Dendam Kesumat Dari Masa Kecil

May 11, 2008
By

 sunmaidraisins.jpg

Oleh: Mula Harahap
http://mulaharahap.wordpress.com

Angan-angan, cita-cita atau dendam kesumat di masa kanak-kanak memang selalu menarik untuk dikenang.

Seorang teman saya berkata, “Salah satu angan-angan saya dulu adalah, mampu membeli anggur kelas satu berbotol-botol dan tape-recorder Sony untuk memutar lagu rohani Holan Sada Do Na Ringkot–Hanya Satu Yang Berarti Bagiku Dalam Hidup Ini….”

Sampai saya duduk di bangku kelas 4 atau 5 SD saya belum pernah makan kismis. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Boleh jadi perekonomian Indonesia ketika itu memang belum berkembang seperti sekarang. Barang-barang import–termasuk kismis–masih sangat langka dan mahal harganya. Boleh jadi juga karena ekonomi keluarga. Atau boleh jadi juga, seperti kata orang Batak, “Mardomu ma i sude–Semua itu campur-baur….”

Saya pernah ngiler sekali melihat seorang teman sekelas duduk memakan kismis sekotak kecil. “Bagilah sedikit,” kata saya kepadanya. Teman saya memang baik. Diberinya beberapa butir kepada saya. Dengan penuh takzim butiran itu saya masukkan ke mulut dan saya kunyah perlahan- lahan.

Tapi tidak semua dari butiran kismis yang diberikan oleh teman itu saya makan. Diam-diam beberapa butir saya masukkan ke kantong. Saya tahu bahwa kismis adalah buah anggur yang dikeringkan. Dan waktu itu buah anggur pun belum pernah saya makan. Karena itu saya berteori: kalau kismis ini saya bawa pulang ke rumah dan saya rendam di gelas, tentu dia akan kembali menjadi buah anggur. Tapi eksperimen saya ternyata gagal. Kismis itu tetap saja lisut walau pun telah direndam selama berhari-hari..

Suatu waktu–setelah dewasa–ketika berkunjung ke New York City dan masuk di sebuah supermarket, saya melihat jejeran kotak kismis dipajang di rak. Harga kismis ternyata jauh lebih murah dari harga sebungkus rokok. Didorong oleh dendam kesumat yang tak terpuaskan ketika masih kanak-kanak, saya langsung membeli kismis satu kotak besar. Hal yang membuat saya bangga ialah bahwa kismis yang saya beli adalah yang berwarna kuning, dan itu adalah kismis yang jauh lebih manis dari yang hitam, dan tak berbiji “pulak”. Sambil berjalan perlahan-lahan di bawah gedung-gedung pencakar langir yang memenuhi kota New York City itu tak henti-hentinya saya mengunyah kismis kuning merek Del Monte itu. Sesekali saya menengadah ke atas dan berkata dalam hati, “Tuhan, saya makan kismis….”

Obsesi saya akan kismis telah menjadi bahan guyonan di tengah keluarga. Kalau isteri atau puteri saya belanja di supermarket, dan hati mereka sedang senang, mereka selalu membelikan saya oleh-oleh kismis merek Sun Maid yang kotaknya berwarna merah dan ada gambar perempuan sedang mengangkat sekeranjang anggur itu. “Nih, untuk bapak saya yang masa kecilnya kurang bahagia, saya belikan kismis. Makan deh sampai puas…,” begitulah selalu kata puteri saya.

Dendam kesumat saya yang lainnya adalah adalah jaket. Lama sekali saya tak pernah bisa punya jaket. Ketika masih kuliah saya pernah mengikuti sebuah acara LTC–Leadership Training Course di Hotel Puncak Pass. Malam harinya ketika sedang bercengkerama di lobi hotel seorang teman saya terkagum-kagum melihat saya. “Lu kagak pakai jaket? Hebat banget Lu! Tahan banget Lu….” katanya. Saya hanya tersenyum mesem-mesem.

Karena itu sampai sekarang saya selalu terobsesi akan jaket. Kalau masuk ke department store atau factory outlet saya selalu menyempatkan diri untuk pergi ke bagian jaket. Disana mulailah saya mematut-matut jaket yang pantas, dan mulai pula saya bergumul untuk membeli atau tidak membeli.

