Ponsel Stroke & Pendeta Malas :-)

ponsel-stroke.JPG

Oleh: Daniel Taruli Asi Harahap

Saya tidak tahu kapan persis ponsel saya menderita stroke atau mati sebelah. Bahasa Bataknya: mate sambariba. Mungkin beberapa hari setelah saya pindah ke Serpong. Dan saya lebih tidak tahu lagi penyebabnya. Kayaknya bukan karena terlalu banyak pikiran. Memang ponsel itu pernah beberapa kali jatuh, tapi saya pikir dia hanya luka ringan, dan yang penting masih tetap dapat berfungsi sebagaimana biasa. Fungsi ponsel itu sendiri bagi saya sebenarnya hanya dua: bertelepon dan menerima-mengirim pesan pendek atau sms. Fungsi lainnya seperti kamera dan games hanya Willy yang tahu.

Pada awalnya saya tidak terlalu perduli dengan kondisi stroke ponsel saya ini. Sebagai seorang pendeta, apalagi yang baru ditempatkan di jemaat baru, saya merasa ada banyak tugas yang jauh lebih penting daripada sekadar mengganti ponsel. Lagi pula saya toh masih bisa menerima sms dan terutama bertelepon. Selain itu telepon rumah dan kantor juga ada. Dalam hati saya: kurang apa lagi?

Namun lama-kelamaan saya sadar bahwa masalah ponsel berpenyakit stroke atau mati sebelah bisa menjadi soal serius. Sebelum pembaca bingung, perlu saya jelaskan penyakit ponsel saya ini: empat tombol yang di sebelah kanan, yaitu angka 3,6,9 dan kode # entah kenapa tidak bisa berfungsi. Selanjutnya huruf: def-mno-wyxz. Kesulitan saya pertama adalah tentu saja membalas pesan pendek atau sms dari anggota jemaat atau kawan-kawan lain (Martha dan anak-anak, serta saudara-saudara kandung saya sudah tahu penyakit ponsel saya karena itu mereka tidak lagi mengirim sms, atau kalau pun mengirim tidak lagi mengharap balasannya).

Ada dua kata hampir maha penting yang tidak bisa lagi saya ungkapkan lewat sms: ya dan oke. Riskan. Namun saya tidak habis akal. Ponsel itu masih bisa menggunakan kode emotikon smile atau senyum, yaitu :-) Bukankah orang Indonesia suka senyum untuk mengatakan: ya? Sebab itu ketika ada anggota jemaat yang mengirim SMS mengatakan berhalangan datang konseling pada waktu yang telah kami sepakati, saya pun menjawab singkat dengan: :-) Juga ketika Bendahara gereja mengirim sms bahwa gaji saya sudah ditransfer. Namun lama kelamaan saya sadar bahwa kode emotikon smile itu bila digunakan kepada anggota kaum ibu gereja (punguan ina) bisa berakibat fatal. Jangan-jangan nanti saya dianggap genit atau iseng. Sebab itu saya memilih lebih banyak tidak menjawab pesan pendek yang datang, atau menelpon balik saja. Bodohnya, saya baru tahu beberapa jam lalu bahwa sebenarnya huruf O bisa saja diganti dengan angka nol (0) untuk menulis OK (minus huruf e).

Saya sebenarnya tahu harga ponsel tidaklah terlalu mahal, dan saya juga tidak miskin-miskin amat untuk membeli ponsel baru. Dan jangan-jangan saya tidak perlu membeli ponsel baru, tetapi cukup membawanya berobat jalan saja. Namun saya merasa terlalu malas untuk mencari toko ponsel yang pasti jumlahnya puluhan di kawasan Bumi Serpong nan Damai ini. Dan saya lebih malas lagi membayangkan bagaimana nanti saya harus belajar lagi mengoperasikan ponsel baru. Di usia jelang 45 ini saya pikir bukan saatnya lagi saya harus belajar sesuatu yang baru yang saya anggap tidak terlalu penting: mengoperasikan ponsel baru.

Rupanya masalah yang diakibatkan penyakit stroke ponsel ini bukan hanya dalam hal SMS. Saya lagi-lagi sadar rupanya saya tidak bisa menyimpan nama-nama kontak baru. Yang jelas nomor telepon yang memakai angka 3,6 dan 9 tidak bisa saya simpan. Celakanya hampir seluruh nomor telepon anggota Parhalado HKBP Serpong kayaknya menggunakan tiga angka “sial” itu. Lantas bagaimana? Syukurlah Tuhan memberikan saya lumayan akal. Saya pun meminta pegawai tata usaha gereja mengirimkan nomor telepon penting itu dalam bentuk kartu nama. Aha. Berhasil. Saya pun tersenyum lagi. Sebelumnya, beberapa nomor telepon yang tidak menggunakan angka 3,6 dan 9 berhasil saya simpan dengan mudah. Namun masalah baru muncul: mengetikkan nama-nama pemilik telepon itu. Seperti sudah saya katakan di atas, bagaimana pun pentingnya huruf itu ponsel kesayangan saya itu tetap tidak bisa memfungsikan huruf def-mno-wyxz. Lantas bagaimana? Saya belum mau menyerah. Jika kebetulan namanya menggunakan huruf-huruf “terlarang” itu saya buat saja inisial baru. Suka-suka. Misalnya: marga simanjuntak saya singkat saja sjtk. David saya singkat Vid. Maria saya singkat jadi Ria. Beres. :-) Tapi itu sementara. Berhubung singkatan itu sudah terlalu banyak, lama-lama saya bingung sendiri menebak-nebak ini nomor siapa.

