Ponsel Baru Saya

April 29, 2008
By Daniel T.A. Harahap

kodok-9.jpg

Oleh Daniel Taruli Asi Harahap

Bagi anak-anak muda masa kini gonta-ganti ponsel bukan soal istimewa dan sama sekali bukan berita lagi . Mungkin itu agak mirip dengan ganti-ganti pacar sebelum ada lamaran resmi. Tak dianggap heboh paling-paling hanya menimbulkan gunjingan sedikit. Tapi bagi saya, seorang lelaki berusia 44 tahun punya istri dan tiga anak, dalam beberapa hal mempunyai pendirian agama konservatif, tidak mudah menerima hal-hal baru, mengganti ponsel adalah sebuah pergumulan sengit.

Namun saya akhirnya pergi juga ke WTC, yang kata teman saya pendeta pusat per-henpon-an di kawasan Bumi Serpong yang tak semuanya damai apalagi sejahtera ini. Namun dari rumah tekad saya bulat. Ponsel yang harus saya beli untuk menggantikan ponsel saya yang sudah lama terserang stroke berat itu harganya harus sekitaran dua ratus ribu perak. Bukan saya tidak punya uang sama sekali atau pelit. Tapi saya ingin membuktikan bahwa dengan memegang ponsel murah tak meriah sekali pun wibawa saya sebagai seorang pendeta, apalagi ayah, tidak berkurang sedikit pun. Harga dan citra diri saya tidak terletak di kilauan ponsel atau benda-benda materi lain, tetapi pada karakter dan integritas. Serius. :-)

Satu lagi tekad saya: ponsel atau henpon itu harus minus kamera. Bagi saya ponsel ya ponsel. Kamera ya kamera. Terserah orang mau bilang apa, tak masuk ke akal saya suatu barang elektronik yang katanya serba guna atau multi fungsi. Menurut saya, entah berhubungan atau tidak, salah satu biang kerusakan negara ini adalah karena konsep multi fungsi atau serba guna itu: jaksa merangkap pengacara. Anggota parlemen merangkap pemborong pemda. Tentara merangkap pedagang. Pendeta merangkap pengusaha. Akibatnya amburadullah semua. Di gereja kami itu kerap terjadi dan menjadi sumber kekacauan: ruang anak dibuat menjadi ruang pesta adat, pengawas ingin sekaligus jadi pelaksana, dan gereja ingin dijadikan segala-galanya. Apa tidak rusuh?

Kembali ke ponsel saya ingin hanya sebuah ponsel. Sederhana saja. Suatu alat untuk berhubungan melalui suara dan teks. Yang terakhir ini: mengirim dan dikirim pesan pendek. Ini saya butuhkan, sebab saya acap kali memimpin kebaktian dan itu artinya harus mematikan ponsel saya. Tuhan tidak suka jika saat saya beribadah perhatian saya terpecah karena menerima panggilan telepon. Bukan hanya saya atau Anda, Tuhan pun sangat tidak suka jika pembicaraanNya disela oleh bunyi ponsel. Soal kamera untuk mengabadikan momen dan mengirimkannya? Tidak perlu. Saya sudah punya kamera bagus merek ternama yang hasilnya sudah terbukti bagi keluarga dan sanak. Apa lagi?

Pendek cerita jadilah saya mendapatkan sebuah henpon murah. Memang di atas dua ratus ribu perak. Tapi tetap murah. Saya pun tersenyum penuh kemenangan. Namun selang beberapa menit selesai transaksi masalah baru muncul. Ternyata henpon itu tidak bisa memuat seluruh nama yang ada dalam kartu dan ponsel saya sebelumnya. Dan entah kenapa nama-nama itu langsung lenyap. Saya duga saya salah pencet. Seperti biasa. Celaka pikir saya. Sialnya lagi nama-nama yang tidak masuk itu justru nama-nama yang begitu penting bagi saya. Saya mulai membayangkan kerepotan yang bakal melanda hidup saya: mencari lagi nama-nama orang yang hilang itu. Dan itu harus dilakukan satu per satu. Oh malasnya saya kelak melakukannya.

