Satu Hari Minggu di Serpong

May 15, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Pelantikan Pendeta Daniel Harahap

gereja-hkbp-serpong-photo-by-dta.JPG

Oleh: Alof

Setelah Padre Daniel Taruli Asi Harahap yang populer dengan inisial DTA mengabarkan melalui milis hkbp bahwa beliau akan dilantik sebagai Pendeta Resort di HKBP Serpong pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, eh pada tanggal 9 Maret 2008 jam 09.00 WIB, aku langsung menyampaikan euangelion alias berita gembira tersebut kepada para laeku (3 orang sepupu istriku, para lelaki bujangan yang mendaku sebagai high quality jomblo) yang dahulu pernah di-pendeta-i oleh DTA di HKBP Palembang.

Tentu saja aku merasa wajib memberitahu mereka, karena mereka mengaku kenal dekat pada DTA dan sangat mengagumi beliau. Dengan senang hati pula mereka menyatakan mau mengawaniku ke acara tersebut. Sehingga, pada tanggal 8 Maret 2008 malam, kami pun mengikrarkan janji untuk berangkat ke Serpong keesokan harinya pada pukul 07.30 WIB.

Keesokan paginya, tahu-tahu hatiku tergerak rasa iba melihat mobil yang kotor setelah kehujanan di jalan semalam. Timbullah niat tulus untuk memandikan kendaraan yang selama beberapa tahun terakhir setia membawaku ke mana pun aku ingin. Melihat jam yang jarum-jarumnya baru berkisar di angka 7, maka aku pun langsung menunaikan niat tak terbendung tersebut.

Saking asiknya membersihkan mobil, tidak terasa jarum jam sudah merangsek ke angka 8 ketika aku menggulung selang air. Maka, aku pun bergegas mandi dan berganti pakaian. Sambil mengunyah bakpau hangat isi daging babi yang disiapkan istri, aku pun berangkat menjemput para laeku di Pejaten. Ternyata, kedua laeku itu sudah siap sejak pukul 07.15. (Bisa kualat aku karena mengerjai hula-hula :-) )

Jam 08.30 kami pun tinggal landas. Istriku tidak jadi ikut karena tidakmengerti bahasa Batak Toba (maklumlah, blasteran Batak-Jawa). Apalagi setelah kusampaikan bahwa acaranya akan lama (sesuai maklumat yang disampaikan DTA melalui milis). Maka, aku hanya dikawani oleh Ricky si sulung dan Rully si bungsu. Sedangkan anak lelaki yang tengah tidak ikut karena tinggal di tempat lain dan harus mengawani laenya ke gereja.

Sebenarnya kami agak nekad juga, karena tidak tahu persis di mana lokasi HKBP Serpong. Tidak ada di peta Jakarta karya G.W. Holtorf produksi tahun 2002 yang kumiliki :-( Setelah bertanya pada Satpam di Indomaret sekeluarnya kami dari jalan tol Serpong —dan dengan merapalkan “Giant Serpong” dan “Villa Melati Mas” kalimat bertuah—, kami pun diselamatkan dari kesesatan dan diarahkan ke jalan yang benar, sehingga berhasil menemukan gereja HKBP di Jalan Oliander VI Blok O Nomor 1.

Kami tiba jam 09.10 WIB di sebuah gereja yang dapat disebut kecil dan sederhana dibandingkan kemegahan HKBP Rawamangun yang menjadi tempat DTA berkarya beberapa tahun silam.

Kusangka kami sudah terlambat. Apalagi ketika melihat bangku-bangku yang ada di luar gereja sudah diduduki beberapa orang. Maka, dengan segera kami masuk ke dalam gereja dan menganeksasi sebuah bangku yang dikaruniai hembusan penyejuk udara. Sambil menunggu, aku membaca-baca lembaran liturgi dan warta jemaat. Ternyata, acara dijadwalkan jam 09.30 WIB sampai 11.30 WIB.

“Wah, kecepatan kita masuk. Padahal sempat tadi kita merokok barang sebatang dua batang.” cetusku pada laeku. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Apalagi kami khawatir bangku kami akan dikudeta oleh orang lain jika kami meninggalkannya.

Suasana gereja sangat gaduh. Semua orang berbincang dengan sesamanya, dan bukan sekedar berbisik-bisik. Belum lagi suara anak-anak kecil yang berteriak-teriak ataupun menangis.

“Inilah ciri khas HKBP. Ribut.”, kata laeku. “Malah, bukan hal yang aneh kalau bapak-bapaknya keluar untuk merokok saat pendeta kotbah. Apalagi waktu sermon.”, tambahnya lagi.

