Ibuku Demam Berdarah

May 11, 2008
By

toba_batak_in200.jpg

Oleh: Sal Hutahaean

Saya sedang merenung-renung, padahal seharusnya saya bekerja. Kemarin saya ditelepon, ibu sedang dirawat di jakarta, demam berdarah. Saya merenung-renung. Demam berdarah tentulah penyakit yang cukup berat bagi seorang ibu berusia delapan puluh empat tahun. Tetapi sore tadi saya ditelepon lagi, ternyata ibu sudah relatif pulih, bilangan trombosit sudah naik, dan telah diijinkan dokter kembali ke rumah.

Ibu memang perempuan luar biasa, paling tidak begitulah pandangan saya. Jarang sakit, punya energi yang besar untuk mengerjakan apa saja. Tahun lalu ibu tergelincir di dapur, sempat sulit berjalan hingga beberapa hari, kami sudah khawatir dan sudah berencana membeli kursi roda, tetapi ternyata ibu bisa pulih, berjalan normal sebagaimana biasa.

Kadang-kadang saya berpikir, kesehatan dan daya tahan tubuh ibu ada kaitannya dengan sikap hidupnya yang selalu berpasrah diri pada Tuhan. Ibu selalu tenang menghadapi masalah apa pun. Ibu senang berdoa, ia sangat yakin bahwa Jesus mengatur semua langkah kehidupan keluarganya, ia hanya sekedar menjalani saja. Lagu kesukaannya adalah “Holan Jesus do hubaen donganku”.

Sekali watu ibu menceritakan dengan bangga, ia pernah menyanyikan lagu itu di atas panggung. Di sebuah hotel di Manado! Saya penasaran dan agak khawatir, jangan-jangan ibu sudah mulai pikun dan mengigau yang aneh-aneh. Orang tua, kalau sudah mulai pikun, imajinasinya bisa menjadi tak terkendali, angan-angan bisa dianggap fakta.

Ternyata bukan. Ceritanya benar. Menjelang ulangtahunnya yang ke delapan puluh, ibu berkunjung ke rumah salah satu anaknya di Manado. Oleh abang, ulangtahun ibu dirayakan di hotel, saya tidak tahu persis hotel seperti apa dan apakah mengundang orang, yang pasti ada kesempatan bagi ibu untuk naik ke panggung dan didaulat bernyanyi. Lagu apa yang diharapkan dinyanyikan ibu ? Tanpa perduli apakah manado-manado yang hadir mengerti, ibu menyanyikan lagu hasoloannya: “Holan Jesus do hubaen donganku, ai ibana pasonanghon ahu, ingkon sai tongtong tiur langkangku, molo raphon Jesus i au laho, molo raphon Jesus i au laho.”

Aku tanya, “Mama gemetar nggak waktu nyanyi ?”. Jawaban ibu ringan, “Ah, pardulikku i, marende inna ba marende ma!”

Ibu memang perempuan desa yang sederhana, berpendidikan sekolah rakyat jaman dahulu. Saya pikir karirnya sebagai inanta ni pandita adalah sekolahnya yang sesungguhnya. Di HKBP, nyonya pendeta adalah pekerja juga, walaupun tak diakui dengan SK dan gaji.

Selain itu, kehidupan yang berat adalah juga guru yang turut menempa ibu. Ia ditinggal menjanda pada usia empat puluh delapan tahun, dan sejak itu melakukan pekerjaan apa saja untuk menghidupi sepuluh anak. Pada saat ayah meninggal, anak yang terbesar belum lulus kuliah, sedangkan anak paling kecil, saya sendiri, masih kelas satu sekolah dasar. Sungguh tanggung jawab yang sangat besar.

Beberapa tahun lalu, pada usianya yang ke delapan puluh, kami mengadakan partangiangan di Laguboti, sebagai pengganti manulangi, karena ibu tidak bersedia disulangi. Acara itu juga sekaligus menjadi kesempatan bagi ibu untuk mengundang ale-alenya beserta dongan sahuta dan angka tondong, dalam suasana keakraban tetapi tidak berkonteks adat batak. Saya didaulat waktu itu untuk mewakili anak menyampaikan sedikit ucapan.

Saya masih ingat apa yang saya katakan di hadapan para undangan: “Perempuan modern dan perempuan parhuta-huta, tidak ditentukan oleh alamat domisilinya. Perempuan modern pun ada di pelosok desa, yaitu perempuan yang mementingkan pendidikan anak-anaknya. Demikian sebaliknya, perempuan parhuta-huta pun, bisa saja alamatnya adalah di Pondok Indah, ia tergolong perempuan parhuta-huta jika anak-anak yang menjadi tanggungjawabnya tidak dia beri pendidikan yang baik”. Orang-orang kampung kami yang menjadi audiens pidatoku itu manggut-manggut.

Bagaimana pun, apa yang saya sampaikan itu pasti terkesan seperti membangga banggakan ibu sendiri di depan orang banyak. Akan tetapi saya tidak merasa bersalah mengatakannya, memuji ibu sendiri bukan dosa.

Memang, sampai sekarang pun, jika kuingat pidatoku itu, aku masih menyimpan kekhawatiran. Bisakah aku memberi pendidikan yang baik pada anakku yang semata wayang ini ? Jangan-jangan aku nantinya jadi parhuta-huta yang berdomisili di kota?

Tapi sudahlah, kuikuti saja gaya jawaban ibuku: “Ah, pardulikku i, pidato inna ba pidato ma !”

Horas,

Sal

Share on Facebook

One Response to Ibuku Demam Berdarah

  1. rudi juan carlos sipahutar on May 11, 2008 at 10:53 pm

    Salam Damai!
    saya belajar dua hal dari tulisan anda :
    1. Saya belajar JUJUR ( harus berani mengungkapkan apa yang pernah saya alami dan saya saksikan dengan jelas)
    2. Saya belajar INTEGRITAS ( harus berani pula untuk melakukan dengan tegas sesuai dengan apa yang pernah saya katakan dengan jelas)
    thanks.IMMANUEL.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*