Mata Air Yang Tak Pernah Kering

February 25, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Senin 25 Februari 2008:

mountain-river.jpg

Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mazmur 100:5)

Entah kenapa, saya paling suka melihat sungai di pegunungan. Apalagi jika mendapat kesempatan menyaksikan sumbernya atau mata air. Saya selalu memandang berlama-lama bagaimana air yang jernih, bersih, sejuk dan sehat itu membual tak habis-habisnya dari dalam bumi. Mata air di gunung itu bukan saja menerbitkan rasa senang dan damai, tetapi juga takjub. Juga menumbuhkan inspirasi dan motivasi di hati.

Menurut saya, sungai dan mata air di pegunungan itu benar-benar suatu perlambang yang sangat cocok untuk melukiskan kebaikan Tuhan yang tak pernah habis-habisnya. Sebagaimana dikatakan sang pemazmur: Tuhan itu baik. Kasih setiaNya selama-lamanya, dan kesetiaanNya turun-temurun. Dan juga disaksikan oleh sang peratap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi. (Ratapan 3:22-23).

Kebaikan Tuhan yang tak pernah habis atau kesetiaanNya yang kekal itulah yang membuat kita memuji Dia saban hari. Tuhan sendiri sebenarnya tidak haus pujian. Bahasa seorang teman saya, Tuhan bukan seorang megalomania atau gila pujian dan sanjungan. HatiNya selalu melimpah dengan kebahagiaan dan cinta. Dia tidak membutuhkan pujian saya untuk merasa senang. Namun rahmatNya yang selalu baru setiap pagi itu dan ketidakbosananNya memberkati dan menolong itu membangkitkan rasa syukur dan pujian dalam hati kita yang tidak bisa ditahan, dan harus keluar dari bibir dan seluruh sikap tubuh kita. Itulah juga yang membuat kita beribadah kepadaNya dengan tulus dan sukacita.

Sebagai seorang pendeta, saya mengaku hidup saya dan keluarga saya tidak bebas dari kesukaran. Ada kalanya kami juga mengalami musim kemarau. Ada saat-saat dimana hati saya sangat gundah dan cemas. Ada masa dimana saya merasa kesepian dan terasing. Namun manakala saya menyaksikan kembali hujan turun dari langit, terutama mendapat kesempatan memandang sungai dan mata air jernih di pegunungan, bunyi air yang mengalir, hati saya kembali dibawa untuk mengingat kebaikan Tuhan yang tidak ada habis-habisnya dan kesetiaanNya yang teruji sepanjang zaman. Ingatan itu bukan saja menumbuhkan lagi semangat, tetapi juga inspirasi dan motivasi baru meneruskan kehidupan. Mungkin itu jugalah yang dialami sang pemazmur sehingga dia berkata kepada dirinya sendiri: Pujilah Tuhan hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya. (Mazmur 103:2).

Doa:

Ya Tuhan Allah, Engkau baik. Kami mengaku menerima kebaikanMu sepanjang hidup kami. Engkau setia mengasihi kami. PertolonganMu tidak pernah terlambat. RahmatMu selalu baru setiap pagi. Biarlah kami juga bersyukur dan memuji-muji Engkau, beribadah kepadaMu sepanjang hari. Ketika kami gundah dan susah, dan menghadapi banyak masalah, bukalah mata batin kami melihat kehadiran Tuhan dalam hidup kami. Tolonglah kami menemukan kebajikanMu hari ini agar hari ini pun kami bersukacita dan bersyukur. Dalam Yesus. AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Share on Facebook

Tags: , , , ,

5 Responses to Mata Air Yang Tak Pernah Kering

  1. Kartika Saragih on February 25, 2008 at 3:46 pm

    Terima kasih Tuhan untuk kasih setia-Mu di sepanjang hidup kami & ajari kami untuk selalu mengucap syukur untuk segala sesuatu yang kami terima didalam hidup ini, Amin..

  2. Efrisonli E Nainggolan on February 26, 2008 at 4:00 am

    TERIMAKASIH ya Tuhanku buat segala rancanganMu di dalam hidupku,biarlah ya Allah ku semakin berpengharapan padaMu karena Engkaulah benteng hidupku,pemilik kehidupanku..amin.

  3. Janpieter Siahaan on February 27, 2008 at 6:03 am

    Kasih Tuhan tidak terbatas.. kasih manusia kadang melihat… untuk siapa dan apa manfaatnya bagi saya…. jadi masih terpilah…. jadi kasih manusia yang pamrih belumlah berasal dari Tuhan Yesus….. tetapi…. manusia yang tidak tahu berterimakasih juga bukanlah aplikasi kasih dari Tuhan…. jadi… mari kita saling mengasihi dengan tulus dan merespon kasih orang lain dengan wajar…..

  4. dhika on June 2, 2009 at 1:26 pm

    Tuhan itu baik! Dahsyat.

    Daniel Harahap:
    Apa maksudnya dahsyat?

  5. Lisbeth Siagian on August 13, 2010 at 1:20 pm

    Tuhan itu baik, tapi seringkali kita tidak pernah mensyukuri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*