Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. (Ibrani 12:28)
Kata ibadah berasal dari bahasa Arab. Artinya: mengabdi atau menghamba. Yaitu memposisikan dan memerankan diri sebagai abdi atau hamba. Itu sama saja dengan merendah, menyembah, menyerahkan diri, dan melayani tuannya. Sebab itu fokus atau yang utama dalam ibadah bukanlah kepentingan si hamba itu, tetapi justru kepentingan sang majikan. Pertanyaan dalam ibadah: bukanlah apa yang didapat si abdi, tetapi apa yang diperoleh sang tuan.
Kita orang Kristen memahami ibadah juga sebagai mengabdi atau berbakti kepada Allah yang dilakukan dalam bentuk seremoni bernama kebaktian dan dalam seluruh kehidupan sehari-hari (Roma 12:1). Baik dalam kebaktian maupun kehidupan sehari-hari artinya kita memposisikan dan memerankan diri sebagai abdi atau hamba Tuhan.
Namun dalam praktek masa kini pengertian ibadah mungkin tanpa kita sadari bergeser. Fokus ibadah seringkali bukan lagi Sang Tuan atau Allah tetapi justru si hamba. Banyak orang, barangkali termasuk saya dan saudara, beribadah bukan merendah tetapi justru meninggikan diri, bukan melayani tetapi dilayani, dan bukan menyerahkan diri tetapi malah menuntut berbagai keuntungan, kenikmatan dan kenyamanan. Yang diutamakan dalam ibadah bukan lagi Tuhan dan kehendakNya tetapi manusia dengan berbagai keinginan, ambisi, nafsu dan seleranya. Pertanyaan bukan lagi apa yang dapat kubaktikan tetapi apa yang dapat kuperoleh dalam ibadah ini. Apa akibatnya?
Hari ini kita diingatkan lagi agar mengembalikan makna ibadah sebagaimana aslinya: mengabdi atau menghamba. Pertama: Penulis Ibrani mengajak kita agar beribadah kepada Tuhan Allah menurut cara yang dikenanNya. Tuhan menghendaki kita beribadah dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh (lihat cara doa, puasa, dan persembahan yang diajarkan Yesus dalam kotbah di bukit), dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:24) dan dengan sikap berkeadilan sosial (Amos 5:21-24). Kedua: penulis Ibrani mengingatkan kita agar beribadah dengan hormat dan takut. Hormat itu ditunjukkan dengan sikap tubuh (dan hati). Karena itu pertanyaan: bagaimanakah sikap tubuh (dan hati) seorang yang sedang menghormat Tuhan? Apakah sikap tubuh kita dalam ibadah kita selama ini cerminan sikap hormat atau malah sikap suka-suka? Takut ditunjukkan dengan kehati-hatian dalam tindakan dan perkataan. Pertanyaan: apakah tindakan dan banyaknya perkataan yang terlontar saat ibadah merupakan cerminan rasa takut atau takzim kepada Tuhan, atau keangkuhan?
Doa:
Ya Bapa, Engkau adalah Tuhan dan Allah kami. Kami adalah hamba atau abdiMu. Kami menyerahkan diri kami kepadaMu dan ingin memuliakan Engkau dalam kebaktian maupun seluruh kehidupan kami sehari-hari. Penuhilah hati kami dengan rasa syukur, hormat dan takut kepada Tuhan. Bantulah kami memurnikan motivasi-motivasi ibadah kami: doa, pujian, puasa dan persembahan kami. Ajar kami bersungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan dalam Yesus AnakMu. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Syalom, Horas
Indahnya firman Tuhan semakin menuntun aku untuk koreksi diri siapa aku ini. Terimakasih atas renungan hari ini.