(Saya baru sadar rupanya nomor henpon saudara-saudara kandung saya juga tidak bisa saya hapal, kecuali kakak perempuan saya. Yang saya sebut terakhir ini memang orang yang selalu saya kontak ketika kehabisan uang.) :-)

Selain soal nama rupanya pesan-pesan pendek atau SMS yang selama ini tersimpan di ponsel lama tidak bisa dipindahkan ke ponsel baru ini. Terus terang ada beberapa SMS yang sengaja saya simpan. Yaitu SMS rindu dari Kika, Nina dan Wili dan Martha. Juga SMS dari tokoh-tokoh penting atau bakal penting di negeri ini walau jumlahnya tidak banyak, yang saya anggap sedikit meninggikan diri saya. Namun ada satu lagi yang tak boleh hilang: SMS dari seorang suster di RS Cikini. Kenapa? Kemarin dia disuruh oleh bossnya, seorang dokter bedah di Rumah Sakit milik PGI itu mengirimkan via sms empat kali empat belas angka yang ada di kartu voucher. Saya menarik nafas. Saya pun memasukkan lagi kartu chip ke ponsel lama saya yang sudah mati sebelah itu. Syukurlah, SMS itu masih ada. Saya pun langsung memencet 888 kemudian angka 3, lantas memasukkan empat rangkaian empat belas nomor itu. Aha. Datanglah pemberitahuan: ponsel saya buncit dengan pulsa. Persis anak babi kekenyangan.

Bagaimana selanjutnya? Apakah ada henpon yang bisa memuat banyak data tapi minus kamera? Tanya saya. Si penjaga toko menggeleng. Semua ponsel yang dapat memuat banyak data pasti dilengkapi kamera. Mengapa? Tanya saya. Tentu saja si penjaga toko tak mampu menjawab pertanyaan saya. Dalam hati saya mengumpat perusahaan pembuat ponsel yang tidak mengakomodir kebutuhan orang semacam saya. Pendirian saya melunak: apakah saya boleh menukarnya? Bisa Pak, tapi harus dicharge Rp 50 000 sebagai ganti segel yang sudah dibuka. Saya menarik nafas. Tapi tak ada pilihan lain. Saya tidak bisa menghapus begitu saja nama-nama yang sudah ada dalam buku kehidupan saya. Tapi berapa harganya?

Jadilah saya membeli henpon seharga di ambang dua juta. Uang ada di saku saya. Dua ratus dollar berkat dadakan yang saya terima kemarin sudah saya rupiahkan. Namun saya tidak rela. Namun makin saya perhatikan ponsel baru itu makin menggoda. Layarnya besar dan dengan warna-warni cemerlang. Diam-diam saya mulai suka. Pendirian saya goyah. Tiba-tiba ponsel itu berbunyi memanggil. Saya panik. Tidak tahu bagaimana menjawabnya saya pun terpaksa menyerahkan kepada si gadis penjual untuk membantu. Dia tersenyum. Mungkin dalam hatinya hari gini masih saja ada orang yang tidak mahir memencet ponsel. Saya tak perduli. Hallo? Rupanya Wanda, naposo di gereja Menteng, dia memberi tahu orangtua dan sahabat saya, mantan guru huria Menteng dirawat di ICU. Oh, kata saya. Seandainya Serpong-Menteng bisa ditempuh kurang dari sejam saya ingin segera ke sana. Tapi sore ini ada kebaktian.

Urusan transaksi beres. Saya baru beranjak meninggalkan toko. Tapi tiba-tiba saya balik lagi. Bagaimana membuka kunci henpon ini? Saya teringat dulu saat pertama kali membeli ponsel saya tidak tahu cara membuka dan menguncinya. Si penjaga toko pun menjelaskannya. Cukuplah pikir saya. Yang penting bisa dibuka dan dikunci. Urusan lain belakangan. Tiba-tiba masuk SMS. Saya sudah di mobil. SMS belum selesai saya ketik entah kenapa sudah langsung terkirim. Oala. Kayaknya keyapad ponsel ini kekecilan. Atau sebaliknya jari-jari tangan saya kayaknya yang terlalu besar. Oke. Sabarlah Dan, kata saya. Harus pelan-pelan. Tapi apa yang harus dipencet untuk membuat spasi? Tiba-tiba saya teringat cerita teman saya Untung di milis, tentang seorang tua di kampung sana yang dengan bangga mengatakan kepada anaknya dalam bahasa Batak: nungamalobeahumarhenponalaipaboamajolodiadopincitpincitnihendponeon. Artinya: aku sudah pintar memakai henpon tapi beritahulah dulu bagaimana cara memencetnya. :-)

