadah itu untuk menjadi motor penggerak menyanyi dengan baik dan benar. Dan mereka tidak harus berdiri namun duduk ditengah-tengah jemaat (kecuali jemaat juga menyanyi sambil berdiri).

    Mungkin yang dimaksud adalah adalah saat hening atau jeda antara pengakuan dosa jemaat dengan berita pengampunan. Tujuannya sebenarnya adalah memberi kesempatan kepada jemaat mengaku dosa pribadi secara spesifik kepada Tuhan dalam hati masing-masing. Boleh-boleh saja saat itu ada lagu, namun itu pun tetap harus dengan pelan dan lembut agar jemaat tetap dapat fokus kepada pengakuan dosa pribadinya. Suara musik atau nyanyian solo yang terlalu keras saat pengakuan dosa pribadi malah bisa membuyarkan konsentrasi jemaat berdoa.

    Epistel dan doa syafaat disampaikan oleh jemaat boleh-boleh saja. Yang penting semua dipersiapkan dengan baik. Doa syafaat sebaiknya dituliskan dan dibacakan dengan tenang dan penghayatan. Doa yang tidak dituliskan seringkali merembet dan bertele-tele. Cukuplah pokok doa empat sampai lima saja, jangan terlalu banyak. Doa juga jangan menjadi kotbah atau nasihat terselubung. Satu lagi yang pokok: dalam doa syafaat jangan lagi meminta pengampunan doa, sebab berita pengampunan dosa baru saja disampaikan beberapa menit sebelumnya. :-)

  16. ricky on June 16, 2008 at 1:18 am

    berbicara mengenai tata ibadah bagi saya adalah seperti mengamati seorang yang berusaha meletakkan kursi meja perabotan lainnya didalam rumah, bisa kita bayangkan jika rumah yang besar dengan anak anak yg banyak tentu perlu pengaturan khusus bagi hal hal demikian, tidak dapat kita nafikan pula kalau selera setiap anak tidak sama dalam setiap hal, jadi selagi kita tidak menjual rumah tsb ke orang lain, perubahan letak perabotan rumah tidaklah masalah, mana mana boleh selagi kamu lakukan untuk bapak yang punya rumah dan tentulah itu untuk keindahan dan kalau anda sudah bosan dengan letak yang sebelumnya saya kira kita tidak perlu ragu membuat supaya lebih menarik (bila perlu ada 2 jenis kebaktian dalam satu hari, pagi mungkin begini dan sore begitu asal saja semuanya itu untuk bapak yang punya rumah dan untuk keindahan bukan menghancurkanlah yang terpenting seperti dikatakan sdr ucok bagaimana kita mengabarkan mengenai bapak kita dan mereka datang kerumah kita dan juga agar yang dirumah tidak lari dari rumah , dan kalau pak pdt juga katakan pada pokok pokok pengertian no.1 diatas mengenai perayaan kebangkitan Tuhan dimana dikatakan perayaan hari sabtu diGESER menjadi hari minggu karena hari minggu hari kemenangan atas maut dan dosa, apakah ini ada di Alkitab, tentu tidak adalah tertulis, tetapi inikan karena iman kita semua juga saya bahwa ini berkenan kepada Tuhan, bukan demikian!! jadi dgn itupula kita tidak perlu kaku jika ada beda keinginan dalam tata ibadah, dengan iman kita beribadah kepada Tuhan dalam roh dan kebenaran, tata letak tidak masalah dan kita bisa menerima anak anak yang lainnya yang beda dengan kita.

    Daniel Harahap:
    Saya kurang setuju dengan mengumpamakan menyusun liturgi atau tata ibadah dengan menyusun perabotan. Lebih baik mengumpamakan tata ibadah dengan: agenda sidang. Pertanyaannya: apa yang harus kita bicarakan?

