Roh Kudus Mencerdaskan

May 12, 2008
By

Almanak Senin 12 Mei 2008:

burung-111.jpg

Kotbah Pesta Kedua Turunnya Roh Kudus (Pentakosta)

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi HarahapĀ 

Evangelium: 1 Korintus 2:12-16
Epistel : Yohanes 14:23-27

Hari ini di gereja kita merayakan Pesta Kedua Peringatan Turunnya Roh Kudus. Ini adalah suatu kesempatan emas bagi kita merenungkan lebih dalam makna pemberian Roh Kudus kepada kita. Selain apa yang telah kita dengar kemarin apa lagi yang penting kita pahami dan sikapi tentang Roh Kudus?

PERTAMA: AGAR KITA SUNGGUH-SUNGGUH PERCAYA KEPADA KEKUATAN ROH. Berbeda dengan sangkaan banyak orang, Rasul Paulus yang surat-suratnya dimasukkan menjadi bagian dari Kitab Suci, sesuai dengan pengakuannya sendiri, ternyata bukan seorang orator atau pengkotbah yang hebat (lihat: 1 Kor 2:3, 2 Kor 10:1). Paulus rupanya bukanlah “singa mimbar” yang berkotbah dengan suara menggelegar dan membahana, atau menyala berapi-api memukau ribuan massa, tetapi malah mirip “tikus podium” yang selalu takut muncul. (saya mendengar cerita dari DR Sutan Hutagalung bahwa Nommensen Rasul Batak yang termashur itu kalau berkotbah justru selalu membuat jemaat mengantuk!) Lantas bagaimana dia bisa mempengaruhi dan meyakinkan begitu banyak orang (dari dulu sampai sekarang) kepada pemberitaannya? Inilah jawab Paulus: perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh (1 Kor 2:4). Untuk apa? Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1 Kor 2:5). Ya, dia sangat yakin kekuatan Roh Kudus, sebab itu Paulus merasa tidak perlu mengarang kotbah atau pidato yang hebat, sebaliknya cukup mengatakan apa yang ada saja, jujur, dan semampunya. Selanjutnya Roh-lah yang bekerja.

Hal ini sangat baik kita renungkan. Ada anggapan banyak orang Kristen bahwa kotbah, pemberitaan Injil, atau kesaksian, harus tampak sangat hebat, logis dan argumentatif, penuh daya sugesti, membuai dan “menyihir”. Karena itu jemaat sering kecewa jika mendengar kotbah yang biasa-biasa dan mengalir datar. Sebaliknya para pendeta berusaha susah-payah tampil sangat meyakinkan dan memukau, dan memakai segala cara agar jemaat percaya dan mengaminkan apa yang dikatakannya. Tanpa menyangkal pentingnya ilmu retorika atau tepatnya homiletika, juga penampilan fisik, hari ini kita disadarkan bahwa yang terpenting sesungguhnya keyakinan si pengkotbah maupun si pendengar akan kuasa atau kekuatan Roh Kudus.

Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa (1 Kor 4:20). Injil adalah kekuatan Allah (Roma 1:16). Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus. (1 Tes 1:5) Kamu akan menerima kuasa jika Roh Kudus turun ke atasmu (Kis 1:8). Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7).

Di tengah realitas kehidupan yang sangat sulit seperti sekarang ini, kotbah hari ini mau mengajak kita agar percaya kepada kekuatan Roh Kudus. Dia sungguh-sungguh hidup dan berkuasa. Dia mampu mengubah dan membaharui kehidupan kita. Dia mampu menjaga dan melindungi kita. Dia juga mampu menyabarkan dan menguatkan kita menanggung derita, dan menggembirakan hati kita senantiasa. Sebab itu kepada kuat kuasaNyalah kita bergantung. Bukan kepada kata-kata belaka saja.

