Oleh : Lambas Siregar
Ingat Bona Pasogit ingat masa kanak-kanak kami sampai remaja terukir indah. Setiap minggu selalu ada onan atau pasar sekali sepekan yang sangat ramai. Dari penjual sembako, poccal/pecal, mi gomak ee que jadi ngiler ni, sendol, apalagi kue-kuean martabak. Wah buanyakk kali tahe termasuk pinahan lobu. Alm Bapak saya tukang jahit juga tak ketinggalan meramaikan bersama barisan lapo buka lebar-lebar ”talak songon lappak ni gaol “.
Di antara para pedagang yang didominasi para ina, terdapatlah kelompok ” bisnismen ” yaitu Parubat-ubat dengan seperangkat alat sound systemnya yang pintar menghibur mengolah kata dan perasaan orang sambil menjual obat . Banyak orang jadi tertarik lewat guyonan atau atraksi krobat, sulap, karate bahkan janji-janji parubat-ubat. Katanya nanti akan ditunjukkan ular besar. Para pengunjung rela sabar berjam-jam menahan teriknya sinar matahari karena penasaran. walaupun pada akhirnya janji ular besar tak muncul-muncul. Dagaa.. puang. Ada juga pedagang lain yang meniru model parubat-ubat berdagang misalnya : penjual alat dapur, sepatu, buku tulis dll.
Pernah ada 3 kisah geli mengenai para pedagang ini.
Seorang pedagang piring gelas kaca selalu berjualan keliling membawa dagangannya dalam peti. Ketika berjualan dengan gaya berapi-api selalu dia berpromosi sambil sering membanting-banting piring gelasnya di tepi atas kotak petinya. Menyakinkan pembeli, bahwa piring tersebut susah sekali pecah. Tapi seiiring waktu entah karena sudah terlalu sering dibanting-banting, kayu petinya makin lama makin menyusut dan pakunya mulai makin menonjol. Suatu ketika pada saat banting membanting, terjadilah naas. Bunyi bantingan piring kacanya mulai berubah dari proukk menjadi prrekk akhirnya priikk langsung maropuk alias pecah. Spontan penonton ketawa terpingkal-pingkal, dan dengan muka sedih dia berguman “sambor ni nipikki “.
Seorang lagi pedagang alat-alat dapur yang setiap hari Sabtu mengingatkan orang banyak berkali- kali dengan pengeras suara : ” Ndang ro be hami mulai marsogot sahat tu ari Jumat “. Lalu karena sering dengar kata-kata promosi tersebut, seorang ibu pedagang lain saking bosannya mendengar menimpalinya “Unang be ro hamu mulai marsogot sahat tu saleleng ni lelengna ” Hahaha …
Ada lagi seorang bapak pedagang buku tulis selalu mengajak pembeli dengan bahasa iklannya : Asal ise manuhor buku sian ahu ingkon gabe doktoranduss. Agaa.. puang ndang boi gabe na asing?
Di antara para parubat-ubat tersebut ada seorang yang saya kenang yaitu St P. Walau tidak muda lagi dan tidak terlalu tua, dia selalu tampil dengan bahasa dan gaya doli-doli. Dan selalu pintar menarik pengunjungnya dari segala usia dengan lawakan kayak mau ajak ke pesta kawin yaitu Gokkon dohot Jou-jou untuk menjual obatnya sambil mengatakan demikian:
Mandapothon Napinarsangapan :
Amanami, Inanami, Tulang, Nantulang, Amang oru nang namboru, Pariban, Ale-ale, maradu sude hita napungu dison .
Dison ro do anak muna Si P na ro sian Australia mamboan ubat caccing asa jalo hamu sian nasida. Annon bodari dung sidung mangan indahan na las dohot minum aek si tio-tio, pangan hamu ma obat caccing i. Manogot nai, dung hehe hamu rap udur ma hita tu balangkang, berengonmunama markaluaran angka cacing i. Songoni ma jolo gokkon dohot jou-jounami. Di siala haroromuna jumolo ma hupasahathami mauliate godang. Horas! Sian Ahu : St P.
Parubat -ubat ma tahe goarna.
Catatan:
Tulisan ini tadinya dikirimkan dalam bentuk komen ke renungan harian. Namun saya pikir tempatnya lebih cocok di sini. Salam. Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Cerita yang bagus…
Sebenarnya aku juga kurang mengerti bahasa batak…
Tapi tadi setelah Bapatua baca, ternyata ada kata2 yang kurang benar…
”talak songon lappak ni gaol “ seharusnya “talak songon indahan di balanga”.
tapi dari keseluruhan semuanya bagus kok…
Semangat truz yach buat cerita tentang bonapasogit kita…
Tuhan memberkati…
to : Rouli
Talak songon lappak ni gaol artinya terbuka lebar seperti daun pisang,tidak tertutup sehingga gampang dipakai/pembungkus.Thanx
ha..ha..ha..lucu juga ceritanya lae…..
Lae Regar, parubat-ubat yang namanya si P itu, si P##pa##an ya ? Orangnya tinggi, ramping, putih, dan ganteng ?
To Lae Hutahaen : Benar Lae, pake gelar St lagi, boong kali ya.. kapan ditabalkan, dari Australia pula.
Ketika respon penonton kurang supaya makin laku obatnya, maka mulailah dia beraksi lagi nambain cerita korban meninggal yang tidak beli obatnya si Lokkot. Dia berkata : Ale Lokkot sian tano do ho jala mulak tu tano do ho, ala ndang olo ho marneang ni langka manjalo ubat sian ahu St P sambil menyodok beberapa kali tanah kemudian melemparkan tanah tersebut ke peti obatnya ibarat peti orang meninggal. kemudian ia menyanyikan lagu namate ” Loas au asa lao ” sambil diiringi main piano mainan anak-anak. Penontonpun geli dibuatnya dan tergerak membeli.
Yah pintar kali lae lambas ini bercerita,aku juga uda dengar dari Your Brother Amang St PS ,katanya lae kalau disuru beli sesuatu sama Alm Natuia tuai (Bapak) Pulangnya lama, ternyata dikarenakan Nonton Parubat ubat ha ha ha,Toho doi ?? Nggak mungkin nggak toho ya ha ha ha,Horasma.
Lucu sekali amang ceritanya, jadi ingat aq dulu waktu maronan di pajak balige. huhauhaua. Pulang sekolah pergi ke t4 parubat2 melihat2 ular yang penuh atraksi. Aq juga pernah amang melihat atraksi penjual gelas, si penjual blg ga mudha pecah, dengan enaknya dia berdiri di atas gelas itu. tapi sialnya, gelas itu pecah dan kaki penjualpun berdarah…..