Kemboja Kuning Di Altar Tanah

May 31, 2008
By Daniel T.A. Harahap

kemboja-kuning-di-altar-tanah.JPG

hujan baru pergi
cahaya dinanti datang dari barat
untung belum telat
kemboja kuning basah di altar tanah
lembut menawarkan harapan

Serpong, 31 Mei 2008

Daniel T.A. Harahap
(yang tiba-tiba sadar sudah 20 tahun tak menulis puisi) :-)

Share on Facebook

8 Responses to Kemboja Kuning Di Altar Tanah

  1. Rudi Juan Carlos Sipahutar on May 31, 2008 at 10:47 pm

    pergi tapi tak selamanya raib
    kendati datang redup tapi kuiklas terima
    mahkota embun menatap bening
    biarkan indahmu mengusir gundah
    membuang bimbang yang mengantung
    angin meniup harumi bumi pertiwi

  2. Mulyadi Pasaribu on June 1, 2008 at 5:03 am

    Bah… Ngaleleng Tahe Amang dang mambahen puisi. Sarupa ma hita… Huehehehe… :D

    Ah dia tak pergi…
    Dia hanya menghibur diri sejenak
    Lihatlah beberapa waktu mendatang
    Dia akan kembali dengan senyum riang
    Bagaikan anak kecil mendapatkan mainan

    Hai lihat… dia tlah datang
    Wajahnya tampak riang
    Untung dia pergi sejenak
    Daripada terus bergerak
    Padahalnya otaknya sudah penat

    Bah… Ai puisi aha do on. Huehehehe :)

    Semoga selalu sehat ya amang… Kirim salam sama inang yang katanya lagi sakit. Tak lupa juga kirim salamnya buat ito dan ampara ya amang. Horas! Gbus

  3. Lidya Hutagaol on June 1, 2008 at 3:25 pm

    puisi yg indah amang :)
    aku izin link’in rumametmet di blogku ya.

    Daniel Harahap pro Lidya:
    Wah, aku jadi malu. Itu puisi yang tiba-tiba saja lahir saat lagi suntuk, sore sehabis hujan saat melihat kemboja di depan rumah… :-)

  4. harnata simanjuntak on June 2, 2008 at 8:46 am

    kuning adalah telor
    didadar diatas kuali

    kuali adalah besi
    ditempa di atas api

    api adalah benci
    disulut dera tak henti

    henti adalah esbeye

    esbeye adalah telor

    :-)

    (yang baru makan telor di dalam miehun goreng)

  5. Ninggor Pardede on August 14, 2008 at 2:36 pm

    Bah na luccu ma si Mulyadi on ate. Huehehe

  6. Tumpal Marbun on November 28, 2008 at 5:43 am

    Horas Amang..! Syalom, patandahon ma diriku : Sahalak ruas ni hkbp sian sada huta na metmet di humbang hasundutan, mansai uli do hubege baris ni puisi ni amang
    ‘cahaya dinanti datang dari barat’
    Biasana sian purba do binsar mataniari alai marhite puisi ni amang on boi do atusan holong nasian Tuhanta dang tarsura-sura rohani jolma.
    Mauliate godang ma diamang

  7. eric arac on February 21, 2009 at 9:24 am

    hasrat untuk meramaikan ‘puisi’ yang kelihatannya agak sepi.

    PANGGUNG

    Hidup………………………
    adalah rangkaian mimpi
    yang terlahir dari satu kenyataan

    jangan menangis
    titik embun cukup menyapa pagi
    jangan banjiri
    air hujan pun tak tertampung lagi

    tersenyumlah
    walau hidup sarat kegetiran
    tertawalah
    walau dunia bukan suatu lelucon

    demikian…………………………
    sampai sandiwara ini selesai

    by: eric arac, ditulis 291283 -

  8. fryonanda on March 14, 2009 at 10:36 am

    bagus bagus ne puisinya

    mampir ke blog ku ya????
    untuk berbagi info

    http://branksecs.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*