Mamak

April 18, 2008
By Daniel T.A. Harahap

pasar-jdp.jpg

Oleh: Anne Yurico

Di dekat rumahku ada carrefour baru  (bagaimana sebenarnya melafalkan kata carrefour ini?) , sebuah pasar swalayan nan megah, bisa belanja sambil berekreasi. Tanpa keringat karena ada pendingin udara.  Tanpa becek karena lantai dari keramik. Tanpa tangan pegal karena ada troli (keranjang dorong yang ada rodanya). Nikmat sekali. Harum pula. Untuk membayar di kasir orang-orang rela mengantri berjam-jam, walaupun beberapa keranjang belanjaan yang kulihat, hanya terisi makanan-makanan yang sebenarnya banyak dijual di toko kelontongan, misalnya mie instan, kecap, minuman botol, dan minyak goreng.

Ketika pasar tradisional mulai berkurang peminatnya, tetapi mamak, tante dan inangtuaku tetap setia dengan pasar tradisional. “Tak ada mudar ayam kampung untuk ayam gota, andeliman pun tak ada” itu kata mamak kalau aku mengajaknya untuk belanja di pasar swalayan. Atau kadang-kadang dia berkata “ih… janganlah kau belanja disana inang, yang udah lamanya itu dipajang, banyak pengawetnya”.

Memang mamak adalah orang yang paling tahu berapa lama bahan-bahan pangan itu bisa bertahan secara alami. Dulu mulai tahun 1980-an mamak selalu setia menjaga kiosnya yang sebesar 2×3 m2 di sebuah pasar tradisional, menjual keperluan sehari-hari. Mulai dari beras, minyak goreng, gula pasir, gula merah, dan terakhir mamak menambahkan satu mesin parut kelapa di kios kecilnya itu. Setiap hari, jam 4 subuh mamak sudah memulai aktifitasnya, persiapan untuk berjualan. Letak pasar itu dari rumah kami ditempuh mamak dengan menaiki metromini selama 30 menit.

Beliau tidak sempat mengurus kami berlima untuk bersekolah. Persiapan kami ke sekolah diurus oleh seorang bibi, kenalan mama yang tinggal di belakang rumah. sekitar jam 8 malam, mamak baru kembali lagi di rumah. Seperti wanita karir, begitu kami meledeknya. Kadang aku kasihan melihat mamak, tapi katanya demi membantu bapak agar anak-anak semua bisa sekolah.  Ketika aku libur sekolah, aku senang membantunya berjualan dipasar, menakar beras, minyak goreng, hanya satu yang tidak pernah aku pegang, yaitu mesin parut kelapa. bukan aku tidak mau, tetapi tidak diijinkan oleh mamak. Berbahaya, katanya.

Kadang aku iri dengan teman-teman sekolah ku yang kalau pulang sekolah, sampai di rumah, wajah mamaknyalah yang menyambutnya. Sosok mamaknyalah yang lebih dulu dicarinya. Tapi itulah perjuangan mamak untuk kami, sehingga waktu yang aku habiskan bersamanya tidak banyak. Kadang-kadang aku rindu dengan sentuhan dan tawanya yang jujur itu. Aku dibiarkan berjuang sendirian, menghadapi: hari-hari di sekolah, hari pertama kenaikan kelas, kenakalan teman-teman, membuat PR, persiapan ulangan, pertama kali menstruasi, pertama kali tertarik dengan lawan jenis dan lain-lain. Bahkan kadang-kadang mamak tidak sempat ke sekolah mengambil rapor.

Perjalanan ini kutempuh dengan meraba-raba. Kadangkala sering tersandung kerikil dalam perjalanan, dan mengobatinya sendiri. Tak ada mamak yang mengatakan: “jangan melewati jalan itu, karena banyak batu-batunya, aku sudah pernah
kesana, dan rasanya sakit kalau tersandung.” Dan kurasa perjalanan ini menjadi lebih panjang, karena aku sering tersesat, dan harus kembali lagi ke persimpangan untuk mengambil arah yang lain. Tak ada mamak yang mengatakan: “jangan lewat sana, aku sudah pernah kesana dan disana jalannya buntu.”

Tetapi kata mamak, lebih baik disakiti oleh kenyataan, daripada dinyamankan oleh kebohongan. Lebih baik kalah dengan bekas luka, dari pada menang dengan menipu. Dan masih banyak lagi kata-kata “lebih baik….. ” dari mamak yang aku simpan, karena untuk berbicara “lebih baik…… ” itu, tidak memerlukan waktu yang lama, paling hanya 3 menit. Dan 3 menit yang sangat berarti itu, bisa menggantikan waktu 16 jam mamak berada di pasar.

Jadi berjuanglah terus mak, karena kami masih membutuhkan mu.

Anne

Share on Facebook

4 Responses to Mamak

  1. Pieter on April 18, 2008 at 12:42 pm

    Hidup adalah suatu proses perjuangan… kita berpacu menuju ke satu titik yaitu sukses. Memang banyak hambatan, tantangan, dll yang menghalangi kita menggapai titik sukses yang kita tuju, Tetapi biarlah… di dalam Tuhan Yesus kita pertaruhkan harapan dan perjuangan kita….Hari esok pasti lebih baik dari hari ini….

  2. Nana Simarmata on April 18, 2008 at 1:49 pm

    anne,
    aku terharu loh baca tulisan kamu…
    itulah perjuangan seorang mamak buat kita anak2nya….
    sekarang tinggal kita nih bisa ga kita kelak menjadi mamak seperti mamak kita yang hebat buat anak2 kita kelak.
    mamak aku juga hebat loh…..

  3. tari 7rait on April 19, 2008 at 9:33 am

    emang mamak ga ada duanya di dunia ini,,
    dgn membaca artikel ini, aq semakin bersyukur krna masih diberi Bapa untuk menikmati hari2 bersama mamak.
    Thanx yachhh,,
    Semoga kita semua bs memberikan yg terbaik utk mamak, selagi masih diberi kesempatan. AMIN..
    God Bless us…

    regards,

    me : tari

  4. Pangondian Ritonga on April 28, 2008 at 3:59 pm

    Klo tentang perjuangan, perempuan Batak paling tangguh untuk menghadapi segala rintangan. Kesetiaan perempuan Batak sekarang ini saya harapkan selalu tetap setia pada pasangannya jika sudah menikah. Karena bagi saya salah satu keumggulan boru Batak adalah kesetiaannya pada pernikahan walau sejujurnya sang suami sering tidak bertanggungjawab Tapi sekarang suami-suami Batak sudah lain…seperti Pak Pendeta DTA, jadi kepala rumah tangga idola….Amen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*