Akhirnya, sekitar pukul 09.30 lewat (entah lewat berapa menit persisnya, aku tidak perhatikan jam), kebaktian pun dimulai. Iring-iringan pendeta dan sintua memasuki gereja, dipimpin oleh Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min, Pdt. Abidan Simanungkalit, M.Min, dan Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap, M.Th yang rambut gondrongnya —tampaknya— sedikit dipangkas. (Kulihat, kondisi beliau secara fisik baik-baik saja. Entah hati dan benaknya :-) )

Beberapa anggota jemaat berbisik-bisik, “Itu yang brewok”. Rupanya mereka sedang menaksir-naksir pendeta baru mereka. “Seperti Yesus”, tambahku dalam hati sambil tersenyum. (Tapi, belum pernah kulihat gambar Yesus yang beruban :-) )

Acara diawali dengan kebaktian biasa. Hanya saja, kali ini ada 5 kelompok koor: Koor Ama Rawamangun, Koor Ama HKBP Serpong, Koor Wijk Jerusalem, Koor Maranatha HKBP Cijantung, Koor Ama HKBP Cijantung. Seharusnya masih ada 1 lagi. Tetapi, entah mengapa, Koor Ina HKBP Cijantung tidak jadi beraksi. Dua kelompok koor membawakan 2 lagu, sehingga ada 7 lagu persembahan koor. Ada juga 1 nyanyian solo yang dibawakan oleh seorang perempuan. Sedangkan jemaat bernyanyi sebanyak 11 kali hingga tuntasnya acara. (Jadi ingat Martin Luther yang mengatakan sebuah lagu yang baik senilai dengan 2 buah doa :-) )

Kotbah yang dilayankan oleh Pdt. JAU Doloksaribu mengacu pada Hakim-hakim 11:1-11 (ini nomor cantik!). Berhubung aku tidak mahir berbahasa Batak Toba, tidak semua isi kotbahnya dapat kuserap. Samar-samar kutangkap maksudnya, yakni penghargaan yang adil terhadap sesama. Mengamati tanggapan beberapa anggota jemaat yang beberapakali tertawa maupun manggut-manggut, kurasa beliau cukup baik dalam menyampaikan kotbah.

Aku tidak tahu berapa lama beliau berkotbah. Agaknya cukup lama juga, sehingga laeku agak menggerutu. “Kalau Pendeta Daniel yang berkotbah, biasanya ringkas dan sistematis.”, katanya. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB saat kotbah di-amin-kan. Menurut jadwal sih seharusnya seluruh acara sudah usai pada jam tersebut :-(

Selanjutnya adalah kolekte (pelean) kedua (kolekte pertama menggunakan 2 kantong). Entah mengapa, kolekte kedua ini dilangsungkan dengan memasukkan amplop ke dalam kotak di depan mimbar gereja. Sedangkan kami tidak mengambil amplop yang disediakan di depan pintu gereja pada saat masuk tadi. Apa boleh buat, terpaksalah kami mempersembahkan uang secara bugil tanpa penutup.

Aku cukup terpana melihat banyaknya orang yang berbaris memasukkan amplop. Banyak juga anggota jemaat gereja ini, pikirku. (Richard Hutahaean yang bertemu denganku setelah selesai acara mengatakan bahwa anggota jemaat ada 450 Kepala Keluarga.) Padahal, tadi pagi sudah ada kebaktian.

Dari laporan keuangan gereja minggu sebelumnya, terlihat bahwa jumlah kolekte kebaktian pagi lebih besar dibanding kebaktian siang. Jika fenomena ini diasumsikan sebagai sebuah kebiasaan dan besarnya kolekte ekivalen dengan jumlah orang yang hadir di kebaktian, maka peserta kebaktian pagi lebih banyak daripada kebaktian siang. Mungkin hari Minggu ini keadaannya lain, mengingat ada acara istimewa, sehingga peserta kebaktian siang lebih banyak. Wallahu’aalam.

Saat memasukkan uang tanpa busana itu ke kotak, aku sempat melirik DTA yang duduk bersama istri di barisan terdepan. DTA berbisik kepada istrinya, yang lamat-lamat kudengar, “Itu alof”. Mudah-mudahan karena DTA benar-benar mengingat wajahku, bukan kuncirku :-)

Lalu masuklah ke acara pelepasan dan penerimaan pendeta. Pdt. Abidan Simanungkalit, M.Min yang semula menjadi pendeta di HKBP Serpong akan dilepas untuk bertugas di HKBP Cijantung. Sedangkan Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap, M.Th yang selama setahun lebih tidak jelas statusnya, kini diterima sebagai pendeta di HKBP Serpong.