Daniel Taruli Asi Harahap

(seorang pendeta yang sedang belajar memelihara angsa dan mengoperasikan ponsel baru) :-)

Kembali ke halaman muka:

Share on Facebook

27 Responses to Ponsel Baru Saya

  1. ruly on April 29, 2008 at 9:30 am

    hahaha lucu kali amang ceritanya,
    biasanya perlu waktu beberapa hari biar familiar amg, ntar tutup mata jg bisa.. udah triji dong ya amang, selain keren fiturnya jg mestinya bs lebih bermanfaat..

    pro ruly:
    apa itu triji? :-)

  2. Roma on April 29, 2008 at 9:43 am

    Wehehehhe..lucu sekali Amang.
    Aku juga jadi teringat betapa antusias nya aku dulu hendak mengganti ponsel, sampai-sampai aku malu mangangkat hp ku klo di bus ato di mall karena itu td sudah terlalu murah harganya saat itu, walaupun sebenarnya dulu harganya lumayan. Akhirnya setelah punya penghasilan sendiri, entah itu gaji yang ke berapa serta merta aku langsung beli dan dengan bangganya aku memakainya di keramaian, tp sebenarnya jauh dilubuk hatiku semua itu bertentangan, kayak pamer dan tentu saja beberapa prinsip sudah kulanggar :( oalah …nah sekarang sudah setahun lebih aku pakai hp yang katanya “keren” itu..bah ternyata tak seberapa…semua biasa aja..jadi ngapain musti gonta-ganti hp yah?? hehehe…

  3. Hendry on April 29, 2008 at 10:05 am

    Horas amang pendeta,..
    Saya dulu berpikiran seperti amang bah,…
    molo heppon ba heppon ma..

    alai molo karejo sering jadi masalah,…
    molo naeng binuat poto ni parkarejoan, harus minjam dulu kamera orang, bah…dirumah ada kamera besar, capek kali awak bawa-bawanya,…
    jadilah seorang operator pabrik customer saya menyindir saya,..

    pak,..hare gini maish bingung dan masih mau minjam kamera,..tuh henpon ada kamera..bah,…terpaksalah awak berpikir 1000 kali utuk beli henpon kamera.
    akhirnya, terpaksalah kucsisil dari pada malu awak minjam kamera an..
    o tahe…teknologi on bah!!

    nb. kalo di hepponkusengaja ku pasang aplikasi alkitab bahasa batak, indo dll
    jadi molo margareja, sukkup mamboan buku ende yang tebal,..( tebal kali pun buku ende hakabepe sekarang ini)..

    amang mau aplikasi bibel bahasa toba di heppon ni amang ???
    merek aha heppot ni amang i??

  4. Charly Silaban on April 29, 2008 at 10:08 am

    Hahaha bisa aja amang ini.. ini yang dibilang benci-benci tapi mau hahaha.. budget naik 10 kali lipat dong ya. Kalau bapakku, satu Roxy di kelilingin hanya untuk mendapatkan henpon yang layar besar dengan huruf dan angka pada monitornya yang segede2 angka kalkulator.. biar kelihatan katanya.. mana ketemu hahaha..

    HP murah meriah ngga bisa nampung data banyak ya karena memorinya kecil.