Inilah hidup yang membutuhkan GUIDE, kenapa? Karena aku takut akan Tuhan.
pagi amang….
bah…. dalam sekali makna renungan hari ini..amang. Benar2 perlu direnungkan motivasi saya (kita? kami?) dalam hal beribadat….apakah sekedar rutinitas?? dan keangkuhan??? bersosial-ria ke gereja? Sayangnya yang bisa baca renungan ini segelintir orang yang bisa akses internet…perlu kiranya kita kopi renungan ini dan dibagikan bersamaan dengan warta gereja…pasti makin cepat effectnya dalam beribadah. Back to basic…..Biarlah Tuhan yang campur tangan…sehingga kita takut akan Dia ( bukan hanya dalam saat kesesakan)
(Banyak orang, barangkali termasuk saya dan saudara, beribadah bukan merendah tetapi justru meninggikan diri, bukan melayani tetapi dilayani, dan bukan menyerahkan diri tetapi malah menuntut berbagai keuntungan, kenikmatan dan kenyamanan. Yang diutamakan dalam ibadah bukan lagi Tuhan dan kehendakNya tetapi manusia dengan berbagai keinginan, ambisi, nafsu dan seleranya. PERTANYAAN BUKAN LAGI APA YANG DAPAT KUBAKTIKAN TETAPI APA YANG DAPAT KUPEROLEH DALAM IBADAH INI.)
Woww … Menyentuh hati Amang…! Bagas Hian … Hehehe ! Terimakasih untuk renungannya hari ini. Semoga membawa perubahan bagi yang membacanya. Amin
thanks amang.
aku ingat suatu kali pernah tanya ke pdt. lz rap-rap tentang ibadah yang hening vs ibadah yang meriah.
seperti biasa, blio selalu bercanda. tapi jawabannya sangat mengena.
kalo ibadah meriah
jemaat suka kelewatan.., saking bersemangat ingin memuji tuhan, kemuliaan hilang.., kekudusan hilang, tuhan ditonjok-tonjok (sambil memperagakan tangan kanannya dijotos ke atas).
kalo ibadah hening
jemaat juga suka kelewatan…, saking takut n hormatnya pada tuhan.., jemaat tunduk terus…., kemeriahan ibadah tidak ada, malahan jemaat tunduk sangat dalam.., hingga tertidur.
Amang Pdt DTA, Tentang ibadah sy teringat Lagu Koor Ina kira2 “Apalah arti Ibadahmu kepada Tuhan”.
Ibadah saja tidaklah Cukup”. Ibadah tanpa perbuatan nyata melakukan kehendak Tuhan sama saja dengan Omdo.(holan Hata,Inonghu mandok Ala so martuhor hata i jadi asal didok) Jika kita beribadah berarti jiwa dan raga memuji Tuhan,pasti kita melayani bukan dilayani, tentunya yang ditinggikan adalah Tuhan. Dalam ibadah tentunya disesuaikan dengan keadaan, bisa suasana gembira (Natal, Paskah), Khusuk (Jumat Agung, Kemalangan) yang penting Tuhan dimuliakan. Tuhan Memberkati kita semua.
Maaf unek-unek saya harusnya renunangn hari Jumat, namun ketika saya buka masih hari rabu…tapi firman itu tidak pernah mati…walaupun bumi lenyap, Amang.
Ibadah itu sakral karena berisi komitmen kita kepada TUHAN untuk mempersembahkan yang terbaik dari tubuh dan roh kita untuk penyembahanNYA.
Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Jika membaca nats di atas Amang, saya terenyuh melihat Saudara-saudara saya Jemaat HKBP ……., rumah kudus dijadikan tempat legitimati diri yang”sombong dan meninggikan diri” padahal menyembah ALLAH kita seperti semut memandang bulan..bahkan dua jemaat satu gereja itu saling caci maki, roh kesesatan telah menguasai gereja dan apakah ALLAH ada disana? Siapakah aku ini Tuhan? bukan hal yang pertama kita harus menanggalkan atribut diri kita waktu beribadah? Bukankah melayani kita harus menyangkal diri kita? Jika hal ini yang kita lakukan DAMAI SEJAHTERA ALLAH menyertai HKBP SERPONG…indah dan sukacita tidak seperti pasar padi di HKBP …. itu.