Pdt. JAU Doloksaribu memimpin acara ini selaku Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3 yang membawahkan Resort Serpong. Setiap membaca nama DTA, beliau secara jelas menyebutkan gelar lengkap DTA, Master of Theology. Barangkali beliau hendak mengoreksi penulis naskah liturgi “Paborhathon dohot Paojakhon Pandita Ressort di HKBP Ressort Serpong” yang mencantumkan gelar S.Th di belakang nama DTA.

Selesai sesi berterimakasih pada pendeta lama dan menginterogasi kesediaan pendeta baru menggembalakan jemaat HKBP Serpong, Pdt. Abidan Simanungkalit dan keluarga berpamitan pada seluruh jemaat HKBP Serpong dengan mempersembahkan sebuah lagu. (Banyak juga anaknya. Kalau tidak salah, ada 7 orang. Tetapi tidak semua hadir dalam acara itu.)

Kemudian DTA dan istri maju ke depan untuk memberikan sambutan pertama (hata partujolo) kepada para anggota jemaat. Setelah memperkenalkan istrinya, DTA bercerita bahwa dia mendapat protes dari anaknya jika disebut “Amani Kika (anak pertamanya)” karena anak-anak lain mengatakan bahwa DTA bukan hanya bapak Kika, melainkan juga bapak Nina dan Willy. Walhasil, jadilah DTA sebagai “Amani KNW”. Dan itulah gelar yang akan dituliskan pada nisannya kelak, katanya.

DTA pun menghaturkan terimakasih atas dukungan para kolega dan sahabatnya, terutama yang hadir dalam acara itu. Sempat-sempatnya DTA menyebut nama lengkapku (nama asli plus marga), yang disebutnya dari GKI Kebayoran Baru. Aku jadi agak tersipu-sipu, karena aku datang atas nama pribadi. Namun demikian, aku senang, sebab hal itu membuktikan betapa luasnya jaringan keakraban yang dibangun oleh DTA. Lintas denominasi, lintas sektoral.

Kalau saja nama Padre Jan Calvin Pindo dari GKI Pamulang, Padre Joas Adiprasetya dari GKI Pondok Indah yang kini sedang khusuk di Boston, Padre Daniel Zacharias dari GKO, Pdt. Tonny G. Tanos di Washington DC, rekan-rekan pendeta non-HKBP yang beberapa waktu lalu melurug ke milis ini, maupun kolega-kolega DTA di mancanegara turut disebut, apalagi jika seluruh nama kawannya di Friendster dideretkan bak undangan perkawinan orang Batak, mungkin tak akan cukup satu halaman kertas A4 menampungnya dan tak akan cukup 1 jam untuk membacanya :-) Untunglah DTA bukan orang yang gemar pamer.

Kemudian, sebagaimana biasanya acara-acara Batak, masuklah ke acara yang ditunggu-tunggu, yaitu sambutan-sambutan (mandok hata) dari orang-orang pilihan. Entah mengapa ada seorang pemberi kata sambutan yang kelihatannya menggunakan kesempatan itu untuk menuangkan uneg-unegnya. Entah apa pula pasalnya (maklumlah, bahasa Batak Tobaku minim). Celakanya, omongannya panjang pula. Sampai-sampai, seorang sintua yang secara sopan membisikinya (mungkin mengingatkan soal waktu) pun ditampiknya dan ditegurnya.

Aku dengar seseorang yang duduk di belakangku menggerutu (dalam bahasa Batak), “Kenapa sih dia ngomong gitu di sini? Kenapa masalah itu harus diingat-ingat sih?”. Entah apa persoalan yang diungkitnya. Ah, masa bodohlah! Aku toh datang ke sini bukan untuk mencari tahu hal-hal yang tidak perlu kutahu, melainkan untuk memberikan selamat dan dukungan pada sobatku, DTA.

Selesai acara, kami memberikan selamat kepada DTA dan keluarga. DTA memperkenalkanku sebagai “teman di milis” pada istrinya. Adapun kedua laeku masih dikenali oleh istri dan mertua DTA. Tentu saja, karena bertahun-tahun mereka bertetangga di Palembang.

Kami tidak sempat menyalami Kika, Nina, dan Willy (yang pada saat kebaktian duduk 2 baris di depan kami). Walau mereka masih kecil, kurasa mereka pun —sesuai kadar usia muda mereka— berbahagia dan berbangga atas pelantikan ayahanda mereka.

