Siapa Mau Mengenal Allah?

February 26, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Selasa 26 Februari 2008:

kampung-air-2.JPG

Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. (1 Yohanes 2:3)

Ada pertanyaan untuk Saudara dan saya. Bagaimana caranya mengenal Allah? Mungkin ada yang mengatakan: membaca Alkitab atau firmanNya. Jawaban itu benar. Lebih tepat: membaca Alkitab secara teratur dan tekun, setiap hari, selama bertahun-tahun. Barangkali ada yang menjawab: mengikuti ibadah di gereja. Jawaban itu juga benar. Ibadah adalah perayaaan dan pertemuan Allah dengan umatNya. Lebih tepat: hadir secara fisik dan hati di ibadah di gereja, secara rutin, sepanjang hidup. Mungkin ada yang berkata: berdoa. Ya itu juga benar. Persisnya doa yang sungguh-sungguh, keluar dari hati, dan berkala. Dengan kata lain: kita tidak bisa mengenal Allah dalam waktu sekejap atau hanya dalam satu kali berjumpa, mendengar firmanNya, membaca kisahNya, atau berdoa kepadaNya. Pengenalan akan Allah memerlukan kesungguhan dan kepenuhan hati, totalitas diri, serta proses waktu yang sangat panjang.

Hari ini kita mendapatkan satu jawaban lagi dari Rasul Yohanes. Bagaimana sesungguhnya cara mengenal Allah? Jawabnya: turutilah perintah-perintahNya! Apa saja perintahNya? Hanya ada satu: mengasihi sesama. (Matius 22:36-37, Yohanes 15:12).

Allah sangat mengasihi manusia dan dunia yang diciptakanNya (Yoh 3:16). Seluruh hati dan hidupNya diarahkan dan disediakanNya untuk manusia dan dunia yang dikasihiNya itu. Karena kasihNya itulah Allah rela melakukan apa saja, menderita dan berkorban, untuk kehidupan kita. Karena itulah Rasul Yohanes mengatakan di surat yang sama: Allah itu adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Jadi siapa yang ingin mengenal Allah maka dia juga harus belajar mengasihi orang lain: mengarahkan hati dan menyediakan diri untuk kehidupan orang lain juga. Sebaliknya: orang egoistis yaitu yang hanya ingin hidup tenang, menang, dan senang sendiri tidak akan pernah bisa mengenal Allah. Sebab Allah sama sekali tidak seperti itu.

Hari-hari ini – dalam perjuangan keras kita membuat diri dan hidup pribadi kita lebih sejahtera dan baik – kita disadarkan agar juga mengingat dan memperhatikan orang lain. Allah mau memberkati perwujudan kebutuhan, harapan, keinginan dan kepentingan pribadi kita. Sebab itu Dia meminta kita juga mau mengakui dan memperhatikan kebutuhan, harapan, keinginan dan kepentingan orang lain juga. Dia tidak menyukai sifat egoistis, kikir dan serakah, culas dan jahat. Sebaliknya Dia mau agar kita secara serius dan sengaja mau membuat orang lain merasa gembira dan bersyukur, beruntung, bangga, dibantu dan didukung, didengar, dipahami dan diteguhkan. Dengan begitulah kita sungguh-sungguh mengenal Allah dan hidup dalam Dia. Satu lagi, kasih itu jugalah yang membuat kita: lahir baru! (1 Yohanes 4:7)

Doa:

Ya Allah, ajarlah kami mengasihi. Ajarlah kami mendengar dan memahami orang lain. Ajarlah kami memberi dan berbagi, seperti Engkau sendiri. Ya Allah, bantulah kami membuang sifat egoistis, kikir, serakah, culas dan jahat dari dalam hati kami. Sebaliknya, tolong juga kami mengisi hati kami dengan kasih, kebaikan dan kemurahan belaka. Engkau selalu tersedia bagi kami. Sebab itu biarlah kami juga selalu menyediakan hati, waktu, tenaga dan hidup kami untuk orang lain juga. Dan kami melakukannya dengan sukacita seperti Yesus Tuhan kami. AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap


Share on Facebook

Tags: , , , ,

3 Responses to Siapa Mau Mengenal Allah?

  1. lela on February 26, 2008 at 7:44 am

    Kasih memang inti dari ajaran kristus. Lahir baru tanpa kasih adalah kebohongan. Karna kasihlah yang membuat manusia bisa lahir baru.

  2. LAMBAS SIREGAR on February 27, 2008 at 7:47 am

    kasih itu harus lahir dari iman percaya (Alkitabiah dan trinitarian/Tuhan yang Tritunggal) sebab banyak kata kasih berseliweran wara wiri di dunia ini yang sebenarnya dilakukan bukan memuliakan Tuhan tapi hanya humanis dan agamis. rahasia kasih yang paling dalam adalah salib kristus.

    Daniel Taruli Asi Harahap:
    apa yang salah dengan kasih yang humanis? bukankah kasih tetap kasih. pertanyaan mengusik, mana yang lebih baik: seorang humanis yang mengasihi tanpa pamrih, atau seorang yang mengaku beragama (kristen pulak lagi) tetapi hanya perduli dengan dirinya sendiri, tak mau tahu dengan problem sosial, dan tidak mencontoh yesusnya mengasihi tanpa pamrih? :-)

  3. Hotman Sinaga on April 20, 2010 at 8:45 am

    Menggasihi adalah hal yang biasa kita dengar tetapi dalam prateknya kadang kadang susah dipratekan,karena kita kurang peduli atau tidak mengenal dengan baik sesama kita,artinya tidak mungkin kita mengasihi Allah kalau kita tidak pernah mendengar FirmaNya atu tidak pernah membanca firman oleh sebab itu kita harus akrab bersama Tuhan setiap saat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*