Surat dari Borneo

March 3, 2008
By Daniel T.A. Harahap

meyliani.jpg

Maaf amang, saya baru membaca artikel amang dan ternyata saya ketinggalan banyak info rupanya. Oia… Buat adik kecil dan manis Nina…Semoga makin sehat yah… dan bisa kembali beraktifitas dengan kakak Kika dan adik Wili.

Jujur amang, saya senang sekaligus sedih membaca reply-an dan testi di FS amang mengenai sakitnya Nina. Senang, ternyata banyak sekali manusia yang sudi berdoa untuk gadis cilik bernama Nina (entah itu karna amang atau sungguh datang dari hati yang paling dalam perhatian tersebut, atau bahkan hanya ikut-ikutan aja dengan teman – teman FS lainnya biar dibilang punya perasaan!! Hanya Tuhan yang tau.)

Sedih… karna dalam beberapa testi yang saya baca, ada yang mengatakan “Betapa beruntungnya Nina punya bapak seperti amang pendeta”. saya tau kata-kata itu tidak salah, tapi tepatnya adalah kurang tepat. Mungkin kalau diliat dari kisah-kisah pribadi amang dengan keluarga, terlihat sekali bahwa amang memang sosok “bapak” yang perhatian, hero, Dll. Dan memang tidak salah juga, jika banyak rekan – rekan di FS yang sangat mengagumi sosok amang, pun saya.

Saya sangat sedih, dimana-mana, tidak hanya di FS atau di blog amang saja, banyak anak-anak baik remaja, pra remaja, ataupun udah dewasa yang selalu menuangkan unek-uneknya dengan gamblang, terutama masalah orangtua dan keluarga ke khalayak umum terutama di dunia internet. Apakah teknologi yang semakin canggih ini yang harus dipersalahkan ataukah memang benar kualitas anak muda zaman sekarang yang ga tabu lagi mempersoalkan masalah pribadinya ditunjang dengan dunia internet yang memberikan layanan.

Kebanyakan dari semua cerita yang saya lihat, baca, ataupun dengar. mereka sama sama ga tahan ngeliat kondisi keluarga mereka yang “amburadul”. Masalah bapaknya yang suka maen perempuanlah, bapaknya yang galak banget lah, atau juga mengenai mamanya yang hobi arisan mulai pagi ampe malem, dll permasalahan. Dan begitu melihat sesosok yang dilihat dan dirasa “hebat”, mereka pun ga segan – segan langsung memuji habis – habisan, bahkan tak sedikit yang mengucap “andaikan aku punya bapak yang seperti itu, aku pasti akan bahagia sekali”. “Waaa… ga mungkin banget yah kalo ortuaku bisa perhatian segitunya ama aku n sodara – sodara”. “Kalo dunia memiliki bapak atau mama yang seperti itu, pasti dunia bakal tentram”… dan lain – lain sebagainya komentar yang ditinggalkan. ya Tuhan… Apakah separah itu?

Saya seorang gadis yang masih berusia 19 tahun, masih kuliah (saat ini semester 6) dan bertempat tinggal disebuah ibukota provinsi di KALTIM yang mungkin ga semua orang Indonesia tau, apalagi rekan-rekan di FS. Saya juga seorang anak gadis dari seorang mama dan bapak yang asli Batak, saya punya seorang adik laki-laki dan seorang abang. Saya punya teman-teman yang menyayangi dan mencintai saya apa adanya, saya punya harapan, saya punya cita-cita. Saya pun bangga dan saya amat sayang dan mencintai orang-orang disekitar saya. Mungkin, benar kebanyakan orangtua dari kita yang sangat kaku dalam berinterkasi kepada anak-anaknya, atau bahkan benar-benar tak mampu menyampaikan perasaan sayangnya langsung kepada kita anak-anaknya.

Padahal, coba deh kita kalo kita cermati baik-baik kata-kata yang keluar dari mulut mereka, seperti misalnya ketika seorang bapak yang marah kepada anak gadisnya ketika didapati anaknya pulang larut malam (entah itu dalam tugas kuliah, kantor, atau untuk refreshing dengan teman-teman).