Ponsel saya jenis prabayar. Kebetulan ada seorang dokter di bilangan Rawamangun yang berbaik hati mengirimkan pulsa (sebelumnya beliau suka mengirimi saya ayat) dalam jumlah lumayan, sehingga cukup lama saya tidak perlu membeli pulsa lagi. Namun setelah pulsa hadiah itu habis saya disadarkan lagi rupanya penyakit stroke itu menyebabkan ponsel saya tidak bisa mengisi pulsa. Padahal saya sudah sempat membeli voucher dan kartunya pun sudah digesek. Lantas bagaimana? Saya pun buru-butu menelpon istri saya Martha (tentu saja menggunakan fasilitas kantor) agar mengirimkan saya pulsa elektronik dari Palembang. Tapi bagaimana dengan voucher yang sudah sempat saya beli? Gampang. Saya pinjam saja telepon Hendro, pegawai kebersihan gereja kami, lantas kartu ponsel saya dimasukkan ke ponselnya untuk mengisi pulsa. Setelah itu saya kembalikan lagi. Sukses. Saya semakin yakin saja bahwa di jaman teknologi moderen ini sebenarnya ponsel tidaklah penting-penting amat. Manusia toh tidak hidup dari ponsel saja.

Tapi beberapa hari lalu saya sempat panik. Malam ketika hendak melayani kebaktian wijk di suatu kawasan baru saya salah jalan dan tersesat di suatu tempat yang bagi saya sangat asing dan gelap. Celakanya saya tidak bisa menghubungi sintua wijknya karena nomornya belum saya simpan. Daftar lengkap parhalado dan nomor telepon memang ada di mobil, tapi nomor itu tidak bisa saya hubungi karena ponsel saya tidak punya angka 3. Oh hidup. Tapi saya dapat akal lagi. Salah seorang anggota parhalado serpong, Todung, adalah teman baik saya sejak dia belum menikah. Nama dan nomor teleponnya sudah lama ada di ponsel saya. Saya pun menghubunginya dan meminta dia mengontak salah seorang sintua di wijk dengan pesan agar menghubungi saya. Ternyata dia mengontak Ricard teman di milis yang langsung menjemput saya di depan sebuah pabrik untuk dipandu ke tempat kebaktian. Syukurlah. Sebenarnya saya agak malu dan rasa kurang enak di hati, tapi apa boleh buat.

Namun rupanya itu pun tidak membuat saya pergi-pergi juga ke toko ponsel. Saya malah hanya diam membayangkan wajah sahabat saya Rudolph di Rawamangun sana. Dulu sewaktu di Rawamangun beberapa kali dia yang membawa ponsel saya berobat dan bahkan opname gratis. Kebetulan dia punya counter ponsel di Mal Arion. Tapi saya pikir tidak mungkinlah saya mencari dia jauh-jauh ke Rawamangun hanya untuk membantu saya memperbaiki ponsel ini.

Begitulah hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan Maret berganti April, saya tetap mempertahankan ponsel yang sudah mati sebelah itu tanpa berusaha apa-apa. Mengharap keajaiban juga tidak. Kemarin ketika hendak memimpin kebaktian pembukaan usaha baru seorang penatua, dan saya salah jalan lagi, saya toh cukup mengirimkan tiga tanda tanya (???) kepada seorang teman majelis yang saya tahu sangat rajin dan baik hati, dan dalam waktu kurang dari satu menit dia langsung menelpon saya untuk menuntun saya ke jalan yang benar. Namun pengalaman hari ini sungguh-sungguh membuat saya mengambil keputusan untuk mengganti ponsel itu segera: pada kesempatan pertama. Seorang anggota jemaat mengirim sms meminta didoakan bahwa saudaranya kanker di Medan. Yang lain minta didoakan karena sedang bertengkar hebat dengan suaminya. Saya tidak tahu mau menjawab apa karena huruf-huruf di ponsel saya tidak cukup. Dalam hal ini jujur saya merasa cukup bersalah.