Jarum jam sudah di kisaran angka 13.30 ketika kami berpamitan. “Sampai ketemu di milis”, ujar DTA. Dan barangkali —semoga— Tuhan berkenan atas kehadiran DTA sebagai gembala di Serpong, sehingga turunlah “hujan berkat melimpah”. Benar-benar melimpah-ruah.

Ketika berdiri di pelataran gereja, di bawah tenda yang disirami hujan dengan rajinnya, menantikan laeku mengeluarkan mobil dari rintangan beberapa mobil yang diparkir melintang, seseorang menghampiriku.
“Lae alof?”, sapanya.
Aku mengiyakan. Ternyata dia adalah Richard Hutahaean.
“Kok tahu aku ada di sini? Padahal kita belum pernah jumpa.”, tanyaku.
“Pendeta Daniel tadi bilang bahwa alof datang. Cari saja yang rambutnya panjang dan dikuncir, katanya.”
Hahaha… Kalau kemarin aku jadi pangkas rambut, sulitlah Richard menemukanku di antara banyak orang lain di gereja tersebut.
Kami pun berbincang-bincang sejenak. Kemudian aku berpamitan, karena laeku sudah berhasil melepaskan mobil dari himpitan mobil lain.

Hujan masih sangat deras. Perjalanan kami masih jauh untuk pulang ke Jakarta. Perut pun sudah berteriak-teriak kekurangan pasokan pangan. Di pelataran gereja memang disediakan santap siang, namun kami memutuskan untuk mengangkat bendera putih pada para tamu yang kelihatannya cukup banyak jumlahnya dan cukup lapar. Maka, kami pun bergegas menembus hujan, meninggalkan HKBP Serpong menuju Jakarta.

Senja sudah mulai merayap di cakrawala.

Selamat bertugas, sobatku, Padre Daniel Taruli Asi Harahap. Walau ada rasa pilu dalam hati ketika membandingkan gereja HKBP Serpong dengan HKBP Rawamangun, aku yakin [dan berdoa] DTA tidak berkecil hati. Banyak pekerjaan yang sudah menanti. Malah, kuharap, dari tempat inilah akan muncul gagasan-gagasan besar yang lahir dari ketulusan pengabdian, yang akan diperjuangkan oleh dan mencerahkan banyak orang demi membesarkan, memantapkan, dan memperbaharui HKBP dalam cinta.

Sebab, di sini, —kuharap— DTA akan menemukan lawan berbincang dan mitra kerja yang hebat-hebat. Konon, tidak sedikit anggota jemaatnya yang bergelar doktor yang mengemban tugas pengabdian di Puspiptek Serpong. Juga para pemuda (naposo bulung).

Kini DTA bukan lagi “pendeta kecil di gereja besar” sebagaimana tagline yang dulu kerap ditulisnya. Semoga suatu saat beliau akan menjadi pendeta besar di gereja besar dengan hati, pikiran, dan kebijaksanaan yang besar tanpa membesar-besarkan diri, yang tetap memproklamasikan dirinya kecil di hadapan Sang Kepala Gereja.

Semoga hujan berkat semakin melimpah. Di Serpong. Dari Serpong.

Deo volente. Amen.

Dikutip dengan rasa tersanjung dan ucapan terima kasih namun tanpa permisi dari Solilokui
http://solilokuifajar.blogspot.com/

Share on Facebook

8 Responses to Satu Hari Minggu di Serpong

  1. ruly on May 15, 2008 at 11:33 am

    Selamat melayani Amang Pendeta & Keluarga di Huria yg baru..

  2. ~alof on May 15, 2008 at 4:00 pm

    Setelah anda mengumumkan melalui milis hkbp tentang web log (blog) yang saya miliki (dan telantar tanpa isi selama bertahun-tahun :-( ), dengan segera bermunculan para pengunjung dari berbagai negara. Akibatnya, saya harus agak bekerja keras membenahi blog tersebut agar penampilannya tidak terlalu memalukan.

    Dengan memasang penghitung (counter) pengunjung, saya bisa memperoleh berbagai informasi yang berkenaan dengan lalulintas kunjungan. Ternyata, kebanyakan dari mereka datang ke blog saya setelah mengunjungi rumametmet.com . Hebat nian blog Padre DTA ini sebagai rujukan :-)

    Mereka kira, alamat tautan yang dipasang di rumametmet. com pastilah jaminan mutu. Hahaha …

  3. kenzo bgr on May 15, 2008 at 8:47 pm

    memang kita selalu jumpai acara kita tidak sesuai waktu yamg uda di program, kadang kita terlalu asik mandok hata ngak mikir banyak yang mandok hata. ya gitulah. kita nikmati ajalah.