  17. JP Manalu on June 16, 2008 at 9:28 am

    Mencermati komentar “sebagian” orang yang sudah merasa “bosan” dengan tata ibadah HKBP dan gereja “mainstream” lainnya di atas, merupakan tantangan bagi kita semua (terutama pekerja di gereja) untuk menjelaskan dengan cara yang lebih komunikatif dan lebih intens lagi kepada seluruh jemaat, terutama kaum muda, akan makna tata ibadah di HKBP. Pengalaman saya, saya baru mengerti makna tata urutan ibadah di HKBP dengan baik setelah membaca tulisan amang Pdt DTA Harahap ditambah dengan pembekalan yang saya terima dalam pembinaan calon pelayan. Ketika saya marguru malua (sidi); bukan di HKBP tapi di GKPI (yang memiliki tata ibadah yang sama dengan HKBP); materi tersebut tidak saya peroleh, termasuk ketika saya aktif di NHKBP materi tersebut tidak saya peroleh.

    Saya sependapat dengan amang Pdt DTA, bahwa ibadah bukan “hanya” aksesioris, tetapi merupakan rangkaian pembekalan dan pertumbuhan iman yang selalu diulang dan diingatkan kembali; sehingga iman senantiasa diperbaharui. Saya juga beberapa kali (terutama ketika menjadi sekolah di Medan–ketika aktif di persekutuan kampus) ikut ibadah di luar gereja “mainstream”. Saya belum bisa rasakan (secara terstruktur) kapan penyembahan, kapan pembekalan dan kapan penguatan, khotbah juga dipilih kadang sesuai dengan “permintaan” dan bisa dilakukan seminggu sebelumnya. Sementara khotbah di gereja mainstream sudah dipersiapkan dalam 1 tahun, sehingga membuka peluang untuk jemaat terlebih dahulu untuk membaca firman tersebut jauh hari sebelumnya, dan bahkan bisa didiskusikan dengan pelayan atau kepada jemaat lainnya dalam forum PA Sektor/Wijk.

    Daniel Harahap:
    Dengan kata lain: yang harus diubah dan diperbaiki itu sebenarnya bukan tata ibadahnya tetapi struktur kepala orang-orang yang hadir dalam ibadah itu. Sebab mereka banyak yang datang ke gereja bukan mau beribadah namun mau menghibur dan memuaskan nafsunya. :-)

  18. Ninggor Pardede on August 4, 2008 at 6:00 pm

    Buatku kita datang ke gereja ingin mengucap syukur.
    Soal tata ibadah paling TOPlah dan kalau perlu dipertahankan. Jangan dirobah-robah sesuai kebutuhan.
    Setuju sekali kalau persembahan hanya sekali.
    Tapi mohon maaf Amang, apakah PENGAKUAN IMAN RASULI tidak ada dalam kebaktian? Saya baca ulang tulisan Amang tetap tdk ada.

    Daniel Harahap:
    Terima kasih atas koreksinya. :-)

  19. tohonan panjaitan on September 17, 2008 at 5:30 pm

    Bagus sekali Amang penjelasannya, terima kasih.
    1. Tata ibadah HKBP memang sudah baik, dan saya pikir biarlah dipertahankan, kalau ada yang ingin ibadah alternatif (umumnya naposo) biarlah itu dibuat jadwal ibadah khusus alternatif, jadi siapa yang suka alternatif bisa kebaktian di jadwal itu. Tapi saya sangat yakin, jemaat yang mengikuti ibadah dengan tata ibadah dan lagu versi HKBP (buku ende atau kidung jemaat) pasti lebih banyak.
    2. Tentang lagu dan iringan musik, saya rasa ada bedanya musik gerejawi dan musik rohani pop. Tidak semua lagu dalam KJ atau BE itu bisa diiringi dengan full band, cukup dengan organ saja, atau kalau memang mau ya pakai musik orkestra, jangan band, jadi terasa musik gerejawinya.
    3. Saya juga sangat setuju tentang “cukup satu kali persembahan”. Suatu saat saya ingin menulis surat kepada amang tentang hal ini.
    4. Khotbah itu adalah yang paling penting dalam ibadah, untuk itu, melalui amang, tolong diusulkan kalau bisa setiap pendeta baiknya mempersiapkan khotbahnya baik2, masak 1 minggu tidak cukup waktunya untuk mempersiapkan khotbah yang baik (bukan khotbah yang enak ya amang, tapi yang baik). Khotbah yang baik adalah yang berdasarkan banyak referensi, bukan hanya pemikiran sendiri. Makanya pendeta HKBP harusnya rajin membaca. Saya pikir amang DTH contoh yang baik, jangan GR ya amang.
    5. Mauliate, bravo HKBP