  5. Mullong on April 29, 2008 at 10:47 am

    hahahaha, sama aja lucunya amang pendeta ini sama blog adiknya tulang mula, saya sampe diplototin teman karena tiba-tiba ngakak. Semoga handphone nya cepat bersahabat amang pendeta

    pro mullong:
    husss mula itu abang bukan adik saya. :-)

  6. Lidya Hutagaol on April 29, 2008 at 11:08 am

    huahahhah…
    terhibur kali aku baca postingan amang ini :)
    aku uda sering sih ‘mampir’ di sini, tapi baru kali ini tergerak utk ‘ngetik comment.
    smg bisa cepat ‘akrab’ dgn henpon barunya ya amang.

  7. Joice Hutabarat on April 29, 2008 at 12:37 pm

    Wahahaha…lucu kali amang ini..
    Aq juga dulu gitu amang, agak2 berprinsip dalam memilih hengpong, tapi cenderung gara2 harga sih wahahah..
    Punya hengpong waktu kuliah dan warisan abang maka dengan ikhlas harus kuterima hengpong yang udah dipake 2 thn ituh.
    Mengingat masih bisa kring, aq ga mau ganti, tapi gara2 melihat henpong si adek yg nada panggil bisa diubah pake lagu-nya Josh Groban, aq jadi mulei mikir beli ndiri, terlalu indah untuk diabaikan ito Josh ini, maka kubelilah hengpong yang mulai mentel alias banyak fitur nya.

    Jadi samalah kita sekarang amang..cuman udah agak lebih bersahabat hengpong itu samaku, gud luck ya amang hehe…

  8. Gloria Limbong on April 29, 2008 at 1:12 pm

    Hahahahaa… lucu kali amang..

    Aku juga tadinya berprinsip kek amang. Cukuplah HP untuk Nelp sama SMS aja.
    Tapi jaman sekarang tak ada Hp yang bisa nampung data yang banyak..
    Huh..
    Jadilah beli HP yang ada kameranya. Tapi kamera nya itu jaraangggg kali kupake. Kadang2 aku pikir, pemborosan sih.. Tapi ya sudahlah..

    Semoga cepat2 bisa beradaptasi sama HP nya amang.

    oia, kirim salam sama angsa amang. :D

  9. Theresia Hutasoit on April 29, 2008 at 1:44 pm

    HP dgn kamera… hmm… kyknya buatku sih bnyk gunanya amang. Bisa liat2 foto & video anak kalo lg dinas ke luar kota, jd pengobat rindu. Bisa jg foto2 kerjaan kalo pas gak bw kamera dll..dll.

  10. Nana Simarmata on April 29, 2008 at 2:07 pm

    Akhirnya ganti juga henponnya ya Amang….
    ga papalah Amang pake hp yang ada kameranya…biar di layar hpnya bisa di pajang foto Inang,kika,nina,willy…jadi kemana2 bisa liat wajah merekakan.
    Triji itu (3G) hp yang bisa liat wajah lawan bicara kita…tp harus daftar dulu ke providernya.

  11. kris manurung on April 29, 2008 at 2:17 pm

    apa itu triji? :-)

    Bah..ni aku coba bantu nerangin tp yang spesifiknya aja ya .. 3G (triji) itu sih sebenenya generasi setelah 2,5G (klo CDMA,CDMA2000-1x klo di GSM, GPRS), yang intinya pingin membuat transfer data itu (dengan kapasitas besar) dgn transfer rate yg cepat…transfer data itu ya kaya internet on mobile phone, video streaming, mobile TV, etc..nih contoh kinerjanya.; kecepatan transfer datanya sebesar 144 kbps klo kecepatan user 100 km/jam, 384 kbps klo kecepatan kaki, 2 Mbps klo user diam. Nah klo frekuensi kerjanya 3G itu ada di 1900 MHz..kan klo GSM itu ada di 900 MHz dan/atau di 1800 MHz, CDMA di 800 Mhz..

    Klo kemampuannya itu..yang kek diawal…
    punya kecepatan transfer data cepat (144kbps-2Mbps) jd bs melayani layanan data broadband seperti internet, video on demand, music on demand, games on demand, trs memungkinkan kita buat memilih program musik, video, atau game semudah memilih channel di TV. Kecepatan setinggi itu juga bisa loh ngelayanin video conference dan video streaming lainnya.. :-D Itu aja palingan sekilas 3G..coz masih banyak lg yang termauk dlm 3G itu, kaya EDGE, WCDMA, CDMA2000-1x EV-DO&EV-DV… :-)

    Btw..Selamat mengoperasikan henpon baru Mang..GBUs

    Pro Kris:
    Terima kasih atas penjelasannya. Tapi saya yang gaptek ini makin tidak mengerti dan pusing. :-)

  12. Grace Simanjuntak on April 29, 2008 at 3:21 pm

    Welcome to the next generation, Amang…..