KEDUA: AGAR KITA TAHU APA YANG DIKARUNIAKAN ALLAH KEPADA KITA. Allah memberikan RohNya kepada kita dan tinggal dalam diri kita agar kita tahu apa saja yang dikaruniakan Allah kepada kita (1 Kor 2:12). Allah tidak menelantarkan kita di dunia ini. Dia mengaruniakan banyak hal kepada kita agar kita dapat hidup dengan baik dan sejahtera di dunia ini. Salah satu anugerah Allah yang terbesar itu kepada kita adalah akal budi, kemampuan belajar dan berkomunikasi. Ya kita diberikan oleh Allah kemampuan belajar terus-menerus, hampir tanpa batas. Kita bisa mempelajari hampir apa saja, kapan saja dan dimana saja. Belajar dari dan oleh serta tentang apa saja. Itu salah satu karunia Allah yang paling menakjubkan. Selain itu kita juga bisa berkomunikasi dengan berbagai cara dan menggunakan berbagai media dan alat.

Di sini kita diingatkan bahwa sesungguhnya akal budi tidak harus dipertentangkan dengan iman. Akal budi (kemampuan berpikir, menimbang, menyimpulkan, mengkomunikasikan dll) adalah anugerah Allah, dan karena itu harus kita syukuri dan kembangkan sebaik-baiknya. Dan Allah memberikan RohNya membimbing akal budi kita itu. Sebab itu kita harus memahami bahwa alih-alih menghambat atau mematikan, justru Roh Kuduslah menolong kita untuk berpikir sebaik-baiknya (logis, kritis, analitis dll) dan menggunakannya untuk kebaikan dan kesejahteraan bersama. Ini penting kita sadari sebab pada jaman sekarang marak gaya kekristenan yang cenderung anti kepada akal budi, pengetahuan dan kecerdasan otak atau intelektualitas. Akibatnya: orang-orang kristen menjadi banyak yang irasional, berpikir sensasional, dan mudah sekali ditipu oleh rumor, surat kaleng, hipnotisme, ajaran sesat dan iklan bisnis berlabel rohani.

Rasul Yohanes mengingatkan kita agar selalu menguji setiap roh (1 Yoh 4:1-3). Maksudnya agar kita jangan menjadi lugu dan bodoh lantas mau percaya begitu saja kepada perkataan lisan atau tulisan, cetakan atau elektronik, langsung atau tak langsung. Sebagai contoh: jika ada yang mengatakan “Tuhan menampakkan diri di sini atau di sana, jangan langsung percayai!” Jika ada yang mengirim SMS atau email: “Ini pesan Tuhan, blablabla” jangan langsung telan bulat-bulat. Pakailah akal budi baik-baik, periksa, cek dan ricek, minta pendapat ahli, dan terutama konfrontir dengan kesaksian-kesaksian Alkitab tentang sabda, tindakan dan penderitaan Yesus. Jika SMS, email, surat berantai, kotbah, brosur atau buku dan lain sebagainya itu tidak sesuai dengan sabda, ajaran, dan teladan kesederhanaan dan penderitaan Tuhan Yesus maka itu bukanlah berasal dari Roh Kudus!

Rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 12:3 bahwa tidak ada seorang pun karena Roh Kudus dapat mengutuk Yesus. Sebaliknya tidak ada seorang pun juga dapat mengaku dan percaya kepada Yesus tanpa Roh Kudus. Ini dapat kita jadikan parameter atau ukuran untuk menilai berbagai ajaran yang menyebut-nyebut atau menjual-jual nama Roh Kudus. Pertama: jika ada ajaran (lewat email, sms, ceramah, buku, brosur, dll) yang memperkecil perkataan, tindakan, penderitaan dan kematian Yesus itu sudah pasti bukan berasal dari Roh Kudus. Silahkan curigai jika ada pengkotbah tidak suka membahas Kotbah Yesus di Bukit, atau kisah penderitaan Yesus, atau kata-kata yang langsung diucapkan Yesus, namun sebaliknya berbusa-busa menyebut nama Kristus! Kedua: jika Saudara dan saya percaya dan mengaku Yesus adalah Tuhan maka yakinlah bahwa itu adalah dorongan Roh Kudus. Kita tidak harus menunggu melihat, mendengar atau merasakan hal-hal aneh untuk percaya bahwa Roh Kudus sudah datang dan tinggal dalam hati kita. Kedatangan Roh Kudus tidak harus dengan peristiwa luar biasa dan juga tidak mengubah fisik dan kepribadian kita! Satu lagi: kepenuhan Roh tidak membuat kita kehilangan kesadaran!