  20. ama ni amsal siregar on October 27, 2008 at 2:35 pm

    tata cara kebaktian seperti ngerock dll menurut saya itu sah-sah saja , yang penting disertai dengan niat dan hati yang tulus.
    jujur, saya sendiri sebenarnya lebih suka dengan cara kebaktian yang HKBP terapkan sekarang. hanya saja kalaulah dengan cara kebaktian seperti ngerock dll tadi dilaksanakan, itu bukan salah. kalaulah dia melakukan itu dengan segenap ketulusan hati dan dengan niat yang baik serta membawa perubahan yang positif bagi nya saya rasa Bapa kita pasti akan merasa senang bahwa dia dapat bertumbuh dengan baik. mari kita untuk bersatu didalam Tuhan Yesus tanpa saling adu debat mengenai tata cara ibadah. biarkan masing-masing pribadi semakin bertumbuh pesat didalam Tuhan.ini bukan soal mengikuti selera masing-masing, melainkan supaya tiap orang lebih dekat lagi kepadaNya. niat yang tulus serta rasa rindu akan Tuhan melalui kebaktian Minggu ala ngerock dll. perlu untuk didukung secara positif . jangan di halang-halangi.

  21. aek s on November 14, 2008 at 6:31 pm

    Nanaeng sungkunonhu taringot tu musik gereja do.
    (Ndang adong hubereng di artikel on manaringoti i)
    Molo adong bakat ni anak niba marmusik, tu ise do mandaftar asa di padohot sebagai pemain musik di gereja hkbp serpong ?
    Memang dang haru pistar dope, alai huida hami angka dakdanak na gabe parmusik di garejanta hkbp serpong on pe angka parsiajar dope.
    Mauliate

  22. st hupang(humala panggabean) on December 1, 2008 at 8:21 am

    Mauliate godang Amang.., saya banyak mendapat tambahan wawasan tentang tata ibadah hkbp. Begini Amang :saya st pensiun, tetapi skrg mendapat tugas pelayanan sbg ketua dewan marturia, Terus terang saja sangat kurang mendapat pengarahan. ataupun penjelasan ttg apa saja yg hrs dikerjakan dewan marturia, sehingga hampir tidak tahu apa yg hrs dikerjakan. Kalau “boan sadanari” hampir semua jemaat sudah hafal tetapi melaksanakan nya bagaimana ?? “how to do” nya sangat tidak jelas, ” sementara what to do” nya sangat ideal sekali. Tolong Amang memberikan uraiannya,sekalian dgn juklak nya. Kemudian Amang, bolehkah kami mengutip serta memperbanyak keterangan-keterangan Amang yang ada diruma metmet ini?? tujuannya adalah untuk kepentingan pelayanan di gereja kami. Mauliate godang, semoga Amang lebih diberkati lagi…

  23. nysiahaan on December 1, 2008 at 2:53 pm

    Ketemu lagi nih amang topik yg sangat penting untuk deketahui banyak orang,topik ini akan sy copy sebanyak2nya untuk sy sebarkan digreja sy terutama buat remaja dan naposo terutama lagi buat anak2ku dirumah.Dari musik meng anak2ku sdh sangat fanatik dgn ibadah yg hanya pakai orgen krn mereka bertiga sdh menjadi organis greja.melalui les orgen klasik yg sangat melelahkan rata2 10 thn nonstop 1×1 minggu.