    Take it easy aja Amang. Sama saja kok dg saya.
    Konon, saat orang mulai bicara tipe kartu gsm yg yahud untuk berponsel-ria, saya malah berpikir kalo Simpati itu adalah merek HP juga seperti merek Siemens. Whueleeehhh…., hiks… hiks…

    Mulai dari HP cukup untuk telp+sms, selanjutnya yang berwarna, selanjutnya asik juga kalo pake kamera, never say enough deh pokoke.
    Finally, I can’t help it. Nyeraaaahhhhh…. daaaahhhhhhhh….
    Ikuti dg bijak aja. Just like foot prints, do it step by step.

    Intinya, HP saya saat ini berfungsi untuk telp+sms (kalo pulsa ada), kamera untuk abadikan momen tertentu bila-bila saja,
    kalkulator saat butuh asisten menghitung kecukupan dana saat ada diskon,
    alat pemutar lagu favorit / radio saat jagoan kecilku mulai bosan,
    playing games to kill the time while waiting 4 someone/thing,
    simpan data nama + tgl_lahir + alamat email + no rek + sms penting,
    sbg alarm utk keperluan tertentu (misal: jadwal memberi susu pada malam hari, kapan waktu yg tepat untuk mengucapkan selamat ultah utk seseorang, & janji selanjutnya),
    dan yg penting saat ini bisa jadi senter di tengah gelap gulita.
    Di kota kami, Tanjungpinang, sering terjadi pemadaman listrik. So, ga jd gawat darurat deh bagi si kecil, kala tengah malam terjaga dan suasana gelap gulita (ga bisa bedain suasana dg mata merem atau melek).
    Iiiih, auk aaahhh, gelaapphhhh……

    Kalo HP Amang ada 2 kamera, di bagian depan dan belakang HP, bisa telpon-telponan dengar suara sekaligus memandang langsung ekspresi wajah lawan bicara. Mengobati rindu juga tuh kala berjauhan dg keluarga.
    PS: sila mampir ke grapari kartu GSM Amang untuk setting ulang HP-nya.

    Nah, sekian penjelasan teknologi dari saya yg juga guaphtthhheeexxx ini.
    It’s never to late to learn something new, Amang.
    Jangan pernah malu bertanya, bahkan sama anak lebih kecil juga,
    supaya kita jauh dari kesan malu-maluin.
    Hahahahahaaa… just kidding. G B U

  13. ancy on April 29, 2008 at 3:51 pm

    Wow…setuju amang…
    Itu prinsip yang aku akui baik adanya.
    Multifungsi, instant…dimanfaatkan dengan luar biasa saat ini. Cuma ada juga yang menyalahgunakan konsep itu, kasihan ya…

    Sukses ya amang!

  14. Rodo on April 29, 2008 at 4:59 pm

    Maaf, saya warga baru di serpong.
    atas saran keluarga disuruh cari gereja HKBP.
    Nah, waktu saya cari di google, link nya ke sini.
    Bisa kasih tau saya alamat gereja dan jadwal kebaktiannya ga?