Walau pun sudah setengah mati menekan dendam, tapi sampai saat ini saya punya delapan jaket. Dan itu sudah lebih dari cukup, mengingat bahwa saya tak memiliki banyak kesempatan untuk memakai jaket. (Saya bukan politisi atau birokrat Indonesia yang suka berjaket-ria karena penyejuk udara di kantornya selalu disetel di bawah 18 derajat Celcius, pun di masa krisis enerji seperti sekarang ini). Tapi apa mau dikata ? Dendam kesumat atau obsesi yang tak terpuaskan semasa kanak-kanak itu acapkali datang mengganggu.

Beberapa bulan yang lalu, saya harus bolak-balik menemani isteri saya menjahitkan baju di sebuah penjahit yang berlokasi di gedung Istana Plaza–Pasar Baru. Di dekat kios penjahit itu ada sebuah toko yang menjual baju-baju bekas tentara (army’s surplus). Di sana saya temukan sebuah field jacket hijau eks perwira pasukan Nato. Seraya mencoba jaket itu saya bayangkan diri saya seperti Che Guevara yang sedang memimpin perang gerilya di rimba raya Bolivia.

Setiap kali isteri saya melakukan urusannya di tukang jahit tersebut, saya menghabiskan waktu di toko army’s surplus sambil terus memandangi jaket yang satu itu. Saya rasa pelayan toko itu pun sudah bosan melihat saya. Tapi untunglah sampai sejauh ini kewarasan pikiran saya masih bisa terjaga oleh faktor ekonomi. Jaket bekas seharga lebih dari 1 juta rupiah itu tak kunjung bisa saya beli, walau pun hati dan pikiran saya masih tetap tertuju ke sana.

Begitulah, kalau dalam lagu Batak Alusi Au si penyanyi punya sinta-sinta — cita-cita, dan pangidoan– hasrat hati, untuk sekedar disapa oleh seorang gadis idaman hatinya, maka sinta-sinta dan pangidoan saya adalah bisa makan kismis sambil memakai field jacket eks NATO.

 

Share on Facebook

6 Responses to Dendam Kesumat Dari Masa Kecil

  1. kenzo bogor on May 11, 2008 at 8:27 pm

    Syalom Amang, dulu dendam saya cuma kalau saya lulus dr SMA lanjut atau tidak harus hengkang dari kampung, soalnya jenuh mangula hauma terus, wah angan2 dulu di hauma terus dendam kapan lulus langsung cabut. tapi dendam Amang mengenai makanan dan pakaian, dan dendam saya biar jangan panas2 ria di balian. tapi saya suka tak habis pikir banyak orang dendam ama saudara kandung karena harta gonogini peninggalan ortu di kampung.

  2. edolf on May 11, 2008 at 11:45 pm

    Saya dulu juga punya angan2 pribadi waktu kecil yaitu mau membawakan Martabak manis / terang bulan setiap pulang kerja (teringat wktu kecil dulu setiap bapak pulang kerja, saya, kakak dan adik selalu membukakan pintu gerbang rumah untuk “menyambut” bapak / Martabak manis yang dibawanya). Selain itu kpngin punya walkman dan meja bilyard. Kemudian setelah saya bekerja (di Malang), pada bulan ke 2 saya langsung membeli Walkman dari gaji saya sendiri untuk memenuhi angan2 saya, karena gaji bulan pertama saya kirimkan kepada orang tua, kakak dan adik saya di Jakarta.

    Kemudian setelah 1 tahun bekerja saya bisa memenuhi angan2 saya yg utama yaitu sewaktu saya cuti ke Jakarta saya bisa membelikan Martabak manis (langganan kami) untuk dimakan bersama di rumah, bahkan saya juga bisa mengajak / traktir keluarga saya makan bersama di Restoran (suatu kebanggaan yg besar buat saya).

    Tinggal 1 angan2 saya yang belum bisa dipenuhi yaitu mempunyai meja bilyard, hal tersebut belum terlaksana karena saya dsini (Malang), status saya tidak menetap (masih kos). Saya mempunyai rencana untuk pindah kerja ke jakarta tahun depan, mungkin setelah saya pindah nanti bisa untuk merealisasikan angan2 saya yang tersisa. Memang lucu juga apabila sewaktu kita masih kecil mempunyai angan2 yang terus dibawa sampai kita dewasa. 1 hal yg kita perlu pahami : angan2 / cita2 yg dapat kita penuhi dengan USAHA YG KERAS sangat MEMBANGGAKAN buat diri kita sendiri.