    Mereka juga dapat pelajaran tentang sejarah musik greja dan bagaimana lagu itu diciptakan, mereka sangat bangga menjadi warga HKBP krn nyanyian2nya sangat indah dan mrk juga tau bahwa lagu2 itu diciptakan untuk diiringi orgel pipa ,krn belakangan membuat orgel pipa sulit dan tdk praktis maka dibuatlah orgen yg sperti sekarang.itu malanya dgn pianopun buku logu itu dimainkan kurang pas apalagi dgn alat musuk lain mis:o ulu nasap mudar dan 3 lagu terakhir itu,apalagi bila dimainlan dgn alat nusik lain makin ga karu2an lrn hanya orgenlah alat musik yg bisa dimainkan dgn 4 suara selakigus sesuai dgn partitur buku logu, yg sy tau untuk menguasainya dgn baik butuh wkt yg sangat lama(minimal 5 thn bagi yg minat dan bakat ,kalau kurang bakat ya sperti anak sy yg 2 org butuh wkt 10 thn) , kadang sy suruh mrk memainkan ” Sonangma modom” betapa indahnya lagu itu kalau dimainkan sesuai dg partitur buku logu (anak2ku bilang Requemnya HKBP yg memang tdk akan dinyanyikan dlm ibadah ), Setiap saat saat mrk menemukan lagu yg blm pernah dimainkan semakin mrk bangga walaupun usia mrk masih remaja.
    Jadi wahai para pengunjung rumametmet berbahagialah kita sebagai jemaat hakabepe krn keseluruhan tata ibadah kita itu sdh dirancang pendahulu2 yg amat cerdas dan akan abadi tdk lekang dimalan jaman.

  24. nysiahaan on December 1, 2008 at 2:53 pm

    Ketemu lagi nih amang topik yg sangat penting untuk deketahui banyak orang,topik ini akan sy copy sebanyak2nya untuk sy sebarkan digreja sy terutama buat remaja dan naposo terutama lagi buat anak2ku dirumah.Dari musik meng anak2ku sdh sangat fanatik dgn ibadah yg hanya pakai orgen krn mereka bertiga sdh menjadi organis greja.melalui les orgen klasik yg sangat melelahkan rata2 10 thn nonstop 1×1 minggu.

    Mereka juga dapat pelajaran tentang sejarah musik greja dan bagaimana lagu itu diciptakan, mereka sangat bangga menjadi warga HKBP krn nyanyian2nya sangat indah dan mrk juga tau bahwa lagu2 itu diciptakan untuk diiringi orgel pipa ,krn belakangan membuat orgel pipa sulit dan tdk praktis maka dibuatlah orgen yg sperti sekarang.itu malanya dgn pianopun buku logu itu dimainkan kurang pas apalagi dgn alat musuk lain mis:o ulu nasap mudar dan 3 lagu terakhir itu,apalagi bila dimainlan dgn alat nusik lain makin ga karu2an lrn hanya orgenlah alat musik yg bisa dimainkan dgn 4 suara selakigus sesuai dgn partitur buku logu, yg sy tau untuk menguasainya dgn baik butuh wkt yg sangat lama(minimal 5 thn bagi yg minat dan bakat ,kalau kurang bakat ya sperti anak sy yg 2 org butuh wkt 10 thn) , kadang sy suruh mrk memainkan ” Sonangma modom” betapa indahnya lagu itu kalau dimainkan sesuai dg partitur buku logu (anak2ku bilang Requemnya HKBP yg memang tdk akan dinyanyikan dlm ibadah ), Setiap saat saat mrk menemukan lagu yg blm pernah dimainkan semakin mrk bangga walaupun usia mrk masih remaja.
    Jadi wahai para pengunjung rumametmet berbahagialah kita sebagai jemaat hakabepe krn keseluruhan tata ibadah kita itu sdh dirancang pendahulu2 yg amat cerdas dan akan abadi tdk lekang dimakan jaman.

  25. sondang on May 2, 2009 at 12:20 pm

    Shallom Amang, Saya salut dan bangga dengan kebesaran rasa cinta para jemaat HKBP terhadap gerejanya. Saya juga Jemaat HKBP tp 5 tahun belakangan ini saya aktif di kepemudaan gereja lain, bukan HKBP….. aya cuma mau sampaikan,,,marilah kita ttp mencintai Tuhan Yesus dan melayaniNYA serta memebrikan yang terbaik kepadaNYA.