“Kau ini, kemana aja sih, udah jam berapa ini? kenapa gak sekalian besok aja kau pulang….”. Hmm.. andaikan kita semua bisa tangkep arti dari “omelan” itu, pastilah kita gak bakal marah marah trus masuk kamar sambil banting pintu kamar kenceng-kenceng trus idupin tape kenceng – kenceng padahal hari udah larut banget. yang ada kita bakal nangis dan minta maaf ama bapak kita. soalnya yang kita “omelan” itu sebenernya artinya adalah “Aduuh.. inang… Kok lama sekali pulangnya? Bapak kuatir sekali kalau – kalau ada apa – apa? besok – besok jangan seperti ini lagi ya inang?….” Atau ketika seorang ibu yang ngomel-ngomel ngeliat kamar anaknya berantakan. “Gimana sih kamu ini, jadi perempuan jorok banget, malas lagi….” Padahal kalo bisa diartiin, sebenernya mama kita tuh pengen bilang “Sayang.. beresin kamarnya jangan males-malesan donk nak, ntar kan kamu sendiri yang nyaman kalo kamarnya rapi”. Dan berbagai macam kata-kata yang menurut sebagian anak muda atau remaja adalah “omelan – omelan” rutin orangtua yang bawel…

Harusnya kita sebagai anak muda mengerti sikon. Kalo kita benar-benar sayang orangtua kita, seharusnya apa yang menurut kita ga layak dilakukan orangtua adalah kewajaran. Mungkin mereka terlalu letih dalam bekerja, atau terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, dll. Ke ga layakan itu lah yang menjadi tugas kita sebagi anak yang harus meluruskan semuanya. kenap kita gak coba komunikasi langsung, memperbaiki apa yang seharusnya terjadi. Bukan dengan gantian ngomel – ngomel ga jelas terus mencari tempat mengadu ke internet, dengan alasan setelah “curhat”, bebannya agak plong.

Ya ampun… jujur, saya seorang anak gadis satu – satunya di keluarga saya. bapak saya tergolong pria yang keras dan disiplin sekali dalam mendidik saya, abang, dan adik. dan menurut bapak, dulu ompung (Bapaknya Bapak) kami pun sangat lebih keras serta disiplin sekali dalam mendidik anak-anak mereka. Mama saya juga seorang wanita yang mungkin menurut orang ga sempurna, tapi di mata saya dan para sodara saya adalah sosok yang mulia setelah Tuhan. Mama saya juga hobi “nyap – nyap” saban hari kepada saya dan sodara. tapi satu yang bisa saya petik dari mereka adalah walaupun bapak saya tergolong bapak yang keras, dan mengajarkan hidup yang realistis, ga ada didalam kamusnya perandai – andaikan atau mimpi.

Tapi saya bangga, dari semuanya itu, bapak saya keras agar kami para anak-anaknya bisa tahan banting dalam menghadapi setiap masalah yang menghadang di dalam kehidupan yang kami jalani kelak tanpa mereka suatu saat. Bapak saya disiplin sekali kepada kami anak-anaknya. Agar kami bisa bener – bener menghargai waktu. Baik dalam pribadi maupun bukan untuk pribadi.

Bapak saya juga bukan pengusaha atau karyawan hebat. Bapak saya hanyalah seorang eleketrik engineer di sebuah perusahaan di kalimantan dan kini sudah tak bekerja lagi. Tapi saya tetap bangga, apapun keadaan bapak saya saat ini, ataupun nanti. saya tetap bangga dengan bapak saya. sifat keras yang kadang berimbas ke – emosinya pun yang tadinya saya anggap adalah “kiamat kedua” semakin berjalannya waktu dan bertambahnya usia makin mengingatkan saya bahwa “bapak saya sayang banget sama saya”.

Dan menjadi impian saya untuk membahagiakan selalu bapak saya, ketika saya sudah mampu berdiri sendiri kelak. Dan untuk mama saya. saya pasti akan sangat menjadi gadis yang rapuh dan manja, kalau saya gak pernah dapet kuliah gratis setiap harinya dari mama. Karna sekali lagi, waktu akan merubah semua pendapat kita yang selama ini kita anggap benar.