Mungkin besok saya akan memaksa diri mengitari kawasan BSD mencari toko ponsel. Tapi, masalahnya pagi saya harus menghadiri Konven Pendeta se Distrik Jakarta Tiga di Tanjung Priuk, dan acaranya bisa sampai siang, dan tiba di Serpong jelang sore. Malamnya ada Rapat Parhalado. Oke, mungkin sorenya saya sempatkan membeli ponsel setelah mengetik uraian tugas Parhalado dan mengganti oli mobil. Tapi, saya masih ada satu pekerjaan lagi: memberi makan angsa. Lantas kapan urusan ponsel ini selesai? Pokoknya segera. Memakai bahasa sekarang: ASAP. As soon as ponssible.

Kepada semua pihak yang merasa sms-nya tidak dibalas atau dibalas tapi hanya dengan kata-kata super pendek dan kurang nyambung: walau bukan hari raya, saya mau menyampaikan mohon maaf lahir dan batin. Tidak ada niat membuat kecewa. Nanti setelah ponsel saya sembuh atau malah jadi baru saya akan kirim sms panjang-panjang lagi, tanpa akronim, apalagi kode emotikon yang bisa ditafsirkan ganda. :-)

Share on Facebook

8 Responses to “Ponsel Stroke & Pendeta Malas :-)”

  1. imme hutajulu Says:

    Hahaha…
    Ternyata selain GSM (Geser Sikit Mati), ponsel bisa stroke juga ternyata..
    Udah pada pecah kali,Amang, ‘pembuluh’ keypadnya..
    :-D

  2. J. Siahaan Says:

    Wah…. kemarin kog nggak cerita amang… di daerah kebun nanas, tangerang ada servis hp yg ok…. ntar yah….saya hub…..

  3. gerda silalahi Says:

    sampe hari ini, aku belum berhasil mendapatkan nomor hp amang pendeta brewok ini.

    minta dong no hpnya amang, aku mau anterin kue apem nih :)

    salam
    -G-

  4. S. Marihot Hutahayan Says:

    Bah, saya pikir hanya Astro yang ‘koma’ kemarin, hp Amang lagi stroke juga ternyata. Beberapa fungsi ’saraf’nya sudah amburadul. Bagusan dibawa ke ‘Pineng di Malas-ia’ (alias Mangga2) saja operasinya lebih telaten Amang. ‘Dokter’ nya lebih care dan lebih oke. Omong-omong, saya juga punya PDA yang sudah 1 tahun stroke dan handphone nokia sangat kuno yang harus bedah jantung dari 2 tahun yang lalu. Tapi malasnya ini ‘dokter bedah’ membuat tetap tersimpan di laci saya…..entah sampai kapan…

  5. boru gurning Says:

    hehehe benar2 menyegarkan membaca tulisan amang pendeta…hanya dari browsing tak sengaja untuk mencari lokasi aula hkbp cijantung…eh dapatnya malah situs amang pendeta DTA…

    Tulisan2nya sangat jauh dari paradigma yang tertanam di kepala saya ttg sosok2 pendeta2 di HKBP yg notabene banyak minusnya ketimbang positifnya…..

    Mudah2an sosok amang DTA bisa membawa angin segar di lingkungan HKBP…amen…

  6. Nana Simarmata Says:

    Ha..ha..ha..ha
    Satu lagi nih tulisan Amang yang buat aku ngakak…
    ya iyalah Amang hp Amang mate sambariba habis dah jatuh beberapa kali..
    ga ada kata lain..selain segera ganti tuch hp daripada buat masalah lagi tul ga…Amang ?

  7. Robert Manurung Says:

    Inilah bagusnya kalo pendeta ngeblog, jadi bisa cerita soal sehari-hari, yang remeh-temeh. Asyik juga menemukan pengalaman baru bahwa ternyata pendeta manusia juga. Entah kenapa itu menimbulkan perasaan nyaman, sampai-sampai aku berjanji dalam hati akan rajin ke gereja lagi.

    Tapi kalo yang ini aku tak setuju pak pendeta dan mudah-mudahan tidak dibaca jemaat Anda :

    “Di usia jelang 45 ini saya pikir bukan saatnya lagi saya harus belajar sesuatu yang baru yang saya anggap tidak terlalu penting: mengoperasikan ponsel baru.”

    Lebih bagus kalau kita bia belajar hal baru terus-menerus pak pendeta, supaya jangan cepat pikun dan terlalu konservatif hehehe…

    Aku doakan semoga pak pendeta tidak malas lagi pergi ke servis ponsel. Kalau mendoakan supaya HP-nya betul sendiri tanpa diservis, aku tidak berani pak pendeta, karena imanku lebih kecil dari biji sesawi.

    Horas.

  8. mmi Says:

    pendeta hebat, bisa tetap bertahan di kondisi sulit..
    tanpa banyak mengeluh

    hehehe….

Leave a Reply