    Daniel Harahap:
    Ibadah bukan soal selera, bukan soal suka atau tak suka , tapi soal benar dan salah.

    Apa dasar kita mengatakan bahwa ibadah itu salah atau benar????Secara umum ibadah itu adalah waktu untuk memuji, menyembah Yesus serat mendengar Firman NYA,,,,jd selama rangkaiannya masih berlandaskan penyembahan dan pujian bagi Yesus maka itu disebut ibadah.

    Daniel Harahap:
    Pertanyaan “nakal”: kita mau beribadah atau mau menciptakan kenikmatan diri sendiri?Tuhan yang bagaimana yang dikenal melalui ibadah itu?
    Selanjutnya dalam ibadah itu siapakah yang jadi “tuan rumah”, “bintang”, “fokus”: Tuhan yang tersalib dan bangkit itu atau para “selebritis rohani” atau para penonton? Altar atau panggung? Apakah ibadah itu mewadahi perjumpaan dan dialog Tuhan dan jemaatNya atau monolog manusia yang haus hiburan? Pertanyaan lain yang lebih mendasar, mana yang seharusnya: kita membentuk ritme ibadah, atau ritme ibadah itulah seharusnya membentuk kita (melalui proses beribadah berpuluh tahun)?

    Marilah kita sesama Kristen slg menghargai ibadah gereja lain….Jgn hanya menganggap kita saja yg benar org lain salah…padahal belum tentu yg kita kerjakan menyenangkan hati TUHAN. Saya kurang setuju jika kita manusia membatasi kesenangan TUhan…

    _____________________________

    Daniel Harahap:
    Saran saya pendek: kembalilah ke HKBP. Katanya anggota HKBP tapi kok malah lebih banyak di gereja lain? Macam mana pulak itu?

  26. novri tampubolon on July 12, 2009 at 1:31 pm

    kali ini aku setuju banget sama amang daniel harahap. mungkin dalam kehidupan yg normal aku bisa nge-rock or metal banget. tp kalo dalam ibadah, aku lebih suka memilih tatacara tradisional yg hening dan sakral. kalo aku mau kegaduhan dan gemerlap kemewahan, aku pasti lebih memilih datang ke konser musik duniawi daripada beribadah didalam rumah tuhan dengan kegaduhan dan ketidak-menentuan. :-D

  27. Lita on August 20, 2009 at 2:28 pm

    Yang jd mslh bukanlah tata ibadah nya tetapi apakah hati pelayan dan jemaatnya siap beribadah kpd Tuhan, apakah pelayan Gereja sudah melakukan persiapan yg benar (hati, pemikiran dan tidakan) dan apakah jemaat telah mempersiapkan diri untuk berfokus memuliakan Tuhan (atau krn udah janji ma tmn di Gereja atau pny maksud lain seperti temu bisnis?) Musik/band yg ada (bagian dari kemajuan zaman) hanyalah alat yg Allah sediakan untuk kita bisa semakin bersyukur dan memberikan yg terbaik bagi Allah yaitu hidup kita sendiri.

    Daniel Harahap:
    Saran saya hanya dua. Pertama: suruhlah pemain musiknya memainkan musik sesuai partitur. Kedua: kurangilah volumenya supaya kuping Tuhan eh saya tidak sakit. :-)

  28. Lita on August 27, 2009 at 10:41 am

    Daniel Harahap:
    Saran saya hanya dua. Pertama: suruhlah pemain musiknya memainkan musik sesuai partitur. Kedua: kurangilah volumenya supaya kuping Tuhan eh saya tidak sakit.

    Maaf Amang, Pujian bukan untuk menyenangkan kuping manusia tetapi menyenangkan Hati TUHAN dan Tuhan juga yg mengetahui apakah hati kita melayani Tuhan atau manusia. Sebagai Pelayan Tuhan lbh baik kita mengoreksi diri dulu untuk bisa menuntun jemaat. Terimakasih Amang. Tuhan Yesus Memberkati.