KETIGA: AGAR KITA MENJADI MANUSIA ROHANI. Allah memberikan kita RohNya agar kita sungguh-sungguh menjadi manusia rohani. Apa maksudnya manusia rohani? Yaitu manusia yang senantiasa merelakan diri dibimbing dan dikuasai oleh Roh Kudus. (Gal 5:25, Roma 8:14). Bukan sebaliknya: ingin mendikte dan menguasai Roh Kudus!

Manusia yang dibimbing dan dikuasai Roh akan membuahkan atau menghasilkan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal 5:22-23). Apa yang dikatakan Rasul Paulus ini pantas kita simak. Acapkali pada masa kini Roh Kudus selalu diidentikkan dengan soal-soal yang dikatakan dahsyat, luar biasa atau hebat (ketiga istilah itu sangat digandrungi orang Kristen moderen dan sering dihambur-hamburkan dalam ibadah!). Padahal buah atau dampak Roh Kudus yang disebut dalam Alkitab justru hal-hal sederhana dan nyata yang sering disepelekan banyak orang. Dikaitkan dengan istilah manusia rohani, maka kita dapat menterjemahkan bahwa manusia rohani artinya adalah manusia yang mengasihi, bersukacita dan menyukacitakan, suka damai, sabar, murah hati, baik, setia, lemah lembut dan menguasai diri. Itu persis sama dengan apa yang kita jumpai pada Yesus. Mungkin sebab itulah Paulus mengatakan: kami memiliki pikiran Kristus. Dan di tempat lain dia mengatakan: hendaklah kamu berpikir dan merasa seperti Yesus yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi telah mengosongkan diriNya dan menjadi hamba. (Filipi 2:5-11).

Selamat Pentakosta!

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

Tags: , , ,

9 Responses to Roh Kudus Mencerdaskan

  1. Kimron Manik on May 12, 2008 at 1:01 pm

    Terima kasih atas renungan hari ini Amang,
    Renungan ini membuat saya pribadi lebih dikuatkan lagi
    terutama dalam menjalankan pelayanan di gereja.
    Renungan ini dapat digunakan sebagai cermin diri untuk melihat apakah kita selama ini hidup dibimbing dan dikuasai oleh Roh Kudus atau dibimbing oleh hawa nafsu diri sendiri.
    Horas…

  2. Pdt.Jerry Aruan on May 12, 2008 at 1:05 pm

    Thanks Pak Pendeta buat penjelasannya yang logis dan sistematis. I love it.

  3. Rudi Juan Carlos Sipahutar on May 12, 2008 at 2:08 pm

    Lagi2 terimakasih banyak Bang Daniel untuk Topik yang selalu relevan untuk di diskusikan.
    Komentarku untuk hamba Tuhan yang memang punya kerinduan untuk pelayanan mimbar sebaiknya mempersiapkan penyampaian Firman dengan baik, antara lain dengan cara:
    a. berdoa dan bergumul minta pertolongan roh kudus untuk illuminasi sebelum bertugas
    b. membaca ayat Firman TUhan yang mau di kotbahkan berulang-ulang
    c. Ayat bersumber dari nats yang utuh, sebaiknya jangan sepenggal -sepenggal aja dari pasal tertentu yang di comot.
    d. Memiliki catatan kotbah untuk di sampaikan
    e. Di buat semenarik mungkin
    f. Didukung kehidupan suci pengkotbah
    g. Disampaikan dengan kuasa Roh Kudus
    h. Berdoa setelah kotbah selesai agar kiranya benih Firman yang di ampaikan dipelihara oleh Roh Kudus.

