hujan baru pergi
cahaya dinanti datang dari barat
untung belum telat
kemboja kuning basah di altar tanah
lembut menawarkan harapan
Serpong, 31 Mei 2008
Daniel T.A. Harahap
(yang tiba-tiba sadar sudah 20 tahun tak menulis puisi)
hujan baru pergi
cahaya dinanti datang dari barat
untung belum telat
kemboja kuning basah di altar tanah
lembut menawarkan harapan
Serpong, 31 Mei 2008
Daniel T.A. Harahap
(yang tiba-tiba sadar sudah 20 tahun tak menulis puisi)
pergi tapi tak selamanya raib
kendati datang redup tapi kuiklas terima
mahkota embun menatap bening
biarkan indahmu mengusir gundah
membuang bimbang yang mengantung
angin meniup harumi bumi pertiwi
Bah… Ngaleleng Tahe Amang dang mambahen puisi. Sarupa ma hita… Huehehehe…
Ah dia tak pergi…
Dia hanya menghibur diri sejenak
Lihatlah beberapa waktu mendatang
Dia akan kembali dengan senyum riang
Bagaikan anak kecil mendapatkan mainan
Hai lihat… dia tlah datang
Wajahnya tampak riang
Untung dia pergi sejenak
Daripada terus bergerak
Padahalnya otaknya sudah penat
Bah… Ai puisi aha do on. Huehehehe
Semoga selalu sehat ya amang… Kirim salam sama inang yang katanya lagi sakit. Tak lupa juga kirim salamnya buat ito dan ampara ya amang. Horas! Gbus
puisi yg indah amang
aku izin link’in rumametmet di blogku ya.
Daniel Harahap pro Lidya:
Wah, aku jadi malu. Itu puisi yang tiba-tiba saja lahir saat lagi suntuk, sore sehabis hujan saat melihat kemboja di depan rumah…
kuning adalah telor
didadar diatas kuali
kuali adalah besi
ditempa di atas api
api adalah benci
disulut dera tak henti
henti adalah esbeye
esbeye adalah telor
(yang baru makan telor di dalam miehun goreng)
Bah na luccu ma si Mulyadi on ate. Huehehe
Horas Amang..! Syalom, patandahon ma diriku : Sahalak ruas ni hkbp sian sada huta na metmet di humbang hasundutan, mansai uli do hubege baris ni puisi ni amang
‘cahaya dinanti datang dari barat’
Biasana sian purba do binsar mataniari alai marhite puisi ni amang on boi do atusan holong nasian Tuhanta dang tarsura-sura rohani jolma.
Mauliate godang ma diamang
hasrat untuk meramaikan ‘puisi’ yang kelihatannya agak sepi.
PANGGUNG
Hidup………………………
adalah rangkaian mimpi
yang terlahir dari satu kenyataan
jangan menangis
titik embun cukup menyapa pagi
jangan banjiri
air hujan pun tak tertampung lagi
tersenyumlah
walau hidup sarat kegetiran
tertawalah
walau dunia bukan suatu lelucon
demikian…………………………
sampai sandiwara ini selesai
by: eric arac, ditulis 291283 -
bagus bagus ne puisinya
mampir ke blog ku ya????
untuk berbagi info
http://branksecs.blogspot.com