  29. denver on December 26, 2009 at 10:40 am

    Horas Pak Pendeta,
    Saya mau tanya, apa benar, main organ di Gereja bukan suatu bentuk pelayanan? karena ada teman saya yang menilai, main organ di Gereja itu bukan pelayanan. Yang namanya pelayanan adalah, melayani sesama. Tolong saya diberi penjelasan mengenai hal ini. supaya mengerti dan bisa menjelaskan kepadanya.

    Daniel Harahap:
    Ya salah satu pelayanan. Namun bukan satu-satunya.

  30. horas on February 3, 2010 at 11:28 am

    apakah smua ibadah yg menggunakan musik sudah pasti konser dan sudah pasti tidak benar ?

  31. Friska pardede on February 3, 2010 at 8:10 pm

    Untuk menjadi pemain organ yg bermutu dia harus mengetahui tentang liturgi, harmoni dan penjiwaan nyanyian jemaat, untuk itu si pemusik akan belajar sangat lama antara 6-10 thn, jadi agak dipertanyakan memang apakah seorang pemusik (Yg berirama rame/konser) apakah dia layak disebur pelayan atau hanya kepengen tampil doang agar dia dan ortunya bangga.

    Belajar musik greja yg baik (secara klasik sesuai dgn partitur Buku Logu dan Harmoni Kidung Jemaat sangatlah sulit dan melelahkan juga disiplin yg sangat tinggi utk berlatih setiap hari minimal satu jam dicelah kegiatan sehari2 si murid), dari awal wajib membaca not balok ( jangan salah kursus musik pop juga baca not balok mis: Yamaha tetapi kursus ini tidak akan pernah sampai ketingkat musik klasik greja, puncak dari seseorang telah memiliki pengetahuan tentang musik greja yg benar adalah sanggup memainkan orgel pipa yg sangat agung itu.

    Sesekali mampirlah ke Pusat Musik Liturgi (PML) Jogjakarta, sekolah musik khusus greja ini sdh 30 thn berdiri , saat ini penanggung jawabnya adalah Karl Edmul Prier Sj ( cari di internet), beliau ini sdh berusia lebih dari 70 thn bercerita banyak tentang sejarah musik greja tentu musik yg sangat agung yg layak dipersembahkan hanya kepada Bapa di sorga, lagu2 rohani masa kini..? hanya bertahan sebentar sedangkan lagu2 ibadahnya HKBP berusia ratusan tahun dikarang oleh komponis tingkat dunia ( tentu dipilih oleh Tuhan) dan abadi sepanjang masa

  32. horas on February 4, 2010 at 12:39 pm

    apakah pemusik di hkbp sudah mengetahui tentang liturginya & sdh belajar 6-10thn
    coz yg saya tahu blm sampe kesana, smoga nantinya sampe kesana

  33. Friska pardede on February 4, 2010 at 9:29 pm

    Mudahan dgn usia 150 thn HKBP tercinta ini, semoga dibidang musiknya juga mengalam iperkembangan yang baik tdk kalah dgn pemusik greja2 lain.

    Harapan kita paling tidak HKBP memiliki 3 ahli musik greja lulusan Eropah ( belajar cukup lama bukan sekedar 1-2 thn tetapi bertahun2), dipilihlah pendeta yg masih muda , punya bakat dan minat dibidang musik, kata orang sih pasti mendapatkan beasiswa ,hanya greja memang perlu membiayai hidupnya selama belajar, lalu ilmunya dibagikan kepada pemusik greja yg berminat juga.