Saya percaya manusia pasti akan belajar dari mana saja dan kapan saja. Pendapat yang mengatakan bahwa “ibu” adalah wanita paling bawel sedunia akan sirna begitu saja bagaikan uap yang ditelan udara. begitu kita mau tau, bahwa sebenernya gak ada yang lebih sempurna kasih sayangnya di dunia ini selain orangtua kita.

Saya ingin sekali mengajak para rekan-rekan muda untuk, sekali saja menatap orangtuamu ketika mereka terlelap dalam tidur. lihatlah mereka hanya 5 menit saja… kalian pasti akan melihat betapa, guratan – guratan yang ada di wajah mereka merupakan lambang kasih sayang mereka. Yah… mereka udah bekerja keras demi kita. melahirkan, membesarkan, mendidik, dan merawat. Kita ini milik mereka didunia sebelum kita bisa mengenal kehidupan seorang diri, so, ga ada hak kita meng”judge” mereka itu jahat udah ngomelin kita mulu. yang harusnya kita lakuin adalah… Say thanks 2 them n be the best for them…. That’s all.

Maaf yah amang kalo kepanjangan nulisnya. maklum, saya emang paling bawel n ga bisa ke rem deh kalo udah cuap – cuap. hihihihi… dan maaf untuk semua temen – temen yang sudi membaca tapi merasa kesinggung atau apalah.. dari tulisan saya ini. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat. saya sadar saya bukan orang yang hebat. tapi saya terpanggil untuk menyadarkan sebagian anak – anak yang masih beranggapan, bahwa dirinya ga beruntung karna gak punya orangtua yang bisa menyatakan perhatiannya langsung ke anaknya. dan beruntungnya saya apabila tulisan saya tidak hanya bisa dibaca tapi dilakukan…

Mencoba gak susah kok… :)

terimakasih amang atas ketersediaan halaman di fsnya :)

- Salam Damai dalam Tuhan Yesus Kristus -

Meyliani Hutahaean

http://profiles.friendster.com/26380591

Catatan: Surat ini tadinya dikirimkan ke friendster saya dalam bentuk testimonial. Berhubung sangat panjang, atas seijin yang bersangkutan saya masukkan ke Ruma Metmet. Daniel Harahap.

Share on Facebook

7 Responses to Surat dari Borneo

  1. Gerda Silalahi on March 3, 2008 at 5:27 pm

    aduh adik meyliani ini.

    aku sampai deg2an bacanya.., mikir bakal baca kisah seorang anak yang di’siksa’ oleh bapaknya atau lebih tragis gimana.

    ternyata bukan, hehehe.
    baguslah.., bersyukur masih punya bapak n ibu yang bisa ngomelin kita anak2nya. terkadang perlu keras dengan mengomel, terkadang harus lembut dengan pelukan.

    itulah seninya jadi orangtua :)

  2. Imelda br Saragih on March 3, 2008 at 5:44 pm

    Betul banget adek Mey, memang kita orang batak kebanyakan menerima didikan yang keras dari orang tua yang pasti nya sangat sayang dan mencintai kita anak nya.

    Amang,
    Makasih Amang sudah membagikan testimonial ini, waahh… Amang officially menjadi Pdt. HKBP Friendster niey:)

  3. Rista Purba on March 3, 2008 at 6:12 pm

    two thumbs up buat teman dr Borneo..salam kenal ya..salut juga buat rumah metmet yang bisa jadi ajang menyampaikan inspirasi.Setuju skali buat isi dr surat nya, sometimes we don’t realize how wide,deep and large our parent’s love. Let’s show ur love to our parents not only by words, but also by great respect (mungkin dengan bahasa batak lebih dalam..yaitu pasangap on mu natorasmu). pasangap means regard with great respect ..aduh susah kayaknya mengartikan dalam bahasa indonesia..kalo hormati kayaknya kurang bagaimana begitu..apa ya bahasa indonesia yang cocok bagi pasangap??.