  3. Juntak Remember on May 13, 2008 at 8:20 am

    Angan-angan atau cita-cita sesuatu kata yang dapat memacu semangat kita untuk mendapatkannya dengan cara kerja keras tanpa harus terpokus sekali pada agan-angan tersebut. Ketika Angan-angan tersebut dapat kita dapatkan, memang kegembiraan dan kepuasan-nya tidak dapat dibayangkan.
    Sebaliknya kalau angan-angan itu tidak dapat tercapai mungkin 25 % dari orang yang beragan-angan itu akan menjadi penghuni di kawasan Cilendek, Bogor (RS Jiwa). Angan-angan atau cita-cita tidak ada batas, sehingga saya berpesan Ambisi boleh tetapi jangan terlampau ambisius agar semuanya terlihat indah. Kalau orang tua kita dulu selalu mempunyai motto ” SOALA GOGO ” apabila sesuatu angan-angan tidak dapat tercapai.

  4. Pieter on May 15, 2008 at 1:42 pm

    Kenyataan tak seindah harapan, keinginan beda dengan kebutuhan.
    Setiap insan memiliki sejarah yang terekam dalam memory dan hidup di bawah alam sadar. Masa kecil sebenarnya masa yang terindah, karena hati yang bersih terwujud pada perilaku yang gembira. Namun tidak semua keinginan terwujud di tengah kesulitan apapun yang dihadapi orang tua. keinginan yang belum terwujud di masa kecil membawa kita bernostalgia untuk melepaskan dahaga atas keinginan tersebut. Membaca tulisan amang mengingatkan saya, bagaimana sewaktu SMA dulu kepengen banget memiliki motor GL PRO,.. wah gimana gagahnya yah… tetapi sekarang sudah memiliki dan mungkin lebih dari itu.. kog biasa aja yah… apakah ini wujud rasa kurang bersyukur…?

  5. mariana on May 26, 2009 at 11:17 am

    Sewaktu masih SD, uang jajan saya hanya Rp. 100 palin banyak Rp. 200. Memang bila dibandingkan dengan harga kue2 saat itu, masih bisa dibelanjakan tapi hanya sampai di warung tidak cukup untuk ke toko. Kalau ke toko saya sering melihat mereka yang membeli snack2 dalam plastik (taro, chiki) sekeranjang penuh dan merasa iri karena saya jarang sekali dibelikan dan paling hanya satu (masing-masing satu dengan adik). Saat ini setelah bekerja dan mempunyai gaji sendiri, kalau ke toko saya sering memborong snack2(biskuit, coklat, es krim) dalam jumlah banyak sebagai “balas dendam” waktu kecil dulu. Tapi sekarang kebiasaan tersebut agak di kurangi karena kebiasaan ngemil dalam jumlah banyak berpengaruh pada berat badan saya. Memang kalau dipikir-pikir sesuatu yang berlebihan itu merugikan yaaa…..

  6. rudol siagian on May 3, 2011 at 11:33 am

    hampir sama saya juga punya dendam.saya dari keluarga miskin,mamak bapak saya hanya pemetik teh di daerah sidamanik dan bapak saya sakit2an.jadi secara ekonomi kami sangat kekurangan.sampai hari ini saya masih ingat jelas kekurangan keluarga kami.pada masa anak2 sering kali muncul fashion baju,yang produk acilah,batman,ato yang lain lain,tapi karena kami hanya menghandalkan mamak kami karena bapak kami pasa saat aq SD kelas lima sudah meninggal jadi keinginan tuk memiliki baju yang trend saat itu hanya kami pendam dalam hati.tapi puji tuhan mamak kami seorang wanita yang tanggung sehingga pendidikan sangat dia pentingkan,saya juga bisa kuliah dan tamat dari salah satu universitas swasta di medan jurusan akuntansi dan sekarang aq juga bekerja sebagai store manager di perusahaan F & B skala nasional (JCO) dengan pendapatan yang lumayan aq pasti menyisihkan duit 40 persen dari gajiku buat makan2 enak dan beli baju yang aq suka,mungkin ini seperti dendam masa kecil,mamakku selalu berkata allangi ma amang na tabo i,karena waktu kecil susahnya kita.menurutku dendam tidak salah kalau untuk memotivasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*