  34. yogie on March 19, 2010 at 2:03 pm

    Jemaat=uang
    Uang=gaji karyawan

    jangan takut jika gereja ditinggal karena ibadah gak pake band,karena selama saya tau “alat” band yang sering dipake hanya konteks penghiburan dirinya sendiri seolah2 kulihat. kata yang sering kudengar “jika pake band,praise and worship kita menggelegar!”,dan kulihat mereka “orang batak” yang suka musik2 bergoyang, tingkahnya hampir sama saat ikutan pesta paradaton wkt nyanyi2 lagu batak.

    tetaplah pada pendirian dalam ibadah,jangan takut jemaat akan pindah ke gereja lain karena gereja lain pake musik yang lebih gempar,kemuliaan Tuhan datang hanya kepada orang yang mau sujud dan benar2 beribadah kepada-Nya, bukan karena embel2 pengiring.

    Manusia mempunyai sifat bosan,jika sesuatu yang lain didptkannya bisa barang tentu bisa ditinggalkan pula hal yang baru ditemuinya itu.Jadi stay cool HKBP ttp pake yang sudah ada,jangan takut kehilangan jemaat!karena Tuhan yang mengetuk hati mereka,jika mereka salah jalan.

  35. Lamhot Sitorus on February 16, 2011 at 4:57 pm

    Horas amang.
    suatu artikel yang sangat menarik, menjawab pertanyaan2 yang selama ini sulit untuk dijawab tentang tata ibadah gereja HKBP, tetapi setelah saya ikuti dari point awak sampai akhir kayaknya ada yang kurang amang: yaitu penjelasan tentang PENGAKUAN IMAN RASULI,biasanya dilakukan sebelum warta jemaat, atau aku yang mungkin kurang dapat mencerna artikel ini. tolong penjelasannya amang

    Daniel Harahap:
    Amang benar, bagian pengakuan iman entah kenapa hilang. Nanti akan saya tambahkan. Terima kasih atas koreksinya.

  36. e.b. sitorus on February 24, 2011 at 11:47 am

    Horas.
    Jika Tuhan Mengijinkan, mulai hari Minggu 27 Februari 2011 pada Jam 15.00 WIB, HKBP Perumnas II Bekasi akan mengadakan Kebaktian Khusus bagi Remaja dan Pemuda yang diiringi Band. Tata Ibadah yang akan digunakan berpedoman pada Agenda HKBP dengan beberapa penyesuaian sesuai kondisi psikologis kaum remaja dan penuda. Selama ini pada Ibadah Kebaktian Sore (Jam 18.00 WIB)di HKBP Perumnas II Bekasi telah diringi oleh musik tradisional batak secara terbatas. Bila Saudara-saduraku berkenan hadir, dan rela memberikan masukan penyempurnaan kami sangat berterimakasih, Mauliate.

    Daniel Harahap:
    Memasukkan semangat “kharismatik” dalam ibadah HKBP saya pikir, maaf, hanyalah merusak semangat ibadah HKBP itu sendiri. Itu persis seperti mencampur minyak dengan air. Atau ibarat menyanyi rock dengan pakaian kebaya. :-) Kenapa tidak sekalian bergaya kharismatik saja? Apa yang dimaksud dengan kondisi psikologis kaum remaja dan pemuda? Dari jaman dulu gaya berenang itu-itu saja namun anak-anak remaja dan pemuda sangat menikmatinya.

  37. Dame na sumurung on March 2, 2011 at 11:48 pm

    Yg banyak protes diatas yg katanya ibadah HKBP kaku dlsb pasti tak membaca dengan sungguh2 apa yg bapak Pendeta DTA tuliskan diatas. Coba di dalami & dipahami dulu kalimat di awal, di pendahuluan :
    “Mungkinkah Anda dapat menikmati pertandingan sepak bola di televisi, seandainya kau tidak mengerti sama sekali tata cara atau aturan main sepak bola?”
    Apakah anda sudah memahaminya????
    mudah2an gak ada komen seperti itu lg di bawah ini hehehe….