    Roh kudus pasti memakai seluruh potensi yang dia beri kepada manusia untuk dikembangkan secara maksimal untuk pemberitaan Firman. jangan bersembunyi di balik kelemahan kedagingan kita.. supaya jemaat tidak ngantuk..otomatis tidak mendengar karena tidak konsentrasi.

  4. raya hasiholan sibuea on May 12, 2008 at 3:42 pm

    salam sejahtera…
    thanks amang…no comment tapi renungan ini luar biasa!

  5. St JPH on May 12, 2008 at 5:04 pm

    Penjelasan renungan amang DTA tentang ROH KUDUS sangat jelas dan dapat sebagai refrensi untuk menjawab pertanyaan teman teman kita yang merasa lebih banyak tahu tentang Roh Kudus (Gereja kita dua hari merayakan peringatan Turunnya Roh Kudus,berarti sama bermaknanya dengan Hari Natal,Paskah yang juga diperingati dua hari berturut turut). Dengan kita memperingati hari turunnya Roh Kudus kita bisa simak seperti syair Lagu KJ 237 “Roh Kudus Tetap teguh kau pemimpin umatmu,Tuntun kami yang lemah lewat gurun dunia,Jiwa yang letih lesu mendengar panggilanmu,hai Musafir ikutlah kenegri sejahtera”
    Dengan Turunnya Roh Kudus Maka Genaplah Tritunggal: ALLAH BAPA DAN ANAKNYA TUHAN YESUS KRISTUS DAN ROH KUDUS.Sehingga nama minggu kita kedepanya MINGGU SETELAH TRINITATIS.

  6. Faber Siagian on May 12, 2008 at 5:52 pm

    Kemaren aku pernah baca di Alkitab yg bilang klw iman tumbuh dari pendengaran (mgkn gak persis dan aku lupa ayat berapa).
    Lalu jika Pekabar Injil nya (bkn hnya Pendeta tentunya) tidak memberikan sesuatu yang bisa menumbuhkan iman lewat pendengaran kita, itu bagaimana??

  7. Sondang Naiborhu on May 12, 2008 at 10:31 pm

    Perkembangan belakangan ini pengertian roh kudus yang disampaikan oleh banyak pihak ( yang menyatakan dirinya sebagai penginjil) sangat bervariasi dan kadang-kadang menjadi membingungkan tetapi melalui tulisan ini, pengertian roh kudus menjadi lebih jelas secara rohani. maupun secara pemahaman melalui akal budi.
    Terimakasih amang atas tulisannya

    Salam
    Sondang Naiborhu

  8. Yulie Lapaan on May 14, 2008 at 3:38 pm

    Makasih Pak Pendeta, hari ini saya coba buka-buka Ruma Metmet ini untuk cari bahan renungan Ibadah Pemuda hari Jumat nanti, renungan-renungan seperti inilah yang sangat saya perlukan karena penyampaiannya ringan, kena dihati dan lugas.

    Salam
    Yulie Lapaan

  9. Lody Wattimena on August 14, 2008 at 7:26 pm

    Makasih Amang hari ini saya betul-betul mengerti, dan baru kali ini saya membaca renungan tentang “Roh Kudus” dan air mata saya mengalir deras karna yang Amang uraikan itu mudah dan jelas dimengerti dan pada kesempatan ini saya mohon izin dari Amang apa boleh renungan ini saya sebarkan ke teman2 seiman kita di Cipanas, kalau boleh mohon segera dijawab pada kesempatan pertama terima kasih, Tuhan memberkati Amang.

    Daniel Harahap:
    Silahkan saja disebarkan dengan tetap mencantumkan sumbernya. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*