Yakobus 1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
Nat ini tidak disadari oleh kita terkadang, lidah membelokkan kata hati sehingga yang muncul kata-kata fitnah, kecurigaan, dan iri hati. Dan ironisnya kita bawa ke gereja lalu mulailah konflik…dst…dst. Mudah-mudahan TUHAN memberkati HKBP Serpong menjauhkan diri kita dari sikap seperti itu. Beribadah, merendahkan diri tetapi hormat kepada DIA yang kita sembah…..Amin.
Fokus kepada ibadah dalam arti kebaktian di gereja dalam hal ini tentu hkbp dengan liturginya. Ruas sering mengklaim bahwa liturgi tersebut monoton sehingga malang nian nasibnya sampai dipenggal-penggal sesuka hatinya terlebih hanya konsentrasi menunggu khotbah saja. Eehhh tiba khotbah, pendeta yang berkhotbah tidak sesuai dengan yang diharapkan jadilah dia kecewa dan marambalangan (kacau) esensi dari rangkaian liturgi tersebut yang merupakan menu kita berjumpa dengan Allah dimana kita sebagai pelayan (hamba) yang seharusnya menyenangkan hati Tuhan, bukan justru menyenangkan hati kita semata.
Oleh sebab itu hai ruas hkbp resapilah liturgimu sebagai suatu rangkaian indah yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena setiap event dalam rangkaian itu memiliki fungsi sendiri yang tidak dapat dibuat yang satu lebih utama dari yang lain terlebih menyikapi hanya event khotbah yang penting maka ruas datang beribadah ke gereja. Jadilah ibadah tersebut minus hormat.
Beribadah adalah menjadikan majikan sebagai pusat kegiatan, bukan hamba. Dalam proses sebelum dan selesai ibadah minggu, kita dapat melihat perilaku yang sesuai atau tidak dengan renungan hari ini.
Contoh : beberapa orang jarang yang mau menyapa lebih dulu kepada orang lain ( bisa salaman atau say hello ), ini sering dilakukan oleh orang yang merasa pintar dan dirinya benar (menurut dirinya sendiri tapi tidak berbuah ) dan status sosial diatas orang sekelilingnya, terutama “pengurus gereja”, katanya jaga wibawa atau jaga image.
Menurut pengalaman saya berdasarkan pengamatan saya, hal-hal kecil untuk menyapa orang lain lebih dulu terasa sangat berat dilakukan oleh orang-orang yang seperti diatas dan yang tidak bisa melepas segala atribut status yang disandangnya di luar gereja. Bagaimana kita bisa mengklaim diri kita hamba dalam ibadah, kalau kita bersikap demikian.?Kita bisa berteori sesuai isi Alkitab dan memiliki kognisi yang baik, tetapi dalam aplikasinya, sangat kecil untuk lebih dulu menghangatkan suasana lingkungan untuk menyapa orang lain lebih dulu. Saya salut terhadap orang-orang tertentu yang dari dalam dirinya yang paling dalam untuk mengambil peran membuat hubungan di lingkungan gereja menjadi hangat. mis. bapak ST. JPH, ha..ha…ha….
klo aku sekarang masih dalam taraf ke gereja karena kebiasaaan dari kecil yang diterapkan oleh orang tua. belum sampai kepada nilai ibadah sesungguhnya (mengikuti dan menghargai liturgi gereja), ya masih dibilang setengah”, kadang niat bener mau gereja, kadang seadanya aja…(tergantung siapa pendetanya, dll..hehehe) ya mungkin alangkah baiknya kita memang sudah mempersiapkan hati dan pikiran untuk beribadah,
mauliate,
Martin Hutrajulu – NHKBP Ciputat