  38. roy sirait on April 12, 2011 at 12:57 am

    ibadah dari hati…… selebih nya kita melihat ke dalam diri sendiri, apakah kita sudah jauh lebih baik daripada mereka? apakah kita leih sempurna(dlm beribadah) daripada mereka? saya pun anggota HKBP, tp saya kurang begitu suka dengan terlalu mengomentari perbedaan2 dalam beribadah……. masing2 punya cara, yang intinya tetap satu…. mendekatkan hati kepada tuhan…. GBU

  39. Daniel Pane on April 20, 2011 at 11:11 pm

    Saya ingin mengomentari komentar Amang, saya tidak tahu bagaimana sikap HKBP terhadap gerakan karismatik. Tapi, di beberapa Gereja Lutheran, cukup lazim memasukkan unsur gerakan karismatik ke dalam liturgi dan tidak dianggap sebagai unsur yang selalu merusak. Asalkan penataannya jelas, unsur-unsur karismatik itu bisa dimasukkan.

    Saya gak tahu bagaimana komentar Amang terhadap video ini:
    http://www.youtube.com/watch?v=AvnyNpY2GIU&
    dan
    http://www.youtube.com/watch?v=LePi58OMWZw
    Dua video ini menunjukkan “Misa Karismatik” di Gereja Lutheran Swedia (ya bagi yang tidak tahu, kebaktian Lutheran di Swedia disebut “Misa”)

    Tentunya kalaupun memang bisa diterima perlu ada pendampingan yang lebih mendalam menyangkut pemilihan lagu atau hal-hal lainnya.

  40. Ivander Yeremia Simanungkalit on April 30, 2012 at 2:28 pm

    Amang, saya Ivander dari HKBP Pura Bojonggede-Resort Bogor. Saya ingin tahu bagaimana cara umat Israel beribadah pada Perjanjian Lama dan Baru…?(Kalau bisa disertai rujukan ayat). Saya juga ingin minta pendapat amang, bagaimana jika suatu kebaktian remaja menggunakan tata ibadah HKBP (liturgi), tetapi menggunakan lagu – lagu Pujian/penyembahan yang baru – baru saja diciptakan dizaman ini (lagu kharismatik)…? Apakah ini salah…? Bukankah Tuhan tetap menerima segala lagu pujian yang kita lantunkan jika sesuai kehendakknya..?

  41. Richard on June 26, 2012 at 9:22 pm

    shaloom….
    saya sebenarnya bukan jemaat HKBP, tapi saya salah satu jemaat gejera mainstream yg ada di sulawesi, kalau saya bisa sebut;GMIM. realitas yg terjadi di sulawesi utara adalah sekarang ini sepertinya terjadi “hijrah” anggota jemaat gereja mainstream ke greja2 karismatik. salah satu faktornya adalah tata ibadah gereja mainstream dianggap tidak bersemangat dan tak ada Roh Kudus. lebih parahnya lagi para anggota jemaat gereja2 karismatik menyerang tata ibadah liturgi dengan ayat2 alkitab (biasanya di Mazmur dan Amsal).
    pertanyaan saya, apa pandangan anda dengan realita seperti itu?
    kemudian apakah penjelasan yg seperti ini juga berlaku untuk tata ibdah GMIM kami, pasalnya tata ibdahnya hamoir keseluruhan sama (hanya beberapa urutannya berbeda)?
    kemudian, apa pandangan anda mengenai tepuk tangan saat ibadah, pasalnya ada anggapan apa bila kita betepuk tangan dan bergembra dalam ibdah, katanya ibdah itu lebih terlihat hidup…

    thnks JBU

  42. joen on December 2, 2013 at 1:42 pm

    Yaelah pake pengakuan dosa segala.. pengakuan dosa tuh sama Tuhan , secara langsung.

  43. yohana nababan on April 24, 2014 at 12:40 am

    Amang, saya sangat dan amat sangat setuju dgn tata ibadah hkbp, dan melalui bacaan di atas saya jadi mengerti mengapa orang tua saya sangat ingin saya tetap menjadi jemaat hkbp di perantauan ini.
    Dan yg paling saya mau tanyakan sebenarnya, saya baru disini amang, saya ingin tahu jadwal2 ibadah di gereja hkbp kebon jeruk ini. Ada ibdah pada jam berapa saja amang? Mauliate godang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*