    …kayanya pak pendetanya asik nih, hehe…

    Thx
    Sihaloho, Elrodo (baru menikah 15 maret 2008 dan akan tinggal di graha raya cluster carissa tanggal 1 mei 2008)

    Pro Elrodo:
    Silahkan datang.
    HKBP Serpong Villa Melati Mas
    Jalan Oleander VI Blok O No 1 Serpong
    (masuk dari samping Giant, ketemu pos polisi belok kanan, jalan ketiga kanan lagi, sampai habis….) :-)
    Kebaktian Bahasa Indonesia pukul 07.00 Bahasa Batak 09.30

  15. Martin Hutajulu on April 29, 2008 at 11:47 pm

    Horas ma tu amang pandita nami..

    salam kenal dari aku MARTIN HUTAJULU, (NHKBP CIPUTAT)

    waktu awal membaca penggalan pertama paragraf “ponsel baru saya” langsung saya tersenyum kecil malu hati….hahaha!! soalnya bertepatan dengan adanya ponsel baru saya…yang mana gak begitu penting aku punya ponsel macam itu…(smart phone = pda) cuma gara-gara “seneng aja karena bisa disentuh” pake jari..(maksudnya touch screen) n gara-gara ponsel yang lama dah “pasaran”

    yang amang katakan bner kok, ponsel ya ponsel camera ya camera..tapi untuk di jaman se-jelimet ini ternyata kebanyakan orang pun butuh HP yang sudah mencakup camera (walaupun camera apa adanya)

    aku jadi inget kata bapak, “buat apa ponsel ada camera-nyalah, 3G lah?, ini itu lah…tapi gak ada pulsanya! kaya kau tuh Hp 2 tapi klo ditelp bapak kadang gak diangkat, disuruh ngabarin selalu gak ada pulsa…” pdahal bapak ku juga sekarang ponselnya 2, dengan alasan terpaksa katanya! malah dua” duanya ada cameranya…tapi klo bapak memang sesuai karena suka travelling.

    ya semuanya berjalan seperti yang TUHAN mau, mungkin amang sudah waktunya mgkn untuk pake ponsel kamera, walaupun amang belum butuh” banget..ya sapa tau waktu camera amang yang cuanggih itu ketinggalan ato habis baterainya, kan bisa digantikan sementara oleh si ponsel berkamera dengan harga 2jutaan itu, hehehehe…

    Mauliate,
    INGODWETRUST!

  16. Tonny G. Tanos on April 30, 2008 at 6:43 am

    Ha ha ha. Saya juga sedang kebingungan dengan HP baru saya, Dan. Kemarin (28 April 08) saya ke Pentagon Mall utk memperpanjang kontrak dgn operator t-mobile dan diberikan HP gratis keluaran terbaru dari Samsung. Ada kameranya. Tapi harus kerja keras belajar dengan HP baru yang lebih canggih dari HP lamaku.

    TGT

  17. st. edison siahaan on April 30, 2008 at 8:27 am

    Saat posting handphone stroke, saya ingin sekali tanya mereknya apa biar dicari gantinya persis sama sehingga tidak mengusik “gaptek”nya amang soal “perhanponan”. Tapi saya tidak tahu mulai dari mana karena idealisme pelayanan?

    Btw Amang, mantan guru huria menteng yang dimaksud Amang St. Nainggolan? Bagaimana keadaannya sekarang, semoga cepat sembuh!
    Yah btw-nya tambah lagi amang, komen untuk hp baru ini banyak sekali yah! Top Score? Fenomena apa ini apabila dihubungkan dengan komen renungan?
    Selamat menggunakan handphone baru, mudah2an memorinya masih sisa untuk menyimpan nomor saya!

  18. harnata simanjuntak on April 30, 2008 at 8:42 am

    aku lagi bingung. apa ya hubungan henpon dengan katak di atas daun. tapi itu katak kan Amang? koq agak lain ya. kayaknya dia bisa gakti kesing. mungkin juga dah bisa triji juga ya, hehehe…

    pro harnata:
    mungkin karena penulisnya suka membayangkan dirinya sebagai kodok yang tidak begitu cerdas, tapi tidak pernah bosan belajar melompat. :-)

  19. St JPH on April 30, 2008 at 4:48 pm

    Kalau kulihat sepintas lalu Hp amang DTA keren,Tipis HP gaul lah, tapi kucoba2 curi2 pandang lihat merknya sulit terlihat. Apa takut disaingi kali ha ha ha. Alai molo dibereng boima, ndang talu tu Hp na saonarion!