    But..dr penglihatan ku.masih banyak orang2 Batak yang pelit menunjukkan rasa sayangnya or affection secara nyata..sampai2 kita susah menebak apakah orang ini senang dengan apa yang kita kerjakan atau kah tidak, bagus atau jelek..yah termasuk orang2 tua kita, mungkin lho.Misalnya kalo ada ujian, trus dapat nilai 90 skala 100, bukannya dibilang : bagus amang/inang..tingkatkan prestasi mu tapi lah ke mana yang 10 ?nya :-) . Yah kalo si anak ngerti, tapi kan kasihan kalo si anak nya tipe sensitif.

    Yah menurut gw sih, we need to give others (parents/children in this context) approval/appreciation/praise (pujian) kalo mereka berbuat yang bagus/baik dan support kalo mereka sedang jatuh/low condition/doing wrong things. Nah hal ini nih yang kulihat kita masih pelit. So, mari kita berlomba2 memberi pujian ke orang lain (tapi dr hati lho :-) ). Ok then..I think I just did a good job!!! (hehehe, muji diri sendiri bole dong ;p)

    Gbu all,

    Mei

  4. Gloria on March 4, 2008 at 8:49 am

    Mmm.. Pemikiran yang sangat dewasa dek. Pandangan yang bagus.
    Seperti kata amang Pendeta kita ini “Penerimaan tak bersyarat”
    No body is perfect, tapi bagaimana kita menerima pribadi yang tidak sempurna itu, karna kita sendiri juga bukan orang yang sempurna..
    Keep posting de’
    GBU

  5. Edison.ShbngNababan on March 4, 2008 at 9:26 am

    Saya sangat bangga membaca Tulisanmu nak Mey…(ijinkan saya memanggilmu nak) karena sangat menyentuh perasaan…. Semua orangtua pasti akan berusaha memberikan yang terbaik bagi anaknya, dan semua orangtua selalu menginginkan anaknya berhasil sehingga cara mendidiknya ada yang keras…ada yang setengah keras..dan ada yang lembut. tetapi tujuannya satu bagaimana agar anaknya berhasil. karena ada bahasa batak mengatakan ANAKKONHI DO HAMORAON DI AHU, HUGOGOPE MANCARI ARIAN NANG BOTARI dst….(kalau ada generasi muda batak yang tidak ngerti mohon nanya orang tuanya ya..he..he…he…) Makna ungkapan ini sangat dalam. Saya juga berharap agar setiap anak yang kebetulan cara orangtuanya mendidik keras(mungkin keras kita artikan saja TEGAS) mohon itu disyukuri, karena pasti mereka melakukan itu dalam kasih yang dari Tuhan dengan harapan agar anaknya menjadi anak yang berguna mau melayani manusia dan mau melayani Tuhan didalam hidupnya kelak.
    GBU dan Horas

    Edison Sihombing Nababan

  6. guitar on March 4, 2008 at 6:28 pm

    You are so nice Mey….pertahankan itu.
    Masih muda tapi pemikiran sudah cukup matang..pengertian…jadilah Leader bagi lingkungan kampusmu..keluargamu..Saya percaya kamu punya bakat.
    Suatu masa kelak..saya juga pengen punya anak seperti kamu…anak idaman orangtua..yang mengerti akan tugas dan posisinya sebagai anak…tahu tanggung jawab sebagai anak.
    Yah…menjadi orangtua itu tidak gampang…sama halnya untuk menjadi anak juga tidak gampang…Karena itu kita harus bersyukur kita punya Tuhan yang hebat…yang mengirimkan kita firmanNya sebagai pegangan hidup kita melalui hambaNYa.
    Bisa kita bayangkan kalau tidak ada firman Tuhan…Wuihhh…..

    Akhirnya…bravo Mey..

    Rgds
    Guitar

  7. parlin sitorus on April 28, 2012 at 2:57 am

    Semua yang kamu tuliskan tadi benar dan ironisnya banyak manusia ering atau acap kali baru “menyadari betapa sebenarnya butuh dan menyayangi seseorang itu saat seseorang itu telah tiada”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*