  4. Supardi Manurung on May 17, 2008 at 5:00 pm

    OK, selamat bertugas Amang. Pelayanan tidak diukur dari besar kecilnya gereja. Hati yang mau melayanilah yang akan dilihat oleh Tuhan kita.
    Horas!

  5. Rafina Harahap on May 17, 2008 at 11:04 pm

    Selamat bertugas di “terra-incognita” :-) , semoga Tuhan memberkati Amang DTA sekeluarga.

    Nommensen

    Seperti apostel sesudah Kristus,
    Ia datang sebagai pengembara,
    Menemukan terra-incognita,
    Dibimbing panggilan Rohkudus.

    Nommensen melepaskan bangsa,
    Menjumpai bangsa lain benua,
    Dituntun oleh pesan tanpa bahasa,
    Yang didengarnya di ladang-ladang Jermania.
    Setiba di pinggir Danau Toba,
    Pengembara berdoa, lalu bekerja,
    Mendirikan gereja di atas batu,
    Menjadi dasar persekutuan baru,
    Bangsa yang mencari Tuhannya.

    kumpulan puisi Sitor Situmorang, Angin Danau
    penerbit: Sinar Harapan, Jakarta, 1982.

  6. Lontung on May 18, 2008 at 12:28 pm

    Selamat bertugas Bapak Pendeta.
    Permintaan saya :
    Situs ini kan terbangun pas Bapak belum menjadi apa-apa di hkbp rwmgn, lalu berkembang setelah Bapak menjadi bukan apa-apa di HKBP. Nah… semoga setelah Bapak menjadi apa-apa di HKBP Serpong, situs ini tetap terus bertahan dan semakin berkembang.

  7. rudy sihombing on July 3, 2008 at 1:27 pm

    Baru hari ini aku baca “KISAH SAHABAT” dan “SATU HARI MINGGU DI SERPONG” ini. Aku pikir telah semua isi dokumen “RUMAMETMET” sudah kubaca, ternyata masih ada saja yang terlewat.

    Dengan semakin lengkap saya membaca “RUMAMETMET=RM’”, semakin yakin saya bahwa “RUMAMETMET” adalah sarana yang paling efektif untuk “MENJALA” banyak orang, bukan jabatan Ephorus, Sekjen, Praeses ataupun Pendeta Resort.

    Boleh-boleh saja peluang untuk mengemban jabatan tersebut diraih asal jangan meninggalkan jabatan “PRESIDEN RUMAMETMET”. Dengan jabatan di “RM” banyak orang memperoleh “serapan pagi rohani”, makan siang, pengantar tidur, dari berbagai gereja, agama atau dari kalangan atheis sekalipun.

    Walau DTA telah pindah dari Palembang, Jatiwaringin atau dari Serpong sekalipun, kita-kita masih bertemu lewat RM.
    DTA lewat sarana RM saya anggap sama seperti Paulus mengirimkan surat ke Huria di Roma, Korint dll. (Cuma sekarang masih hanya dalam bhs Indonesia, Kapan bahasa Inggris, Jerman (mungkin kolaborasi dengan DR Fridz halini dapat terwujud), dll).
    Paulus diabad I Masehi = DTA dengan RM diabad XXI
    Alangkah bahagianya jika saya juga ikut berpartisipasi aktif di RM yang indah ini.

  8. JUNTAKPOS on September 25, 2009 at 11:41 pm

    Sudah sering saya membaca milis ruma metmet DTA Harahap yang tulisannya sangat bagus. Rupanya tulisan ini baru sekarang menemukani, mengapa ya terlewatkan ….. Dari dulu saya tidak berniat mebuka blok, yang menurut pikiran ku, menulis di blok suatu pekerjaan yg tak berguna. Rupanya dengan banyaknya waktuku saya mulai tertarik membuka blok dengan berpedoman kepada tulisan membuka blok dengan gammpang dari satu bloger. Akhirnya saya mencoba dan sudah mempunyai blok yg bernama juntakpos@gmail.com yang walaupun sederhana, dan tertatih-tatih saya membuatnya. Semoga dgn blok ini saya dapat menulis yang lebih bagus. amin

    Daniel Harahap:
    Selamat menambah bilangan blogger. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*