  20. boyke pakpahan on April 30, 2008 at 5:08 pm

    mungkin suatu saat nanti amang jg perlu handphone yg berkamera, yang bisa ini itu, bisa mar-internet di handphone, dgr lagu/radio dan kirim2 data cos ngga (mungkin “belum”) mungkin radio, mp3 player, laptop u i-net dan kamera muat di kantong amang. xixixixi
    multifungsi itu perlulah amang, asal ngga lupa aja sama fungsi intinya.

  21. ibu tiur on April 30, 2008 at 9:16 pm

    Pak Pdt. only 2-words for you….”terima saja”, means you need the NEW cell-phone. Pasti pelayanan lebih lancar….!
    Selamat melayani.

  22. maria on April 30, 2008 at 10:23 pm

    lama tidak berkunjung, makin menarik saja rumamemet.
    dunia perhenponan memang menarik, tapi di Indonesia jangan pakai yang mahal kalau masih naik turun bis kota :D
    Klo disini henpon yang penting bisa untuk terima tlp dan sms dr kampung

  23. duma nababan on May 1, 2008 at 9:44 am

    Saya jadi ingat mami saya. Mami saya saya belikan sebuah handphone brandnya adalah perusahaan tempat saya bekerja dan dia sangat bangga :-) . Tapi sampai hari ini dipakai untuk menelpon dan menerima telpon saja. Suatu kali temannya bilang “boasa so hea dibalosho sms hu?”, terus mami saya bilang ” ai so huboto mar sms”, terus temannya bilang ” ah sampathon ma tu sadaan henpon mi molo so dibotoho do mar sms” , hahahaha… ompung-ompung!. Sementara papi saya diajarin sms sama boru saya di Lidya umur 8 thn, dan habis itu mereka latihan kirim-kiriman sms padahal mereka duduk berhadap-hadapan :-)

  24. rudi juan carlos on May 1, 2008 at 8:47 pm

    Horas..Sangat mengelitik tapi real n jujur seh,,
    HP mahal atau murah sah-sah aja tergantung kebutuhan masing-masing.
    Asal Skala Prioritasnya tepat n jelas :
    1. penting n mendesak buat kebutuhan
    2. Sesuai dengan kemampuan n jankauan pendapatan (jgn sampai ngutang apalagi Korupsi)
    3. kalo hilang jangan mangandunggi sadari- saborgin apalagi sampai lebih.
    4. Unang di pengeahon tu sude jolma di pertibion ate..(teal)
    habang ma helem ni polisi
    jonok tu kampung ambon
    unang ma marsalisi
    molo tung pe dang puna heppon..

    ha..ha..ha..

  25. Togar Lumbantoruan on May 1, 2008 at 10:04 pm

    Ponsel dengan kata kunci: No Camera Huge Memory pastinya SE M600i.
    Warnanya juga bagus akan menggoda mata Amang, Layarnya lebar akan memudahkan membaca sms 5 page.

    Terus ponsel ini bisa buka internet dan unduh email. Nah sambil nunggu sermon masih bisa balas email dan milis.

    Yang satu ini dikhususkan buat amang: dengan symbianbible bisa baca:
    Bibel Bahasa Toba, Buku Ende, Alkitab BInd dan Kidung Jemaat.

    Harganya sekarang lebih murah dari yang sudah amang beli sekitar Rp1.6jt.

    Salam,

    Togar Lumbantoruan

    Pro Togar Lumbantoruan:
    Terima kasih atas infornya lae. Nanti kalau angsa saya sudah bertelur mungkin saya akan beli hp baru. :-)

  26. yuni on June 12, 2008 at 9:41 am

    sarupa pengalamanta amang pendeta, ha..ha..ha….gabe huingot pengalamanku tingki i. Selamat marsiajar taringot tu HT (hight tecnologi). molo boi tolong surat hamu naggo pala saotik taringot tu pemeliharaan angsa asa tong marsiajar iba ai lam posi do nuaeng zaman on, mauliate, horas

  27. mmi on October 10, 2008 at 1:57 pm

    hahaha

    lucu sekali ceritanya.
    ini terlalu ideologis atau susah menerima perubahan..
    pernah baca buku tentang 3 tikus di labirin nggak???

    kayaknya pas dengan masalah ini.. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*